BAB II ANALISIS ALUR, PERAN TOKOH, DAN LATAR SKENARIO
2.2 Peran Tokoh…
2.2.2 Peran Tokoh dalam Segmen Title card: Siti
Peran tokoh protagonis dalam segmen title card: Siti adalah Siti. Siti, seorang perempuan berlatar kultur Jawa. Polos tetapi menarik. Siti dikategorikan peran protagonis karena Siti memegang peran penting dalam menggerakan adegan dalam cerita. Siti adalah perempuan yang baik dan dia menjadi tokoh yang tersakiti, yaitu tersakiti oleh pamannya sendiri. Hal ini terlihat dari sikap Siti yang sebenarnya tidak begitu menerima dirinya dinikahi pamannya sendiri terlebih lagi pamannya itu sudah memiliki dua istri. Siti dijadikan istri ketiga.
Pada saat upacara ijab kabul pernikahan Siti dengan pamannya, Siti menangis. Siti menangis bukan karena bahagia, tetapi karena sedih dirinya terpaksa untuk menikah dengan pamannya sendiri.
57. INT. RUMAH SITI - RUANG TAMU - DAY
Siti sudah memakai kebaya, rambut disanggul, sedang mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu. Disaksikan oleh dua saksi laki-laki temen Pak Lik. Sri menyaksikan dengan bangga. Dwi mengusap air mata Siti yang terus-terusan mengalir (Dinata, 2006: 78).
2. Peran Antagonis
Peran tokoh antagonis dalam segmen tirle card: Siti adalah Pak Lik. Pak Lik adalah pamannya Siti yang bekerja sebagai supir di salah satu rumah produksi yang tidak pernah puas dengan satu istri, dialah yang menimbulkan konflik dalam cerita. Pak Lik sebenarnya telah berjanji membawa Siti ke Jakarta untuk disekolahkan di tempat kursus, malah dinikahinya. Pak Lik sering melakukan tindakan yang tidak disukai Siti. Siti merasa terganggu dengan sikap Pak Lik terhadapnya karena Siti adalah perempuan yang masih polos yang belum mengerti urusan lelaki.
Pak Lik mendatangi Siti yang masih berdiri, lalu menyalipkan tangannya ke dalam daster. Siti kaget, wajahnya kaku, tapi lama-lama merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Pak Lik yang dari tadi memperhatikan wajah Siti sambil terus melakukan “pekerjaan tangan”, merasa sudah waktunya untuk penetrasi. Wajah Siti yang sudah mulai rileks kembali tegang menahan sakit. Tangan kanannya mencengkeram kursi dan tangan kirinya
mencengkeram bahu Pak Lik, sampai terlihat tanda cakaran (Dinata, 2006:
3. Peran Tritagonis
Peran tritagonis dalan segmen title card: Siti adalah Sri (istri pertama Pak Lik) dan Dwi (istri kedua Pak Lik yang juga menjalin hubungan percintaan dengan Siti). Mereka berdua merupakan tokoh yang berperan sebagai pendukung tokoh sentral Siti dan Pak Haji. Dua tokoh ini adalah sebagai penengah antara tokoh Siti dan Pak Lik. Tidak ada konflik di antara mereka semua. Mereka hidup rukun bersama di rumah Pak Lik. Sri dan Dwi sangat menyukai kehadiran Siti di dalam keluarga mereka. mereka menganggap Siti seperti adik mereka sendiri.
SITI
Aku nggak mau nyakitin perasaan Bu Lik-Bu Lik yang udah baik banget. Kok aku malah kayak orang nggak tau diri.
SRI
Kamu tuh lucu, wong dari awal kita juga udah tau kalo pasti kamu nantinya dikawinin. Kita cuma mau liat sifat kamu dulu. Kita malah seneng kok (Dinata, 2006: 76).
4. Peran Pembantu
Cik Linda (peremuan keturunan Tionghoa yang tak sengaja bertemu Siti ketika Siti berjalan menuju rumah Pak Lik), Anak-anak Sri dan Dwi (yang tinggal satu rumah dengan Siti), Salma (dokter ahli kandungan), Santi (istri keempat Pak Lik), Ming (gadis muda yang tak sengaja bertemu Siti di gang rumahnya), dan Sopir taksi (yang mengantarkan Siti dan Dwi ke rumah kontrakan yang baru). Tokoh-tokoh sebagai pelengkap cerita yang muncul sesekali dan kebanyakan tanpa dialog langsung dengan tokoh Siti dan Pak Lik sebagai tokoh sentral.
Cik Linda hanya muncul di scene 47. Cik Linda di dalam scene ini secara tidak segaja bertemu dengan Siti, yang saat itu Siti baru saja datang dari desanya menuju rumah pamannya di Jakarta.
47. EXT. DEPAN GANG BUKIT DURI RUMAH SITI/MING - VERY
EARLY IN THE MORNING
Mobil L300 yang biasa dipakai syuting, berhenti di depan gang, diparkir di belakang mobil pick-up, yang di dalamnya ada wanita keturunan Tionghoa, yang akan kita kenal dengan nama Cik Linda, di dalamnya Siti dan Pak Lik turun dari L300, membawa koper dan melewati mobil pick-up yang kacanya terbuka. Di dalam Cik Linda lagi kipas-kipas (Dinata, 2006: 72).
Anak-anak Sri dan Dwi muncul di scene 49, scene 51, scene 60, scene
77, scene 81, dan scene 82. Siti berdialog dengan salah satu anak perempuan, anak sulung Pak Lik, dan yang lainnya hanya sebagai tokoh pelengkap saja di scene 49.
49.INT. RUMAH SITI - KAMAR TIDUR - NIGHT
Siti bersiap-siap untuk tidur. Dia menyempil di antara kasur yang sudah dipenuhi Dwi dan tiga anak kecil. Akhirnya dia berhasil mengambil posisi tidur dengan badan miring sedikit di sebelah anak sulung Pak Lik yang berumur 6 tahun….
ANAK PEREMPUAN
Kok aku nggak panggil Mbak “Ibu”. SITI
Kan aku bukan ibumu. ….
Siti dan anak itu lalu memejamkan mata (Dinata, 2006: 72-73).
Anak-anak tersebut pada scene 51 tidak berdialog sama sekali. Mereka hanya sebagai pelengkap latar cerita saja.
51. INT. RUMAH SITI - KAMAR TIDUR - NIGTH
Malam berikutnya Siti masuk kamar paling terakhir. Anak-anak yang lain sudah tidur. Dia kaget melihat bayi Sri (istri pertama) sedang menangis dan
digendong oleh Dwi (istri kedua). Siti lalu menawarkan bantuan (Dinata,
2006: 73).
Sedangkan di scene 60 hanya anak sulung Pak Lik yang berbicara dan anak-anak lain tetap sebagai pelengkap latar cerita.
60.INT. RUMAH SITI - RUANG TENGAH - NIGTH Siti melipat kasur di dekat sofa.
SITI
Ayo, mulai malam ini, anak-anak yang sudah gede tidurnya di luar. ANAK PEREMPUAN
Asyik dong, bisa sambil nonton teve (Dinata, 2006:79).
Anak-anak muncul kembali di scene 77, scene 81 dan scene 82. Di dalam
scene ini, mereka juga tidak berdialog. Scene 77 adalah scene di mana anak-anak sedang bermain dengan Santi, ibu baru mereka.
77.INT. RUMAH SITI - KAMAR TIDUR - DAY
Dwi dan Siti sedang membantu Sri yang sedang menyusui. Pak Lik mencium kening Sri, lalu keluar kamar. Santi main dengan anak-anak lain di pojok kamar (Dinata, 2006: 92).
Sedangkan scene 81 dan scene 82 adalah scene di mana yang muncul hanya dua anak Dwi saja. Mereka pun tidak berdialog sama sekali.
81.EXT. DEPAN GANG RUMAH SITI/MING - MOMENTS LATER
Dwi berusaha menutup pintu pagar pelan-pelan, sambil menggendong satu anak, dan anak yang satunya berdiri di belakangnya, masih ngantuk.
Lalu dia berpapasan dengan Ming dan Supir taksi. Dwi buru-buru jalan menuju mulut gang.
82.EXT. UJUNG GANG RUMAH SITI/MING - MOMENTS LATER
Siti melambaikan tangannya ke Dwi dan berlari mendekati Dwi dan anak-anaknya (Dinata, 2006: 98).
Salma hanya muncul di scene 78. Saat itu Salma sedang memeriksa Sri dan Siti mendampingi Sri.
78. INT. KLINIK TEMPAK PRAKTIK SALMA - AFTERNOON
Sore ini hujan turun dengan deras. Siti menatap layar alat ultrasonografi dan berusaha memahami apa yang dilihatnya…
Dokter Salma lalu melepas sarung tangan dan menulis resep. Siti dan Sri berjalan menuju pintu keluar (Dinata, 2006: 93).
Santi muncul di scene 76, dan scene 77. Saat itu, di scene 76 Santi diperkenalkan kepada Siti oleh Pak Lik sebagai istri barunya. Santi tidak berdialog sama sekali.
76. INT. RUMAH SITI - RUANG TAMU - NIGHT
Siti masih tertidur di sofa. Tangan Pak Lik menepuk-nepuk mukanya. Dia bangun dan melihat Pak Lik tidak sendiri.
PAK LIK
Kenalin, ini Santi. Kami ketemu waktu syuting di Meulaboh.
Santi masih malu-malu. Siti menyodorkan tangannya, mereka bersalaman
(Dinata, 2006: 89-92).
Sedangkan di scene 77, Santi berdialog. Saat di scene ini Santi berdialog dengan Dwi, Sri, dan Siti.
77. INT. RUMAH SITI - KAMAR TIDUR - DAY
Dwi dan Siti sedang membantu Sri yang sedang menyusui. Pak Lik mencium kening Sri, lalu keluar kamar. Santi main dengan anak-anak lain di pojok kamar…
SRI
Kamu nggak nyesel masnya udah punya istri banyak gini. SANTI
Nggak nyesel kok, Mbak. Aku malah seneng bisa dibawa ke Jakarta (Dinata, 2006: 92).
Ming muncul hanya di scene 80 tanpa dialog. Ming yang bertemu dengan Siti, tetapi Ming tidak menyapa Siti karena Ming tidak mengenal Siti. Di scene ini juga sopir taksi muncul tanpa dialog.
80. EXT. UJUNG GANG RUMAH SITI/MING - VERY EARLY IN THE MORNING
Siti membawa dua koper, menunggu kendaraan umum yang belum juga kelihatan karena hari masih terlalu pagi. Tiba-tiba ada taksi berhenti. Ming, perempuan cantik belia yang akan kita kenal pada segmen selanjutnya, keluar dari taksi dan sopir taksi membuka bagasi. Mereka berjalan berdua, sambil membawa barang-barang, masuk ke dalam gang. Siti melihat mereka jalan, lalu dia mendekat ke taksi tersebut, meletakkan koper di atas bagasi yang tertutup (Dinata, 2006: 98).
Sopir taksi juga muncul di scene 82. Sopir taksi di dalam scene 82 berdialog dengan Siti, yang pada saat itu Siti sedang menjalankan aksi kaburnya dari rumah Pak Lik.
82. EXT. UJUNG GANG RUMAH SITI/MING - MOMENTS LATER ….
SOPIR TAKSI (O.S.)
Eh, Si Eneng belum bilang tujuannya mau ke mana. SITI (O.S.)
Mau cari tempat tinggal baru, Pak, tapi belum tau di mana. SOPIR TAKSI (O.S.)
Banyak banget orang yang mau pindahan pagi-pagi begini, ya. SITI (O.S.)
Pokoknya tolong cariin kontrakan yang derahnya jauh dari sini (Dinata, 2006: 98-99).
Segmen title card: Siti memiliki tokoh-tokoh dengan perannya masing-masing, yaitu Siti sebagai tokoh dengan peran protagonis, Pak Lik sebagai tokoh dengan peran antagonis, dan tokoh-tokoh lainnya dengan peran mereka masing-masing. Secara lebih rinci pembagian peran tokoh dalam segmen ini seperti terlihat pada gambar 2.4.
Antagonis
Tritagonis
- Cik Linda
- Anak-anak Sri dan Dwi - Salma - Santi - Ming - Sopir Taksi - Sri - Dwi Pak Lik Pembantu Peran Tokoh dalam Segmen
Title Card: Siti
Gambar 2.4 Bagan Peran Tokoh dalam Segmen Title Card: Siti
2.2.3 Peran Tokoh dalam Segmen Title card: Ming