busuk daun/ hawar daun (late blight), yang disebabkan oleh cendawan patogen P. infestans famili Pythiaceae. Kisaran inang patogen P. infestans menyerang tanaman famili Solanaceae (tomat, kentang, paprika, terung, cabai, dan tanaman Solanaceae lainnya). Miseliumnya mudah diamati dengan mikroskop, dengan karakteristik khusus terdapat aliran plasma di dalam sel.
Miselium berkembang di antara sel dan tumbuhnya merambat di permukaan media biakan.
Tahun 1845–1860 penyakit busuk daun kentang menyebabkan timbulnya kelaparan di Irlandia karena kentang merupakan makanan pokok penduduknya. Sejak 1935–1936 penyakit busuk daun kentang mulai ditemukan gejalanya di sentra pertanaman kentang di Pulau Jawa. Diduga bahwa cendawan patogen penyebab penyakit busuk daun terbawa oleh umbi bibit kentang yang diimpor dari Belanda (Semangun, 2007).
Pembentukan dan perkecambahan konidia P. infestans sangat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, dan curah hujan. Penyebaran spora patogen melalui angin, air, atau serangga menimbulkan gejala nekrosis atau matinya bagian tanaman yang terdapat bercak (Sudiantha, 2009). Jika spora P. infestans sampai ke daun kentang yang basah maka spora patogen akan membentuk tabung kecambah kemudian masuk menginfeksi tanaman. Spora yang jatuh ke tanah akan menginfeksi umbi kentang dan pembusukannya dapat terjadi di dalam tanah atau pada tempat penyimpanan. Umumnya, penyakit busuk daun kentang sering terjadi di daerah sentra tanaman kentang dataran tinggi yang bersuhu rendah dengan kelembapan yang tinggi. Penyakit busuk daun kentang berkembang dengan cepat jika kondisi lingkungan mendukung, yakni suhu 18–21° C dengan kelembapan udara di atas 80% (Susetyo, 2019).
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa benih tanaman budi daya tidak hanya berasal dari biji, tetapi juga dari bagian tanaman lainnya yakni umbi, batang, daun, akar rimpang, dan lain-lain. Umbi kentang merupakan kentang bibit yang berperan penting sebagai sumber utama perbanyakan tanaman kentang di lapangan. Astarini (2016) mengemukakan bahwa target kentang bibit yang ingin dicapai dalam upaya budi daya tanaman kentang adalah :
a) kentang bibit yang sehat selama dalam masa penyimpanan;
b) tingkat serangan organisme pengganggu tanaman khususnya penyakit yang rendah di dalam penyimpanan; dan
c) kentang bibit sehat yang siap digunakan untuk musim tanam berikutnya.
Di dalam sistem penjaminan mutu kentang bibit terdapat beberapa kegiatan pendahuluan dimulai dari persiapan ruang penyimpanan (ruang penyimpanan harus terang, mempunyai sirkulasi udara yang baik, dan dilakukan pembersihan mikroorganisme dengan menggunakan desinfektan), catatan berisi informasi detail tentang saat panen kentang bibit di lapangan (varietas, umur, rerata berat per umbi), pengepakan, dan pengantaran.
Sebelum menyimpan kentang bibit yang baru datang dari lapangan, sebaiknya dilakukan pembersihan alat dan lantai bekas penyimpanan kentang bibit untuk mencegah adanya patogen yang berkembang di tempat tersebut dan menginfeksi kentang bibit yang akan disimpan.
Karakteristik produksi hasil panen kentang dapat dilihat dari jumlah umbi kentang yang dihasilkan oleh tanaman tersebut. Trichoderma sp.
adalah cendawan saprofit tanah yang secara alami merupakan parasit pada cendawan patogen tanaman. Mekanisme pengendalian Trichoderma sp.
bersifat spesifik, mengoloni rizosfer, melindungi akar tanaman dari serangan cendawan patogen, mempercepat pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan produksi tanaman (Lewis dan Papavizas, 2003). Selain keunggulan tersebut, Trichoderma mudah disimpan dan dibiakkan secara massal (Benhamou dan Chet, 1993). Purwantisari dan Hastuti (2009) melaporkan bahwa hasil uji penghambatan Trichoderma sp. terhadap P. infestans selama 7 hari memberikan hasil cendawan antagonis tumbuh lebih cepat dan menutupi ruang pertumbuhan P. infestans. Hal ini terjadi karena Trichoderma sp. mampu menguraikan selulosa yang merupakan komponen utama penyusun dinding sel P. infestans. Hasil penelitian Purwantisari dkk. (2018) menunjukkan bahwa perlakuan bokashi + biofungisida (Tricho powder) menunjukkan rerata jumlah daun tanaman kentang tertinggi sebesar 37,80 helai dan perlakuan pupuk NPK+ZA+ biofungisida rerata jumlah daunnya terendah, yakni 28,20 helai.
Rerata jumlah umbi tanaman kentang tertinggi diperoleh dari perlakuan pupuk NPK+ZA+ biofungisida sebanyak 19,7 biji, sedangkan perlakuan terendah adalah bokashi + biofungisida sebanyak 10,2 biji.
32 | Penyakit Benih dan Teknik Pengendaliannya 5.3. Latihan Soal
1. Tuliskan kriteria kentang bibit yang dapat menjadi bahan tanaman budi daya.
2. Tuliskan tanaman famili Solanaceae yang menjadi inang penyakit layu Fusarium.
3. Tuliskan cara penyebaran penyakit layu Fusarium.
4. Tulis dan jelaskan cara pengendalian penyakit layu Fusarium pada kentang.
BAB VI
PADI
(Oryza sativa L.)
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengenal penyakit tanaman padi dan cara pengendaliannya.
6.1. Deskripsi dan Nilai Ekonomis
Tjitrosoepomo (1989) mengemukakan bahwa tanaman padi famili Poaceae menghasilkan beras yang merupakan merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. DwiAnjarwat (2018) menuliskan bahwa padi merupakan tanaman berumpun menyerupai rumput, berakar serabut dengan daunnya memanjang berbentuk lanset. Padi menghasilkan bunga yang akan menjadi bulir yang mengandung karbohidrat. Panen padi dapat menggunakan sabit jika sawahnya berada di lereng bukit. Mesin panen combine harvester sangat efektif digunakan untuk sawah yang luas dan berada di tanah yang landai.
Pada 2015, luas panen tanaman padi secara nasional sebesar 14.115.475 ha, produktivitasnya sebesar 53.39 kuintal/ha dan produksinya mencapai 75.361.248 ton. Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil beras di
34 | Penyakit Benih dan Teknik Pengendaliannya
kawasan timur Indonesia. Selain Kabupaten Gowa dan Sidrap, Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten penghasil beras tertinggi di Sulawesi Selatan. Pada 2016, produksi padi Kabupaten Maros mencapai 448.894,26 ton yang dipanen pada areal seluas 60.408 ha dengan rerata 7,4 ton/ha. Jumlah yang dicapai tersebut melampaui standar potensi hasil tanaman padi sawah yang berkisar 6 ton/ha. Perlu diketahui bahwa sebagian besar produksi padi di Kabupaten Maros berasal dari padi sawah. Sawah di Kabupaten Maros mempunyai sistem irigasi yang berasal dari aliran air kawasan Bantimurung.
Padi sawah berkontribusi sebesar 436.790,26 ton sedangkan padi ladang berkontribusi sebesar 2,71% (BPS, 2018).
Beras yang dihasilkan oleh tanaman padi dimasak menjadi nasi, dapat dibuat menjadi bubur, dan beraneka aneka macam kue. Selain menjadi makanan dan kue, di Sulawesi Selatan terdapat kebiasaan masyarakat membuat bedak basah dan lulur yang bahan bakunya dari beras merah (HerafadliDjafar, komunikasi pribadi, Juni 2019). Perlu diingat bahwa beras yang dihasilkan oleh tanaman padi mempunyai warna bervariasi contohnya beras merah, beras ketan hitam, dan lain-lain. Selain beras, jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai makanan sapi, atap rumah, material tumbuh jamur kancing, dan mulsa tanaman budi daya. Kulit gabah berupa sekam bakar dapat dijadikan media tanaman budi daya dan bahan pembuat kompos (DwiAnjarwat, 2018).
6.2. Blas (Pyricularia oryzae Cav. = Magnaporthe oryzae (Hebert) Barr)