BAB IV : ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PEMBIAYAAN KONSUMEN
LATAR BELAKANG TERJADINYA SENGKETA ANTARA PERBANKAN DENGAN PIHAK KONSUMEN
B. Pertimbangan Hakim dalam Memutus Sengketa Pembiayaan
Dalam memutus perkara yang terpenting adalah kesimpulan hukum atas fakta yang terungkap di dalam persidangan. Untuk itu hakim harus menggali nilai- nilai, mengikuti dan memahami nilai- nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup
73
dalam masyarakat. 152 Sumber hukum yang dapat berupa peraturan perundang- undangan berikut peraturan pelaksananya, hukum tidak tertulis (hukum adat), putusan desa, yurisprudensi, maupun doktrin/ ajaran para ahli.153
Dalam praktik pengadilan perdata, dikenal sumber hukum berupa Burgerlijk Wetboek (BW) yang terdiri dari 1993 pasal. BW tersebut berdasarkan
Pasal 1 Aturan Peralihan UUD 19945 (amandemen) masih berlaku hingga saat ini.
Pada masa dulu sebelum dicabutnya keberlakukan pembagian golongan penduduk, diberlakukan aturan berlakunya BW yaitu: 154
a) Mereka yang termasuk golongan Eropa; „
b) Mereka yang termasuk golongan Tiong Hoa dengan beberapa kekecualian dan tambahan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1917- 129 (lampiran II);
c) Mereka yang termasuk golongan Timur Asing selain daripada Tiong Hoa dengan kekecualian dan penjelasan seperti termuat dalam Lembaran Negara tahun 1924- 556 (lampiran I)
Sementara itu untuk golongan bangsa Indonesia Asli berlaku hukum adat yang sejak dahulu telah berlaku di kalangan rakyat, yang sebagian besar masih belum tertulis, tetapi telah hidup dalam tindakan- tindakan rakyat, mengenai segala soal dalam kehidupan masyarakat. 155
152 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman
153 R. Soerparmono, Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi, Bandung, Mandar Maju, 2005, hal. 146
154 R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta, PT. Pradnya Paramitha, 2004 hal. 6
155 R. Subekti, Pokok- pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT. Intermasa, 1996 hal. 10
Pembahasan mengenai cacat tidaknya suatu putusan hakim harus ditinjau dari asas- asas putusan yang harus diterapkan dalam putusan. Pada hakikatnya asas- asas tersebut terdapat dalam Pasal 178 HIR/ 189 RBG dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu:
a. Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci
Putusan yang dijatuhkan oleh hakim harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup. Putusan yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dikategorikan putusan yang tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiveerd. Alasan yang dijadkan pertimbangan dapat berupa pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan, hukum kebiasaan, yurisprudensi atau doktrin hukum.
Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Bahkan menurut Pasal 178 ayat (1) HIR, hakim karena jabatannya wajib mencukupkan segala alasan hukum yang tidak dikemukakan para pihak yang berperkara. Untuk memenuhi kewajiban itulah Pasal 5 Undang-Undang Kekuasan Kehakiman memerintahkan hakim untuk menggali nilai-nilai, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.156
Bertitik tolak dari pasal-pasal yang dikemukakan di atas, putusan yang tidak cukup pertimbangan adalah masalah yuridis, Akibatnya putusan dapat
156 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta, Sinar Grafika, 2005 hal. 798
75
dibatalkan pada tingkat banding atau kasasi. Begitu pula pertimbangan yang mengandung kontradiksi, putusan demikian tidak memenuhi syarat sebagai putusan yang jelas dan rinci, sehingga cukup alasan menyatakan putusan yang dijatuhkan melanggar asas yang digariskan Pasal 178 ayat (1) HIR/189 ayat (1) RBG dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
b. Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan
Asas kedua yang digariskan oleh Pasal 178 ayat (2) HIR/Pasal 189 ayat (2) RBG dan Pasal 50 RV adalah putusan harus secara total dan menyeluruh memeriksa dan mengadili setiap segi gugatan yang diajukan. Tidak boleh hanya memeriksa dan memutus sebagian saja dan mengabaikan gugatan selebihnya. Cara mengadili yang demikian bertentangan dengan asas yang digariskan oleh undang-undang.
c. Tidak Boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan
Berdasarkan Pasal 178 ayat (3) HIR/Pasal 189 ayat (3) RBG dan Pasal 50 RV, putusan tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan yang dikemukakan dalam gugatan. Larangan itu disebut ultra petitum partium. Hakim yang mengabulkan posita maupun petitum gugatan, dianggap telah melampaui batas wewenang atau ultar vires yakni bertindak melampaui wewenangnya. Apabila putusan mengandung ultra petitum, harus dinyatakan cacat (invalid) meskipun hal itu dilakukan hakim dengan itikad baik (good faith) maupun sesuai dengan kepentingan umum (public interest). Mengadili dengan cara mengabulkan
melebihi dari apa yang di gugat dapat dipersamakan dengan tindakan yang tidak sah (illegal)meskipun dilakukan dengan itikad baik. 157
d. Diucapkan di Depan Umum
Persidangan dan putusan diucapkan dalam sidang pengadilan yang terbuka untuk umum atau di muka umum merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari asas fair trial. Melalui asas fair trial, pemeriksaan persidangan harus berdasarkan proses yang jujur sejak awal sampai akhir. Prinsip peradilan terbuka untuk umum mulai dari awal pemeriksaan sampai putusan dijatuhkan. Hal itu tentunya dikecualikan untuk perkara tertentu, misalnya perkara perceraian. Akan tetapi walaupun dilakukan dalam persidangan tertutup untuk umum, putusan wajib diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.
Pelanggaran terhadap hal di atas ditegaskan dalam Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi :
“Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.”
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka putusan yang tidak diucapkan di muka umum berakibat putusan batal demi hukum. Batalnya suatau putusan tersebut tentu menjadikan putusan tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat.
Hukum positif dituangkan dalam undang-undang adalah kristalisasi kehendak masyarakat. Penguasaan atas bahasa undang-undang sangat diperlukan untuk memahami kehendak masyarakat tersebut agar tidak menimbulkan penafsiran yang bertentangan dengan kehendak masyarakat. Itulah latar belakang
157 Ibid.
77
pentingnya penguasaan Bahasa Belanda untuk dapat memahami maksud dari segala pasal-pasal dalam BW.158
Faktanya adalah minimnya penguasaan Bahasa Belanda oleh para yurist saat ini. Sepengetahuan penulis tidak lebih dari seperlima dari jumlah
keseluruhan hakim agung yang menguasai Bahasa Belanda. Konsekuensinya adalah penggunaan BW terjemahan oleh para hakim/praktisi hukum untuk menjadi problem solving atas berbagai permasalahan hukum yang ada. BW adalah undang-undang sehingga harus diterapkan sebagai legal reasoning hakim dalam putusannya.159
Penggunaan BW terjemahan tersebut telah menjadi kebiasaan bagi para hakim baik hakim tingkat pertama, banding maupun kasasi. Tidak pernah tercatat dalam sejarah peradilan Indonesia putusan hakim menjadi batal atau batal demi hukum dikarenakan penggunaan BW terjemahan. Substansi dari putusan yang pada hakikatnya menggunakan BW terjemahan juga telah dapat diterima oleh masyarakat mengingat kebutuhan menghendakinya (doelmatigheid).160
Dari berbagai putusan perdata yang menggunakan BW sebagai problem solving atas sengketa yang ada, tidak pernah hakim dalam pertimbangannya
mengatakan bahwasanya pasal BW yang dikutip adalah terjemahan dari orang lain. Terlihat seolah hakim tersebutlah yang menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia. Menurut penulis hal tersebut tidak menjadi persoalan asalkan diambil dari terjemahan penterjemah yang diakui dan teruji kapasitasnya.
158 R. Subekti, Op.Cit, hal. 147
159 Ibid, hal. 153
160 M. Yahya Harahap, Op.Cit, hal. 72
Secara yuridis, tidak terdapat suatu pengaturan yang mengancam kebatalan bagi suatu putusan yang menggunakan BW terjemahan sebagai dasar pertimbangan. Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman hanya menegaskan bahwasanya Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Pelanggaran terhadap pasal tersebut mengakibatkan putusan dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi dikarenakan alasan tidak cukup pertimbangan atau onvoldoende gemotiverd.
Pada penelitian ini, adapun pertimbangan hakim dalam memutus sengketa konsumen adalah sebagai berikut:
1. Bahwa Termohon Keberatan mengajukan kasasi tetapi tidak didukung dengan alasan yang cukup untuk dapat diterima dan tidak menunjukkan secara tepat adanya kesalahan penerapan hukum dalam putusan yang dimaksud;
2. Judex Facti sudah menerapkan hukum secara tepat dan benar menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Batubara tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara a quo;
3. Memperhatikan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua
79
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.
C. Analisis Terhadap Proses Penyelesaian Sengketa Pembiayaan dalam Putusan Nomor 22/ Pdt.G/Sus/2016/PN.Sim
Akibat hukum adalah suatu akibat yang ditimbulkan oleh hukum, terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum. Akibat hukum merupakan suatu akibat dari tindakan yang dilakukan, untuk memperoleh suatu akibat yang diharapkan oleh pelaku hukum. Akibat yang dimaksud adalah akibat yang diatur oleh hukum, sedangkan tindakan yang dilakukan merupakan tindakan hukum yaitu tindakan yang sesuai dengan hukum yang berlaku.161
Akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa hukum, yang dapat berwujud:162
1. Lahir, berubah atau lenyapnya suatu keadaan hukum. Contohnya, akibat hukum dapat berubah dari tidak cakap hukum menjadi cakap hukum ketika seseorang berusia 21 tahun.
2. Lahir, berubah atau lenyapnya suatu hubungan hukum antara dua atau lebih subjek hukum, dimana hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Contohnya, X mengadakan perjanjian sewa-menyewa rumah dengan Y, maka lahirlah hubungan hukum antara X dan Y apabila sewa menyewa rumah berakhir, yaitu ditandai dengan dipenuhinya semua perjanjian sewa-menyewa tersebut, maka hubungan hukum tersebut menjadi lenyap.
161 R. Soeroso, Praktek Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2006 hal. 295
162 Ibid.
3. Lahirnya sanksi apabila dilakukan tindakan yang melawan hukum.
Contohnya, seorang pencuri diberi sanksi hukuman adalah suatu akibat hukum dari perbuatan si pencuri tersebut yaitu, mengambil barang orang lain tanpa hak dan secara melawan hukum.
Akibat hukum merupakan suatu peristiwa yang ditimbulkan oleh karena suatu sebab, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum, baik perbuatan yang sesuai dengan hukum, maupun perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum.
Akibat hukum sebagai implikasi atas dilakukannya suatu perbuatan hukum, dipengaruhi oleh norma- norma dan aturan- aturan yang ada di dalam lingkungan subjek hukum tersebut.
Akibat hukum terhadap putusan ini adalah kedua belah pihak harus kembali mematuhi putusan Pengadilan Negeri Muaro karena dalam putusan kasasi, permohonan pemohon ditolak oleh pihak pengadilan. Terhadap putusan tersebut di atas bahwa jika putusan tersebut tidak ada penolakan dari pihak lain dalam batas waktu yang telah ditentukan Undang-Undang, maka putusan tersebut dikatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Kekuatan pembuktian adalah putusan sebagai dokumen merupakan suatu akta otentik yang dapat dipergunakan sebagai alat bukti bagi para pihak, yang mungkin diperlukan untuk banding, kasasi atau eksekusi. Sekalipun putusan tidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga. Namun putusan mempunyai kekuatan antara pihak yang berpekara dan terhadap pihak ketiga, dalam hal membuktikan bahwa telah ada suatu perkara antara pihak-pihak yang disebutkan dalam putusan itu.
81
Kekuatan pembuktian, yakni dapat digunakan sebagai alat bukti oleh para pihak, yang mungkin dipergunakan untuk keperluan banding, kasasi atau juga untuk eksekusi. Sedangkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dipergunakan sebagai alat bukti bagi para pihak yang berperkara sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam putusan tersebut.163
Kekuatan eksekutorial adalah kekuatan untuk dilaksanakannya apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat negara. Bagi pihak yang dinyatakan kalah berkewajiban melaksanakan putusan tersebut secara rela. Jika sekiranya pihak yang kalah tidak mau melaksanakan putusan tersebut, maka putusan tersebut dapat dilaksanakan secara paksa oleh Ketua Pengadilan.
Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap atau memperoleh kekuatan yang pasti, mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan. Bagi pihak yang dinyatakan kalah berkewajiban melaksanakan putusan tersebut secara rela. Jika sekiranya pihak yang kalah tidak mau melaksanakan isi putusan tersebut, maka putusan itu dapat dilaksanakan secara paksa oleh ketua pengadilan.
Suatu putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya. Ini tidak berarti semata-mata hanya menetapkan hak atau hukumnya. Ini tidak berarti semata-mata hanya menetapkan hak atau hukumnya saja melainkan juga realisasi atau pelaksanaannya (eksekusinya) secara paksa. Kekuatan mengikat saja dari suatu putusan pengadilan belumlah cukup dan tidak berarti apabila putusan tersebut tidak dapat direalisasikan atau dilaksanakan. Oleh karena putusan itu menetapkan dengan
163 Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, , Jakarta, Pradnya Paramita 1993, hal. 57
tegas hak atau hukumnya untuk kemudian direalisasikan, maka putusan hakim mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakannya apa yang telah ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat negara. Suatu putusan memperoleh kekuatan eksekutorial, apabila dilakukan oleh peradilan di Indonesia yang menganut ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004) dan semua putusan pengadilan di seluruh Indonesia harus diberi irah-irah yang berbunyi ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 454 Rv jo Pasal 4 ayat 1 undang-undang Nomor 4 Tahun 2004).
Mediasi di peradilan dikecualikan terhadap perkara yang diselesaikan melalui prosedur pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, dan keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, semua sengketa perdata yang diajukan ke Pengadilan Tingkat Pertama wajib lebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui perdamaian dengan bantuan mediator, hal ini terdapat dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Pada sengketa ini pada awalnya adalah penyelesaian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Namun upaya tersebut gagal sehingga ditempuh penyelesaian melalui pengadilan. Proses penyelesaian sengketa yang dilaksanakan melalui pengadilan atau yang sering disebut dengan istilah “litigasi”, yaitu suatu penyelesaian sengketa yang dilaksanakan dengan proses beracara di pengadilan di mana kewenangan untuk mengatur dan memutuskannya dilaksanakan oleh hakim.
83
Litigasi merupakan proses penyelesaian sengketa di pengadilan, di mana semua pihak yang bersengketa saling berhadapan satu sama lain untuk mempertahankan hak-haknya di muka pengadilan. Hasil akhir dari suatu penyelesaian sengketa melalui litigasi adalah putusan yang menyatakan win-lose solution. 164
Prosedur dalam jalur litigasi ini sifatnya lebih formal dan teknis, menghasilkan kesepakatan yang bersifat menang kalah, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesaiannya, membutuhkan biaya yang mahal, tidak responsif dan menimbulkan permusuhan diantara para pihak yang bersengketa.
Apabila dianalisa terhadap putusan dalam penelitian ini, dimana majelis hakim menerima permohonan keberatan, dinilai sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku. BPSK dinilai tidak berwenang melakukan penyelesaian sengketa konsumen karena menurut Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Pasal 4 Kepmenperindag Nomor 350/MPP/KEP/2001 tersebut menyatakan dengan tegas penyelesaian sengketa di BPSK hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan para pihak yang bersengketa baik penyelesaian secara mediasi, konsiliasi atau arbitrase harus sepakat terlebih dahulu para pihak mengenai jenis metode penyelesaian dan memilih abiter untuk menyelesaikan sengketa barulah BPSK dapat menyelesaikan dan memberikan putusan.
Kedua belah pihak tidak pernah memilih Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara sebagai tempat penyelesaian sengketa a quo bahwa Pemohon tidak hadir pada persidangan perkara ini karena Pemohon
164 Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, hal.
21-24
telah sampaikan secara lisan pada sekretariat BPSK Batubara minta diselesaikan di Pengadilan saja, karena Pemohon tidak memilih BPSK untuk penyelesaian sengketa ini, seharusnya pihak Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Batubara harus menghentikan pemeriksaan perkara a quo karena bedasarkan Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa kalau para pihak tidak suka rela dan tidak memilih dan tidak sepakat maka BPSK tidak dapat dan tidak boleh memaksa diri untuk melanjutkan pemeriksaan karena BPSK bukanlah lembaga peradilan.
D. Kewenangan Pengadilan Negeri Simalungun dalam Memutus Putusan