PERMOHONAN PETITUM
IV. UNDANG-UNDANG ADVOKAT SUDAH TIDAK SELARAS DENGAN HUKUM; BERTENTANGAN DENGAN HUKUM SERTA UNDANG-UNDANG
4. PERADI Untuk Standar Profesi. Bila organisasi lain masih tetap exist untuk pendidikan hukum dan profesi dalam arti yang luas maka PERADI sesuai amanat UU
Advokat adalah untuk memastikan adanya standar profesi advokat. Oleh karena itu, klausula ”satu-satunya” dalam UU Advokat adalah untuk mewujudkan adanya standar profesi advokat ini, bukan untuk meniadakan hak untuk membentuk organisasi lain dari pare advokat. Standar profesi ini seperti seleksi menjadi advokat yang dilakukan bekepasama dengan universitas dan atau organisasi advokat lain, pengawasan advokat dan atau pendisiplinan dan penegakan perilaku advokat yang melanggar melalui adanya satu kode etik dan dewan kehorrnatan.
Tentang dewan kehormatan ini, sesuai ketentuan UU Advokat majelis yang akan memeriksa pelanggaran kode etik komposisinya terdiri dari advokat (dewan kehonnatan), pakar, atau tenaga ahli di bidang hukum dan tokoh masyarakat. Salah satu tokoh atau ahli di bidang hukum serta tokoh masyarakat sebagai anggota dewan kehormatan PERADI yaitu Fajrul Falaakh, S.H.,M.A.
Sebagaimana pendapat Prof. Sahetapy dalam sidang ini bila standar profesi ini tidak ”satu-satunya” maka advokat itu akan bisa seperti ”bajing loncat”. Artinya, bila dewan kehormatan profesi mengadili seseorang advokat karena pelangaran kode etik maka tinggal ”loncat” ke wadah yang lain atau bentuk wadah baru dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia maka loloslah dia tetapi namanya akan menjadi advokat bajing loncat. Bila semua advokat bajing loncat maka runtuhlah negara hukum kita karena profesi advokat telah disfungsional tidak lagi seperti yang selalu diagung-agungkan sebagai officum nobile.
Semua kita sudah mengetahui hal ini sesuneguhnya tapi sering lupa atau dilupakan. Oleh karena itu dari waktu ke waktu ”satu-satunya” standar profesi ini terus menerus diusahakan tetapi hanya karena kepentingan individual dan yang mungkin dimanfaatkan pihak lain atau karena kepentingan sesaat maka hal ini selalu tidak berhasil sampai dengan IKADIN ikut membentuk PERADI. Agaknya dengan proses yang dihadapi sekarang ini agaknya ingin melakukan pengulangan ”sejarah kelam” itu.
5. Organisasi Advokat "satu-satunya" untuk standar profesi adalah untuk kepentingan masyarakat. Pada dasarnya kehadiran profesi termasuk profesi
advokat adalah untuk melayanani dan melindungi kepentingan masyarakat. Dengan kata lain di balik praktek advokat ada kepentingan masyarakat yang lebih luas yang harus dilayani dan dilindungi. Bisa dibayangkan bila ”advokat bajing loncat” diperkenankan bagaimanakah nasib kepentingan masyarakat ini. Bagaimana wajah penegakan hukum kita; bagaimana wajah negara hukum kita. PERADI didirikan dan didukung IKADIN adalah untuk kebutuhan ini yang sudah dimanatkan dalam UU Advokat dan adalah merupakan hak konstitusional masyarakat bukan pribadi-pribadi advokat. Bila organisasi untuk pribadi-pribadi advokat tertentu artinya organisasi advokat telah disandera menjadi sama seperti partai politik. Oraganisasi advokat bukan partai politik yang menurut keterangan salah sateu ahli dalam sidang ini hanya berfungsi ketika ada pemilu. Organisasi profesi advokat yang berfungsi menjamin senantiasa terselenggaranya standar profesi harus berfungsi setiap saat, bukan waktu-waktu tertentu.
Penutup. Sebagai tambahan keterangan sebelum penutup, bagaimana kehadiran PERADI sebagai organisasi profesi dimasyarakat sejauh ini, dikutip pernyataan Chandra Hamzah, S.H., salah seorang pimpinan KPK ketika memberikan kata sambutan dalam salah satu acara PERADI beberapa waktu yang lalu. Dia menyatakan bahwa dengan seleksi menjadi advokat yang diselenggarakan PERADI dan pelaksanaan kode etik, sekarang menjadi advokat suatu kebanggaan karena yang lulus adalah yang sungguh berprestasi. Lulus advokat lebih bangga ketika lulus sebagai sarjana hukum. Dengan prestasi yang baik biasanya akan akan cenderung lebih tinggi untuk menghonnati kode etiknya karena tidak mau menodai prestasi yang dicapainya itu.
Akhirnya sebagai penutup Pihak Terkait IKADIN ingin mengajak kita semua khususnya sejawat advokat untuk merenungkan dalam konteks saat ini manakah di antara dua maksim hukum ini yang paling tepat kita pedomani, fiat juslilia et ruat caelum yang artinya keadilan harus ditegakkan sekalipun langit runtuh atau fiat justitia ne pereat mundus, keadilan harus ditegakkan agar dunia tidak runtuh.
[2.10] Menimbang bahwa terhadap permohonan para Pemohon, Pihak Terkait Serikat Pengacara Indonesia (SPI) menyampaikan keterangan tertulis sebagai berikut:
1. SPI dalam Rapat Pimpinan pada tanggal 26 September 2004 telah merekomendasikan kepada DPP SPI untuk mendukung pembentukan wadah
tunggal organisasi Advokat pasca diundangkannya UU Advokat dengan rekomendasi Rapat Pimpinan memberikan suatu kewenangan kepada Dewan Pimpinan Pusat (“DPP”) untuk mengambil tindakan yang perlu dalam rangka pembentukan wadah organisasi tunggal Advokat dan atas kewenangan tersebut harus dipertangungjawabkan pada Kongres selanjutnya;
2. Bahwa pada waktu itu telah terbentuk Komite Kerja Advokat Indonesia (“KKAP”) yang didirikan oleh 8 (delapan) organisasi profesi, yakni Ikatan Advokat Indonesia (“IKADIN”), Asosiasi Advokat Indonesia (“AAI”), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (“IPHI”), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (“AKHI”), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (“HKHPM”), Serikat Pengacara Indonesia (“SPI”), dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (“APSI”);
3. Bahwa, dalam proses Verifikasi Advokat sebagai amanat UU Advokat oleh KKAI untuk mengelola buku daftar advokat, SPI telah mendaftarkan 1.100 (seribu seratus) orang Advokat, Pengacara Praktik dan Penasihat Hukum untuk diproses menjadi anggota KKAI yang sekarang bernama Perhimpunan Advokat Indonesia (“PERADI”);
4. DPP SPI kemudian yang diwakili Trimedya Panjaitan, S.H., sebagai Ketua Umum dan Sugeng Teguh Santoso, S.H., sebagai Sekretaris Jenderal bersama-sama dengan pimpinan 7 (tujuh) organisasi lainnya yang tergabung di KKAI menandatangani Deklarasi berdirinya satu-satunya wadah profesi advokat bernama PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia);
5. Bahwa, hal pembentukan organisasi tunggal yang bemama PERADI kemudian dilaporkan oleh Ketua Umum DPP SPI dalam Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus DPP SPI peiode 2001-2005 yang diterima oleh Sidang Pleno Kongres III SPI pada tanggal 26 Juli 2006 di Jakarta;
6. Bahwa, Terkait dengan permohonan Pemohon dalam perkawa a quo, SPI berpendapat bahwa Pasal 28 ayat (1), Pasal 32 ayat (4), Pasal 30 ayat (2) UU Advokat, yang dimohonkan Pemohon dalam Perkara Nomor 66, 71, dan 79/PUU-VIII/2010 tidak bertentangan dengan UUD 1945, tidak memiliki masalah konstitusionalitas, karena SPI sendiri berpendapat hak-hak SPI sebagai organisasi tidak merasa dikurangi dengan terbentuknya PERADI;
7. Bahwa, SPI berpendapat diperlukan wadah tunggal organisasi yang diberikan kewenangan untuk menyelanggrakan pendidikan profesi, menyelenggarakan ujian profesi, mengangkat Advokat, memeriksa pengaduan, mengawasi, menindak dan
memeberhntikan Advokat sesuai kewenangan yang ditentukan dalam UU Advokat pada satu-satunya` organisasi Advokat agar terjadi ketertiban dan pengawasan yang kuat terhadap para Advokat;
8. DPP SPI saat ini menyatakan diri bahwa SPI yang sifatnya paguyuban, tempat berkumpulnya para Advokat anggota SPI untuk mengembangkan keterampilan, dan SPI tidak berekspektasi untuk memiliki kewenangan publik yang diamanatkan oleh UU Advokat kepada PERADI. Jika kewenangan publik diberikan kewenangan kepada banyak oragniasai seperti SPI, IKADIN dan lain-lainnya atau tidak tunggal, maka pengawasan untuk melindungi penguna jasa hukum yaitu masyarakat akan lemah dan masyarakat yang akan dirugikan. Karena jika terdapat lebih dari satu organisasi yang memiliki wewenang UU Advokat, akan banyak advokat yang berpindah dari satu organisasi ke lainnya.
[2.11] Menimbang bahwa para Pemohon menyampaikan kesimpulan tertulis yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 19 Mei 2011 yang pada pokoknya menyatakan tetap dengan pendiriannya;
[2.12] Menimbang bahwa para Pihak Terkait PERADI, KAI, HAPI, IPHI, PERADIN, IKADIN I, menyampaikan kesimpulan tertulis yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 19 Mei 2011, 23 Mei 2011, dan 27 Mei 2011 yang pada pokoknya masing-masing Pihak Terkait menyatakan tetap dengan pendiriannya;
[2.13] Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian dalam putusan ini, segala sesuatu yang terjadi di persidangan cukup ditunjuk dalam berita acara persidangan, yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan putusan ini;