Oleh Idawanni
Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan salah satu program Kementerian Pertanian dalam rangka optimalisasi lahan pekarangan yang ramah lingkungan dalam suatu kawasan. Kawasan rumah dapat diwujudkan dalam satu wilayah antara lain wilayah Rukun Tetangga (RT), beberapa RT, wilayah Rukun Warga (RW), wilayah dusun atau wilayah desa/kelurahan (Badan Litbang Pertanian, 2012).
Sasaran yang ingin dicapai KRPL ini adalah berkembangnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang mandiri dan sejahtera (BBP2TP, 2011).
Konsep kawasan rumah pangan lestari tidak sekedar pemanfaatan lahan pekarangan saja, namun termasuk konsep kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan dan kebun bibit.
Salah satu justifikasi penting dari program KRPL adalah bahwa ketahanan pangan nasional harus di mulai dari ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Dalam masyarakat pedesaan, pemanfaatan lahan perkarangan untuk ditanami tanaman dalam upaya memenuhi kebutuhan keluarga sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan masih berkkembang hingga sekarang. Hingga kini pemanfaatan lahan perkarangan di sebagian besar wilayah indonesia masih bersifat sambilan uutuk mengisi waktu luang dan ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga.
Pemanfaatan lahan perkarangan untuk tanaman pangan, tanaman sayuran, tanaman buah, tanaman obat-obatan, serta ternak dan ikan, selain dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi rumah tangga, juga berpeluang meningkatkan penghasilan rumah tangga, apabila dirancang dan direncanakan dengan baik. Pemanfaatan lahan perkarangan dirancang untuk meningkatkan komsumsi aneka ragam sumber pangan lokal dengan prinsip bergizi, berimbang dan beragam, serta berpeluang meningkatkan pedapatan rumah tangga pedesaan.
Bunga Rampai 23 Success Story Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
Untuk hidup sehat dan aktif, manusia memerlukan keragaman komsumsi pangan untuk memenuhi kecukupan gizinya. Dari rata-rata skor pola pangan harapan (PPH), menunjukkan bahwa skor mutu komsumsi pangan penduduk Indonesia pada tahun 2009 sekitar 79,6 % yang masih didominasi komsumsi energi kelompok padi-padian.
Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pangan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman.
Salah satu lokasi di Provinsi Aceh yang ditunjuk sebagai daerah yang melaksanakanakan program MKRPL adalah Kabupaten Pidie Jaya dengan tiga desa binaan BPTP Aceh yaitu Desa Meunasah Raya Kecamatan Meurah Dua, Desa Dayah Baroh Kecamatan Ulim, Desa Pulo U Kecamatan Mereudu. Seperti tujuan KRPL pada awalnya yakni untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga, penambahan pendapatan keluarga, dan meningkatkan kesejahteraan.
Pelaksanaan M-KRPL adalah pemanfaatan perkarangan yang ramah lingkungan sehingga dalam pelaksanaannya mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman dan pasca panen lebih mengutamakan penggunaan bahan organik dan meminimalkan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida. Penggunanaan pupuk hijau, pupuk hayati, pupuk kompos. Kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara hayati diharapkan mampu memperbaiki kesehatan tanah, sehingga hasil tanaman dapat ditingkatkan serta aman untuk dikomsumsi (Sutanto, 2002)
Peran Pupuk Organik
Pupuk organik berperan cukup besar dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia, dan biologis tanah serta lingkungan. Di dalam tanah pupuk organik akan dirombak oleh organisme menjadi humus atau bahan organik tanah. Bahan organik berfungsi juga sebagai sumber energi dan makanan mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang sangat bermanfaat dalam penyediaan hara tanaman. Dengan demikian pemberian pupuk organik pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena bahan-bahan organik tersebut tidak dibuang sembarangan yang dapat mengotori lingkungan terutama perairan umum. Bahan organik juga dapat mengurangi unsur hara yang bersifat racun bagi tanaman serta dapat digunakan untuk mereklamasi lahan yang tercemar.
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman hewan atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos baik yang berbentuk cair maupun padat. Manfaat utama pupuk organik adalah dapat memperbaiki kesuburan kimia, fisik dan biologis tanah, selain sebagai sumber hara bagi tanaman.
Pupuk organik dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, antara lain sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, ampas tebu, sabut kelapa), serbuk gergaji, kotoran hewan, limbah media jamur, limbah pasar, limbah rumah tangga dan limbah pabrik, serta pupuk hujau. Karena bahan dasar pembuatan pupuk organik bervariasi, kualitas pupuk yang dihasilkan juga beragam sesuai dengan kualitas bahan asalnya.
Pemakaian pupuk organik sekarang juga terus meningkat karena kesadaran dari masyarakat sudah mengerti manfaat untuk pertumbuhan tanaman, menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan
Pupuk organik dapat diaplikasikan dalam bentuk bahan segar atau kompos.
Pemakaian pupuk organik segar memerlukan jumlah yang banyak, sulit dalam penempatannya, serta waktu dekomposisinya relatif lama. Namun dalam beberapa hal, cara ini justru sangat bermanfaat untuk konservasi tanah dan air yaitu sebagai mulsa penutup tanah. Pupuk organik yang telah dikomposkan relatif lebih kecil volumenya dan mempunyai kematangan tertentu sehingga sumber hara mudah tersedia bagi tanaman. Pembuatan pupuk organik dengan cara dikomposkan bertujuan untuk menghasilkan pupuk organik dengan porositas, kepadatan serta kandugan air tertentu serta menyederhanakan komponen dasar yang mudah didekomposisikan.
Bunga Rampai 25 Success Story Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
Kelebihan dan Kekurangan Pemberian Pupuk Organik Kelebihan :
• Tidak menyebabkan polusi lingkungan
• Memiliki kandungan hara makro dan mikro yang cukup dibutuhkan oleh tanaman
• Meningkatkan aktivitas biologi tanah
• Mampu menekan Al dengan membentuk kompleks Al-organik pada tanah masam
• Meningkatkan KTK
• Memperbaiki struktur tanah
• Meningkatkan kemampuan tanah menahan air Kekurangan :
• Jumlah pupuk yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak karena rendahnya hara makro yang terkandung dalam pupuk organik rendah/sedikit
• Kurang ekonomis dalam hal transportasi
• Ketersediaan hara lambat
Beberapa contoh dan cara membuat pupuk yang ramah lingkungan Pupuk Organik Cair
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
• Kotoran kambing atau kotoran sapi sebanyak 25 – 30 kg
• Daun Gamal sebanyak antara 25 – 30 kg
• Air bersih sebanyak 200 liter Cara Pembuatan :
• Masukkan kotoran kambing atau kotoran sapi dan dau gamal kedalam karung yang berbeda, dimana masing-masing karung diikat pada ujungnya.
• Rendam kedua karung tersebut didalam bak yang sudah berisi air bersih kemudian tutup
• Setiap sore hari rendaman diaduk-aduk agar tidak berbau
• Lakukan terus menerus selama satu minggu dan pupuk siap untuk digunakan
Kompos Dari Sampah Rumah Tangga Bahan-bahan yang dibutuhkan :
• Wadah drum, ember plastik atau gentong
• Wadah diberi lubang di dasarnya untuk pertukaran udara
• Bahan sampah limbah rumah tangga dipotong-potong sebesar 2 – 4 cm
• Mikroorganisme pengurai sebagai aktivator, contohnya EM-4 atau starbio
• Air
• Alat Pengaduk Cara Membuat :
• Bahan sampah dimasukkan kedalam wadah selapis, kemudian ditambahkan mikroorganisme pengurai
• Lakukan terus menerus selapis demi selapis seperti diatas sampai wadah penuh
• Disiram air dengan merata
• Pada hari ke 5 – 7, media dapat diaduk-aduk. Pengadukan diulang setiap 5 hari dan dihentikan sampai sampah menjadi hitam dan hancur
• Sampah telah berubah menjadi kompos Pupuk Hijau Organik
Bahan dan komposisi :
• 200 Kg hijau daun atau sampah dapur
• 10 kg dedak halus
• ¼ kg gula pasir/gula merah
• ¼ liter bakteri
• 200 liter air atau secukupnya Cara pembuatan :
• Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi
• Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun
• Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air
• Masukkan bakteri kedalam air dan campurkan dengan gula pasir aduk hingga rata.
• Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun dan tambahkan bekatul, aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15 – 20 cm dan ditutup rapat
• Dalam waktu 3 – 4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan
Bunga Rampai 27 Success Story Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
Dalam pembuatan kompos yang perlu di perhatikan :
Pengaturan suhu merupakan faktor penting dalam pengomposan, salah satu faktor yang sangat menentukan suhu adalah tingginya tumpukan. Tumpukan bahan yang terlalu rendah akan berakibat cepatnya kehilangan panas. Ini disebabkan tidak adanya cukup material untuk menahan panas yang dilepaskan, sehingga mikroorganisme tidak akan berkembang secara wajar. Sebaliknya bila timbunan terlalu tinggi, akan terjadi kepadatan bahan organik yang diakibatkan oleh berat bahan sehingga suhu menjadi sangat tinggi dan tidak ada udara didalam timbunan. Tinggi timbunan yang memenuhi syarat adalah 1,2 – 2 m dan suhu ideal selama proses pengomposan adalah 40 - 50˚C.
Foto Kegiatan