C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
3. Peran Komite Audit
SEC mengindikasikan bahwa komite audit memiliki peran penting dalam sistem pelaporan keuangan dengan melakukan pengawasan kegiatan manajemen dan dan auditor dalam proses pelaporan keuangan (SEC, 1999 dalam Bryan et al., 2004:1). Perusahaan diwajibkan membentuk komite audit sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh BEJ No: KEP-339/BEJ/2001 bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek. Pedoman
pelaksanaan kerja komite audit diatur dalam Keputusan Ketua BAPEPAM No: Kep-29/PM/2004.
Komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang komisaris independen dan sekurang-kurangnya dua orang anggota lainnya berasal dari luar emiten atau perusahaan publik. Selain itu komite audit harus memiliki integritas tinggi, kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang memadai sesuai dengan latar belakang pendidikannya, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
18
SEC menunjukkan bahwa komite audit memainkan peran penting dalam sistem pelaporan keuangan dengan mengawasi dan memantau partisipasi manajemen dan auditor independen dalam proses pelaporan keuangan (SEC 1999 dalam Bryan et al., 2004:3). Dalam Keputusan Ketua BAPEPAM No: Kep-29/PM/2004 dijelaskan bahwa tugas dan tanggung jawab komite audit adalah memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada Dewan Komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris, antara lain meliputi:
a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan seperti laporan keuangan, proyeksi, dan informasi keuangan lainnya.
b. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan.
c. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal
d. Melaporkan kepada Komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan pelaksaan manajemen risiko oleh direksi.
19
e. Melakukan penelaahan dan melaporkan kepada Komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten atau perusahaan publik.
f. Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi perusahaan. Lebih lanjut Bryan et al. (2004:1) menyatakan bahwa tanggung jawab komite audit adalah melakukan penunjukkan terhadap auditor eksternal dan mengevaluasi laporan keuangan perusahaan, berinteraksi dengan manajer keuangan internal dan auditor internal, dan mereview pengendalian internal perusahaan. Komite audit membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan (Anderson et al., 2003:1). Komite Audit berwenang untuk mengakses catatan atau informasi tentang karyawan, dana, aset serta sumber daya perusahaan lainnya yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugasnya, dan bekerja sama dengan auditor internal dalam melakukan pengawasan (Keputusan Ketua BAPEPAM No: Kep-29/PM/2004). Klein (2006:6) menyebutkan bahwa area penyelidikan komite audit
mencakup penilaian manajemen, estimasi akuntansi, penyesuaian audit, ketidaksepahaman manajemen dan auditor eksternal, dan transaksi antara perusahaan dan karyawan. Komite audit juga meneliti masalah hukum dan peraturan pemerintah karena mereka
20
berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan dan untuk menilai profil risiko kegiatan perusahaan dan pengendalian internal. Komite Audit menyediakan komunikasi formal antara dewan,
manajemen, auditor eksternal dan auditor internal (Bradbury et al., 2004:4 dan Klein, 2006:6). Komite audit juga
bertugas sebagai pihak penengah apabila terjadi selisih pendapat antara manajemen dan auditor mengenai interpretasi dan
penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Dye, 1988; Atle dan Nalebuff, 1991 dalam Bradbury et al, 2004:5).
Adanya komunikasi formal antara komite audit, auditor internal, dan auditor eksternal akan menjamin proses audit internal dan eksternal dilakukan dengan baik. Proses audit internal dan eksternal yang baik akan meningkatkan akurasi laporan keuangan dan kemudian meningkatkan kepercayaan terhadap laporan keuangan (Anderson et al. 2003:6). Price Waterhouse (1980) dalam Siallagan dan Machfoedz (2006:7) menyatakan bahwa investor, analis dan regulator menganggap komite audit memberi kontribusi dalam kualitas pelaporan keuangan dengan meningkatkan integritas dan kredibilitas melalui:
a. Pengawasan atas proses pelaporan termasuk sistem pengendalian internal dan penggunaan prinsip akuntansi berterima umum. b. Mengawasi proses audit secara keseluruhan.
21
Bryan et al. (2004:2) menekankan peran komite audit dalam pengawasan pada kegiatan pelaporan keuangan, terutama dalam penyusunan laba di perusahaan dengan melihat independensi dan efektivitas komite audit. Selain itu Anderson et al. (2003:24) menemukan bahwa ukuran komite audit berperan secara negatif terhadap kualitas atas pelaporan laba yang dihasilkan.
a. Efektivitas Komite Audit
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mewajibkan Komite Audit untuk mengadakan rapat tiga sampai empat kali dalam satu tahun (Kristanti dan Syafrudin, 2012:3). Efektivitas Komite Audit dalam melaksanakan peran pengawasan atas proses pelaporan keuangan dan pengendalian internal memerlukan rapat rutin yang akan membantu Komite Audit dalam memeriksa sistem pengendalian internal, dan dalam hal menjaga informasi manajemen (McMullen dan Raghunandan,1996 dalam Kristanti dan Syafrudin, 2012:3). Klein (2006:6) menemukan bahwa frekuensi pertemuan/rapat komite audit dapat membantu meningkatkan kualitas informasi laba. Collier dan Gregory (1999) dalam Kristanti dan Syafrudin (2012:3) mengungkapkan bahwa Komite Audit yang menyelenggarakan frekuensi rapat yang lebih sering memberikan mekanisme pengawasan dan pemantauan kegiatan
22
keuangan yang lebih efektif, meliputi persiapan dan pelaporan informasi keuangan perusahaan.
Dengan melakukan rapat secara periodik, Komite Audit dapat mencegah dan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan oleh manajemen karena aktivitas pengendalian internal perusahaan dilakukan secara terus menerus dan terstruktur sehingga setiap permasalahan dapat
cepat terdeteksi dan diselesaikan dengan baik oleh manajemen. Sharma et al. (2009 dalam Barua et al., 2010:507) membuktikan
bahwa perusahaan yang memiliki komite audit dengan tingkat frekuensi pertemuan yang kecil akan cenderung menghasilkan laporan keuangan yang kurang berkualitas.
Treadway Commission (National Commission on Fraudulent Financial Reporting, 1987), Public Oversight Board (1993), SEC Chairman Levitt (1998) dan the Blue Ribbon Committee (BRC, 1999) menyarankan agar komite audit sering melakukan pertemuan agar memungkinkan untuk komunikasi yang lebih baik antara anggota komite audit dan auditor (eksternal dan internal), dan memungkinkan komite audit
menjadi lebih efektif dalam melakukan tugasnya (Barua et al., 2010:506).
23
b. Ukuran Komite Audit
Komite audit beranggotakan minimal tiga orang (Keputusan Ketua BAPEPAM No: Kep-29/PM/2004). Untuk membuat Komite Audit yang efektif dalam pengendalian dan pemantauan atas kegiatan pengelolaan perusahaan, komite harus memiliki anggota yang cukup untuk melaksanakan tanggungjawab (Kristanti dan Syafrudin, 2012:2). Jumlah anggota Komite Audit yang harus lebih dari satu orang ini dimaksudkan agar Komite Audit dapat mengadakan rapat dan bertukar pendapat satu sama lain. Hal ini dikarenakan masing-masing anggota Komite Audit memiliki pengalaman tata kelola perusahaan dan pengetahuan keuangan yang berbeda-beda (Kristanti dan Syafrudin, 2012:2).
Anderson et al. (2003:24) menemukan bahwa ukuran komite audit yang lebih kecil memiliki efektivitas yang lebih besar dan dapat meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Menurut teori ketergantungan sumber daya, efektivitas Komite Audit meningkat ketika ukuran komite meningkat, karena komite memiliki sumber daya yang lebih untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan (Kristanti dan Syafruddin, 2012:2). Oleh karena itu, diharapkan
24
keberadaan Komite Audit yang efektif dapat membantu dalam meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan.
Komite audit dan internal audit berperan untuk mengawasi sistem pengendalian dan pengelolaan risiko perusahaan. Ini dikarenakan tidak adanya peraturan yang mengatur tentang pembentukan dewan khusus untuk mengelola risiko dalam perusahaan, kecuali untuk sektor perbankan yang diatur dalam peraturan BI No. 8/4/PBI/2006. ERM menjadi sistem pengendalian atas risiko yang masih menjadi bahan penelitian lebih lanjut beberapa tahun ini. Dengan adanya komite audit yang turut mengawasi dan turut mengelola risiko yang ada di perusahaan, diharapkan dapat membuat informasi keuangan, terutama laba, menjadi dapat diandalkan.
4. ERM (Enterprise Risk Management)
Agency theory mengusulkan serangkaian mekanisme untuk menyatukan kepentingan pemegang saham dan manajer seperti adanya pengawasan internal oleh dewan komisaris dan komite audit, pengawasan dari pemegang saham mayoritas, adanya pengendalian internal, serta pengawan eksternal auditor eksternal atas laporan keuangan perusahaan (Meizaroh dan Lucyanda, 2011:3).
Pengendalian Internal menjadi subyek perhatian yang sering
25
(Boynton dan Johnson, 2006:389) mencantumkan beberapa faktor yang penting mengapa dibutuhkan pengendalian internal, yaitu: a. Ruang lingkup dan ukuran perusahaan menjadi begitu kompleks
dan luas, dan manajemen harus bergantung pada sejumlah laporan dan analisis untuk mengendalikan operasi perusahaan secara efektif.
b. Pengecekan dan review dalam sistem pengendalian internal yang baik memberikan perlindungan terhadap kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kesalahan atau penyimpangan terjadi. c. Tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan atas
perusahaan tanpa adanya sistem pengendalian internal perusahaan dengan adanya batasan biaya. Hal ini akan menurunkan efisiensi dan efektivitas proses pengauditan.
COSO (Tunggal, 2013:3) mendefinisikan pengendalian internal sebagai berikut:
Internal Control: a process, effected by an entitiy’s board of
directors, management, and other personel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories:
a. Effectiveness and efficiency of operations. b. Reliability of financial reporting.
c. Compliance with applicable laws and regulation.
Pengendalian internal memiliki beberapa tujuan. COSO (Tunggal, 2013:4; Boynton dan Jhonson, 2006:392) menyebutkan 3 tujuan dari pengendalian internal, yaitu:
26
a. Keandalan dan integritas informasi: komponen pengendalian
“informasi dan komunikasi” secara utuh menjelaskan dan mencakup tujuan tersebut.
b. Ketaatan dengan kebijakan, rencana dan prosedur organisasi:
komponen pengendalian “aktivitas pengendalian” menunjukkan
bahwa penetapan dan ketaatan yang diperkuat terhadap kebijakan dan prosedur perlu untuk mempertahankan organisasi dalam jalur terhadap pencapaian tujuan.
c. Mengamankan harta, pemakaian sumber daya yang ekonomis dan efisien (tujuan utama pengendalian internal), dan pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan.
Dalam perspektif manajemen, sistem pengendalian internal memberikan suatu cara memenuhi pekerjaan pengurusannya (stewarship atau agency responsibilities), membantu manajemen menghasilkan informasi yang dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Standar pekerjaan lapangan audit yang kedua menyatakan pemahaman yang memadai atas pengendalian internal harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,
saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan (Tunggal, 2013:28). Pemahaman pengendalian internal auditor
adalah faktor utama dalam menemukan strategi audit secara keseluruhan.
27
COSO merumuskan sistem pengendalian internal yang berfokus pada pelanggan dan berorientasi pada hasil yang disebut Enterprise Risk Management (Tunggal, 2013:). Fokus audit sekarang berpindah dari pengendalian menjadi manajemen risiko (Leech, 2011 dalam Shortreed et al. 2011, :3). P Shortreed et al.(2011:3) menyebutkan perubahan ini diperlukan sebagai respon dari internal audit:
a. Memainkan peran dalam mengelola risiko dan tidak hanya menyediakan pandangan secara independen atas usaha manajemen.
b. Untuk mendukung pengelolaan risiko dengan menyediakan jaminan critical control.
c. Untuk mengembangkan teknik baru untuk mengawasi, mereview dan mengomunikasikan, untuk meningkatkan efektivitas dari manajemen risiko dan tata kelola perusahaan.
d. Bekerja sama dengan dengan kolega-kolega mereka untuk melakukan training dan praktik dalam auditor internal untuk menemukan inovasi-inovasi baru dalam bidang audit internal.
Audit internal menggunakan profil risiko sebagai dasar kuat untuk melakukan perencanaan audit internal (Shortreed et al., 2011:2). Enterprise risk management merupakan
suatu strategi yang digunakan untuk mengevaluasi dan mengelola semua risiko dalam perusahaan (Meizaroh dan Lucyanda, 2011:2).
28
COSO (2004) menyatakan ERM adalah proses, dipengaruhi oleh dewan entitas direksi, manajemen, dan personil lainnya, diterapkan dalam pengaturan strategi di seluruh perusahaan, yang dirancang untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang dapat mempengaruhi entitas, dan mengelola risiko untuk memberikan jaminan mengenai pencapaian tujuan entitas.
Penerapan ERM dapat meningkatkan kinerja perusahaan (Barton et al. (2002); Lam (2001); dan Liebenberg (2003), dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2011:7). ERM juga dapat menurunkan volatilitas harga saham, mengurangi biaya modal, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan sinergi antara aktivitas manajemen risiko (Miccolis dan Shah, 2000; Lam, 2001; Meulbroek, 2002 dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2011:7). ERM merupakan sarana untuk mempromosikan kinerja operasional perusahaan dan membantu pembuatan keputusan strategis (Beasley, 2005 dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2011:7)
Keberadaan Chief Risk Officer, dewan direksi, komisaris independen, tipe auditor, ukuran perusahaan, dan keberadaan risk management committee ditemukan berpengaruh pada tingkat pengungkapan ERM (Desender, 2007 dan Andarini dan Indira, 2010).
29
Risk management committee (RMC) adalah salah satu unsur penting dalam pengelolaan manajemen risiko perusahaan yang bertugas mempertimbangkan manajemen risiko, dan memastikan bahwa perusahaan telah memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku (Subramaniam et al., 2009 dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2011:10). Sektor finansial, seperti perbankan telah menerapkan praktik ERM dalam perusahaan seperti yang diatur dalam peraturan BI No.8/4/PBI/2006 tentang Good Corporate Governance.
Pada perusahaan RMC dapat tergabung dalam komite audit atau terpisah dalam komite tersendiri yang fokus pada masalah risiko sebagai bentuk partisipasi dari komite audit dalam pengawasan (Tunggal, 2013:14). Beberapa perusahaan masih mendelegasikan tugas pengawasan risiko pada komite auditnya (Beasley, 2007; Bates and Leclerec, 2009 dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2007:10). Mengetahui dan memahami risiko baik internal maupun eksternal yang berpotensi dapat mempengaruhi organisasi, dan memastikan bahwa risiko ini dikelola ke tingkat optimal, harus menjadi prioritas utama bagi pengurus dan anggota komite audit. Berdasarkan ERM Framework yang dikeluarkan COSO, terdapat 108 item pengungkapan ERM yang mencakup delapan dimensi. Dimensi ini menjadi komponen penting dalam ERM yaitu lingkungan internal, penetapan tujuan, identifikasi tujuan,
30
identifikasi kejadian, penilaian risiko, respon atas risiko, kegiatan pengawasan, informasi dan komunikasi, dan pemantauan (Desender, 2007, dalam Meizaroh dan Lucyanda, 2007:13).
ERM framework dapat digambarkan sebagai berikut.
Sumber: Executive Summary COSO 2004
Gambar 2.1. COSO ERM- Integrated Framework
Manajemen menetapkan tujuan strategis, memilih strategi, dan menetapkan tujuan bertingkat perusahaan dalam empat kategori: a. Strategis - tujuan harus selaras dan mendukung misi perusahaan. b. Operasi - penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. c. Pelaporan - keandalan pelaporan.
d. Kepatuhan - kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
31
Delapan komponen dari Enterprise Risk Management meliputi: a. Lingkungan internal
Manajemen menetapkan filosofi risiko dan menetapkan budaya risiko entitas dan risk appetite.
b. Tujuan Pengaturan
Manajemen mempertimbangkan risiko dalam penetapan tujuan. c. Identifikasi peristiwa
Manajemen mengidentifikasi peristiwa, baik internal maupun eksternal terdapat risiko dan peluang.
d. Penilaian Risiko
Kemungkinan dan dampak risiko yang dinilai untuk mengklarifikasi sejauh mana mereka mungkin berdampak terhadap tujuan perusahaan. Ini menggunakan kombinasi metodologi kualitatif dan kuantitatif untuk membentuk dasar bagi pengelolaan risiko tersebut.
e. Respon Risiko
Manajemen membuat keputusan mengenai apakah risiko harus dihindari, diterima, dikurangi, atau dibagi, dan kemudian mengembangkan satu set actions untuk menyelaraskan risiko dengan toleransi risiko organisasi.
32
f. Kegiatan Pengendalian
Kebijakan yang dibentuk untuk memastikan respon risiko manajemen yang yang dilaksanakan secara efektif.
g. Informasi dan Komunikasi
Komunikasi yang menyeluruh dan tepat waktu untuk memastikan peran dan tanggung jawab dapat dilakukan secara efektif dalam proses identifikasi, penilaian, dan tanggapan terhadap risiko.
h. Pemantauan
Pengawasan atas kegiatan ERM yang digunakan sebagai bahan evaluasi agar dapat berjalan sesuai yang direncanakan.
The Conference Board bersama dengan McKinsey & Company dan KPMG Audit Komite Institute membuat enam rekomendasi utama untuk pengawasan yang efektif dari ERM.
a. ERM yang ditugaskan ke komite audit, komite risiko, atau dewan, bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan atas manajemen risiko yang harus terklarifikasi, terstruktur, dan tercermin dalam piagam (charter).
b. Dewan harus dipersiapkan dengan baik untuk mengasumsikan peran pengawasannya dengan melakukan pelatihan manajemen risiko, berpartisipasi dalam diskusi yang relevan, dan menyediakan analisis profil risiko organisasi.
33
c. Proses ERM harus mencakup pengawasan yang tepat dalam menilai risiko perusahaan, pengendalian untuk mengurangi risiko, dan monitoring risiko.
d. Sebuah kerangka kerja pelaporan yang terintegrasi harus terdiri dari laporan unit bisnis secara keseluruhan (agregat) untuk laporan tingkat risiko perusahaan.
e. Sebuah proses harus berjalan untuk menilai dan memantau kinerja manajemen risiko, termasuk isu-isu seperti efektivitas komite dan piagam, tingkat pemahaman dewan kebijakan risiko, dan tingkat produktivitas komunikasi manajemen dan dewan. f. Harus ada interaksi langsung dari dewan dengan manajer
berkenaan dengan risiko organisasi utama.
Komite audit dan auditor internal saling bergantung. Auditor internal memberikan pendapat obyektif, informasi, dukungan, dan pengetahuan tentang perusahaan kepada komite audit, dan komite audit memberikan validasi dan pengawasan terhadap auditor internal. Para auditor internal secara berkala harus melaporkan keada komite audit risiko yang signifikan dan masalah pengendalian, isu tata kelola perusahaan, dan informasi lainnya yang diminta oleh komite audit. Audit internal membantu manajemen dan komite audit dalam manajemen risiko dan peran pengawasan dengan memeriksa, mengevaluasi, pelaporan, dan merekomendasikan perbaikan pada
34
kecukupan dan efektivitas proses manajemen risiko (Zwaan et al, 2009:3).
ERM kualitas tinggi dapat mempengaruhi alokasi sumber daya melalui persepsi pelaku pasar dari keandalan laba akuntansi (Baxter, 2012:2). Nocco dan Stutz (2006:8) menyatakan bahwa ERM dapat meningkatkan nilai perusahaan dalam level mikro dan makro.
ERM menciptakan nilai dengan memungkinkan manajemen senior untuk mengukur dan mengelola risiko. ERM membantu perusahaan mempertahankan akses ke pasar modal dan sumber daya lain yang diperlukan untuk menerapkan strategi dan rencana bisnis. Pada tingkat mikro, ERM menjadi way of living untuk manajer dan karyawan di semua tingkat perusahaan (Nocco dan Stutz, 2006:10). Nilai perusahaan yang baik akan berdampak pada naiknya harga saham perusahaan, berkurangnya ketidakstabilan harga (Woon et al., 2011:5), dan berkaitan langsung dengan ERC secara
signifikan, yang menyiratkan bahwa pasar menempatkan nilai yang lebih besar pada pendapatan tak terduga (unexpected earnings) dari perusahaan tersebut (Baxter et al., 2012:4).
Baxter et al. ( 2012:3) menambahkan bahwa kualitas ERM yang tinggi berhubungan dengan tata kelola perusahaan yang baik (audit komite mengawasi langsung atas risiko perusahaan), dan
35
pengurangan audit yang berkaitan dengan risiko (pengendalian internal yang efektif).
5. Kualitas Laba
Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan (Puteri dan Rohman, 2012:1). Bagi pemilik saham, laba merupakan peningkatan nilai ekonomis yang akan diterima melaui dividen dan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja operasional perusahaan (Boediono, 2005:2). Laba merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja operasional perusahaan (Siagallan dan Mahfoedz, 2006:2). Laba digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earning power, dan memprediksi laba di masa depan.
Setidaknya ada tiga set yang berbeda dari keputusan yang mempengaruhi kualitas laba:
a. Keputusan yang dibuat oleh pembuat standar
b. Pilihan yang dibuat oleh manajemen tentang metode akuntansi yang harus dipilih dari satu set alternatif yang bisa diterima c. Penilaian dan estimasi yang dibuat oleh manajemen dalam
rangka mengimplementasikan alternatif yang dipilih.
Perbedaan metode dan kebijakan perusahaan ini dapat menghasilkan tingkat laba yang berbeda-beda, yang akan berakibatnya terhadap keputusan yang akan diambil oleh pemakai
36
laporan keuangan. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor
dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2006:3).
Laba yang dipublikasikan dapat memberikan respon yang bervariasi yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba (Cho dan Jung, 1991 dalam Boediono, 2005:2). Reaksi yang diberikan tergantung kepada kualitas laba yang dihasilkan perusahaan. Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dalam earning response coefficient menunjukan laba yang dilaporkan berkualitas (Boediono, 2005:2). Maka kualitas laba dapat diukur dengan ERC perusahaan. Respon investor terhadap unexpected earning tergantung dari kredibilitas laporan laba. 6. Variabel Kontrol
Variabel kontrol atau pelengkap termasuk dalam variabel ekstrani yang dapat mempengaruhi hubungan kausal. Guna variabel kontrol yaitu untuk melengkapi atau mengontrol hubungan kausal supaya lebih baik untuk mendapatkan model empiris yang lebih lengkap dan baik. Variabel kontrol ini bukan variabel utama yang akan diteliti tetapi memiliki efek pengaruh terhadap hasil pengujian (Jogiyanto, 2012:186). Puteri dan Rohman (2012:6) menggunakan
37
varibel kontrol Leverage dan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol.
a. Leverage
Leverage digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana perusahaan mendanai aktivanya. Leverage memberikan ukuran atas dana yang disediakan pemilik dibandingkan dengan keuangan yang diberikan kreditor (Kamaludin dan Indriani, 2012:42). DeFond dan Jiambalvo (1994 dalam Nahandi et al., 2012:3119) melaporkan bahwa perusahaan yang memiliki leverage yang besar cenderung melakukan managemen laba atau meningkatkan pendapatan melalui akutansi akrual untuk menghindari pelanggaran atas perjanjian utang. Meningkatnya diskresionary accrual yag dilakukan manajemen mengindikasikan kualitas laba yang dilaporkan rendah sesuai dengan model Jones yang mengukur kualitas laba menggunakan proksi diskresionary accrual.
b. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan proksi dari keinformatifan harga. Perusahaan besar dianggap memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Jadi, semakin informatif harga saham maka semakin kecil pula muatan informasi
38
B. Penelitian Sebelumnya
Adapun hasil penelitian terdahulu mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1.
Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Pengaruh Efektivitas Komite Audit (X1), Ukuran Komite Audit(X2), dan Implementasi ERM (X3) terhadap Kualitas Laba (Y)
No
Peneliti, judul, tahun Metode Penelitian Hasil Variabel
X1 X2 X3 Y
1. Kristen L. Anderson, Daniel N. Deli, and Stuart L. Gillan. Board of
Directors, Audit Committees, and the Information Content of Earnings (2003)
o Periode 2001, dan tahun fiskal 2000-2001 dengan sample 1241
perusahaan.
o Variabel lain: dualitas CEO.
o Semakin kecil audit komite, maka kualitas labanya semakin kecil
o ERC meningkat saat dewan di dalam perusahaan menjadi lebih independen dan aktif.
o Semakin sedikit rapat yang dilakukan komite audit, semakin kecil kualitas pelaporan labanya.
√ √ √
2. Daniel Bryan, M.II. Carol Liu dan Samuel Tiras. The Influence of Independent and Effective Audit Committee on Earnings Quality (2004) o 500 perusahaan pada periode 1996-2000 o Menggunakan model regresi o Selain menggunakan proksi ERC, juga menggunakan proksi akuntansi akrual
o Komite Audit yang independen dan sering mengadakan pertemuan meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan
√ √
39 Tabel 2.1. (Lanjutan)
No
Peneliti, judul, tahun Metode Penelitian Hasil Variabel
X1 X2 X3 Y
3. Peter J Baxter Bbus (Hons). Audit Committees and Financial Reporting Quality (2007) o Variabel lain: independensi, expertise dan tenure. o Kualitas laba menggunakan pengembangan model diskresionary accrual (Jones, 1991) dan accrual estimation (Dechow dan Dichev, 2002)
o Kualitas laba menurun mengikuti ukuran komite audit (model Jones)
o Efektivitas komite audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba
√ √ √
4. Ryan Baxter, Jean C. Bedard, Rani Hoitash, Ari Yegezel. Enterprise Risk Management Program Quality: Determinants, Value Relevance, and the Financial Crisis (2009)
o Menggunakan regresi OLS
o Menggunakan data dari 165 perusahaan (bank dan asuransi) pada periode 2006-2008