• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Desa Mulyoharjo

Untuk mengetahui tentang bagaimana peran orang tua dalam pendidikan anak di Desa Mulyoharjo, maka peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Desa dan beberapa warga (orang tua) sebagai informan atau narasumber berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Kriteria orang tua yang menjadi narasumber dalam penelitian ini adalah yang bermata pencaharian pokok dalam sektor industri ukir dan memiliki anak

usia sekolah (7-19 tahun) yang tidak bersekolah. Selain itu, peneliti juga mengambil sampel berdasarkan stratifikasi sosial di masyarakat, yaitu dari strata/kelas sosial atas, strata/kelas sosial menengah dan strata/kelas sosial rendah masing-masing dua orang sebagai sampel.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Kepala Desa Mulyoharjo, berkaitan dengan peran orang tua dalam pendidikan anak di Desa Mulyoharjo, beliau menerangkan:

“Menurut saya, peran orang tua adalah yang utama mas, karena anak itu dari kecil harus diarahkan, disemangati, dimotivasi oleh orang tua agar menjadi anak yang pintar, berprestasi dan bisa sekolah setinggi-tingginya, jangan sampai anak itu dibiarkan sesukanya, misalnya sekolah terserah, tidak sekolah ya terserah, belajar terserah, tidak belajar ya terserah, dan sebagainya, juga pergaulannya harus diawasi mas, kalau salah pergaulan juga akan berpengaruh pada anak mas, kalau pandangan saya pribadi seperti itu mas, jadi anak saya semuanya saya sekolahkan sampai kuliah mas, saya pikir para orang tua di Desa Mulyoharjo yang pola pikirnya seperti itu mas, tapi namanya orang kan berbeda-beda mas, jadi ya mungkin ada sebagian yang pola pikirnya tidak demikian.” (Wawancara dengan Kepala Desa Mulyoharjo, 26 Agustus 2018).

Selain melakukan wawancara dengan Kepala Desa Mulyoharjo, peneliti juga melakukan wawancara dengan para orang tua yang bermata pencaharian pokok pada sektor industri ukir, diantaranya adalah Bapak Km. yang berprofesi sebagai pengusaha industri ukir yang dapat dikategorikan dalam strata/kelas sosial atas, ketika peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan peran orang tua dalam pendidikan anak, beliau menjawab:

“Tingkat pendidikan terakhir anak saya SD, dia putus sekolah saat kelas 2 SMP mas. Alasannya anak saya yang tidak mau sekolah mas, saya pikir itu karena pergaulan mas, anak saya sering keluar

malam dan pulang pagi, dia suka nongkrong sama teman- temannya, nonton dangdut, minum-minum gitu juga mas, kalau saya sendiri sih inginnya dia biar sekolah gitu, sampe kuliah ya insyaAllah saya dukung, tapi karena anaknya gak mau ya gimana lagi, kalo soal kehendak orang tua ya gak lah mas, pasti setiap orang tua pengen punya anak berpendidikan, ya putusnya sekolah karena keinginan anak saya sendiri mas, padahal saya sebagai orang tua ya inginnya biar dia sekolah gitu, ya minimal sampai SMA gitu mas. Kalo soal biaya, selama anak saya sekolah, ya saya yang membiayai sepenuhnya untuk keperluan pendidikan anak saya mas, ya Insya Allah saya mampu lah untuk membiayai pendidikan anak sampai kuliah mas, tapi anaknya tidak mau.” (Wawancara dengan Bapak Km., 27 Agustus 2018).

Selanjutnya, dari hasil wawancara dengan Bapak Bd. yang berprofesi sama dengan Bapak Km. yakni sebagai pengusaha industri ukir dan termasuk dalam kategori strata/kelas sosial atas dalam masyarakat, beliau menyampaikan:

“Tingkat pendidikan terakhir anak saya SD. Karena anaknya yang tidak mau sekolah mas, dia lebih asyik dengan hobinya mas, hobinya tu motor drax atau modif gitu, tapi ya gak liaran, saya selalu mengingatkan yang penting ikutnya even-even yang resmi mas. Ya di satu sisi itu karena keinginan anak saya sendiri, ya karena hobinya tadi, di sisi lain saya juga ingin supaya dia melanjutkan bisnis saya ini saja daripada sekolah tinggi-tinggi terus jadi karyawan dan belum jelas, mending melanjutkan bisnis orang tuanya ini yang sudah jelas. Pembiayaan sekolah anak saya ya dari saya, maksudnya dari orang tua sepenuhnya.” (Wawancara dengan Bapak Bd., 27 Agustus 2018).

Kemudian, peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Sd. yang berprofesi sebagai pengrajin ukir yang dapat dikategorikan dalam strata/kelas sosial menengah dalam masyarakat, beliau menyampaikan:

“Pendidikan terakhir anak saya SMP mas. Karena anaknya tidak mau melanjutkan mas, ya karena dia lebih senang dengan kegiatan- kegiatan keagamaan mas, ya misal pengajian, rebana, kumpulan pemuda gitu, terus sering ngaji atau sowan ke Kyai-Kyai gitu mas meskipun gak mondok. Karena keinginan anak saya sendiri mas, saya sebagai orang tua meskipun keadaan ekonominya pas-pasan, pasti tetap saya usahakan jika anak saya mau sekolah, bahkan

sampai kuliah kaya sampean ini mas. Selama sekolah dulu ya saya yang membiayai kebutuhan sekolah anak saya mas, meskipun harus banting tulang ya insya Allah saya yakin ada rejekinya mas.” (Wawancara dengan Bapak Sd., 28 Agustus 2018).

Selanjutnya, dari hasil wawancara dengan Bapak Sw. yang berprofesi sama dengan Bapak Sd. yakni pengrajin ukir, tetapi beliau lebih cenderung ke ukiran mebel, seperti lemari, meja, kursi, dan sebagainya, maksudnya bukan ukiran untuk hiasan. Keluarga beliau dapat dikategorikan dalam strata/kelas sosial menengah di masyarakat. Ketika diberikan pertanyaan-pertanyaan berkaitan denga peran orang tua dalam pendidikan anak, beliau menyampaikan:

“Anak saya tidak tamat SD mas, putus sekolah di kelas 5. Itu karena anak saya minderan mas, penakut, tidak berani dengan teman-temannya, dia sering disakiti oleh teman-temannya di sekolah, dan katanya pernah juga mendapat tindak kekerasan dari gurunya mas, makanya dia tidak mau sekolah lagi, padahal sudah saya bujuk dengan berbagai cara, kaya uang sakunya saya tambah, saya belikan tas baru, sepatu baru, dan sebagainya tapi tetap dia tidak mau sekolah lagi mas, bahkan guru dan kepala sekolah juga sudah datang ke rumah, tapi tetap saja anaknya benar-benar tidak mau sekolah lagi mas. Ya karena keinginan anak saya sendiri, saya sebagai orang tua tentunya ingin sekali mas punya anak yang berpendidikan, bahkan kalau bisa sampai kuliah mas, tapi karena anaknya yang tidak mau, bahkan sudah dipaksa, sampai pernah saya hajar biar mau sekolah lagi tetap saja dia tidak mau mas, ya mau gimana lagi mas. Selama anak saya sekolah, ya pembiayaan kebutuhan sekolahnya dari saya mas, ya sepenuhnya dari orang tua gitu lah.” (Wawancara dengan Bapak Sw., 29 Agustus 2018). Kemudian, dari hasil wawancara dengan Bapak Sp. yang berprofesi sebagai pengrajin ukir sebagai pekerjaan utama, namun beliau juga serabutan, dan termasuk dalam kategori keluarga kurang mampu (strata/kelas sosial rendah). Ketika diberikan pertanyaan-pertanyaan

berkaitan denga peran orang tua dalam pendidikan anak, beliau menyampaikan:

“Tingkat pendidikan terakhir anak saya SMP mas. Ya anak saya tidak mau melanjutkan mas, padahal sebenarnya saya mendukung kalau dia melanjutkan, dia lebih memilih bekerja daripada melanjutkan sekolah, katanya biar tidak membebani orang tua kalau sekolah lagi. Keinginan anak saya sendiri mas, ya karena alasan ekonomi juga, tapi alasan ekonomi bagi saya pribadi bukan yang utama, kalau saya aslinya pasti mendukung kalau dia mau melanjutkan. Selama anak saya sekolah sampai SMP, ya kami sebagai orang tua yang membiayainya mas, tapi dia juga sering dapat bantuan mas, ya karena keluarga kami termasuk keluarga kurang mampu mas, dan dia juga sedikit-sedikit sambil kerja mas buat mencari tambahan uang saku.” (Wawancara dengan Bapak Sp., 29 Agustus 2018).

Selanjutnya dari hasil wawancara dengan Bapak Sr. yang berprofesi sebagai pengrajin ukir dan tergolong dalam kategori keluarga kurang mampu (strata/kelas sosial rendah), beliau menerangkan:

“Anak saya putus sekolah saat kelas 4 SD. Karena anaknya tidak mau sekolah mas, saya juga tidak tahu sebabnya, sudah saya bujuk, dijenguk gurunya kesini, kepala sekolahnya juga, tetap tidak mau sekolah lagi mas, sampai bingung saya, mau saya kerasin ya masih kecil, kasihan, tapi kayaknya itu gara-gara dia malu mas, dia itu agak terlambat dari teman-temannya mas, dia belum bisa membaca mas, tapi kalau soal hitung-hitungan dia pintar mas. Keinginan anaknya sendiri mas, padahal saya pengennya ya anak saya bisa jadi anak yang pintar seperti teman-teman sebayanya mas. Saya ini termasuk dari keluarga kurang mampu mas, jadi selama anaknya itu sekolah ya sering dapat bantuan, tapi kami sebagai orang tua juga tidak mengandalkan bantuan sepenuhnya mas, kami juga berusaha membiayai kebutuhan sekolahnya semampu kami mas.” (Wawancara dengan Bapak Sr., 29 Agustus 2018).

3. Makna Pendidikan bagi Masyarakat Pengrajin Ukir di Desa

Dokumen terkait