PERAN MILITER BUDAK PADA MASA PEMERINTAHAN KHALIFAH AL-MU’TASHIM
A.Keamanan
Sebelum al-Mu‟tashim diangkat menjadi kepala pemerintahan, beliau adalah tangan kanan al-Ma‟mun dalam memadamkan beberapa pemberontakan diantaranya; melawan kaum zot, babik al-khurami, dan meneruskan peperangan dengan Romawi. Dan ketika al-Mu‟tashim menjabat sebagai kepala pemerintahan masalah demi masalah datang kepadanya diantaranya adalah; Pada tahun 218 H44/834 M, muncul pemberontakan yang dimotori oleh keturunan Ali, yaitu Muhammad Ibnu Qasim bin Ali bin Umar bin Ali bin Husain bin Ali. Pemberontakan tersebut pertama kali muncul di Kuffah dan di Khurasan, yang kemudian merambat ke kota-kota lain. Akan tetapi, lagi-lagi pemberontakan inipun dapat dipadamkan, karena kerja keras yang dilakukan oleh Abdullah bin Thahir. Sedangkan Muhammad sendiri dapat ditangkap dan diserahkan kepada al-Mu‟tashim dan akhirnya dipenjarakan di Sammara, nasibnya tidak diketahui sama sekali.
Ketika al-Mu‟tashim diangkat sebagai khalifah ada seorang laki-laki menyatakan bantahannya kepada al-Ma‟mun ketika ia berada di Syam dengan
berkata; “wahai amirul mu‟minin lihatlah betapa serupanya apa yang dimiliki orang Arab di Syam dengan apa yang dimiliki ahli Khurasan dan juga mu‟tashim
mulai merasa dengan lemahnya kepercayaan orang-orang Furs kepadanya, yang
44
37
dimana itu ditunjukkan ketika kematian al-Ma‟mun, pada waktu itu tentara- tentara tersebut lebih condong kepada Ibnu Abbas di karenakan keturunan ibunya dari Persia. Dan Tabari menyebutkan, bahwa dari orang-orang Persia sangat menentang ketika di baiatnya Abu Ishaq atau yang lebih dikenal al-Mu‟tashim menjadi kepala pemerintah, dimana mereka meminta dan menyerukan agar al- Abbas yang menjadi kepala kekhalifahan. Maka, saat itu Abu Ishaq mengutus seorang untuk mendatangkan Abu Abbas di hadapannya untuk membaiatnya sebagai kepala khalifah, dan akhirnya Abu Abbas membaitnya. Dari kejadian ini menjadikan Abu Ishaq (al-Mu‟tashim) agar berfikir untuk tidak mengulangi kejadian ini dan bagaimana caranya untuk meminta pertolongan kepada kaum selain orang Persia dan Arab, yang dimana permintaannya di tujukkan kepada orang-orang Turki.45
Salah satu dari penggunaan budak militer secara besar-besaran dalam sejarah terjadi dalam ekspedidi al-Mu‟tashim tahun 213 H/828 M, yang terdiri dari 4000 orang Turki yang dikirim ke Mesir selama dua tahun. Sementara budak-budak militer datang untuk kemudian menjadi bagian terbesar bagi pasukan Abbasiyah pada dekade-dekade berikutnya. Budak-budak itu mendapat peran yang lebih besar di Mesir. Mereka mencapai puncaknya pada tahun 254 H/868 M, ketika seorang putra dari budak Turki, Ahmad bin Tulun menjadi gubernur propinsi (Mesir) tersebut dan menjadi penguasa yang independen.46
Sejak pasukan dari Khurasan telah menjadi mandiri di situ pasukan budak militer terlihat berperan sekali pada masa al-Mu‟tashim. Di sana terlihat ada kecenderungan al-Mu‟tashim terhadap pasukan budak untuk dijadikan pengganti
45
Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, ju z I, (Mesir: Maktabah Nahdah al-Mishriyah, 1966, cet- 4), hal 3-4.
46
38
pasukan kesukuan dengan di luar pasukan yang bukan dari pasukan kesukuan sebagai basis pasukan yang loyal terhadap dirinya. Al-Mu‟tashim mempunyai kepercayaan yang berlebihan terhadap pasukan dari budak, pada masanya al-
Mu‟tashim mampu menghindari bahaya lawan politiknya untuk kembali berkuasa. Pindahnya kekuasaannya ke Sammara‟ setelah mengalami kebosanan
di Baghdad. Siasat ini digunakan karena al-Mu‟tashim ingin membentuk sebuah sistem yang kuat dalam kekuasaannya dan beliau memilih orang-orang Turki dalam hal ini.
Di antara khalifah Dinasti Abbasiyah yang pernah memanfaatkan tenaga orang-orang Turki adalah al-Mansur, walaupun saat itu jumlahnya relatif sedikit dan belum mempunyai peran apa-apa di dalam istana. Sebab, pada saat itu yang berperan lebih condong kepada orang-orang etnis Arab dan Persia. Akan tetapi, setelah terjadi persaingan antara orang-orang Arab dan Persia pada masa al- Manshur, lenyaplah kekuatan Arab bersamaan dengan lenyaplah kekuasaan al- Amin yang mana berasal dari kubu Arab. Kemudia tumbuhlah kekuasaan Persia yang dimotori oleh khalifah al-Ma‟mun, yang semenjak saat itu al-Mu‟tashim mulai memikirkan bagaimana caranya agar Etnis Persia dapat dilenyapkan dalam tahta kerajaan.47 Seperti diterangkan dalam latar belakang bahwa dalam segi keturunan beliau berasal dari Turki dan itu kita bisa lihat dari ibunya, yang
banyak mempengaruhi tabi‟atnya sehingga beliau berwatak pemberani seperti
kebanyakan orang-orang Turki. Jadi merupakan hal yang wajar jika dia berusaha
47
39
untuk mengumpulkan orang-orang Turki yang jumlahnya berkisar antara 8.000- 18.000 orang.48
Mereka gagah berani, perkasa dan kesehatannya cukup terjamin. Oleh karena itu mereka dilatih kemiliteran, dan diberi tempat yang nyaman dengan pakaian militer sehingga membuat mereka bertambah semangat. Setelah al-
Mu‟tashim memegang kendali pemerintahan, banyak diantara mereka yang
diberi jabatan penting, seperti pengawal istana dan lain sebagainya. Dengan demikian orang-orang etnis Turki dapat memperkokoh Dinasti Abbasiyah dalam mengahadapi lawan-lawannya, baik dari dalam maupun luar negeri. Adapun orang-orang Turki yang diberi jabatan adalah Afsyin, Asynas, dan Itakh, nama- nama inilah yang mengharumkan masa pemerintahan al-Mu‟tashim dan mereka semuanya merupakan komandan tentara yang pernah berjasa dalam menghadapi tentara Romawi. Meskipun demikian, Afsyin mengadakan kerjasama dengan Maziyar untuk merongrong kekuasaan al-Mu‟tashim.
Saat itu, Afsyin ingin melepaskan diri dari pemerintaha pusat dan ingin
mendirikan negara yang merdeka di Maa wara‟an-Nahr (Transoksania). Di samping itu, dia juga ingin menghidupkan kembali agama lamanya yaitu Majusi, bahkan di rumahnyapun sudah dipasang sebuah patung sebagai sembahyangnya dan juga buku-buku yang berkaitan dengan agama tersebut. Namun, apa yang terjadi akhirnya dia mati diracun dan jenazahnya disalib, kemudian dibakar bersamaan dengan patung yang ada dirumahnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 226 H/841 M.49
48
Ahmad Amin, Zuhr al-Islām, juz I, (Mesir: Maktabah Nahdah al-Mishriyah, 1966, cet-4), hal. 3.
49
40
Maziyar adalah tokoh yang pernah jaya di masa al-Ma‟mun dan pernah menjadi gubernur di Tabaristan, dengan nama Muhammad pada saat itu, dia ingin mengangkat dirinya sebagai khalifah. Oleh karena itu, dia memanggil
sekelompok orang untuk membai‟atnya, tetapi mereka tidak mau membai‟atnya,
bahkan Maziyar sendiri di tangkap dan dimasukan kedalam penjara.50 Al-
Mu‟tashim menduduki kursi kekhilafahan sampai tahun 227 H/842 M.
Setelah al-Mu‟tashim menggantikan peranan militer yang diambil dominan dari etnis Turki sampai memenuhi Baghdad hingga menyempitkan penduduknya beliaupun akhirnya membangun kota Sammara sebagai pesinggahan militer budak tersebut. Letak kota Sammara adalah disebelah timur sungai Dajlah (Tigris) yang jauhnya kurang lebih 100 km di sebelah utara kota
Baghdad. Asal muasal dinamakan Sammara, diambil dari Surra
manra’a51
dikatakan demikian, karena setelah kota tersebut selesai dibangun menjadi indah dan ramai serta menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya. Samara adalah sebuah kota kuno yang dibangun kembali oleh Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa Harun ar-Rasyid. Akan tetapi dahulu apa yang diusahakan beliau belum sempurna, tidak seperti yang dilakukan oleh al-Mu‟tashim.52
Pada tahun 221 H/836 M, kota ini dibangun kembali oleh al-Mu‟tashim dengan tujuan; sebagai tempat tinggal yang baru (istana) bagi khalifah, sebagai
50
Ibid., hal. 111-112.
51
Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Terj. Al-Mukkarom Ustas dan Labib Ahmad, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993), hal. 230.
52
Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, juz I, (Mesir: Maktabah Nahdah al-Mishriyah, 1966, cet- 4) hal. 6.
41
kerusuhan dan perkelahian.53 Al-Mu‟tashim pindah ke kota tersebut pada tahun 223 H/838 M sampai wafatnya.54 Selanjutnya, kota tersebut ditempati oleh penggantinya, bahkan pada masa Mutawakkil, kota tersebut dilengkapi dengan masjid dan menara yang menjulang tinggi.55
B. Administrasi
Khalifah Abbasiyah, dalam melangsungkan administrasi pemerintahannya melalui beberapa bagian kedinasan. Diantaranya; Diwan al-Rasail (Diwan yang berkenaan dengan kearsipan dan surat menyurat), Diwan al-kharraj (Dinas pemungutan Pajak), Diwan al-Jund (sejumlah kedinasan yang menangani pengeluaran militer), Diwan Qadha (Diwan yang menangani urusan kehakiman),
Diwan al-Syurthah (Diwan urusan kepolisian) di samping staf biroraksi, wazir dalam menjalankan pemerintahan dibantu oleh beberapa Raisud Diwan atau Menteri Departemen diantaranya; Diwan al-Kharaj (Departemen Keuangan), Diwan ad-Diyah (Departemen Kehakiman), Diwan azziman (Departemen pengawasan urusan dalam negeri), Diwan al-Jund (Departemen Ketentaraan), Diwan al-Mawali wa al-Ghilama (Departemen Perburuan), Diwan al-Barid (Departemen Perhubungan), Diwan Ziman an-Nafaqat (Departemen Pengawas Keuangan), Diwan al-Rasail (Departemen urusan arsip), Diwan an-Nahdar fil Madhalim (Departemen pembelaan rakyat tertindas), Diwan al-Akhdas Was syurthah (Departemen Kepolisian), Diwan al „atha‟ wal Hawaaij (Departemen
53
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, hal. 381.
54 Brockleman, Tārīkh al
-Syu‟ūb al-Islāmiyah, terj. Nabih Amin Faris dan Munir al-
Ba‟labaki, (Beirut: Dar al-„Ilmi li al-Malayin, 1974, cet-VI), hal. 210.
55
42
Sosial), Diwan al-Akhasyam (Departemen urusan keluarga dan wanita), Diwan al- Akarah (Departemen pekerjaan umum dan tenaga).56
Dalam sebuah imperium terdapat beberapa bagian propinsi yang dikuasainya, propinsi ini dinamakan Imaarat, dengan gubernurnya dinamakan Amir. Imaarat pada masa Dinasti Abbasiyah ada tiga macam; Pertama, Imaarat al-istihfa yaitu propinsi yang kepada gubernurnya diberi hak kekuasaan yang besar dalam di segala bidang urusan negara, termasuk urusan kepolisian, ketentaraan, keuangan dan kehakiman. Kedua, al-Imaarat al-Khassah yaitu propinsi pada gubernurnya hanya diberikan hak dan wewenang yang terbatas.
Ketiga, Imaarat al-Istilau yakni propinsi de facto yang didirikan oleh seorang panglima dengan kekerasan, yang kemudian terpaksa diakuinya dan panglima yang bersangkutan menjadi gubernutnya.57
Pemerintahan sebelumnya untuk melaksanakan administrasi pemerintah di wilayah kekuasaan dinasti ini pada periode pertama dibagi menjadi dua belas wilayah propinsi: Kufah dan Sawad, Hijaz dan Yamamah, Ahraz, Khurasan, Jazirah Armenia dan Azerbaijin, Mesir dan Afrika, Basrah dan daerah Dajlah, Bahrain dan Oman, Yaman Persia, Mosul, Suria, dan Sind.58
Pada saat itu setiap propinsi dikepalai oleh seorang gubernur dan gelar wali. Para pejabat di daerah ini diangkat oleh khalifah. Pada periode pertama pemerintah menerapkan sistem sentralisasi kekuasaan terpusat di tangan khalifah dan wazir, gubernur tidak memiliki kekuasaan penuh untuk segala urusan pemerintahan di daerahnya dan tidak punya pengaruh dalam urusan politik dan
56
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam(Jakarta : Bulan Bintang, 1995), hal. 230-231.
57
Ibid,. hal, 231.
58
J.Suyuti Puluingan, Fiqh Siyasah: Ajaran Sejarah dan Pemikiran (Jakarta : Rajawali Press) hal. 176.
43
kemasyarakatan. Kedudukannya tebatas hanya sebagai pemimpin agama dan mengorganisir militer.59
Untuk menyeragamkan resimen dan membiayai unit-unit yang mencapai seribu laki-laki, klan-klan besar dibagi menjadi beberapa bagian, dan klan-klan yang lebih kecil disatukan. Pada tahun 670 M puluhan ribu keluarga berpindah dari Basrah dan Kuffah menuju perkampungan tentara Merv di Khurasan, dan seluruh kelompok yang tersisa segera diorganisir. Demikian juga pendatang baru yang berdatangan secara terus-menerus untuk ambil bagian dalam peperangan Arab harus diitegrasikan dalam basis unit.60
Tidak banyak bukti yang menunjukkan pada peranan penting daftar militer mekanisme utama yang membayar gaji tentara suku Arab tersebut. Begitu mengetahui bahwa tentara mengikuti perintah orang, suku, kota, atau pemerintah yang membayar mereka, para kepala suku Arab mendesak agar gaji militer diberikan kepada suku, bukan pada orang perorangan. Tentara Arab tetap setia kepada suku itu yang membayar mereka.
Jika pemerintah mencoba menggantikan korps suku-suku ini dengan tentara lain yang para pemimpinnya, kesetiannya dan perhatiannya hampir mengimbangi apa yang mereka miliki, orang-orang suku Arab menolak pergantian itu dan ini.
Secara keseluruhan, organisasi kesukuan tentara yang melancarkan penaklukkan besar dan tetap dipertahankannya organisasi seperti itu melalui daftar militer, jelas pemerintah pusat tidak menguasai tentaranya. Hal ini menimbulkan perkembangan yang ganjil ketika saatnya tiba untuk merekrut tentara baru.
59
Ibid.,hal. 176-177.
60
44
Tentara baru tersebut berasal dari etnis Turki yang dimana masa al-
Mu‟tashim orang-orang Turki memainkan peranan penting dalam kancah pemerintahan. Saat orang-orang Turki naik tahta kepemerintahan mereka banyak menyiksa bangsa orang-orang Arab, karena sebelumnya orang-orang Arab banyak meremehkan orang-orang Turki setelah orang-orang Turki menang atas orang- orang Arab akhirnya derajat bangsa Arabpun turun.61
Selain itu, al-Mu‟tashimpun mengirim surat kepada gubernur Mesir untuk menggantikan pegawai Arab dengan orang-orang Turki pernyataan tersebut ada di dalam kitab Tarikh al-Khulafa‟.62
C. Keagamaan
Al-Mu‟tashim dilantik menjadi khalifah setelah meninggalnya al-Makmun pada bulan Rajab tahun 218 H. Dia bertindak seperti yang dilakukan al-Makmun dan menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan menguji manusia tentang kemahlukan Al-Qur‟an. Dia menulis surat perintah agar semua penduduk mengakui hal itu. Dia memerintahkan kepada para guru dan pengajar untuk mengajari anak didik mereka menolak menyatakan bahwa Al-Qur‟an itu mahluk. Imam Ahmad sendiri adalah orang yang menerima petaka ini, dia dihukum cambuk. Pencambukan Imam Ahmad ini terjadi pada tahun 220 H.63
Hal diatas menjelaskan mengenai Mihnah atau Inquisisi yang mana telah dilaksanakan oleh al-Mkamun sebelumnya dan kini al-Mu‟tashimlah yang meneruskannya.
61
Jalaluddin al-suyuti, Tarikh al-Khulafa’, Juz I, (Lebanon: 2008, cet-1) hal. 407.
62
Ibid.
63
45
Ketika al-Makmun berkuasa, pada saat itu ajaran Mu‟tazilah sedang berkembang. al-Makmun mengatakan bahwa jabatan negara tidak boleh dipegang oleh orang-orang musyrik (orang-orang yang tak seide dengannya). Oleh karena itu, dia mengirim instruksi kepada para gubernurnya agar menguji para pemuka yang berpengaruh di masyarakat. Dengan demikian, timbulah istilah yang dikenal dengan mihnah atau inquisisi.64 Paham tersebut didekritkan pada tahun 827 M.65 Mihnah yang dilaksanakan oleh al-Mu‟tashim memakai metode seperti yang ditempuh oleh al-Makmun dengan tidak dialami perubahan sama sekali.66 Bahkan pada masanya mihnah bukan hanya disebarkan kepada para pejabat maupun ulama, melainkan kepada semua lapisan masyarakat.67
Beberapa kajian mengetahui ada dua unsur dasar yang melatar belakangi hegomoni al-Makmun ketika berhadapan dengan pluralism. Banyaknya kelompok yang berseberangan pendapat dengan pemerintahan atas dasar hokum agama yang memiliki sejarah panjang sejak periode khulafarrasyidin.68
Mengenai pergerkan Zindiq, tentu berkaitan erat dengan apa yang menjadi garis kebijakan mihnah yang dijalankan khalifah al-Mu‟tashim. Pergerakan Zindiq lebih berbahaya bagi pemerintahan dan agama dari pergerakan apapun. Pengajaran-pengajaran zindiq sudah berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan bermacam-macam interpretasi pengikutnya.
64
Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1973), hal. 58. 65
Grunebeaum,, hal. 205.
66
Ahmad Amin, Duha al-Islam, juz III (Kairo: Maktabah Nahdah al-Mishriyah 1936), hal. 178.
67
Jalaluddin al-suyuti, Tarikh al-Khulafa’, Juz I, (Lebanon: 2008, cet-1) hal. 31
68
46
Pertama kali pengikut-pengikut kitab suci Zend di Persia dinamakan Zindiq atau
Zanadiqa. Istilah ini berlaku bagi mereka yang tidak percaya bagi ketauhidan tuhan tetapi menerima dengan dualismenya. Akhirnya mereka yang percaya pada dua aspek Tuhan yaitu cahaya dan kegelapan, dijelmakan sebagai Yezdan dan
Agriman. Orang-orang itu adalah orang-orang kafir, yang mempunyai kebudayaan mereka sendiri.
D. Membangun Kota Sammara
Dalam masa pemerintahan khalifah al-Mu‟tashim, militer budak menjadi salah satu tumpuhan perang yang hebat yang dipercayai oleh beliau. Namun, militer budak yang oada awalnya memperkokoh kekuasaan khalifah, tetapi mereka sekaligus menjadi sumber kerusuhan. Kondisi kota Baghdad sendiri disebutkan semakin sesak dengan keturunan orang-orang Turki yang dihimpun oleh khalifah al-Mu‟tashim. Dengan jumlah mereka yang banyak mereka mengganggu hak-hak masyarakat umum serta menimbulkan kerusuhan dan kekacauan di kota Baghdad.
Kejadian ini mendorong penduduk Baghdad untuk datang menemui al-
Mu‟tashim, mereka memprotes masalah social baru tersebut seraya berkata “ Jika
kamu tidak mengusir mereka dari Baghdad dengan tentaramu, maka kami
penduduk Baghdad akan memerangimu!”.
Al-Mu‟tashim berkata, “ Bagaimana mungkin kalian bisa memerangiku?”
dan mereka berkata, “ Kami akan memerangimu dengan panah malam (do‟a)”
47
Inilah yang menyebabkan dia memindahkan ibu kota khilafah dari Baghdad ke Surra Man Raa.69
Letak kota Sammara adalah di sebelah timur sungai Dajlah atau Tigris yang jauhnya kurang lebih 100 km si sebelah utara kota Baghdad. Dinamakan demikian, sebab setelah kota tersebut selesai dibangun menjadi kota yang indah dan ramai, serta menarik perhatian bagi s iapa saja yang melihatnya. Samara adalah sebuah kota kuno yang dibangun kembali oleh Daulah Abbasiyah, khususnya pada masa Harun ar-Rasyid. Akan tetapi, apa yang diusahakan oleh ar-Rasyid itu belum sempurna, seperti yang dilakukan al-Mu‟tashim putranya. Sebab ar-Rasyid hanya membangun sebuah istana dan menggali Sungai Qathul yang terletak berdampingan dengan kota Sammara.
Pada tahun 221/835M, kota ini kemudian dibangun kembali oleh al-
Mu‟tashim dengan tujuan: sebagai tempat tinggal yang baru (istana) bagi khalifah, sebagai hadiah untuk Asynas, slah seorang komandan tentara yang berkebangsaan Turki.70, untuk menampung orang-orang Turki yang tidak tertampung di Baghdad, di samping karena mereka dibenci penduduk Baghdad, sebab mereka sering mengadakan kerusuhan dan perkelahian.71
Pada tahun 223 H, al-Mu‟tashim melakukan peperangan ke negeri Romawi. Serangan ini menimbulkan kerugian yang sangat besar di pihak tentara Romawi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilakukan oleh khalifah manapun. Al-Mu‟tashim telah berhasil menghancurleburkan barisan mereka dan
69
Jalaluddin al-suyuti, Tarikh al-Khulafa’, Juz I, Terj. Samson Rahman (Pustaka Kausar: 2000, cet-1) hal. 405
70Br
ockleman, Tarikh al-Syu’ub al-Islamiyah, terj. Nabih Amin Faris dan Munir al-
Ba‟labaik, (Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin 1974, cet-4), hal. 210. 71
Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudaan Islam, Terj. Al-Mukkaram Ustad dan Labib Ahmad, ( Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1993 ), hal. 195.
48
merobohkan bangunan mereka, serta mampu membuka „Amuriyyah dengan
pedang. Pada penyerangan itu sekitar tiga ribu tentara Romawi terbunuh dan sekitar tiga puluh lagi tertawan. Pada saat dia mempersiapkan bala tentaranya untuk menyerang Romawi, orang-orang ahli ramal mengatakan bahwa dia akan terkalahkan karena menurut mereka tahun itu adalah tahun perunggu, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kemenangan yang dihasilkan oleh al-Mu‟tashim menunjukkan betapa dia benar-benar piawai dalam berperang.72
72
Jalaluddin al-suyuti, Tarikh al-Khulafa’, Juz I, Terj. Samson Rahman (Pustaka Kausar: 2000, cet-1) hal. 407
49
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam studi ini ini menjelaskan pertanyaan besar mengenai bagaimana peran militer budak pada masa khalifah al-Mu’tashim? Dan jawabannya adalah peran militer budak pada masa tersebut sangat memainkan peranan yang penting, khususnya dalam memadamkan pemberontakan. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah yakni kalangan elit imperium dan bentuk- bentuk kulturalnya, sekaligus juga menyokong kehancuran transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung di saat konsolidasi. Ketika rezim ini sedang memperkuat angkatan militernya dan instansi pemerintahan terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengahru-birukan nasib imperium Abbasiyah khususnya masa pemerintahan khalifah al-Mu’tashim.
Beberapa kebijakan yang diambil oleh al-Mu’tashim dalam mengahadapi permasalahan, tampaknya belum bisa membantu sepenuhnya. Ada beberapa hal yang muncul setelah perang saudara terjadi yaitu adanya kebutuhan akan adanya dukungan dari berbagai kalangan dan basis militer yang loyal terhadap al-Mu’tashim. Beberapa pendukung al-Mu’tashim tampaknya tidak sepenuhnya memberikan dukungan bagi pemerintah pada saat itu.
Beberapa peristiwa di sini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas adanya persaingan dan perebutan kekuasaan dari masing-masing pendukung al-
50
kebijakan Mihnah, dan terakhir militer budak muncul sebagai sebuah alternative bagi al-Mu’tashim dalam menanggulangi beberapa permasalahan yang ada. Mereka memainkan peranan yang cukup penting dalam masa al-Mu’tashim, sebut saja Afsyin, Itakh, Bugha nama-nama inilah yang menghadapi beberapa pemberontakan.
Dalam tesisnya Ibnu Khaldun yang menyatakan bahwa sebuah kedaulatan yang hampir tua umurnya dan mendekati kehancuran, sementara di kalangan mereka tidak ada yang mampu mengendalikan negara, maka mereka merangkul kelompok- kelompok solidaritas lain kedalam kelompoknya untuk dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan negara. Keadaan ini, Ibnu Khaldun berkata, terjadi pada orang-orang Turki yang berada di bawah kedaulatan Abbasiyah.
Dengan demikian, militer budak pada masa Dinasti Abbasiyah tentunya masa khalifah al-Mu’tashim dapat dikatakan telah mencapai puncak proses (aksi, interaksi,