• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. PERAN KAKAO BAGI PEREKONOMIAN REGIONAL

6.1. Peran Kakao dalam Struktur Perekonomian Regional

Kakao merupakan salah satu sektor ekonomi yang mengalami perkembangan paling pesat diantara berbagai sektor yang tergabung dalam sektor pertanian dalam arti luas. Perkembangan sektor ekonomi kakao dapat diamati sejak sektor ekonomi kakao menjadi salah satu sektor ekonomi tersendiri yang diperhitungkan dalam analisis Tabel Input-Output Regional Sulawesi Selatan tahun 1995. Kakao muncul sebagai salah satu sektor ekonomi dengan perkembangan kontribusi yang cukup nyata bagi peningkatan nilai output, nilai tambah bruto dan ekspor regional Sulawesi Selatan serta penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 1995, sektor ekonomi kakao telah memberikan kontribusi output sebesar Rp 229,83 milyar atau 1,38 % dari total output regional Sulawesi Selatan. Output sektor ekonomi kakao mengalami peningkatan cukup tajam menjadi Rp 1,21 triliun pada tahun 2000 atau meningkat lebih dari lima kali lipat dari output tahun 1995. Dengan nilai output sebesar Rp 1,21 triliun tersebut, kakao memberikan kontribusi sebesar 2,76% dari total output regional Sulawesi Selatan. Selanjutnya kontribusi sektor kakao terus meningkat dan pada tahun 2003, kakao memberikan kontribusi output sebesar 3,70%.

Selaras dengan perkembangan kontribusi kakao terhadap output, kontribusinya terhadap PDRB juga terus meningkat. Pada tahun 1995, sektor ekonomi kakao memberikan kontribusi sebesar Rp 215,63 milyar atau 2,07% dari total PDRB. Kontribusi sektor ekonomi kakao tersebut meningkat menjadi Rp 1,06 triliun atau 3,81% dari total PDRB Sulawesi Selatan pada tahun 2000 dan meningkat lagi menjadi Rp 2,23 triliun atau 5,21% total PDRB Sulawesi Selatan pada tahun 2003.

Lebih lanjut, sektor ekonomi kakao makin memantapkan diri sebagai salah satu sektor ekonomi penghasil ekspor dan perdagangan antar provinsi yang diunggulkan selain nikel. Pada tahun 2003, nilai ekspor kakao tercatat sebesar Rp 2,502 triliun atau 22,74% dari total ekspor dan perdagangan antar provinsi. Pangsa nilai ekspor dan perdagangan antar provinsi sektor kakao tersebut sedikit dibawah pangsa nilai ekspor nikel yang besarnya mencapai Rp 2,771 triliun atau 25,18%. Di

samping itu, sektor ekonomi kakao memberikan kontribusi yang cukup nyata bagi penyerapan tenaga kerja di pedesaan, khususnya di sentra-sentra produksi kakao. Pada tahun 1995, perkebunan kakao telah menyerap sebanyak 86.394 orang tenaga kerja. Jumlah penyerapan tenaga kerja tersebut terus meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2003.

6.1.1. Peran Kakao dalam Pembentukan Output

Struktur output perekonomian regional Sulawesi Selatan tahun 2003 mengalami sedikit pergeseran, dimana sektor pertanian yang selama ini mendominasi pangsa output tergeser oleh sektor industri. Pada tahun 2003, sektor industri memberikan kontribusi output sebesar Rp 18,94 triliun atau 27,1% dari total output regional Sulawesi Selatan. Sementara itu, sektor pertanian dalam arti luas yang selama ini memberikan kontribusi output terbesar mengalami penurunan pangsa dari 28,63% pada tahun 2000 menjadi 25,54% pada tahun 2003.

Pada sektor pertanian, penyumbang output tertinggi diduduki sektor padi dengan nilai Rp 4,876 triliun atau 6,98% dari total output dan berada pada posisi ke-4 terbesar penghasil ouput dari 25 sektor ekonomi yang dianalisis. Posisi padi tersebut naik tiga tingkat dibanding posisi tahun 2000 dengan menggeser sektor angkutan dan telekomunikasi, sektor tanaman bahan makanan lainnya dan sektor bangunan. Sementara itu sektor kakao memberikan kontribusi output sebesar Rp 2,586 triliun atau 3,70% dari total output dan berada pada posisi ke-12 penghasil output terbesar dari 25 sektor ekonomi. Posisi tersebut naik 2 tingkat dibanding posisi pada tahun 2000 dan berada di atas sektor perkebunan lainnya (Tabel 20).

Tabel 20. Posisi nilai output berbagai sektor ekonomi dalam perekonomian regional Sulawesi Selatan, tahun 2000 dan 2003

Pering

kat. Nama Sektor Ekonomi

Output 2000

(Rp juta) (%) Nama Sektor Ekonomi

Output 2003 (Rp juta) (%) 1 Indust Makanan & minuman 7.086.738 16,14 Indust Makanan & minuman 11.294.326 16,16

2 Perdag-Hotel-Rst 5.372.336 12,23 Perdag-Hotel-Rst 9.100.364 13,02 3 Jasa Pemerintahn 3.945.438 8,98 Jasa Pemerintahn 6.628.179 9,49

4 Bangunan 3.186.012 7,25 Padi 4.875.512 6,98

5 Tabama lainnya 2.922.395 6,65 Bangunan 4.768.562 6,82 6 Angkutan-Kmnks 2.805.181 6,39 Angkutan-Kmnks 4.652.510 6,66 7 Padi 2.346.455 5,34 Industri lainnya 3.566.140 5,10

8 Industri lainnya 2.275.523 5,18 Tabama lainnya 3.147.259 4,50 9 Tambang nekel 2.257.551 5,14 Tambang nekel 3.075.889 4,40

10 Perkeb. Lainnya 1.703.523 3,88 Bank-Lkeuangan 2.986.037 4,27 11 Budidaya udang 1.336.291 3,04 Industri semen 2.634.467 3,77

12 Bank-Lkeuangan 1.317.273 3,00 Kakao 2.585.784 3,70 13 Perikan laut 1.302.922 2,97 Perkeb. Lainnya 2.385.799 3,41

14 Kakao 1.212.875 2,76 Budidaya udang 1.560.485 2,23 15 Industri semen 933.056 2,12 Perikan laut 1.450.536 2,08

16 Kopi 697.640 1,59 Listrik, Gas, Air 935.053 1,34 17 Budidaya bandeng, & ikan 641.683 1,46 Ind. kopi giling & kupasan 811.002 1,16

18 Jasa Lainnya 516.864 1,18 Budidaya bandeng, & ikan 734.337 1,05

19 Listrik, Gas, Air 508.293 1,16 Peternakan 704.187 1,01 20 Ind kopi giling dan kupasan 461.350 1,05 Ind bijian, cokelat & k. gula 581.711 0,83

21 Tambang & Gln lainnya 459.316 1,05 Jasa Lainnya 507.158 0,73 22 Peternakan 335.210 0,76 Tambang & Gln lainnya 440.360 0,63

23 Ind biji-n, cokelat & k. gula 218.206 0,50 Kopi 287.532 0,41

24 Kehutanan 73.294 0,17 Kehutanan 115.358 0,17

25 Industri pupuk pestisida 412 0,00 Industri pupuk pestisida 50.265 0,07

Jumlah 43.915.838 100,00 Jumlah 69.878.813 100,00

Pada Tabel 20 tampak adanya pergeseran posisi dari berbagai sektor ekonomi, beberapa mengalami kenaikan dan beberapa sektor ekonomi mengalami penurunan posisi. Sektor ekonomi yang mengalami peningkatan posisi selain padi dan kakao adalah sektor ekonomi industri semen, sektor industri lainnya, bank dan lembaga keuangan lainnya, listrik-gas dan air, industri kopi giling dan kupasan, peternakan dan sektor industri biji-bijian, cokelat dan kembang gula. Sementara itu, ada beberapa sektor ekonomi yang mengalami penurunan posisi antara lain; sektor kopi, sektor tanaman bahan makanan lainnya, perkebunan selain kopi dan kakao, perikanan laut dan sektor jasa lainnya.

6.1.2. Peran Kakao dalam Menghasilkan PDRB

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan mengalami peningkatan cukup tajam dari Rp 27,75 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 42,87 triliun pada tahun 2003 atau meningkat Rp 15,12 triliun (54,47 %). Persentase peningkatan PDRB yang terbesar dialami oleh sektor industri semen yang nilainya meningkat hampir 3 kali lipat yaitu dari Rp 598,3 milyar menjadi Rp 1.765,9 milyar atau naik 195,2%. Persentase peningkatan nilai PDRB terbesar berikutnya adalah sektor kakao yang mengalami peningkatan dari Rp 1.058,1 milyar menjadi Rp 2.233,8 milyar atau meningkat 111,11%. Sementara itu, sektor lainnya mengalami peningkatan nilai PDRB yang bervariasi, bahkan ada beberapa sektor ekonomi yang mengalami kemerosotan nilai PDRB seperti: sektor ekonomi kopi, sektor tambang dan galian, serta sektor jasa lainnya.

Adanya perbedaan besarnya perubahan nilai PDRB yang dialami masing-masing sektor ekonomi tersebut menyebabkan terjadinya pergesaran posisi dalam memberikan kontribusi nilai PDRB perekonomian regional Sulawesi Selatan. Dalam struktur perekonomian yang disederhanakan menjadi 25 sektor, sektor industri semen yang pada tahun 2000 berada pada posisi 15 naik ke posisi 11 pada tahun 2003. Sementara sektor kakao yang pada tahun 2000 berada pada posisi 12, naik ke posisi 7 pada tahun 2003. Sektor-sektor yang mengalami peningkatan posisi adalah sektor padi, angkutan dan komunikasi, bank dan lembaga ekonomi lainnya, peternakan, listrik-gas dan air, industri biji-bijian, cokelat dan kembang gula, serta sektor industri kopi giling dan kupasan. Sedangkan sektor-sektor yang mengalami penurunan posisi adalah sektor tanaman bahan makanan lainnya, tambang nikel, industri makanan dan minuman, perkebunan lainnya, bangunan, perikanan laut, industri lainnya, budidaya udang, budidaya bandeng dan ikan, kopi, tambang dan galian lainnya, serta sektor kehutanan (Tabel 21).

Tabel 21. Posisi berbagai sektor ekonomi dalam perekonomian regional Sulawesi Selatan berdasarkan PDRB, tahun 2000 dan 2003

Pering

kat. Nama Sektor Ekonomi

PDRB 2000

(Rp juta) (%) Nama Sektor Ekonomi

PDRB 2003 (Rp juta) (%) 1 Perdag-Hotel-Rst 4.027.136 14,51 Perdag-Hotel-Rst 6.353.926 14,82 2 Jasa Pemerintahn 2.868.876 10,34 Jasa Pemerintahn 4.599.964 10,73 3 Tabama lainnya 2.599.135 9,37 Padi 4.256.270 9,93 4 Padi 2.050.743 7,39 Angkutan-Kmnks 2.855.224 6,66 5 Tambang nekel 2.021.247 7,28 Tabama lainnya 2.855.086 6,66 6 Angkutan-Kmnks 1.789.023 6,45 Tambang nekel 2.759.380 6,44 7 Ind Makanan & minuman 1.511.015 5,45 Kakao 2.233.829 5,21 8 Perkeb. Lainnya 1.378.825 4,97 Bank-Lkeuangan 2.109.337 4,92 9 Bangunan 1.174.807 4,23 Perkeb. Lainnya 2.020.151 4,71 10 Perikan laut 1.066.951 3,85 Bangunan 1.870.277 4,36 11 Industri lainnya 1.058.399 3,81 Industri semen 1.765.854 4,12 12 Kakao 1.058.088 3,81 Industri lainnya 1.631.152 3,81 13 Budidaya udang 1.039.655 3,75 Ind Makanan & minuman 1.615.354 3,77 14 Bank-Lkeuangan 1.036.544 3,74 Budidaya udang 1.270.541 2,96 15 Industri semen 598.322 2,16 Perikan laut 1.243.689 2,90 16 Budidaya bandeng, & ikan 541.021 1,95 Peternakan 603.770 1,41 17 Kopi 521.471 1,88 Budidaya bandeng & ikan 602.511 1,41 18 Tambang & Gln lainnya 394.032 1,42 Listrik, Gas, Air 474.726 1,11 19 Jasa Lainnya 363.061 1,31 Ind kopi giling & kupasan 417.871 0,97 20 Peternakan 279.247 1,01 Tambang & Gln lainnya 373.161 0,87 21 Listrik, Gas, Air 268.935 0,97 Jasa Lainnya 333.609 0,78 22 Kehutanan 63.837 0,23 Ind bijian, cokelat & k gula 270.628 0,63 23 Ind bijian, cokelat & k gula 29.536 0,11 Kopi 232.240 0,54 24 Ind kopi giling dan kupasan 8.389 0,03 Kehutanan 102.599 0,24 25 Industri pupuk pestisida 146 0,00 Industri pupuk pestisida 16.975 0,04

Jumlah 27.748.441 100,00 Jumlah 42.868.122 100,00,

6.1.3. Kontribusi Kakao bagi Penerimaan Ekspor

Sebagaimana dikemukakan bahwa kakao telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi output dan PDRB perekonomian regional Sulawesi Selatan. Di samping itu kakao mempunyai peran yang sangat penting dalam perekonomian regional Sulawesi Selatan khususnya dalam menciptakan surplus perdagangan, melalui ekspor dan perdagangan antar provinsi. Sektor ekonomi kakao mengalami perkembangan pangsa ekspor dan perdagangan antar provinsi yang sangat pesat dibanding sektor lainnya.

Pada tahun 1995, sektor ekonomi kakao memberikan sumbangan ekspor dan perdagangan antar provinsi sebesar Rp 245 milyar atau 8,13% dari total ekspor dan perdagangan antar provinsi Sulawesi Selatan. Dengan pangsa ekspor sebesar 8,13% tersebut, kakao berada pada posisi ke lima penghasil ekspor terbesar setelah sektor beras (industri makanan dan minuman), tambang nikel, industri lainnya dan jasa perdagangan, hotel dan restoran. Memasuki tahun 2000, nilai ekspor dan perdagangan antar provinsi sektor ekonomi kakao meningkat menjadi Rp 1,2574 triliun atau 12,44% dari total ekspor dan perdagangan antar provinsi Sulawesi Selatan. Dengan pangsa sebesar 12,44% tersebut, sektor ekonomi kakao menempati posisi ketiga terbesar penghasil ekspor dan perdagangan antar provinsi setelah nikel dan industri makanan dan minuman. Pada tahun 2003, pangsa ekspor kakao meningkat menjadi Rp 2,5028 triliun atau 22,74% dari total ekspor dan perdagangan antar provinsi Sulawesi Selatan dan hanya sedikit berada dibawah nikel yang pangsa ekspornya sebesar 25,18% (Tabel 22).

Pada Tabel 22 tersebut tampak bahwa sektor ekonomi kakao mengalami perkembangan yang sangat pesat dan menjadi salah satu penghasil ekspor utama Sulawesi Selatan. Sementara sektor ekonomi lainnya mengalami perkembangan ekspor dan perdagangan antar provinsi yang relatif lambat, kecuali sektor industri semen. Sektor industri semen mengalami perkembangan pesat beberapa tahun terakhir. Pangsa ekspor dan perdagagan antar provinsi sektor industri semen pada tahun 1995 hanya sebesar 2,07%, kemudian meningkat menjadi 3,55% pada tahun 2000 dan meningkat tajam menjadi 9,31% pada tahun 2003. Dengan perkembangan yang begitu pesat, sektor industri semen yang pada tahun 2000 berada pada posisi ke-10 penghasil ekspor dan perdagangan antar provinsi, naik ke posisi 5.

Tabel 22. Perkembangan nilai ekspor dan perdagangan antar provinsi berbagai sektor ekonomi dalam perekonomian regional Sulawesi Selatan

Nama Sektor 1995 2000 2003

(Rp juta) (Rp juta) (Rp juta)

Tambang nekel 626.906,71 2.248.834,55 2.771.053,73

Kakao 244.996,15 1.257.409,23 2.502.803,18

Indust Makanan & minuman 949.780,35 2.110.603,90 1.889.525,09

Perdag-Hotel-Rst 337.188,04 1.167.452,49 1.380.766,77

Industri semen 6.2283,1 359.420,57 1.024.251,70

Perkebunan lainnya 40.478,07 468.220,28 428.868,24

Peternakan 13.668,75 70.960,02 267.442,25

Budidaya udang 212.170,98 477.635,36 240.973,56

Industri biji-bijan, cokelat & k gula 15.000,22 434.871,43 181.542,74

Padi 0,00 0,00 117.715,80

Angkutan-Kmnks 35.935,62 266.258,09 75.716,22

Industri kopi giling dan kupasan 12451 311,23 37.305,68

Kopi 75.681,18 273.133,34 29.081,10

Industri lainnya 337.490,73 454.521,12 22.983,36

Budidaya bandeng, ikan & lainnya 527,23 15.416,43 17.094,08

Kehutanan 4.091,87 6.921,49 7.674,70

Tambang & Gln lainnya 1.302,38 6.174,85 6.846,82

Tabama lainnya 41.810,71 491.278,32 1.854,99

Bank-Lkeuangan 0,00 0,00 1.836,61

Perikan laut 527,23 1.385,55 1.536,33

Jasa Lainnya 0,00 0,00 210,85

Industri pupuk pestisida 1.151,19 0,00 0,00

Listrik, Gas, Air 0,00 0,00 0,00

Bangunan 0,00 0,00 0,00

Jasa Pemerintahn 0,00 0,00 0,00

Total ekspor & perdagangan antar Propinsi 3.013.441,50 10.110.808,26 11.007.083,79

6.1.4. Peran Kakao dalam Penyerapan Tengga Kerja

Pesatnya perkembangan areal perkebunan kakao di Sulawesi Selatan berdampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja. Peningkatan luas areal yang diikuti dengan peningkatan produksi kakao memberikan kesempat kerja yang luas bagi masyarakat, baik secara langsung di perkebunan kakao, maupun pada sektor-sektor yang terkait seperti perdagangan hasil kakao, industri pengolahan hasil kakao maupun pada sektor penyediaan input produksi perkebunan kakao.

Pada tahun 1995, kesempatan kerja yang disediakan langsung oleh sektor ekonomi kakao mencapai 86.294 orang atau 3,31% pekerja Sulawesi Selatan.

Selanjutnya kesempatan kerja yang disediakan langsung oleh sektor ekonomi kakao meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu sebesar 183.948 orang atau 6,02% dari total agkatan kerja yang bekerja pada tahun 2003. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sektor ekonomi kakao ikut berperan nyata dalam menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat Sulawesi Selatan.