a. Penyebab Tindak Pidana Korupsi
Menurut Marwan Mas (2014:8) praktik korupsi tidak hanya melanda negara-negara berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti amerika serikat, hanya saja korupsi di negara-negara maju tidak separah dengan korupsi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Instrument dan supremasi hokum pada negara-negara maju dalam memberantas korupsi, betul-betul berjalan sebagaiman mestinya karena adanya keseriusan apparat hukumnya yang didukung oleh kemauan
26
politik (political will) kepala pemerintahan. Kenyataan sebaliknya di Indonesia, suburnya praktik korupsi terutama saat orde baru yang dilanjutkan di era reformasi, kurang menyentuh perhatian pemerintah (eksekutif) dan wakil rakyat yang ada di parlemen (legislatif). Secara historical-struktural, suburnya perilaku korupsi di Indonesia yang tampaknya sudah membudaya karena terjadi di hamper semua lini kehidupan masyarakat, merupakan warisan dari zaman colonial. Adanya paham kapitalisme telah melahirkan imperialism dan kolonilalisme berupa penjajahan negara atas negara. Penjajahan yang berlangsung begitu lama menyebabkan terjadinya pengaburan nilai-nilai social yang dianut dalam masyarakat pribumi. Akibatnya, terjadi distorsi atas nilai-nilai social masyarakat, yang kemudian berimplikasi pada dekadensi moral masyarakat secara sistemik dan berulang-ulang. Pada akhirnya, tidak dapat dihindari terbentuknya pola piker dan emosional secara sistematis yang melahirkan norma baru dalam masyarakat yang disebut kapitalistik.
Semakin merajalela dan meratanya korupsi di seluruh sendi kehidupan di Indonesia karena; (Ermansjah Djaja, 2008 : 24)
8) Kurangnya Idealisme Keteladanan Pemangku JabatanDari sekian banyak pemangku jabatan yang duduk di kursi pesakitan, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya yang menyimpang dari kewenangan yang dianugrahkan kepadanya berdasarkan sumpah/janji jabatan, penyebabnya adalah “tidak mempunyai idealisme keteladanan”
27
yang kuat, jika pemangku jabatan tersebut mau bercermin kepada pemangku jabatan yang bersih.Contohnya salah satu putra bangsa Indonesia, baik terpublikasi maupun secara umum diketahui oleh masyarakat luas seorang sosok Baharuddin Lopa yang memiliki idealisme keteladanan, yang mengandalkan keyakinan 90,9% memikirkan akhirat, sehingga ada perasaan takut dengan “sumpah jabatan” dalam prinsip hidupnya, tidak merasa takut dengan badan
pengawas manusia melainkan takut kepada Tuhan Yang Maha Esa jika mencederai anugrah yang diberikan padanya sebagai pemangku jabatan.
Ada beberapa fakta yang dapat ditiru bagi pemangku jabatan dari sikap idealisme keteladanan Baharuddin Lopa antara lain, ketika memangku jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Selatan, dua orang bawahannya yang bernama Morra Bilu dan Arifin Sallatu berinisiatif membeli kursi tamu untuk digunakan di rumah jabatan Baharuddin Lopa yang sumber dana pembeliannya berasal dari sisa anggaran rutin kantor Kejaksaan, pada akhirnya kursi tamu tersebut dikembalikan kepada penjualnya dan harganya dikembalikan ke Kas Negara sebesar nilai anggaran rutin Kejaksaan yang menjadi saldo kas. Kemudian adik bungsu dari Baharuddin Lopa yang bernama Arif Lopa, sementara mengikuti testing calon hakim di Jakartadengan membawa nomor test untuk tujuan agar dibantu meloloskan, namun yang terjadi nomor test tersebut disobek oleh Baharuddin Lopa selanjutnya menyampaikan kepada panitia penyelenggara test calon hakim agar tidak
28
meloloskan adiknya, dengan alasan tidak memenuhi kriteria menjadi seorang hakim.
Lengkap tidaknya peraturan perundang-undangan bukan menjadi alasan untuk menentukan baik buruknya pengelolaan keuangan negara. Sepanjang adanya itikad baik dari pimpinan untuk membenahi pengelolaan keuangan suatu institusi walaupun peraturan perundang-undangan tidak lengkap dan tidak memadai akan selalu membuahkan perbaikan. Karena itikad baik adalah modal dasar yang dilandasi oleh asas-asas dan prinsip-prinsip yang telah diterima secara universal oleh masyarakat dalam pergaulan hidup. Begitupula asas-asas dan prinsip-prinsip dalam pengelolaan keuangan negara tidak seluruhnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi lebih banyak tercipta dan diperaktekkan dalam pengelolaan keuangan publik dan diterima serta dijadikan tolak ukur/kriteria dalam pengelolaan keuangan pulik/negara. 9) Pengaruh Keluarga
Indikasi dimulainya korupsi, cenderung datangnya dari pihak keluarga dekat dari pemangku jabatan, disebabkan karena adanya faktor balas jasa atau keseganan kedudukan sosial yang menghendaki suatu keinginan memanfaatkan kesempatan selama priode masa jabatan tertentu. Dengan berbagai macam permintaan, baik berupa perbaikan struktural jabatan maupun sebagai broker proyek. Pengaruh utama cenderung bersumber dari Isteri/Suami dan anak dari pemangku jabatan yang sangat berpengaruh untuk di jadikan jembatan penghubung yang
29
lebih awal mendapat upeti dari pengusaha yang akan mengajukan penawaran proyek.
10) Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam era reformasi terdapat beberapa kepala daerah duduk di kursi pesakitan dengan modus operandi perkara penyalahgunaan jabatan, disebabkan atas pilihan rakyat yang didasarkan pada materi, ada yang disebut serangan fajar untuk mempengaruhi masyarakat atas pemilihan keesokan harinya sehingga cenderung masyarakat wajib pilih tidak lagi melihat pemimpin yang benar-benar mempunyai latar belakang pengalaman kepemimpinan dalam mengatur keuangan negara atau daerah, melainkan dari kandidat mana mendapatkan materi.Dari kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia seiring dengan reformasi, peletakan pertama pemimpin bangsa Indonesia, dimulai dengan dominasi politik yang luar biasa sehingga seluruh rakyat Indonesia terkeco dan melupakan bahwa negara kesatuan republik Indonesia adalah negara hukum, bukan negara kekuasan. Dengan terpilihnya pasangan presiden dan wakil Republik Indonesia pertama reformasi, dalam kenyataannyaditurunkan secara paksa atau mundur secara suka rela,kemudiansecara otomatis diganti oleh wakilnya yang hanya dibekali latar belakang pendidikan politik, dengan cara menampilkan foto Bung Karno untuk mempengaruhi bangsa Indonesia, namun juga tidak mampu bertahan untuk bersaing dalam periode berikutnya yang ditandai dengan dua kali gagal dalam pemilihan presiden, karena bangsa indonesia mulai
30
menyadaripentingnya sumber daya manusia (SDM) yang berwawasan luas, cerdas dan berpendidikan tinggi, negarawan, sehingga dapat memenuhi kriteria sebagai pemimpin bangsa. Dari kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia kemudian menjadi contoh kebawah dalam pemilihan kepala daerah, sampai saat ini pemilukada cenderung kandidat yang terpilih berasal dari pengusaha berpasangan dengan birokrasi atau sebaliknya birokrasi berpasangan dengan pengusaha.Bahkan di salah satu Kabupaten, Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat Bupati yang terpilih adalah pimpinan preman yang mempunyai basis pendukung berjumlah besar.Untuk menentukan pemimpin yang berkualitas tergantung dari sumber daya manusianya yang ditunjang dengan faktor utama adalah pendidikan yang berlatar belakang ilmu hukum dan politik, agar dapat lebih memahami tugas dan tanggungjawabnya serta dapat memberi contoh pemahaman norma-norma hukum kepada bawahannya didalam melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan negara/daerah, inisiatif kebijakan berjalan lancar karena memahami segala tindakan yang mempunyai akibat hukum, mudah menghindari perbuatan korupsi, dapat melindungi hak-hak negara/daerah dan masyarakat. Kebocoran keuangan negara disebabkan karena pemegang kekuasaan umum dalam menentukan kebijakan menjadi terbalik, cenderung bawahan yang menjadi penentu kebijakan dengan modal paraf, atasan tinggal tanda tangan, karena tidak mampu untuk menguji kembali konsideran
31
dokumen yang disodorkan, atau kebijakan bergantung pada bagian hukum dalam suatu instansi pemerintah.
Menurut penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi Abdullah Hehamahua, berdasarkan kajian dan pengalaman setidaknya ada delapan penyebab terjadinya korupsi di Indonesia:
1) Sistem Penyelenggaraan Negara yang Keliru
Sebagai negara yang baru merdeka atau negara yang baru berkembang, seharusnya prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Tetapi, selama puluhan tahun, mulai dari Orde Lama, Orde Baru sampai dengan Reformasi ini, pembangunan difokuskan di bidang ekonomi, Padahal disetiap negara yang baru merdeka, terbatas dalam memiliki SDM, uang, management dan teknologi. Konsekwensinya, semuanya didatangkan dari luar negeri yang pada gilirannya, menghasilkan penyebab korupsi yang kedua, yaitu:
2) Kompensasi PNS yang Rendah
Wajar saja negara yang baru tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar kompensasi yang tinggi kepada pegawainya. sehingga secara fisik dan kultural melahirkan pola konsumerisme, sehingga sekitar 90 % PNS melakukan KKN. Baik berupa korupsi waktu, melakukan kegiatan pungli maupun mark up kecil-kecilan demi menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran pribadi/keluarga.
32
Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan seperti di atas mendorong pejabat ingin menjadi kaya secara Instant. Lahirnya sikap serakah di mana pejabat menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, melakukan mark up proyek-proyek pembangunan, bahkan berbisnis dengan pengusaha, baik dalam bentuk menjadi komisaris maupun salah seorang shere holder dari perusahaan tersebut.
4) Law Enforcement Tidak Berjalan
Disebabkan para pejabat serakah dan PNS-nya KKN karena gaji yang tidak cukup, maka boleh dibilang penegakan hukum tidak berjalan hampir di seluruh lini kehidupan baik di instansi pemerintahan maupun di lembaga kemasyarakatan karena segala sesuatu diukur dengan uang. Lahirnya kebiasaan plesetan kata-kata KUHP (Kasih Uang Habis Perkara). Tin (Ten persen). Ketuhanan Yang Maha Esa (Keuangan Yang Maha Kuasa), dan sebagainya.
5) Hukuman yang Ringan terhadap Koruptor
DisebabkanLaw Enforcement Tidak Berjalan di mana aparat penegak hukum bisa dibayar, mulai dari polisi, jaksa, hakim dan pengacara, maka hukuman yang dijatuhkan oleh para koruptor sangat ringan sehingga tidak menimbulkan efek jerah bagi koruptor. Bahkan tidak menimbulkan rasa takut dalam masyarakat sehingga pejabat dan pengusaha tetap melakukan proses KKN.
33
Dalam sistem management yang modern selalu ada instrument yang disebut internal control yang bersifat in build dalam setiap unit kerja, sehingga sekecil apapun penyimpangan akan terdeteksi sejak dini dan secara otomatis pula dilakukan perbaikan. Internal kontrol disetiap unit tidak berfungsi karena pejabat atau pegawai terkait ber-KKN. Konon, untuk mengatasinya dibentuklah Irjen dan Bawasda yang bertugas melakukan internal audit. Malangnya, sistem besar yang disebutkan di butir 1 di atas tidak mengalami perubahan, sehingga Irjen dan Bawasda pun turut bergotong royong dalam menyuburkan KKN. 7) Tidak Ada Keteladanan Pemimpin
Ketika resesi ekonomi (1997), keadaan perekonomian Indonesia sedikit lebih baik dari Thailand. Namun, pemimpin di Thailand memberi contoh kepada rakyatnya dalam pola hidup sederhana dan satunya kata dengan perbuatan, sehingga lahir dukungan moral dan material dari anggota masyarakat dan pengusaha. Dalam waktu relatif singkat, Thailand telah mengalami recovery teladan, maka bukan saja perekonomian Negara yang belum recovery bahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara makin mendekati jurang kehancuran.
8) Budaya Masyarakat yang Kondusif KKN
Dalam Negara agraris seperti Indonesia, masyarakat cenderung paternalistik. Dengan demikian, mereka turut melakukan KKN dalam urusan sehari-hari, mengurus KTP, SIM, STNK, PBB, SPP, pendaftaran anak ke sekolah atau universitas, melamar kerja, dan lain-lain – karena
34
meniru apa yang dilakukan oleh pejabat, elit politik, toko masyarakat, pemuka agama, yang oleh masyarakat diyakini sebagai perbuatan yang tidak salah”.
Demikian juga oleh. Masyarakat Transparansi Internasional (MTI) menemukan sepuluh pilar penyebab korupsi di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1) Absennya kemauan politik pemerintah.
2) Amburadulnya sistem administrasi umum dan keuangan pemerintah. 3) Dominannya peranan militer dalam bidang politik.
4) Politisasi birokrasi.
5) Tidak independennya lembaga pengawas. 6) Kurang berpungsinya parlemen.
7) Lemahnya kekuatan masyarakat sipil. 8) Kurang bebasnya media massa. 9) Oportunismenya sektor swasta.
Selain itu beberapa pendapat pakar lain tentang penyebab korupsi di antaranya dari Klitgaar, Andi Hamzah, Baharuddin Lopa, World bank, menyatakan bahwa penyebab korupsi adalah hal berikut: diskresi pegawai publik yang terlalu besar, rendahnya akuntabilitas publik, lemahnya kepemimpinan, gaji pegawai publik di bawah kebutuhan hidup, kemiskinan, moral rendah atau disiplin rendah. Disamping itu, juga sifat konsumtif, pengawasan dalam organisasi kurang, atasan memberi contoh, kesempatan yang tersedia, pengawasan ekstern lemah,
35
lembaga legislatif lemah, budaya memberi upeti, permisif (serba membolehkan), tidak mau tahu, keserakahan, dan lemahnya penegakan hukum. Di sisi lain juga probabilitas ditangkap dan dihukum, konsekuensi (biaya) akibat ditangkap atau dihukum lebih rendah dari pada keuntungan yang diperoleh, orang yang di tempat “basah” mesti
menghidupi pegawai di atas atau di bawahnya, untuk duduk di tempat “basah” atau mendapat jabatan pegawai mesti membayar (korupsi untuk
cost of recovery), lingkungan tidak kondusif, para pegawai publik mesti
menjadi sumber dana organisasi, kondisi masyarakat yang lemah tidak terorganisasi untuk melawan korupsi.
b. Akibat Terjadinya Tindak Pidana Korupsi
Suracmin, Suhandi Cahaya (2011; 83-87) akibat dari tindak pidana korupsi sangat luas dan mengakar. Beberapa pakar menggambarkannya di bawah ini (Andi Hamzah, 2007 : 7-8) :
1) Pendapat Sumitro Djojohadikusumo
a) Kebocoran mencapai 30 %
Di depan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) November 1993 di Surabaya. Begawan Ekonomi Indonesia. Sumitro menyebutkan bahwa dana pembangunan selama Pelita V (1989 -1993) mengalami kebocoran sekitar 30% dari total investasi. Jumlah tersebut adalah sekitar Rp12 triliun. Dalam hal ini yang dimaksud kebocoran adalah pemborosan (inefisiensi ekonomi) atas penggunaan sumber daya
36
ekonomi. Hanya saja, tidak seorangpun bisa menunjuk apa saja sumber pemborosan itu.
Menurut Sumitri, ada beberapa penyebab kebocoran. Pertama, karena investasi yang ditanamkan dalam infrastruktur dengan masa pengembalian cukup lama. Kedua, lemahnya penggarapan dan perawatan proyek investasi. Ketiga, adanya penyimpangan dan penyelewengan.
b) ICOR Indonesia Tertinggi di ASEAN
Kurang efisiensinya perekonomian Indonesia dapat dilihat dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yaitu angka menunjukkan perbandingan antara jumlah investasi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu output. Lebih lanjut Sumitro, pada saat memberikan sambutan dalam acara reuni Alumni FEUI dalam rangka memperingati 45 tahun FEUI di Balai Sidang Senayan. Jakarta, menyatakan bahwa tingkat produktivitas Indonesia masih rendah. Hal tersebut disebabkan karena ICOR Indonesia masih sekitar 5 dan angka tersebut adalah yang paling tinggi di lingkungan ASEAN yang sekitar 3,4 ASEAN memerlukan 5 unit investasi. Sumitro juga mengkhawatirkan bahwa apabila perekonomian tidak di efisienkan, maka utang luar negeri akan terus meningkat karena sumber dalam negeri yang terbatas tidak cukup untuk menutup kebutuhan investasi yang tinggi.
37
Sebagai perbandingan untuk menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih perlu diefisienkan dapat dilihat dari Filipina yang perekonomiannya cukup lesu, memiliki ICOR sebesar 3,5.
2) Pendapat CIBA mengenai Dampak Penyimpangan Anggaran.
a) Menurunnya Kualitas Pelayanan Publik
Penyimpangan anggaran seperti korupsi dan penyalah gunaan peruntukan mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kualitas pelayanan publik. Pemberian suap biasanya diambil dari bagian dana proyek, sehingga anggaran riil yang digunakan untuk proyek menjadi berada di bawah angka semestinya. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kualitas hasil dari pelaksanaan proyek. Contoh lainnya, masyarakat miskin sulit memperoleh layanan kesehatan yang layak sementarapejabat publik mendapatkan fasilitas asuransi di luar jumlah yang wajar.
b) Terenggutnya Hak-Hak Dasar Warga Negara
Hak untuk hidup layak, hak untuk mengakses sumber daya, dan hak-hak dasar lainnya, tidak dapat dipenuhi oleh negara. Penyebabnya antara lain, karena banyaknya uang negara yang seharusnya bisa digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, justru lari ke kantong-kantong pribadi.
c) Rusaknya Sendi-Sendi Prinsip Dari Sistem Pengelolaan Keuangan Negara
38
Undang-Undang termasuk konstitusi lainnya yang semestinya dijadikan acuan dalam pengelolaan keuangan negara, justru diabaikan prinsip-prinsip anggaran yang baik, seperti partisipasi, akuntabilitas, disiplin, efektif dan efisien, serta memenuhi asas kepatutan yang semuanya itu merupakan sendi prinsip pengelolaan keuangan negara dilanggar tanpa Tedeng aling-aling.
d) Terjadinya Pemerintahan Boneka
Pemerintah tidak lagi memiliki kemerdekaan untuk menyuarakan hati nurani rakyat. Kondisi tersebut terjadi sebagai konsekwensi dari uang suap yang telah diterima. Akibatnya, mereka harus mengambil keputusan sesuai dengan pesanan para pelaku penyuapan. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada tempat bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Bahkan nasibnya pun tidak menjadi bahan pertimbangan bagi kebijakan.
e) Meningkatnya Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial yang telah ada menjadi lebih kuat, bahkan semakin parah karena kelompok miskin dan marginal tidak pernah mendapatkan akses terhadap anggaran secara layak termasuk mengontrol proses, karena ketiadaan ruang bagi transparansi dan partisipasi.
f) Hilangnya Kepercayaan Investor
Banyaknya korupsi dan tidak adanya kepastian hukum, telah menyebabkan banyak investor merasa enggan menanamkan modalnya di Indonesia. Bahkan investor yang ada pun hengkang. Akibatnya, di
39
samping iklim pertumbuhan ekonomi menjadi kurang kondusif, juga meningkatnya angka pengangguran.
g) Terjadinya Degradasi Moral dan Etos Kerja
Memperoleh uang tanpa kerja keras telah mengakibatkan si pelaku korupsi terbuai dan terpacu untuk bekerja keras. Bahkan, dalam beberapa kasus yang ekstrim uang “panas” yang diperoleh tersebut
dihabiskan pula dengan mudah di meja judi, minum-minuman keras atau narkoba.
3) Pendapat Evi Hartanti
a) Berkurangnya Kepercayaan Terhadap Pemerintah
Akibat pejabat pemerintah melakukan korupsi mengakibatkan kurangnya kepercayaan terhadap pemerintah tersebut. Di samping itu, negara lain juga lebih mempercayai negara yang pejabatnya bersih dari korupsi, baik kerja sama di bidang politik, ekonomi, ataupun dalam bidang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan pembangunan ekonomi serta mengganggu stabilitas perekonomian negara dan stabilitas politik.
b) Berkurangnya Kewibawaan Pemerintah dalam Masyarakat
Apabila banyak dari pejabat pemerintah yang melakukan penyelewengan keuangan negara, masyarakat akan bersikap apatis terhadap segala anjuran dan tindakan pemerintah. Sifat apatis masyarakat tersebut mengakibatkan ketahanan nasional akan rapuh dan mengganggu stabilitas keamanan negara. Hal ini pernah terjadi pada tahun 1998 yang lalu, masyarakat sudah tidak mempercayai lagi
40
pemerintah dan menuntut agar presiden Soeharto mundur dari jabatannya karena dinilai tidak lagi mengemban amanat rakyat dan melakukan berbagai tindakan yang melawan hukum menurut kacamata masyaraka.
c) Menyusutnya Pendapatan Negara
Penerimaan negara untuk pembangunan didapatkan dari dua sektor, yaitu dari pungutan bea dan penerimaan pajak. Pendapatan negara dapat berkurang apabila tidak diselamatkan dari penyelundupan dan penyelewengan oleh oknum pejabat pemerintah pada sektor-sektor penerimaan negara tersebut.
d) Rapuhnya Keamanan dan Ketahanan Negara
Keamanan dan ketahanan negara akan menjadi rapuh apabila para pejabat pemerintah mudah disuap karena kekuatan asing yang hendak memaksakan idiologi atau pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia akan menggunakan penyuapan sebagai suatu sarana untuk mewujudkan cita-citanya. Pengaruh korupsi juga dapat mengakibatkan berkurangnya loyalitas masyarakat terhadap negara.
e) Perusakan Mental pribadi
Seseorang yang sering melakukan penyelewengan dan menyalahgunakan wewenang mentalnya akan menjadi rusak. Hal ini mengakibatkan segala sesuatu dihitung dengan materi dan akan melupakan segala yang menjadi tugasnya serta hanya melakukan tindakan atau perbuatan yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya
41
ataupun orang lain yang dekat dengan dirinya. Yang lebih berbahaya lagi, jika tindakan korupsi ini ditiru atau dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Apabila hal tersebut terjadi maka cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur semakin sulit untuk dicapai.
f) Hukum tidak Lagi Dihormati
Negara kita merupakan negara hukum di mana segala sesuatu harus didasarkan pada hukum. Tanggung jawab dalam hal ini bukan hanya terletak pada penegak hukum saja namun juga pada seluruh warga negara Indonesia. Cita-cita untuk menggapai tertib hukum tidak akan terwujud apabila para penegak hukum melakukan tindakan korupsi sehingga hukum tidak dapat ditegakkan, serta tidak diindahkan oleh masyarakat.