BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN
B. Morbiditas
1. Penyakit Menular
Gambar 3.3. Perkembangan Kematian Ibu Melahirkan
Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
B. MORBIDITAS
Disamping Angka Kematian, derajat kesehatan juga bisa dilihat dari Angka Kesakitan dalam suatu wilayah tertentu. Angka kesakitan yang dituangkan dalam Profil Kesehatan ini didapat dari data yang berasal dari pengumpulan data Dinas Kesehatan yang bersumber dari Puskesmas maupun Rumah Sakit yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.
1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam Profil Kesehatan Kabupaten Ponorogo tahun 2014 antara lain adalah penyakit TB Paru, pneumonia, HIV/AIDS, diare, kusta, malaria, dan filariasis.
a. TB Paru
Penyakit TB Paru masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Berbagai upaya pemerintah dilakukan untuk pengendalian penyakit ini yaitu dengan menemukan, mengobati dan menyembuhkan
15 penderita TB Paru dengan menggunakan strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Shortcourse).
Gambar 3.4. Perkembangan Penemuan Penderita TB BTA (+) Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
Tahun 2014 jumlah perkiraan penemuan suspek TB sebanyak 9.198 orang, pencapaian program sebanyak 4.540 suspek atau 49,4% adalah dari yang ditargetkan. Untuk jumlah perkiraan kasus baru TB Paru (BTA+) sebanyak 920 kasus dengan angka penemuan kasus mencapai 32,6% atau sejumlah 300 orang kasus baru TB (BTA+).
Penemuan kasus TB paru BTA (+) ini lebih sedikit dari yang ditargetkan yaitu 70% atau sebanyak 644 orang. Tingkat kesembuhan penderita TB paru BTA (+) yang diobati pada Tahun 2013 dan dievaluasi Tahun 2014 adalah 85.75 % atau sejumlah 325 orang penderita TB paru (BTA+) lebih tinggi dari target 85%.
Permasalahan yang kini dihadapi terkait dengan Program Pengendalian Penyakit TB paru adalah kasus MDR Tb (Multi Drug
16 Resitant Tuberculosis) yaitu timbulnya resistensi obat dalam terapi TB baik kasus baru maupun kasus yang telah diobati sebelumnya. Pengobatan pasien MDR Tb lebih sulit, mahal, banyak efek samping dan angka kesembuhannya relative rendah serta tatalaksana pasien MDR Tb masih tidak adekuat.
Di Kabupaten Ponorogo sendiri sudah ditemukan kasus MDR Tb sebanyak 6 kasus, yang terdiri dari 2 pasien sembuh, 1 pasien DO dan 3 pasien masih dalam pengobatan.
b. Pneumonia
Penyakit ISPA yang paling menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah pneumonia balita, karena secara nasional penyakit ini merupakan penyebab kematian balita paling banyak (80-90%) diantara penyakit ISPA. Di Kabupaten Ponorogo pada tahun 2014 jumlah penderita yang ditemukan dan ditangani sebanyak 764 penderita mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak 832 penderita.
Penderita pneumonia tahun 2012 sebanyak 1202 penderita, tahun 2011 sebanyak 971 penderita dan tahun 2010 sebanyak 220 penderita yang ditemukan dan ditangani.
17 Gambar 3.5. Penemuan Kasus Pneumonia Balita
Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
c. HIV / AIDS
Kejadian dan kematian kasus HIV/AIDS terus terjadi peningkatan. Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo mulai Tahun 2010 hingga 2014 meningkat tajam dari tahun ke tahun. Sebagaimana pada “fenomena gunung es” kasus yang muncul kemungkinan masih sedikit dibanding jumlah kasus yang sesungguhnya ada tetapi belum terdeteksi.
Hal ini mengingat resiko penularan yang tinggi sebagaimana pada penyakit IMS (infeksi menular seksual) serta perilaku masyarakat yang tidak sehat terutama pada kelompok masyarakat resiko tinggi.
18 Gambar 3.6. Jumlah Kasus HIV/AIDS dan Donor Danar HIV (+)
Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
Pada tahun 2014 ini jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 87 orang dengan kelompok umur mulai dari ≤ 4 tahun sampai dengan umur ≥ 50 tahun. Terjadi peningkatan yang luar biasa jika dibandingkan dengan kasus yang ditemukan dan ditangani Tahun 2013 yang hanya 46 penderita. Yang masih harus menjadi perhatian adalah adanya donor darah yang positif HIV, hal ini menunjukkan masih banyaknya kasus HIV yang belum ditemukan atau masih tersembunyi. Penderita HIV/AIDS Tahun 2012 sebanyak 51 kasus, Tahun 2011 sebanyak 38 kasus dan Tahun 2010 sebanyak 19 penderita.
Berbagai cara telah dilakukan untuk pengendalian penyakit yang mematikan ini diantaranya dengan pemetaan populasi kunci, mobile VCT pada kelompok resiko tinggi sehingga kasus yang ditemukan dapat segera diobati dengan demikian penyebaran penyakit dapat dikendalikan. Upaya promotif dan juga pasien diskriminasi terus dilakukan melalui sosialisasi masyarakat dan kelompok remaja.
19 Dalam penegakan diagnosa kerjasama dengan seluruh rumah sakit se-Kabupaten Ponorogo juga dilakukan, terutama dalam surveilans epidemiologi HIV/AIDS. Penguatan sistem rujukan akses obat ARU untuk ODHA kerjasama dengan RSUD Dr. Harjono Ponorogo dan RSUD Dr.Soedono Madiun.yang dilakukan sebagai layanan CST (Care Suport Treatment). Adapun salah satu cara untuk memantau situasi HIV/AIDS di masyarakat yang sekaligus sebagai upaya pencegahan penularan adalah penapisan darah donor di Unit Transfusi Darah.
Untuk pengobatan Anti Retrovirus (ARV) Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo bekerja sama dengan RSUD Dr. Harjono Ponorogo dan RSUD Dr. Soedono Madiun sebagai penyedia Anti Retrovirus (ARV) karena dengan pemberian anti retrovirus kematian pasien HIV dapat ditekan dan diharapkan usia hidup serta kualitas hidup pasien akan meningkat.
d. Kusta
Jumlah penderita kusta tercatat di Kabupaten Ponorogo pada tahun 2014 yang ditemukan dan diobati sebanyak 55 orang dengan angka NCDR 6.40 per 100.000 penduduk dan angka prevalensi 0.64 per 10.000 penduduk yang terdiri dari tipe PB sebanyak 7 orang dan tipe MB sebanyak 48 orang serta penderita selesai pengobatan (RFT) MB ada 45 orang (85%) dan RFT PB ada 2 orang ( 100% ). Penderita dengan cacat 2 sebanyak 11 orang (20%) dan penderita anak sebanyak 3 orang (5%).
Tahun 2013 yang ditemukan dan diobati sebanyak 48 orang dengan angka prevalensi 0.56 per 10.000 penduduk. Terdiri dari tipe PB sebanyak
20 2 orang dan tipe MB sebanyak 46 orang. Pada tahun 2012 yang ditemukan dan diobati sebanyak 65 orang dengan angka prevalensi 0.76 per 10.000 penduduk. Terdiri dari tipe PB sebanyak 4 orang dan tipe MB sebanyak 61 orang serta penderita selesai pengobatan (RFT) MB ada 41 orang (87,23%) dan RFT PB ada 4 orang ( 100% ). Penderita dengan cacat 2 sebanyak 10 orang (21.28%) dan penderita anak sebanyak 7 orang (14.89%).
Tahun 2011 yang ditemukan dan diobati sebanyak 54 orang (prevalensi : 0,56 per 10.000 penduduk) dengan perincian tipe PB ada 7 orang dan tipe MB ada 47 orang. Tahun 2010 penderita kusta yang ditemukan dan diobati sebanyak 44 orang (prevalensi : 0,51 per 10.000 penduduk) dengan perincian type MB 43 orang dan PB 1 orang. Tahun 2009 yang ditemukan dan diobati sebanyak 52 orang (prevalensi : 0,61 per 10.000 penduduk) dengan perincian type MB 51 orang dan PB 1 orang.
Angka prevalensi menunjukkan besarnya masalah di suatu daerah, angka prevalensi kusta yang diharapkan < 1/10.000 penduduk dan angka prevalensi kusta di Kabupaten Ponorogo tahun 2014 kurang dari 1/10.000 penduduk namun untuk tingkat cacat 2 dan penderita anak umur 0 – 14 tahun yang masih menjadi masalah karena melebihi target yang diharapkan yaitu < 5%.
21 Gambar 3.7. Perkembangan Prevalensi Kusta
Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
e. Malaria
Kasus penyakit malaria di Kabupaten Ponorogo masih ditemukan hingga tahun 2014 dengan jumlah kasus sebanyak 26 penderita.
Angka tersebut telah mengalami penurunan kasus dibanding pada tahun 2013 yaitu sebanyak 64 penderita positif malaria. Tahun 2012 terdapat 87 penderita positif malaria. Tahun 2011 terdapat 37 penderita positif malaria dan tahun 2010 terdapat 24 penderita malaria positif.
22 Gambar 3.8. Penemuan Kasus Malaria
Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2014
Kasus malaria yang ditemukan di Kabupaten Ponorogo merupakan kasus import karena dari sekian kasus positif malaria didapatkan penularan dari luar Pulau Jawa. Sedangkan kalau dilihat dari pemetaan kasus sampai tahun 2014 ini kasus tertinggi berasal dari wilayah Puskesmas Sawoo (Tabel 22).
f. Filariasis
Filariasis atau yang lebih dikenal dengan penyakit kaki gajah adalah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan lewat gigitan vektor nyamuk. Pada Tahun 2014 penderita filariasis tidak diketemukan kasus baru dan jumlah seluruh kasus masih sama seperti tahun lalu sebanyak 32 orang, dengan angka kesakitan 4 per 100.000 penduduk.
Pada Tahun 2013 penderita filariasis kasus baru ditemukan di Kabupaten Ponorogo sebanyak 4 orang dan jumlah seluruh kasus sebanyak