• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3.7. Penyesuaian Waktu dengan Rating Performance Kerja

Ketidak normalan waktu kerja diakibatkan oleh yang bekerja secara kurang wajar yaitu bekerja dalam tempo atau kecepatan yang tidak sebagaimana mestinya. Suatu saat dirasakan terlalu cepat dan disaat lain malah terlalu lambat. Rating adalah satu persoalan penilaian yang merupakan bagian dari aktivitas pengukuran kerja dan untuk menetapkan waktu baku penyelesaian kerja.17

Ada beberapa jenis sistem “rating” yang dikenal, yaitu antara lain : A. Westinghouse system of rating

Cara ini didasarkan atas penelitian terhadap empat faktor yaitu: 1. Keterampilan (Skill)

1. Secara bawaan cocok dengan pekerjaannya. 2. Bekerja dengan sempurna.

3. Tampak seperti telah berlatih dengan sangat baik.

4. Gerakannya halus tapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti. 5. Kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan mesin.

6. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlalu terlihat karena lancar.

7. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang apa yang dikerjakan.

8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja terbaik.

b. Excellent Skill

1. Percaya pada diri sendiri.

2. Tampak cocok dengan pekerjaannya. 3. Terlihat telah terlatih baik.

4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran atau pemeriksaan.

18

V-76

5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa kesalahan.

6. Menggunakan peralatan dengan baik.

7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu. 8. Bekerjanya cepat tetapi halus.

9. Bekerjanya berirama dan terkordinasi. c. Good Skill

1. Kualitas hasil baik.

2. Bekerjanya tampak lebih baik dari kebanyakan pekerja umumnya.

3. Dapat memberikan petunjuk kepada pekerja lain yang keterampilannya lebih rendah.

4. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap. 5. Tidak memerlukan banyak pengawasan. 6. Tidak ragu-ragu.

7. Bekerjanya stabil.

8. Gerakannya terkordinasi dengan baik. 9. Gerakannya cepat.

d. Average Skill

1. Percaya diri.

2. Gerakannya tidak cepat tetapi tidak lambat. 3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan.

3. Terlihat adanya perencanaan sebelum melakukan gerakan. 4. Tidak memiliki kepercayaan diri.

5. Terlihat seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan dipekerjaan itu sejak lama.

6. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin.

7. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan sendiri.

8. Jika tidak bekerja dengan sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah. 9. Tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakannya.

f. Poor Skill

1. Tidak bisa mengkordinasikan tangan dan pikiran. 2. Gerakannya kaku.

3. Tidak yakin pada urutan-urutan gerakannya.

4. Terlihat seperti tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersankutan. 5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya.

6. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja. 7. Sering melakukan kesalahan.

V-78

9. Tidak bisa mengambil inisiatif.

2. Usaha (Effort)

Yang dimaksud dengan usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaanya. Berikut ini adalah ciri-ciri usaha :19

a. Excessive Effort

1. Kecepatannya sangat berlebihan.

2. Usahanya sangat sungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya.

3. Kecepatan yang ditimbulkan tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja.

b. Excellent Effort

1. Kecepatan kerjanya sangat tinggi.

2. Gerakannya lebih ekonomis dari operator biasa. 3. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

4. Banyak memberi saran-saran.

5. Menerima saran dan petunjuk dengan senang.

6. Percaya kepada kebaikan maksud pengukuran waktu. 7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari.

6. Percaya kebaikan maksud pengukuran waktu. 7. Menerima saran dan petunjuk dengan senang. 8. Dapat memberi saran untuk perbaikan kerja. 9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi. 10.Menggunakan alat yang tepat dengan baik. 11.Memelihara dengan baik kondisi peralatan. d. Average Effort

1. Bekerja dngan stabil.

2. Menerima saran tetapi tidak melaksanakannya. 3. Set up dilaksanakan dengan baik.

4. Melakukan kegiatan perencanaan. e. Fair Effort

1. Saran perbaikan diterima dengan kesal. 2. Perhatian tidak ditujukan pada pekerjaan. 3. Kurang sungguh-sungguh.

4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya. 5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku. 6. Alat yang dipakai tidak selalu yang terbaik.

V-80

7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya. 8. Terlampau hati-hati.

9. Sistematika kerjanya sedang-sedang saja. 10.Gerakannya tidak terencana.

f. Poor Effort

1. Banyak membuang waktu.

2. Tidak memperlihatkan adanya minat kerja. 3. Tidak mau menerima saran.

4. Malas dan bekerja lambat.

5. Melakukan gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat dan bahan. 6. Tempat kerjanya tidak diatur rapi.

7. Mengubah tata letak tempat kerja yang telah diatur. 8. Set-Up kerja tidak baik.

3. Kondisi Kerja (Condition)

Yang dimaksud dengan kondisi kerja atau condition pada cara

Westinghouse adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan. Bila tiga faktor lainnya yaitu ketrampilan, usaha dan konsistensi merupakan apa yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja merupakan sesuatu diluar operator yang diterima apa adanya tanpa banyak kemampuan merubahnya. Oleh sebab itu faktor kondisi sering disebut faktor

pekerjaan yang bersangkutan, yaitu yang memungkinkan performance maksimal dari pekerja. Sebaliknya kondisi poor adalah kondisi lingkungan yang tidak membantu jalannya pekerjaan bahkan sangat menghambat pencapaian

performance yang baik. Sudah tentu suatu pengetahuan tentang keadaan bagaimana yang disebut ideal, dan bagaimana pula yang disebut poor perlu dimiliki agar penilaian terhadap kondisi kerja dalam rangka melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan seteliti mungkin.19

Faktor kondisi merupakan faktor yang perlu diperhitungkan karena mempengaruhi kerja karyawan. Faktor terebut misalnya: suhu, kelembapan, penerangan dan sebagainya. Tetapi dalam setiap pelaksanaan penelitian waktu, biasanya faktor kondisi dianggap biasa.20

4. Kestabilan (Consistency)

Faktor consistency atau kestabilan perlu diperhatikan karena kenyataan bahwa pada setiap pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja selalu berubah- ubah dari satu siklus ke siklus lainnya. Selama ini masih dalam batas kewajaran

19

Ibid. hal. 259-260

20

V-82

maka masalah tidak akan timbul, tetapi jika variabilitasnya tinggi maka hal ini harus diperhatikan. Kesatabilan atau consistency dibagi menjadi enam kelas yaitu : Perfect, Excellent, Good, Average, Fair dan Poor.

Seseorang yang bekerja perfect adalah yang dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang dapat dikatakan tetap dari waktu ke waktu. Secara teoritis mesin atau pekerja yang waktunya dikendalikan mesin merupakan contoh dimana variasi waktu tidak diharapkan terjadi. Sebaliknya consistency yang poor terjadi bila waktu penyelesaiannya berselisih jauh dari rata-rata secara acak. Consistency

rata-rata atau average adalah selisih antara waktu penyelesaian dengan rata-rata tidak besar.21

Kestabilan (consistency) didefinisikan sebagai tingkat keseragaman waktu yang terjadi diantara dua atau lebih elemen kerja yang berulang selama pelaksanaan penelitian waktu22. Adapun tabel Westinghouse terdapat pada lampiran 1.

B. Skill and Effort Rating

Sekitar tahun 1916 Charles E. Bedaux memperkenalkan suatu sistem untuk pembayaran upah atau pengendalian tenaga kerja. Prosedur pengukuran kerja yang dibuat oleh Bedaux meliputi juga menentukan rating terhadap

dilakukan adalah dengan melaksanakan pengukuran kerja seperti biasanya dan kemudian membandingkan waktu yang diukur ini dengan waktu penyelesaian elemen kerja yang sebelumnya sudah diketahui data waktunya.24

D. Performance Rating atau Speed Rating

Didalam praktek pengukuran kerja maka metode penetapan rating performance kerjaoperator adalah didasarkan pada satu faktor tunggal yaitu operator speed, space, atau tempo. Metode ini diaplikasikan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran kerja akibat tempo atau kecepatan kerja operator yang berubah-ubah.25

3.8. Kelonggaran (Allowance)

Kelonggaran terdiri dari :26

a. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi

Yang termasuk ke dalam kebutuhan pribadi seperti minum, ke kamar kecil dan bercakap-cakap teman sekerja sekedar untuk menghilangkan kejemuan dalam

23

Sritomo Wignjosoebroto, op.cit, hal. 203

24

Ibid. hal. 204

25

Ibid. hal. 206-207

26

V-84

bekerja. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu berbeda-beda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya karena setiap pekerjaan memiliki karakteristik dengan tuntutan yang berbeda-beda.

b. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa lelah (fatique)

Rasa fatique tercermin antara lain menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kualitas. Jika rasa fatique telah datang dan pekerja harus bekerja untuk menghasilkan performance normalnya, maka usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normal dan ini akan menambahkan rasa fatique. Bila hal ini berlangsung terus pada akhirnya akan terjadi fatique total yaitu jika anggota badan yang bersangkutan sudah tidak dapat melakukan gerakan kerja sama sekali. Hal demikian jarang terjadi karena berdasarkan pengalamannya pekerja dapat mengatur kecepatan kerjanya sehingga lambatnya gerakan- gerakan kerja ditujukan untuk menghilangkan rasa fatique ini.

c. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan Beberapa contoh ke dalam hambatan tak terhindarkan adalah : - Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas. - Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin.

- Memperbaiki kemacetan seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.

- Mengasah peralatan potong.

1. Komponen material.

Bagaimana cara menempatkan material, jenis material yang mudah diproses dan lain-lain. Yang dimaksudkan material di sini meliputi bahan baku,

supplies (komponen, parts, dan lain-lain), produk jadi, limbah, dan lain-lain. 2. Komponen manusia.

Bagaimana sebaiknya posisi orang pada saat proses kerja berlangsung agar mampu memberikan gerakan-gerakan kerja yang efektif dan efisien (duduk, berdiri, jongkok, merunduk, dan lain-lain).

3. Komponen mesin.

Bagaimana desain dari mesin dan/atau peralatan kerja lainnya. 4. Komponen lingkungan kerja fisik.

Bagaimana kondisi lingkungan kerja fisik tempat operasi kerja tersebut dilaksanakan.

Berdasarkan perbedaan-perbedaan pada tubuh manusia secara global maka dikenal tiga prinsip dalam perancangan, pengukuran dan perbaikan sistem kerja yaitu:28

27

Sritomo Wignjosoebroto, op.cit, hal. 92

28

V-86

1. Perancangan berdasarkan individu ekstrim

Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan agar fasilitas yang dirancang tersebut dapat dipakai dengan aman dan nyaman oleh sebagian besar orang- orang yang memakainya.Misalnya ketinggian kontrol maksimum sesuai dengan jangkauan keatas dari orang pendek, ketinggian kontrol minimum sesuai dengan buku jari dari orang tinggi, penglihatan yang jelas sesuai dengan tinggi mata orang pendek, tinggi atap diatas tempat duduk orang pendek, tinggi tempat duduk sesuai dengan panjang kaki orang pendek, lebar tempat duduk sesuai dengan lebar pinggul orang gemuk, tinggi pintu sesuai dengan orang inggi dan jangkauan maksimum sesuai dengan orang pendek.

2. Perancangan fasilitas yang disesuaikan

Prinsip ini digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut bisa dipakai atau bisa menampung dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Kursi pengemudi mobil yang bisa diatur maju- mundur dan kemiringan sandarannya dan tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya, merupakan contoh-contoh dari pemakaian prinsip ini dalam praktek.

3. Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya

V-88

BAB IV

Dokumen terkait