BAB III METODE PENELITIAN
G. Keabsahan Data
Validitas data sangat mendukung hasil akhir penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.
a. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada data sumber lain yang telah diperoleh sebelumnya.
b. Triangulasi metode
Triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan atau ketidak akuratannya.
c. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu yang dilakukan disini dengan menguji kredibilitas data yang dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lainnya dalam waktu dan situasi yang berbeda.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Obyek Penelitian
1. Kondisi Letak Geografis Kelurahan Malakaji
Gambaran Umum Kelurahan Malakaji adalah usaha mengambarkan secara utuh tentang kondisi Kelurahan Malakaji.Data-data yang disusun diambil dari semua data yang tersedia dan bisa didapatkan, selain menggunakan data-data yang ada gambaran umum Kelurahan Malakaji ini, diperkaya dengan yang didapat dari hasil wawancara. Kelurahan Malakaji secara administratif terletak di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa Provensi Sulawesi Selatan, yang merupakan ibu kota Kecamatan Tompobulu.
Kelurahan Malakaji secara geografis berada di ketinggian antara 700 – 1.000 mdpl (diatas permukaan laut). Kemiringan lereng antara 50°-85°, dengan keadaan curah hujan rata-rata dalam pertahun antara 135 s/d 160 hari, serta suhu rata-rata pertahun adalah 15°C s/d 35°C. Kelurahan Malakaji merupakan kelurahan yang ada di Kecamatan Tompobulu yang wilayahnya berbatasan langsung di sebelah utara berbatasan dengan Desa Rampolemba dan Desa Rappoala, di sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Cikoro, disebelah Selatan berbatasan dengan Desa Garing, Desa Bontobuddung dan Desa Tanete, dan disebelah Barat berbatasan dengan Desa Datara dan Kecamatan Bontolempangan.
Luas wilayah Kelurahan Malakaji dalam tata guna lahan dan luas wilayah Kelurahan Malakaji 6,75 km ² terdiri dari : Hutan rakyat : 10,75 ha,
Sawah : 248,50 ha, Ladang/Kebun : 506, 25 ha, Pemukiman : 193, 60 ha, Perkeburan : 0,75 ha, Area perkantoran : 3,70, Lahan kritis : 127,50 ha, dan lainnya : 79,25 ha. Dan wilayah Kelurahan Malakaji terdiri dari 5 (lima) lingkungan yaitu:
a. Wilayah lingkungan Malakaji Selatan terdiri dari 4 (empat) RK dan 8 (delapan) RT.
b. Wilayah lingkungan Mappakasunggu terdiri dari 4 (empat) RK dan 8 (delapan) RT.
c. Wilayah lingkungan Malakaji terdiri dari 4 (empat) RK dan 8 (delapan) RT.
d. Wilayah lingkungan Malakaji Utara terdiri dari 4 (empat) RK dan 8 (delapan) RT.
e. Wilayah lingkungan Campagayya terdiri dari 4 (empat) RK dan 8 (delapan) RT.
Wilayah Kelurahan Malakaji secara umum mempunyai bias geologis berupa daerah pengunungan serta hamparan sawah yang berada di sekitar Wilayah kelurahan Malakaji. Selain itu tanaman jangka panjang berupa kopi, kakao, cengkeh dan berbagai jenis kayu seperti bissu, garu, pannera, jati putih dan krastania dll. Kelurahan Malakaji secara umum kondisi tanahnya gembur dan subur semua jenis tanaman biasa tumbuh baik berupa sayur-sayuran, palawija, maupun tanaman jangka panjang.
2. Sejarah Kelurahan Malakaji
Menurut sejarah pada tahun 1945 sampai tahun 1949 Malakaji masih wilayah desa Datara. Kemudian sekitar tahun 1959 barulah terbentuk Gallarang
Malakaji yang di pimpin oleh 3 Gallarang dengan cara berturut-turut yaitu:
Ma’ruf bin musa. Dg.Masang dan H. Jarre. Kemudian pada tahun 1960 Malakaji pun di bagi menjadi 6 Dusun yaitu Dusun Malakaji, Dusun Campagayya, Dusun Cikoro, Dusun Lembang bu’ne, Dusun Parangkeke dan Dusun Tanete Utara, ke enam dusun ini di pimpin oleh kepala Desa secara berturut-turut yaitu: H. Saudir BM, A. Hakim Nompo, A. Halim Dg Rangka dan Hamanja. Dan Desa Malakaji berubah menjadi Kelurahan pada Tahun 1980 yang terdiri dari enam lingkungan yang dipimpin Lurah sampai sekarang yaitu: Baso Abdullah, Jalani Faqi, Zaenal Majid, Abd.Muis Yaqub, Misi, S.Sos, H. Hasbullah, dan Muhammad Sidiq, SE.,sampai sekarang.
Pemerintahan Baso Abdullah, PLN mulai masuk di Kelurahan Malakaji (1981).Kemudian pada tahun 1989 Kelurahan Malakaji dimekarkan, hasil pemekaran terbentuklah Kelurahan Cikoro. Dari hasil pemekaran Kelurahan Malakaji terbagi tiga lingkungan yaitu: Lingkungan Mappakasunggu, Lingkungan Campagayya, Lingkungan Malakaji. Tahun 2010 pada pemerintahan Muhammad Sidiq, SE Malakaji dimekarkan menjadi 5 (lima) lingkungan.
3. Sosial Ekonomi Masyarakat
Penduduk Kelurahan Malakaji bermata pencaharian sebagai petani.Dan sebagian kecil warga bergelut di bidang industri rumah tangga seperti kue tradisional, meubel dan berbagai aneka industri kecil lainnya.Kelurahan Malakaji sebagai ibukota Kecamatan merupakan pusat perdagangan untuk Kecamatan Tompobulu.
Tabel 4.1 : Klasifikasi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kelurahan Malakaji Tahun 2010
No Macam Pekerjaan Jumlah Presentase
1. Petani 984 75,34%
2. Pedagang 29 2,22%
3. Buruh 81 6,20%
4. PNS 149 11,41%
5. TNI/Polri 47 3,60%
6. Peg.Swasta/BIMN 16 1.23%
Jumlah 1306 100%
Sumber data : Monografi Kelurahan Malakaji
Dengan melihat tabel di atas, petani merupakan pekerjaan yang berada diposisi pertama dengan nilai 75,34% dari jumlah KK, hal ini di tunjang dengan luasnya lahan pertanian di Kelurahan Malakaji. Terbanyak keduaadalah sektor PNS yang berjumlah 11,41% dari jumlah KK, Buruh menempati urutan ketiga dari hasil presentase sebanyak 6,20% dari jumlah KK, sementara urutan keempat TNI/Polri 3,60%,urutan kelima di perdagang 2,22% dan urutan keenam adalah pegawai Swasta/BUMN sebanyak 1,23% dari jumlah KK Kelurahan Malakaji.
4. Tingkat Pendidikan Masyarakat
Pendidikan masyarakat Kelurahan Malakaji cukup maju, ini dapat dilihat dari hasil penjajakan bahwa kebanyakan anak yang sudah tamat SD melanjutkan pendidikannya ke tingkat SLTP, dan hanya sebagian kecil saja yang putus sekolah, dan jumlah kategori pendidikan masyarakat Kelurahan Malakaji dapat di lihat pada tabel 2.
Tabel 4.2: Klasifikasi Penduduk Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kelurahan Malakaji Tahun 2010
No Jenjang Pendidikan Jumlah Presentase Ket
1. Belum Sekolah 531 12,61%
2. SD 1392 33,06%
3. SLTP 1029 24,44%
4. SLTA 1112 26,41%
5. Strata 1 (S.1) 133 3,16%
6. Strata 2 (S.2) 14 0,33%
Total 4211 100%
Sumber data : Monografi Kelurahan Malakaji
Dengan melihat tabel 2 jumlah penduduk berdasarkan jenjang pendidikan mulai dari yang belum sekolah sampai dengan yang tamat diperguruan tinggi, dapatlah disimpulkan bahwa taraf pendidikan warga masyarakat Kelurahan Malakaji, cukup maju, dari 4.211 jiwa penduduk Kelurahan Malakaji, 1392 jiwa yang manamatkan sekolahnya sampai pada tingkat dasar berarti 33,06% dari jumlah penduduk, SLTP dengan jumlah 1029 jiwa atau 24,44%. SLTA dengan jumlah 1112 jiwa atau 24,41% dari jumlah penduduk, kemudian yang belum sekolah 531 jiwa atau 12,61% dari jumlah penduduk, sedangkan yang mampu menyelelesaikan sampai pada perguruan tinggi S.1 sebanyak 133 jiwa atau 3,16% dan yang mampu menyelesaikan sampai S.2 14 jiwa atau 0,33% dari jumlah penduduk Kelurahan Malakaji.
5. Sarana Dan Prasarana Kelurahan Malakaji a. Infrastruktur
Infrastruktur adalah kondisi sarana dan prasarana baik fisik maupun non fisik yang sesuai untuk dapat terciptanya kemandirian kawasan disuatu Kelurahan Malakaji, infrastruktur yang tersedia adalah sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana perekonomian ,sarana peribadatan ,jaringan listrik dan jaringan air bersih.
b. Sarana sosial
Sarana sosial di Kelurahan Malakaji terdiri dari sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas peribadatan. Sarana pendidikan yang berada pada kawasan Kelurahan Malakaji terdiri dari SD, SLTP/MTs, dan SMA/MAN dan keaksaraan fungsional.Keberadaan sarana pendidikan ini mudah dijangkau oleh masyarakat di karenakan lokasi yang tidak jauh dari pemukiman penduduk dan akses transportasi tersedia dan menuju sarana pendidikan. Sarana yang memadai dan tersebar merata diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM, di samping pendidikan kualitas SDM, manusia juga dipengaruhi oleh tingkat kesehatan masyarakat. Dikawasan Kelurahan Malakaji juga sudah terdapat puskesmas yang melayani kesehatan dan persalinan.
6. Pemerintahan Kelurahan Malakaji Dan Lembaga Masyarakat Tabel 4.3 : Nama Pejabat Administrasi Kelurahan Malakaji
No Nama Jabatan
1. Muh. Sidiq, SE Kepala Kelurahan Malakaji 2. Kaharuddin Syam, S.Sos Sekretaris Kelurahan Malakaji
3. Yunus Staf Kelurahan Malakaji 4. Muhtar Madjid, SH Staf Kelurahan Malakaji Sumber data : Monografi Kelurahan Malakaji
Tabel 4.4 : Nama Kepala Lingkungan Kelurahan Malakaji
No Nama Jabatan
1. Kaharuddin Lingkungan Malakaji Utara
2. M.Sain Lingkungan Campayaga
3. Haripuddin, SE Lingkungan Malakaji
4. Muktar, SH Lingkungan Mappakasunggu
5. Muhlis, SH Lingkungan Malakaji Selatan Sumber data : Monografi Kelurahan Malakaji
Dinas Perindustrian dan Perdagangan memiliki peran untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, menumbuhkan industri kecil dan menegah maupun industri rumah tangga, pengembangan daya saing sektor industri dan perdagangan diharapkan mampu bersaing dipasar global dan mandiri sehingga mampu meningkatkan volume ekspor Kabupaten Gowa.Secara umum iklim usaha Kabupaten Gowa cukup kondusidan pengembangan daya sain UKM Kabupaten Gowa telah berjalan dengan baik yaitu diantaranya dengan keikutsertaan pameran UKM, baik didalam maupun diluar negeri. Namun demikian masih ditemukan masalah pengembangan daya sain UKM antara lain rendahnya akses jaringan kerja sama/kewirausahaan, dan masih rendahnya akses teknologi tepat guna.
Berikut ini adalah visi dan misi dinasperindustrian dan perdaganga Gowa yaitu visi mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis perindustrian, perdagangan
dan jasa, sedangkan misi adalah: 1. Meningkatkan kualitas organisasi 2.Menumbuhkan kembangkan industri rumah tangga, kecil dan menegah yang kreatif dan inovatif 3. Menumbuh kembangkan perdagangan dan jasa yang kreatif dan inovatif 4.Meningkatkan kemetrologian dan perlindungan konsumen.
Langkah demikian yang harus dihadapi oleh pemerintah untuk mengembangkan pasar tradisional salah satunya dengan adanya pemberdayaan pasar tradisional itu sendiri yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Tabel 4.5
Struktur Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gowa
Tugas Dan Fungsi Bidang Perdagangan a. Tugas
Menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan dan pengembangan usaha dalam bidang perdagangan, serta kerjasama dibidang perdagangan.
b. Fungsi
1. Melaksanakan pembinaan dan pengembangan usaha dalam bidang perdagangan.
2. Melayani pendaftaran terhadap sebuah perusahaan.
3. Melaksanakan pembinaan dan pengembangan terhadap para pedagang kecil dan menegah.
4. Menyelenggarakan upaya dalam menggunakan produksi dalam negeri.
5. Melakukan pembinaan dan pengembangan sarana pedagang, distribusi, dan perlindungan konsumen.
6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala dinas.
Seksi Pembinaan Umum Dan Sarana Perdagangan Tugas Pokok :
Menyelenggarakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan usaha para pedagang dalam perdagangannya.
Fungsi :
1. Menyelenggarakan program pembinaan dan pengembangan sarana atau prasarana perdagangan.
2. Melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dalam hal perlindungan konsumen.
3. Melakukan pembinaan terhadap lembaga perdagangan.
4. Menyelenggarakan penyediaan terhadap sarana informasi pasar.
5. Melakukan pemantauan terhadap bahan produk penting dan strategi dalam masyarakat
6. Meningkatkan ekspor daerah 7. Mengendalikan barang-barag impor
8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bidang
B. Peran Pemerintah Daerah dalam Penataan Pasar Tradisional di Kelurahan Malakaji Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa.
1. Peran Pemerintah Sebagai Regulator
Peran pemerintah sebagai regulator yakni peran pemerintah menyiapkan arah untuk menyeimbangkan penyelenggaraan peraturan (menerbitkan peraturan-peraturan dalam rangka efektifitas dan tertib administrasi). Peran pemerintah dalam penataan pasar meliputi pemerintah dituntut untuk menerbitkan dan mengeluarkan peraturan yang pro rakyat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi khususnya dalam hal keamanan dan ketertiban didalam pasar. Sebagai regulator, pemerintah memberikan acuan dasar yang selanjutnya diterjemahkan oleh masyarakat sebagai instrumen untuk mengatur setiap kegiatan pelaksanaan di masyarakat.
Pemerintah belum mengeluarkan peraturan daerah tentang penataan pasar tetapi baru mengeluarkan peraturan daerah Kabupaten
Gowa Nomor 14 Tahun 2011 tentang retrubusi pelayanan pasar dan pemerintah daerah hanya berpatokan di peraturan ini. Secara keseluruhan peraturan itu disebut sebagai peraturan positif, peraturan ini bertujuan untuk menjaga keamanan pasar dan masyarakat merasa nyaman. Berikut kutipan wawancara dengan kapala dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Gowa terkait dengan peran pemerintah sebagai regulator atau peran pemerintah dalam menerbitkan dan mengeluarkan peraturan, seperti berikut:
“Pemerintah belum mengeluarkan peraturan daerah mengenai penataan pasar tradisional akan tetapi pemerintah daerah terus melakukan penataan pasar dengan memakai peraturan daerah tentang retribusi pelayanan pasar untuk melakukan penataan pasar tradisional yang tercantum dalam pasal 3 tentang penyediaan fasilitas pasar tradisional berupa pelataran, lods, kios yang dikelola oleh pemerintah daerah sendiri”. (Wawancara penulis MA, 09 Mei 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa penataan yang di lakukan pemerintah daerah belum maksimal diakibatkan karena peraturan daerah yang mengatur khusus penataan pasar tradisional belum ada di keluarkan oleh pemerintah daerah dalammeningkatkan kondisi pasar yang aman dan tertib maka perlu adanya peraturan, atau menerbitkan peraturan. Akan tetapi peraturan yang dipakai sekarang sangatlah terbatas di karenakan pemerintah hanya memakai peraturan daerah tentang retribusi pelayanan pasar.
Berikut kutipan wawancara dengan kepala satpol PP di Kecamatan Tompobulu memberi argumen dalam hal peran Pemerintah dalam penataan penataan pasar:
“Saya selaku pihak keamanan yang di beri tugas dari pemerintah untuk menhendel para pedagang dan pengunjung yang ada di area pasar
Malakaji sehingga tidak terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan maka dari itu saya sarankan kepada pengelola pasar agar memindahkan penjual yang berada di luar area pasar kedalam pasar sehingga kami bisa memantau lebih ketak lagi sehingga membantu pemerintah dalam melakukan penataan di lokasi pasar Malakaji”. (Wawancarapenulis SB, 23April 2015).
Senada dengan pendapat diatas terkait dengan peraturan pemerintah dalam penataan pasar Malakaji.
“Pada saat pasar Malakaji ini mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk perbaikan dan penambahan fasilitas pasar Malakaji saya sebagai kepala pasar Malakaji langsung memindahkan para pedagang yang berjualan di luar lokasi pasar kedalam lokasi pasar yang sudah di renofasi agar memudahkan para pengelola pasar Malakaji untuk menagih retribusi para pedagang sebesar 2000 per pedagang”. (Wawancara penulis RB,06 April 2015).
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah memang sudah mengeluarkan kebijakan tetapi tetap memberi arahan kepada pedagang agar tidak menjual diluar pasar apalagi dipinggir jalan raya, dan pemerintah juga harus tegas memberi sanksi bagi pedagang yang melanggar aturan yang telah ditentukan pemerintah. Pemerintah belum maksimal dalam melakukan perannya di karenakan peraturan daerah masih berpedoman ke peraturan daerah tentang retribusi pelayanan pasar saja.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa menurut (Arif, 2012) pemerintah bertugas untuk membuat kebijakan dan peraturan untuk penataan, akan tetapi pemerintah daerah belum mengeluarkan peraturan mengenai penataan pasar tradisional jadi penataan yang dilakukan pemerintah belum maksimal karena pemerintah daerah hanya berpatokan ke peraturan daerah tentang retribusi pelayanan pasar saja.Menurut saya pemerintah harus cepat mengeluarkan peraturan daerah tentang panataan pasar sehingga para
pengelola pasar bisa mengetahui peraturan yang sudah di terapkan oleh pemerintah daerah. Berdasarkan teori diatas maka penataan pasar yang ada dilapangan belum berlajalan sesuai dengan teori menurut Arif (2012).
2. Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator
Peran pemerintah sebagai fasilitator adalah pemerintah yang berusaha menfasilitasi atau menciptakan suasana aman dan tertib. Peran pemerintah dalam penataan pasar meliputi menfasilitas atau menciptakan suasana aman dan tertib, sebagai fasilitator pemerintah berusaha menyediakan sarana dan prasarana.
Peran pemerintah dalam penataan pasar dengan cara memberikan fasilitas tersebut merupakan langkah dan tindakan baik pemerintah. Berusaha menfasilitasi dan menciptakan pasar yang tertata agar bisa melakukan aktivitas, fasilitas sarana dan prasarana yang di maksud adalah bukan berupa pengadaan seperti meja, kursi, alat-alat perlengkapan lainnya akan tetapi penyediaan sarana atau tempat jualan yang layak bagi pedagang pasar. Bentuk kongkrit yang lain peran pemerintah sebagai fasilitator adalah berusaha melerai dan menjadi penengah ketika terjadi benturan ideologi atau konflik antar pedagang, apakah itu pedagang dengan pedagang atau kah pedagang dengan supir mobil yang sedang parkir di pasar.
a. Adanya Penyediaan AlokasiDana dari Pemerintah untuk Penambahan Fasilitas di Pasar Malakaji
Dalam meningkatkan penataan pasar Malakaji sangat diperlukan fasilitas, pemerintah berusaha menciptakan atau memfasilitasi suasana yang tertib, nyaman dan aman, termasuk memfasilitasi sarana dan prasarana.
Pemerintah telah memfasilitasi para pedagang, beberapa kios, losd, lapak, dan toilet yang di tempatkan di pasar Malakaji di Kelurahan Malakaji Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa.
Tabel 4.6 Daftar Sarana dan Prasaranadi Pasar Malakaji
No Fasilitas Jumlah Fasilitas Kondisi Bangunan Disperindag Kabupaten Gowa sudah berupaya dalam peningkatan fasilitas kepada pedagang , terbukti dengan merenofasi pasar Malakaji yaitu kios dan losd saja akan tetapi masih banyak yang perlu di renofasi termasuk lapak dan toilet, mobil pengangkut sampah dan mushollah seperti yang ada pada tabel diatas.meskipun dilakukan secara bertahap.
Berikut hasil kutipan wawancara dengan beberapa narasumber terkait dengan indikatorfasilitas, wawancara dengan pedagang.
“Menurut saya pemerintah harus lebih memperhatikan para pedagang terutama di pasar Malakaji, apalagi berbicara masalah yang ditempati para pedagang untuk berjualan,karena sebagian besar pedagang yang di
pasar Malakaji bergerak di bidangpedaganganjadi pemerintah khusunya Dinas perdaganganharus betul-betul memperhatikan sarana dan prasarana untuk menunjang pedagang yang ada di pasar kita ini penyediaan fasilitas adalahhal yang paling penting untuk menunjanng tinggi dan rendahnya kenyamanan, penyediaan fasilitas seperti perintisan jalan yang di Pasar dan juga penyediaan listrik. Bisa kita lihat sampai saat ini banyak jalan di pasar Malakajiyang sudah rusak”.(Wawancara penulis SR, 23 April 2015).
Senada dengan pendapat di atas terkait dengan bantuan dana dari dinas perindustrian danperdagangan untuk penyediaan fasilitas dalam menunjang penataan pasar Malakaji.
“Terbatasnya fasilitas untuk para pedagangdisebabkan kurangnya dana APBD untuk dinas perindustrian danperdagangan Kabupaten Gowa hal inilah yang menyebabkan terbatas dan tidak meratanya fasilitas sarana dan prasarana untuk para pedagangdi pasar Malakaji”. (Wawancara penulis MA,09 Mei2015).
Berdasarkan wawancara di atas menunjukan bahwa adanya penghambat dalam peran Pemerintah seharusnya menunjang para pedagang dan juga memberikan fasilitas yang bisa ditempati para pedangan untuk berjualan di pasar Malakaji.Pemerintah seharusnya mengulanginya pada tahun tahun berikutnya.
Dimana itu sebuah tangungjawab pemerintah selaku pelayan bagi pedagang dan pegunjung khususnya di Pasar Malakaji.Berikut hasil kutipan wawancara dengan beberapa narasumber terkait dengan indikatorfasilitas, wawancara dengan pedagang.
“Di pasar Malakaji Kelurahan Malakaji Kecamatan Tompobulu Kabupaten
Gowa.Sayasangatmerasakankurangnyaperhatiandaripemerintahdalamhali nibantuan fasilitas seperti kurangnya losd, tidaknya tempat sampah, mushollah.Sepertisayadanmasihbanyak rekan-rekan pedagang merasakan kurangnya perhatian dari pihak pemerintah menyebabkan banyaknya pedagang hanya berjualan tampah ada tempat yang layak untuk berjualan”.(Wawancara penulis SK,06 April 2015).
Senada dengan ungkapan pedagang yang menyatakan bahwa sudah melakukan penataan Pasar Malakaji.
“Kurangnya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah untuk menata pasar Malakaji karena dana yang di berikan pemerintah sangat kurang sehingga banyak pedagang tidak mendapat fasilitas yang sudah disediakan pemerintah”. (Wawancara penulis HR, 06 April 2015).
Berdasarkan wawancara diatas menunjukan bahwa adanya penghambat dalam peran pemerintah yang seharusnya menunjang atau membantu dalam campur tangan pemerintah kepada para pedagang dengan bentuk pemberian fasilitas, baik dalam bantuan kios, lods, lapak dll.Berikut hasil kutipan wawancara dengan beberapa narasumber terkait dengan indikatorfasilitas, wawancara dengan kepala pasar Malakaji.
“Beberapa akhir ini sejak kepemimpinaan saya,pemerintah sudah memberikan dana untuk perbaikan atau merenofasi pasar Malakaji dana yang di berikan oleh pemerintah sebanyak 2,3 miliyar untuk perbaikan kios, lods, lapak,dan toilet namun ternyata masih banyak yang harus di renopasi lagi tetapi dana yang di keluarkan oleh pemerintah belum cukup untuk menata pasar Malakaji dengan baik”. (Wawancara penulis RB, 06 April 2015).
Berdasarkan wawancara diatas bahwa adanya peran pemerintah yang menunjang atau membantu dalam penataan pasar Malakaji dimana pemerintah memberikan dana untuk penrenofasian pasar Malakaji sehingga pasar Malakaji bisa membangun beberapa tempat jualan untuk para penjual dan pemberian sarana dan prasarana serta pemberian fasilitas, sehingga pedagang merasa tidak terlantar lagi untuk berjualan. Pemerintah selaku pelayan bagi masyarakat khususnya di pasar Malakaji .
Dari analisis wawancara diatas bahwa penulis membahas soal pemberian fasilitas kepada para pedagang yang dilakukan oleh pemerintah daerah memang
pemerintah sudah memberi dana bantuan untuk perbaikan bangunan dan penambahan fasilitas yang ada di pasar Malakaji, akan tetapi pemerintah belum maksimal dalammelakukan penataan karena masih banyak fasilitas yang belum di sediakan dan masih banyak lagi fasilitas yang kurang baik dan rusak yang sudah disediakan oleh pemerintah. Menurut saya pemerintah harus turun langsung melihat apa saja yang perlu di benahi di pasar Malakaji sehingga dalam melakukan penataan akan maksimal. Pemerintah dalam penataan pasar dengan cara memberikan fasilitas ini merupakan tindakan yang baik bagi pemerintah, karena dengan memberikan fasilitas maka akan tertata dengan baik dan suasana yang aman, nyaman, dan tertib. Termasuk memfasilitasi tersedianya sarana dan prasarana pembangunan seperti pendampingan dan pemberian dana .
Gambar 4.1 Fasilitas Sarana dan Prasarna
b. Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana di Pasar Tradisional
Peningkatan kualitas sarana dan prasarana di pasar adalah memberikan fasilitas dan melakukan peningkatan kualitas megenai keamanan, kebersihan dan kenyamanan.
1. Peningkatan Fasilitas Kebersihan Pedagang dan Pengunjung di Pasar Malakaji
Kebersihan adalah dimana keadaan bebas dari kotoran, termasuk diantaranya, debu, sampah. Dalam menentukan kepuasan pelanggan khususnya mengenai tempat, faktor kebersihan juga memiliki pengaruh yang sangat besar sekali karena pelanggan dimana pun juga memiliki keinginan yang sama dimana dalam mendapatkan kebutuhan khususnya makanan, tempatnya harus benar-benar bersih, sehat dan terbebas dari penyakit.
Untuk menata pasar tradisional ada tiga hal yang perlu diketahui yaitu pedagang pasar tradisional, pemerintah daerah, dan pelanggan pasar
Untuk menata pasar tradisional ada tiga hal yang perlu diketahui yaitu pedagang pasar tradisional, pemerintah daerah, dan pelanggan pasar