BAB IV : ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PEMBIAYAAN KONSUMEN
MEKANISME PELAKSANAAN DALAM PEMBERIAN KREDIT PERBANKAN
C. Syarat dan Mekanisme dalam Pemberian Kredit Konsumen
Standar tersebut dapat berupa persyaratan- persyaratan dan juga memiliki prinsip dalam memberikan kredit kepada debiturnya. Pemberian kredit oleh suatu lembaga pembiayaan harus dilakukan dengan mengacu pada beberapa prinsip, yaitu sebagai berikut :59
1. Prinsip Kepercayaan
Sesuai dengan asal kata kredit yang berarti kepercayaan, maka setiap pemberian kredit haruslah didasari oleh kepercayaan, yaitu kepercayaan dari kreditur kepada debitur bahwa debitur dapat membayar kembali kreditnya. Untuk memenuhi unsur kepercayaan ini, kreditur harus melihat apakah calon debitur memenuhi berbagai kriteria yang biasanya diberlakukan terhadap pemberian kredit.
2. Prinsip Kehati-hatian
Prinsip kehati-hatian ini adalah bentuk konkret dari prinsip kepercayaan dalam suatu pemberian kredit. Adanya jaminan dalam setiap pemberian kredit sebenarnya juga mempunyai tujuan agar kredit diberikan secara
57 Tan Kamello, Karakter Hukum Perdata dalam Fungsi Perbankan Melalui Hubungan antara Bank dengan Nasabah, Medan, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Hukum Perdata pada Fakultas Hukum USU, 2006, hal. 18
58 Wahyono Hardjo, Masalah Kedudukan Pihak yang Lemah Secara Ekonomis dalam Perjanjian, Jakarta, BPHN, 1985, hal. 139
59 HR Daeng Naja, Hukum Kredit Dan Bank Garansi, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2005, hal. 125
hati-hati, sehingga ada jaminan bahwa kredit yang bersangkutan akan dibayar kembali oleh pihak debitur.
3. Prinsip 5 C
Prinsip 5 C selalu ada dalam pemberian kredit, yaitu:60 a. Character (Kepribadian)
Salah satu unsur yang harus diperhatikan oleh pihak bank sebelum memberikan kredit adalah penilaian atas karakter dari calon debiturnya. Karena karakter yang kurang baik akan menimbulkan perilaku-perilaku yang kurang baik pula, termasuk tidak mau membayar utang.
b. Capacity (Kemampuan)
Calon debitur harus diketahui kemampuan bisnisnya, sehingga dapat diprediksi kemampuannya untuk melunasi kredit.
c. Capital (Modal)
Permodalan dari calon debitur juga merupakan hal yang penting dan harus diketahui oleh pihak calon krediturnya, karena permodalan dan kemampuan keuangan dari calon debitur mempunyai hubungan langsung dengan tingkat kemampuan membayar kredit.
d. Conditions of Economy (Kondisi Ekonomi )
Kondisi perkonomian secara mikro maupun makro merupakan faktor penting pula untuk dianalisis sebelum suatu kredit diberikan, terutama jika berhubungan langsung dengan bisnis pihak debitur. Misalnya jika
60 Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum, Bandung, Alfabeta, 2011, hal. 83
37
bisnis calon debitur adalah dibidang bisnis yang selama ini diproteksi atau diberikan hak monopoli oleh pemerintah. Kemudian terjadi perubahan kebijakan dimana pemerintah mencabut proteksi atau hak monopoli, maka pemberian kredit terhadap perusahaan tersebut harus lebih hati-hati.
e. Collateral (Jaminan)
Tidak diragukan lagi bahwa betapa pentingnya fungsi jaminan dalam setiap pemberian kredit. Walaupun jaminan itu misalnya hanya berupa hak tagihan yang terbit dari proyek yang dibiayai oleh kredit yang bersangkutan. Jaminan merupakan sumber akhir bagi kreditur, dimana akan direalisasikan/dieksekusi jika suatu kredit benar-benar dalam keadaan macet.
4. Prinsip 5 P
Dalam suatu pemberian kredit oleh bank, selain prinsip 5C juga terdapat apa yang dinamakan prinsip 5 P, yaitu:61
a. Party (Para Pihak)
Para pihak merupakan titik sentral yang diperhatikan dalam setiap pemberian kredit. Untuk itu pihak pemberi kredit harus memperoleh suatu kepercayaan terhadap para pihak, dalam hal ini debitur.
b. Purpose (Tujuan)
Tujuan dari pemberian kredit juga sangat penting diketahui oleh pihak kreditur. Harus dilihat, apakah kredit akan digunakan untuk hal-hal
61 Ibid, hal. 88
yang positif dan harus pula diawasi agar kredit tersebut benar-benar diperuntukan untuk tujuan seperti yang diperjanjikan dalam suatu perjanjian kredit.
c. Payment (Pembayaran)
Kredit yang akan diberikan diharapkan dapat dibayar kembali oleh debitur yang bersangkutan. Jadi, harus dilihat dan dianalisis apakah setelah pemberian kredit nanti, debitur punya sumber pendapatan, dan apakah pendapatan tersebut mencukupi untuk membayar kembali kreditnya.
d. Profitability (Perolehan Laba)
Unsur perolehan laba oleh debitur tidak kurang pula pentingnya dalam suatu pemberian kredit. Untuk itu, kreditur harus dapat mengantisipasi, apakah laba yang akan diperoleh perusahaan lebih besar dari bunga pinjaman dan apakah pendapatan perusahaan dapat menutupi pembayaran kembali kredit.
e. Protection (Perlindungan)
Diperlukan suatu perlindungan terhadap kredit agar sekiranya siap menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
5. Prinsip 3 R: 62
a. Return (Hasil Yang Diperoleh)
Return merupakan hasil yang akan diperoleh debitur, dalam hal ini
ketika kredit telah dimanfaatkan nanti, harus dapat diantisipasi oleh
62 Ibid, hal. 89
39
calon kreditur. Perolehan tersebut artinya mencukupi untuk membayar kembali kredit beserta bunga, ongkos-ongkos, di samping membayar keperluan yang lain.
b. Repayment (Pembayaran Kembali)
Kemampuan bayar dari pihak debitur tentu saja juga harus dipertimbangkan dan apakah kemampuan bayar tersebut sesuai dengan waktu pembayaran kembali dari kredit yang akan diberikan itu.
c. Risk Bearing Ability (Kemampuan Menanggung Risiko)
Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah sejauh mana kemampuan debitur untuk menanggung risiko. Misalnya dalam hal terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Terutama jika dapat menyebabkan timbulnya kredit macet. Untuk itu harus diperhitungkan apakah jaminan dan atau asuransi barang untuk kedit sudah cukup untuk menutupi risiko tersebut.
Sebelum tercapainya kesepakatan kredit perbankan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh debitur. Syarat tersebut merupakan syarat kualitatif dan syarat administratif bagi debitur guna melakukan kredit perbankan. Adapun Syarat kualitatif untuk calon debitur perorangan yakni:63
1. Dewasa. Ketentuan kedewasaan pada Bank adalah ketentuan dewasa menurut batas umur 21 tahun untuk yang belum menikah dan 17 tahun jika sudah kawin dengan persetujuan suami-istri.
2. Cakap hukum, dalam arti tidak berada atau dibawah pengampuan.
3. Ada jaminan, baik berupa jaminan benda maupun jaminan perorangan
63 Edy Putra Aman, Kredit Perbankan, Suatu Yuridis, Yogyakarta, Liberty, 2001, hal. 45
Sedangkan syarat adminitrasi yang harus dipenuhi bagi calon debitur antara lain:
1. Identitas para pihak, dalam bentuk KTP, SIM, Paspor 2. Kartu keluarga, kegunaannya yakni:
a. Untuk mengetahui status kawin.
b. Untuk mengetahui dimana keberadaan domisili calon debitur . c. Untuk mengetahui status dalam keluarga.
3. NPWP dengan dilampiri KTP, ini bertujuan untuk kepentingan:
a. Untuk Kepentingan Bank, sebagai syarat permulaan sejarah kredit calon debitur, ini dilakukan melalui online sistem.
b. Untuk kepentingan Pemerintahan, bermanfaat untuk menjaring wajib pajak.
Adapun syarat kredit bagi calon debitur yang merupakan sebuah badan hukum yaitu:
1. Surat Izin Pendirian Perusahaan (SIPP);
2. Akte Pendirian Perusahaan;
3. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
4. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) ; 5. NPWP Perusahaan;
6. Identitas Pengelola Perusahaan (KTP Pengurus) ; 7. Struktur Organisasi Perusahaan;
8. SPT Perusahaan;
9. Dokumen Pendukung lainnya.
Menurut Pasal 8 UU Perbankan, dalam melaksanakan kegiatan usahanya yang berupa pemberian kredit, bank antara lain:
a. wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan (Pasal 8 ayat (1));
b. memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (Pasal 8 ayat (2));
Pemberian kredit oleh suatu bank dengan bank lain tidak jauh berbeda, kalaupun ada perbedaan hanya terletak pada persyaratan dan ukuran penilaian
41
yang ditetapkan oleh bank dengan pertimbangan masing-masing dengan tetap memperhitungkan umur persaingan dan kompetisi. Ketentuan dan persyaratan umum dalam pemberian kredit oleh perbankan terdiri dari 9 (sembilan) persyaratan sebagai berikut:64
1. Mempunyai feasibility study, yang dalam penyusunannya melibatkan konsultan yang terkait.
2. Mempunyai dokumen administrasi dan izin-izin usaha, misalnya akta perusahaan, NPWP, SIUP dan lain-lain.
3. Maksimum jangka waktu kredit adalah 15 (lima belas) tahun dan masa tenggang waktu (grace period) maksimum 4 tahun.
4. Agunan utama adalah usaha yang dibiayai. Debitur menyerahkan aguanan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan. Dalam hal ini akan melibatkan pejabat penilai (appraiser) independen untuk menentukan nilai agunan.
5. Maksimum pembiayaan bank adalah 65 % (enam pulh lima persen) dan self financing adalah sebesar 35 % (tiga puluh lima persen).
6. Penarikan atau pencairan kredit biasanya didasarkan atas dasar prestasi proyek, dalam hal ini biasanya melibatkan konsultan pengawas independen untuk menentukan progress proyek.
7. Pencairan biasanya dipindahbukukan ke rekening giro.
8. Rencana angsuran ditetapkan atas dasar cash flow yang disusun berdasarkan analisis dalam feasibility study.
9. Pelunasan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan.
Tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang debitur untuk memperoleh kredit adalah sebagai berikut:65
1. Pengajuan permohonan atau aplikasi kredit
Untuk memperoleh krdit dari bank, maka tahap pertama yang dilakukan untuk mengajukan permohonan atau peplikasi kredit kepada bank yang bersangkutan. Permohonan atau aplikasi kredit tersebut harus dilampiri dengan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.
2. Penelitian berkas kredit
64 Hermansyah, Op.Cit, hal. 61
65 Ibid, hal. 68
Setelah permohonan atau aplikasi kredit tersebut diterima oleh bank, maka bank akan melakukan penelitian secara mendalam dan mendetail terhadap berkas aplikasi kredit yang diajukan. Apabila dari hasil yang dilakukan itu, bank berpendapat bahwa berkas aplikasi tersebut telah lengkap dan memenuhi syarat, maka bank akan melakukan tahap selanjutnya yaitu penilaian kelayakan kredit. Adapun apabila ternyata berkas aplikasi kredit yang diajukan tersebut belum lengkap dan belum memenuhi persyaratan yang ditentukan, maka bank akan meminta kepada pemohon krdit untuk melengkapinya.
3. Penilaian kelayakan kredit (studi kelayakan kredit)
Dalam tahap penilaian kelayakan kredit banyak aspek yang akan dinilai, yaitu:
a. Aspek hukum. Yang dimaksud dengan aspek hukum adalah penilaian terhadap keaslian dan keabsahan dokumen-dokumen yang diajukan oleh pemohon kredit.
b. Aspek pasar dan pemasaran. Dalam aspek ini yang akan dinilai adalah prospek usaha yang akan dijalankan oleh pemohon kredit untuk masa sekarang dan masa mendatang.
c. Aspek keuangan. Dalam aspek ini yang dinilai dengan menggunakan anaslisi keuangan adalah aspek keuangan perusahaan yang dilihat dari laporan keuangan yang termuat dalam neraca dan laporan ganti rugi yang dilampirkan dalam aplikasi kredit.
43
d. Aspek teknis. Aspek teknis merupakan penilian mengenai lokasi tempat usaha, kondisi gedung, beserta sarana dan prasarana pendukung lainnya.
e. Aspek manajemen. Penilaian terhadap aspek manajemen ini adalah untuk menilai pengalaman dari perusahaan yang memohon kredit dalam mengelola kegaitan usahanya, termasuk sumber daya manusia yang mendukung kegiatan usaha tersebut.
f. Aspek sosial ekonomi. Untuk melakukan penilaian terhadap dampak dari kegiatan usaha yang dijalankan oleh perusahaan yang memohon kredit khusunya bagi masyarakat baik secara ekonomis maupun sosial.
g. Aspek AMDAL. Penilaian terhadap aspek AMDAL ini sangat penting karena merupakan salah satu persyaratan pokok untuk dapat beroperasinya suatu perusahaan. Oleh karena kegiatan usaha yang dijalankan oleh suatu perusahaan pasti mempunyai dampak terhadap lingkungan baik darat, air, dan udara.
4. Persetujuan pemberian kredit
Setelah permohonan kredit calon debitur dianggap layak untuk disetujui, bank akan memberikan tanda persetujuannya yang oleh disebut sebagai Surat Persetujuan Prinsip, yaitu surat kepada pemohon yang memberitahukan persetujuan dari pihak bank secara prinsip pemberian kredit.
Surat persetujuan prinsip tersebut berisi berbagai syarat yang diminta oleh bank. Pemohon menandatangani copy (turunan)-nya untuk dikirimkan ke bank yang bersangkutan, sebagai tanda setuju akan syarat-syarat yang diminta.
Setelah itu bank memberikan surat pemberitahuan persetujuan kredit, yaitu suatu surat yang dikeluarkan oleh bank kepada debitur atau calon debiturnya, sebagai suatu penyampaian atau pemberitahuan bahwa bank tersebut setuju secara prinsip untuk memberikan kredit kepada debitur atau calon debitur yang bersangkutan. Surat pemberitahuan persetujuan kredit tersebut berisi, yaitu antara lain:
a. Besarnya plafon kredit yang disetujui.
b. Jenis dan jangka waktu penggunaan kredit.
c. Tingkat bunga dan biaya-biaya lainnya.
d. Tata cara pembayarannya.
e. Barang-barang jaminan yang diminta.
f. Syarat-syarat lainnya.
Karena surat ini adalah suatu persetujuan, maka debitur atau calon debitur yang bersangkutan harus pula memberikan tanda persetujuannya apabila ia telah setuju dengan segala syarat dan ketentuan yang ditawarkan oleh bank, dengan membubuhkan tanda tangan pada copy surat tersebut, yang kemudian diserahkan kembali kepada bank penerbit surat persetujuan pemberian kredit tersebut.66
66 HR Daeng Naja, Op.Cit, hal. 133
45 BAB III
LATAR BELAKANG TERJADINYA SENGKETA ANTARA