• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis

BAB VI PENGENDALIAN PENYAKIT

6.3 Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis

124 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Pada tahun 2020 ditemukan 9 kasus AFP dengan AFP-rate sebesar 2,23 per 100.000 anak usia <15 tahun. Kasus AFP terbanyak ditemukan di wilayah Kecamatan Bekasi Selatan dan Bekasi Utara (masing-masing 2 kasus). Diikuti Kecamatan Pondok Gede, Bekasi Timur, Bekasi Barat, Medan Satria, dan Kecamatan Mustika Jaya (masing-masing 1 kasus).

6.3. Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis 6.3.1 Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia salah satunya Indonesia. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terjadi terutama di musim hujan. Hingga saat ini, DBD masih merupakan salah satu penyakit endemis yang menjadi masalah kesehatan di Kota Bekasi.

Insidence Rate (IR) kasus DBD di Kota Bekasi tahun 2019 merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir yaitu sebesar 82 per 100.000 penduduk. Sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 21 per 100.000 penduduk. Namun di tahun 2020 menurun menjadi 65 per 100.000 penduduk.

Grafik 6.29

Insidence Rate dan Case Fatality Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2020

187

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

IR CFR

125 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Meskipun insidens rate di Kota Bekasi mengalami peningkatan tahun 2019, namun sebaliknya pada Case Fatality Rate (CFR). Seperti ditunjukkan pada grafik 6.29 di atas, CFR Kota Bekasi tahun 2019 dan 2020 merupakan angka terrendah dalam sepuluh tahun terakhir yaitu sebesar 0,1 persen. CFR ini menurun dari 0,3 persen di tahun 2018 dan 2017. Dengan demikian penanganan terhadap kasus DBD sudah cukup baik sehingga penderita DBD yang ada tidak sampai meninggal dunia. Selain itu CFR dapat dipertahankan bahkan diturunkan hingga <1 persen.

Grafik 6.30

Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi Tahun 2008 s.d 2020

Jumlah kasus DBD di Kota Bekasi tahun 2020 mengalami penurunan (1.646 kasus) dibandingkan tahun 2019 (2.484 kasus) yang jauh meningkat dibandingkan tahun 2018 (626 kasus) dan 2017 (699 kasus). Pada grafik 6.30 terlihat adanya peningkatan kasus DBD setiap tiga tahun, antara lain pada tahun 2013, 2016, dan 2019 (siklus tiga tahunan).

Peningkatan kasus DBD ini perlu diwaspadai antara lain dengan pemeriksaan jentik oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

Pemeriksaan jentik ini dapat dilaksanakan saat mulai musim penghujan dan mulai terjadi peningkatan kasus DBD, yaitu pada Bulan Bakti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD yaitu Bulan Oktober, November, dan Desember.

2.885

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

126 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Grafik 6.31

Jumlah Kasus DBD Menurut Bulan di Kota Bekasi Tahun 2016 s.d 2020

Grafi 6.31 di atas menunjukkan peningkatan kasus mulai terjadi di bulan Januari dan Februari (saat curah hujan mulai berkurang) hingga mulai turun di bulan Mei. Oleh karena itu perlu ditingkatkan pemeriksaan jentik yang mulai dilaksanakan pada akhir tahun. Sehingga diharapkan dapat mencegah kenaikan jumlah kasus yang tajam pada awal tahun berikutnya dan mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)-DBD pada musim penularan DBD. Dengan demikian, populasi nyamuk penular DBD akan berkurang dan kasus DBD dapat diturunkan.

Penyebaran kasus DBD menurut Puskesmas tahun 2020 cukup merata (seluruh Puskesmas terdapat kasus DBD). Kasus tertinggi yaitu di wilayah Puskesmas Jati Asih (144 kasus), masih sama seperti tahun 2019 Puskesmas Jati Asih dengan kasus DBD paling tinggi (274 kasus). Ditempat kedua Puskesmas Pejuang (101 kasus). Sedangkan Puskesmas dengan kasus terrendah adalah Puskesmas Sumur Batu (3 kasus), dan Puskesmas Jati Bening Baru dan Ciketing Udik (masing-masing 10 kasus).

JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES

2016 196 498 700 740 461 348 239 192 114 129 106 90

2017 89 33 125 106 96 66 21 27 26 47 38 25

2018 48 25 41 75 100 109 109 42 25 20 14 18

2019 400 465 568 386 345 191 46 18 13 13 10 29

2020 75 162 274 360 285 243 148 37 11 6 16 29

0 100 200 300 400 500 600 700 800

127 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Grafik 6.32

Jumlah Kasus DBD Menurut Kecamatan di Kota Bekasi Tahun 2018 s.d 2020

Dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, jumlah penderita DBD setiap tahunnya lebih banyak terjadi pada laki-laki, seperti terlihat pada grafi 6.33 berikut. Pada tahun 2020 57 persen kasus DBD terjadi pada laki-laki (sebanyak 936 kasus), dan sisanya 43 persen terjadi pada perempuan (sebanyak 710 kasus).

Grafik 6.33

Jumlah Kasus DBD Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2015 s.d 2020

2015 2016 2017 2018 2019 2020

Laki-laki Perempuan

128 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

6.3.2 Filariasis

Penyakit kaki gajah (filariasis) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh mikrofilaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, kantong buah zakar, payudara dan kelamin wanita.

Grafik 6.34

Penderita Filariasis Kumulatif Menurut Kecamatan Di Kota Bekasi Tahun 2018 s.d 2020

Di Kota Bekasi, penyakit ini sudah menyebar hampir di seluruh kecamatan, dengan angka kesakitan filariasis di Kota Bekasi yang terus menurun dalam sepuluh tahun terakhir (dari 2,8 per 100.000 penduduk tahun 2011 terus turun hingga mencapai 0,63 per 100.000 penduduk tahun 2020. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya kasus baru filariasis yang ditemukan setiap tahunnya. Hingga pada tahun 2020 tidak ditemukan lagi kasus baru filariasis di Kota Bekasi. Grafik 6.34 di atas menunjukkan kasus kumulatif filariasis yang ada di Kota Bekasi. Kecamatan Jati Asih, Rawalumbu, dan Kecamatan Bekasi Selatan tidak terdapat kasus filarisis sejak tahun 2018. Dan kecamatan dengan jumlah kasus terbanyak adalah Kecamatan Mustika Jaya (4 kasus).

Pd

129 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Penyakit filariasis di Kota Bekasi lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan angka kesakitan sebesar 0,87 per 100.000 penduduk dibandingkan angka kesakitan pada laki-laki yaitu sebesar 0,39 per 100.000 penduduk.

Grafik 6.35

Proporsi Penderita Filariasis Menurut Jenis Kelamin Di Kota Bekasi Tahun 2020

Jumlah penderita filariasis secara kumulatif pada tahun 2020 ada sebanyak 16 orang, berkurang setelah sebelumnya pada tahun 2019 sebanyak 19 orang (3 orang diketahui pindah tempat tinggal di luar Kota bekasi). Jumlah penderita filariasis ini jauh berkurang dalam sepuluh tahun terakhir dari 66 kasus tahun 2012 yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Bekasi dan Kecamatan Jati Sampurna merupakan kecamatan dengan jumlah penderita filariasis terbanyak di Kota Bekasi saat itu.

6.3.3 Malaria

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit golongan Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Vektor penular penyakit ini adalah nyamuk anopheles betina. Parasit Plasmodium yang ditularkan nyamuk ini menyerang sel darah merah.

5; 31%

11; 69%

Laki-laki Perempuan

130 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Gejala penyakit ini antara lain: demam, kelelahan, muntah, dan sakit kepala. Pada kasus yang lebih parah bisa menyebabkan kulit kuning, kejang, koma, bahkan kematian. Gejala ini biasanya muncul 10 sampai 15 hari setelah digigit nyamuk. Dan jika tidak diobati, penyakit ini dapat kambuh beberapa bulan kemudian.

Kota Bekasi bukan merupakan daerah endemis malaria, kasus malaria yang ditemukan di Kota Bekasi adalah kasus impor.

Artinya tidak terjadi penularan penyakit malaria di Kota Bekasi.

Kasus yang ditemukan antara lain karena orang yang terkena malaria tersebut pulang bepergian dari daerah endemis malaria, sehingga tertular penyakit malaria di daerah yang dikunjungi tersebut.

Grafik 6.36

Jumlah Kasus Malaria Menurut Kecamatan Di Kota Bekasi Tahun 2018 s.d 2020

Jumlah kasus malaria tahun 2020 di Kota Bekasi menurun dibandingkan tahun 2019 dan 2018. Pada tahun 2018 jumlah kasus malaria import sebanyak 19 kasus, menurun di tahun 2019 sebanyak 12 kasus, lalu menurun kembali pada tahun 2020 menjadi 7 kasus. Dan Kecamatan dengan jumlah kasus malaria impor terbanyak dalam tiga tahun terakhir adalah Kecamatan Bekasi Selatan, seperti terlihat pada grafik 6.36 di atas.

Bks

131 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2020

Grafik 6.37 berikut menunjukkan bahwa sebagian besar kasus malaria tahun 2020 terjadi pada laki-laki (86 persen), dan sisanya sebesar 14 persen terjadi pada wanita. Hal ini karena laki-laki yang memang lebih banyak bepergian ke luar kota (daerah endemis malaria) untuk urusan pekerjaan, sehingga lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan kasus impor malaria.

Grafik 6.37

Proporsi Kasus Malaria Menurut Jenis Kelamin Di Kota Bekasi Tahun 2020

6.4. Penyakit Tidak Menular