METODE PENELITIAN
B. Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Makassar Dalam Pengelolaan Sampah Di TPA Tamangapa.Sampah Di TPA Tamangapa
2. Penyediaan sarana dan prasarana
Penyediaan sarana dan prasana merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat berpengaruh dalam setiap pelaksanaan kegiatan program kerja, oleh karena itu setiap pelaksanaan kegiatan apapun perlu memperhatikan dan mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang yang akan digunakan.
Selanjutnya berbicara mengenai upaya pemerintah dalam menanggulangi sampah dengan melakukan penyediaan sarana dan prasarana di dalam Kota
Makassar, berikut wawancara dengan staf Bidang Pengembangan Kapasitas Kebersihan Kota Makassar:
“Jumlah sarana dan prasarana yg disiapkan belum memadai belum bisa kita menanggulangi dengan asumsi kita rata-ratakan itu 2 liter perhari dari tiap orang ini yg menghasilkan sampah sudah lebih 1000 Ton perhari sampah, dan yang masuk di TPA ini kurang lebih 700 Ton perhari jadi sisanya itu masih ada yang tertinggal di kota. Sekitar 300 Ton perhari (wawancara dengan informan AID tanggal 09 September 2014).”Hasil Berdasarkan hasil wawancara tersebut memberikan asumsi bahwa jumlah personil yang ada belum bisa memaksimalkan kinerja untuk mengupayakan pembersihan di dalam kota setiap hari, ini disebabkan oleh karena tidak seimbangnya antara jumlah yang ada setiap hari dengan jumlah armada pengangkut sampah, dikutip dari pendapat informan tersebut di atas memberikan pandangannya bahwajika di rata-ratakan setiap hari untuk 1 Orang saja bisa menghasilkan 2 Liter sampah di kalikan dengan jumlah masyarakat yang ada dapat mencapai 1000 Ton, sedangkan yang masuk ke TPA Tamangapa hanya sekitar 700 Ton setiap harinya, berarti 300 Ton masih tertinggal di dalam kota, ini tentu menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah karena dapat menyebabkan penumpukan jika dibiarkan tetap seperti itu.
Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Tempat penampungan sementara (TPS) adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu. Tempat pengolahan sampah terpadu adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang,
pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Tempat pemrosesan akhir (TPA) adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Kompensasi adalah pemberian imbalan kepada orang yang terkena dampak negatif yang ditimbulkanoleh kegiatan penanganan sampah di tempat pemrosesan akhir sampah. Sistem tanggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengendalian yang meliputi pencegahan dan penanggulangan kecelakaan akibat pengelolaan sampah yang tidak benar. Asas berkelanjutan adalah bahwa pengelolaan sampah dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik yang ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, baik pada generasi masa kini maupun pada generasi yang akan datang Asas manfaat adalah bahwa pengelolaan sampah perlu menggunakan pendekatan yang menganggap sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Asas keadilan adalah bahwa dalam pengelolaan sampah, Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat dan dunia usaha untuk berperan secara aktif dalam pengelolaan sampah.
Selanjutnya membahas mengenai sarana dan prasarana penunjang seperti armada pengangkutan sampah yang di ungkapkan oleh Seksi Pemeliharaan Peralatan Dan Alat Berat Dinas Pertamanan Dan Kebersihan Kota Makassar sebagai berikut:
“Jadi semua ada beberapa titik yang telah disiapkan, selain titik kontainer itu telah ada penjemputan bersih di kota ini yg menjemput ini dari lorong kelorong. Dari rumah ke rumah. Dan itupun tidak beroperasi secara penuh karena kita dikota makasaar ini jumlah armadanya itu
sekitar 115 armada itupun tidak beroperasi semua mungkin hanya 70% yg beroperasi. Knapa karena biasanya adanya yang rusak suatu kendaraan itu.”(wawancara dengan informan NRY tanggal 08 September 2014).Hasil
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, informasi yang di sebutkan informan tersebut di atas memberikan pernyataan bahwa penyediaan sarana dan prasarana telah di siapkan dan ditempatkan kebeberapa titik. Selain ditempatkan saja, ada juga yang melakukan penjemputan ke rumah-rumah warga yang ada penampungan sampahnya yang telah disiapkan kemudian sampah-sampah tersebut di angkut ke titik kontainer yang ada untuk selanjutnya di antar ke pembuangan akhir, sumber informasi di atas juga menyebutkan bahwa meskipun ada beberapa armada yang disiapkan akan tetapi belum berjalan secara sempurna itu di akibatkan karena jumlah personil yang tidak memadai, di tambah lagi dengan terdapatnya alat-alat berat yang rusak dan masih banyak masalah-masalah lain yang muncul. Sehingga dapat diperkirakan bahwa setiap harinya armada yang disiapkan hanya beroperasi sekitar 70% saja. Ini tentunya menambah parah pengelolaan sampah, karena sedangkan semua beroperasi belum tentu sampah-sampah yang ada di Kota dapat di atasi apalagi kalau memang ada armada yang rusak akan memperparah keadaan.
Berdasarkan dari sumber data yang penulis dapatkan dari objek penelitian menunjukkan bahwa pada saat ini jumlah armada sarana penunjang pengangkutan sampah yang ada di Kota Makassar adalah sebagai berikut:
Daftar Jumlah Unit Sarana Pengangkut Sampah
No Jumlah sarana Jumlah unit
1 Dump Truck 6 M3 76 Unit
2 Arm Roll Truck 6 M3 63 Unit
3 Arm Roll Truck 10 M3 5 Unit 4 Compactor Truck 6 M3 2 Unit 5 Compactor Truck 8 M3 2 Unit
6 Kijang 3 Unit.
7 Motor Tiga Roda 11 Unit
8 Gerobak Tarik 172 Unit
9 Kontainer 199 Unit
Sumber: Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar. Data sekunder, 2014.
Data Sekunder tersebut di atas bersumber dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar pada tahun 2014. Armada tersebut merupakan armada aktif yang beroperasi setiap harinya untuk melakukan pengangkutan-pengangkutan sampah sampai pada Tempat Pembuangan Akhir. Jumlah secara keseluruhan tersebut tergolong sangat banyak akan tetapi jumlah tersebut ternyata belum memadai secara keseluruhan, di akibatkan kaeran jumlah masyarakat yang setiap harinya bertambah baik masyarakat asli yang berdomisili di Kota Makassar atau masyarakat yang dari luar kota.
Selanjutnya wawancara dengan UPTD pengelola TPA menjelaskan tentang tata letak armada-armada tersebut di fungsikan.
“armada-armada yang ada itu kita letakkan di tempat-tempat yang menjadi pusat aktifitas masyarakat seperti dekat sekitar pasar, daerah
padat penduduk, pusat perekonomian serta penempatan armada seperti gerobak tarik itu kita tempatkan di perumahan-perumahan yang padat penduduk yang sulit di jangkau dengan menggunakan truck atau armada besar, sehingga kami menempatkan gerobak-gerobak tersebut di lokasi serta merekrut seseorang untuk mengoperasikan gerobak tersebut. (wawancara dengan informan SSL tanggal 09 September 2014).”Hasil Berdasarkan dari informasi tersebut di atas memberikan informasi bahwa pemerintah telah mengupayakan melakukan penambahan peralatan sampah dalam upaya merealisasikan penanganan sampah dalam kota. penyediaan armada-armada pengangkut sampah dilakukan hingga ke lokasi yang sempit dan susah untuk dijangkau oleh kendaraan besar, semua itu ditempuh pemerintah untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah di dalam kota yang hingga akhirnya menimbulkan masalah yang lebih besa dikemudian hari.
Masalah penanganan sampah sampai saat ini memang menjadi permasalahan serius di Indonesia khususnya di kota besar, jumlah penduduk yang setiap tahunnya meningkat menyebabkan terjadinya pertambahan sampah pula setiap harinya. Sedangkan penyediaan alat-alat pengolah sampah tidak berkembang secara cepat dan cenderung menurun di sebabkan oleh kerusakan-kerusakan yang tejadi. Masalah penanganan sampah sampai saat ini khusus di Kota Makassar masih sangat rendah, ini terlihat dari masih sering ditemukan tumpukan-tumpukan sampah di titik tertentu, meskipun pemerintah telah menyediakan armada-armada disetiap sudut kota untuk menunjang pengelolaan sampah dan mencegah terjadinya penumpukan yang lebih parah lagi dan berdampak kepada masyarakat itu sendiri, seperti kita ketahui bersama bahwa perkotaan atau kawasan metropolitan merupakan perwujudan perkembangan yang alamiah dari suatu proses globalisasi yang berkembang sangat pesat.
Perkembangan tersebut menyebabkan peningkatan jumlah penduduk yang sangat besar, dengan karateristik dan persoalan yang berbeda dan spesifik. Oleh karenanya suatu perkotaan memerlukan pengelolaan tersendiri dalam pemecahan persoalan yang dihadapi, salah satu persoalan perkotaan yang cukup krusial adalah masalah sampah kota. Karena jika tidak ditangani tidak secara tepat maka akan berdampak besar bagi kehidupan dan tentunya lingkungan yang dapat mendatangkan bahaya penyakit dan bencana alam lainnya seperti banjir.
Kebijakan harus di awasi, dan salah satu mekanisme pengawasan tersebut di sebut evaluasi kebijakan. Evaluasi biasanya di tujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesenjangan antara harapan dan kenyataan. (Nugroho dalam Mustari, 2013).
Berdasarkan hasil dokumentasi, observasi dan wawancara dengan beberapa informan dapat disimpulkan bahwa penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang ada di Kota Makassar sudah cukup mendukung setiap pelaksanaan upaya pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan penanganan dan pengelolaan sampah sehingga dapat teraealisasi, penyediaan alat-alat pengangkut sampah telah dapat dijangkau sampai ke lorong-lorong rumah warga karena telah disediakannya gerobak tarik sehingga mudah untuk menjangkau sampai ke sudut-sudut pemukiman padat penduduk.