• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2. Analisis dan Pembahasan

4.2.5. Penyebab Kredit Macet

Memberikan fasilitas kredit berisiko menimbulkan kemacetan.

Akibatnya, kredit tidak dapat ditagih, itu menyebabkan kerugian yang harus ditanggung oleh CU. Setiap analisis kredit masa lalu dalam menganalisis permintaan kredit apa pun, kemungkinan kredit macet tentu ada, yang dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Hanya saja dalam hal ini, bagaimana meminimalkan resiko tersebut seminimal mungkin. Menurut Kasmir (2003:128) kemacetan suatu kredit disebabkan oleh dua unsur, yaitu:

1. Dari pihak perusahaan (intern), artinya dalam melakukan analisisnya, pihak analis kurang teliti, sehingga apa yang seharusnya terjadi, tidak diprediksi sebelumnya, atau mungkin salah dalam melakukan perhitungan. Dapat pula terjadi akibat

88 kolusi dari pihak analis kredit dengan pihak debitur sehingga dalam analisisnya dilakukan secara subyektif dan akal-akalan.

2. Dari pihak anggota (ekstern), dari pihak anggota kemacetan kredit dapat disebabkan akibat dua hal, yaitu : (a) Adanya unsur kesengajaan, dalam hal ini anggota sengaja untuk tidak membayar hutangnya sehingga kredit yang diberikan macet.

Dapat dikatakan tidak ada kemauan untuk membayar, walaupun sebenarnya mampu. (b) Adanya unsur tidak sengaja, artinya anggota mau membayar tetapi tidak memenuhi syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi oleh anggota untuk dapat memperoleh kredit, menurut staf kredit CU Kridha Rahardja adalah anggota biasa yang sudah mengikuti pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh CU. Kridha Rahardja, dan sudah menjadi anggota tabungan aktif minimal selama 2 bulan. Kemudian, seorang anggota dapat memperoleh pinjaman jika sudah mengikuti pendidikan dasar oleh CU dan aktif menabung selama 2 bulan.

Di CU Kridha Rahardja sendiri pernah bermasalah/tidak lancar. Menurut staf kredit CU Kridha Rahardja :

“Ada, seperti apa yang saya katakan tadi di Muntlian sebesar 1,2 miliar.Sekitar 30 % dari 6,7 miliar kredit di CU yang bermasalah/tidak lancar tersebut.”

“Biasanya anggota meminjam di CU, lalu bilangnya akan membayar angsurannya tepat waktu.Ketika ditagih, yang bersangkutan menghilang seperti yang dikatakan tadi kasus di Muntilan sebesar 30%

dari 6,7 miliar dari 102 anggota CU.”

(Wawancara, Staf Kredit CU Kridha Rahardja TP-Yogyakarta, 05 November 2020)

89 Koperasi kredit atau credit union adalah usaha simpan pinjam, yang mengelola simpanan anggota dan kemudian menyalurkannya kembali dalam bentuk pinjaman kepada anggota juga, selisih jasa atau bunga dari pinjaman dan simpanan inilah yang menjadi laba atau keuntungan koperasi yang setelah dikurangi biaya-biaya inilah yang disebut sisa hasil usaha (SHU). Keuntungan koperasi dalam bentuk SHU ini akan dikembalikan kembali kepada para anggota dengan persentase yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa syarat administrasi yang dipersyaratkan untuk seseorang dapat meminjam sejumlah uang pada CU sangatlah mudah, seseorang cukup menjadi anggota CU dengan menyimpan uang dalam bentuk simpanan wajib, simpanan pokok dan simpanan suka rela yang memang dipersyaratkan oleh CU. Setelah menjadi anggota, seseorang tersebut akan mendapat pendidikan dasar tentang CU lebih mendalam. Setelah aktif menabung, seseorang sudah dapat memperoleh fasilitas pinjaman atau kredit yang disediakan oleh CU sesuai dengan kebutuhan yang diperlukannya.

Gambar 4.5. Skema Penyebab Kredit Macet dari CU Kridha Rahardja Penyebab Kredit Macet

Faktor Intern Faktor Ekstern

 Pihak Analis kurang teliti dalam menyeleksi calon peminjam

 Anggota tidak membayar hutangnya

 Kurangnya pendidikan anggota tentang CU dan pengaturan keuangan

90 4.2.6. Prosedur Administrasi dalam Penyelesaian Kredit Macet

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, dan periode ini termasuk jangka waktu pengembalian kredit yang disepakati. Karena masa tenggang, kredit mungkin dilunasi, dan ada risiko kredit tidak tertagih atau macet.

Risiko yang timbul dari pemberian kredit dapat berupa risiko yang disengaja oleh anggota, atau risiko yang tidak disengaja, seperti bencana alam atau kebangkrutan usaha anggota tanpa adanya faktor kesengajaan lainnya, sehingga anggota tidak dapat mengembalikan kreditnya. Dalam kasus kredit macet, pihak CU perlu melakukan penyelamatan untuk meminimalisir kerugian CU.

Menurut Syamsudin (2001:273) prosedur yang dapat dilakukan dalam menangani kredit macet, adalah sebagai berikut:

1) Melalui surat, bilamana anggota belum melakukan pembayaran pada waktu jatuh tempo pembayaran, maka perusahaan dapat mengirim surat dengan nada mengingatkan (menegur), dan apabila utang tersebut belum juga dibayar setelah beberapa hari surat dikirimkan, maka dapat dikirimkan surat kedua yang nadanya lebih keras.

2) Melalui telepon, apabila teguran melalui surat hutang-hutang tersebut belum dibayar, maka secara pribadi perusahaan dapat menelpon anggota dan memintanya untuk segera melakukan pembayaran. Apabila dari hasil pembicaraan tersebut ternyata misalnya pihak anggota mempunyai alasan yang dapat diterima, maka mungkin perusahaan dapat memberikan perpanjangan sampai jangka waktu tertentu.

91 3) Kunjungan personal, melakukan kunjungan secara personal atau pribadi ke tempat anggota harus sering dilakukan, karena sangat efektif dalam usaha pengumpulan piutang.

4) Tindak yuridis, bilamana anggota tidak mau membayar hutang-hutangnya, maka perusahaan dapat menggunakan tindakan-tindakan hukum dengan mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan.

Dalam usaha pengumpulan piutang suatu perusahaan dapat mengikuti suatu prosedur yang telah ditetapkan bilamana piutang tersebut sudah jatuh tempo.

Dalam usaha pengumpulan kredit, CU haruslah berhati-hati untuk tidak terlalu agresif dalam usaha-usaha pengumpulan piutang dari anggota. Bilamana anggota tidak dapat membayar tepat pada waktunya maka sebaiknya CU menunggu sampai jangka waktu tertentu yang dianggap wajar sebelum menerapkan prosedur-prosedur pengumpulan piutang yang ditetapkan Menurut Husnan (1998:481) “terhadap anggota yang terlambat membayar piutangnya, dilakukan prosedur sebagai berikut: (1) mengirimkan surat teguran yang menjelaskan bahwa anggota telah terlambat melunasi hutangnya; (2) menelpon atau menghubungi anggota secara langsung; (3) menggunakan perusahaan jasa pengumpul piutang;

(4) menempuh prosedur pengadilan terhadap anggota”

Tabel 4.1. Tindak Lanjut CU Kridha Rahardja Mencapai Target, Oktober 2020 oleh Sedulur / abdi sedulur berbayar

92 2. Penurunan Kredit Lalai

Melakukan Reschedule Pinjaman untuk anggota yang terdampak covid-19 sesuai prosedur

Dari tabel diatas diketahui bahwa untuk mencapai target dalam mncapai tujuan CU dalam hal kredit beredar, CU melakukan promosi pinjaman kepada anggota yang belum meminjam dan untuk penurunan kredit lalai, CU melakukan reschedule pinjaman untuk anggota yang terkena musibah sesuai dengan prosdur

yang berlaku.

Prosedur administrasi dalam penyelesaian kredit macet sudah dapat dilaksanakan tepat pada waktunya sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya menurut staf kredit CU. Kridha Rahardja TP-Yogyakarta bahwa tahapan proses administrasi selalu diikuti dalam menyelesaikan kredit macet yang terjadi, dan dalam pelaksanaannya sudah dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa, resiko yang ditimbulkan dari pemberian pinjaman dengan jangka waktu tertentu adalah resiko tidak dikembalikannya pinjaman atau macet, baik yang disengaja maupun tidak disengaja oleh debitur. Untuk menangani kredit macet pada CU. Kridha Rahardja TP-Yogyakarta telah dilakukan langkah-langkah antisipatif sesuai dengan prosedur, yaitu dengan membuat surat teguran kepada anggota atau debitur yang pembayarannya sudah jatuh tempo namun belum membayar.

Kemudian jika tidak membayar, pihak CU akan langsung menelepon debitur yang bersangkutan, lalu langsung menagih di rumah, dan terakhir jika tidak membayar, pihak CU akan mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan.

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui prosedur administrasi yang dilakukan oleh CU. Kridha Rahardja TP-Yogyakarta selalu lengkap untuk menghindari

93 kemungkinan gagal bayar dalam menyelesaikan kredit macet. Sebelum dilakukan tindakan administratif, biasanya staf kredit terlebih dahulu akan mencari tahu sendiri permasalahan yang menyebabkan debitur terlambat dalam pembayaran angsuran.

Pada kesempatan ini staf akan memberikan bimbingan dan bantuan pemecahan masalah yang yang dihadapi oleh debitur yang bermasalah tersebut, sehingga debitur dapat kembali membayar angsuaran pokok dan bunga pinjaman secara rutin dan teratur.

Dari sudut pandang di atas, terlihat bahwa credit union harus segera mengambil tindakan penyelamatan dalam mengatasi kredit macet. Jika pihak CU dapat menggunakan cara ini dengan mengirimkan surat peringatan, jika memberikan peringatan melalui surat pengiriman belum bisa, pihak CU dapat menelpon anggota, kemudian mereka dapat mengunjungi anggota secara langsung, yang biasanya digunakan karena ini adalah metode yang paling efektif.

Jika anggota tidak mau melunasi hutangnya, ia dapat mengambil langkah terakhir, kemudian ia dapat mengambil tindakan hukum, yaitu melakukan tindakan hukum.

CU melakukan segala kemungkinan untuk meminimalkan kerugian yang terkait dengan kredit yang buruk.

Penyelesaian kredit macet pada CU Kridha Rahardja TP – Yogyakrta dilakukan dengan berbagai cara, tergantung bagaimana prospek dari anggota tersebut. Pak Gunarto selaku pengawas dari CU Kridha Rahardja TP - Yogyakarta, mengatakan Penyelesaian kredit macet di CU Kridha Rahardja dilakukan dengan bernegosiasi. CU Kridha Rahardja akan memberikan peringatan atau teguran secara verbal kepada anggota untuk dapat melaksanakan kewajiban

94 pembayaran kredit pokok dalam bentuk cicilan kredit melalui surat peringatan yang dikirimkan untuk anggota. Adapun isi dari surat tersebut berupa:

1. Pemberitahuan tentang jatuh tempo pembayaran kredit 2. Total kewajiban/hutang debitur yang wajib dibayar

3. Perintah untuk membayar kewajiban/hutang sinkron dengan jumlah yang tertera

4. Batas waktu bagi debitur buat melaksanakan pembayaran CU Kridha Rahardja akan menyampaikan surat peringatan sebanyak 3 kali berturut-turut.Apabila pihak debitur tetap tidak beritikad baik untuk memenuhi kewajibannya, maka pihak CU Kridha Rahardja akan melakukan upaya penyelamatan kredit.

Gambar 4.6. Skema Penyelesaian Kredit Macet dari CU Kridha Rahardja

4.2.7. Penyelamatan Kredit Macet (Restrukturisasi)

Upaya penyelamatan kredit dalam CU Kridha Rahardja dapat dilakukan dengan melakukan perundingan dan lelang barang jaminan. Dalam hal perundingan, CU Kridha Rahardja akan memanggil kembali pihak anggota untuk

Somasi

Penyelesaian Kredit Macet

Surat

Telepon

Kunjungan Personal

95 merundingkan solusi untuk meringankan beban kredit debitur yang diharapkan bisa memberi peluang untuk melakukan pembayaran kredit tersebut. Dalam penyelamatan kredit macet, CU Kridha Rahardja akan melakukan:

a. Kebijakan Restrukturisasi Kredit Macet

Istilah restrukturisasi kredit macet yang terdiri dari penjadwalan kembali (rescheduling), persyaratan kembali (reconditioning), serta penataan kembali (restructuring) dikategorikan sebagai rescheduling oleh CUKR. Istilah rescheduling pada CUKR meliputi tindakan menurunkan

pembayaran cicilan nominal yang berdampak pada perpanjangan jangka waktu kredit, serta aksi pembebasan bunga. CUKR tidak melaksanakan restrukturisasi sebab peraturan yang ada dalam credit union tidak diperbolehkan membagikan kredit ekstra kepada

anggota yang belum melunasi pinjaman sebelumnya.

Rescheduling dilakukan lewat proses penawaran langsung oleh

staf kepada anggota yang penuhi kriteria, ataupun anggota berhak mengajukan sendiri permohonan rescheduling beserta faktornya kepada manajemen, apabila mereka mulai merasa sulit dalam membayar angsuran sesuai perjanjian awal.

Sebelumnya, TP hendak mengidentifikasi dan menganalisis apakah anggota tersebut penuhi ketentuan. Apabila anggota mempunyai kepribadian yang baik serta prospek usaha yang baik, namun mengalami kesusahan dalam memenuhii kewajiban cicilannya, dikatakan memenuhi kriteria untuk penjadwalan ulang.

96 Perihal itu tampak dari upaya anggota membayar cicilan bulanan, walau tidak sesuai nilai nominal perjanjian semula. Bila anggota yang lalai tidak mempunyai kepribadian yang baik, maka tindakan yang harus dilakukan adalah melanjutkan penagihan.

Apabila jumlah angsuran yang dibayarkan anggota tidak cocok dengan jumlah nominal yang ditetapkan dalam perjanjian, maka dimulailah identifikasi serta analisis. Staf akan melaksanakan penagihan atas kekurangannya dibulan selanjutnya serta mulai memberikan atensi khusus terhadap pembayarannya di bulan berikutnya. Apabila pada bulan selanjutnya kemampuan membayar anggota masih sama (yang belum sesuai dengan kesepakatan nominal semula), maka staf mulai mempersiapkan sebagian opsi untuk penjadwalan ulang keanggotaan serta menghitung perkiraan pengembalian pokok pinjaman serta bunga didasarkan pada keahlian membayar pada saat itu.

Selanjutnya, staf akan menemui anggota buat menanyakan alibi penurunan nominal cicilan pembayaran, serta menanyakan kembali kepada anggota tentang kemampuan mereka membayar pada saat konfirmasi. Proses penjadwalan ulang sama dengan ketika memperoleh pinjaman baru. Staf akan memakai dokumen analisis serta formulir survei lama guna menyesuaikan status anggota disaat ini serta kemampuan mereka membayar angsuran.

Apabila anggota memberitahukan kesanggupannya membayar sudah tidak bisa sesuai dengan perjanjian awal, serta menurut hasil

97 analisis dan konfirmasi tersebut nyatanya anggota memenuhi kriteria, staf akan menawarkan sebagian opsi perubahan persyaratan (rescheduling) yang sudah dibuat.

Proses tersebut bisa jadi membutuhkan suatu kesepakatan antara staf dengan anggota. Setelah sepakat dengan anggota, manajemen meninjau kewenangan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Apabila reschedule pinjaman anggota tidak termasuk pembebasan bunga, TP bisa langsung melaksanakan eksekusi.

Tetapi apabila rescheduling membutuhkan pembebasan bunga, manajer TP wajib membuat surat permohonan kepada manajer kantor pusat agar mengubah keadaan pinjaman anggota pada sistem Sikopdit. Manajer TP Jogja sendiri umumnya hanya mengajukan permohonan lewat telepon. Manajemen TP tidak bisa melaksanakan transaksi rescheduling pinjaman langsung lewat sistem apabila keadaan pinjamannya masih terkategori lancar, sehingga manajer kantor pusat butuh merubahnya terlebih dulu.

Apabila rescheduling merupakan wewenang pengurus, manajer TP wajib mengantarkan surat permohonan rescheduling beserta kronologi pinjaman anggota semenjak awal sampai mengalami kemacetan serta lampiran saldo tunggakan anggota. Selanjutnya pengurus melaksanakan rapat serta membuat pesan balasan kepada TP atas formulir permohonan tersebut, yang berisi keputusan persetujuan. Surat tersebut ditandatangani oleh pejabat berwenang.

98 Sesudah TP mendapat balasan, TP perlu mengajukan perrubahan kondisi pinjaman kepada manajer kantor pusat. Sesudah itu eksekusi dapat dilakukan. Proses rescheduling sama seperti mengajukan pinjaman pertama kali, yakni anggota mengisi SPP serta berkas perjanjian pinjaman, akan tetapi dengan persyaratan kredit yang berbeda dari sebelumnya. Pada saat eksekusi berakhir, berita acara per anggota dibuat oleh TP yang mengeksekusi serta ditandatangani oleh komite daerah serta pengurus. TP Yogyakarta sendiri belum pernah melaksanakan rescheduling bagi pinjaman besar yang merupakan wewenang pengurus.

b. Dokumen Restrukturisasi Kredit Macet

CUKR tidak mempunyai laporan terpisah atas kredit yang pernah di rescheduling serta kredit lancar, dan tidak mempunyai formulir khusus untuk mencatat alasan dikerjakannya rescheduling dan perubahan khusus atas ketentuan kredit yang di reschedule.

Ketentuan kredit yang baru dicatat dalam perjanjian kredit yang dibuat setelah pengisian SPP baru serta diarsipkan bersama dengan berkas kredit sebelumnya. Dokumentasi atas alasan melaksanakan rescheduling ini bisa jadi acuan untuk anggota dalam mengambil

tindakan apabila kredit tersebut kembali lalai, sebab dapat dijadikan sumber informasi kepada manajemen tentang keadaan anggota yang menjadi penyebab kegiatan rescheduling.

Proses rescheduling pada CUKR dicoba seperti ketika mengajukan pinjaman pertama kali, yakni dengan mengisi SPP

99 baru tetapi dengan persyaratan yang berbeda dari pinjaman sebelumnya. CUKR melaksanakan pencatatan atas ketentuan kredit yang sudah direschedule pada berkas perjanjian kredit yang baru.

Berkas kredit yang lama yakni SPP serta perjanjian kredit diarsipkan bersama dengan SPP dan perjanjian kredit yang baru.

Dengan demikian ketentuan yang baru bisa dibanding dengan persyaratan awal yang tercantum dalam SPP serta perjanjian kredit semula.

Penyelesaian di atas ialah langkah alternatif yang kerap dicoba oleh CU Kridha Rahardja TP- Yogyakarta. Apabila seluruh langkah alternatif tidak memberikan penyelesaian secara berkala, maka pihak CU Kridha Rahardja secara tegas akan mengambil alih jaminan anggota yang digunakan pada saat melaksanakan perjanjian kredit. Barang jaminan anggota dianggap pengganti dari jumlah hutang anggota. Perihal ini dicoba sebab mengingat harga barang jaminan akan terus menyusut dari tahun ke tahun, padahal kondisi anggota memanglah telah dikatakan tidak dapat melaksanakan pembayaran walaupun seluruh alternatif sudah diberikan untuk membayar kreditnya tersebut. Proses pengambilan jaminan anggota relatif mudah, sebab pihak anggota memanglah beritikad baik guna menuntaskan masalah yang dihadapinya. Pada saat jaminan telah diambil alih oleh pihak CU Kridha Rahardja, kemudian akan dijual kembali guna menutupi hutang darianggota. Apabila hasil penjualan melebihi hutang, sisa uang tersebut akan dikembalikan ke anggota.

Menurut staf kredit CU, pengambil alihan barang jaminan merupakan jalan terakahir untuk menutup hutang yang dimiliki oleh anggota.

100

“Kita tagih lalu berikan surat peringatan kalau sudah mentok, kita jual barang jaminan seperti motor.Kalau sudah terjual, hasilnya untuk menutupi pembyayaran kredit yang macet, semisalnya ada kembaliannya, akan dikembalikan ke anggota.Misalnya juga kalau barang jaminannya sertifikat tanah, maka tanah akan dilelang misalnya tanah tersebut seharga 20 juta hutangnya sekitar 50 juta maka tanah dijual dengan harga tinggi dengan harapan sebagian dari hasil penjualan tanah bisa menutup hutang dari pembayaran kredit macet dari anggota dan bila ada sisa maka hasilnya akan dikembalikan ke anggota.”

(Wawancara, Staf Kredit CU Kridha Rahardja TP-Yogyakarta, 05 November 2020)

Hal ini disebabkan tidak terdapat jalan keluar lagi guna menutup hutang yang dimiliki anggota. Sementara CU. Kridha Rahardja wajib menjaga stabilitas keuangan mereka dari tahun ke tahun supaya tidak terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti kebangkrutan yang diakibatkan oleh minimnya pendapatan disebabkan banyaknya kredit yang bermasalah.

Gambar 4.7. Skema Penyelamatan Kredit Macet dari CU Kridha Rahardja Penyelamatan Kredit Macet

Kebijakan Restrukturisasi Dokumen Restrukturisasi

Menurunkan pembayaran cicilan nominal yang berdampak pada perpanjangan jangka waktu kredit

Berkas kredit yang lama yakni SPP serta perjanjian kredit diarsipkan bersama dengan SPP dan perjanjian

kredit yang baru.

101 BAB V

KESIMPULAN & SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan pada bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Prosedur dalam menyalurkan kredit kepada para anggota CU Kridha Rahardja adalah pemenuhan syarat administrasi,analisis kredit melalui seleksi 5C, persetujuan kredit, kemudian dilanjutkan dengan tahap pengelolaan kredit dan pemantauan kredit. Setelah syarat administrasi dipenuhi, anggota dapat mengajukan permohonan kredit dan kemudian pihak CU melakukan analisis kredit terhadap permohonan pinjaman yang masuk, barulah kemudian suatu permohonan kredit dapat disetujui atau ditolak. Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat atau anggota pihak manajemen CU memberikan beberapa jenis fasilitas kredit yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya. CU. Kridha Rahardja TP Yogyakarta selalu memperhatikan prinsip standar pemberian kredit dalam menganalisis kredit yaitu 5C yang menyangkut Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition. Selain itu, ketika memberikan kredit kepada anggota,

mereka selalu memeriksa pengajuan kredit yang diajukan, maksud dan tujuan pinjaman, semangat menabung, dan memprediksi kemampuan mereka untuk mengembalikan dengan meninjau prestasi masa lalu dan partisipasi anggota.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kredit macet pada CU. Kridha Rahardja TP - Yogyakarta disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang disebabkan dari dalam CU itu sendiri, misalnya seperti pihak

102 analis dari CU Kridha Rahardja kurang teliti dalam memperhatikan kondisi keuangan dari calon peminjam, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang disebabkan oleh anggota peminjam yang tidak mengembalikan pinjaman dikarenakan sebab yang disengaja maupun yang tidak disengaja, serta kurangnya pendidikan anggota tentang CU dan pengaturan keuangan. Kredit macet yang terjadi pada CU. Kridha Rahardja TP - Yogyakarta lebih banyak diakibatkan oleh faktor dari luar, yaitu lebih disebabkan oleh kemampuan anggota peminjam yang tidak ada lagi dana untuk membayar pinjaman yang diberikan.

Teknik dalam menyelesaikan masalah kredit macet dilakukan dengan pengendalian kredit yang bertujuan untuk menjaga agar aktiva lancar dalam bentuk tagihan akibat penyaluran kredit tidak terjadi tunggakan dalam pengembaliannya. Dalam hal ini upaya yang ditempuh oleh CU. Kridha Rahardja TP – Yogyakarta dalam penyelesaian kredit macet melalui penjadwalan kembali hutang maupun melakukan penghapusbukuan terhadap pinjaman yang macet, serta dilakukannya jalur negosiasi, dengan memperpanjang jangka waktu kredit/angsuran, dengan mengubah syarat, jangka waktu dan jangka waktu angsuran dalam perjanjian, serta menurunkan tingkat bunga berdasarkan hasil untuk memberikan renegosiasi syarat. Jika cara negosiasi tidak berhasil, CU Kridha Rahardja akan memberikan peringatan maupun teguran secara lisan kepada debitur agar dapat melaksanakan kewajiban pembayaran kredit utama berupa angsuran kredit, demi memperbaiki status kreditnya. Apabila sudah kembali normal maka pihak CU Kridha Rahardja akan melanjutkan proses penagihan pembayaran angsuran disertakan bunga. Apabila teguran tidak mendapatkan hasil, maka pihak CU Kridha Rahardja akan menggunakan tahap

103 kedua, yaitu memberi surat peringatan kepada anggota. Jika itu tidak berhasil, maka CU akan berusaha menyita agunan anggota yang merupakan langkah terakhir yang digunakan untuk melunasi hutang-hutang yang dimiliki anggota, namun sisa penjualan akan dikembalikan kepada anggota. Disamping itu juga dilakukan tindakan administratif pada anggota peminjam yang menunggak pembayaran kreditnya, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh Pengurus CU. Kridha Rahardja yang tertuang dalam Pola Kebijaksanaan Pengurus.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi CU Kridha Rahardja TP Yogyakarta diharapkan lebih teliti dalam menjalankan prosedur pemberian kredit 5 C khususnya tentang Character dan Capacity, yaitu dengan cara memperhatikan kehidupan pribadi dan kemampuan calon peminjam dalam melunasi hutang, misalnya apakah calon peminjam pernah bermasalah dengan lembaga keuangan lainnya,

1. Bagi CU Kridha Rahardja TP Yogyakarta diharapkan lebih teliti dalam menjalankan prosedur pemberian kredit 5 C khususnya tentang Character dan Capacity, yaitu dengan cara memperhatikan kehidupan pribadi dan kemampuan calon peminjam dalam melunasi hutang, misalnya apakah calon peminjam pernah bermasalah dengan lembaga keuangan lainnya,

Dokumen terkait