Pendahuluan
Kinerja operasional PPS Bungus mengalami permasalahan dimana untuk pendaratan kapal tuna dan perbaikan kapal mengalami penurunan. Adanya kebijakan PERMEN Nomor 30 Tahun 2012 tentang usaha perikanan tangkap di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia pada pasal 37 ayat (3) bahwa setiap kapal penangkap ikan diberikan 1 (satu) pelabuhan pangkalan dan 1 (satu) pelabuhan singgah; ayat (4) setiap kapal pengangkut ikan diberikan 1 (satu) pelabuhan pangkalan; dan ayat (5) setiap kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan wajib mendaratkan ikan hasil tangkapan di pelabuhan pangkalan sebagaimana tercantum dalam SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan) atau SIKPI (Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan). Kebijakan PERMEN tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan kedatangan kapal untuk mendaratkan ikan di PPS Bungus. Penurunan perbaikan kapal (docking) disebabkan adanya lokasi docking kapal yang baru di daerah Kabupaten Pesisir Selatan yang menjadi alternative bagi nelayan lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keberhasilan suatu organisasi atau suatu sistem. Metode ilmiah dapat menghindarkan manajemen mengambil kesimpulan-kesimpulan yang sederhana dan simplisitis searah oleh suatu masalah disebabkan oleh penyebab tunggal. Pendekatan sistem dapat memberi landasaan untuk pengertian yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sistem dan memberikan dasar untuk memahami penyebab ganda dari suatu masalah dalam kerangka sistem (Marimin 2004).
Permasalahan dapat ditemukan jalan keluar permasalahannya dengan menganalisis seluruh bagian yang terdapat dalam sistem tersebut, seperti halnya permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pengembangan pelabuhan perikanan. Pelabuhan perikanan sangatlah memiliki peranan yang penting di dalam kompleksitas suatu sistem. Pelabuhan tidak hanya terkait dengan ekonomi saja tetapi juga berkaitan dengan sumberdayaa manusia dan kelembagaan, pelayanan, dan fasilitas. Oleh karena itu, pemecahan masalah pelabuhan perikanan biasanya didekati melalui kerangka berpikir sistem. Tujuan dari pembahasan secara mendalam setiap aspek pada bab ini adalah untuk memberikan informasi mengenai permasalahan yang terjadi sehingga permasalahan tersebut dapat diformulasikan dengan menggunakan rich picture.
43
Metode
Pengungkapan masalah yang terjadi dalam pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitik, yaitu dengan menjelaskan permasalahan secara deskriptif berdasarkan kondisi yang sebenarnya. Pengungkapan masalah pada metode SSM dimulai dengan menjelaskan kondisi objek penelitian secara umum, lalu dilanjutkan dengan mengkaji objek penelitian secara lebih mendalam dan menyeluruh dengan melihat beberapa aspek yang terkait (Williams 2005).
Formulasi masalah ini adalah L1 dan L2 dari soft system methodology (SSM)
dimana permasalahan disini tidak terstruktur. Aspek kajian pada penelitian ini dibatasi pada aspek SDM dan kelembagaan, fasilitas dan pelayanan. Masalah tersebut nantinya akan digambarkan dalam rich picture. Rich picture ini berguna untuk melihat pola hubungan tiap masalah pada aspek kajian berdasarkan aktor yang terlibat. Hal-hal yang harus dimasukkan dalam rich picture adalah pihak yang terlibat, konflik, struktur dan proses yang terjadi, serta persoalan diantara para pihak (Williams 2005).
Analisis situasi permasalahan
Checkland dan Poulter (2006), mendefinisikan kehidupan sehari-hari (everyday life) sebagai relasi perubahan terus menerus yang kompleks sepanjang waktu. Berdasarkan kehidupan sehari-hari tersebut, Checkland dan Poulter memandang bahwa adanya suatu kebutuhan untuk meningkatkan atau menyelesaikan suatu situasi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
SSM merupakan cara yang terorganisasi untuk menangkap (tackling) situasi problematik yang dirasakan. SSM sangat berorientasi tindakan, lebih lanjut lagi SSM mengorganisasikan pikiran mengenai situasi sehingga tindakan yang diselidiki atau dikaji dapat diambil dan membawa peningkatan pada situasi masalah tersebut. Selanjutnya Checkland dan Poulter (2006) memaparkan bahwa terdapat tiga analisis yang dilakukan dalam memandang situasi masalah, yaitu (a) analisis intervensi; (b) analisis sistem sosial; dan (c) analisis politik.
(a) analisis intervensi
Analisis intervensi adalah proses identifikasi aktor-aktor yang ada dalam fakta lapangan (real world) yang akan menjadi rujukan, serta peran mereka dalam fakta lapangan. Dalam analisis intervensi sudah harus ditentukan siapa yang akan menjadi client (C), problem solver (PS), dan problem owner (PO).
- Client (C) adalah aktor yang menyebabkan terjadinya intervensi;
- Problem solver (PS) adalah orang/peneliti yang melakukan investigasi terkait dengan research interest; dan
- Problem owners (PO) aktor yang concerned dan merasakan situasi yang ada dan perubahan yang akan dirasakan nantinya terkait dengan isu yang menjadi research interest peneliti.
(b) analisis sistem sosial
Analisis sistem sosial mencakup peran, norma, dan nilai. Secara bersamaan, ketiga elemen tersebut membantu penciptaan pola sosial dari situasi manusia (Checkland dan Poulter 2006).
44
- Peran merupakan posisi sosial dimana menandai perbedaan antara anggota kelompok atau organisasi. Peran dapat disadari secara formal, namun dalam budaya lokal peran dapat disadari secara informal;
- Norma merupakan perilaku yang diharapkan dimana norma berasosiasi dengan peran dan membantu pendefinisian peran; dan
- Nilai merupakan standar atau kriteria dimana perilaku suatu peran dinilai
dan “dihakimi”. Ketiga hal tersebut (peran, norma, dan nilai), merupakan sesuatu hal yang akan sekaligus berubah dan bertahan sepanjang waktu (Checkland dan Poulter 2006).
(c) analisis politik
Analisis politik memberikan gambaran mengenai kekuatan yang powerful
dalam memutuskan terjadi atau tidaknya sesuatu hal. Analisis politik berfokus pada dua hal yaitu untuk menemukan pengaturan atau penyusunan kekuasaan, dan proses untuk mengisi kekuasaan tersebut.
Analisis gambaran situasi permasalahan (rich picture)
Gambaran yang detail dan kaya (rich picture) dibuat melalui diagram, gambar atau model yang mampu menjelaskan hubungan struktur dan proses organisasi dikaitkan kondisi lingkungan (environment) organisasi. Struktur mencakup denah fisik, hierarki, struktur pelaporan, dan pola komunikasi baik formal maupun informal.
Proses mencakup aktivitas dasar organisasi, seperti alokasi sumberdaya, pelaksanaan monitor dan kontrol. Hubungan antara struktur dan proses kemudian diwujudkan dalam bentuk masalah, tugas-tugas dan elemen-elemen lingkungan yang dapat dimengerti dengan mudah.
Penyusunan rich picture memerlukan tiga peran yang menjadi rujukan saat menyusun gambar (Checkland dan Poulter 2006). Pertama, seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan terjadinya investigasi dan dilaksanakannya intervensi (client). Kedua, seseorang atau sekelompok orang yang melakukan investigasi. Ketiga, pemilik isu. Pemilik isu memegang peran penting karena merepresentasikan investigasi penelitian dan paling bekepentingan terhadap hasil investigasi penelitian.
Hasil
Pengungkapan situasi masalah (problem situation expressed), merupakan tahapan yang berada dalam siklus pertama dari keseluruhan rangkaian
recoverability dalam proses SSM. Dalam bab ini disajikan dua tahap SSM yaitu hasil tahap satu: pengungkapan situasi masalah, dan hasil tahap dua: gambaran situasi masalah (rich picture). Tiga tahap analisis yang dilakukan dalam rangka pengungkapan situasi masalah pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat yaitu analisis intervensi, analisis sosial, dan analisis politik (Checkland dan Poulter 2006).
45
Analisis intervensi
Fokus analisis intervensi dilakukan penetapan tiga pihak yang berperan sangat penting dalam kaitannya dengan situasi permasalahan pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat pada tataran DKP, PPS Bungus, pengusaha, nelayan dan lembaga terkait. Klien (Client) – C : Peneliti dan pakar
Praktisi (Problem Solver) - P : Peneliti
Pemilik isu (Problem Owner) – O : DKP Provinsi Sumatera Barat, PPS Bungus, pengusaha, nelayan dan lembaga terkait.
Hasil analisis intervensi ini, berupa identifikasi situasi permasalahan yang terdapat pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat.
Analisis sosial
Fokus analisis sosial pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat yaitu elemen peran (roles), norma (norms), dan nilai-nilai (values). Ketiga elemen sosial tersebut saling berkaitan erat, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain karena peran, norma, dan nilai-nilai saling membentuk dan dibentuk (create dan recreates). Peran
Peran merupakan posisi sosial, dimana menandai perbedaan antara anggota kelompok atau organisasi. Peran dapat disadari secara formal, namun dalam budaya lokal peran dapat disadari secara informal.
Peran dasar dari masing-masing problem owner yang terkait dengan situasi permasalahan pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat adalah sebagai berikut:
(1) DKP dan PPS Bungus memiliki peran antara lain:
- Memberikan pelayanan sosial yang meliputi pelayanan, perizinan, pemberdayaan nelayan, sehingga diharapkan dapat mempercepat terciptanya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat nelayan;
- Menyelesaikan masalah, berdasarkan prinsip kebersamaaan stakeholders; pemerintah daerah, organisasi-organisasi (koperasi dan asosiasi), dengan masyarakat nelayan;
- Memberikan perlindungan dan dukungan terhadap pengembangan usaha- usaha perikanan untuk kesejahteraaan sosial ekonomi yang berada di kawasan PPS Bungus.
- Meningkatkan kemampuan kelembagaan dalam membangun swadaya berdasarkan sumber daya lokal.
Permasalahan yang sering terjadi pada bagian instansi dari PPS Bungus yaitu permasalahan yang terdapat pada kegiatan kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus (i) awal pelaksanaan kegiatan kesyahbandaran di PPS Bungus, Penerbitan Surat Ijin Berlayar ( SIB) belum berjalan dengan lancar dimana penerbitan Surat Ijin Berlayar masih ganda (ii)
stakeholder/Nakhoda belum mengetahui sepenuhnya keberadaran syahbandar di PPS Bungus; (iii) SDM/Petugas Syahbandar di PPS Bungus masih terbatas sehingga kegiatan belum berjalan secara optimal; (iv) belum jelasnya jenjang karir syahbandar di pelabuhan perikanan yang dapat meningkatkan kesejahteraan para
46
petugas syahbandar; dan (v) masih minimnya sarana dan prasarana untuk kegiatan dan kelancaran tugas kesyahbandaran.
(2) Perusahaan pengolahan tuna dan nelayan antara lain: mengusahakan penciptaan lapangan pekerjaan melalui pemberdayaan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi (i) produktifitas perikanan tangkap khusus tuna yang masih rendah oleh nelayan lokal. Hal ini akan berdampak kepada kesejahteraan sosial ekonomi nelayan lokal perairan Sumatera Bagian Barat (ii) kurangnya persaingan nelayan lokal dengan nelayan luar dalam penangkapan tuna sehingga diharapkan nelayan tuna lokal lebih bisa mandiri dalam melakukan penangkapan. Permasalahan tersebut akan berdampak kepada (iv) frekuensi kunjungan kapal yang akan tertambat di PPS Bungus dan (v) kurangnya dukungan infrastruktur yang terawat dari PPS Bungus. Pendaratan tuna oleh kapal-kapal hasil tangkapan untuk industri tuna di kawasan PPS Bungus yang rendah akan berdampak terhadap (vi) bahan baku untuk perusahaan dan (vii) MOU pihak perusahaan dengan nelayan tidak memiliki perjanjian di atas kertas, sehingga permasalahan di atas kapal seperti adanya penjualan ikan di atas kapal ke kapal lainnya sulit di kontrol oleh pihak industri perusahaan pengolahan. Norma
Norma merupakan perilaku yang diharapkan, dimana norma berasosiasi dengan peran dan membantu pendefinisian peran. Norma yang ada ini terkait dengan peran-peran yang dilakukan oleh anggota kelompok atau organisasi dalam PPS Bungus dan DKP Provinsi serta pelaku usaha/nelayan.
(1) PPS Bungus dan DKP Provinsi, tunduk pada kode etik dalam menjalankan kegiatannya. Kode etik ini diformalisasikan dalam bentuk Undang-Undang dan peraturan daerah yang mengatur mekanisme kerja.
(2) Pelaku usaha/nelayan, berpegang pada kesepakatan informal yang telah disepakati bersama. Kesepakatan ini untuk saling mendukung serta memfasilitasi perusahaan dalam menjalankan fungsinya.
Nilai
Nilai merupakan standar atau kriteria ke dalam mana perilaku yang sesuai dengan peran dinilai. Nilai yang dimiliki oleh problem owner sebagai berikut: (1) DKP dan PPS Bungus (KKP), menyusun kebijakan yang mendorong pelaku usaha agar dapat mandiri dan berdaya saing.
(2) Perusahaan pengolahan tuna dan nelayan, menganut nilai-nilai kemandirian, optimis, dan kebersamaan.
Analisis politik
Analisis politik dilakukan untuk mengetahui situasi permasalahan yang sudah dibuat dengan memasukkan situasi politik, dimana hal ini selalu kuat dalam menentukan keberhasilan anggota kelompok atau organisasi dalam. Fokus dalam analisis ini pada dua hal yaitu (1) menemukan pengaturan atau penyusunan kekuasaan (disposition of power), dan (2) proses untuk mengisi kekuasaan tersebut (nature of power).
Disposition of Power
(1) DKP Provinsi Sumatera Barat dan PPS Bungus (KKP)
Menteri Kelautan dan Perikanan memegang kekuasaan tertinggi dari seluruh kebijakan dan pemangku jabatan tertinggi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Direktur Jenderal memegang kekuasaan tertinggi dari
47 seluruh kebijakan dan pemangku jabatan tertinggi pada Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP) serta Ditjen Perikanan Tangkap.
Peran KKP terdapat pada: Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2011; dan (2) Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara yang telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2010.
Dalam melaksanakan tugasnya, KKP menyelenggarakan fungsi:
a. Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang kelautan dan perikanan;
b. Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya;
c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya;
d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya;
e. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.
Ditjen P2HP memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Fasilitasi pengembangan usaha industri pengolahan hasil perikanan; b. Fasilitasi pengembangan produk hasil perikanan nonkonsumsi;
c. Fasilitasi penguatan dan pengembangan pemasaran dalam negeri hasil perikanan;
d. Fasilitasi penguatan dan pengembangan pemasaran luar negeri hasil perikanan;
e. Fasilitasi pembinaan dan pengembangan sistem usaha dan investasi perikanan;
f. Pengembangan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (kegiatan penunjang).
Gubernur Sumatera Barat memegang kekuasaan tertinggi dari seluruh kebijakan dan pemangku jabatan tertinggi pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat, dan lain-lain). Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat dan memiliki tugas pokok untuk melaksanakan urusan pemerintahan daerah dibidang Kelautan dan Perikanan.
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 111 Tahun 2009 tentang Rincian Tugas Pokok Fungsi dan Tata Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan Daerah bidang Kelautan dan Perikanan. Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis bidang kelautan dan perikanan;
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang kelautan dan perikanan;
c. Pembinaan dan fasilitasi bidang kelautan dan perikanan lingkup Provinsi dan Kab/Kota;
48
e. Pelaksanaan tugas dibidang kelautan, pulau-pulau kecil dan pengawasan, perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengelolaan;
f. Pemasaran hasil kelautan dan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kelautan dan perikanan; dan
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai tugas dan fungsinya.
(2) Perusahaan pengolahan tuna dan nelayan
Aktor dan pelaku usaha sentra industri pengolahan ikan tuna di Sumatera Barat, memiliki kekuasaan secara keseluruhan mengenai aktivitas usaha pengolahan ikan tuna. Pelaku usaha sentra industri pengolahan ikan tuna di Sumatera Barat yang berperan dalam mengembangkan kemandirian usaha dan menciptakan daya saing.
Nature of Power
(1) DKP Provinsi Sumatera Barat dan PPS Bungus (KKP)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen DJPT/PPS Bungus) dan Gubernur Sumatera Barat (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat) memiliki kemampuan untuk menetapkan kebijakan (aturan formal) dan pengalokasian anggaran dalam segala aktivitas pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat.
(2) Perusahaan pengolahan tuna dan nelayan
Aktor dan pelaku usaha perikanan dan nelayan memiliki kemampuan untuk menentukan arah dan perkembangan usaha dan juga menumbuhkan aspek kemandirian pada hasil perikanan. Selain itu, memiliki kemampuan untuk membangun kerangka kelembagaan dalam mengatasi ketidakserasian dan mencapai tujuan melalui relasi dan transaksi berbasiskan keterlekatan untuk mengembangkan PPS Bungus dan meningkatkan daya saing ikan tuna ke internasional.
Penggambaranmasalahdengan rich picture
Cara pengungkapan (expressed) atau gambaran situasi dunia nyata yang dianggap problematik yang lazim digunakan di dalam SSM adalah dengan menggunakan rich picture. Hasil kajian di lapangan didapatkan adanya situasi problematik yaitu rendahnya daya saing perusahaan sentra industri pengolahan ikan tuna di Sumatera Barat dan lemahnya pengoptimalan pemanfaatan fasilitas yang telah ada di PPS Bungus.
Sehubungan dengan situasi problematik tersebut, beberapa narasumber/aktor menyampaikan pandangan dan harapan, pernyataan dukungan, menemukan keberatan dan kekecewaannya, dan lain-lain. Secara rinci situasi masalah mengenai pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat sebagai berikut:
(1) DKP Provinsi Sumatera Barat dan PPS Bungus (KKP)
Pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat, melibatkan berbagai pemangku kepentingan antara lain pemerintah pusat (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dan pemerintah daerah (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat). Pada saat ini terdapat 5 (lima) pelabuhan perikanan samudera di seluruh Indonesia yang tersebar setiap pulau. Setiap PPS memiliki komoditas utama dalam meningkatkan kebergunaan sebuah pelabuhan perikanan dalam mendorong perikanan tangkap. Akan tetapi pengembangan setiap PPS tidak semuanya bisa dapat tercapai dalam menjalankan
49 visinya untuk mengembangkan daya produksi perikanan khususnya PPS Bungus untuk kedatangan kapal tuna.
-Organisasi yang ada saat ini masih belum efektif memberdayakan dan mengembangkan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna.
-Sulitnya koordinasi diantara organisasi yang ada saat ini.
Perbedaaan persepsi dan kepentingan antar instansi, pada akhirnya banyak menimbulkan kesulitan di lapangan. Misalnya dalam pengelolaan kapal perikanan yang masih menimbulkan masalah antara pihak DKP provinsi dengan KKP. Pada kenyataannya tidak ada jaminan bahwa kebijakan dasar yang telah dirumuskan oleh pemerintash pusat dioperasionalkan di lapangan. Bahkan untuk sekedar mengumpulkan data saja koordinasi antara instansi di pusat dan dinas di daerah sulit dilakukan. Hal ini sangat diperlukan isu-isu mengenai koordinasi dalam pembagian tugas dan tata kerja serta kesamaan visi dan misi diantara mereka sangat diperlukan untuk mencapi suatu perumusan kebijaksanaan dan strategi operasional pengembangan PPS Bungus yang menjadi pedoman semua pihak.
Selanjutnya, fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha industri tuna yang menyangkut dengan pengadaan/penyempurnaan infrastruktur, kemudahan pemasaran hasil tidak hanya untuk internasional tapi lokal pun dapat tersebar dengan baik, teknologi baru, informasi pasar, serta peningkatan manajemen kewirausahaan. Pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan tuna diperlukan peranan pemerintah baik di tingkat pusat dan provinsi serta peranan koperasi, asosiasi dan organisasi yang ada saat ini belum berperan secara baik.
Proses perencanaan program, kegiatan dan anggaran sangatlah penting. Perencanaan tersebut diperlukan untuk mengatur strategi dalam menghadapi perubahan. Sistem perencanaan yang baik sangat diperlukan sebagai tonggak pengembangan ke depannya. Tujuan agar tercapainya sebuah perubahan yang terarah dan lebih efisien dalam pencapaiannya.
Program, kegiatan dan anggaran pengembangan PPS Bungus yang berada di provinsi Sumatera Barat pada saat ini belum bisa berbuat apa-apa dikarenakan juga pemerintah daerah kurang melirik keberadaan sebuah pelabuhan perikanan samudera ini yang disebabkan karena:
- Pemerintah pusat dan daerah belum memiliki visi bersama secara jangka panjang;
- Setiap individu dalam organisasi pemerintah pusat dan daerah belum mempunyai suatu rasa bekerja sama dengan baik; dan
- Setiap organisasi hanya bergerak pada comfortable zone mereka sendiri- sendiri dan idealis masing-masing.
(2) Perusahaan pengolahan tuna dan nelayan
Pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna di perairan Sumatera Bagian Barat, meliputi pelaku usaha (perusahaan dan nelayan). Perusahaan perikanan tuna Provinsi Sumatera Barat hanya terdapat satu perusahaan pengolahan tuna (PT. Dempo Andalas) yang bergerak di bidang pengolahan tuna. Adapun kendala dan permasalahan yang menyebabkan rendahnya kualitas SDM pada industri pengolahan ikan tuna dan nelayan di Sumatera Barat adalah:
- Tingkat pendidikan tenaga kerja/SDM rendah (buruh dan nelayan);
50
- Tidak tersedianya dana khusus untuk kegiatan pelatihan, mengikuti seminar, studi banding, dan lain-lain;
- Fasilitasi program bantuan atau dukungan pemerintah untuk peningkatan keterampilan SDM tidak tepat sasaran.
Adapun kendala dan permasalahan menyebabkan keterbatasan bahan baku pada pengembangan PPS Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna bagi perusahaan tuna adalah :
-Sulit mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak karena tergantung dari hasil melaut nelayan dan kedatangan kapal;
-Bahan baku juga didatangkan dari provinsi luar artinya perusahaan juga mencari ikan dari pemasok ikan lainnya; dan
-Tidak ada kerjasama/MOU yang jelas dan tertulis antara nelayan dengan perusahaan, sehingga posisi kedatangan tuna sangat lemah ketika jumlah bahan baku sedikit.
Saat ini kesulitan bahan ikan terjadi pada pendaratan tuna di PPS Bungus untuk masuk ke perusahaan, sehingga menyebabkan perusahaan hanya sanggup memperkerjakan buruh pabrik dalam upah harian berdasarkan kedatangan kapal tuna yang di daratkan pada PPS Bungus hal ini juga berkaitan dengan peraturan baru oleh kementrian dimana pertama kali surat izin berlayar itu dikeluarkan maka harus didaratkan kembali pada tempat surat izin berlayar dibuat/dikeluarkan.
Tabel 17 Pendapat aktor tentang permasalahan
Pemerintah Pusat dan Daerah Pelaku Usaha dan Nelayan
PPS Bungus sudah memfasilitasi dan mempermudah pelayanan untuk pelaku usaha dalam mengembangkan usaha di PPS Bungus.
Sulitnya pemasok bahan baku dari kapal-kapal tuna yang datangnya tidak pasti sehingga untuk berkembangnya sebuah perusahaan perikanan khusus tuna di Provinsi Sumatera Barat belum mudah. Pemerintah daerah sangat mendukung
para investor yang mau invesatasi untuk pengolahan perikanan tuna di provinsi Sumatera Barat.
Kawasan industri berikat belum tersedia di Provinsi Sumatera Barat sehingga peralatan yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk packaging dan teknologi masih didatangkan dari daerah lain.
Kapal tuna masuk ke PPS Bungus hanya satu kali dalam dua minggu dan waktunya tidak menentu.
Hasil dari pemahaman terhadap situasi permasalahan terhadap permasalahaan di PPS Bungus yang dikelompokkan ke dalam aspek sumberdaya manusia dan kelembagaan, aspek pelayanan dan aspek fasilitas. Permasalahan tersebut terdapat pada Tabel 18.
51 Tabel 18 Permasalahan pengembangan PPS Bungus
No. Aspek Kajian Permasalahan 1. Aspek
sumberdaya manusia dan kelembagaan.
Rendahnya koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (PPS Bungus).
Kelembagaan hanya menjalankan peran mereka masing-masing dalam pengelolaan perikanan di