Dampak El-Nino Terhadap Produksi Pertanian
3.1 Intermediasi Bank Umum
3.1.2 Penyaluran Kredit
Kredit yang disalurkan bank umum di Jawa Tengah pada triwulan 2009 tumbuh cukup baik. Secara tahunan, pertumbuhan kredit pada triwulan
III-2009 mencapai 13,73%, melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada triwulan II-2009 dan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 15,60% dan 29,63%. Pertumbuhan kredit pada triwulan III-2009 merata di semua jenis penggunaan kredit. Kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 13,51%, 15,97%, dan 13,60%. Pertumbuhan kredit pada triwulan III-2009 ini disebabkan oleh dorongan kebutuhan konsumsi masyarakat pada bulan Puasa dan Hari Raya Lebaran yang berimbas pada peningkatan realisasi kredit. Selain itu, juga disebabkan oleh adanya beberapa megaproyek yang direalisasikan pada bulan Juli yang salah satunya adalah pemberian kredit sindikasi untuk pembangunan Jalan tol. (Grafik 3.7).
Secara triwulanan, kredit pada triwulan III-2009 tumbuh sebesar 2,59%, melambat jika dibandingkan pertumbuhan kredit pada triwulan sebelumnya yang sebesar 3,43%. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) Perbankan Triwulan III-2009 yang diselenggarakan oleh KBI Semarang, melambatnya pertumbuhan kredit di wilayah Jawa Tengah disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu: (1). Perbankan lebih menerapkan prinsip prudential banking didalam kebijakan penyaluran kreditnya mengingat risiko kredit yang semakin meningkat; (2). Penarikan DPK oleh Pemerintah Daerah untuk merealisasikan proyek di akhir tahun; dan (3). Masih relatif tingginya suku bunga kredit.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
III IV I II III IV I II III
2007 2008 2009 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
M odal Kerja - axis kiri Investasi - axis kiri Konsumsi - axis kiri Total kredit - axis kanan
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
III IV I II III IV I II III
2007 2008 2009 R p T ri li u n
P emerintah Swasta Nasio nal A sing
Sumber : LBU, Bank Indonesia Sumber : LBU, Bank Indonesia
Grafik 3.7 Perkembangan Kredit Bank Umum
Menurut Jenis Penggunaan Grafik 3.8. Perkembangan Kredit bank UmumMenurut Kelompok Bank Pemerintah, Swasta dan Asing
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit yang disalurkan perbankan Jawa Tengah masih didominasi oleh kredit modal kerja (Grafik 3.7). Pada
triwulan II-2009, komposisi kredit modal kerja (KMK) terhadap penyaluran kredit bank umum di Jawa Tengah masih dominan yaitu sebesar Rp43,64 triliun (56,26%), diikuti kredit konsumsi (KK) sebesar Rp27,86 triliun (35,93%). Sementara itu kredit investasi (KI) hanya sebesar Rp6,05 triliun (7,81%).
Dominannya penyaluran kredit modal kerja dibandingkan dengan jenis kredit lainnya cukup menggembirakan, mengingat hal tersebut mengindikasikan adanya perkembangan sektor usaha. Namun demikian, seyogyanya kredit investasi diharapkan dapat tumbuh lebih tinggi daripada jenis kredit lainnya mengingat efek dalam pemberian kredit investasi tidak habis dalam satu cycle usaha. Selain itu, untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta penciptaan lapangan kerja, investasi sangat dibutuhkan. Kecilnya komposisi realisasi kredit investasi terhadap keseluruhan kredit sebagai akibat kredit jenis ini mempunyai jangka waktu yang lebih panjang, sehingga menuntut perbankan mencurahkan perhatian ekstra dalam pengelolaannya. Mengingat karakteristiknya yang berisiko, maka tingkat bunga yang dipatok oleh perbankan untuk kredit investasi lebih tinggi dibandingkan dengan kredit konsumsi. Hal ini juga yang menyebabkan semakin rendahnya realisasi kredit investasi (Grafik 3.9).
Sumber : LBU, Bank Indonesia
Kelompok Bank Pemerintah masih mengambil porsi terbesar dalam penyaluran kredit bank umum di Jawa Tengah yaitu sebesar 60,08%,
Grafik 3.9. Perkembangan Suku Bunga Kredit Bank Umum Menurut Jenis Penggunaan
-5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00
III IV I II III IV I II III
207 2008 2009 P e rs e n (% ) KMK KI KK
pada triwulan III-2009 ini masing-masing hanya sebesar 81,44% dan 42,69%. LDR tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan LDR bank pemerintah yang mencapai 98,93%.
Secara sektoral kredit yang disalurkan terkonsentrasi pada sektor lainnya (konsumtif), sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), dan sektor industri pengolahan masing-masing dengan pangsa sebesar 36,88%, 33,62%, dan 18,86%. Outstanding kredit pada masing-masing sektor di atas pada
triwulan III-2009 adalah Rp28,60 triliun untuk sektor lainnya (konsumsi), Rp26,08 triliun untuk sektor PHR, dan Rp14,63 triliun untuk sektor industri pengolahan. Secara tahunan, kredit seluruh sektor mengalami pertumbuhan dengan pertumbuhan tertinggi dari masing-masing sektor dicapai oleh Sektor Listrik, Gas, dan Air, Sektor Pengangkutan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Lainnya (konsumtif), dan Sektor Industri Pengolahan. Sektor-sektor inilah yang menjadi sektor andalan perbankan dalam menyalurkan kreditnya dikarenakan tingkat pengembalian yang cukup baik dan return yang cukup tinggi dari ketiga sektor tersebut. Namun demikian, terdapat fenomena yang menarik yang perlu menjadi perhatian kita bersama yaitu kecenderungan perbankan untuk lebih membiayai sektor lainnya (konsumtif) daripada sektor produktif (PHR dan Industri Pengolahan).
Pada triwulan III-2009, porsi terbesar kredit modal kerja masih tersalur pada sektor PHR khususnya perdagangan. Secara triwulan, kredit modal kerja
tumbuh sebesar 1,78%. Secara sektoral, lebih dari 83,65% KMK tersalur ke dua sektor ekonomi yaitu sektor PHR sebesar Rp23,76 triliun (54,42%) dan sektor industri Rp13,10 triliun (29,23%). Non Performing Loans (NPLs) kedua sektor tersebut masing-masing 3,90% dan 6,33%. NPL KMK sektor industri yang mengalami tren kenaikan cukup tinggi sejak periode Februari 2009 diduga akibat dampak krisis keungan global yang sangat memukul kinerja sektor industri, sehingga menyebabkan kegagalan pembayaran kewajiban angsuran kredit oleh para debitur yang bergerak di sektor industri.
TABEL 3.2.
PENYALURAN KREDIT MODAL KERJA BANK UMUM PER SEKTOR EKONOMI (RP TRILIUN)
Sektor Ekonomi TW III-08 TW IV-08 TW I-09 TW II-09 TW III-09*
Pertanian 1.969 2.056 2.032 2.075 2.046
Pertambangan 78 79 81 66 90
Industri 12.889 13.749 13.736 13.106 12.763
Listrik, Gas, &Air 10 9 11 26 28
Konstruksi 1.236 990 1.012 1.179 1.290
PHR 20.413 21.230 21.388 22.799 23.765
Pengangkutan 292 372 372 382 367
Jasa dunia usaha 2.332 2.311 2.175 2.205 2.221
Jasa sosial masy. 426 417 432 451 398
Lainnya 693 613 587 592 702
Total KMK 40.337 41.826 41.825 42.883 43.669
Rasio kredit terhadap DPK (Loan to Deposit Ratio – LDR) mengalami peningkatan. Pada triwulan III-2009, LDR bank umum meningkat dari 87,44% pada
triwulan II-2009 menjadi 90,33%. Namun demikian, secara tahunan LDR bank umum pada Agustus 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi triwulan III-2008 yaitu dari 91,89% menjadi 90,33%. Hal ini dikarenakan pada Triwulan III-III-2008 belum terjadi krisis finansial global yang mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia. Dari sisi jenis bank, diharapkan penyaluran kredit bank swasta nasional dan swasta Asing yang selama ini rata-rata nilai LDR masing-masing sebesar 81% dan 42% untuk lebih ditingkatkan, nilai tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan LDR bank Pemerintah yang rata-rata dalam kisaran 98%. Peningkatan penyaluran kredit tersebut juga diharapkan lebih ke arah kredit investasi, mengingat peranannya yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi jangka panjang.