• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELIDIKAN TANAH

Dalam dokumen teknik pondasi 1.pdf (Halaman 44-71)

2.1 Pendahuluan

Penyelidikan tanah di lapangan dibutuhkan untuk data perancangan fondasi bangunan­ bangunan, seperti: bangunan gedung, dinding penahan tanah, bendungan, jalan, dermaga, dan lain-lain. Bergantung pada maksud dan tujuannya, penyelidikan dapat dilakukan de­ ngan cara-cara menggali lubang-cobaan (trial-pit), pengeboran, dan pengujian langsung di lapangan (in-situ test). Dari data yang diperoleh, sifat-sifat teknis tanah dipelajari, kemudi­ an digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis daya dukung dan penu­ runan.

Tuntutan ketelitian penyelidikan tanah tergantung dari besarnya beban bangunan, ting­ kat keamanan yang diinginkan, kondisi lapisan tanah, dan dana yang tersedia untuk pe­ nyelidikan. Oleh karena itu, untuk bangunan-bangunan sederhana atau ringan, kadang­ kadang tidak dibutuhkan penyelidikan tanah, karena kondisi tanahnya dapat diketahui berdasarkan pengalaman setempat. Tujuan penyelidikan tanah, antara lain:

(1) Menentukan daya dukung tanah menurut tipe fondasi yang dipilih. (2) Menentukan tipe dan kedalaman fondasi.

(3) Untuk mengetahui posisi muka air tanah. (4) Untuk meramalkan besarnya penurunan.

(5) Menentukan besarnya tekanan tanah terhadap d\.nding penahan tanah atau pangkal jembatan.

(6) Menyelidiki keamanan suatu struktur bila penyelidikan dilakukan pada bangunan yang telah ada sebelumnya.

(7) Pada proyek jalan ray a dan irigasi, penyelidikan tanah berguna untuk menentukan letak-letak saluran, gorong-gorong, penentuan lokasi dan macam bahan timbunan.

2.2 Cara Penyelidikan

Informasi kondisi tanah dasar fondasi, dapat diperoleh den

g

an cara menggali lubang se­ cara langsung di permukaan tanah yang disebut lubang-cobaan (trial-pit), maupun dengan cara pengeboran tanah. Penyelidikan mendetail dengan pengeboran tanah yang diikuti dengan pengujian-pengujian

,gJ,

laboratorium dan a tau di lapangan, selalu dilakukan untuk penyelidikan tanah pada proyek-proyek besar, se'perti: gedung bertingka.t tinggi, jembatan, bendungan, bangunan-bangunan industri, dan lain-lainnya.

Penyelidikan tanah biasanya terdiri

3

tahap, yaitu: pengeboran atau penggalian lubang­ cobaan, pengambilan contoh tanah (sampling), dan pengujian contoh tanahnya. Pengujian contoh tanah ini dapat dilakukan di laboratorium atau di lapangan.

de-ngan cara menekan tabung contoh (sampler) secara hati-hati (terutama untuk contoh tak ter­ ganggu) yang dipasang pada ujung bawah batang bornya. Pada waktu pengeboran dilaku­ kan, contoh tanah dapat diperiksa di dalam pipa bor yang ditarik ke luar. Jika pada tahap ini ditemui perubahan jenis tanah, kedalaman perubahan jenis tanah dan kedalamannya dicatat, dan kemudian, contoh tanah tambahan diambil. Pada lapisan-lapisan yang diang­ gap penting untuk diketahui karakteristik tanahnya, kadang-kadang pengambilan contoh kontinu (continuous sampling) diperlukan. Bila pengeboran dilakukan pada lapisan batuan, contoh inti batu (rock core) diambil dengan alat bor putar (rotary drill).

Kedalaman muka air tanah harus diperiksa dengan teliti. Kesalahan data muka air tanah dapat mempersulit pelaksanaan pembangunan fondasi, dan dapat mengakibatkan kesalah­ an analisis stabilitasnya.

2.3 Alat-alat Penyelidikan Tanah

Data hasil-hasil penyelidikan tanah dapat memberikan gambaran tentang kondisi-kondisi lapisan dan sifat-sifat fisik tanah dalam arah vertikal. Berdasarkan data ini, perancang di­ tuntut untuk menggambar profil lapisan tanah dengan cara menginterpolasi data dari tiap­ tiap lubang bornya. Penggambaran pembagian lapisan tanah, didasarkan pada lapisan­ lapisan yang mengandung material-material yang secara pendekatan mempunyai sifat­ sifat yang sama.

Terdapat beberapa cara penyelidikan

y

ang berguna mengetahui kondisi lapisan tanah dan sifat-sifat teknisnya.

(a) Lubang-cobaan (Trial-pit)

Cara ini memungkinkan untuk mengetahui kondisi lapisan dengan teliti. Dan pula, hila perlu dapat mengambil contoh tanah tak terganggu (undisturbed sample) pada lapisan­ lapisan yang dikehendaki.

lapisan 1

lapisan 2

lapisan 3

tempat penampung co"ntoh tanah

Penyelidikan dilakukan dengan car a menggali tanah permukaa� secara langsung (Gam­ bar 2.1). Ukuran lubang paling tidak kira-kira

0,6

cm x

1,25

cm, yaitu untuk memungkin­ kan orang menggali di dalamnya. Kedalaman galian dapat bervariasi bergantung pada kondisi tanah, sedemikian rupa hingga informasi dari kondisi lapisannya cukup mewakili. Cara ini menguntungkan, karena selain memungkinkan untuk mengidentifikasi tanah secara langsung, dapat pula mengetahui dengan jelas kepadatan dan kondisi air tanah di lapangan.

Pada tanah pasir yang terendam air, pekerjaan pembuatan lubang-cobaan akan banyak mengalami kesulitan, karena tebing galian sering longsor.

Untuk pekerjaan-pekerjaan penimbunan tanah, cara lubang-cobaan sangat berguna untuk mengetahui angka pori dan kondisi lapisan tanah jelek yang mungkin ditemui pada lokasi tempat pengambilan tanah urugan (borrow-area). Kecuali itu, cara ini juga sangat berguna pada penyelidikan tanah untuk fondasi bangunan yang ringan, seperti: bangunan gedung, tangki, dinding penahan tanah dan jalan raya.

Perlu diperhatikan, bahwa lubang-cobaan harus tidak dibuat pada tempat-tempat din­ cling atau kolom akan diletakkan. Karena, jika kedalaman lubang-cobaan lebih dalam dari kedalaman dasar fondasi, maka tanah urug yang ditimbunkan untuk mencapai elevasi kedalaman dasar fondasi yang dibutuhkan, dapat mengurangi kekuatan tanah dasar galiannya. Karena itu, lubang-cobaan sebaiknya dilakukan di dekat titik-titik yang dipertim­ bangkan penting.

(b) Bor Tangan (Hand Auger)

Cara ini termasuk yang paling sederhana dalam pembuatan lubang di dalam tanah dengan menggunakan alat bor. Alat bor seperti pada Gambar 2.2a, hanya dapat digunakan bila tanah mempunyai kohesi yang cukup, sehingga lubang bor dapat tetap stabil di sepanjang lubangnya. Karena itu, alat ini tak dapat digunakan pada pasir yang terendam air. Karena penembusan mata bor terbatas pada kekuatan tangan yang memutarnya, tanah harus tidak mengandung batu atau lapisan keras lainnya. Umumnya, bor tangan dapat menembus sampai lebih dari

10

m. Alat ini sering digunakan dalam penyelidikan tanah untuk proyek­ proyek jalan raya, jalan kereta a pi dan lapangan terbang, di mana kedalaman lubang yang dibutuhkan hanya berkisar pada kedalaman 4 m. Untuk pembuatan lubang yang lebih dalam pada tanah kohesif, bor ulir dapat digunakan (Gambar 2.2b).

(a) (b)

(c) Bor Cuci (Wash Boring)

Pada cara ini, pengeboran tanah dilakukan dengan cara menyemprotkan air sambil me­ mutar-mutar pipa selubung (casing) untuk memudahkan penembusan ujung mata bor

(Gambar 2.3). Tanah yang diambil berupa contoh terganggu (disturbed) yang terangkut ke luar bersama aliran air. Tanah-tanah yang keluar dari lubang bor diidentifikasi secara kasar. Pengambilan contoh tanah dilakukan secara kering dengan mengganti ujung mata bor de­ ngan tabung contoh. Cara ini tidak mengganggu tanah di bawah mata bor. Oleh karena itu, contoh tanahnya termasuk contoh tak terganggu (undisturbed sample). Metode bor cuci tak dapat digunakan jika tanah mengandung batu-batu besar.

pompa untuk menyemprotkan air

tali

pengerek

- pipa selubung diputar-putar

- "pipa dalam" untuk menyemprotkan air

mala bor dig anti dengan

tabung contoh pada pengambilan contoh tanah Gambar 2.3 Pengujian dengan cara bar cuci.

(d) Penyelidikan dengan Pencucian (Wash Probing)

Penyelidikan ini digunakan untuk mengetahui kedalaman pertemuan antara tanah lunak dan tanah keras atau padat. Caranya, air yang bertekanan tinggi dilewatkan melalui pipa yang digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah pada lubang yang tak dilindungi pipa (Gam­ bar 2.4). Cara ini dilakukan untuk penyelidikan tanah di pelabuhan dan penentuan lapisan tanah di bawah dasar sungai, yang dimaksudkan untuk menentukan kedalaman pasir atau lanau yang terletak di atas lapisan keras a tau batu. Hal tersebut terutama digunakan dalam pekerjaan pemancangan dan pengerukan.

pengerek

pipa digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah

pipa untuk

Gambar 2.4 Penyelidikan dengan cara pencucian tanah.

(e) Bor Putar (Rotary Drill)

Penyelidikan tanah dengan menggunakan bor putar (Gambar 2.5a) dapat dilakukan pada semua jenis tanah. Alat bor putar dapat menembus lapisan tanah keras atau batu sampai kedalaman lebih dari 40 m. Alat ini dapat digunakan pada lapisan tanah keras, batu, tanah

lempung dan bahkan pada tanah pasir.

Pengeboran inti dilakukan jika pengeboran menembus lapisan batu, dan bila pada pe­ nyelidikannya diinginkan untuk memperoleh contoh inti kontinu (continuous core sample). Putaran batang bor menekan ujung mata bor. Tabung inti luar berputar bersama-sama ba­ tang bor, dan menekan ke lapisan keras atau batu di bawahnya. Mata bor dipasang pada ujung alat pengebornya. Putaran mata bor membentuk gerusan yang berbentuk cincin. Contoh inti batu masuk ke bagian tengah mata bor dan sekaligus masuk ke tabung inti dalam, yang dibuat tak ikut berputar. Selama pengeboran, air disirkulasikan lewat batang bornya yang berlubang. Contoh bentuk mata bor dari tipe double-tube core barrel, disajikan dalam Gambar 2.5b.

Pengeboran dapat dilakukan dengan tanpa menggunakan pipa selubung (casing). Jika lubang bor cenderung akan longsor, dilakukan pengeboran yang disertai dengan peng­ gunaan cairan kental dari bahan lempung vulkanik tiksotropik dan afr. Cairan ini berfungsi menahan sisi lubang bor dan menutup pori-pori tanah yang lolos air di sekeliling lubang bor.

penggerak putaran -silinder hidrolik kabel silinder penggerak . . , r r .. ---..�... l � ->

i

,,, . .. ,,b,.

---J..r__J

J

galian penampung air pipa bor

mala bor

Gambar 2.5 (a) Gambar skematis a fat b or putar. (b) Double-tube core barrel.

2.4 Alat-alat Pengambilan Contoh Tanah

saluran air

tabung dalam

pengangkat inti

pemotong inti

(b)

Macam-macam contoh tanah yang harus diperoleh dari pengeboran bergantung pada mak­ sud penyelidikannya. Untuk identifikasi serta penentuan sifat-sifat teknis tanah, dibutuh­ kan contoh tanah yang mewakili. Dari sini, kemudian ditentukan nilai-nilai kuat geser, batas-batas Atterberg, berat volume, kandungan karbonat, dan kandungan material organiknya.

Contoh tanah diambil dari pengeboran dengan cara memasang tabung contoh (sampler) pada ujung bor di kedalaman yang berbeda-beda. Pada contoh tanah yang tidak rusak su­ sunan tanahnya atau sedikit sekali derajat ketergangguannya, maka contoh tersebut dina­ makan contoh tak terganggu (undisturbed sample). Karakteristik tegangan-regangan tanah harus diambil dari contoh tanah tak terganggu.

Dalam praktek, sangat sulit diperoleh contoh tanah yang benar-benar tak terganggu, walaupun penanganan contohnya sudah sangat hati-hati. Gangguan contoh ini sering

mempengaruhi hasil-hasil pengujian laboratorium. Penyebab gangguan contoh yang di­ ambil dari dalam tanah dengan cara pengeboran, antara lain:

(1) Perubahan kondisi tegangan dari tempat asal.

(2) Perubahan kadar air tanah dan angka pori.

(3) Gangguan susunan butir tanah.

(4) Perubahan kandungan bahan kimia.

Penelitian oleh Hvorslev (1948) menunjukkan bahwa contoh tanah yang terbaik dapat diperoleh jika pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara menekan tabung dengan tidak memukulnya ke dalam tanah. Selain itu, dimensi tabung contoh harus sedemikian hingga nilai banding area (Ca) direduksi sampai minimum. Dalam hal ini, Ca dinyatakan dalam persamaan: ( D _ ) 2 - ( D ) 2 C = <V e X 1 00% a ( D ) 2e (2. 1)

dengan Dw dan De adalah diameter-diameter yang ditunjukkan dalam Gambar 2.6. Jika nilai Ca membesar, semakin besar pula tahanan penetrasi dari tabung contoh, yang dengan demikian semakin besar pula resiko kerusakan contoh tanahnya. Umumnya, nilai Ca di­ batasi sampai 10%. (a) (b) Ds De D, De

Gambar 2.6 Ukuran tabung contoh.

Untuk memperkecil gesekan tanah dengan dinding bagian dalam tabung, supaya dera­ jat gangguan contohnya kecil, ujung tabung agak dibengkokkan ke dalam atau dilengkapi

dengan alat pemotong yang diameter dalamnya lebih kecil dari diameter dalam tabung contoh (Gambar 2.6a). Namun, hal ini juga menyebabkan akibat sampingan yang berupa pengembangan contoh setelah berada di dalam tabung. Untuk itu, Hvorslev (1949) mem­ batasi derajat pelonggaran contoh di dalam tabung dengan nilai banding kebebasan dalam (Cj), dengan

c . =

1

D - D

5 c X 100%

D e (2.2)

Nilai optimum Ci bergantung pada diameter tabung contoh, teknik operasi, dan terutama, kualitas tanahnya. Untuk tabung contoh pendek, nilai Ci adalah antara 0-0,5%, dan untuk tabung contoh panjang, Ci antara 0-1,5%. Jika ujung tabung contoh dilengkapi dengan tipe alat pemotong seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.6b, nilai banding kebebasan luar didefinisikan sebagai:

D - Dw t X

100%

Dt (2.3)

Disarankan, untuk tanah tak berkohesi C1 = 0, dan untuk tanah berkohesi, C1 tak boleh melebihi 2% atau 3%.

Untuk klasifikasi dan untuk mempelajari karakteristik kepadatan tanah, contoh ter­ ganggu (disturbed sample) dapat digunakan. Prinsip persyaratan contoh terganggu adalah bahwa contoh tersebut harus mewakili kondisi lapisan tanahnya. Hasil penyelidikan de­ ngan bor tangan mewakili kondisi tanah dalam kondisi terganggu.

Berbagai macam tabung pengambilan contoh tanah telah dipakai hingga saat ini, bebe­ rapa contohnya antara lain:

(a) Tabung Contoh Tekan Terbuka (Open Drive Sampler)

Tabung contoh tekan terbuka terdiri dari tabung baja yang dilengkapi dengan alat pemotong pada ujungnya. Batang bor dihubungkan dengan ujung atas tabung contoh (Gambar 2.7). Diameter dalam tabung berkisar antara 1 00 sampai 450 mm. Pada pengambilan contoh tanahnya, tabung contoh ditekan secara dinamis atau statis oleh alat penekan.

- kepala

katup pengontrol karet

tabung contoh

Tabung contoh tipe ini cocok untuk tanah berlempung. Jika digunakan dalam tanah granuler (berbutir lepas), penahan inti (core catcher) yang berfungsi menahan contoh tanah agar tertahan dalam tabungnya harus digunakan.

Akibat pengaruh pekerjaan pengeboran, tanah dasar lubang bor yang berupa lempung atau lanau sensitif, akan terganggu sampai pada kedalaman tertentu. Oleh karena itu, bila tabung tekan terbuka ditekan, bagian atas dari tabung tersebut akan terisi oleh tanah yang telah rusak susunannya. Dan, pada waktu tabung diputar untuk memotong tanahnya, pu­ taran akan merusakkan susunan tanah pada bagian bawah contoh. Untuk menanggulangi kerusakan contoh ini, lebih baik jika digunakan tabung contoh berpiston.

(b)

Tabung Contoh Berpiston

Tabung contoh berdinding tip is yang cocok digunakan untuk tanah kohesif ini, diperkenal­ kan oleh Hvorslev (1949). Diameter dalam tabung bervariasi dari 50-100 mm, dan panjang­ nya bervariasi dari 450-750 m m . Tabung yang pendek dipakai untuk tabung yang berdiameter kecil. Terdapat

2

tipe tabung contoh untuk tabung berdinding tipis, yaitu la­ bung berpiston mengapung dan tabung berpiston tetap. Tabung contoh berpiston cocok di­ gunakan untuk tanah-tanah yang sangat sensitif terhadap gangguan, seperti lempung lunak dan lempung plastis. Kecuali itu, dapat pula digunakan dalam pengambilan contoh tanah pada lubang-cobaan dan pengambilan contoh pada lubang bor yang dangkal.

(a)

kabel ke permukaan tanah penghubung ke batang bor kabel tabung penghubung batang contoh piston pipa selubung -batang penahan piston -tabung contoh (b) permukaan tanah J l

rf,

tabung dan piston

� IJr-y

ditekan bersama-sama

I "

- batang tetap diam untuk menahan piston

tabung ditekan untuk pengambilan contoh

Gam bar 2.8 (a) Tabung contoh berpiston mengapung. (b) Tabung contoh berpiston tetap.

(b.l) Tabung contoh berpiston mengapung (floating piston)

Alat ini terdiri dari tabung baja tipis yang kadang-kadang dilengkapi dengan alat pemo­ tong pada ujungnya (Gambar 2.8a). Tabung contoh dilengkapi dengan piston yang tergan­ tung oleh sebuah kabel. Pada waktu tabung dimasukkan ke lubang bor hingga menyentuh dasar lubang, posisi piston mula-mula terletak pada ujung bawah tabung, agar tanah tak masuk ke dalamnya. Setelah tabung dan piston menyentuh tanah dasar, tabung contoh ditekan ke bawah sedang piston tetap di tempatnya. Untuk pengambilan contoh, tabung harus sedikit diputar (atau alat pemotong tambahan harus dipasang pada ujungnya). Ge­ sekan antara contoh tanah dan dinding tabung membuat contoh tanah tetap tinggal di dalam tabungnya. Pada waktu tabung contoh ditarik ke luar dan dilepas dari tangkai bor, kedua ujung tabung contoh yang telah berisi tanah tak terganggu ditutup dengan lilin, dan dibawa ke laboratorium.

(b.2) Tabung contoh berpiston tetap (fixed piston)

Pada tabung contoh berpiston tetap (Gambar 2.8b), piston dapat diletakkan pada posisinya oleh sebuah batang baja yang memanjang sampai permukaan tanah. Pengambilan contoh tanah dapat dipilih pada kedalaman tertentu, di mana diperkirakan tanahnya tak ter­ ganggu oleh operasi pengeboran. Saat pengambilan contoh tanah, piston ditahan pada posisinya dan tabung ditekan ke bawah. Dengan cara ini, jika tanahnya lunak, tabung dapat ditekan ke bawah sampai kedalaman yang diinginkan dengan tanpa memperdalam pengeboran.

(c) Tabung Contoh Belah (Split Barrel Sampler)

Tabung contoh terdiri dari tabung yang dapat dibelah menjadi dua bagian atau dipisahkan satu sama lain pada waktu mengeluarkan contoh tanahnya (Gambar 2.9). Secara keselu­ ruhan, bagian-bagian tabung contoh dari bawah ke atas terdiri dari: bagian pemotong pada ujung bawah, tabung yang dapat dibelah, tabung penghubung dan bagian kepala tabung. Untuk menahan contoh tanah tetap di tempatnya, pada bagian atas alat pemotong diberi katup penutup. Salah sa tu dari jenis tabung contoh ini, digunakan untuk pengujian pene­ trasi standar (SPT).

kat up

kepala tabung penghubung

tabung dapat dibelah pemotong

2.5 Penanganan Contoh Tanah

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan contoh tanah adalah bahwa sete­ lah tabung contoh tanah diambil dari lubang bor, ujung-ujungnya harus dibersihkan dan ditutup dengan lilin. Maksudnya adalah agar contoh tanah tidak berubah kadar airnya, dan juga untuk menahan gangguan contoh tanah yang mungkin timbul dalam perjalanan ke laboratorium. Selain itu, pada tabung contoh ditempelkan label yang berisi tanggal, lokasi pengujian, nomor lubang bor, dan kedalaman contohnya. Ujung atas dan bawah ta­ bung contoh harus ditandai dengan benar, sehingga pada pengujian di laboratorium akan diketahui ke arah m ana contoh tanah akan dikeluarkan dari dalam tabung contohnya.

Contoh tanah lempung sensitif harus dijaga dengan baik pada waktu diangkut ke labo­ ratorium, terutama jangan sampai terjadi getaran yang besar yang dapat merusakkan con­ tohnya.

2.6 Laporan Hasil Pengeboran

Laporan pengeboran tanah harus dibuat jelas dan tepat. Pengawas lapangan yang mena­ ngani pekerjaan selain harus selalu mencatat data yang diperoleh, juga harus mencatat hal­ hal kecil yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, seperti: pergantian alat dan tipenya, kedalaman lubang pada waktu mengganti alat, metode penahanan lubang bor agar tetap stabil a tau penahan tebing lubang-cobaan.

n/.#IJWIMY/R

tanah permukaan kerikil

pasir kasar pasir halus

- -- -- - - - - --. --. ·· : .·: [ .... ... .... .. . . . . • . . . . . • . . . • , . . . . ' � .. • :r=T":··

lempung kaku lempung lunak lanau dan lempung

lempung;dan pasir batuan dasar gambut

Sesudah contoh tanah diuji di laboratorium, ditentukan klasifikasinya. Catatan lapangan bersama dengan hasil pengujian laboratorium tersebut dirangkum sedemikian hingga batas-batas antara material yang berbeda dip lot pada elevasi yang benar, menurut skala vertikal yang ditentukan.

Semua hasil-hasil pengeboran dicatat dalau hporan hasil pengeboran (atau sering di­ sebut boring log), yang berisi antara lain:

(1) Kedalaman lapisan tanah

(2) Elevasi permukaan titik bor, lapisan tanah dan muka air tanah. (3) Simbol jenis tanah secara grafis.

(4) Deskripsi tanah.

(5) Posisi dan kedalaman pengambilan contoh. Disebutkan kondisi contoh terganggu atau tak terganggu.

(6) Nama proyek, lokasi, tanggal, dan nama penanggung jawab pekerjaan pengeboran. Belum ada standar yang memberikan simbol jenis tanah dalam penyajian gambar profil tanah secara vertikal. Gambar 2.10 menyajikan contoh simbol-simbol tersebut.

Kebanyakan tanah terdiri dari beberapa campuran dari jenis tanah-tanah tertentu, se­ perti lempung berpasir, lanau berpasir, kerikil berlanau, dan sebagainya. Dalam kondisi ini, simbol-simbol dapat dikombinasikan, dengan kandungan tanah yang dbminan digambar lebih tebal atau lebih banyak.

2.7 Penyelidikan Tanah di Lapangan

Jenis-jenis tanah tertentu sangat mudah sekali terganggu oleh pengaruh pengambilan con­ tohnya di dalam tanah. Untuk menanggulangi hal tersebut, sering dilakukan beberapa pe­ ngujian di lapangan secara langsung. Pengujian-pengujian tersebut, antara lain:

(1) Pengujian penetrasi standar atau pengujian SPT (Standard Penetration Test). (2) Pengujian penetrasi kerucut statis (static cone penetration test).

(3) Pengujian beban pelat (plate load test). (4) Pengujian geser baling-baling (vane shear test).

Pengujian di lapangan sangat berguna untuk mengetahui karakteristik tanah dalam mendukung beban fondasi dengan tidak dipengaruhi oleh kerusakan contoh tanah akibat operasi pengeboran dan penanganan contohnya. Khususnya, berguna untuk menyelidiki tanah lempung sensitif, lanau, dan tanah pasir tak padat.

Perlu diperhatikan bahwa hasil pengujian-pengujian geser baling-baling dan penetrasi, hanya memberikan informasi satu karakteristik tanah saja, yaitu kuat geser tanah. Oleh ka­ rena itu, pengujian-pengujian tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai pengganti pe­ ngeboran, namun hanya sebagai pelengkap data hasil penyelidikan. Sesuatu yang tak da­ pat diidentifikasi oleh pengujian-pengujian tersebut adalah mengenai jenis tanah yang di­ tembusnya, a tau perbedaan jenis tanahnya. Sebagai contoh, pengujian tak dapat memberi­ kan informasi mengenai tanah yang diuji adalah tanah organik atau lempung lunak, atau tanah berupa pasir tak padat atau lempung kaku, karena yang diketahui hanya tahanan penetrasi a tau kuat gesernya saja. Demikian pula, hasil-hasil pengujiannya tak dapat mem­ berikan informasi mengenai kondisi air tanah. Untuk itu, kekurangan-kekurangan datanya dapat dilengkapi dengan mengadakan pengeboran tanah.

2.7.1 Pengujian Penetrasi Standar (SPT)

Pengujian penetrasi stanclar clilakukan karena memperoleh contoh tanah tak ter­

ganggu pacla tanah granuler. Pacla pengujian tanah ditentukan dari peng­

ukuran kerapatan relatif secara langsung cli lapangan. Pengujian untuk mengetahui esti­ masi nilai kerapatan relatif yang sering cligunakan adalah pengujian penetrasi standar atau yang biasa clisebut pengujian SPT (Standard Penetration Test).

Pengujian SPT dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Sewaktu melakukan pengeboran inti, jika keclalaman pengeboran telah mencapai lapisan tanah yang akan cliuji, mata bor clilepas clan cliganti clengan alat yang clisebut tabung belah standar (standard split barrel sampler) (Gambar 2.11). Setelah tabung ini dipasang, bersama­ sama clengan pipa bor, alat cliturunkan sampai ujungnya menumpu lapisan tanah dasar, clan kemuclian clipukul clari atas. Pukulan cliberikan oleh alat pemukul yang beratnya

63,5

kg

(140

pon), yang clitarik naik turun clengan tinggi jatuh

76,2

cm

(30

inci).

tabung contoh dapat dibelah

Dalam dokumen teknik pondasi 1.pdf (Halaman 44-71)

Dokumen terkait