• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Bahasa Dalam Filsafat Postmodernisme

Dalam dokumen Filsafat Bahasa (Halaman 69-74)

BAB VII PERANAN BAHASA DALAM FILSAFAT POSTMODERNISME 66

C. Peran Bahasa Dalam Filsafat Postmodernisme

Bahasa sebagai pusat wacana filsafat pada era postmodernisme memiliki banyak peran, diantaranya :

a. Bahasa sebagai paradigma dekonstruksi

Tradisi modernisme secara linguistis membangun suatu narasi besar yaitu totalitarian dalam arti hanya ada satu prinsip saja yang mendasari dan membangun realitas ini, yang menurut istilah Lyotard disebut homologi (Awuy, 1995:161). Manusia tidak dipahami sebagai makhluk yang bersifat total tetapi bersifat parsial. Oleh karena itu manusia haruslah dipahami dalam realitas keanekaragamannya. Dari sinilah lahirnya suatu dekonstruksi terhadap paradigma modernisme yaitu melakukan suatu pembongkaran dan menyusun kembali dalam suatu konstruksi baru akan tetapi bukan melakukan penghapusan.

Seperti strategi dekonstruksi Derrida yang secara sistematik dapat disusun dalam tingkatan langkah-langkah sebagai berikut : pertama, mengidentifikasi hierarki oposisi dalam teks dimana biasanya kemudian terlihat peristilahanyang diistimewakan secara sistematik. Kedua, oposisi-oposisi itu kemudian dibalik, misalnya dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan diantara hal-hal yang berlawanan itu. Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan kedalam kategori oposisi lama (Derrida, 1981, dalam sugiharto,1996: 45,46).

Bahasa, menurut Derrida adalah pengalaman empirik manusia yang difilter oleh idee-ideenya, sehingga bahasa adalah proyeksi dari pemfilteran atas pengalaman sendiri. Ada unsur kreatif manusia. Konsep bahasa Derrida (dan juga phenomenolog) memang bersumber pada filsafat Descartes, Kant dan Husserl.

Pemaknaan Derrida tersebut berlanjut menjadi pandangan bahwa makna dari suatu tanda akan berbeda dan berkembang terus, tidak dapat dibuat kesepakatan tentang tanda-tanda tersebut, perlu telaah berkelanjutan atas konstruk bahasa yang ada. Sehingga pendekatan Derrida disebut pendekatan postsrukturalisme.

Derrida merupakan satu dari sekian tokoh filsuf era postmodernisme yang melakukan dekonstruksi bahasa. Masih banyak tokoh filsafat lainnya seperti Lyotard yang menganalisis bahasa melui model paradigma language game milik Ludwig Weidgenstein yang berkesimpulan bahwa realitas tidak mungkin diwakili oleh sebuah konsep bermakna tunggal.

Ada tiga karakteristik dalam setiap permainan bahasa. Pertama, setiap aturan dalam permainan itu tidak mendapatkan legitimasi dari dirinya sendiri melainkan merupakan hasil kontrak di antara pemainnya (eksplisit maupun tidak). Kedua, jika tidak ada aturan maka tidak ada permainan; suatu modifikasi kecil sekali pun terhadap sebuah peraturan akan mengubah permainan itu. Ketiga, setiap pernyataan harus dianggap sebagai suatu “move” dalam permainan.

Karakteristik ketiga ini dipakai Lyotard sebagai prinsip pertama yang mendasari keseluruhan metodenya: mengeluarkan suatu pernyataan (move) adalah bertarung – dalam konteks suatu permainan – dan tindakan mengeluarkan pernyataan semacam itu berada dalam domain “general agonistic” (pertarungan pernyataan/argumentasi). Prinsip “pertarungan pernyataan” ini membawa Lyotard pada prinsip kedua, yakni bahwa ikatan sosial dari “move-move” bahasa (language “moves”). (Kristanto, 2002: 8).

Berbeda dengan Lyotard, Richard Rorty datang dengan pemikiran bahwa keunikan bahasa menjadikan keberagaman budaya. Setiap budaya memilkiki peluang untuk mengambil posisi yang kedua itu, yaitu berpeluang untuk meyakinkan budaya lainnya bahwa ia bgus karena menghasilkan sesuatu yang meman bagus ( Rorty dalam Sugiharto, 1996: 25).

Selanjutnya Gadamer, bahasa dipahami sebagai aktualisasi tradisi, dan dengan demikian hakikat pluralitas bahasapun tetap merupakan paradigma bagi analisis hubungan antar budaya.

b. Fungsi transformatif bahasa

Dalam prinsip logosentrisme, bahasa semata-mata dipandang sebagai cerminan realitas yang menunjukkan adanya kesepadanan logis, anatara dunia realitas dengan bahasa. Namun kompleksitas hidup tidak dapat hanya dilukiskan melalui struktur logis bahasa. Kemudian bahasa menurut filsuf pada periode Wittgeinstein diwujudkan sebagai suatu keragaman sistem permainan dalam berbagai macam konteks kehidupan.

Munculnya bahasa menampilkan suatu transformasi mendasar dan total dari taraf kebinatangan ketaraf tingkatan hakikat kodrat manusia, yaitu suatu keterpisahan mendasar dari kungkungan alam. Munculnya bahasa adalah munculnya kemampuan reflektif. Berkat adanya bahasa, manusia menjadi objek yang potensial bagi dirinya sendiri.

c. Keterbatasan bahasa

Berdasarkan pandangan filsuf tentang bahasa pada umumnya persoalan tentang bahasa pada umumnya persoalan tentang batas bahasa pada dasarnya berakar pada dominasi paradigma deskriptif dalam bahasa. Segala hal yang tidak dapat dideskripsikan lalu dengan segera dikatakan sebagai wilayah transenden dalam bahasa. Maka sebenarnya bukan berarti wilayah transenden itu tidak dapat dirumuskan melainkan hal yang transenden itu adalah sebutan yang kita pakai untuk menunjuk batas deskriptif bahasa.

Berdasarkan pada sifat keterbatasan bahasa, maka terbukalah suatu kemungkinan paradigma lain dalam aspek pragmatis bahasa yang kiranya akan lebih memadai yaitu paradigma transformatif, yang menekankan pada fungsi transformatif bahasa.

Dari beberapa keterangan diatas, lewat berbagai cara menunjuk pada persoalan bahasa. Bahasa yang merupakan persoalan utama dalam masa postmodernisme, memiliki porsi yang cukup besar untuk dibahas dan dianalisis oleh beberapa tokoh filsafat. Dengan demikian bahasalah akhirnya yang turut andil dalam era postmodern.

Dalam fase perkembangan filsafat dikenal fase logosentrisme, yaitu sebuah pemikiran filsafat dimana meletakkan bahasa sebagai pusat wacana filsafat atau lebih dikenal dengan pasca modern atau postmodern.

Postmodernisme yang merambah keberbagai bidang kehidupan tersebut sebenarnya sebagai suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilai mengalami kegagalan. Beberapa tokoh hadir sebagai pendekar filsafat dalam masa ini untuk melakukan wacana dekonstruksi terhadap pemikiran sebelumnya, melihat bahasa sebagai fungsi transformatif dan memberikan batasan bahasa.

Tokoh-tokoh filsafat pada masa ini diantaranya Derrida yang mengembangkan pemikirannya bertolak dari konsep strukturalisme bahasa Ferdinand de Saussure, adapun Lyotard beranjak dari konsep ‘language game’ Ludwig Wittgeinstein (Awuy, 1995;162).Gardamer yang mendasarkan pada prinsip hermeneutiknya , Habermas, dsb.

Dari berbagai usaha, pemikiran para tokoh filsafat diatas, dilihat dari berbagai cara, persoalan yang menjadi sentral adalah tentang bahasa. Dekonstruksi Derrida mendasarkan pada paradigma bahasa, Lyotard menyarankan untuk kembali pada ‘pragmatika bahasa’ milik Ludwig Wittgeinstein, Gadamer dalam buku Warheit und Methodeedisi II tahun 1965 dalam bagian ketiganya membahas tentang peran bahasa dalam pergeseran ontologi hermeneutik dari bahasa sebagai experience of the world menuju universalitas hermeuneutik.

Oleh sebab itu, bahasa menjadi lakon dalam perkembangan postmodernisme yang dimaknai sebagai sesuatu yang berkembang (dinamis) dan tidak bisa dimaknai dengan sesuatu yang tetap. Postmodernisme memiliki ciri-ciri yaitu bahasa semata dinilai sebagai cermin realitas yang menunjukkan kesepadanan logis anatara dunia realitas dan bahasa, manusia adalah bahasa, bahasa dipandang sebagai keberagaman sistem permainan dalam berbagai macam konteks kehidupan dan permainan bahasa lebih menekankan pada aspek pragmatik daripada logis.

Peran bahasa dalam postmodernisme adalah bahasa sebagai paradigma dekonstruksi, fungsi transformatif bahasa dan keterbatasan bahasa. Terlihat bahwa postmodernisme mampu membawa masyarakat berfikir kritis dan dinamis hingga sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Alston, P. William. 1964. Philosophy of Language. Prentice Hall Inc., London.

Armas,Adnin dari Alan How, The Habermas-Gadamer, lihat Adnin Armas, Filsafat

Hermeneutika, h. 5.

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan

Cassirer, Ernst. 1962. An Essay on Man. United States Of America: Yake University Press. Endarmoko, Eko. 2006. Tesaurus Bahasa Indonesia. Cet. I; Jakarta: PT Gramedia.

Hartoko, Dick 2002 Kamus Populer Filsafat . Cet. III; PT. Raja Grafindo Persada.

Hidayat, Asaep Ahmad. 2009.Filsafat Bahasa Mengungkapkan Hakikat Bahasa, Makna dan

Tanda. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Kaelan. 1998. Filsafat Bahasa : Masalah dan Perkembangannya. Paradigma Offset : Yogyakarta.

Kaelan. 2006. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap Ilmu

Pengetahuan. Yogyakarta: Paradigma.

Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigama. Kinayati. 2001. Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rasjidi, H. M. 1984. Persoalan-Persoalan Filsafat. Jakarta: PT Bulan Bintang. Russell, Bertrand. 1974. History of Western Philosophy. Oxford: Alden Press.

Thomson, John B. 2003. Filsafat Bahasa dan Hermeunitik Untuk Penelitian Sosial.Surabaya: Visi Humanika.

Dalam dokumen Filsafat Bahasa (Halaman 69-74)

Dokumen terkait