B. Karakteristik Akademik
1.3 Penyuntingan Data
Sebelum data diolah perlu dilakukan pemeriksaaan awal atau penyuntingan (editing) terlebih dahulu, baik terhadap data kuantitatif maupun kualitatif. Sebaiknya daftar pertanyaan untuk penelitian beserta jawabannya harus diperiksa dan diperbaiki terlebih dahulu oleh peneliti guna menjaga kualitas data.
Berikut kiat-kiat yang sebaiknya Anda ikuti jika akan menyunting data!
Beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan dan dijawab dalam menyunting data, di antaranya:1.3.1 Apakah data sudah lengkap dan sempurna?
Hal ini berarti bahwa semua kolom atau pertanyaan harus ada jawabannya. Jawaban atau catatan yang kosong harus dilengkapi dalam menyunting data.
24 Modul DJFP. Tingkat Pertama
Jawaban responden harus dapat dibaca baik huruf maupun angka-angka sehingga keragu-raguan dapat dihilangkan. 1.3.3 Apakah semua catatan sudah dapat dipahami?
Pekerjaan mengedit termasuk mengubah singkatan maupun kependekan menjadi kata-kata atau kalimat yang penuh. Catatan atau singkatan mungkin hanya dapat dimengerti oleh pengumpul data tetapi belum tentu dimengerti oleh pembuat kode.
1.3.4 Apakah semua data sudah konsisten?
Menyunting berarti memeriksa apakah jawaban responden sudah konsisten. Misalnya jawaban antara umur responden yang masih berumur 23 tahun tetapi mempunyai anak kandung yang berumur 18 tahun. Apakah ada kesalahan mencatat atau ada kesalahpahaman responden dalam menjawab pertanyaan.
1.3.5 Apakah ada jawaban yang tidak sesuai?
Peneliti perlu memeriksa jawaban yang tidak cocok dengan pertanyaan. Jika terdapat banyak jawaban dari pertanyaan yang tidak sesuai, maka daftar pertanyaan perlu diperbaiki dan harus diklasifikasikan dalam satu kelompok. Jika hanya beberapa yang tidak cocok mungkin merupakan kesalahan pencacah dan perlu diperbaiki.
Ingatlah bahwa Anda tidak diperkenankan untuk mengganti atau mengubah jawaban, angka atau pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan membuat data itu sesuai, konsisten, dan cocok untuk maksud tertentu. Mengganti data orisinil demi mencocokkan dengan sesuatu keinginan peneliti berarti melanggar prinsip -prinsip kejujuran intelektual.
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 25 1.4 PEMBERIAN KODE
Data kuantitatif yang telah dikumpulkan dapat berupa angka-angka ataupun jawaban kategori. Untuk memudahkan pengolahan dan analisis maka jawaban-jawaban tersebut perlu diberi kode. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengolahan dengan komputer. Memberi kode adalah menaruh kode berupa angka pada tiap jawaban.
Pengolahan data kualitatif juga dapat dilakukan dengan memberi kode. Data hasil wawancara, observasi, dokumen, foto, transkrip yang banyak sekali jumlahnya setelah dibaca dan dipelajari dan ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan cara melakukan abstraksi. Abstraksi dilakukan dengan membuat rangkuman dan menyusun dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan dan dibuat koding.
Pemberian kode untuk data penelitian bukan pekerjaan mudah. Anda harus
berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan ini!
1.4.1 Teknik Pengodean
Pemberian kode dapat dilakukan dengan melihat jenis pertanyaan dan jawaban. Pemberian kode disesuaikan dengan jenis jawaban. Perhatikan uraian berikut!
1.4.1.1 Jawaban berupa angka.
Pertanyaan tentang umur, pendapatan, dsb. dari responden jawabannya pasti berupa angka-angka. Jadi
26 Modul DJFP. Tingkat Pertama
jawaban untuk pertanyaan tersebut berupa kode angka jawaban itu sendiri. Misalnya:
Jawaban Kode
Umur : 56 tahun 56
Pendapatan : Rp 750 000 750000
Jika jawaban dalam interval angka, maka angka-angka tersebut perlu diberi kode tersendiri:
Umur antara 0 – 15 tahun kode 1 Umur 16 – 30 tahun kode 2
1.4.1.2 Jawaban pertanyaan tertutup.
Pertanyaan tertutup mempunyai jawaban yang sudah tersedia, dan pencacah atau responden tinggal memberi tanda cek sesuai dengan jawaban yang tersedia. Sebagai contoh: Jawaban Kode Ya 1 Tidak 0 Tidak tahu 9 --- Sangat setuju 5 Setuju 4 Netral 3 Tidak setuju 2
Sangat tidak setuju 1
1.4.1.3 Jawaban pertanyaan terbuka.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang variasi jawabannya belum ditentukan dan responden diberi
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 27
kebebasan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Jadi variasi jawabannya akan banyak. Variasi jawaban dikelompokkan ke dalam beberapa kategori dan perlu diketahui sebanyak mungkin variasi jawabannya.
Perlu diperhatikan dalam membuat kategori dan kode jawaban, yaitu:
1.4.1.3.1 Kategori jawaban harus tegas perbedaannya sehingga tidak ada tumpang tindih (overlapping) antara jawaban yang satu dengan yang lain.
1.4.1.3.2Persentase jawaban “lain-lain” atau “lainnya” harus kecil.
Sebagai contoh adalah “Alasan tidak minum pil KB” Jawaban Kode Suami pergi 1 Mengganggu kesehatan 2 Sedang haid 3 Lainnya 9
1.4.1.4 Jawaban Pertanyaan Semiterbuka
Pertanyaan semiterbuka adalah pertanyaan yang sebagian jawabannya sudah ditentukan, tetapi masih ada kemungkinan bagi responden untuk memberikan jawaban lain. Biasanya jawaban yang ditentukan sudah mencakup sebagian besar alternatif jawaban yang tersedia, tetapi ada jawaban lain yang tidak dapat diberi satu kode karena meliputi jawaban yang berbeda. Untuk
28 Modul DJFP. Tingkat Pertama
itu perlu disediakan beberapa kode baru, sebagai contoh: Cara KB yang Bapak/Ibu lakukan?
Jawaban
Jenis kontrasepsi Kode
IUD 1 Suntikan 2 Pil 3 Kondom 4 Sterilisasi 5 Susuk KB 6 Lain-lain (Sebutkan...) 7 Lain-lain misalnya adalah:
Sanggama terputus 8 (kode tambahan)
Pantang berkala 9 (kode tambahan)
1.4.2 Buku Kode
Untuk memudahkan pemberian kode digunakan buku kode sebagai pedoman untuk memindahkan kode jawaban responden dan kuesioner ke lembaran kode, kartu tabulasi, ataupun ke tempat yang telah tersedia dalam kuesioner. Buku kode juga digunakan sebagai pedoman oleh peneliti untuk mengidentifikasi semua variabel dalam penelitian yang akan dipakai dalam analisis dan membaca tabulasi data.
1.4.2.1 Struktur
Buku kode terdiri atas beberapa hal, yaitu:
1.4.2.1.1 Nomor halaman kuesioner. Halaman kuesioner ini merupakan keterangan yang memuat pertanyaan yang akan diberi kode dapat diketahui dengan cepat.
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 29
1.4.2.1.2Nomor pertanyaan, merupakan urutan nomor seluruh pertanyaan di dalam kuesioner.
1.4.2.1.3Nomor Variabel. Kolom ini diperlukan karena nomor variabel tidak selalu sama dengan nomor pertanyaan.
Pemberian nomor dimulai dari nomor identitas responden sampai dengan pertanyaan terakhir. Pada umumnya tiap pertanyaan merupakan satu variabel, tetapi dapat juga lebih dari satu variabel. Contoh: Jumlah anak masih hidup.
No. variabel Nama variabel
20 Jumlah semua anak masih hidup
21 Bertempat tinggal dalam rumah
tangga ini
21 Bertempat tinggal diluar rumah
tangga ini
1.4.2.1.4Nama Variabel dan Kode Jawaban. Nama Variabel adalah judul variabel, dibuat singkat dan jelas. Nama dan nomor variabel akan digunakan dalam pengolahan data. Kode jawaban berupa angka yang mewakili jawaban responden.
Contoh: Nama Variabel dan Kode Jawaban:
Nomor Variabel
1 Identitas responden
2 Umur
3 Pendidikan terakhir
Variabel 3, yaitu pendidikan terakhir yang ditamatkan diberi kode jawaban sebagai berikut.
30 Modul DJFP. Tingkat Pertama
Jawaban Kode
Tidak pernah sekolah 0
Sekolah Dasar Tidak Tamat 1
Sekolah Dasar Tamat 6
Sekolah Lanjutan Pertama Tamat 9 Sekolah Lanjutan Atas Tamat 12
1.4.2.1.5 Kolom. Pada kolom ini mengandung keterangan lokasi masing-masing variabel dalam lembaran kode. Untuk data yang diolah dengan komputer jumlah kolom ini penting karena dapat dipakai untuk mengetahui jumlah kolom yang digunakan. Sebagai contoh adalah umur responden terletak pada kolom 8-9. Dalam lembaran kode yang sudah berisi data pada kolom 8-9 berarti data umur responden.
1.4.2.1.6Format. Format adalah aturan yang menentukan lokasi jenis kode, jumlah digit, kode jawaban, dan letak desimal.
Sebagai contoh adalah bagian dari kuesioner di bawah ini:
UMUR, PENDAPATAN, DAN PERKAWINAN Tanggal kelahiran: Tahun 1953 Bulan Juni 5
4 – 5 6 - 7
Umur sekarang: 26 tahun
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 31
Pendapatan per bulan: Rp800.700 10 11 12 -- 15
Tabel 3. Buku kode untuk pengolahan dengan komputer Halaman
Kues
No. Pertany.
No.
Variabel Nama Variabel dan Kode Kolom Format
1 1 1 1 2 1 TAHUN LAHIR 26 1926 - - 62 1962 77 Tidak tahu/Lupa BULAN LAHIR 01 Januari 02 Februari - 12 Desember 77 Tidak tahu/Lupa UMUR SEKARANG 15 15 tahun - - 49 49 tahun 77 Tidak tahu PENDAPATAN/BULAN (RIBUAN) 0041 Rp 4 100,00 0192 Rp 19 200,00 - - 8007 Rp 800 700,00 4 - 5 6 – 7 8 – 9 10- 15 2.0 2.0 2.0 4.1
Contoh kuesioner dan buku kode menjelaskan sebagai berikut.
Tahun dan bulan lahir kolom 4-5 dan 6-7 Umur responden kolom 8-9
32 Modul DJFP. Tingkat Pertama
Penjelasan
Format 1.0 berarti variabel tersebut dikode dengan satu angka tanpa angka di belakang koma.
Format 2.0 berarti variabel tersebut dikode dengan dua angka tanpa angka dibelakang koma.
Format 4.1 untuk pendapatan setiap bulan berarti variabel tersebut terdiri atas empat digit dengan satu angka di belakang koma Pendapatan per bulan (dalam ribuan) Rp19.200,00 dikode dalam ribuan, maka kodenya adalah 0192
Pendapatan Rp800.700,00 maka kodenya adalah 8007.
Selain teknik tadi di atas, perhatikan saran-saran berikut. 1.4.2.1.6.1 Kode jawaban perlu dipertimbangkan apakah
hanya merupakan simbol atau skor. Contoh:
Apakah saudara setuju penggunaan sterilisasi untuk cara KB?
Jawaban: SETUJU 1 TIDAK SETUJU 2 Apabila kode jawaban hanya sebagai simbol maka jawaban SETUJU diberi kode 1 dan jawaban TIDAK SETUJU diberi kode 2. Angka-
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 33
angka ini hanya sebagai simbol yang tidak mempunyai nilai. Jika jawaban digunakan untuk penyusunan skala atau indeks, maka kode yang diberikan adalah:
SETUJU 1 TIDAK SETUJU 2
1.4.2.1.6.2 Konsistensi kode juga perlu diperhatikan. Bila SETUJU diberi kode 1 dan TIDAK SETUJU diberi kode 2, maka kode jawaban tersebut lain sebaiknya berlaku untuk jawaban YA dan TIDAK, PERNAH dan TIDAK PERNAH, MEMAKAI dan TIDAK MEMAKAI.
1.4.2.1.6.3 Jawaban tertentu yang sudah ditetapkan kodenya akan memudahkan pengolahan data. Contoh:
Tidak ada jawaban 6 (1 digit) 66 (2 digit)
Tidak tahu 7 77
Lain-lain 8 88
Tidak berlaku (n/a) 9 99
Kode-kode tersebut tidak mutlak dan dapat dipakai jika belum digunakan untuk kategori jawaban lainnya.
Apabila semua data sudah terkumpul dan sudah selesai diedit lapangan, yaitu memeriksa jawaban responden apakah sudah sesuai dengan maksud pertanyaan, kemudian tahap
34 Modul DJFP. Tingkat Pertama
selanjutnya adalah mengkode data berdasarkan buku kode yang telah disusun. Semua data dari kuesioner dipindahkan ke lembaran kode menggunakan petunjuk yang terdapat dalam buku kode.
Kode dapat diletakkan pada dua tempat. Ke dua pilihan penempatan kode tersebut adalah:
Menjadi Satu dengan Kuesioner.
Untuk memudahkan pengolahan maka tempat kode disiapkan pada tepi kanan lembaran kuesioner. Setiap pertanyaan disiapkan kotak-kotak yang menunjukkan pada kotak yang mana jawaban pertanyaan harus dikode. Kotak-kotak yang disediakan harus sesuai dengan jumlah angka (digit) kode untuk setiap jawaban pertanyaan. Misalnya umur responden yang diperkirakan di bawah seratus tahun (00 – 99) disediakan dua kolom atau kotak untuk mengisi dua angka.
Apabila pertanyaan terbuka, untuk mengatasi jawaban yang bervariasi (lebih dari satu digit) disediakan dua kolom atau
lebih. Untuk memudahkan dalam
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 35
kolom sesuai dengan banyaknya kolom yang dapat ditampilkan dalam layar monitor.
Terpisah dari Kuesioner
Data dari kuesioner dipindahkan kedalam lembaran kode. Lembaran kode dapat terdiri dari 25 baris dan 80 kolom. Apabila data responden tidak lebih dari 80 kolom maka setiap lembaran kode dapat memuat 25 responden, dimana masing-masing responden menempati satu baris. Apabila setiap responden memerlukan lebih dari 80 kolom misalnya 200 kolom maka setiap responden memuat tiga baris.
Secara umum tugas seorang pemberi kode adalah:
membaca pertanyaan dalam kuesioner; memperhatikan jawaban yang diberikan oleh responden;
Pemberian kode dapat dilakukan dengan dua cara:
1. mulai baris kedua dan selanjutnya pada lembaran yang sama, atau
2. mulai baris yang sama pada lembaran kode yang kedua, dan seterusnya.
36 Modul DJFP. Tingkat Pertama
melihat pedoman dalam buku kode mengenai kode jawaban yang sudah ditentukan;
untuk pertanyaan terbuka, pemberi kode harus menafsirkan jawaban responden untuk memilih kode yang tepat;
memberi kode untuk jawaban yang sudah jelas pada kolom atau kotak tertentu di lembaran kode;
apabila ada kesulitan dalam menentukan kode jawaban yang tepat, perlu diberi catatan dan ditanyakan kepada pengawas; gunakan peralatan untuk memberi kode seperti pensil 2B, karet penghapus, peruncing pensil, dan lain-lain.
1.5 PENGOLAHAN DATA
Setelah menyusun buku kode dan memberi kode data, peneliti siap mengolah data. Ada beberapa tahap yang perlu dikerjakan oleh peneliti dalam pengolahan data. Berikut rincian tahapan tersebut.
1.5.1 Field Note4
Catatan lapangan adalah tulisan yang dilakukan peneliti ketika berhadapan dengan subjek penelitian atau memperhatikan lapangan dimana dia mengadakan penelitian. Catatan lapangan merupakan reaksi yang
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 37
dituliskan oleh peneliti ketika menghadapi lapangan, sehingga sulit untuk diulang kembali. Di alam penulisan terdapat dua hal yang menjadi patokan, yang pertama adalah melakukan catatan secara e- dan konsisten serta yang ke dua memperhatikan kerangka penelitian yang dipergunakan. Yang terakhir ini berhubungan dengan metode penelitian yang dipergunakan. Penelitian yang menggunakan perspektif gender tentunya akan lebih fokus pada pilahan gender yang dapat dilakukan dalam tahapan penelitian. Banyak peneliti – tanpa menyadari bahwa cara dia membuat catatan ternyata dipengaruhi oleh perspektif yang dipelajarinya. Akan tetapi, ada dua hal yang selalu menjadi perhatian, yang pertama adalah menuliskan apa yang kita dengar dan lihat dan yang kedua adalah perilaku yang muncul baik dari peneliti berupa reaksi terhadap tindakan atau ucapan yang dibuat oleh subjek penelitian, - cara subjek penelitian memperlakukan peneliti.
Menurut Silverman,4 enam hal - - untuk - catatan lapangan
yang baik. Pertama adalah mendeskripsikan perilaku -dan tujuan dari perilaku tersebut. Ke dua adalah bagaimana masyarakat mencapai tujuan mereka dan dengan cara seperti apa. Ke tiga adalah bagaimana anggota masyarakat menyikapi dan memahami tindakan yang mereka lakukan, ke lima asumsi apa yang mereka miliki yang melandasi tindakan mereka. Dari sisi peneliti terdapat dua hal yang - adalah apa yang dipahami oleh peneliti dan apa yang
38 Modul DJFP. Tingkat Pertama
dipelajari olehnya dan yang terakhir adalah kesimpulan apa yang - dibuat oleh peneliti. Silverman menyatakan,4 bahwa
catatan lapangan tidak hanya satu tetapi ada beberapa, yaitu:
Catatan lapangan yang dibuat ketika melakukan penelitian lapangan, catatan ini ringkas.
Catatan lapangan yang dibuat setelah peneliti sampai di tempat tinggalnya, catatan ini lebih luas dan panjang. Jurnal proses penelitian yang berisi masalah-masalah yang dihadapi di lapangan dan pikiran-pikiran apa yang muncul di lapangan.
Catatan tentang analisis dan interpretasi yang muncul.
1.5.2 Memasukkan Data ke Dalam Berkas (File) Data
1.5.2.1 Data Kuantitatif
Data kuantitatif yang sudah dikode di entry kedalam paket program komputer seperti SPSS/PC, maupun Dbase atau paket program komputer lainnya. Menyunting data sebaiknya dalam bentuk American Standard Code for Information Interchange (ASCII) sehingga data dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut dengan program paket komputer.
1.5.2.2 Data Kualitatif
Analisis data kualitatif sudah dimulai pada saat peneliti bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah data menjadi satuan, menyintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 39
yang dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Paket program untuk database sampai analisis data dalam penelitian kualitatif menggunakan program atau Nonnumerical Unstructures Data Indexing Searching and Theory Building (NUD*IST). Software ini merupakan software yang fungsional dan berfungsi jamak untuk pengembangan menunjang dan manajemen proyek analisis data kualitatif mulai dari editing, koding sampai dengan analisis data. Untuk penggunaanya, bisa dilihat dalam analisis data kualitatif.
1.5.3 Membuat Tabel Frekuensi atau Tabel Silang
Pekerjaan peneliti sesudah memasukkan data kedalam paket progam komputer adalah membuat tabel frekuensi dan tabel silang. Untuk mempermudah pekerjaan sebaiknya peneliti membuat daftar variabel yang memuat nama variabel, format variabel, nomor kartu, dan nomor kolom. Variabel yang akan dianalisis disusun berdasarkan hipotesis penelitian. Dengan kemajuan teknologi, penggunaan komputer semakin cepat dan kemampuannya semakin tinggi. Pengolahan data yang mencakup jumlah variabel banyak dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.
40 Modul DJFP. Tingkat Pertama
1.5.4 Menyunting dengan Cara Mengoreksi Kesalahan- Kesalahan dengan Menggunakan Tabel Frekuensi atau Tabulasi Silang
Pekerjaan berikutnya dalam pengolahan data adalah menyunting data hasil tabel frekuensi dan tabulasi silang. Apabila ditemui frekuensi data maupun tabulasi silang yang tidak konsisten antara satu tabel dengan tabel lainnya, maka data perlu disunting lagi. Kemungkinan kesalahan terjadi pada waktu mengisi kuesioner, memberi kode, dan memindahkan data dari lembaran kode ke komputer. Untuk menghilangkan kesalahan tersebut maka data perlu disunting baik secara manual maupun dengan komputer. Penyuntingan dilakukan dengan cara:
1.5.4.1 Untuk Tabel Frekuensi: Manual
Misalnya pertanyaan dalam kuesioner adalah “Apakah ibu sedang hamil?” Responden yang menjawab “Ya” (Hamil) 27 orang, kemudian menjawab “Tidak Hamil” sebanyak 741 orang, dan yang menjawab “Tidak Tahu” empat orang. Responden yang menjawab “Tidak Hamil” dan “Tidak Tahu” seharusnya tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan tentang jumlah bulan hamil. Jadi pertanyaan “Sudah berapa bulan hamil” hanya berlaku bagi responden yang menjawab “Ya” pada pertanyaan sebelumnya.Tabel frekuensinya adalah sebagai berikut.
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 41
Contoh 1:
“Apakah ibu sedang hamil?”
Kode Jawaban Frekuensi
1 Ya 27
2 Tidak 741
3 Tidak tahu 4
Jumlah 772
Contoh 2
Jika “Ya”, “sudah berapa bulan hamil?”
Jumlah bulan hamil Kolom 1 Kolom 2
02 (4) 5 03 4 4 04 9 9 05 4 4 06 4 4 07 (3) 1 20 (1) 99 (743) 745 Jumlah 772 772
Dari tabel frekuensi contoh 2 pada kolom 1 ternyata ada kesalahan. Dalam contoh 1 yang Tidak Tahu dan Tidak Hamil sebanyak 745 orang terdiri Tidak Hamil 741 orang dan Tidak Tahu empat orang. Setelah dicek ternyata ada dua responden yang salah kode. Kode 99 ditulis 07 dan diperbaiki di kolom 2. Kode 20 seharusnya 02, karena tidak mungkin seorang wanita hamil 20 bulan. Kesalahan pada kolom (1) dalam contoh 2 dapat dibetulkan dengan memeriksa kembali kartu tabulasi dan jika perlu memeriksa kembali jawaban pada kuesioner.
42 Modul DJFP. Tingkat Pertama
1.5.4.2 Penyuntingan Tabel Silang
Tabel silang dapat digunakan untuk mengoreksi hubungan yang tidak masuk akal antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel tidak bebas (dependent variable). Tabel-tabel yang akan diedit disusun berdasarkan variabel yang mempunyai hubungan. Sebagai contoh hubungan antara jumlah anak kandung lahir hidup dengan jumlah anak masih hidup seperti tabel di bawah ini.
Tabel 4. Jumlah Anak Lahir Hidup dan Jumlah Anak Masih Hidup Jumlah anak msh hidup Jumlah anak Lahir hidup 0 1 2 3 Jumlah 0 1 2 3 9 1 - - - 8 2 - - (1) 8 1 (1) - - 9 10 10 10 10 Jumlah 10 10 10 10 10
Tabel 4. mengandung beberapa kesalahan, yaitu sepuluh responden tidak mempunyai anak lahir hidup. Seharusnya juga tidak mempunyai anak masih hidup, tetapi satu responden dicatat mempunyai tiga anak masih hidup. Kesalahan lain adalah sepuluh responden mempunyai satu anak lahir hidup. Seharusnya mereka tidak mempunyai anak masih hidup lebih dari satu, tetapi
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 43
ada satu responden mempunyai dua anak masih hidup. Dari kesalahan itu kita dapat melakukan penyuntingan dengan mengecek kembali ke kartu tabulasi atau kuesioner.
1.5.4.3 Menyunting Data dengan Komputer
Sebelum dianalisis data perlu dicek ulang dengan komputer. Pengecekan dapat dilakukan dengan memeriksa konsistensi antara variabel dengan variabel lainnya maupun hubungan antarvariabel. Paket program komputer menghasilkan tabel frekuensi dan tabel silang untuk semua variabel penelitian. Tabel-tabel tersebut dibandingkan dengan buku kode atau variabel yang satu dengan lainnya sehingga konsistensi antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dilakukan. Tabulasi silang antarvariabel juga dapat ditunjukkan melalui print out komputer sehingga hubungan antarvariabel yang tidak masuk akal dapat segera dikoreksi.
Contoh tabulasi silang untuk memeriksa ketidaksesuaian antarvariabel.
44 Modul DJFP. Tingkat Pertama
DATA INPUT
___________________________________________ Responden Umur Status Kawin Jumlah Anak ____________________________________________________________________________ _______ 1 17 1 0 2 22 1 0 3 27 2 1 4 32 2 2 5 37 2 3 6 42 1 2 7 47 2 4 8 52 1 1 9 57 2 5 10 62 2 5 ____________________________________________________________________________
Hasil print out komputer adalah sebagai berikut.
The raw data or transformation pass is proceeding 10 cases are written to uncompressed active file. ______________________________________________
Page 2 SPSS/PC+ 11/7/91
ID VAR1 VAR2 CEK
1.00 1.00 0.0 0.0 2.00 1.00 0.0 0.0 3.00 2.00 1.00 0.0 4.00 2.00 2.00 0.0 5.00 2.00 3.00 0.0 6.00 1.00 2.00 1.00 7.00 2.00 4.00 0.0 8.00 1.00 1.00 1.00 9.00 2.00 5.00 0.0 10.00 2.00 5.00 0.0
Number of cases read = 10 Number of cases listed = 10 __________________________________________________________________________
Page 3 SPSS/PC+ 11/7/91
This procedure was completed at 11:03:06 Keterangan:
ID : Nomor responden
VAR1 : Status Kawin (Kode 1 = tidak kawin; 2 = kawin)
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 45
VAR2 : Jumlah anak
CEK : Variabel tambahan untuk mencek data
Misalnya ingin mengecek konsistensi antara variabel status kawin (VAR1) dengan jumlah anak (VAR2) dan menunjukkan nomor responden (ID) yang salah. Ketidaksesuaian antara VAR1 dan VAR2 ditunjukkan oleh variabel CEK. Apabila variabel CEK sama dengan 1 berarti ada ketidaksesuaian antara VAR1 dengan VAR2. Kesalahan data terletak pada responden nomor 6 dan nomor 8. Seharusnya responden yang tidak kawin
(VAR1=1) tidak mempunyai anak (VAR2=0), tetapi untuk responden nomor 6 tercatat 2 (VAR2=2) dan responden nomor 8 tercatat 1 (VAR2=1). Untuk mengetahui kesalahan ini kita harus mengecek kembali lembaran data atau kuesioner.
46 Modul DJFP. Tingkat Pertama
Latihan 1.
A. Gunakan kertas terpisah untuk menjawab pertanyaan berikut. Jawablah dengan singkat dan jelas.
Teknik pengolahan data ada dua cara, yaitu: 1. ...
2. ...
Tiga pertanyaan yang sebaiknya diajukan dalam penyuntingan data adalah:
3. ... 4. ... 5. ...
6. Buku kode adalah ... 7. Struktur buku kode adalah ...
8. ... 9. ... 10... 11. ... 12. ...
13. Sebutkan salah satu perbedaan antara metode kualitatif dan kuantitatif?
14. Silverman mengatakan ada beberapa sumber data kualitatif, sebutkan dan beri contohnya?
Pusbindiklat Peneliti - LIPI 47
B. Di bawah ini adalah Bagian Kuesioner dari Penelitian tentang Persepsi Masyarakat terhadap Iptek, Sebanyak Sepuluh Responden yang akan Diolah:
I. IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama Responden:
2. Jenis Kelamin: a. Laki-laki b. Perempuan 3. Umur : Tahun
4. Pendidikan formal terakhir: a.
≤
SMU b. Diploma c. S1 d. S2 e. S35. Pekerjaan
Pegawai Negeri Pegawai Swasta Wirausaha Lainnya, sebutkan
II. PERSEPSI TERHADAP IPTEK
P
Apakah pendapat Saudara mengenai iptek dan media dalam negeri berikut ini? (Pilihlah jawaban dalam kotak dibawah dengan memberi tanda (√)
Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju Tidak ada dukungan positif dari
media dalam upaya pengembangan Iptek
Jawablah dengan singkat dan jelas:
1. Sebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam