B. Hakikat Literasi Sains
7. Peranan Literasi Sains dalam Pendidikan
Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama, yang pelaksanaannya terintegrasi dalam pembelajaran. AS dengan “Project 2061”
membangun literasi sains di Amerika Serikat melalui riset yang hasilnya digunakan untuk menetapkan “standar pendidikan sains Amerika”. Dibuatnya standar ini untuk mewujudkan literasi sains secara kongkrit dalam pendidikan Amerika, yang tujuan jangka panjangnya adalah kejayaan sains dan teknologi di masa depan.
Hasil penelitian sains di Australia menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan sains di Australia adalah meningkatkan literasi (melek) sains. Cina menerapkan strategi yang tak kalah penting: menjadikan "literasi (melek) sains"
(science literacy) sebagai program negara. Cina telah memulainya lima tahun silam dengan mencanangkan Rencana 15 Tahun untuk meningkatkan jumlah
19 Ibid, Hlm 71
penduduk yang melek sains. Orang literasi sains akan dapat berkonstribusi terhadap kesejahteraan baik dari aspek social maupun ekonomi. Jadi di negara maju, literasi sains merupakan prioritas utama dalam pendidikan sains.
Pengembangan evaluasi untuk mengetahui pencapaian literasi sains merujuk pada proses sains, yaitu proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. PISA (2006) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu: a) Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains. b) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu. c) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu. d) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia. e) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.
Pengukuran terhadap pencapaian literasi sains berdasarkan standar PISA yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidenifikasi dan menginterpretasi bukti serta
menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada.
Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi materi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumbersumber lain. Penilaian PISA diadakan setiap 3 tahun sekali terhitung sejak tahun 2000. PISA ini mengikutkan siswa yang berusia 15 tahun, sekarang terdiri dari 65 negara, negara maju dan negara berkembang. Kriteria penilaian PISA ini mencakup kemampuan kognitif (knowledge) dan juga keahlian siswa di bidang Reading, Matematika dan Scientific Literacy (Kemampuan Sains/Literasi sains/melek sains). Literasi sains itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten sains, proses sains, dan konteks sains.
Prestasi Indonesia berdasarkan kriteria yang ditetapkan PISA Peringkat Indonesia dari berbagai penilaian ini bisa mencerminkan bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini. Skill membaca, dari data terlihat bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan 'memaksa diri' untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. 20
20 Ibid Hlm 81
Keterampilan proses merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi atau bekerja sebagai ilmuwan (scientist). Antara penguasaan pengetahuan dengan keterampilan proses adakaitan yang erat, konsep dikuasai melalui pengembangan keterampilan proses. Penekanan belajar konsep dengan pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk tetap menekankan penguasaan konsep melalui pengembangan jenis keterampilan proses. Dengan demikian hakikat sains sebagai produk dan proses dapat dikembangkan dalam belajar sains menurut Kurikulum.
Penyajian produk dalam buku pelajaran sains tidak cukup. Penyajian materi subyek dengan PKP (Pendekatan Keterampilan Proses) tidak langsung memberikan jawaban atau kesimpulan di dalam buku pelajaran. Siswa harus membangun sendiri kemampuan berpikir, siswa harus menemukan sendiri dan metransformasikan sendiri informasi kompleks, mengecek sendiri informasi baru dengan aturan-aturannya.
Carin dan Sund (dalam Puskur-Depdiknas, 2006) mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Aktivitas dalam sains selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan keterampilan dan kerajinan. Secara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. Dengan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Ilmuwan sains selalu tertarik dan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa,bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya.
Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung sebagai pengalaman belajar dan disadari ketika kegiatannya sedang berlangsung.
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial sehingga pembelajaran sains (Biologi) akan lebih bermakna. Dengan demikian belajar dengan pendekatan keterampilan proses memungkinkan siswa mempelajari bahkan menemukan konsep yang menjadi tujuan belajar sains dan sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar sains, sikap ilmiah dan sikap kritis.
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan pengamatan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Dalam Q.S. al-Ankabut : 20 Allah berfirman:
َفْيَك اوُرُضْنَ ف ِض ْرَْلْا ِفِ اوُرْ يِس لَق َةَرِخَْلْا َةأْشَّنلا ُئِشْنُ ي ُالله َُّثُ َقْلَْلْا َأَدَب
ىَلَع َالله َّنِإ رْ يِدَقٍءْيَش ِ لُك
Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi. Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya. Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.21
Perhatian al-Qur’an dalam menyeru manusia untuk mengamati dan memikirkan alam semesta dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, mengisyaratkan dengan jelas perhatian al-Qur’an dalam menyeru manusia untuk belajar, baik melalui pengamatan terhadap berbagai hal, pengalaman praktis dalm kehidupan sehari-hari, ataupun lewat interaksi dengan alam semesta, berbagai makhluk dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. ini bisa dilakukan dengan pengalaman praktis atau pun dengan metode berfikir.
Nabi SAW sendiri telah mengemukakan tentang pentingnya belajar dari pengalaman praktis dalam kehidupan yang dinyatakan dalam hadis yang di tahrij oleh Imam Muslim berikut:
21 Al-Qur’an Terjemah Surah Al-Ankabut Ayat 20
رْمَعَو َةَبْ يَش ِبَِأ ُنْب ِرْكَب ْوُ بَأ اَنَ ثَّدَح ْوُ بَأ َلاَق ٍرِماَع ِنْب ِدَوْسَلْْا ِنَع اَُهَُلاِك ُدِقاَّنلا و
ٍرْكَب ُدَوْسَأ اَنَ ثَّدَح ِهْيِبَأ ْنَع َةَوْرُع ِنْب ِماَشِه ْنَع َةَمَلَس ُنْب ُداََّحَ اَنَ ثَّدَح ٍرِماَع ُنْب
َةَشِئاَع ْنَع : ٍسَنَأ ْنَع ٍتِبَثَ ْنَع
َع ُالله ىَّلَص َِّبَِّنلا َّنَأ َنْوُح ِقَلُ ي ٍمْوَقِب َّرَم َمَّلَسَو ِهْيَل
َْل ْوَل َلاَقَ ف ْمِِبِ َّرَمَف اًصْيِش َجَرَخَف َلاَق َحُلَصَل اْوُلَعْفَ ت
َتْلُ ق اْوُلاَق ْمُكِلْخَنِل اَم َلاَقَ ف
ْمُكاَيْ نُد ِرْمَِبِ ُمَلْعَأ ْمُتْ نَأ َلاَق اَذَكَو اَذَك
Abu Bakar bin Abi Saybah dan Amr al-Naqidh bercerita kepadaku. Keduanya dari al-Aswad bin Amir. Abu Bakr berkata, Aswad bin Amir bercerita kepadaku, Hammad bin Salmah bercerita kepadaku, dari Hisham bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah dan dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda:Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik. Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Adaapa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.
Hadis di atas mengisyaratkan tentang belajarnya manusia membuat respon-respon baru lewat pengalaman praktis dari berbagai situasi baru yang dihadapinya dan berbagai jalan pemecahan dari problem-problem yang dihadapinya.
Mengenai jenis belajar lewat pengalaman praktis al-Qur’an mengisyaratkan dalam ayat berikut :
َنْوُلِف اَغ ْمُه ِةَرِخَْلْ اِنَع ْمُهَو اَيْ نُّدلا ِةاَيَْلْ اَنِم اًرِهاَظَن ْوُمَلْعَ ي
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
Al-Qurtubi, dalam menafsirkan ayat ini, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia”, berkata: Yakni masalah penghidupan dan duniawi mereka. Kapan mereka harus menanam dan menuai dan bagaimana harus menanam dan membangun rumah.