HASIL PENELITIAN
5.2. Penyebab Tindakan Kekerasan Seksual pada Anak
Akhir-akhir ini berbagai fenomena perilaku negatif sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari pada anak-anak. Melalui media massa seperti surat kabar atau televisi dijumpai kasus-kasus yang dialami oleh anak seperti kasus kekerasan baik itu kekerasan fisik, verbal, mental bahkan pelecehan seksualpun sering dialami oleh anak-anak. Kasus tindakan kekerasan seksual pada anak merupakan salah satu kasus yang mengalami peningkatan secara signifikan, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Dari waktu ke waktu kekerasan terhadap anak jumlahnya tak terbendung dan penyebab atau modus operandinya pun semakin beragam. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat dari informan kunci dan informan pokok, bahwa kasus kekerasan seksual pada anak yang dialami oleh informan 1 dan informan 2, disebabkan oleh banyak faktor seperti yang terungkap pada hasil wawancara.
1. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu faktor penyebab tingginya kasus kekerasan pada anak baik kekerasan fisik, mental, maupun seksual. Seperti terlihat dari hasil wawancara dengan para informan.
Kasus 1.
“....rumah kakak saya hanya memiliki satu kamar..”
“Abu tidak ada duit untuk memberi kami makan. Abu sering sakit-sakitan..”
“Keluarga bapak NA itu memang kehidupannya sangat miskin, termasuk miskin harta dan miskin pendidikan.”
(AY) “Mereka adalah keluarga sangat miskin...”
(RT) Kasus 2.
“Saya jarang dikasih uang jajan sama kakak, kakak tidak punya duit.”
(BD) “Lagian BD termasuk keluarga miskin, sering tidak diberi uang jajan sama kakaknya sehingga pada saat dibujuk dan dikasih uang sama kakek AL dia langsung mau.”
“Menurut yang kami tahu keluarganya miskin. Sehari-hari yang menghidupi ibu dan dia adalah kakaknya.”
(FT)
Faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual terhadap anak antara lain: kemiskinan keluarga, banyak anak, kondisi lingkungan sosial yang buruk, keterbelakangan. Namun, di luar faktor-faktor tersebut, sebenarnya kekerasan struktural menjadi problem utama kehidupan anak-anak Indonesia, karena sifatnya struktural, terutama akibat kemiskinan. Faktor-faktor lain seperti rendahnya tingkat pendidikan, pengangguran, dan tekanan mental, termasuk lemahnya kesadaran hukum masyarakat dan lemahnya penegak hukum memperkuat tingkat kekerasan seksual terhadap anak. Kerapuhan ekonomi dan kehidupan yang serba kurang memberikan tekanan bagi keluarga, dan kemudian memunculkan rasa frustasi (Liunir, 2008).
Suyanto (2010) menempatkan faktor ekonomi atau kemiskinan sebagai faktor penyebab pertama timbulnya kekerasan pada anak. Kemiskinan yang dihadapi sebuah keluarga seringkali membawa keluarga tersebut pada situasi kekecewaan yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan termasuk kekerasan seksual. Hal ini biasanya
terjadi pada keluarga dengan anggota yang besar. Problematika finansial keluarga yang memprihatinkan atau kondisi keterbatasan ekonomi dapat menciptakan berbagai macam masalah baik dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maupun dalam pendidikan, kesehatan, pembelian pakaian, dan lain-lain. Kesemuanya secara relatif dapat memengaruhi jiwa dan tekanan yang seringkali akhirnya dilampiaskan pada anak-anak.
Meskipun perkosaan dapat terjadi dalam segala lapisan ekonomi, secara khusus kondisi kemiskinan merupakan suatu rantai situasi yang sangat potensial menimbulkan perkosaan. Sejak krisis 1998, tingkat kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Banyak keluarga miskin hanya memiliki satu petak rumah. Dimana tidak dapat membedakan mana kamar tidur, kamar tamu, atau kamar makan. Rumah yang ada merupakan satu atau dua kamar dengan multi fungsi. Sehingga kegiatan seksual terpaksa dilakukan di tempat yang dapat terlihat oleh anggota keluarga lain. Tempat tidur anak dan orangtuanya sering tidak ada batasnya lagi. Ayah atau saudara laki-laki yang tak mampu menahan nafsu birahinya mudah terangsang melihat saudara atau anak perempuannya tidur. Situasi semacam ini memungkinkan untuk terjadinya perkosaan kala ada kesempatan (Huraerah, 2008).
Setting lingkungan yang tepat akan sangat mendukung proses tersebut. Sayangnya, saat ini di Indonesia masih begitu banyak dijumpai lingkungan yang tidak berpihak pada tumbuh kembang anak secara sehat, namun justru menempatkan anak pada kondisi penuh resiko. Situasi semacam itu banyak dijumpai di daerah yang masyarakatnya berada pada tingkat sosial ekonomi bawah. Rumah ukuran kecil yang
dipadati oleh penghuni, tidak adanya pembagian ruang, sehingga satu ruangan digunakan bersama untuk berbagai aktivitas oleh banyak orang di rumah.
Observasi peneliti terhadap kondisi rumah korban (NA) memang menunjukkan bahwa keluarga korban termasuk dalam kategori keluarga miskin. Mereka tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari papan sebagian dan sebagian lagi dari bambu. Rumah hanya memiliki satu ruangan yang luasnya 4 x 3 meter, tanpa pintu, hanya memakai kain sebagai pintu. Tempat memasak dan istirahat di teras / di luar. Korban merupakan anak ke 6 dari 7 bersaudara.
Demikian juga kondisi tempat kejadian kasus perkosaan yang dialami korban yaitu di rumah kakak/abang iparnya. Rumah tersebut hanya memiliki satu kamar, kamar itu di tempati oleh kakak dan suaminya beserta anaknya yang masih kecil. Sedangkan korban tidur bersama kedua anaknya yang lain di ruang tamu, keadaan pintu kamar hanya dibatasi oleh penutup kain atau dengan bambu yang jarang-jarang. Kondisi kemiskinan yang terlihat dari kondisi rumahnya tersebut sangat mendukung untuk perilaku kekerasan seksual. Dengan ketiadaan kamar tersebut maka seseorang (pelaku) bisa melihat korban dalam kondisi tidur kadang bisa saja pakaian korban tersingkap tanpa disadarinya. Selain itu, kemiskinan sering membuat orang (keluarga) tidak berdaya sehingga keluarga sering tidak mampu melindungi anaknya terhadap perkosaan. Orang tua sibuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga sedangkan anak dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri.
Pada kasus BD, faktor kemiskinan bisa dilihat dari keadaan ekonomi keluarga BD yang telah ditinggal cerai oleh ayahnya sejak 8 tahun yang lalu, saat ini ibunya
mengalami stroke sehingga menambah beban hidup mereka. Selain itu, kakak korban (yang ditinggali BD) jarang memberi uang jajan kepada BD sehingga ketika ada seorang kakek yang berkecukupan dengan bujuk rayu memberi uang jajan, maka BD dengan mudahnya menuruti semua ajakan pelaku. Kemudahan mendapatkan uang dari sang kakek dengan balasan menyerahkan barang yang paling berharga milik perempuan membuat BD gampang saja diiming-imingi (dirayu) untuk melakukan hubungan seks.