BAB IV : ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PEMBIAYAAN KONSUMEN
LATAR BELAKANG TERJADINYA SENGKETA ANTARA PERBANKAN DENGAN PIHAK KONSUMEN
C. Penyebab Terjadinya Sengketa dalam Perjanjian Kredit
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa penyebab sengketa dalam perjanjian kredit antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai debitur, disebabkan karena adanya wanprestasi oleh debitur. Wanprestasi debitur tersebut menyebabkan kredit bermasalah pada bank yang kemudian berpotensi mengakibatkan kredit macet. Keadaan ini tentu saja akan merugikan pihak bank yang akan menimbulkan sebuah sengketa. Penyelesaian sengketa sendiri dapat dilakukan melalui jalur litigasi dan non litigasi.
Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban
sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur. Wanprestasi atau tidak dipenuhinya janji dapat terjadi baik karena disengaja maupun tidak disengaja. 116
Seorang debitur dikatakan lalai, apabila ia tidak memenuhi kewajibannya atau terlambat memenuhinya tetapi tidak seperti yang telah diperjanjikan.117 Wanprestasi terdapat dalam Pasal 1243 KUH Perdata, yang menyatakan
bahwa:118
“penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya”.
115 Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, hal.
21-24
116 Salim HS, Op.Cit, hal. 180
117 Ahmadi Miru, Op.Cit, hal. 74
118 Subekti, Op.Cit, hal. 146
Kata lain wanprestasi juga dapat diartikan suatu perbuatan ingkar janji yang dilakukan oleh salah satu pihak yang tidak melaksanakan isi perjanjian, isi ataupun melaksanakan tetapi terlambat atau melakukan apa yang sesungguhnya tidak boleh dilakukannya.
Mengenai pengertian dari wanprestasi, menurut Ahmadi Miru wanprestasi itu dapat berupa perbuatan:119
1. Sama sekali tidak memenuhi prestasi.
2. Prestasi yang dilakukan tidak sempurna.
3. Terlambat memenuhi prestasi.
4. Melakukan apa yang dalam perjanjian dilarang untuk dilakukan
Sedangkan menurut A. Qirom Syamsudin Meliala wanprestasi itu dapat berupa:120
1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali
Sehubungan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasi maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.
2. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya
Apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktu, sehingga dapat dikatakan wanprestasi.
3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru
119 Ibid.
120 A. Qirom Syamsuddin Meliala, Pokok-pokok Hukum Perjanjian, Yogyakarta, Liberty, 1985, hal.26
65
Debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali.
Abdul kadir Muhammad, menyatakan wanprestasi terjadi dikarenakan adanya 2 (dua) kemungkinan yaitu:
1. Keadaan memaksa (overmach / force mejeur).
2. Karena kesalahan debitur, baik karena kesengajaan maupun lalai.
Overmach adalah suatu keadaan atau kejadian yang tidak dapat
diduga-duga terjadinya, sehingga menghalangi seorang debitur untuk melakukan prestasinya sebelum ia lalai untuk apa dan keadaan mana tidak dapat dipersalahkan kepadanya. Overmacht di bagi dua yaitu:
1. Overmacht mutlak adalah apabila prestasi sama sekali tidak dapat dilaksanakan oleh siapapun.
2. Overmacht yang tidak mutlak adalah pelaksanaan prestasi masih dimungkinkan, hanya memerlukan pengorbanan dari debitur.
Kesengajaan maupun lalai, kedua hal tersebut menimbulkan akibat yang berbeda, dimana akibat akibat adanya kesengajaan, sidebitur harus lebih banyak mengganti kerugian dari pada akibat adanya kelalaian. Surat peringatan yang menyatakan debitur telah melakukan wanprestasi disebut dengan somasi. Somasi adalah pemberitahuan atau pernyataan dari kreditur kepada debitur yang berisi ketentuan bahwa kreditur menghendaki pemenuhan prestasi seketika atau dalam jangka waktu seperti yang ditentukan dalam pemberitahuan itu.
Dari ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata dapat dikatakan bahwa debitur dinyatakan apabila sudah ada somasi (in grebeke stelling). Somasi itu bermacam bentuk, seperti menurut Pasal 1238 KUH Perdata adalah:
1. Surat perintah
Surat perintah tersebut berasal dari hakim yang biasanya berbentuk penetapan. Dengan surat penetpan ini juru sita memberitahukan secara lisan kepada debitur kapan selambat-lambatnya dia harus bprestasi.
Hal ini biasa disebut “exploit juru sita”
2. Akta sejenis
Akta ini dapat berupa akta dibawah tangan maupun akta notaris.
3. Tersimpul dalam perikatan itu sendiri.
Maksudnya sejak pembuatan perjanjian, kreditur sudah menentukan saat adanya wanprestasi.
Menurut Sri Soedewi Mascjhun Sofwan, debitur dinyatakan wanprestasi apabila memenuhi 3 (tiga) unsur, yaitu:121
1. Perbuatan yang dilakukan debitur tersebut dalam disesalkan.
2. Akibatnya dapat diduga lebih dahulu baik dalam arti yang objektif yaitu orang yang normal dapat menduga bahwa keadaan itu akan timbul. Maupun dalam arti yang subjektif, yaitu sebagai orang yang ahli dapat menduga keadaan demikian akan timbul.
3. Dapat diminta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, artinya bukan orang gila atau lemah ingatan.
121 Sri Soedewi Masyohen Sofwan, Hukum Acara Perdata Indonesia dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta, Liberty, 1981, hal.15
67
Apabila seorang dalam keadaan-keadaan tertentu beranggapan bahwa perbuatan debiturnya akan merugikan, maka ia dapat minta pembatalan perikatan.
Menurut pendapat yang paling banyak dianut, bukanlah kelalaian debitur yang menyebabkan batal, tetapi putusan hakim yang membatalkan perjanjian, sehingga putusan itu bersifat “constitutief” dan tidak “declaratoir”. Malahan hakim itu mempunyai suatu kekuasaan “discretionair” artinya ia berwenang menilai wanprestasi debitur. Apabila kelalaian itu dianggapnya terlalu kecil hakim berwenang untuk menolak pembatalan perjanjian, meskipun ganti rugi yang diminta harus diluluskan. 122
122 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Balai Pustaka, 1986, hal. 246-247
68
22/ PDT.G/SUS/2016/PN.SIM A. Posisi Kasus
Gugatan dapat dibedakan menjadi gugatan voluntair (Permohonan) dan gugatan kontentiosa (sengketa). Gugatan voluntair atau biasa disebut permohonan adalah permasalahan perdata yang diajukan dalam bentuk permohonan yang ditandatangani Pemohon atau kuasanya yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan. Ciri khas dari gugatan voluntair adalah:149
1. Permasalahan yang diajukan bersifat kepentingan sepihak semata Pemohon (for the benefit of one party only);
2. Permohonan yang diajukan tanpa sengketa dengan pihak lain (without disputes or differences with another party); dan
3. Satu pihak, tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan tetapi bersifat ex-parte (sepihak).
Gugatan kontentiosa atau biasa disebut gugatan adalah tuntutan perdata tentang hak yang mengandung sengketa dengan pihak lain. Gugatan ini memiliki ciri khas:150
1. Permasalahan hukum yang diajukan mengandung sengketa (disputes);
2. Pihak yang mengajukan gugatan disebut Penggugat;
3. Pihak yang ditarik sebagai pihak lawan atau pihak yang digugat disebut Tergugat;
149 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta, Sinar Grafika, 2013, hlm. 39
150 Rahmi Jened, Op.Cit, hlm. 72
69
Hukum acara perdata sebagai hukum perdata formil memiliki hubungan hukum yang tidak terpisahkan dengan hukum perdata materiil. Berdasarkan pendapat Wiryono Prodjodikoro, hukum perdata materiil adalah Rangkaian peraturan-peraturan perihal perhubungan-perhubungan hukum antara orangorang atau badan-badan hukum satu dengan yang lain tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka terhadap masing-masing dan terhadap suatu benda, perhubungan hukum mana yang tidak bersifat hukum pidana, yaitu yang tidak disertai kemungkinan mendapat hukum pidana, dan yang bersifat hukum tata-usaha pemerintahan, yaitu yang tidak mengenai badan-badan pemerintah dalam menjalankan kekuasaan dan kewajibannya.151
Gugatan dalam perkara ini adalah gugatan dalam bentuk kontentiosa (sengketa) dimana pihak penggugat merasa keberatan terhadap putusan BPSK.
Penyelesaian sengketa dianggap tidak sesuai dengan hukum karena pihak tergugat sebenarnya yang melakukan wanprestasi dimana tergugat tidak melakukan pembayaran kredit sehingga menyebabkan tejadinya kredit macet. Atas dasar itu kemudian penggugat melakukan gugatan melalui pengadilan.
Perkara perdata ini adalah sengketa antara PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Perdagangan sebagai Pemohon Keberatan / Pelaku Usaha / Terlapor melawan Ali Muksin Pasaribu, sebagai Termohon Keberatan / Konsumen / Pelapor. Pemohon Keberatan menyatakan keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara
151 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, cet. 4, Bandung, Sumur Bandung, 1975, hal. 13
No.153/Arbitrase/BPSK/BB/II/2016 tanggal 07 April 2016, yang amar putusannya berbunyi sebagai berikut:
10. Mengabulkan permohonan konsumen seluruhnya 11. Menyatakan ada kerugian dipihak konsumen
12. Menyatakan Pelaku usaha tidak pernah menghadiri persidangan yang secara patut dipanggil menurut Perturan dan perundang-undangan yang berlaku di Wilayah negara republik Indonesia sebagaimana telah diamanatkan Pasal 54 ayat (4) Undang- undang Nomor : 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yo Pasal 43 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 350/MPP/Kep/12/2001, yaitu tertanggal :
4) Surat panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara Nomor : 247/PG/JS-III/BPSK-BB/II/2016 tanggal 15 Februari 2016 perihal panggilan persidangan atas nama Pelaku Usaha/Pimpinan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Perdagangan pada hari Selasa/tanggal 23 Februari 2016;
5) Surat panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara Nomor : 258/PG/ARB-II/JS-III/BPSKBB/III/2016 tanggal 22 Februari 2016, perihal panggilan persidangan atas nama Pelaku Usaha/Pimpinan PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk Kantor Cabang Perdagangan pada hari Selasa/tanggal 01 Maret 2016;
6) Surat panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara Nomor : 288/PG/ARB-II/JS-III/BPSKBB/III/2016 tanggal 08 Maret 2016, perihal panggilan persidangan atas nama Pelaku Usaha/Pimpinan PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk Kantor Cabang Perdagangan pada hari Selasa/8 Maret 2016;
Sehingga Majelis Badan penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Batu Bara berpendapat bahwa Pelaku Usaha teleh melepaskan haknya untuk bersidang di Badan penyelesaian Sengketa Kosnumen (BPSK), Dan besesuaian dengan yang diamanatkan pada Pasal 54 ayat (4) Undang- undang Nomor : 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yo Keputusan Mneteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 350/MPP/Kep/12/2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang Badan Peneyelsaian Sengketa Konsumen (BPSK) pada Pasal 36 butir (3) yang menyebutkan : “Bilamana pada persidangan ke II (kedua) konsumen tidak hadir, maka gugatannya dinyatakan gugur demi hukum, sebaliknya jika pelaku usaha yang tidak hadir, maka gugatan kosnumen dikabulkan oleh Majelis tanpa kehadiran pelaku usaha (vestek)”.
71
13. Menyatakan Pelaku Usaha yang tidak memberikan dokumen salinan/fotocopy Perjanjian yang mengikat diri antara Konsumen dengan Pelaku usaha seperti: Perjanjian Kredit, Polis Ansuransi dan Akta Pemberian Hak tanggungan maupun lainnya adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Undang- undang Nomor: 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
14. Menyatakan Perjanjian Kredit yang telah dibuat dan ditandatangani serta yang disepakati bersama antara Konsumen dengan Pelaku Usaha adalah batal demi hukum dan tidak berkekuatan hukum yang mengikat;
15. Menyatakan pelaku usaha yang akan dan/atau telah melakukan lelang eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan yang menjadi Jaminan Pemayaran kembali atas fasilitas pinjaman kredit modal kerja yang telah diberikan oleh pelaku usaha kepada Konsumen yaitu dengan melalui perantara Kantor pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kisaran;
16. Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum:
d. Permintaan Lelang oleh Pelaku usaha Kepada Kantor Pelayanan Kekayaan negara dan lelang (KPKNL) Pematangsiantar terhadap agunan yang menjadi jaminan konsumen kepada pelaku usaha;
e. Lelang yang akan dan/atau telah dilakukan oleh kantor Pelayanan Kekayaan negara dan lelang (KPKNL) Pematang siantar atas permintaan dari Pelaku usaha terhadap Jaminan yang menjadi Agunan Konsumen kepada Pelaku Usaha;
f. Akibat hukum yang timbul karena lelang nyang akan dan/atau telah dilakukan oleh Pelaku usaha melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan negara dan lelang (KPKNL) Pematangsiantar.
17. Menghukum Pelaku Usaha untuk membatalkan lelang eksekusi Hak Tanggungan di muka umum atas agunan yang menjadi Jaminan Pemayaran kembali atas fasilitas pinjaman kredit modal kerja yang telah diberikan oleh pelaku usaha kepada Konsumen yatu dengan melalui perantara Kantor pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pematangsiantar;
18. Menghukum Pelaku Usaha untuk menghapus denda tunggakan keterlambatan membayar angsuran perbulannya, biaya finalti, bunga berjalan maupun lainnya yang bertentangan dengan peraturan.
Terhadap Putusan BPSK Batu Bara tersebut, kemudian Pemohon Keberatan memohon agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Simalungun berkenan untuk:
5. Menerima dan mengabulkan keberatan Pemohon seluruhnya;
6. Menyatakan Putusan Majelis Hakim BPSK Kabupaten Batu Bara No153/Arbitrase/BPSK/BB/II/2016 Tanggal 7 April 2016 batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum;
7. Menghukum Termohon Keberatan (semula Konsumen/Pelapor) untuk membayar seluruh biaya perkara pada semua tingkat peradilan;
8. Atau bila Majelis Hakim berpendapat lain, Pemohon Keberatan mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Kemudian atas adanya permohonan keberatan tersebut, Putusan Pengadilan Negeri Simalungun memberikan putusan yang amarnya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi: Menolak eksepsi Termohon Keberatan/Konsumen/Pelapor untuk seluruhnya;
Dalam Pokok Perkara:
3. Mengabulkan Permohonan Keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha/Terlapor: PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.
Perdagangan;
4. Menyatakan Putusan Majelis Hakim BPSK Kabupaten Batu Bara No:
153/Arbitrase/BPSK-BB/II/2016 tanggal 07 April 2016 batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum;
Mengadili sendiri:
5. Mengabulkan Permohonan Keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha/Terlapor untuk seluruhnya;
6. Menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Batu Bara tidak berwenang mengadili perkara ini;
7. Menyatakan permohonan sengketa konsumen yang diajukan oleh Termohon Keberatan/Konsumen/Pelapor ke Badan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Batu Bara tidak dapat diterima;
8. Menghukum Termohon Keberatan/Konsumen/Pelapor untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 716.000,- (tujuh ratus enam belas ribu rupiah).