Pendahuluan
Permasalahan yang di formulasikan dalam aspek sumberdaya manusia dan kelembagaan, aspek pelayanan dan aspek fasilitas. Permasalahan-permasalahan tersebut dihasilkan dari obeservasi lapang, analisis data statistik kinerja operasional pelabuhan dan melibatkan pengetahuan stakeholder akan pengembangan pelabuhan. Permasalahan yang terdapat pada rich picture
merupakan ungkapan permasalahan yang di dapatkan pada tahap SSM. Pelabuhan sebagai suatu kesatuan dari berbagai aspek yang dipenuhi dengan kekompleksitasan masalah didalamnya memerlukan suatu tindakan nyata yang mampu menyelesaikan keseluruhan masalah tersebut. Pembahasan pada bab ini bertujuan untuk membuat model konseptual sebagai tindakan penyelesaian terhadap permasalahan yang telah diformulasikan pada bab sebelumnya. Model konseptual merupakan pemikiran secara teoritis terhadap situasi yang terjadi di dunia nyata yang berperan sebagai solusi awal untuk suatu permasalahan. Perumusan model konseptual ini diharapkan dapat memberikan langkah perubahan berupa strategi yang dijalankan untuk memperbaiki sistem.
Menurut Checkland dan Poulter (2006), analisis data dalam SSM dapat dilakukan melalui beberapa tahapan hingga akhirnya tahapan tersebut dapat divalidasi keakuratan informasinya. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu membangun konsep pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di parairan Sumatera bagian Barat yang dianalisis dengan menggunakan pendekatan Soft System Methodology (SSM). Soft System Methodology (SSM) merupakan alat analisis untuk suatu model, namun beberapa tahun selanjutnya digunakan sebagai suatu alat analisis pengembangan (Wiliams 2005). SSM tahap kesatu dan tahap kedua merupakan bagian dari tahap dunia nyata (real world). Pada tahap real world ini, peneliti mengungkapkan permasalahan yang terjadi dan ditemukan di lokasi penelitian. Selanjutnya, masuk ke dalam tahap ketiga dan keempat yaitu tahap berpikir serba sistem (system thinking). Dalam bab ini disajikan dua tahap SSM yaitu hasil tahap tiga: menyusun root definition, dan hasil tahap empat: menyusun model konseptual.
Pelaksanaan strategi dalam model konseptual harus berdasarkan karakteristik pelabuhan dan kebutuhan seluruh pihak yang terkait pada suatu pengembangan pelabuhan. Hal ini bertujuan agar seluruh pihak tidak ada yang merasa dirugikan dan tujuan sistem pengembangan pelabuhan perikanan yang baik dapat tercapai secara optimal. Keterlibatan secara aktif dari seluruh pihak sangat diperlukan untuk menjalankan strategi yang disarankan.
57
Metode
Pengungkapan permasalahan yang digambarkan dalam rich picture akan dianalisis lebih lanjut dengan root definitions. Checkland (2000) dalam Widjajani
et al. (2009) mengemukakan bahwa root definition dibangun sebagai suatu ekspresi dari aktivitas bertujuan terhadap suatu proses transformasi (T). Root definition dinyatakan dengan spesifikasi yang lebih luas sehingga T dapat dielaborasi dengan mendefinisikan elemen-elemen lain yang membentuk CATWOE (customers, actors, transformation process, weltanschauung, owners, and environmental constraints). Customers merupakan pihak yang menerima dampak proses transformasi; actors adalah orang yang melakukan aktivitas- aktivitas pada proses transformasi; transformation process merupakan proses yang mengubah input menjadi output; weltanschauung adalah sudut pandang, kerangka kerja, atau image yang membuat proses transformasi bermakna; owners
adalah orang yang memiliki kepentingan terbesar terhadap sistem dan dapat menghentikan proses transformasi, dan environmental constraints adalah elemen- elemen diluar sistem yang dapat mempengaruhi tetapi tidak dapat mengendalikan sistem tersebut atau dapat dinyatakan sebagai apa adanya (given). Definisi juga dinyatakan dalam bentuk PQR, yaitu melakukan P dengan menggunakan Q untuk dapat berkontribusi dalam mencapai R.
Analisis root definitions (RDs) dengan PQR, CATWOE dan kriteria 3E (efficacy, effectiveness, dan efficiency)
Analisis PQR, dengan formula yaitu (a) mengerjakan P dengan Q untuk mewujudkan R; dan (b) dimana PQR menjawab pertanyaan apa, bagaimana, dan
mengapa. Selanjutnya, supaya RDs yang disusun benar-benar dapat digunakan sebagai dasar pembuatan model konseptual, maka RDs tersebut pelu diuji dan disempurnakan dengan alat bantu analisis CATWOE (customers, actors, transformation, weltanschauung atau worldview, owners, dan environmental constraints).
Alat bantu CATWOE ini merupakan alat bantu pengingat (memotic) supaya RDs yang dibuat benar-benar menggambarkan sebuah sistem aktivitas manusia yang relevan yang kita pilih. Kemudian perlu dilanjutkan dengan pertanyaan kriteria pengukuran kinerja bekerjanya sistem aktivitas yang punya maksud tersebut, umumnya digunakan tiga criteria E (Efficacy, Effectiveness, dan
Efficiency).
Penyusunan model konseptual
Model konseptual dibangun dari gagasan peneliti sendiri dan disesuaikan dengan aturan formal yang berlaku, sehingga gagasan system thinking menjadi penting. Bagi Checkland dan Poulter (2006), system thinking didasari atas dua pasang gagasan yaitu emergency properties berpasangan dengan hierarchy
(disebut juga layer structure dalam Checkland dan Poulter 2006), dan
communication berpasangan dengan control (Checkland dan Scholes 1990). Dua pasang gagasan ini membutuhkan sistem untuk keberlangsungan hidup sistem tersebut.
Menurut Checkland dan Scholes (1990), model konseptual adalah model yang menggambarkan kegiatan sistem dimana elemen-elemen adalah kata kerja. Kegiatan tersebut dibuat berdasarkan root definition dan struktur kata kerja mengacu pada logic base. Model konseptual terhadap sistem pengembangan
58
pelabuhan perikanan di PPS Bungus dibuat berdasarkan root definitions tersebut. Model tersebut merupakan rekomendasi solusi terhadap permasalahan yang terjadi pada sistem pengembangan pelabuhan perikanan. Model konseptual yang diperoleh pada penelitian ini didasarkan pada permasalahan tiap aspek yang diteliti. Tujuannya untuk memudahkan pelaku atau pihak yang terkait untuk memperbaiki sistem pengembangan pelabuhan perikanan.
Hasil
Root definitions (RDs)
Tahap ini merupakan siklus kedua dari keseluruhan proses recoverability. Tahapan ini berisi diskusi tentang systems thinking about real word. Tahap ketiga dalam SSM ini, peneliti akan menentukan root definitions (RDs). RDs adalah deskripsi terstruktur dari sebuah sistem aktivitas manusia yang relevan dengan situasi permasalahan yang menjadi perhatian di dalam penelitian SSM yang berbasis tindakan.
RDs merupakan satu-satunya cara untuk menggambarkan sistem untuk membantu proses pemodelan sistem. Checkland dan Poulter (2006) menyarankan supaya digunakan rumus umum PQR dalam menyusun sebuah RDs. Formula PQR yaitu mengerjakan P dengan Q untuk mewujudkan R. Dalam konteks penelitian pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat dengan menggunakan rich picture, penelitian ini mengelompokkan real world dalam dua sistem yang paling relevan.
Berdasarkan dua sistem yang paling relevan yaitu sistem yang berjalan di (1) Pemerintah pusat dan daerah; (2) Pelaku usaha dan nelayan dihasilkan RDs dengan memperhatikan elemen CATWOE untuk menganalisa proses transformasi.
Pemerintah pusat (PPS Bungus) dan DKP Provinsi; Pelaku usaha dan nelayan.
1. Aspek SDM dan kelembagaan 2. Aspek pelayanan
3. Aspek fasilitas
Permasalahan pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna yang telah disebutkan pada Tabel 15 diatasi melalui root definitions(RDs), yaitu sebagai berikut:
a. Root definition 1, peningkatan kualitas sumberdaya manusia pengelola pelabuhan untuk dapat memberikan pelayanan yang baik melalui peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia.
b. Root definition 2, peningkatan koordinasi antar lembaga/antar sektor untuk dapat melakukan pengembangan secara integrasi.
c. Root definition 3, peningkatan/menarik kapal tuna untuk masuk ke PPS Bungus melalui kesiapan fasilitas pelabuhan agar tercapainya optimalisasi penggunaan fasilitas sebagai pusat pendaratan ikan tuna.
d. Root definition 4, pengembangan dan pengoptimalisasikan lahan pelabuhan untuk industri serta penyediaan fasilitas melalui kerjasama dengan pihak swasta.
60
Model konseptual
Model konseptual yang dibangun dalam tahapan ini tanpa merujuk pada dunia nyata (real world), tetapi dibangun dari ide/gagasan peneliti berdasarkan teori yang digunakan (Nee 2003) dan aturan formal yang berlaku, sehingga gagasan berpikir serba sistem (systems thinking) menjadi penting dalam tahapan ini. Hasil model konseptual pada pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna dibuat berdasarkan root definitions (RDs) yaitu :
1) Root definition1terlihatpadaGambar 13 merupakan permasalahan sumberdaya manusia pengelola PPS Bungus dapat diatasi dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas. Agar tercapainya peningkatan tersebut maka dilakukan melalui pelatihan dan keterlibatan stakeholder. Kegiatan sistem pada model konseptual sumberdaya manusia adalah sebagai berikut:
Identifikasi kebutuhan kompetensi pengelola pelabuhan.
Identifikasi kebutuhan kompetensi pengelola pelabuhan melalui peningkatan kapasitas dan kapabilitas tenaga kerja di PPS Bungus. Hal ini berkaitan dengan kompetensi para pekerja di PPS Bungus, yang untuk lulusan perikanan hanya sebagian kecil dari tenaga kerja.
Perencanaan peningkatan dan pemenuhan kompetensi.
Perencanaan peningkatan dan pemenuhan kompetensi ini agar terciptanya sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan di bidangnya. Hal ini juga berkaitan dengan daya kemampuan dalam berpikir untuk pengembangan pelabuhan 10 tahun akan mendatang.
Penyiapan fasilitas dan anggaran.
Fasilitas dan anggaran sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang diberikan dari menteri sehingga hal ini perlu adanya evaluasi dari menteri untuk kebijakan dalam pemenuhan sumberdaya manusia.
Mengidentifikasi sasaran pembelajaran dari program pelatihan.
Sasaran pembelajaran yang terkait dengan tujuan dari pelabuhan perikanan untuk kedepannya dengan merencanakan dan melaksanakan tujuan tersebut agar tercapai.
Pelaksanaan pelatihan dan perekruitmen.
Pelatihan dan perekruitmen hendaklah berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh orang-orang yang dapat meningkatkan kemampuan di dalam bidang operasional pelabuhan.
Berhasil atau tidaknya model konseptual ini dapat diukur melalui kriteria efikasi (E1) dimana kualitas sumberdaya yang meningkat melalui interaksi
dengan lembaga; efisiensi (E2) menggunakan SDM, sumber keuangan, dan
waktu yang minimum; dan efektif (E3) hingga tercapainya peningkatan
kualitas sumberdaya manusia.
Kebutuhan tenaga kerja berdasarkan data sekarang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dimana untuk sarjana teknis hanya terdapat 10 orang saja dan sarjana non teknis 12 orang. Sumberdaya manusia di PPS Bungus masih mengalami kekurangan, hal ini perlu adanya peningkatan jumlah tenaga kerja yang berkompeten sesuai dengan latar belakang pendidikan yang sama. Tenaga kontrak di PPS Bungus sebanyak 38 orang dan di dominasi oleh pendidikan SLTA non teknis dengan jumlah 29 orang. Hal ini akan berkaitan dengan pencapaian dalam kinerja suatu pelabuhan perikanan.
61
Gambar 13 Model konseptual peningkatan sumberdaya manusia
Permasalahan kekurangan pegawai pada tugas kesyahbandaran maka menurut Keputusan Menteri Aparatur Negara Nomor 75 Tahun 2004. Perhitungan dengan metoda umum adalah perhitungan untuk jabatan fungsional umum dan jabatan fungsional tertentu yang belum ditetapkan standar kebutuhannya oleh instansi Pembina. Perhitungan kebutuhan pegawai dalam jabatan tersebut menggunakan acuan dasar data pegawai yang ada serta peta dan uraian jabatan. Oleh karena itu, alat pokok yang dipergunakan dalam menghitung kebutuhan pegawai adalah uraian jabatan yang tersusun rapi. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menghitung kebutuhan pegawai adalah mengidentifikasi beban kerja melalui pendekatan hasil kerja.
Hasil kerja adalah produk atau output jabatan. Metoda dengan pendekatan hasil kerja adalah menghitung formasi dengan mengidentifikasi beban kerja dari hasil kerja jabatan. Metoda ini dipergunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya fisik atau bersifat kebendaan, atau hasil kerja non fisik tetapi dapat dikuantifisir. Metode ini efektif dan mudah digunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya hanya satu jenis. Dalam menggunakan metode ini, informasi yang diperlukan adalah: - wujud hasil kerja dan satuannya;
- jumlah beban kerja yang tercemin dari target hasil kerja yang harus dicapai; - standar kemampuan rata-rata untuk memperoleh hasil kerja.
3 Penyiapan fasilitas dan anggaran. 4 Mengidentifikasi sasaran pembelajaran dari program pelatihan. 5 Pelaksanaan pelatihan dan perekruitmen. 2 Perencanaan peningkatan dan pemenuhan kompetensi. 1 Identifikasi kebutuhan kompetensi pengelola pelabuhan. Monitor 1-5 Take control action Define criteria: E1, E2, E3
62
Rumus menghitung dengan pendekatan metoda ini (KEP/MENPAN No.75/ 2004) adalah:
(Σ Beban kerja / Standar kemampuan rata-rata) x 1 orang Jabatan : Pengentri Data
Hasil kerja : Data entrain
Beban kerja/ Target Hasil : 100 data entrain setiap hari Standar kemampuan pengentrian : 30 data per hari
Perhitungannya adalah:
(100 data entrain / 30 data entrain) x 1 orang
= 3,33 dibulatkan menjadi 3 orang kebutuhan tenaga kerja entri data di kesyahbandaran.
2) Root definition2 terlihat pada Gambar 14 merupakan permasalahan rendahnya koordinasi antar lembaga/antar sektor. Permasalahan dapat diatasi melalui komunikasi dan pemahaman antar lembaga/antar sektor. Kegiatan pada sistem kelembagaan di PPS Bungus adalah sebagai berikut:
Meningkatkan komunikasi antar sektor pemerintahan dengan swasta.
Hubungan antara pemerintah daerah dan pusat haruslan bersinergi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Kekuatan untuk pengembangan pusat pendaratan ikan tuna berada pada tangan stakeholder agar bisa menjadikan Sumatera Barat maju untuk perikanan tuna.
Pemahaman antar lembaga/antar sektor.
Pemahaman ini dimaksudkan untuk dapat menentukan kebijakan yang tepat, yang dapat mendukung pengembangan perikanan tuna. Hal ini juga untuk menentukan visi dan misi dari sebuah pelabuhan perikanan.
Meningkatkan kemampuan bersama.
Kemampuan bersama dimaksudkan untuk memanfaatkan kekuatan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, sehingga kemampuan tersebut memiliki kekuatan dapat ditingkatkan kapasitasnya dalam pengembangan.
Peningkatan investasi dan akses modal.
Peningkatan investasi terkait pendukung industri pengolahan tuna di daerah Sumatera Barat, hal ini berdasarkan pengamatan langsung ke lapangan dimana masih rendahnya industri yang berada di Sumatera Barat. Akses modal yang masih rendah dan keberanian pelaku usaha untuk perikanan tuna.
Memaksimalkan manfaat dan keuntungan.
Memaksimalkan manfaat dan keuntungan agar bisa meminimalkan kerugian sehingga bisa ditingkatkannya hubungan kerjasama dengan pihak luar seperti pengusaha di PPS Nizam Zachman.
Tercapainya upaya membangun perikanan tuna.
Berhasil atau tidaknya model konseptual ini dapat diukur melalui kriteria efikasi (E1) dimana interaksi dan kerja sama antar pelaku usaha dengan
63 sumber keuangan, dan waktu yang minimum; dan efektif (E3) hingga
tercapainya sinergi antar kelembagaan.
Gambar 14 Model konseptual kelembagaan di PPS Bungus
3) Root definition3 terlihat pada Gambar 15 merupakan permasalahan rendahnya kapal tuna untuk masuk ke PPS Bungus dapat ditingkatkan melalui kesiapan fasilitas pelabuhan. Agar tercapainya optimalisasi penggunaan fasilitas sebagai pusat pendaratan ikan tuna melalui menarik investor kapal masuk ke PPS Bungus. Kegiatan pada sistem kegiatan menarik kapal tuna masuk ke PPS Bungus adalah sebagai berikut:
Kebijakan pengembangan pelabuhan perikanan.
Kebijakan dan kelembagaan dimaksudkan untuk dapat menentukan kebijakan dan kelembagaan yang tepat, yang dapat mendukung pengembangan perikanan tuna. Evalusi keberadaan, serta peran yang telah difungsikan oleh kebijakan dan kelembagaan perikanan tuna yang ada.
Peningkatan frekuensi kedatangan kapal dengan penambahan investor kapal tuna.
Ketersediaan unit penangkapan yang meliputi kapal perikanan, alat tangkap, mesin dan peralatan bantu penangkapan lainnya merupakan faktor yang sangat penting. Kapal memiliki umur teknis yang terbatas, maka hal ini membutuhkan permodalan. Unit longline memerlukan SDM yang handal,
Monitor 1-6 Take control action Define criteria: E1, E2, E3 1 Meningkatkan komunikasi antar sektor pemerintahan dengan swasta. 4 Peningkatan investasi dan akses modal. 6 Tercapainya upaya membangun perikanan tuna. 3 Meningkatkan kemampuan bersama. 2 Pemahaman antar lembaga/antar sektor. 5 Memaksimalkan manfaat dan keuntungan.
64
terampil dan berpengalaman. Peningkatan frekuensi kapal ini sangat diperngaruhi oleh ketersediaan permodalan yang merupakan faktor penting. Biaya investasi yang tinggi untuk pembelian kapal, mesin dan alat tangkap. Hal ini menjadikan pengusaha cukup sulit untuk melakukan investasi kembali kapal penangkapan ikannya.
Kapasitas PPS Bungus yang memenuhi ketersediaan air tawar, BBM, es dan perbekalan melaut untuk nelayan.
Saat ini, ketersediaan akan hal tersebut sudah dipenuhi oleh PPS Bungus dengan baik dan nelayan tidak mengeluhkan kebutuhan untuk melaut.
Pengembangan peluang industri pendukung untuk kemajuan perusahaan tuna yang berada di lahan PPS Bungus.
Pengembangan peluang industri pendukung yang dimaksudkan adalah industri seperti kebutuhan barang untuk packaging ikan tuna yang akan di ekspor. Bahan untuk packaging masih didatangkan dari luar daerah sehingga menyulitkan perusahaan dalam keuangan.
Fasilitas yang dapat beroperasional.
Berhasil atau tidaknya model konseptual ini dapat diukur melalui kriteria efikasi (E1) dimana pelayanan yang efektif dan efisien di PPS Bungus
sebagai pusat pendaratan ikan tuna; efisiensi (E2) menggunakan SDM,
sumber keuangan, dan waktu yang minimum; dan efektif (E3) hingga
tercapainya peningkatan kapal tuna masuk ke PPS Bungus.
Gambar 15 Model konseptual kegiatan menarik kapal tuna masuk ke PPS Bungus
1 Kebijakan pengembangan pelabuhan perikanan. 3
Kapasitas PPS Bungus yang memenuhi ketersediaan air
tawar, BBM, es dan perbekalan melaut untuk
nelayan. Investasi permodalan industri. 2 Peningkatan frekuensi kedatangan kapal dengan penambahan investor kapal
tuna.
4
Pengembangan peluang industri pendukung untuk kemajuan perusahaan tuna yang berada di
lahan PPS Bungus. Pengembangan industri pengolahan ikan tuna. 5 Fasilitas yang dapat beroperasional. Monitor 1-5 Take control action Define criteria: E1, E2, E3
65 4) Root definition4 terlihat pada Gambar 16 merupakan permasalahan rendahnya pengoptimalisasikan lahan pelabuhan untuk industri serta penyediaan fasilitas. Agar tercapainya pengoptimalisasi lahan dilakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta. Kegiatan pada sistem pengoptimalisasikan lahan pelabuhan untuk industri serta penyediaan fasilitas adalah sebagai berikut:
Identifikasi kondisi keadaan fasilitas terkait dengan pendaratan ikan tuna. Perlu adanya identifikasi keadaan fasilitas yang terkaitan dengan pendaratan ikan tuna karena akan mempengaruhi terhadap operasional pembongkaran ikan. Kondisi fasilitas sangat mempengaruhi terhadap kapal yang masuk ke PPS Bungus.
Peningkatan frekuensi kedatangan kapal tuna.
Keterkaitan dengan fishing ground dilakukan melalui penilaian pelabuhan perikanan yang berkaitan daya tariknya bagi kapal tuna untuk mendaratkan ikannya di pelabuhan perikanan. Faktor-faktor yang dapat menjadi daya tarik dibedakan menjadi tiga yaitu ketersediaan fasilitas perairan, fasilitas darat dan potensi kemudahan pasar.
Investor kapal tuna di PPS Bungus.
Investor kapal tuna di PPS Bungus masih sangat rendah dan jika sepi hanya ada satu kali kapal tuna masuk selama dua minggu. Kapal tuna yang dari PPS Bungus masih rendah jika dibandingkan dengan PPS lainnya di Indonesia.
Industri pengolahan ikan tuna.
Industri pengolahan ikan tuna di Sumatera Barat hanya ada satu saja dan ini masih sangat jauh dari daerah lainnya. Sulitnya industri berkembang di Sumatera Barat juga dipengaruhi oleh aksesibilitas sebuah daerah terhadap jangkauan dalam kebutuhan industri dalam pengolahan.
Industri pendukung.
Sangat dibutuhkan industri pendukung untuk industri pengolahan di Sumatera Barat karena industri pengolahan sangat susah untuk mendatangkan bahan dalam pengolahan dari luar Sumatera yang menambahkan biaya.
Aksesibilitas.
Aksesibilitas merupakan perhitungan untuk jarak, waktu, biaya, prasarana jalan, transportasi dan hambatan perjalanan. Aksesibilitas sangat diperlukan dalam pengembangan pelabuhan agar industri perikanan mendapatkan keuntungan.
Keterkaitan dengan pasar.
Keterkaitan dengan pasar dimaksudkan untuk menentukaan tingkat aksesibilitas pelabuhan perikanan dan pergerakan untuk menentukan peluang suatu lokasi pelabuhan perikanan.
Optimalisasi pemanfaatan fasilitas lahan pelabuhan.
Berhasil atau tidaknya model konseptual ini dapat diukur melalui kriteria efikasi (E1) dimana Optimalisasi pemanfaatan fasilitas yang meningkat;
efisiensi (E2) menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang
minimum; dan efektif (E3) hingga tercapainya pemanfaatan lahan di PPS
66
Gambar 16 Model konseptual optimalisasi pemanfaatan fasilitas (sarana prasarana) pendaratan tuna di PPS Bungus
Pembahasan
Pelabuhan perikanan yang ada belum berfungsi dengan baik sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. UU ini menjelaskan bahwa ada 14 fungsi yang harus diemban pelabuhan perikanan. Pada dasarnya keberadaan pelabuhan perikanan sangat penting bagi pengembangan perikanan di suatu wilayah, tidak hanya dalam konteks sebagai
fishing base tetapi lebih jauh dari itu untuk menggerakkan perekonomian di wilayah tersebut.
Tahap ini merupakan siklus kedua dari keseluruhan proses recoverability. Tahapan ini berisi diskusi tentang systems thinking about real word. Tahap ketiga dalam SSM ini, peneliti akan menentukan root definitions (RDs). RDs adalah deskripsi terstruktur dari sebuah sistem aktivitas manusia yang relevan dengan situasi permasalahan yang menjadi perhatian di dalam penelitian SSM yang berbasis tindakan.
Fokus SSM adalah untuk menciptakan sistem aktivitas dan hubungan manusia dalam sebuah organisasi atau kelompok dalam rangka mencapai tujuan bersama. Berpikir sistem merupakan suatu bidang transdisiplin yang muncul sebagai respon terhadap keterbatasan dari pendekatan teknikal dalam proses reduksi untuk memecahkan masalah (Riyanto 2014). Research action dengan metode Soft System Methodology (SSM) untuk menemukan cara terbaik dalam
5 Industri pendukung. 4 Industri pengolahan ikan tuna. 3 Investor kapal tuna di PPS Bungus. 6 Aksesibilitas. 7 Keterkaitan dengan pasar. 1 Identifikasi kondisi keadaan fasilitas terkait dengan pendaratan ikan tuna. 2 Peningkatan frekuensi kedatangan kapal tuna. 8 Optimalisasi pemanfaatan fasilitas lahan pelabuhan. . Monitor 1-8 Take control action Define criteria: E1, E2, E3
67 menghadapi situasi yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Chasanah 2014).
RDs merupakan satu-satunya cara untuk menggambarkan sistem untuk membantu proses pemodelan sistem. Checkland dan Poulter (2006) menyarankan supaya digunakan rumus umum PQR dalam menyusun sebuah RDs. Formula PQR yaitu mengerjakan P dengan Q untuk mewujudkan R. Dalam konteks penelitian pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat dengan menggunakan rich picture, penelitian ini mengelompokkan real world dalam dua sistem yang paling relevan. Keterikatan, keterlibatan lembaga atau institusi serta peran dan fungsinya terkait implementasi kebijakan di dalam sistem mempengaruhi terciptanya sistem harmonis dan iklim yang kondusif (Riyanto 2014).
PPS Bungus harus memanfaatkan peluang tata ruang pelabuhan perikanan yang akan bisa dimanfaatkan dalam keberlangsungan pengembangan PPS Bungus di masa yang akan datang. Penyaluran BBM yang bisa dikelola oleh pihak pelabuhan, penyaluran es yang bisa dimanfaatkan nelayan > 20 GT agar termanfaatkannya perusahaan es yang ada di kawasan PPS Bungus, dan PPS Bungus memberikan peluang bagi nelayan-nelayan khususnya lokal dalam peningkatan frekuensi kedatangan kapal di PPS Bungus. Perbengkelan yang telah dikelola oleh pihak pelabuhan sendiri di dalam docking kapal serta perbaikan