• Tidak ada hasil yang ditemukan

Postmodernisme

Dalam dokumen Filsafat Bahasa (Halaman 66-69)

BAB VII PERANAN BAHASA DALAM FILSAFAT POSTMODERNISME 66

B. Postmodernisme

Istilah postmodern dipakai pertama kali oleh Frederico de Oniz pada tahun 1934 dalam konsep yang jauh berbeda dengan konsep yang berkembang sekarang. Postmodernisme menurut de Oniz hanyalah periode peralihan (dalm sastra) dari modernisme awal ke modernisme dengan kualitas lebih tinggi.

Arnold Toynbee pada tahun 1947 menggunakan kata postmodern sebagai ciri peralihan politik dari pola pemikiran negara nasional ke interaksi global. Politik budaya Bhineka Tunggal Ika atau unity in diversity menurut penilaian penulis merupakan konsep yang valid bagi postmodernisme, karena salah satu ciri utama postmodernisme adalah pengakuan pluralisme budaya. Barulah pada tahun 1970-an postmodernisme sebagai filsafat ditampilkan oleh Loytard dalam suatu seminar diantara para ahli filsafat.

Sebelum mendefinisikan posmodernisme, pemahaman tentang modernisme juga diperlukan dan dimungkinkan untuk mengukur posmodernisme. Dalam arti umum Oxford English Dictionary mendefinisikan istilah modernisme sebagai : pandangan atau metode modern, khususnya kecenderungan untuk menyesuaikan tradisi, dalam masalah keyakinan agama agar harmonis dengan pemikiran modern. Modernisme diartikan sebagai fase terkini

sejarah dunia yang ditandai dengan percaya pada sains, perencanaan, sekularisme dan kemajuan.

Postmodernisme Menurut Lyotard mendefinisikan postmodern sebagai ketidakpercayaan pada narasi besar modernisme.Terdapat dua narasi besar yang cukup berpengaruh dan dipakai untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Menurut Antoni Giddens, postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra, politik atau filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan suatu kondisi, atau suatu keadaan, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pada lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sebagai postmodernita. postmodernisme adalah "fenomena budaya dan intelektual".

Menurut Michael Foucault, postmodernisme akan menghubungkan antara ilmu dan alasan. IImu akan mencari “best answer”. Namun, jawaban yang hadir dalam pandangan post modernisme akan menolak generalisasi. Kebenaran, lebih mengandal kan pada kemampuan fiksi persuasif, relativitas, lokal, plural, tak menentu, dan penafsiran.

Menurut Habermas postmodernisme itu sebagai langkah “counter culture”, artinya kebudayaan elit atau kebudayaan massa pada masa modernisme justru dihancurkan. Menurut Pauline Rosenau mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.

2. Latar Belakang Munculnya Postmodernisme

Postmodernisme telah muncul sebagai konsep dalam arsitektur pada akhir 1940-an, dan dalam sastra muncul pada tahun 1960-an. Tetapi digunakan sebagai konsep umum baru muncul setelah konsep poststrukturalis muncul. Konsep keduanya adalah menentang teori stabilitas satuan, menentang satunya makna, menentang ugeran sentral dalam pemaknaan sesuai tradisi, menentang otonomi karya aestethik. Jean-Francois Lyotard menampilkan konsep sikap postmodern sebagai sikap tidak mau percaya (Incredulity) terhadap metanarasi, terhadap pandangan monolitik. Mereka bukan pesimistik, tetapi mereka melihat bahwa segala sesuatu itu berkembang, sehingga mengapa mesti memberi makna yang begitu terus.

Gejala postmodernisme itu muncul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan seni sastra, arsitektur, ilmu fisika, ilmu sosial, filsafat, maupun bidang-bidang lainnya. Munculnya postmodernisme dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seni dan filsafat selain berkembang di Amerika juga di Eropa terutama di Perancis. Dalam bidang filsafat berkembangnya paham postmodernisme, tidak dapat dipisahkn dengan berkembangnya

strukturalisme dan poststrukturalisme yang memiliki perhatian yang besar terhadap analisis bahasa.

Perkembangan paham pemikiran yang demikian ini diistilahkan oleh Best Kellner denganPostmodern turn (pembalikan kearah postmodern) (Best Kellner, 1991 : 24). Sumber perhatian utama pemikiran postmodernisme dalam bidang filsafat adalah pada bahasa. Hal ini sebagaimana kita lihat di Perancis misalnya Derrida mengembangkan pemikirannya bertolak dari konsep strukturalisme bahasa Ferdinand de Saussure, adapun Lotyard beranjak dari konseplanguage game Ludwig Wittgeinstein (Awuy, 1995 :162). Gadamer mendasarkan pada prinsip hermeneutikanya, yang dikatakannya bahwa berbicara tentang bahasa adalah sebagai fungsi aktualisasi diri, sedangkan Habermas berbicara tentang bahasa sebagai sarana integrasi sosial antara berbagai subjek komunikasi dan sarana sosialisasi kebutuhan dan kepentingan yang melatarbelakangi komunikasi itu. (Sugiharto, 1996 : 63), serta berbagai tokoh lainnya dimana pemikiran ini berkembang di Jerman.

Postmodernisme yang merambah ke berbagai bidang kehidupan tersebut sebenarnya sebagai suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilainya mengalami kegagalan. Modernisme yang berkembang dengan ditandai oleh rasionalisme, materialisme, dan kapitalisme yang didukung oleh sains dan teknologi mengakibatkan timbulnya disorientasi moral religius terutama runtuhnya martabat manusia. Hal ini juga diakibatkan oleh berkuasanya ilmu-ilmu positif-empiris yang merupakan standar kebenaran tertinggi sehingga mengakibatkan nilai-nilai moral religius kehilangan wibawanya. Sehingga manusia mengalami keterasingan, ketertekanana, depresi mental, bahkan tidak jarang menimbulkan gerakan-gerakan tribalisme. Dalam pengertian inilah maka tokoh postmodernisme hadir untuk melakukan dekonstruksi paradigma modernisme dan dalam dunia filsafat upaya dekonstruksi dilakukan sebagai upaya untuk menemukan paradigma baru dalam memahami hakikat manusia melalui wacana kebahasaan.

3. Ciri-ciri Postmodernisme

Era Postmodernisme yang meletakkan bahasa sebagai pusat wacana filsafat memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;

a. Bahasa semata dinilai sebagai cermin realitas yang menunjukkan kesepadanan logis anatara dunia realitas dan bahasa.

b. Manusia adalah bahasa.

c. Bahasa dipandang sebagai keberagaman sistem permainan dalam berbagai macam konteks kehidupan.

Bahasa sebagai pusat wacana memiliki andil yang cukup besar pada era postmodernisme ini. Menurut Lyotard, legitimasi terhadap pengetahuan tidak bisa bersandar pada satu narasi besar, sehingga ilmu itu sekarang paling baik dipahami dalam pengertian “permainan bahasa”. Seperti yang dikemukakan oleh Lyotard: “Ilmu pengetahuan tidak memiliki metabahasa umum di mana semua keberagaman bahasa lain dapat diterjemahkan dan dievaluasi. Tidak terdapat alasan untuk memikirkan adanya suatu kemungkinkan menentukan metapreskripsi yang berlaku bagi semua permainan bahasa itu atau bahwa suatu konsensus yang dapat direvisi seperti metapreskripsi yang berlaku pada waktu itu dalam masyarakat ilmiah yang dapat mencakup keseluruhan metapreskripsi yang mengatur pernyataan-pernyataan yang beredar dalam kolektifitas sosial”. (Lyotard, 1989: 64-5)

Dalam dokumen Filsafat Bahasa (Halaman 66-69)

Dokumen terkait