METODE PENELITIAN
B. Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Makassar Dalam Pengelolaan Sampah Di TPA Tamangapa.Sampah Di TPA Tamangapa
1. Perencanaan penanganan dan pengurangan sampah
Masalah penanganan dan pengurangan sampah di dalam Kota perlu adanya rencana yang sangat mendalam untuk menangani sampah-sampah yang berskala besar tersebut, perlunya tinjauan ke lokasi serta musyawarah dengan masyarakat sangat mendukung terlaksananya suatu program perencanaan penanganan sampah tersebut.
Berbicara masalah upaya pengolaan sampah di Kota Makassar berikut wawancara dengan pengelola UPTD Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa Kota Makassar Sebagai berikut:
“Sebenarnya berbagai upaya telah di bentuk oleh pemerintah, salah-satunya adalah perumusan Perda dan telah di realisasikan dari tahun 2009, tetapi masyarakat sendiri banyak yang tidak mengindahkannya (wawancara dengan informan SSL tanggal 19 September 2014).”Hasil Berdasarkan pernyataan informan tersebut di atas memberikan informasi bahwa salah satu upaya yang dilakukan dalam mengawasi pengelolaan sampah di Kota Makassar adalah membentuk sebuah Perda, Perda merupakan salah satu alat untuk mempermudah langkah pemerintah untuk mengambil keputusan masalah penanganan sampah, karena berlandaskan legalitas hukum maka pembentukan suatu Perda akan sangat berpengaruh dalam masyarakat. Peraturan Daerah mengenai masalah sampah tentunya sangat dibutuhkan pemerintah saat ini mengingat masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan pada akhirnya jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak bagi masyarakat itu sendiri.
Meskipun Peraturan Daerah masalah penanganan sampah di Kota Makassar telah disahkan akan tetapi masyarakat yang ada di Kota Makassar tidak terlalu memperhatikan hal tersebut sehingga menyebabkan sampah-sampah yang
ada di dalam Kota tetap banyak dan menyebabkan kesemrautan yang berdampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Berdasarkan perkembangan kehidupan masyarakat dapat disimpulkan bahwa penanganan masalah sampah tidak dapat semata-mata ditangani oleh Pemerintah Daerah (Pemerintah Kabupaten/Kota). Pada tingkat perkembangan kehidupan masyarakat dewasa ini memerlukan pergeseran pendekatan ke pendekatan sumber dan perubahan paradigma yang pada gilirannya memerlukan adanya campur tangan dari Pemerintah. Pengelolaan sampah meliputi kegiatan pengurangan, pemilahan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, pengolahan.
Berangkat dari pengertian pengelolaan sampah dapat disimpulkan adanya dua aspek, yaitu penetapan kebijakan (beleid, policy) pengelolaan sampah, dan pelaksanaan pengelolaan sampah. Kebijakan pengelolaan sampah harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat karena mempunyai cakupan nasional.
Kebijakan pengelolaan sampah ini meliputi : Penetapan instrumen kebijakan: instrumen regulasi: penetapan aturan kebijakan (beleidregels), undang-undang dan hukum yang jelas tentang sampah dan perusakan lingkungan instrumen ekonomik: penetapan instrumen ekonomi untuk mengurangi beban penanganan akhir sampah (sistem insentif dan disinsentif) dan pemberlakuan pajak bagi perusahaan yang menghasilkan sampah, serta melakukan uji dampak lingkungan Mendorong pengembangan upaya mengurangi (reduce), memakai kembali (re-use), dan mendaur-ulang (recycling) sampah, dan mengganti (replace); Pengembangan produk dan kemasan ramah lingkungan; Pengembangan teknologi, standar dan prosedur penanganan sampah: Penetapan kriteria dan
standar minimal penentuan lokasi penanganan akhir sampah; penetapan lokasi pengolahan akhir sampah; luas minimal lahan untuk lokasi pengolahan akhir sampah; penetapan lahan penyangga.
Mengenai perencanaan pengurangan sampah berarti berbicara masalah suatu program dan visi suatu pemerintahan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dalam waktu yang berjangka panjang. Kemudian selanjutnya di kemukakan oleh salah satu staff Dinas Pertamanan Dan Kebersihan Kota Makassar berbicara masalah rencana pemerintah kota makassar tentang pengurangan dan penanganan sampah mengenai program 3R sebagai berikut
“Pengurangan sampah sebenarnya pemerintah disini Cuma membuat program. disini mengurangi sampah di kota mestinya harus dari sumbernya, kenapa dari sumbernya karena dari sumbernyalah itu untuk mengurangi sampah ke TPA ini kita harus lakukan,rancangan membuat bank-bank sampah di sumbernya dimana sumbernya itu dikeluran dan warga dengan cara 3R. Reduce, reuse dan recycling (wawancara dengan informan HDN tanggal 09 September 2014).”Hasil
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tersebut di atas memberikan informasi mengenai upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui program pengurangan sampah dari sumbernya yaitu dari masyarakat sendiri sehingga memberikan dampak secara langsung bagi lingkungan. Karena tanpa adanya kesadaran sendiri dari masyarakat maka apapun upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah tidak akan berhasil tanpa melakukan pembinaan kepada masyarakat langsung, seperti salah satu upaya yang akan dilakukan adalah pembuatan Bank sampah dengan cara melakukan mendirikan di setiap kecamatan atau kelurahan. Dengan program andalan yaitu 3R mengurangi (Reduce) memakai kembali (Reuse) dan mendaur ulang (Recycling).
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam usaha mengatasi masalah sampah yang saat ini mendapatkan tanggapan pro dan kontra dari masyarakat adalah pemberian pajak lingkungan yang dikenakan pada setiap produk industri yang akhirnya akan menjadi sampah.
Solusi yang diterapkan dalam hal sistem penanganan sampah sangat memerlukan dukungan dan komitmen pemerintah. Tanpa kedua hal tersebut, sistem penanganan sampah tidak akan lagi berkesinambungan. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak terdapat benturan, di satu sisi, pemerintah memiliki keterbatasan pembiayaan dalam sistem penanganan sampah.
Lebih lanjut wawancara dengan staf seksi pengembangan partisipasi Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota mengenai keterlibatan dari berbagai pihak seperti masyarakat dan pihak swasta lainnya sebagai berikut:
“iya, Pemkot Makassar sendiri telah membuat program-program yang mengajak langsung kepada masyarakat, seperti gerakan Makassar Bersih
dan Makassar Green And Clean, yang sejak Tahun 2004 telah dicanangkan dengan tujuan merubah pola pikir masyarakat Kota Makassar untuk hidup bersih (wawancara dengan informan ADL tanggal 08 September 2014).”Hasil
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas memberikan pernyataan bahwa dalam mengembangkan aturan-aturan yang telah di bentuk, maka pemerintah sendiri mengembangkan kerja sama dengan pihak-pihak yang dapat mendukung program pemerintah seperti contohnya kerjasama dengan perusahaan swasta, ini merupakan salah satu bentuk usaha pengembangan pemberdayaan untuk masyarakat agar mereka mengetahui akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli yang mengatakan bahwa, Sebagian besar masyarakat memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Padahal, timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Agar timbunan sampah dapat terurai melalui proses alam diperlukan jangka waktu yang lama dan diperlukan penanganan dengan biaya yang besar.
Berikut wawancara dengan staf dinas pertamanan dan kebersihan kota sebagai berikut:
“Dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Makassar sesuai amanat Perda no.4 tahun 2011, maka dilakukan berbagai upaya seperti, membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) daur ulang sampah an-organik serta perwujudan program-program 3R agar dapat mewujudkan masyarakat yang lebih bersih dan sadar akan pentingnya perwujudan program bersih lingkungan hidup (wawancara dengan informan HDN tanggal 08 September 2014).”Hasil
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas memberikan informasi mengenai upaya pemerintah mengimplementasi kebijakan yang menyangkut masalah penanganan sampah, tentang upaya memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa sesungguhnya sampah-sampah yang ada dapat dimanfaat kembali melalui pendauran ulang dengan mengelompokkan dan memilah sampah-sampah dari masyarakat kemudian mengolah kembali agar dapat dijadikan sebagai industri rumahan melalui beberapa program pemerintah. Seperti, Bank Sampah yang merupakan suatu tahap untuk mengupayakan dalam memanfaatkan limbah menajdi bernilai ekonomi, selain itu berdampak bagi lingkungan. Karena berkat adanya upaya-upaya tersebut maka lingkungan masyarakat menjadi lebih bersih.
Bersih adalah prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian, misalnya, dengan menerapkan Prinsip 3R, yaitu: Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Re-use (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Recycling mendaur ulang dan Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
Selain itu, untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), saat ini mulai dikembangkan penggunaan pupuk organik yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang harganya kian melambung. Penggunaan kompos telah terbukti mampu mempertahankan kualitas unsur hara tanah, meningkatkan waktu retensi air dalam tanah, serta mampu memelihara mikroorganisme alami tanah yang ikut berperan dalam proses pertumbuhan oleh tanaman.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan penanganan pengurangan sampah di Kota Makassar telah banyak upaya yang dilakukan seperti program reduce (mengurangi), reuse (memakai kembali), dan recycling ( mendaur ulang) yang telah di terapkan mulai pada tahun 2004. Hal ini juga diperkuat dengan diberlakukannya Perda tentang masalah penanganan sampah pada Tahun 2009 dan telah di implentasikan sampai saat ini, namun belum maksimal karena kurangnya sosialisasi dan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih.