(Mosaic Disease on Patchouli Plant and the Asociated Viruses) Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk memetakan keberadaan penyakit mosaik pada pertanaman nilam di daerah sentra produksi nilam di Indonesia, mengukur penurunan produksi tanaman nilam akibat penyakit mosaik, melakukan deteksi virus-virus yang berasosiasi dengan penyakit mosaik dan mengidentifikasi spesies kutudaun yang mengkoloni tanaman nilam di lapangan. Berdasarkan hasil survei, penyakit mosaik ditemukan terdapat di seluruh sentra produksi nilam di Jawa dan Sumatera (yaitu Bogor, Garut, Ciamis, Sukabumi, Pasaman Barat, Brebes, Pakpak Bharat dan Sarolangun) dengan rata-rata tingkat infeksi virus berkisar dari 0- 55.5%. Infeksi virus mosaik tersebut berpotensi menyebabkan penurunan produksi tanaman dan kadar patchouli alcohol (PA) pada beberapa varietas. Kisaran penurunan produksi terna basah, terna kering, kadar minyak dan PA pada tiga varietas nilam (Tapak Tuan, Lhokseumawe, Sidikalang) karena terinfeksi virus berturut-turut adalah 7.87-34.65%, 0.62-40.42%, 2.37-9.09%, dan 0.72- 5.06%. Berdasarkan hasil uji serologi dan analisis morfologi partikel, Potyvirus
ditemukan dominan berasosiasi dengan gejala mosaik tersebut. Ditemukan dua spesies kutudaun yang mengkoloni tanaman nilam di seluruh lokasi survei yaitu
Aphis gossypii Glover dan Brachycaudus sp.
Kata kunci: Nilam, Potyvirus, penyakit mosaik, Aphis gossypii, Brachycaudus
sp.
Abstract
This study was carried out to map the presence of mosaic disease on patchouli production center of Indonesia, to measure the reduction of patchouli production caused by mosaic disease, to detection viruses associated with mosaic disease, and to identify the aphids that colonized patchouli plants in the field. Based on the survey, mosaic disease was found in all patchouli production centers in Java and Sumatra (i.e. Bogor, Garut, Ciamis, Sukabumi, Pasaman Barat, Brebes, Pakpak Bharat and Sarolangun), with virus infection level ranged from 0 to 55.5%. This disease was potential to reduce the plant production and PA level of some varieties. Due to the mosaic disease, reduction of fresh herbs weight, dry herbs weight, oil content and the PA of three varieties of patchouli (Tapak Tuan, Lhokseumawe, Sidikalang) was ranging from 7.87 to 34.65%, 0.62 to 40.42%, 2.37 to 9.09%, and 0.72 to 5.06%, respectively. Based on the serological tests and analysis of particle morphologi, Potyvirus was found predominantly associated with the mosaic symptoms. Two species of aphid were found to colonize of patchouli plants in all of surveyed areas i.e. Aphis gossypii Glover and
Brachycaudus sp.
Pendahuluan
Di luar negeri, penyakit mosaik telah dilaporkan disebabkan oleh berbagai spesies virus seperti Patchouli mosaic virus (PaMV) dan Tobacco necrosis virus
(TNV), Patchouli mild mosaic virus (PaMMV), Patchouli mottle virus (PaMoV) (Natsuaki et al. 1994), dan Patchouli Virus X (PatVX) (Meissner Filho et al. 2002), Peanut stripe virus (PStV) (Singh et al. 2009). Di Indonesia, informasi tentang virus yang berasosiasi dengan penyakit mosaik pada tanaman nilam masih sedikit. Menurut Sukamto et al. (2007), nilam di Bogor dan Cianjur terinfeksi oleh Cucumber mosaic virus (CMV), Potyvirus dan bereaksi negatif dengan antiserum Potexvirus. Informasi mengenai kejadian penyakit mosaik dan infeksi virus pada tanaman nilam di daerah sentra produksi nilam belum ada.
Tanaman nilam yang terinfeksi Potyvirus, daun-daunnya nampak mengalami klorosis berat [mosaik], berubah bentuk [malformasi], dan berukuran sangat kecil. Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan menjadi sangat terhambat dan tanaman sakit tampak sangat kerdil (Hartono dan Subandiyah 2006). Gejala penyakit semacam ini tentu saja membawa implikasi yang sangat merugikan bagi produksi nilam yang mengandalkan hasil biomasa tanaman secara keseluruhan. Belum lagi gejala mosaik akan mengakibatkan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan oleh tanaman nilam sakit juga akan menurun. Oleh karena itu, penanggulangan penyakit mosaik pada tanaman nilam ini perlu mendapat perhatian kita semua untuk membantu petani dalam mempertahankan dan bahkan meningkatkan produksi nilam pada tingkat optimal. PaMMV yang menginfeksi tanaman nilam menyebabkan menurunnya biomassa (35%) dan hasil minyak nilam (2%) (Sugimura et al. 1995).
Peranan kutudaun dalam penularan penyakit mosaik telah banyak dilaporkan. Menurut Natsuaki et al. (1994), virus mosaik ditularkan oleh kutudaun seperti Myzus persicae. Oleh sebab itu, maka perlu diamati kutudaun yang mengkoloni tanaman nilam di Indonesia, yang mungkin berperan dalam penyebaran penyakit ini.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan keberadaan penyakit mosaik pada pertanaman nilam di daerah sentra produksi nilam, (2) mengukur penurunan produksi tanaman nilam akibat penyakit mosaik, (3) mendeteksi virus-virus yang berasosiasi dengan penyakit mosaik, dan (4) mengidentifikasi spesies kutudaun yang mengkoloni tanaman nilam dilapangan.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan mulai Maret 2009 sampai Mei 2012 di Laboratorium Virologi Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor, di Rumah Kaca, Kelompok Peneliti Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat di Bogor dan Laboratorium Tropical Plant Protection, Department of International Agricultural Development, Tokyo University of Agriculture (TUA)-Jepang.
Survei dan Koleksi Penyakit Mosaik pada Tanaman Nilam
Survei penyakit mosaik dilakukan di daerah sentra produksi nilam di Sumatera Barat [Pasaman Barat], Sumatera Utara [Pakpak Bharat], Jawa Barat [Bogor, Ciamis, Garut, dan Sukabumi], Jawa Tengah [Brebes dan Purbalingga],
dan Jambi [Sarolangun]. Bagian pucuk tanaman nilam yang menunjukkan gejala khas penyakit mosaik dikoleksi dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisa lebih lanjut. Pengambilan sampel tersebut dilakukan pada pertanaman nilam di ketinggian 250–600 m di atas permukaan laut (dpl).
Pengukuran Penurunan Produksi dan Kadar Minyak Nilam
Penyiapan Bahan Tanaman. Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini berupa setek pucuk dan batang dari tiga varietas nilam (Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan) yang memperlihatkan gejala mosaik dan yang tampak sehat (tidak bergejala). Bahan tanaman nilam tersebut diperoleh dari Kebun Balittro Bogor dan disemai dalam polibeg yang berisi media persemaian. Setelah berumur 1 bulan, tanaman dipindahkan ke media tanam yang terdiri dari tanah dan pupuk kandang [2:1 (v/v)].Tanaman tersebut di simpan dalam rumah kawat kedap serangga. Setelah berumur 6 bulan, tanaman dipanen dengan cara memotong seluruh bagian atas tanaman yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah. Bagian tanaman tersebut dibawa ke laboratorium untuk ditimbang (bobot terna basah dan bobot terna kering); dan kemudian digunakan untuk mendeteksi virus dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan (3 varietas tanaman nilam dan 2 kondisi tanaman) dan masing-masing perlakuan diulang 5 kali.
Deteksi Infeksi Virus pada Tanaman Nilam. Deteksi sampel secara serologi dilakukan menggunakan metode Direct-ELISA (Clark dan Adams, 1977) menggunakan antiserum Cucumber mosaic virus (CMV), Tobacco mosaic virus
(TMV), Broad bean wilt virus 1 (BBWV1) dan Broad bean wilt virus 2 (BBWV2) dan Indirect-ELISA menggunakan antiserum Potyvirus mengikuti metode DSMZ (Germany).
Pengukuran Kadar Minyak dan Kadar Patchouli Alkohol Tanaman Nilam. Pengukuran bobot terna kering tanaman dan penyulingan minyak nilam dilakukan dengan mengikuti beberapa tahap. Pertama-tama bagian tanaman hasil panen dijemur di bawah panas sinar matahari selama lebih kurang 3 jam dan kemudian dibawa ke dalam ruangan untuk dibiarkan sampai kering. Setelah lebih kurang 7 hari, ditimbang bobot tanaman nilam kering (terna kering). Penyulingan minyak nilam mengikuti metode penyulingan minyak nilam dengan dikukus (Mauludi dan Asman 2005).
Deteksi Virus melalui Uji Serologi
Sampel nilam yang sudah dikoleksi diuji dengan ELISA yang dibedakan berdasarkan prosedur kerjanya yaitu (1) Indirect-ELISA menggunakan antiserum
Potyvirus dan (2) Direct-ELISA menggunakan antiserum CMV, TMV, Broad bean wilt virus 1 (BBWV 1 dan BBMV 2 mengikuti metode DSMZ (Germany).
Direct-ELISA: Pertama-tama lubang plat mikrotiter diisi 100 µl antiserum BBWV1, BBWV2, TMV, CMV (DSMZ, Germany), dengan pengenceran 1/1 000 dalam bufer coating dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 2 jam. Setelah lubang plat mikrotiter dicuci dengan PBS-T, disiapkan sap tanaman sakit dengan menggerus daun nilam (0.2 g) dalam 1 ml bufer ekstrak. Sebanyak 100 µl sap diisikan pada lubang plat mikrotiter dan diinkubasi semalam pada suhu 4°C. Setelah dicuci dengan PBS-T (bufer fosfat ditambah Tween-20) sebanyak 5 kali,
lubang plat selanjutnya diisi dengan 100 µl antiserum konjugat, yang diencerkan 1/1 000 dalam bufer konjugat, dan diinkubasi selama 2 jam pada suhu 37⁰C. Setelah dicuci dengan PBS-T, lubang plat diisi dengan substrat p-nitrophenyl fosfat (PNP) dan diinkubasi selama 30-60 menit pada suhu ruang. Selanjutnya hasil ELISA diukur nilai absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 405 nm.
Indirect-ELISA: Pertama-tama disiapkan sap tanaman sakit dengan menggerus daun nilam (0.2 g) dalam 1 ml bufer coating yang mengandung 0.05 M DIECA. Sebanyak 100 µl sap diisikan pada lubang plat mikrotiter dan diinkubasi pada suhu 4°C selama semalam. Setelah dicuci dengan PBS-T (bufer fosfat ditambah Tween-20) sebanyak 5 kali, lubang plat selanjutnya diisi dengan 100 µl larutan 2% skim milk dalam PBS-T dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit. Selanjutnya lubang plat mikrotiter diisi 100 µl antiserum Potyvirus
(DSMZ, Germany), dengan pengenceran 1/1 000 dalam bufer konjugat dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 2-4 jam. Setelah dicuci dengan PBS-T, lubang plat diisi dengan 100 µl konjugat RaM-AP, yang diencerkan 1/1 000 dalam bufer konjugat, dan diinkubasi selama 2 jam pada suhu 37⁰C. Setelah dicuci dengan PBS-T, lubang plat diisi dengan substrat p-nitrophenyl fosfat dan diinkubasi selama 30-60 menit pada suhu ruang. Selanjutnya hasil ELISA diukur nilai absorbansinya menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 405 nm.
Pengamatan Morfologi Virus dengan Mikroskop Elektron
Partikel virus diamati dibawah mikroskop elektron transmisi model JEOL 1010 yang dioperasikan pada 80 kV menggunakan siapan virus cairan perasan tanaman terinfeksi Potyvirus. Preparat disiapkan dengan mencampur satu tetes sampel dengan satu tetes 2% PTA (phosphotungstate acid) pH 7,0, kemudian grid
berukuran 400 mesh yang telah dilapisi kolodion dan dikarbonisasi ditempelkan pada preparat tersebut selama 1-2 menit. Diharapkan partikel virus yang ada pada preparat sampel akan menempel pada grid. Pengamatan partikel virus dilakukan dengan pembesaran 50 000 kali.
Pengukuran Tingkat Infeksi Virus
Pengambilan sampel tanaman nilam yang bergejala mosaik dilakukan secara diagonal 5 titik dan secara acak (minimal 10% dari populasi tanaman). Tingkat infeksi virus ditentukan berdasarkan reaksi sampel yang positif terinfeksi virus dengan jumlah sampel yang bergejala mosaik di lapangan dengan ELISA.
Koleksi dan Identifikasi Kutudaun Pengkoloni Nilam
Koleksi Kutudaun Pengkoloni Nilam. Kutudaun dikoleksi dari seluruh daerah yang disurvei (ketinggian 250–600 m dpl) dengan cara mengumpulkan seluruh jenis kutudaun yang ada pada tanaman nilam dan dimasukan dalam botol koleksi yang berisi alkohol 70%. Selanjutnya koleksi kutudaun dibawa ke laboratorium untuk keperluan identifikasi.
Identifikasi Kutudaun. Kutudaun yang digunakan dalam pengujian ini diperoleh dari pertanaman nilam. Sebelum dibiakkan pada tanaman inang nilam, kutudaun diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi Blackman dan Eastop (2000), dan Martin (1983). Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi kutudaun
yang tidak bersayap dengan karakter yang diamati antara lain kepala, kauda dan sifunkulus (Gambar 3.1).
Gambar 3.1 Karakter morfologi kutudaun tidak bersayap (aptera) yang penting diamati untuk kunci identifikasi: (A) kepala, (B) kauda dan (C) sifunkulus.
Pembuatan Preparat Mikroskop. Pembuatan preparat mikroskopi dilakukan dengan metode Blackman dan Eastop (2000). Kutudaun dimatikan dalam alkohol 95%, kemudian dimasukan ke dalam tabung reaksi yang berisi alkohol 95%, dan dipanaskan dalam penangas air selama 5 menit. Alkohol bersama kutudaun dituang ke dalam cawan sirakus, dan kutudaun ditusuk pada bagian torak dengan jarum. Selanjutnya kutudaun dimasukan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10%, dan dipanaskan kembali sampai kutudaun dalam tabung reaksi terlihat transparan. Tabung reaksi yang berisi kutudaun dikeluarkan dari penangas air dan kutudaun beserta KOH dituang ke cawan sirakus. Kutudaun dicuci dengan air destilat sebanyak dua kali. Perlakuan selanjutnya adalah dehidrasi kutudaun, dengan cara merendam kutudaun yang telah dibersihkan isi tubuhnya dalam alkohol secara berurutan mulai dari kepekatan 50%, 70%, 80%, 95%, dan 100% masing-masing selama 10 menit. Selanjutnya kutudaun direndam dalam minyak cengkeh selama 10 menit. Kutudaun diletakkan di atas gelas objek yang sebelumnya telah ditetesi minyak cengkeh. Kemudian minyak cengkeh diserap sampai bersih menggunakan kertas saring atau tisu. Posisi kutudaun diatur dan ditetesi balsam kanada. Pengerjaan tahap penyerapan minyak cengkeh dilakukan dibawah mikroskop stereo. Selanjutnya preparat ditutup dengan gelas penutup dan diamati di bawah mikroskop compound.
Hasil dan Pembahasan Hasil
Penyakit Mosaik pada Tanaman Nilam dan Virus-virus yang Berasosiasi
Survei yang dilakukan pada sentra produksi nilam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jambi ditemukan adanya infeksi penyakit mosaik dengan gejala ringan sampai berat. Contoh variasi gejala mosaik pada daun nilam dari seluruh daerah survei dapat dilihat pada Gambar 3.2. Tanaman nilam yang menunjukkan gejala mosaik berat dari Bogor, Garut, Ciamis dan Pasaman Barat, masing-masing bereaksi kuat dengan antiserum Potyvirus, tetapi daun yang bergejala mosaik dari Brebes bereaksi kuat dengan antiserum
Fabavirus (BBWV1). Selain itu, sampel tanaman nilam yang terinfeksi penyakit mosaik dari Sumatera Utara (Pakpak Bharat) tidak bereaksi dengan antiserum yang diuji. Hasil deteksi sampel daun nilam yang terinfeksi virus menggunakan metode ELISA ditunjukkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Frekuensi infeksi virus pada sampel tanaman nilam bergejala mosaik dari lokasi yang berbeda berdasarkan metode ELISA.
Lokasi Sampel Antiserum
Potyvirus TMV CMV BBWV1 BBWV2 Sumatera Barat Pasaman Barat 20/45* nt nt 1/45 0/45 Sumatera Utara Pakpak Bharat 0/6 0/6 0/6 0/6 0/6 Jawa Barat Bogor 2/5 0/5 0/5 nt nt Garut 3/15 0/15 0/15 nt nt Ciamis 5/9 0/9 0/9 nt nt Sukabumi 0/20 0/20 0/20 7/20 0/20 Jawa Tengah Brebes 0/23 0/23 0/23 0/23 9/23 Jambi Sarolangun 4/23 nt 0/23 nt 6/23
Catatan: *a/b: perbandingan antara sampel yang terinfeksi dengan jumlah sampel yang diuji. nt : tidak diuji
Gambar 3.2 Variasi gejala mosaik pada daun tanaman nilam yang dikoleksi dari sentra produksi tanaman nilam di Indonesia: (A) dan (B) sampel daun nilam dari Kecamatan Bogor Barat-Bogor, (C) dari Cidolog- Ciamis, (D) Pakenjeng-Garut, (E) Kinali-Pasaman Barat yang terinfeksi Potyvirus, (F) Cicurug-Sukabumi yang terinfeksi
Fabavirus (BBWV1), (G) Manoko-Bandung yang terinfeksi
Potyvirus, (H) Singkut-Sarolangun,Jambi yang terinfeksi Potyvirus
dan Fabavirus, (I) dari Kecamatan Salem-Brebes yang terinfeksi
Fabavirus (BBWV2), dan (J) tanaman nilam sehat.
Morfologi dan Ukuran Partikel Virus
Hasil pengamatan dengan mikroskop elektron terhadap siapan virus perasan tanaman yang terinfeksi Potyvirus pada sampel isolat asal Bogor,
menunjukkan adanya partikel virus yang berbentuk batang dan lentur. Partikel virus tersebut berukuran panjang 350-2 400 nm (rata-rata dari 40 partikel) dengan rata-rata 914 nm (Gambar 3.3).
Gambar 3.3 Bentuk partikel Potyvirus isolat asal Bogor yang diamati dengan mikroskop elektron. Panjang partikel virus berkisar 350-2 400 nm (rata-rata dari 40 partikel) dengan rata-rata 914 nm.
Tingkat Infeksi Virus pada Pertanaman Nilam
Tingkat infeksi virus pada tanaman nilam dari beberapa daerah sentra produksi nilam di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.2. Tingkat infeksi virus mencapai 55.5%, pengukuran tingkat infeksi virus ini berdasarkan jumlah sampel yang positif terinfeksi virus dengan jumlah sampel yang bergejala mosaik di lapangan.
Tabel 3.2 Tingkat infeksi virus pada sampel tanaman nilam bergejala mosaik yang diambil dari sentra produksi nilam di Indonesia.
Lokasi (Kecamatan, Kabupaten) Tanggal pengambilan sampel Gejala penyakit dominan*) Tingkat infeksi virus**) Sumatera Barat
Talamau dan Kinali, Pasaman Barat
September 2009 mhk 46.7%(21/45) Sumatera Utara
Situ Jehe, Pakpak Bharat Juli 2010 mhk 0.0%(0/6) Jawa Barat
Bogor Barat, Bogor Oktober 2008 mhk, lm 40.0%(2/5) Pakenjeng, Garut April 2009 mhk, lm 35.0%(3/15)
Cidolog, Ciamis April 2009 mhk 55.5%(5/9)
Cicurug, Sukabumi Juli 2010 nk 35.0%(7/20)
Jawa Tengah
Salem, Brebes Mei 2010, April 2011 mhk 39.1%(9/23) Jambi
Singkut, Sarolangun Desember 2011 mhk 39.1%(9/23)
Keterangan:*) Gejala mhk= mosaik hijau kekuningan; lm= malformation; nkk=nekrosis kuning kerdil; nk=nekrosis kuning.
Penurunan Produksi dan Kadar Minyak Nilam Akibat Penyakit Mosaik. Penyakit mosaik menyebabkan tanaman nilam menjadi kerdil, kandungan klorofil daun berkurang sehingga pertumbuhan tanaman menjadi menurun. Hasil deteksi menggunakan metode ELISA tersebut memberikan indikasi bahwa
Potyvirus merupakan jenis virus yang dominan ditemukan pada tanaman nilam yang berasal dari Kebun Balittro Bogor. Secara umum dari ketiga varietas yang diuji, penyakit mosaik dapat menurunkan bobot terna basah mencapai 34.65%, bobot terna kering mencapai 40.42%, kandungan minyak mencapai 9.09% dan kadar patchouli alcohol mencapai 5.05% (Tabel 3.3 dan Tabel 3.4).
Tabel 3.3 Penurunan bobot terna basah dan terna kering dari tiga varietas nilam akibat penyakit mosaik pada pengukuran 6 bulan setelah tanam.
Varietas nilam Kondisi tanaman Bobot terna basah (gr/tan)*) Penurunan bobot terna basah (%) Bobot terna kering (gr/tan)*) Penurunan bobot terna kering (%) Sidikalang Sehat 206.73 c 16.12 b Sakit 135.10 f 34.65 10.14 d 37.10 Lhokseumawe Sehat 214.43 b 16.08 b Sakit 197.57 d 7.87 15.98 b 0.62
Tapak Tuan Sehat 255.50 a 22.66 a
Sakit 187.73 e 26.52 13.50 c 40.42
*))Angka yang dikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada DNMRT 5%.
Tabel 3.4 Penurunan kadar minyak (%) dan kadar patchouli alcohol (%) dari tiga varietas nilam akibat penyakit mosaik pada pengukuran 6 bulan setelah tanam.
Varietas nilam Kondisi tanaman Kadar minyak (%) Penurunan kadar minyak (%) Kadar patchouli alcohol (%) Penurunan kadar patchouli alcohol (%) Sidikalang Sehat 2.64 35.65 Sakit 2.40 9.09 36.64 0.00 Lhokseumawe Sehat 2.38 34.50 Sakit 2.30 3.36 34.25 0.72
Tapak Tuan Sehat 2.11 40.90
Sakit 2.06 2.37 38.83 5.06
Spesies Kutudaun Pengkoloni Tanaman Nilam
Terdapat dua jenis kutudaun yang ada pada tanaman nilam yaitu Aphis gossypii Glover dan Brachycaudus sp (Gambar 3.4). Kutudaun membentuk koloni dipermukaan bawah daun dan tangkai pucuk, menyebabkan pucuk daun menggulung. Kedua spesies tersebut ditemukan pada seluruh daerah yang disurvei dan A. gossypii yang paling banyak jumlahnya (Tabel 3.5).
A. gossypii bewarna hijau kekuningan sampai hijau. Berdasarkan hasil identifikasi pada preparat awetan pada mikroskop, A. gossypii memiliki bentuk kepala yang tidak berkembang, kauda agak mengecil pada bagian tengah dan
sifunkulus berbentuk silindris. Sedangkan Brachycaudus sp. berwarna hijau kekuningan, memiliki bentuk kepala yang tidak berkembang, kauda berbentuk helm dan sifunkulus memiliki bibir pada bagian pinggirnya dan ukurannya lebih pendek dibandingkan sifunkulus A. gossypii (Gambar 3.4).
Gambar 3.4 Preparat mikroskopi Aphis gossypii: A. A. gossypii dewasa aptera. B. Kepala (tanda panah). C. Kauda (tanda panah) dan Brachycaudus
sp.: D. Brachycaudus sp. dewasa aptera. E. Kepala (tanda panah). F. Kauda (tanda panah).
Tabel 3.5 Kepadatan populasi kutudaun pada beberapa daerah sentra budidaya tanaman nilam di Indonesia.
Lokasi Jumlah Kutudaun
Aphis gossypii Brachycaudus sp.
Sumatera Barat Pasaman Barat ++ + Sumatera Utara Pakpak Bharat + ++ Jawa Barat Bogor ++ + Kuningan ++ + Garut ++ + Jawa Tengah Brebes ++ + Purbalingga + ++ Jambi Sarolangun + ++
Catatan: + (terdapat 1-50 ekor kutudaun/lokasi), ++ ( terdapat >50 ekor kutudaun/lokasi)
Pembahasan
Fabavirus (BBMV1 dan BBWV2) adalah virus yang pertama kali dilaporkan menginfeksi tanaman nilam di Indonesia. Jadi ada dua kelompok virus yang menginfeksi tanaman nilam di Indonesia yaitu Potyvirus dan Fabavirus. Menurut Singh et al. (2009), nilam dilaporkan terinfeksi oleh sejumlah virus seperti Patchouli mosaic virus (PaMV) dan Tobacco necrosis virus (TNV) dan melaporkan juga bahwa tanaman nilam di India terinfeksi Peanut stripe virus
Patchouli mild mosaic virus (PaMMV) genus Fabavirus, Patchouli mottle virus
(PaMoV) genus Potyvirus (Natsuaki et al. 1994), dan Patchouli virus X (PatVX) genus Potexvirus (Meissner Filho et al. 2002).
Sukamto et al. (2007) dan Hartono (2008) melaporkan bahwa kelompok virus yang menyebabkan penyakit mosaik dan belang (mottle) pada tanaman nilam adalah CMV dan BCMV. Tetapi, pada hasil penelitian ini tidak terdeteksi adanya CMV dan BCMV pada sampel tanaman nilam.
Bentuk partikel virus seperti batang dan lentur merupakan ciri morfologi
Potyvirus. Menurut Natsuaki et al. (1994), partikel virus PaMoV (termasuk golongan Potyvirus) berbentuk batang, lentur dan ukurannya rata-rata 760 nm.
Tingkat infeksi virus tersebut pada pertanaman Nilam yang disurvei cukup tinggi yaitu berkisar antara 0-55,5%. Sumardiyono et al. (1995) menemukan bahwa kejadian penyakit mosaik yang disebabkan oleh infeksi virus pada nilam di Jawa Tengah berkisar antara 54-73%. Di India, kejadian penyakit mosaik di lapangan berkisar antara 43-76% (Sastry dan Vasanthakumar 1981). Tanaman nilam yang terinfeksi virus menunjukkan gejala berwarna kuning atau klorosis setempat-setempat pada daun, daun berubah bentuk (malformasi), lamina daun menyempit, dan pada infeksi yang parah akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil (Hartono dan Subandiyah 2006, Noveriza et al. 2012).
Produksi tanaman nilam tergantung pada jenis/varietas yang ditanam dan faktor lingkungan pendukung pertumbuhan tanaman. Produksi yang baik dapat mencapai 15–25 ton terna basah atau 3-5 ton terna kering per ha per panen dengan rendemen minyak 2.5–4.0 persen, sehingga produksi minyak mencapai 75 200 kg/ha/panen (Mauludi dan Asman 2005). Penyakit mosaik tercatat sebagai salah satu faktor pembatas dalam produksi tanaman nilam di Indonesia(Sukamto et al. 2007). Menurut estimasi Sugimura et al. (1995), infeksi virus berkontribusi menurunkan produksi nilam sampai 35% dan kadar patchouli alcohol sebesar 2%. Berdasarkan pengukuran bobot basah dan kering yang dilakukan, penyakit mosaik yang menginfeksi tanaman nilam varietas Tapak Tuan dapat mengurangi produksi biomas (bobot terna basah) hingga 26.52% dan bobot terna kering hingga 40.42% (Tabel 3.3), kandungan minyak atsiri hingga 2.37% dan patchouli alcohol nilam sampai 5.06% (Tabel 3.4). Berbeda halnya pada varietas Lhokseumawe, penyakit mosaik ini dapat mengurangi produksi terna basah hingga 7.87% dan bobot terna kering hingga 0.62% (Tabel 3.3), kandungan minyak atsiri hingga 3.36% dan
patchouli alcohol nilam sampai 0.72% (Tabel 3.4). Untuk varietas Lhokseumawe, walaupun penurunan biomas tidak terlalu tinggi jika dibandingkan varietas Tapak Tuan, penurunan kadar minyaknya (3.36%) lebih tinggi dibandingkan varietas Tapak Tuan (2.37%).
Pada penelitian ini didapatkan 2 jenis kutudaun yang mengkoloni tanaman nilam yaitu A. gossypii dan Brachycaudus sp. Myzus persicae, yang pernah dilaporkan mengkoloni tanaman nilam di Indonesia oleh Adria et al. (1990) dan Darwis (2005), tidak ditemukan dalam survei ini. Secara morfologi A. gossypii
dan Brachycaudus sp dapat dibedakan dari bentuk sifunkulus dan kaudanya. Menurut Blackman dan Eastop (2000), sifunkulus Brachycaudus sp. meruncing kearah ujung dan memiliki bibir pada bagian ujungnya, sedangkan A. gossypii
meruncing dari pangkal sampai bagian tengah dan hampir lurus dari bagian tengah sampai ke ujung.
Brachycaudus sp. merupakan salah satu anggota kutudaun yang baru pertama kali dilaporkan keberadaannya pada tanaman nilam. Informasi tentang siklus hidup kutudaun ini pada tanaman nilam belum ada. Selain itu, identifikasi spesies dari kutudaun sangat penting dilakukan untuk mengetahui cara memperbanyak kutudaun kelompok Brachycaudus. Tetapi hal ini sangat sulit dilakukan, karena sedikitnya kunci identifikasi spesies dari kelompok
Brachycaudus. Menurut Blackman dan Eastop (2006), sulit untuk mengidentifikasi anggota spesies yang berbeda dalam genus Brachycaudus karena sedikitnya karakter morfologi yang bisa digunakan dalam kunci identifikasi dan