• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sukarna Wiranta Hariadi Hadisuwarno Widjajanti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sukarna Wiranta Hariadi Hadisuwarno Widjajanti"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

Sukarna Wiranta

Hariadi Hadisuwarno

Widjajanti

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

2 0 1 2

(2)

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

(Bidang IPS)

~ Edisi Revisi ~

Oleh

Sukarna Wiranta, Hariadi Hadisuwarno, dan Widjajanti

Editor: Enny Sudarmonowati/Iroh Siti Zahroh/Anisah/Yoke Pradanatama Desain Modul: Dewi Salma Prawiradilaga

Desain Grafis: Yoke Pradanatama

© Pusbindiklat Peneliti LIPI Kompleks Cibinong Science Center (CSC)

Jl. Raya Bogor Km. 46 - Cibinong Kab. Bogor, 16916

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak

seluruh atau sebagian isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

(3)

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

(BIDANG IPS)

Edisi Revisi

Modul Diklat Jabatan Fungsional Peneliti

Tingkat Pertama

Sukarna Wiranta

Hariadi Hadisuwarno

Widjajanti

(4)

ii Modul DJFP. Tingkat Pertama

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1994 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 40 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pembina Jabatan Fungsional Peneliti (JFP) berkewajiban menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi pejabat fungsional peneliti secara nasional.

Pasal 20 Keputusan Bersama Kepala LIPI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 3719/D/2004 dan Nomor 60 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bersama Kepala LIPI dan Kepala BKN Nomor 412/D/2009 dan Nomor 12 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Peneliti dan Angka Kreditnya menyebutkan bahwa untuk menjamin kualitas profesionalisme dan pelaksanaan JFP, LIPI berkewajiban menyelenggarakan diklat serta menyusun kurikulumnya.

Untuk mengejawantahkan pasal tersebut, LIPI menyusun dan menetapkan Peraturan Kepala LIPI Nomor 04/H/2008 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional Peneliti Berjenjang. Peraturan tersebut menyatakan bahwa terdapat dua jenjang diklat yang wajib diikuti oleh pejabat peneliti, yaitu Diklat JFP Tingkat Pertama dan Diklat JFP Tingkat Lanjutan.

Pedoman, kurikulum, dan aspek lainnya dari penyelenggaraan Diklat Berjenjang disusun berdasarkan uraian tugas peneliti, standar kompetensi serta mengakomodasi kebutuhan lembaga penelitian dan pengembangan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mendukung proses pembelajaran, LIPI menyiapkan modul untuk Diklat JFP Tingkat Pertama dan buku ajar untuk Diklat JFP Tingkat Lanjutan. Modul dan buku ajar ini bersifat standar minimal dan menjadi acuan dalam proses pembelajaran.

(5)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI iii Group Discussion (FGD) tentang isi dan materi yang akan disampaikan.

Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Diklat JFP Tingkat Pertama serta penyesuaian dengan peraturan JFP terkini, maka perlu dilakukan revisi terhadap modul yang ada, salah satunya adalah modul Pengolahan dan Analisis Data Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH).

Untuk penyempurnaan penulisan revisi, modul ini telah diseminarkan secara terbatas dengan mengundang narasumber Ir. M. Arifin, MM. (P2 Kependudukan – LIPI) dan Prof. Dr. Johanis Haba (P2 Kemasyarakatan dan Kebudayaan - LIPI) serta dibahas dan diperkaya pada Training of Trainers (TOT) Fasilitator DJFP Tingkat Pertama oleh Prof. Dr. Yekti Maunati (P2 Sumber Daya Regional - LIPI), Drs. Anas Saidi (P2 Kemasyarakatan dan Kebudayaan - LIPI), dan Dr. Syahrir Ika (BKF - Kemenkeu)

Setelah penulisan modul final, penyuntingan bahasa Setelah penulisan modul selesai, penyuntingan bahasa dilakukan oleh ahli dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

Secara paralel dilakukan proses pendaftaran International Standard Book Number (ISBN) sehingga modul ini merupakan karya nyata yang dapat digunakan sebagai acuan baik dalam penyampaian materi Diklat JFP Tingkat Pertama maupun sebagai tambahan pengayaan bagi sivitas ilmiah lainnya.

Akhirnya kepada penulis kami sampaikan ucapan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya, atas kerja sama dalam menyelesaikan modul ini. Harapan kami, modul ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM) peneliti dan memberikan manfaat bagi pengguna.

Jakarta, 11 Februari 2013

(6)

Pengantar

iv Modul DJFP. Tingkat Pertama

HALAMAN DEPAN ... i

PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

PENDAHULUAN ... 1

A. Deskripsi Mata Diklat ... 1

B. Karakteristik Akademik ... 2

C. Manfaat ... 2

D. Tujuan Pembelajaran ... 2

E. Saran-Saran Pembelajaran ... 3

SKEMA PB-SATU ... 4

PB SATU–PENGOLAHAN DATA ... 5

1.1 Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif ... 5

1.2 Cara Pengambilan Data ... 12

1.3 Penyuntingan Data ... 22

1.4 Pemberian Kode ... 23

1.5 Pengolahan Data ... 35

Latihan 1 ... 43

Ringkasan ... 45

Tindak Lanjut ... 47

SKEMA PB-DUA ... 48

PB DUA–PENYAJIAN DATA ... 49

(7)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI v

2.2 Komponen Penyajian Data ... 52

2.3 Bentuk Penyajian Data ... 55

Latihan 2 ... 65

Ringkasan ... 67

Tindak Lanjut ... 69

SKEMA PB-TIGA ... 70

PB TIGA–ANALISIS DATA ... 71

3.1 Pengertian Analisis Data ... 71

3.2 Komponen dan Peranan Analisis Data ... 75

3.3 Faktor Penting dalam Analisis Data ... 76

3.4 Teknik Analisis Data ... 79

3.5 Analisis Data ... 82

Latihan 3 ... 92

Ringkasan ... 95

Tindak Lanjut ... 97

TUGAS AKHIR ... 98

KUNCI JAWABAN ... 102

RINGKASAN ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 117

(8)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 1

A. DESKRIPSI MATA DIKLAT

Modul Pengolahan dan Analisis Data (Bidang IPSH)

membahas tentang pengolahan dan analisis data secara kuantitatif

dan kualitatif, paparannya meliputi penyuntingan baik secara

manual maupun komputer, pengodean, pengolahan data, penyajian

data dalam tabel dan grafik, analisis data. Selain itu juga disertakan

contoh analisis, modus analisis data, analisis umum dan análisis

berdasarkan hipotesis kerja.

Modul Pengolahan dan Analisis Data (Bidang IPSH) terdiri

atas tiga proses belajar (PB), yaitu:

1. PB-Satu : Pengolahan Data; 2. PB-Dua : Penyajian Data;

3. PB-Tiga : Analisis Data.

Setiap proses belajar dan/atau penggalannya diikuti oleh tugas

dan/atau latihan serta tindak lanjutnya.

Jangka waktu pembelajaran untuk materi ini adalah sepuluh

jam dimana pelaksanaannya mencakup kegiatan tatap muka dengan

(9)

2 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Sedangkan latihan pengolahan data dan analisisnya diberikan waktu

enam jam.

B. KARAKTERISTIK AKADEMIK1

Berikut adalah karakteristik akademik peserta.

1. kandidat peneliti;

2. paling rendah berijazah S-1 segala bidang/ilmu;

3. memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik;

4. memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan

benar;

5. memiliki program SPSS atau software pengolahan data

lainnya pada laptop masing-masing;

6. mampu mengoperasikan perangkat komputer (personal

computer) terutama pengolah kata (word processing).

C. MANFAAT

Dengan memahami modul Pengolahan dan Analisis Data

(Bidang IPSH), Anda akan memperoleh masukan berguna, yaitu:

1. pemahaman tentang proses pengolahan data;

2. pemahaman alur kerja pengolahan data yang dimulai dari

penyuntingan data hingga analisis data.

D. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah pembelajaran diharap peserta diklatmampu

menguasai hal-hal berikut.

1. Kompetensi Dasar

Peserta diklat diharapkan dapat melaksanakan prosedur

(10)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 3 Anda susun sendiri berdasarkan usulan, rancangan, sumber, dan

pengumpulan data dengan panduan modul terkait.

2. Indikator Keberhasilan

Setelah selesai pembelajaran diharapkan peserta diklat

mampu:

a. melaksanakan penyuntingan dan pengodean data;

b. melaksanakan pengolahan data;

c. menyajikan data dalam bentuk tabel, grafik, dll

d. melakukan análisis data kuantitatif dan kualitatif.

E. SARAN-SARAN PEMBELAJARAN

1. Baca dan diskusikan kesulitan belajar dengan anggota tim lain.

Catatlah semua pertanyaan dan kesulitan yang timbul sewaktu

Anda belajar. Tanyakan segera kepada fasilitator pada kegiatan

tatap muka;

2. Cobalah berlatih sendiri untuk membuat tulisan dengan

mengikuti alur proses belajar secara bertahap;

3. Selain modul ini, Anda sebaiknya membaca referensi lainnya

yang relevan. Anda juga dapat membaca daftar pustaka yang

digunakan sebagai acuan penyusunan modul ini sebagai

(11)

4 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Pengolahan Data

Pemberian Kode Pengertian

Data Kuantitatif Data Kualitatif

Buku Kode

(12)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 5

P

P

r

r

o

o

s

s

e

e

s

s

B

B

e

e

l

l

a

a

j

j

a

a

r

r

S

S

a

a

t

t

u

u

1.1 METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

1.1.1 Metode Penelitian Kuantitatif

Pengolahan data merupakan tahap lanjutan setelah pengumpulan data. Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya jika tidak dianalisis. Teknik pengolahan data sebenarnya dapat dilakukan secara:

manual atau

menggunakan komputer.

(13)

6 Modul DJFP. Tingkat Pertama

penting dalam metode ilmiah karena dengan analisis, data yang telah dikumpulkan dapat diberi arti sehingga dapat memecahkan masalah penelitian.

Dasar perbedaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif adalah mengenai data numerik dan nonnumerik.2 Penelitian

yang menggunanakan pendekatan kuantitatif menggarap data numerik. Pendekatan itu disebut juga pendekatan yang menggunakan cara nomothetic, yaitu “...an approach to explanation in which we seek to identify a few causal factors that generally impact a class of conditions or events. Imagine the two or three key factors that determine which colleges students chosee proximity, reputation and so forth.2

Pendekatan ini berkaitan dengan posisi logico empiricism, di mana proses penelitian harus masuk akal dan

logis. Pendekatan ini melihat bahwa realitas adalah sesuatu yang empiris sehingga dasar pemikiran ini mempengaruhi metode penelitian yang digunakan.

1.1.2 Metode Penelitian Kualitatif

Pendekatan kualitatif seringkali dilihat sebagai cara alternatif pengolahan data dibandingkan dengan pendekatan kuantitatif. Pemahaman tersebut ada benarnya dan bahan ini akan mulai dengan paparan pemikiran di belakang pendekatan.

(14)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 7

Qualitative research is a situated activity that locates the observer in the world. It consists of a set of interpretive, material practices that make the world visible. These practices transform the world. They turn the world into series of representations, including field notes, interviews, conversations, photographs, recordings and memos to the self.3

Definisi ini memperlihatkan bahwa peneliti, subjek peneliti, dan bahan penelitian merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Peneliti mengangkat hal atau fenomena yang tidak terlihat oleh orang lain dan menunjukkan signifikansi dari fenomena tersebut.

Metode kualitatif berkembang dan berkaitan dengan proses pengenalan tentang yang “lian” (others), menurut Denzin dan Lincoln3 yang lian adalah orang yang tidak berkulit putih,

kurang beradab, bagian dari awak negara jajahan, berkulit gelap. Metode ini dipergunakan untuk peneliti, jurnalis, pelancong yang awalnya mengikuti pergerakan dari kolonialisme di negara-negara dunia ketiga.

Metode kualitatif adalah metode multidisiplin, transdisiplin, dimana penggunanya disebut sebagai bricoleur, atau orang yang terampil menggunakan berbagai macam perkakas untuk membuat atau membetulkan sesuatu. Hasil pekerjaannya disebut bricolage atau “...that is a pieced-together set of representation that are fitted to the specifics of a complex

situation”.2 Gambaran sederhananya adalah semacam selimut

(15)

8 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Data kualitatif diperoleh dengan berbagai macam cara. Silverman mengemukakan,4 berbagai cara mendapatkannya,

yaitu yang pertama adalah data yang diperoleh melalui publik seperti data koran, majalah dan lembaga penyiaran lainnya. Yang ke dua, data yang diperoleh orang lain, yang ke tiga adalah data yang diperoleh melalui bantuan orang lain seperti penyelia atau peer group. Bantuan seperti ini selain memperkaya analisis juga

menghindari diri peneliti dari mental block atau perasaan tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan dari informasi yang sudah dikumpulkan. Yang ke empat adalah analisis data sudah dilakukan sejak awal pengumpulannya. Prosesnya dimulai dengan membuat transkrip kemudian memadukannya berdasarkan pertanyaan penelitian yang dimiliki.

Dalam proses menggarap data, peneliti sudah dapat mempertanyakan konsep dan pendekatan yang digunakannya. Apakah merasa bahwa metode yang digunakan dapat menangkap gambaran yang dikehendaki ataukah dirasa membutuhkan cara lain atau data dukungan lainnya. Peneliti memperhatikan masalah artikulasi dari konsep yang dipergunakan. Peneliti juga sudah mulai memperhatikan definisi atau kata-kata yang dipergunakan oleh subjek penelitian. Menurut Silverman,4 dalam

(16)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 9

(17)

10 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Tabel 1. Tiga Latar Belakang Epistemologi Kualitatif5

Interpretivism Hermeutics Social constructivism

Menurut pendekatan ini tindakan manusia memiliki makna, dan makna diangkat melalui tindakan sosial. Untuk memahami tindakan manusia dipergunakan interpretasi atau pemahaman (understanding) yang biasa disebut verstehen. Cara yang pertama adalah

menyelami subjective

conciousness dari aktornya. Cara yang kedua adalah

fenomenologi dan

etnometodologi yang

berkembang di sosiologi. Pendekatan ini ingin mengangkat kehidupan

sehari-hari dan bagaimana

intersubjektivitas berkembang. Dua hal yang digunakan, yaitu

indexicality dan reflexivity.

Indexicality memperlihatkan bahwa ujaran memiliki konteks dalam situasi yang ada,

sedangkan reflexivity

memperlihatkan bahwa ujaran tersebut memiliki makna pula bagi orang lain. Pendekatan ini berkembang dalam kajian tentang interaksi dan

conversation. Pendekatan

interpretativism juga berkembang dalam bahasa, di mana bahasa memainkan peran besar seperti bahasa santun, bahasa komando, bahasa kekuasaan, bahasa keindahan, dan lainnya.

Pendekatan ini tidak

ditujukan untuk

mengatasi masalah,

melainkan untuk

mengetahui proses yang terjadi di dalam sebuah pemaknaan. Berbeda dari interpretasivism

yang berpendapat bahwa makna terdapat di dalam masyarakat, hermenutik

berpandangan bahwa proses interpretasi adalah pemaknaan. Di dalam proses ini peneliti

dengan latar

belakangnya

menyumbang pada hasil pemaknaan. Karakter

pendekatan ini justru menggunakan

pendekatan ini sebagai upaya menilai prejudices

dan pandangan yang dapat dilihat dengan menggunakan

kerangka tertentu yang disebut sebagai pespektif. Penganut

(18)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 11

Metode kualitatif memiliki sejarah yang panjang terutama hubungannya dengan metode kuantitatif. Di bawah ini adalah lima perbedaan kedua penelitian tersebut.

Tabel 2. Perbedaan Perspektif Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Kuantitatif Kualitatif positivisme sudah ada di masyarakat menunggu untuk diangkat atau ditemukan. Sedangkan

pospositivisme berpandangan bahwa realitas tidak bisa secara langsung ditemukan, kecuali mendekatinya

Penggunaan kualitatif dipengaruhi oleh pendekatan positivisme, sehingga metode ini serupa dengan kuantitatif hanya lebih sederhana, tidak seketat metode kuantitatif. Penerapannya menggunakan cara-cara yang digunakan oleh kuantitatif.

Menerima cara pandang posmoder

Pendekatan positivisme dan kuantitatif berpandangan bahwa mereka melakukan penelitian yang objektif dan tidak bias, dan tidak subjektif.

Kualitatif melihat, menolak kuantitatif, positivisme. Ada yang berpendapat bahwa metode kualitatif adalah cara lain dalam memaparkan data, tetapi kubu yang lebih keras menolak pendekatan positivisme dan kuantitaf mencari cara dan indikator sendiri. Pandangan ini melihat bahwa cara-cara postivisme telah membungkam beragam cara pandang.

Mengangkat pandangan individu

Penelitian kuantitatif terhadap individu memiliki jarak karena menggambarkan secara agregat. Bagi pendekatan kuantitatif, data dan informasi kualitatif; tidak realiable, impresionistik, dan tidak objektif.

Cara kualitatif berusaha mendekati perspektif aktor/individual

Mengkaji keseharian

Pendekatan kuantitatif mengangkat isu yang ada di masyarakat. Pendekatannya adalah nomotethic (mencari hukum atau keteraturan atau pola tertentu.

Menurut Everyday Social World dalam Denzin and Lincoln.2 pendekatan kualitatif

mengangkat pandangan individual sebagai bagian dari penelitian tentang keseharian. Pendekatan ini mementingkan cara paparan yang ideografis, yaitu cara menggambarkan fenomena masyarakat melalui emik dan kasus-kasus tertentu. Deskripsi Kuantitatif tidak menyukai detail

karena menekankan pada upaya generalisasi

(19)

12 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Perbedaan antara kualitatif dan kuantitatif dapat dilakukan pula melalui empat hal penting seperti di bawah ini.6

(20)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 13

1.2 CARA PENGAMBILAN DATA

1.2.1 Data Kuantitatif

1.2.1.1 Pengertian

Pada penelitian nomotetik terdapat tiga hubungan kausalitas, yaitu: 1) semua variabel saling berhubungan, 2) penyebab terjadi terlebih dahulu dibandingkan efeknya, dan 3) variabelnya bukan variabel nonsporius.2

Artinya tidak ada variabel ke tiga di dalam hubungan antarvariabel yang digambarkan.

Sebuah hubungan bersifat necessary dan sufficient. Necessary memperliahtkan bahwa sebuah kondisi perlu ada sebeum terjadinya sebuah efek. Sedangkan sufficient berarti bahwa kondisi tersebut cukup dan mampu menghasilkan efek tersebut.2

1.2.1.2 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel secara umum perlu memperhatikan unit analisa yang dipergunakan. Unit analisis dapat terdiri dari 1) individu; 2) kelompok; 3) organisasi; 4) interaksi sosial; dan 5) artefak sosial.2 Unit analisis

berbeda dengan agregats yang hendak kita jelaskan. Misalnya penelitian tentang partai politik adalah sebuah agregats dan data diwakili oleh individu yang

(21)

14 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Kajian dapat dilakukan dengan beberapa bentuk:

Cross sectional, yaitu kajian yang mengamati dan

meneliti pada waktu tertentu saja.

Longitudinal – adalah kajian yang menggunakan

pengamatan yang dilakukan pada waktu yang panjang. Kajian longitudinal terdiri dari trends yang melihat perubahan sosial yang terjadi. Kemudian kajian cohort yaitu kajian yang mengikuti sampel yang sama dalam jangka tahun yang berbeda.

Kajian panel yang mengamati atau mewawancarai orang yang sama dalam satu proses tertentu, seperti mengikuti sampel yang sama di dalam proses Pemilihan Umum.

1.2.1.3 Metode Penelitian yang Dipergunakan

(22)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 15

kita hadapi, misalnya dimensi kemacetan dapat dilihat dari kepentingan individu, angkutan maupun pemborosan yang terjadi. Dimensi-dimensi ini memperlihatkan bahwa satu masalah tidak hanya dapat dijelaskan dari satu sisi saja.

1.2.2 Data Kualitatif

1.2.2.1 Pengertian

Data di alam penelitian kualitatif dapat menggunakan cara yang dipergunakan juga oleh penelitian kuantitatif seperti beberapa cara di bawah ini. Cara pengambilan sampel dipergunakan untuk mendapatkan subjek penelitian yang sesuai atau memenuhi kriteria dari penelitian yang dilakukan.

(23)

16 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Peneliti dapat menggunakan lebih dari satu cara untuk memaparkan datanya. Peneliti yang ingin komprehensif menggunakan ke tiga-tiganya, tetapi banyak juga yang hanya menggunakan salah satu pendekatan. Penelitian dengan menggunakan teks banyak dilakukan oleh sejarahwan, meskipun ada pula sejarahwan yang menggunakan pendekatan oral histori menggunakan banyak wawancara. Pendekatan teks seperti menganalisis iklan banyak dilakukan oleh feminis untuk memperlihatkan wacana konstruksi perempuan yang hidup di dalam masyarakat.

1.2.2.2 Pengambilan Sampel

(24)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 17

1.2.2.2.1Purposive sampling mengambil informan yang

terkait dengan pertanyaan penelitian yang kita ajukan, atau dengan konteks teori yang kita pergunakan. Pengambilan sampel ini sangat terbantukan jika kajian terdahulu sudah dilakukan sehingga sudah diketahui pemetaan dari masalah yang kita teliti.

1.2.2.2.2Quota sampling adalah mengambil informan yang

sudah diketahui terlebih dahulu karakteristiknya seperti umur, gender, pekerjaan, dan sebagainya. Karakteristik yang diketahui akan menjadi bagian dari sampel yang akan diambil. Yang membedakan antara quota sampling dengan purposive adalah, di dalam cara quota lebih

memperlihatkan adanya beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan karakteristik tertentu. 1.2.2.2.3Pengambilan sampel secara snowball

menggunakan referensi dari individu atau kelompok yang mengetahui atau yang terlibat di dalam sebuah masalah tertentu. Misalnya pengambilan sampel tentang gerakan perempuan tentunya akan mencari informan dari penggerak kegiatan ini ataupun individu yang menjadi penggerak dari gerakan tersebut.

(25)

18 Modul DJFP. Tingkat Pertama

diamati dan dilakukan serangkaian upaya untuk menangkap fenomena yang ada. Menurut Emerson dalam Silverman,3 membuat empat proses yang perlu dilakukan

untuk membuat studi kasus yang baik. Pertama adalah kasus tertentu dan cara termudah untuk mendapatkan data, yang ke dua adalah peneliti menentukan proses yang berlangsung pada kasus tersebut, peneliti melakukan deskripsi yang detail. Ke tiga adalah peneliti memfokuskan pada satu hal yang khusus yang dipilih oleh peneliti untuk membuat deskripsi yang lebih mendalam, dan ke empat adalah peneliti mencoba melakukan komparasi dengan kasus lainnnya.

1.2.2.3 Metode Penelitian yang Dipergunakan 1.2.2.3.1Participant Observation

Partisipasi terlibat adalah sebuah proses penelitian dimana peneliti mencoba menyelami kehidupan subjek penelitian. Peneliti menjalani kehidupan subjek penelitiannya untuk menangkap sisi pandangan dari informannya.

1.2.2.3.2In depth interview

In depth interview adalah tanya jawab yang

(26)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 19

mengarahkan. Perhatian ini penting supaya apa yang dipaparkan adalah pandangan dari subjek penelitian dan bukan pikiran penelitinya. Selain itu peneliti harus menjalin raport yang baik, raport dalam hal ini adalah hubungan yang baik

sehingga subjek penelitian percaya dan mau berbagi cerita dengan peneliti. Pada tanya jawab peneliti perlu melakukan probing atau upaya membuat tema yang didikusikan menjadi semakin dalam dan menarik. Peneliti perlu mem-probing jika subjek penelitian terlihat tidak memahami pertanyaan, terlihat bosan dan tidak tertarik dengan tema penelitian yang dilakukan.

1.2.2.3.3Focus Group Discussion (FGD)

(27)

20 Modul DJFP. Tingkat Pertama

menggunakan alat perekam, tetapi dibutuhkan notulis yang mencatat alur tanya jawab yang

berlangsung. Pelaksana FGD perlu

mempertimbangkan karakter subjek yang diikutsertakan, apakah dapat berkontribusi karena ahli dalam isu yang bersangkutan, apakah individu tersebut cenderung pendiam atau bahkan cenderung sangat aktif.

1.2.2.3.4Analisis Dokumen atau Analisis Teks4, 8

Teks dalam penelitian kualitatif dipergunakan untuk menggambarkan situasi sosial yang ada. Teks menunjukkan bagaimana subjek penelitian menggunakannya untuk berbagai macam hal seperti upaya untuk memahami masalah atau situasi sosial, atau menjelaskan peristiwa di dalam masyarakat. Misalnya iklan tidak hanya alat memasarkan produk akan tetapi juga menunjukkan nilai yang hidup di masyarakat, iklan mobil sport selalu menampilkan perempuan cantik dan menarik. Artinya pemilik dari mobil sport adalah laki-laki yang mampu menarik perempuan cantik. Teks yang sama jika dilihat

dari posisi kepentingan perempuan

(28)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 21

Penelitian kualitatif terutama yang memiliki latar belakang konstruktivisme menggunakan kata-kata di dalam teks untuk menunjukkan bagaimana subjek penelitian atau masyarakat yang diteliti memaknai kehidupannya, seperti halnya iklan di atas.

1.2.2.3.5Data Visual

Data visual dapat terdiri dari foto, video, gambar, iklan, tanda lalu lintas, grafiti, dan sebagainya. Penggunaan dan cara membahasakan data visual dipengaruhi oleh pertanyaan penelitian yang dimiliki. Ada penelitian kualitatif yang memang menggunakan data visual sebagai data utama dari penelitiannya, seperti lukisan. Dengan demikian proses yang dilakukan oleh penelitinya adalah melakukan deskripsi dari lukisan yang diamatinya dan kemudian melakukan interpretasi melalui kategori yang dilakukannya.

(29)

22 Modul DJFP. Tingkat Pertama

subjek penelitiannya akan menghasilkan kajian yang baik pula.

1.2.2.3.6Informed consent

Peneliti perlu memperhatikan informed consent,5

atau persetujuan dari subjek peneliti atau informan tentang isu yang diteliti atau dikaji. Informed consent adalah sebuah keharusan di

dalam penelitian berjenis kualitatif. Subjek penelitian harus mengetahui bahwa mereka terlibat di dalam penelitian, dan bagaimana keterlibatan mereka.6

(30)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 23

dalam aturan ini adalah paparan tentang tujuan penelitian, harapan terhadap partisipasi subjek penelitian, risiko, dan keuntungan dari penelitian bagi sang subjek. Partisipasi ini bersifat suka rela tanpa pemaksaan sehingga orang bisa memutus partisipasinya jika yang bersangkutan menghendakinya, kerahasiaan akan diperhatikan. Peneliti menginformasikan adanya kontak di komunitas yang bersangkutan sehingga jika ada pertanyaan yang muncul dapat menjawabnya.

1.3 PENYUNTINGAN DATA

Sebelum data diolah perlu dilakukan pemeriksaaan awal atau penyuntingan (editing) terlebih dahulu, baik terhadap data kuantitatif maupun kualitatif. Sebaiknya daftar pertanyaan untuk penelitian beserta jawabannya harus diperiksa dan diperbaiki terlebih dahulu oleh peneliti guna menjaga kualitas data.

Berikut kiat-kiat yang sebaiknya Anda ikuti jika akan menyunting data!

Beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan dan dijawab dalam menyunting data, di antaranya:

1.3.1 Apakah data sudah lengkap dan sempurna?

Hal ini berarti bahwa semua kolom atau pertanyaan harus ada jawabannya. Jawaban atau catatan yang kosong harus dilengkapi dalam menyunting data.

(31)

24 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Jawaban responden harus dapat dibaca baik huruf maupun angka-angka sehingga keragu-raguan dapat dihilangkan. 1.3.3 Apakah semua catatan sudah dapat dipahami?

Pekerjaan mengedit termasuk mengubah singkatan maupun kependekan menjadi kata-kata atau kalimat yang penuh. Catatan atau singkatan mungkin hanya dapat dimengerti oleh pengumpul data tetapi belum tentu dimengerti oleh pembuat kode.

1.3.4 Apakah semua data sudah konsisten?

Menyunting berarti memeriksa apakah jawaban responden sudah konsisten. Misalnya jawaban antara umur responden yang masih berumur 23 tahun tetapi mempunyai anak kandung yang berumur 18 tahun. Apakah ada kesalahan mencatat atau ada kesalahpahaman responden dalam menjawab pertanyaan.

1.3.5 Apakah ada jawaban yang tidak sesuai?

Peneliti perlu memeriksa jawaban yang tidak cocok dengan pertanyaan. Jika terdapat banyak jawaban dari pertanyaan yang tidak sesuai, maka daftar pertanyaan perlu diperbaiki dan harus diklasifikasikan dalam satu kelompok. Jika hanya beberapa yang tidak cocok mungkin merupakan kesalahan pencacah dan perlu diperbaiki.

(32)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 25 1.4 PEMBERIAN KODE

Data kuantitatif yang telah dikumpulkan dapat berupa angka-angka ataupun jawaban kategori. Untuk memudahkan pengolahan dan analisis maka jawaban-jawaban tersebut perlu diberi kode. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengolahan dengan komputer. Memberi kode adalah menaruh kode berupa angka pada tiap jawaban.

Pengolahan data kualitatif juga dapat dilakukan dengan memberi kode. Data hasil wawancara, observasi, dokumen, foto, transkrip yang banyak sekali jumlahnya setelah dibaca dan dipelajari dan ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan cara melakukan abstraksi. Abstraksi dilakukan dengan membuat rangkuman dan menyusun dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan dan dibuat koding.

Pemberian kode untuk data penelitian bukan pekerjaan mudah. Anda harus

berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan ini!

1.4.1 Teknik Pengodean

Pemberian kode dapat dilakukan dengan melihat jenis pertanyaan dan jawaban. Pemberian kode disesuaikan dengan jenis jawaban. Perhatikan uraian berikut!

1.4.1.1 Jawaban berupa angka.

(33)

26 Modul DJFP. Tingkat Pertama

jawaban untuk pertanyaan tersebut berupa kode angka jawaban itu sendiri. Misalnya:

Jawaban Kode

Umur : 56 tahun 56

Pendapatan : Rp 750 000 750000

Jika jawaban dalam interval angka, maka angka-angka tersebut perlu diberi kode tersendiri:

Umur antara 0 – 15 tahun kode 1 Umur 16 – 30 tahun kode 2

1.4.1.2 Jawaban pertanyaan tertutup.

Pertanyaan tertutup mempunyai jawaban yang sudah tersedia, dan pencacah atau responden tinggal memberi tanda cek sesuai dengan jawaban yang tersedia. Sebagai contoh:

Jawaban Kode

Ya 1

Tidak 0

Tidak tahu 9

---

Sangat setuju 5

Setuju 4

Netral 3

Tidak setuju 2

Sangat tidak setuju 1

1.4.1.3 Jawaban pertanyaan terbuka.

(34)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 27

kebebasan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Jadi variasi jawabannya akan banyak. Variasi jawaban dikelompokkan ke dalam beberapa kategori dan perlu diketahui sebanyak mungkin variasi jawabannya.

Perlu diperhatikan dalam membuat kategori dan kode jawaban, yaitu:

1.4.1.3.1 Kategori jawaban harus tegas perbedaannya sehingga tidak ada tumpang tindih (overlapping) antara jawaban yang satu dengan yang lain.

1.4.1.3.2Persentase jawaban “lain-lain” atau “lainnya” harus kecil.

Sebagai contoh adalah “Alasan tidak minum pil KB”

Jawaban Kode

Suami pergi 1

Mengganggu kesehatan 2

Sedang haid 3

Lainnya 9

1.4.1.4 Jawaban Pertanyaan Semiterbuka

(35)

28 Modul DJFP. Tingkat Pertama

itu perlu disediakan beberapa kode baru, sebagai contoh: Cara KB yang Bapak/Ibu lakukan?

Jawaban

Jenis kontrasepsi Kode

IUD 1

Suntikan 2

Pil 3

Kondom 4

Sterilisasi 5

Susuk KB 6

Lain-lain (Sebutkan...) 7 Lain-lain misalnya adalah:

Sanggama terputus 8 (kode tambahan)

Pantang berkala 9 (kode tambahan)

1.4.2 Buku Kode

Untuk memudahkan pemberian kode digunakan buku kode sebagai pedoman untuk memindahkan kode jawaban responden dan kuesioner ke lembaran kode, kartu tabulasi, ataupun ke tempat yang telah tersedia dalam kuesioner. Buku kode juga digunakan sebagai pedoman oleh peneliti untuk mengidentifikasi semua variabel dalam penelitian yang akan dipakai dalam analisis dan membaca tabulasi data.

1.4.2.1 Struktur

Buku kode terdiri atas beberapa hal, yaitu:

(36)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 29

1.4.2.1.2Nomor pertanyaan, merupakan urutan nomor seluruh pertanyaan di dalam kuesioner.

1.4.2.1.3Nomor Variabel. Kolom ini diperlukan karena nomor variabel tidak selalu sama dengan nomor pertanyaan.

Pemberian nomor dimulai dari nomor identitas responden sampai dengan pertanyaan terakhir. Pada umumnya tiap pertanyaan merupakan satu variabel, tetapi dapat juga lebih dari satu variabel. Contoh: Jumlah anak masih hidup.

No. variabel Nama variabel

20 Jumlah semua anak masih hidup

21 Bertempat tinggal dalam rumah

tangga ini

21 Bertempat tinggal diluar rumah

tangga ini

1.4.2.1.4Nama Variabel dan Kode Jawaban. Nama Variabel adalah judul variabel, dibuat singkat dan jelas. Nama dan nomor variabel akan digunakan dalam pengolahan data. Kode jawaban berupa angka yang mewakili jawaban responden.

Contoh: Nama Variabel dan Kode Jawaban:

Nomor Variabel

1 Identitas responden

2 Umur

3 Pendidikan terakhir

(37)

30 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Jawaban Kode

Tidak pernah sekolah 0

Sekolah Dasar Tidak Tamat 1

Sekolah Dasar Tamat 6

Sekolah Lanjutan Pertama Tamat 9 Sekolah Lanjutan Atas Tamat 12

1.4.2.1.5 Kolom. Pada kolom ini mengandung keterangan lokasi masing-masing variabel dalam lembaran kode. Untuk data yang diolah dengan komputer jumlah kolom ini penting karena dapat dipakai untuk mengetahui jumlah kolom yang digunakan. Sebagai contoh adalah umur responden terletak pada kolom 8-9. Dalam lembaran kode yang sudah berisi data pada kolom 8-9 berarti data umur responden.

1.4.2.1.6Format. Format adalah aturan yang menentukan lokasi jenis kode, jumlah digit, kode jawaban, dan letak desimal.

Sebagai contoh adalah bagian dari kuesioner di bawah ini:

UMUR, PENDAPATAN, DAN PERKAWINAN Tanggal kelahiran: Tahun 1953 Bulan Juni 5

4 – 5 6 - 7

Umur sekarang: 26 tahun

(38)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 31

Pendapatan per bulan: Rp800.700

10 11 12 -- 15

Tabel 3. Buku kode untuk pengolahan dengan komputer

Halaman Kues

No. Pertany.

No.

Variabel Nama Variabel dan Kode Kolom Format

1

Contoh kuesioner dan buku kode menjelaskan sebagai berikut.

Tahun dan bulan lahir kolom 4-5 dan 6-7 Umur responden kolom 8-9

(39)

32 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Penjelasan

Format 1.0 berarti variabel tersebut dikode dengan satu angka tanpa angka di belakang koma.

Format 2.0 berarti variabel tersebut dikode dengan dua angka tanpa angka dibelakang koma.

Format 4.1 untuk pendapatan setiap bulan berarti variabel tersebut terdiri atas empat digit dengan satu angka di belakang koma Pendapatan per bulan (dalam ribuan) Rp19.200,00 dikode dalam ribuan, maka kodenya adalah 0192

Pendapatan Rp800.700,00 maka kodenya adalah 8007.

Selain teknik tadi di atas, perhatikan saran-saran berikut. 1.4.2.1.6.1 Kode jawaban perlu dipertimbangkan apakah

hanya merupakan simbol atau skor. Contoh:

Apakah saudara setuju penggunaan sterilisasi untuk cara KB?

Jawaban: SETUJU 1 TIDAK SETUJU 2

(40)

Angka-Pusbindiklat Peneliti - LIPI 33

angka ini hanya sebagai simbol yang tidak mempunyai nilai. Jika jawaban digunakan untuk penyusunan skala atau indeks, maka kode yang diberikan adalah:

SETUJU 1 TIDAK SETUJU 2

1.4.2.1.6.2 Konsistensi kode juga perlu diperhatikan. Bila SETUJU diberi kode 1 dan TIDAK SETUJU diberi kode 2, maka kode jawaban tersebut lain sebaiknya berlaku untuk jawaban YA dan TIDAK, PERNAH dan TIDAK PERNAH, MEMAKAI dan TIDAK MEMAKAI.

1.4.2.1.6.3 Jawaban tertentu yang sudah ditetapkan kodenya akan memudahkan pengolahan data. Contoh:

Tidak ada jawaban 6 (1 digit) 66 (2 digit)

Tidak tahu 7 77

Lain-lain 8 88

Tidak berlaku (n/a) 9 99

Kode-kode tersebut tidak mutlak dan dapat dipakai jika belum digunakan untuk kategori jawaban lainnya.

(41)

34 Modul DJFP. Tingkat Pertama

selanjutnya adalah mengkode data berdasarkan buku kode yang telah disusun. Semua data dari kuesioner dipindahkan ke lembaran kode menggunakan petunjuk yang terdapat dalam buku kode.

Kode dapat diletakkan pada dua tempat. Ke dua pilihan penempatan kode tersebut adalah:

Menjadi Satu dengan Kuesioner.

Untuk memudahkan pengolahan maka tempat kode disiapkan pada tepi kanan lembaran kuesioner. Setiap pertanyaan disiapkan kotak-kotak yang menunjukkan pada kotak yang mana jawaban pertanyaan harus dikode. Kotak-kotak yang disediakan harus sesuai dengan jumlah angka (digit) kode untuk setiap jawaban pertanyaan. Misalnya umur responden yang diperkirakan di bawah seratus tahun (00 – 99) disediakan dua kolom atau kotak untuk mengisi dua angka.

Apabila pertanyaan terbuka, untuk mengatasi jawaban yang bervariasi (lebih dari satu digit) disediakan dua kolom atau

lebih. Untuk memudahkan dalam

(42)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 35

kolom sesuai dengan banyaknya kolom yang dapat ditampilkan dalam layar monitor.

Terpisah dari Kuesioner

Data dari kuesioner dipindahkan kedalam lembaran kode. Lembaran kode dapat terdiri dari 25 baris dan 80 kolom. Apabila data responden tidak lebih dari 80 kolom maka setiap lembaran kode dapat memuat 25 responden, dimana masing-masing responden menempati satu baris. Apabila setiap responden memerlukan lebih dari 80 kolom misalnya 200 kolom maka setiap responden memuat tiga baris.

Secara umum tugas seorang pemberi kode adalah:

membaca pertanyaan dalam kuesioner; memperhatikan jawaban yang diberikan oleh responden;

Pemberian kode dapat dilakukan dengan dua cara:

1. mulai baris kedua dan selanjutnya pada lembaran yang sama, atau

(43)

36 Modul DJFP. Tingkat Pertama

melihat pedoman dalam buku kode mengenai kode jawaban yang sudah ditentukan;

untuk pertanyaan terbuka, pemberi kode harus menafsirkan jawaban responden untuk memilih kode yang tepat;

memberi kode untuk jawaban yang sudah jelas pada kolom atau kotak tertentu di lembaran kode;

apabila ada kesulitan dalam menentukan kode jawaban yang tepat, perlu diberi catatan dan ditanyakan kepada pengawas; gunakan peralatan untuk memberi kode seperti pensil 2B, karet penghapus, peruncing pensil, dan lain-lain.

1.5 PENGOLAHAN DATA

Setelah menyusun buku kode dan memberi kode data, peneliti siap mengolah data. Ada beberapa tahap yang perlu dikerjakan oleh peneliti dalam pengolahan data. Berikut rincian tahapan tersebut.

1.5.1 Field Note4

(44)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 37

dituliskan oleh peneliti ketika menghadapi lapangan, sehingga sulit untuk diulang kembali. Di alam penulisan terdapat dua hal yang menjadi patokan, yang pertama adalah melakukan catatan secara e- dan konsisten serta yang ke dua memperhatikan kerangka penelitian yang dipergunakan. Yang terakhir ini berhubungan dengan metode penelitian yang dipergunakan. Penelitian yang menggunakan perspektif gender tentunya akan lebih fokus pada pilahan gender yang dapat dilakukan dalam tahapan penelitian. Banyak peneliti – tanpa menyadari bahwa cara dia membuat catatan ternyata dipengaruhi oleh perspektif yang dipelajarinya. Akan tetapi, ada dua hal yang selalu menjadi perhatian, yang pertama adalah menuliskan apa yang kita dengar dan lihat dan yang kedua adalah perilaku yang muncul baik dari peneliti berupa reaksi terhadap tindakan atau ucapan yang dibuat oleh subjek penelitian, - cara subjek penelitian memperlakukan peneliti.

Menurut Silverman,4 enam hal - - untuk - catatan lapangan

(45)

38 Modul DJFP. Tingkat Pertama

dipelajari olehnya dan yang terakhir adalah kesimpulan apa yang - dibuat oleh peneliti. Silverman menyatakan,4 bahwa

catatan lapangan tidak hanya satu tetapi ada beberapa, yaitu:

Catatan lapangan yang dibuat ketika melakukan penelitian lapangan, catatan ini ringkas.

Catatan lapangan yang dibuat setelah peneliti sampai di tempat tinggalnya, catatan ini lebih luas dan panjang. Jurnal proses penelitian yang berisi masalah-masalah yang dihadapi di lapangan dan pikiran-pikiran apa yang muncul di lapangan.

Catatan tentang analisis dan interpretasi yang muncul.

1.5.2 Memasukkan Data ke Dalam Berkas (File) Data

1.5.2.1 Data Kuantitatif

Data kuantitatif yang sudah dikode di entry kedalam paket program komputer seperti SPSS/PC, maupun Dbase atau paket program komputer lainnya. Menyunting

data sebaiknya dalam bentuk American Standard Code for Information Interchange (ASCII) sehingga data dapat

diolah dan dianalisis lebih lanjut dengan program paket komputer.

1.5.2.2 Data Kualitatif

(46)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 39

yang dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Paket program untuk database sampai analisis data dalam penelitian kualitatif menggunakan program atau Nonnumerical Unstructures Data Indexing Searching

and Theory Building (NUD*IST). Software ini merupakan software yang fungsional dan berfungsi jamak untuk pengembangan menunjang dan manajemen proyek analisis data kualitatif mulai dari editing, koding sampai dengan analisis data. Untuk penggunaanya, bisa dilihat dalam analisis data kualitatif.

1.5.3 Membuat Tabel Frekuensi atau Tabel Silang

(47)

40 Modul DJFP. Tingkat Pertama

1.5.4 Menyunting dengan Cara Mengoreksi Kesalahan-Kesalahan dengan Menggunakan Tabel Frekuensi atau Tabulasi Silang

Pekerjaan berikutnya dalam pengolahan data adalah menyunting data hasil tabel frekuensi dan tabulasi silang. Apabila ditemui frekuensi data maupun tabulasi silang yang tidak konsisten antara satu tabel dengan tabel lainnya, maka data perlu disunting lagi. Kemungkinan kesalahan terjadi pada waktu mengisi kuesioner, memberi kode, dan memindahkan data dari lembaran kode ke komputer. Untuk menghilangkan kesalahan tersebut maka data perlu disunting baik secara manual maupun dengan komputer. Penyuntingan dilakukan dengan cara:

1.5.4.1 Untuk Tabel Frekuensi: Manual

(48)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 41

Contoh 1:

“Apakah ibu sedang hamil?”

Kode Jawaban Frekuensi

1 Ya 27

2 Tidak 741

3 Tidak tahu 4

Jumlah 772

Contoh 2

Jika “Ya”, “sudah berapa bulan hamil?”

Jumlah bulan hamil Kolom 1 Kolom 2

02 (4) 5

03 4 4

04 9 9

05 4 4

06 4 4

07 (3) 1

20 (1)

99 (743) 745

Jumlah 772 772

(49)

42 Modul DJFP. Tingkat Pertama

1.5.4.2 Penyuntingan Tabel Silang

Tabel silang dapat digunakan untuk mengoreksi hubungan yang tidak masuk akal antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel tidak bebas (dependent variable). Tabel-tabel yang akan diedit disusun berdasarkan variabel yang mempunyai hubungan. Sebagai contoh hubungan antara jumlah anak kandung lahir hidup dengan jumlah anak masih hidup seperti tabel di bawah ini.

Tabel 4. Jumlah Anak Lahir Hidup dan Jumlah Anak Masih Hidup

(50)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 43

ada satu responden mempunyai dua anak masih hidup. Dari kesalahan itu kita dapat melakukan penyuntingan dengan mengecek kembali ke kartu tabulasi atau kuesioner.

1.5.4.3 Menyunting Data dengan Komputer

Sebelum dianalisis data perlu dicek ulang dengan komputer. Pengecekan dapat dilakukan dengan memeriksa konsistensi antara variabel dengan variabel lainnya maupun hubungan antarvariabel. Paket program komputer menghasilkan tabel frekuensi dan tabel silang untuk semua variabel penelitian. Tabel-tabel tersebut dibandingkan dengan buku kode atau variabel yang satu dengan lainnya sehingga konsistensi antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dilakukan. Tabulasi silang antarvariabel juga dapat ditunjukkan melalui print out komputer sehingga hubungan antarvariabel yang tidak masuk akal dapat segera dikoreksi.

(51)

44 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Hasil print out komputer adalah sebagai berikut.

The raw data or transformation pass is proceeding 10 cases are written to uncompressed active file. ______________________________________________

This procedure was completed at 11:03:06

Keterangan:

ID : Nomor responden

(52)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 45

VAR2 : Jumlah anak

CEK : Variabel tambahan untuk mencek data

Misalnya ingin mengecek konsistensi antara variabel status kawin (VAR1) dengan jumlah anak (VAR2) dan menunjukkan nomor responden (ID) yang salah. Ketidaksesuaian antara VAR1 dan VAR2 ditunjukkan oleh variabel CEK. Apabila variabel CEK sama dengan 1 berarti ada ketidaksesuaian antara VAR1 dengan VAR2. Kesalahan data terletak pada responden nomor 6 dan nomor 8. Seharusnya responden yang tidak kawin

(53)

46 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Latihan 1.

A. Gunakan kertas terpisah untuk menjawab pertanyaan berikut.

Jawablah dengan singkat dan jelas.

Teknik pengolahan data ada dua cara, yaitu: 1. ...

2. ...

Tiga pertanyaan yang sebaiknya diajukan dalam penyuntingan data adalah:

3. ... 4. ... 5. ...

6. Buku kode adalah ... 7. Struktur buku kode adalah ...

8. ... 9. ... 10... 11. ... 12. ...

13. Sebutkan salah satu perbedaan antara metode kualitatif dan kuantitatif?

(54)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 47

B. Di bawah ini adalah Bagian Kuesioner dari Penelitian tentang Persepsi Masyarakat terhadap Iptek, Sebanyak Sepuluh Responden yang akan Diolah:

I. IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama Responden:

2. Jenis Kelamin: a. Laki-laki b. Perempuan 3. Umur : Tahun

4. Pendidikan formal terakhir: a.

SMU b. Diploma c. S1 d. S2 e. S3

5. Pekerjaan

Pegawai Negeri Pegawai Swasta Wirausaha Lainnya, sebutkan

II. PERSEPSI TERHADAP IPTEK

P

Apakah pendapat Saudara mengenai iptek dan media dalam negeri berikut ini? (Pilihlah jawaban dalam kotak dibawah dengan memberi tanda (√)

Sangat

Jawablah dengan singkat dan jelas:

1. Sebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyunting data!

(55)

48 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Ringkasan

Metode penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan data probalistik, cara penarikkan sampel dengan cara random. Data dioleh dengan menggunakan statistik. Sedangkan metode penelitian kualitatif adalah penelitian menggunakan data nonprobabilistik yang datanya diolah dengan berbagai macam cara seperti wawancara, foto, teks, dan sebagainya. Penelitian kuantitatif memberikan gambaran umum dan memungkinkan menarik generalisasi. Sedangkan penelitian kualitatif menggambarkan dengan detail tentang masyarakat atau kelompoknya tetapi tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan yang general.

Pengolahan data didahului dengan penyuntingan data tahap awal, pemberian kode, dan entry data. Penyuntingan data bertujuan untuk memeriksa kelengkapan data, konsistensi data, kesesuaian data jawaban dengan pertanyaan, dan jawaban yang tidak ada isiannya. Pemberian kode bertujuan untuk memudahkan pengolahan data dengan komputer baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Pemberian kode harus berpedoman kepada buku kode. Entry data dilakukan dengan paket-paket program pengolahan data sehingga memudahkan dalam penyajian dan analisis.

(56)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 49

intelektual. Setelah tahap pengolahan selesai dilakukan penyuntingan tahap ke dua. Penyuntingan tahap ke dua ini dilakukan dengan memeriksa tabel frekuensi, tabulasi silang, baik manual maupun dengan komputer.

Metode kualitatif berkembang sebagia reaksi terhadap paparan data yang diperoleh dari para pelancong. Ke sejarahnya metode ini berkembang sesuai dengan perkembangan mobilitas manusia yang menemukan daerah baru dan juga kolonialisme. Oleh karena itu posisi lian selalu menjadi pembicaraan yang menarik.

Memahami kesejarahan tersebut, metode ini mengangkat suara dari subjek penelitian, dari individu yang ditelitinya. Selain itu perkembangan metode ini juga sebagai kesempurnaan metode dimana suara individu tidak akan terlihat jika menggunakan metode kuantitatif. Oleh karena itu perbedaan ke duanya dapat dilihat mulai dari perspektifnya hingga hal yang teknis seperti pengambilan sampel.

(57)

50 Modul DJFP. Tingkat Pertama

T

T

i

i

n

n

d

d

a

a

k

k

L

L

a

a

n

n

j

j

u

u

t

t

1.

Jika Anda

dapat

menyelesaikan Latihan 1 dan

menjawab

seluruhnya dengan bena

r maka Anda dianggap telah

dapat menguasai PB-Satu ini. Selamat, Anda

diperkenankan

melanjutkan ke PB-Dua

.

2.

Jika Anda hanya

dapat menyelesaikan Latihan 1 kurang

dari 12 soal

, Anda dianjurkan untuk

mengkaji ulang

PB-Satu

ini. Cobalah berkonsultasi dengan fasilitator.

3.

Selanjutnya, Anda dan tim belajar berlatih mengolah data

yang telah Anda siapkan sebelumnya.

(58)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 51

Penyajian Data

Komponen Penyajian Data Pengertian

(59)

52 Modul DJFP. Tingkat Pertama

P

P

r

r

o

o

s

s

e

e

s

s

B

B

e

e

l

l

a

a

j

j

a

a

r

r

D

Du

ua

a

2.1 PENGERTIAN PENYAJIAN DATA

2.1.1 Data Kuantitatif

Penyajian data merupakan output atau gambaran dari

pengolahan data. Melalui program komputer, data tersebut dapat

disajikan sesuai dengan keinginan kita. Pada umumnya,

penyajian data disajikan dalam bentuk tabel dan/atau grafik.

2.1.1.1 Tabel

Tabel yang disajikan itu adalah angka-angka yang

menggambarkan situasi atau kondisi saat tertentu.

Misalnya, keadaan penduduk Kabupaten A, Propinsi B

tahun 2005. Tabel itu bisa berupa tabel satu arah, dua

arah, dan seterusnya. Tabel itu pun dapat disusun:

secara alfabetis

secara geografis

secara historis

menurut besar ke kecil atau kecil ke besar

atas dasar kelas yang biasa digunakan

(60)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 53

Dalam penyusunan tabel harus memperhatikan

faktor-faktor berikut.

Judul tabel yang jelas;

Unit/ukuran yang jelas (ton, %, orang);

Format tabel yang sesuai;

sumber data dan catatan yang jelas.

2.1.1.2 Grafik/Gambar

Selain itu, diperlukan pula grafik atau gambar tentang

situasi yang diteliti agar lebih menarik dalam

penyajiannya dimana grafik tersebut dibedakan menurut:

diagram garis (curve, line-chart);

diagram balok (bar-chart);

diagram lingkar (pie diagram);

diagram gambar (pictograph);

peta statistik (statistical map);

Hampir sama dengan pembuatan tabel, maka

penggambaran grafik harus memperhatikan hal-hal

berikut.

Judul, sumber, dan catatan yang jelas;

Skala dan garis harus jelas

Pemberian tekanan pada penggambaran grafik

2.1.2Data Kualitatif

Data penelitian kualitatif berupa hasil wawancara,

pengamatan, dan dokumen seperti video atau foto. Hasil

wawancara setelah direkam perlu dipaparkan secara verbatim,

(61)

54 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Menurut Silverman,4 transkrip dari wawancara

merupakan tahap aal dari sebuah analisis. Selain dari

wawancara, transkrip merupakan dasar dari dua metode

penelitian, yang pertama adalah analisis percakapan

(conversation analysis) dan analisis wacana (discouse analysis).

Transkrip merupakan public record yang dapat diakses oleh

komunitas ilmu pengetahuan. Yang ke dua dengan menggunakan

rakaman, maka peneliti lain dapat mendengar ulang dan

menyempurnakan hasil transkrip yang awalnya tidak terdeteksi.

Dan yang ketiga peneliti lain dapat menggunakan penggalan dari

transkrip yang berbeda dari peneliti yang pernah menggunakan

data ini.

Penyajian data menjadi penting karena peneliti perlu

menyadari akan kemungkinan pendapatnya yang apriori

terhadap situasi yang ditelitinya. Oleh karena itu apa yang

ditampilkan oleh sajian data menjadi patokan yang penting, apa

yang diungkapkan oleh subjek penelitian adalah pemaknaan yang

dimiliki olehnya. Bahkan Silverman menunjukkan bahwa

penyajian data di dalam kelompok juga penting, dimana peneliti

mengemukakan data dan memperdengarkan hasil rekamannya.4

Di dalam dikusi kelompok ini, pembicaraan harus berdasarkan

data yang dimiliki dan kemudian berdasarkan data tersebut,

peneliti lain bisa mengangkat data lain atau menambahkan dari

bacaan yang mereka miliki.

Di dalam proses ini peneliti perlu memperhatikan

(62)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 55

merupakan salah satu sajian data yang penting di dalam

penelitian kualitatif. Bahkan di dalam tradisi ini kasus yang aneh

merupakan sebuah tantangan yang dicari untuk memperlihatkan

fenomena yang terjadi di masyarakat.9

Dalam penelitian kualitatif, peneliti diharapkan bersikap

jujur, reflektif, dan menyadari posisi peneliti di dalam proses

analisis yang dilakukan.9 Penelitian mungkin menghasilkan data

yang serupa dengan penelitian yang sudah dilakukan, tetapi yang

penting adalah peneliti mendeskripsikan proses penelitiannya

sehingga sampai pada analisis dan kesimpulan yang

diperolehnya. Penulisan yang deskriptif ini merupakan akses bagi

peneliti lain untuk memahami proses penelitian yang terjadi.

Peneliti menggunakan dan mengamati datanya bekerja dengan

keterampilan dan ketekunan. Peneliti perlu menyadari kegalauan

apakah data menggambarkan fenomena yang menarik, apakah

cara penyajiannya sudah menggambarkan situasi tersebut,

apakah paparannya menarik, menggugah, dan sudah

menggambarkan proses penelitian, bagaimana peneliti sampai

pada kesempulan dan rekomendasi yang diambilnya.

2.2 KOMPONEN PENYAJIAN DATA

Terdiri dari berbagai komponen berikut.

2.2.1 Judul

Judul tabel harus jelas, yaitu menggambarkan atau

mencerminkan tentang situasi atau kondisi yang sedang

(63)

56 Modul DJFP. Tingkat Pertama

itu dikumpulkan? dalam satuan apa? (persen, kg,

juta/miliar rupiah), dan lainnya.

2.2.2 Isi atau substansi tabel.

Adalah uraian data yang disajikan harus jelas dan akurat,

apakah dalam bilangan bulat, satu digit, dua digit, dan

seterusnya.

2.2.3 Sumber data.

Apakah dikumpulkan sendiri (data primer) atau merujuk

pada temuan instansi atau orang lain (data sekunder), serta

kapan data tersebut dikumpulkan atau dirujuk?

Perhatikan contoh berikut dan perhatikan teknik penyajian yang

berbeda-beda.

Tabel 5 arah (distribusi frekuensi) dari isian kuesioner tentang

pendapatan keluarga dari sebuah Survei Pendapatan di

Kelurahan X, Kecamatan Y, Propinsi Z tahun 2010 seperti

disajikan pada tabel 1.

Tabel 5. Pendapatan Penduduk Kelurahan X, Kecamatan Y, Kabupaten Z, 2010 (Rp juta)

Pendapatan (juta rp) Jumlah

(64)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 57

Lihatlah Tabel 6 yang merupakan perubahan Tabel 5 yang

menjadi tabel dua arah.

Tabel 6. Pendapatan Penduduk menurut Status Pekerjaan

Kelurahan X, Kecamatan Y, Kabupaten Z, 2010 (Rp juta)

Pendapatan Petani PNS Buruh Kary. Pgsh Lain Jml

Selanjutnya, Tabel 6 yang berupa tabel dua arah diubah menjadi

Tabel 7 atau tabel empat arah sehingga penampilannya berbeda.

Tabel 7. Pendapatan Penduduk menurut Status Pekerjaan dan Jenis

Pekerjaan Kel X, Kec Y, Kab Z, 2010 (Rp juta)

Pend

(65)

58 Modul DJFP. Tingkat Pertama

2.3 BENTUK PENYAJIAN DATA

2.3.1Dalam Tabel

Penyajian data sangat penting dalam laporan

penelitian. Sebabnya, tanpa penyajian data, maka bisa

diartikan bahwa data yang dikumpulkan dan diolah

tersebut sesuatu yang absurd atau tidak masuk akal. Oleh

sebab itu, penyajian data merupakan langkah penting

dalam sebuah penelitian. Semua pembaca akan selalu

melihat data yang disajikan dalam laporan tersebut,

misalnya data tentang utang luar negeri Indonesia yang

sangat besar, tetapi besarnya itu berapa?

Data yang disajikan menggambarkan tentang situasi

dan kondisi sesuatu yang diteliti. Misalnya data penduduk

kota besar di Indonesia pada tahun 2010. Data tersebut bisa

disajikan dalam tabel secara alfabet, geografis, historis, dari

besar ke kecil atau kecil ke besar, dan lainnya. Di sini,

disajikan data tentang jumlah penduduk dan lainnya sesuai

dengan pembagian judul di atas.

Contoh tabel yang disajikan menurut alfabet, geografis, historis, dari

besar ke kecil.

(66)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 59

Tabel 8. Jumlah Penduduk ASEAN, 2005-2008 (juta orang)

Negara 2005 2006 2007 2008

Sumber: ASEAN Statistical Year Book, 2008

Tabel 8 menginformasikan jumlah penduduk

negara-negara ASEAN menurut alfabet sehingga dengan

mudah kita bisa membaca trend penduduk negara-negara

ASEAN itu. Tabel 8 menyajikan informasi secara

geografis, yaitu dari barat arah ke timur kemudian ke

selatan yang bisa juga digunakan dalam pembagian waktu.

Sedangkan Tabel 9 bersifat historis guna mengetahui lebih

jauh tentang dinamika masalah itu.

(67)

60 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Tabel 9. Jumlah Penduduk ASEAN menurut Negara,

2000-2008 (juta orang) - (geografis)

Negara 2000 2008 Sumber: idem Tabel 8

Tabel 10. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi ASEAN-3,1996-2003

(%)

Tahun Indonesia Malaysia Singapore

1996

Tabel 10 menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi

tahun 1996-2003. Terlihat laju pertumbuhan terendah

yaitu, terjadi pada tahun 1998 akibat krisis, tetapi

Indonesai tertinggal dalam pemulihan ekonominya

(68)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 61

Kemudian tabel menurut urutan dari besar ke kecil

seperti negara yang memiliki pendapatan paling tinggi ke

pendapatan paling rendah seperti dalam tabel di bawah.

Tabel 11. Pendapatan per Kapita di ASEAN-5, 1996-2002

Negara 2000 2002 Sumber: idem tabel 8

Tabel 11 adalah tabel yang disusun berdasarkan

kelas yang digunakan atau yang biasa dipakai dalam

standar internasional.

Tabel 12. Pekerja Berpendidikan menurut Sektor, 2000 (%)

Sektor Akademi/Dip PT/D-4

Pertanian

Pertambangan dan Galian Manufaktur

Listrik, Gas dan Air Bangunan

Perdag, Hotel dan Restoran Angk, Gudang dan Komunikasi Keuangan, Asur & Jasa Perus. Jasa Kemasy, Sos & Perorangan

(69)

62 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Tabel 12 memperlihatkan bahwa jumlah pekerja

yang berpendidikan tinggi banyak bekerja di sektor jasa

kemasyarakatan, sosial dan perorangan di mana sebagian

besar dari mereka bekerja sebagai pegawai negeri dan

karyawan Badan Usaha Milik Negara.

2.3.2Dalam Grafik

Data yang disajikan dalam grafik bisa berbentuk

kurva, diagram batang, diagram lingkar dan lainnya. Data

yang digambarkan dalam grafik atau kurva bisa dilihat

dalam diagram dibawah dimana Tabel 8 di atas diubah dan

bisa digambarkan berikut.

Tabel 13. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN-3, 2002-02(%)

Negara 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Indonesia 7,8 4,7 -13,1 0,8 4,9 3,4 3,7 3,4

Malaysia 10,0 7,3 -7,4 6,1 8,5 0,3 4,1 4,0 Singapore 7,7 8,5 -0,9 6,4 9,4 4,5 4,4 4,5

Sumber: idem Tabel 8

Tabel 13 di atas bisa digambarkan dalam kurva atau

(70)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 63 Grafik 1. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi ASEAN-5,

1996-2002 (%)

Kemudian, tabel pendapatan per kapita di negara

ASEAN-5 antara tahun 1996-2002 bisa dilihat dalam Tabel

14.

Tabel 14. Pendapatan per Kapita di ASEAN-5, 1996-02

Negara 1996 1998 2000 2002

Indonesia 1.167 488 731 819

Malaysia 4.766 3.257 3.874 3.914

Singapura 25.127 20.892 22.757 20.515

Thailand 3.134 1.900 2.026 2.043

Filipina 1.184 896 980 974

Sumber: idem Tabel 8

Tingkat Pertumbuhan Ekonomi di

ASEAN-3, 1996-2002 (%)

-15 -10 -5 0 5 10 15

1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Indonesia Malaysia

(71)

64 Modul DJFP. Tingkat Pertama

Tabel 14 bisa digambarkan dengan bar-chart

berikut.

Grafik 2. Pendapatan per Kapita di ASEAN-5, 1996-2002 (US$)

Sementara diagram lingkar tentang jumlah turis

yang datang ke ASEAN bisa dilihat dalam pie diagram

berikut.

Tabel 13. Jumlah Turis di ASEAN-5, 2001

Negara Jumlah (ribu)

Indonesia 5.154

Malaysia 12.775

Singapura 7.519

Thailand 10.062

Filipina 1.797

Sumber: idem Tabel 8

Pendapatan per kapita di ASEAN-5 1996-2002

0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000

1996 1998 2000 2002

(72)

Pusbindiklat Peneliti - LIPI 65

Data di atas dapat diubah dalam bentuk diagram

lingkar seperti gambar di bawah.

Grafik 3. Jumlah Turis di ASEAN-5, 2001 (ribu)

Selanjutnya, diagram gambar adalah tabel yang

digambarkan seperti aslinya misalnya jumlah penduduk

dalam gambar orang, uang beredar digambarkan dalam

uang.

Tabel 16. Jumlah Turis di ASEAN-5 menurut Jenis Kelamin, 2001

Negara Laki -laki Perempuan Jumlah

Indonesia 2,7 2,5 5,2

Malaysia 6,4 6,4 12,8

Singapura 3,6 3,9 7,5

Thailand 5,2 4,9 10,1

Filipina 1,0 0,8 1,8

Sumber: idem Tabel 8

Jumlah Turis di ASEAN-5, 2001

5,154

12,775 7,519

10,062

1,797

Indonesia Malaysia Singapura

Gambar

Tabel 2.  Perbedaan Perspektif Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Gambar 1. Perbedaan Penelitian dengan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Tabel 3.  Buku kode untuk pengolahan dengan komputer
Tabel silang
+7

Referensi

Dokumen terkait