4.2. Analisis dan Pembahasan
4.2.7. Penyelamatan Kredit Macet (Restrukturisasi)
Upaya penyelamatan kredit dalam CU Kridha Rahardja dapat dilakukan dengan melakukan perundingan dan lelang barang jaminan. Dalam hal perundingan, CU Kridha Rahardja akan memanggil kembali pihak anggota untuk
Somasi
Penyelesaian Kredit Macet
Surat
Telepon
Kunjungan Personal
95 merundingkan solusi untuk meringankan beban kredit debitur yang diharapkan bisa memberi peluang untuk melakukan pembayaran kredit tersebut. Dalam penyelamatan kredit macet, CU Kridha Rahardja akan melakukan:
a. Kebijakan Restrukturisasi Kredit Macet
Istilah restrukturisasi kredit macet yang terdiri dari penjadwalan kembali (rescheduling), persyaratan kembali (reconditioning), serta penataan kembali (restructuring) dikategorikan sebagai rescheduling oleh CUKR. Istilah rescheduling pada CUKR meliputi tindakan menurunkan
pembayaran cicilan nominal yang berdampak pada perpanjangan jangka waktu kredit, serta aksi pembebasan bunga. CUKR tidak melaksanakan restrukturisasi sebab peraturan yang ada dalam credit union tidak diperbolehkan membagikan kredit ekstra kepada
anggota yang belum melunasi pinjaman sebelumnya.
Rescheduling dilakukan lewat proses penawaran langsung oleh
staf kepada anggota yang penuhi kriteria, ataupun anggota berhak mengajukan sendiri permohonan rescheduling beserta faktornya kepada manajemen, apabila mereka mulai merasa sulit dalam membayar angsuran sesuai perjanjian awal.
Sebelumnya, TP hendak mengidentifikasi dan menganalisis apakah anggota tersebut penuhi ketentuan. Apabila anggota mempunyai kepribadian yang baik serta prospek usaha yang baik, namun mengalami kesusahan dalam memenuhii kewajiban cicilannya, dikatakan memenuhi kriteria untuk penjadwalan ulang.
96 Perihal itu tampak dari upaya anggota membayar cicilan bulanan, walau tidak sesuai nilai nominal perjanjian semula. Bila anggota yang lalai tidak mempunyai kepribadian yang baik, maka tindakan yang harus dilakukan adalah melanjutkan penagihan.
Apabila jumlah angsuran yang dibayarkan anggota tidak cocok dengan jumlah nominal yang ditetapkan dalam perjanjian, maka dimulailah identifikasi serta analisis. Staf akan melaksanakan penagihan atas kekurangannya dibulan selanjutnya serta mulai memberikan atensi khusus terhadap pembayarannya di bulan berikutnya. Apabila pada bulan selanjutnya kemampuan membayar anggota masih sama (yang belum sesuai dengan kesepakatan nominal semula), maka staf mulai mempersiapkan sebagian opsi untuk penjadwalan ulang keanggotaan serta menghitung perkiraan pengembalian pokok pinjaman serta bunga didasarkan pada keahlian membayar pada saat itu.
Selanjutnya, staf akan menemui anggota buat menanyakan alibi penurunan nominal cicilan pembayaran, serta menanyakan kembali kepada anggota tentang kemampuan mereka membayar pada saat konfirmasi. Proses penjadwalan ulang sama dengan ketika memperoleh pinjaman baru. Staf akan memakai dokumen analisis serta formulir survei lama guna menyesuaikan status anggota disaat ini serta kemampuan mereka membayar angsuran.
Apabila anggota memberitahukan kesanggupannya membayar sudah tidak bisa sesuai dengan perjanjian awal, serta menurut hasil
97 analisis dan konfirmasi tersebut nyatanya anggota memenuhi kriteria, staf akan menawarkan sebagian opsi perubahan persyaratan (rescheduling) yang sudah dibuat.
Proses tersebut bisa jadi membutuhkan suatu kesepakatan antara staf dengan anggota. Setelah sepakat dengan anggota, manajemen meninjau kewenangan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Apabila reschedule pinjaman anggota tidak termasuk pembebasan bunga, TP bisa langsung melaksanakan eksekusi.
Tetapi apabila rescheduling membutuhkan pembebasan bunga, manajer TP wajib membuat surat permohonan kepada manajer kantor pusat agar mengubah keadaan pinjaman anggota pada sistem Sikopdit. Manajer TP Jogja sendiri umumnya hanya mengajukan permohonan lewat telepon. Manajemen TP tidak bisa melaksanakan transaksi rescheduling pinjaman langsung lewat sistem apabila keadaan pinjamannya masih terkategori lancar, sehingga manajer kantor pusat butuh merubahnya terlebih dulu.
Apabila rescheduling merupakan wewenang pengurus, manajer TP wajib mengantarkan surat permohonan rescheduling beserta kronologi pinjaman anggota semenjak awal sampai mengalami kemacetan serta lampiran saldo tunggakan anggota. Selanjutnya pengurus melaksanakan rapat serta membuat pesan balasan kepada TP atas formulir permohonan tersebut, yang berisi keputusan persetujuan. Surat tersebut ditandatangani oleh pejabat berwenang.
98 Sesudah TP mendapat balasan, TP perlu mengajukan perrubahan kondisi pinjaman kepada manajer kantor pusat. Sesudah itu eksekusi dapat dilakukan. Proses rescheduling sama seperti mengajukan pinjaman pertama kali, yakni anggota mengisi SPP serta berkas perjanjian pinjaman, akan tetapi dengan persyaratan kredit yang berbeda dari sebelumnya. Pada saat eksekusi berakhir, berita acara per anggota dibuat oleh TP yang mengeksekusi serta ditandatangani oleh komite daerah serta pengurus. TP Yogyakarta sendiri belum pernah melaksanakan rescheduling bagi pinjaman besar yang merupakan wewenang pengurus.
b. Dokumen Restrukturisasi Kredit Macet
CUKR tidak mempunyai laporan terpisah atas kredit yang pernah di rescheduling serta kredit lancar, dan tidak mempunyai formulir khusus untuk mencatat alasan dikerjakannya rescheduling dan perubahan khusus atas ketentuan kredit yang di reschedule.
Ketentuan kredit yang baru dicatat dalam perjanjian kredit yang dibuat setelah pengisian SPP baru serta diarsipkan bersama dengan berkas kredit sebelumnya. Dokumentasi atas alasan melaksanakan rescheduling ini bisa jadi acuan untuk anggota dalam mengambil
tindakan apabila kredit tersebut kembali lalai, sebab dapat dijadikan sumber informasi kepada manajemen tentang keadaan anggota yang menjadi penyebab kegiatan rescheduling.
Proses rescheduling pada CUKR dicoba seperti ketika mengajukan pinjaman pertama kali, yakni dengan mengisi SPP
99 baru tetapi dengan persyaratan yang berbeda dari pinjaman sebelumnya. CUKR melaksanakan pencatatan atas ketentuan kredit yang sudah direschedule pada berkas perjanjian kredit yang baru.
Berkas kredit yang lama yakni SPP serta perjanjian kredit diarsipkan bersama dengan SPP dan perjanjian kredit yang baru.
Dengan demikian ketentuan yang baru bisa dibanding dengan persyaratan awal yang tercantum dalam SPP serta perjanjian kredit semula.
Penyelesaian di atas ialah langkah alternatif yang kerap dicoba oleh CU Kridha Rahardja TP- Yogyakarta. Apabila seluruh langkah alternatif tidak memberikan penyelesaian secara berkala, maka pihak CU Kridha Rahardja secara tegas akan mengambil alih jaminan anggota yang digunakan pada saat melaksanakan perjanjian kredit. Barang jaminan anggota dianggap pengganti dari jumlah hutang anggota. Perihal ini dicoba sebab mengingat harga barang jaminan akan terus menyusut dari tahun ke tahun, padahal kondisi anggota memanglah telah dikatakan tidak dapat melaksanakan pembayaran walaupun seluruh alternatif sudah diberikan untuk membayar kreditnya tersebut. Proses pengambilan jaminan anggota relatif mudah, sebab pihak anggota memanglah beritikad baik guna menuntaskan masalah yang dihadapinya. Pada saat jaminan telah diambil alih oleh pihak CU Kridha Rahardja, kemudian akan dijual kembali guna menutupi hutang darianggota. Apabila hasil penjualan melebihi hutang, sisa uang tersebut akan dikembalikan ke anggota.
Menurut staf kredit CU, pengambil alihan barang jaminan merupakan jalan terakahir untuk menutup hutang yang dimiliki oleh anggota.
100
“Kita tagih lalu berikan surat peringatan kalau sudah mentok, kita jual barang jaminan seperti motor.Kalau sudah terjual, hasilnya untuk menutupi pembyayaran kredit yang macet, semisalnya ada kembaliannya, akan dikembalikan ke anggota.Misalnya juga kalau barang jaminannya sertifikat tanah, maka tanah akan dilelang misalnya tanah tersebut seharga 20 juta hutangnya sekitar 50 juta maka tanah dijual dengan harga tinggi dengan harapan sebagian dari hasil penjualan tanah bisa menutup hutang dari pembayaran kredit macet dari anggota dan bila ada sisa maka hasilnya akan dikembalikan ke anggota.”
(Wawancara, Staf Kredit CU Kridha Rahardja TP-Yogyakarta, 05 November 2020)
Hal ini disebabkan tidak terdapat jalan keluar lagi guna menutup hutang yang dimiliki anggota. Sementara CU. Kridha Rahardja wajib menjaga stabilitas keuangan mereka dari tahun ke tahun supaya tidak terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti kebangkrutan yang diakibatkan oleh minimnya pendapatan disebabkan banyaknya kredit yang bermasalah.
Gambar 4.7. Skema Penyelamatan Kredit Macet dari CU Kridha Rahardja Penyelamatan Kredit Macet
Kebijakan Restrukturisasi Dokumen Restrukturisasi
Menurunkan pembayaran cicilan nominal yang berdampak pada perpanjangan jangka waktu kredit
Berkas kredit yang lama yakni SPP serta perjanjian kredit diarsipkan bersama dengan SPP dan perjanjian
kredit yang baru.
101 BAB V
KESIMPULAN & SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan pada bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Prosedur dalam menyalurkan kredit kepada para anggota CU Kridha Rahardja adalah pemenuhan syarat administrasi,analisis kredit melalui seleksi 5C, persetujuan kredit, kemudian dilanjutkan dengan tahap pengelolaan kredit dan pemantauan kredit. Setelah syarat administrasi dipenuhi, anggota dapat mengajukan permohonan kredit dan kemudian pihak CU melakukan analisis kredit terhadap permohonan pinjaman yang masuk, barulah kemudian suatu permohonan kredit dapat disetujui atau ditolak. Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat atau anggota pihak manajemen CU memberikan beberapa jenis fasilitas kredit yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya. CU. Kridha Rahardja TP Yogyakarta selalu memperhatikan prinsip standar pemberian kredit dalam menganalisis kredit yaitu 5C yang menyangkut Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition. Selain itu, ketika memberikan kredit kepada anggota,
mereka selalu memeriksa pengajuan kredit yang diajukan, maksud dan tujuan pinjaman, semangat menabung, dan memprediksi kemampuan mereka untuk mengembalikan dengan meninjau prestasi masa lalu dan partisipasi anggota.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kredit macet pada CU. Kridha Rahardja TP - Yogyakarta disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang disebabkan dari dalam CU itu sendiri, misalnya seperti pihak
102 analis dari CU Kridha Rahardja kurang teliti dalam memperhatikan kondisi keuangan dari calon peminjam, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang disebabkan oleh anggota peminjam yang tidak mengembalikan pinjaman dikarenakan sebab yang disengaja maupun yang tidak disengaja, serta kurangnya pendidikan anggota tentang CU dan pengaturan keuangan. Kredit macet yang terjadi pada CU. Kridha Rahardja TP - Yogyakarta lebih banyak diakibatkan oleh faktor dari luar, yaitu lebih disebabkan oleh kemampuan anggota peminjam yang tidak ada lagi dana untuk membayar pinjaman yang diberikan.
Teknik dalam menyelesaikan masalah kredit macet dilakukan dengan pengendalian kredit yang bertujuan untuk menjaga agar aktiva lancar dalam bentuk tagihan akibat penyaluran kredit tidak terjadi tunggakan dalam pengembaliannya. Dalam hal ini upaya yang ditempuh oleh CU. Kridha Rahardja TP – Yogyakarta dalam penyelesaian kredit macet melalui penjadwalan kembali hutang maupun melakukan penghapusbukuan terhadap pinjaman yang macet, serta dilakukannya jalur negosiasi, dengan memperpanjang jangka waktu kredit/angsuran, dengan mengubah syarat, jangka waktu dan jangka waktu angsuran dalam perjanjian, serta menurunkan tingkat bunga berdasarkan hasil untuk memberikan renegosiasi syarat. Jika cara negosiasi tidak berhasil, CU Kridha Rahardja akan memberikan peringatan maupun teguran secara lisan kepada debitur agar dapat melaksanakan kewajiban pembayaran kredit utama berupa angsuran kredit, demi memperbaiki status kreditnya. Apabila sudah kembali normal maka pihak CU Kridha Rahardja akan melanjutkan proses penagihan pembayaran angsuran disertakan bunga. Apabila teguran tidak mendapatkan hasil, maka pihak CU Kridha Rahardja akan menggunakan tahap
103 kedua, yaitu memberi surat peringatan kepada anggota. Jika itu tidak berhasil, maka CU akan berusaha menyita agunan anggota yang merupakan langkah terakhir yang digunakan untuk melunasi hutang-hutang yang dimiliki anggota, namun sisa penjualan akan dikembalikan kepada anggota. Disamping itu juga dilakukan tindakan administratif pada anggota peminjam yang menunggak pembayaran kreditnya, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh Pengurus CU. Kridha Rahardja yang tertuang dalam Pola Kebijaksanaan Pengurus.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi CU Kridha Rahardja TP Yogyakarta diharapkan lebih teliti dalam menjalankan prosedur pemberian kredit 5 C khususnya tentang Character dan Capacity, yaitu dengan cara memperhatikan kehidupan pribadi dan kemampuan calon peminjam dalam melunasi hutang, misalnya apakah calon peminjam pernah bermasalah dengan lembaga keuangan lainnya, termasuk hutang-hutang calon peminjam dan juga mencari informasi tentang kebiasaan maupun hobi, misalnya pemborosan atau kebiasaan buruk lainnya sehingga hal ini diharapkan dapat mengurangi kredit lalai.
2. Bagi para anggota CU Kridha Rahardja TP Yogyakarta diharapkan mengoptimalkan pemberian kredit untuk usaha-usaha
104 yang produktif, sehingga pemberian kredit dapat bermanfaat bagi usaha anggota sendiri serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan studi komparasi dari beberapa koperasi tentang pengaruh pengelolaan kredit terhadap kinerja kredit.
105 DAFTAR PUSTAKA
Andjar, Pachta W. 2005. Manajemen Koperasi. Teori dan Praktek.Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Arsyad, Lincolin. 2008. Lembaga Keuangan Mikro: Institusi, Kinerja, dan Sustanabilitas. ANDI, Yogyakarta.
Arthesa, Ade, dan Handiman, 2006. Bank & Lembaga Keuangan Bukan Bank, PT.
Indeks, Jakarta.
Baswir, R. 2000. Koperasi Indonesia. Yogyakarta : BPFE.
Djohan, Warma. 2000. Kredit Bank, Edisi 1. PT. Mutiara Sumber Widya: Jakarta
Djoko Muljono (2012). Buku Pintar Strategi Bisnis Koperasi Simpan Pinjam.
Yogyakarta: CV.Andi Offset
Elias, A dan Bernadus, S.L.S. 2006. Manajemen Perkreditan untuk Credit Union (Koperasi Kredit) dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Jakarta: Publikasi Inkopdit.
Fahmi, Irham. 2012. Manajemen Keuangan. Alfabelata: Bandung
Firdaus, Rachmat dan Maya, Ariyanti. 2009. Manajemen Perkreditan Bank Umum: Teori, Masalah, Kebijakan dan Aplikasi Lengkap dengan Analisis Kredit. Bandung: Alfabeta.
Firdaus, Rachmat & Ariyanti, Maya. 2011. Manajemen Perkreditan Bank Umum:
Teori, Masalah Kebijakan dan Aplikasinya. Cetakan Kelima. Bandung : Alfabeta.
Hadiprajitno, 2011. Prinsip-prinsip pemberian kredit dalam menyalurkan kredit pada PT. Bank Mandiri Cabang Semarang. Skripsi UNDIP Semarang.
Hasanuddin,Rahman. 1998. Aspek-Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan di Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.
106 Husnan, S. 1998. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan. Yogyakarta:
BPFE.
Islamiyah, Azizatul, 2009. Analisis Manajemen Kredit Untuk Menurunkan Terjadinya Kredit macet studi kasus pada PT. BPR Gunung Ringgit Malang, Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UIN Malang
Kasmir, 1998, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, RajaGrafindo Persada, Jakarta
Kasmir. 2007. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Enam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Kuncoro, Mudrajad dan Suhardjono. 2002. Manajemen Perbankan: Teori dan Aplikasi. BPFE, Yogyakarta.
Muchdarsyah Sinungan, 1991, Dasar-dasar dan Teknik Managemen Kredit, Bina Aksara, Bandung.
Muchdarsyah, Sinungan. 2002. Manajemen Dana Bank. Jakarta: Bumi Aksara
Munaldus, dkk. 2012. Credit Union: Kendaraan Menuju Kemakmuran. PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Munaldus, dkk. 2014. Kiat Mengelola Credit Union. Kompas Gramedia, Jakarta.
Munaldus. 2005. Mencegah Kredit Lalai di Credit Union.
Munaldus dan Karlena Yuspita. 2016. Beware the Beast Within : Strategi Mencegah dan Mengendalikan Kredit Lalai Pemangsa Credit Union. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ninik Widiyanti & Sunindhia.2009. Koperasi dan Perekonomian Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta.
107 Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil dan Menegah Nomor
35.2/Per/M.KUM/X. Jakarta, 2011
Pudjo Mulyono, Teguh. 2003. Manajemen Perkreditan. BPFP: Yogyakarta
Putri, Guruh Tika Ferayanti. 2010. Tinjauan Atas Prosedur Pemberian Kredit Pada Primkopad Pusdik Passus. Universitas Koputer Indonesia. Bandung.
Rachmat, dkk, 2004 Manajemen Perkreditan Koperasi Umum, Edisi Kedua Bandung: Afabeta.
Raharjo, Handri. 2010. Cara Pintar Memilih dan Mengajukan Kredit. Pustaka Yustisia, Yogyakarta.
Rahayuningsih, Ni Nyoman Trisna. 2015. Pengaruh Jumlah Kredit, Jumlah Simpanan Nasabah, Tingkat Suku Bunga Kredit Terhadap Pendapatan LPD Di Kecamatan Sawan Tahun 2008-2013. Skripsi. Universitas Pendidikan Ganesha.
Rivai, Veithzal & Andria Permata Veithzal, 2007. Credit Management Handbook, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Rudyanti Dorotea Tobing, Hukum Perjanjian Kredit, Konsep Perjanjian Kredit Sindikasi yang Berasaskan Demokrasi Ekonomi, Laksbang Grafika, Yogyakarta, 2014.
Samuelson, A. 1990. Makro Ekonomi (Edisis Ketiga). Jakarta: Erlangga.
Sandi Putri Ari, “Analisis sistem dan prosedur pemberian kredit konsumtif dalam upaya mendukung pengendalian manajemen kredit”, jurnal admidstrasi bisnis, Vol 21. No. 2 April 2015.
Saputro, Nugroho. 2009. Modul Analisis Kredit. Surakarta : UNS.
Sotupo, H.B. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif : Dasar Teori Dan Terapannya Dalam Penelitian. Surakarta : UNS.
108 Subhan, M. Agus. (2013). “Sistem Pemberian Kredit Pinjaman pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia Sinar Murni Unit Jatibarang Brebes”. Tugas Akhir. Politeknik Harapan Bersama Tegal. (tidak dipublikasikan).
Supramono, Gatot. 2009. Perbankan dan Masalah Kredit : Suatu Tinjauan di Bidang Yuridis. Jakarta: Rieneka Cipta.
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993
Sukoco, Lukas. 2014. Credit Union: Kabar Baik Bagi Semua Orang. Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, Yogyakarta
Supeno, Wangsit. 2017. “Analisis Prioritas Penanganan Kredit macet dalam Rangka Menyehatkan Kualitas Kredit pada Bank Perkreditan Rakyat”.
Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Sarana Informatika, Jakarta. Diakses tanggal 15 Desember 2017.
Suyatno , Thomas, 1990, Dasar-dasar Perkreditan, Gramedia, Jakarta.
Suyatno. Thomas, 2007. Dasar-Dasar Perkreditan, Edisi Keempat, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Syafriansyah Muhammad, “Sistem dan Prosedur Pemberian Kredit pada KSP Sentosa”. Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, Vol. 3 No. 1 Februari 2015.
Taha, Sulastri, 2011. Pengaruh Penilaian Kredit terhadap keputusan pemberian kredit pada PT. BRI Cabang Gorontalo, Skripsi Universitas Ichsan Gorontalo.
Tohar, M. 2000. Permodalan dan Perkreditan Koperasi. Kanisius, Yogyakarta.
Untung, Budi. 2005. Hukum Koperasi dan Peran Notaris Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Andi.
109 Wahyuni, Priyatin Siti. (2013). “Evaluasi Sistem Akuntansi Pemberian Kredit pada Koperasi Simpan Pinjam PRIMKOPPABRI Unit Dukuhwaru”.
Tugas Akhir. Politeknik Harapan Bersama Tegal.
Wahyutin, Ema Dlauatul, 2009. Analisis Manajemen Kredit Guna Menekan Terjadinya Kredit Macet (Studi pada Koperasi ”Usaha Tama” Ponggok Blitar), Skripsi Jurusan Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi UIN Malang.
Wulandari. (2013). “Sistem Pemberian Kredit pada PRIMKOPPABRI Unit.
Simpan Pinjam Adiwerna Kabupaten Tegal”. Tugas Akhir. Politeknik Harapan Bersama Tegal.
Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta. Erlangga.
110
LAMPIRAN
111 LAMPIRAN I
DAFTAR PERTANYAAN
Penyaluran kredit
1. Bagaimana proses pemberian kredit yang dilakukan oleh CU Kridha Rahardja TP-Yogyakarta ?
2. Apakah pihak CU memiliki peraturan khusus yang dibuat sendiri mengenai pemberian pinjaman ?
3. Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi anggota dalam mengajukan suatu kredit ?
4. Dalam memberikan kredit, apakah melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya hanya berdasarkan pada jaminannya ?
5. Apakah pihak CU mentolelir syarat pinjaman yang diajukan dalam proses pemberian kredit ?
6. Bagaimana CU melihat bahwa anggotanya mampu dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar kredit?
7. Hal-hal apa saja yang dijadikan acuan oleh CU Kridha Rahardja bahwa kredit yang di ajukan oleh anggota telah usai?
Pengelolaan kredit
1. Apakah ada pemantauan dari pihak CU kepada anggota perihal penyaluran pinjaman CU kepada peminjam ?
112 2. Keringanan apa saja yang diberikan Nasabah oleh CU Kridha Rahardja
ketika belum bisa membayar angsuran ?
3. Apakah ada kredit yang di hindari oleh Credit Union ? Kredit yang bagaimana yang di hindari ? Kenapa Kredit tersebut di hindari ?
4. Bagaimana pihak CU melakukan Monitoring atas pinjaman yang telah di berikan pada Nasabah ?
5. Setelah dilakukannnya monitoring, hasil dari proses monitoring berfungsi sebagai apa?
6. Apakah proses monitoring dapat berjalan dengan lancar? Bagaimana penindakannya jika mengalami kegagalan monitoring ?
7. Apakah ada perbedaan bunga antara anggota lama dan anggota baru yang ingin meminjam di CU ? Jika beda, berapa persen perbedaannya ? 8.
Kinerja Kredit
1. Sejauh ini, apakah penyaluran kredit di CU dapat tersalurkan dengan baik
? Jika lancar, berapa total kredit (Rp) yang tersalurkan ?
2. Bagaimanakah perkembangan kredit yang tersalurkan di CU ? Apakah sesuai dengan kriteria kredit yang diinginkan oleh CU ?
3. Apakah ada kredit di CU pernah bermasalah/tidak lancar ? Bila ada, berapa persen kredit yang bermasalah/tidak lancar tersebut ?
4. Apakah pihak CU pernah mengalami kesulitan dana ketika ada anggota yang ingin melakukan penarikan simpanan? Jika iya, bagaimana pihak CU mengatasinya ?
113 5. Apa gejala-gejala yang sering muncul ketika kredit di CU tersebut akan
mengalami masalah / macet ?
6. Jika Kredit macet / macet sudah terjadi dan tidak dapat di hindari bagaimana pihak CU mengatasi atau melakukan pengelolaan kredit macet / macet tersebut agar dapat terselesaikan ?
114 LAMPIRAN II
HASIL WAWANCARA
TRANSKRIP WAWANCARA 1 Hari/ Tanggal : Kamis, 5 November 2020
Waktu : 09.00 WIB
Lokasi : Kantor CU Kridha Rahardja TP-Yogyakarta Nama Narasumber : Mas Rudi
Dalam pemberian kredit kepada anggotanya, staf kredit harus membuat ketentuan – ketentuan, syarat – syarat maupun petunjuk tindakan yang harus dilakukan sejak diajukannya permohonan nasabah hingga saat pelunasan kredit tersebut. Tujuan prosedur pemberian kredit adalah memastikan kelayakan suatu kredit diterima atau ditolak. Dalam menentukan kelayakan suatu kredit, maka dalam setiap prosedur selalu dilakukan penilaian yang mendalam, apabila dalam penilaian mungkin ada kekurangan maka pihak CU dapat meminta kembali kepada anggota atau bahkan langsung ditolak.
2. Apakah pihak CU memiliki peraturan khusus yang dibuat sendiri mengenai pemberian pinjaman ?
Jawab :
Ada, kita punya yang namanya MPI Credit, yang dimana itu merupakan penjabar dari pengurus yang memmpunyai kebijakan yang diturunkan lewat prosedur pemberian kredit atau tata cara meminjam di CU dengan ketentuan :
a. Kredit harus mendapat persetujuan panitia kredit, Bendahara dan Ketua.
b. Petugas meminjamkan boleh diberi wewenang untuk memberikan dengan surat perjanjian pinjaman dengan pinjaman.
c. Pemeriksaan pinjaman wajib dilakukan terhadap anggota untuk mengecek kebenaran data tersebut.
115 3. Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi anggota dalam mengajukan
suatu kredit?
Jawab :
Syaratnya ya fotokopi KTP, kartu keluarga, mengisi form yang disediakan oleh CU, memiliki penghasilan, bukti agunan seperti sertifikat tanah atau BPKB
4. Dalam memberikan kredit, apakah melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya hanya berdasarkan pada jaminannya ?
Jawab :
Ada, di dalam survei ditanyakan misalnya usaha ini modalnya berapa untungnya berapa kalau ada untungnya pasti bisa mengembalikan modal
Ada, di dalam survei ditanyakan misalnya usaha ini modalnya berapa untungnya berapa kalau ada untungnya pasti bisa mengembalikan modal