BAB III FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN BATAL TERHADAP
B. Peranan notaris dalam pendaftaran surat dibawah tangan …
Ketika suatu peristiwa penting membutuhkan pembuktian kebenaran, karena telah terjadi sengketa antara pihak-pihak yang berkepentingan, maka yang menjadi saksi itulah yang akan memberikan kebenarannya dengan memberikan kesaksiannya itupun bila saksi-saksi masih hidup. Namun apabila saksi-saksi ini sudah tidak ada lagi, baik karenaitu sudah meninggal dunia atau sudah pindah ke
tempat lain yang jauh dan tidak diketahui tempat tinggalnya, maka akan timbul kesukaran tentang pembuktiannya.
Untuk menjawab kelemahan penggunaan alat bukti saksi maka orang-orang yang berkepentingan sudah mulai mencari peneguhan dari suatu peristiwa penting dengan mencatatnya dalam suatu surat (dokumen) dan ditandatangani oleh orang-orang yang berkepentingan dan dua orang-orang saksi atau lebih. Biasanya dahulu hanya Lurah/Kepala Desa yang ikut menaruh tandatangan dan menaruh cap jabatannya sebagai pengesahan. Segala sesuatu yang sudah ditandatangani dan dicap oleh Lurah sudah dianggap otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian.
Pada perkembangan selanjutnya, muncul lembaga Notaris sebagai perwujudan dari adanya upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat didalam mengatur pergaulan hidup sesame individu yang membutuhkan suatu alat bukti mengenai hubungan hukum diantara mereka R, Sugondo Notodisuryo mengatakan bahwa Notaris yang dalam profesi sesungguhnya merupakan instansi yang dengan akta-aktanya menimbulkan alat-alat pembuktian tertulis dan mempunyai sifat otentik menurut pendapat kami dapat berbuat banyak untuk mendorong masyarakat guna mempergunakan alat-alat pembuktian tertulis.44
Apabila orang-orang sudah banyak yang menyadari akan perlunya alat pembuktian tertulis baik bersifat otentik maupun dalam bentuk akta dibawah tangan yang dilegalisasi maupun yang didaftarkan dalam buku khusus maka akan _______________________
44 R.Soegondo Notodisoerdjo, Hukum Notariat di Indonesia suatu penjelasan, PT Raja GrapindoPersada, Jakarta, 1993, h. 44.
lebih banyak pula diminta jasa Notaris, termasuk oleh orang yang masih tunduk pada hukum adat. Bukti tertulis itu tidak semata-mata tergantung pada huku materilnya untuk diterapkan, tetapi yang terpenting adalah bahwa alat pembuktian itu dapat membuktikan dengan sah dan kuat tentang suatu peristiwa hukum, sehingga menimbulkan lebih banyak kepastian hukum di lingkungan masyarakat (rechiszekerheid).
Di Indonesia kedudukan hukum Notaris tidaklah dilepaskan dari sistem peradilan, khususnya sistem pembuktian dalam perkara perdata dimana akta notaris mempunyai nilai pembuktian lebih tinggi. Sistem peradilan yang dimaksud adalah sistem peradilan yang berlaku di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 yang melembagakan empat macam badan peradilan, yaitu peradilan umum, badan peradilan agama, badan peradilan militer dan badan peradilan tata usaha Negara.
Secara umum didalam prakteknya Notaris menjalankan suatu praktek sosial yang sangat penting yang mrliputi bidang yang lebih luas dari apa yang diuraikan pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris. Inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antar pihak yang secara mufakat meminta jasa-jasa Notaris. Pada hakekatnya sama dengan tugas Hakim yang memberikan putusan tentang pengadilan antara para pihak yang bersengketa. Notaris harus bersifat netral dengan tidak memihak kepada salah satu pihak saja.
Notaris harus mengenal pada para pihak yang hadir dihadapannya baik dalam rangka pembuatan suatu akta maupun dalam pembuatan legalisasi akta
maupun dalam pendaftaran akta dibawah tangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan meminta identitas dari para penghadap atau meminta keterangan dari orang lain agar diperkenalkan kepadanya. Menurut pasal 39 Undang- Undang nomor 2 tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris :
1. Penghadap harus memenuhi syarat : (a) paling sedikit berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah ; dan (b) cakap melakukan perbuatan hukum.45
2. Penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang saksi pengenal yang berumur paling sedikit 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukan perbuatan hukum atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) penghadap lainnya.
3. Pengenal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tegas dalam akta.
Dalam upaya pengenalan ini, seorang Notaris harus berupaya mengetahui bahwa identitas dan keterangan dari pihak adalah yang sebenarnya. Notaris dapat memperoleh keterangan-keterangan itu dari orang-orang yang dikenalnya dan dipercayainya atau dapat melihat identitas lainnya seperti paspor dan surat-surat lain dari para pihak yang bersangkutan atau melalui informasi dari pihak ketiga.
Ketentuan-ketentuan ini juga berlaku pada pembuatan akta dibawah tangan. Jika para penghadap itu diperkenalkan kepada Notaris, maka saksi yang memperkenalkan itu harus berjumlah dua orang dan harus pula dinyatakan didalam akta yang dilegalisasinya itu 46. Dalam hal akta dibawah tangan yang didaftarkan Notaris tidak mengetahui kapan akta itu ditandatangani dan juga tidak mengetahui siapa yang menandatanganinya. Oleh karena itu tidak adanya jaminan kepastian mengenai tanggal penandatangannya dan juga tidak ada jaminan _______________________________
45 Pasal 330 BW (KUHPerdata) menyebutkan bahwa “belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun, dan tidak terlebih dahulu telah kawin”.
46M.U. Sembiring, Op.Cit.,h.127.
kepastian tentang siapa yang menandatangani/membubuhkan cap ibu jari diatas akta itu. jaminan kepastian satu-satunya yang ada, hanyalah bahwa akta tersebut telah ada (telah exist) pada tanggal akta itu di daftarkan.47
Khusus dalam perkara perdata telah ditentukan bahwa tidak semua peristiwa atau kejadian harus dibuktikan. Melainkan bahwa hal-hal yang menjadi perselisihan saja yang harus dibuktikan. Segala peristiwa yang menimbulkan sesuatu hak harus dibuktikan oleh yang menuntut hak tersebut, sedangkan peristiwa yang menghapuskan hak harus dibuktikan oleh pihak yang menyangkal hak tersebut.
Apabila tidak ada bukti-bukti yang diajukan atau tidak cukup diajukan bukti persidangan, maka tuntutan hak atau gugatan dari penggugat akan di tolak atau tidak dikabulkan. Hakim hanya boleh mengambil keputusan berdasarkan alat bukti yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Berdasarkan urutan alat-alat bukti menurut Undang-Undang maka alat bukti tulisan merupakan alat bukti yang paling utama dikemukakan dalam persidangan perkara perdata. Alat bukti tulisan yang berupa akta dibedakan antara akta otentik dan akta dibawah tangan.
Akta otentik merupakan alat bukti yang paling kuat nilai pembuktiannya, bahkan dikatakan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna atau lengkap yang berarti mengikat dan harus diakui Hakim sebagai kebenaran menurut hukum, tersebut. Sehingga bagi hakim akan sangat muda dan tidak ragu-ragu mengabulkan gugatan penggugat yang didukung oleh alat bukti akta otentik.
___________________________
47Ibid., h.129.
Sebaliknya terhadap adanya alat bukti berupa akta dibawah tangan hanya mempunyai kekuatan pembuktian secara formil, yaitu bila tandatangan pada akta itu diakui, yang berarti pernyataan sebagaimana yang tercantum dan termuat didalam akta itu diakui dan dibenarkan pula oleh yang menandatanganinya.
Secara materil kekuatan pembuktian akta dibawah tangan tersebut hanya berlaku terhadap orang untuk siapa pernyataan itu diberikan sedangkan terhadap pihak lain kekuatan pembuktiannya tergantung pada penilaian Hakim (pembuktian bebas). Semua perkara dipersidangan adalah semata-mata termasuk kekuasaan atau wewenang Hakim/Pengadilan untuk memutuskannya. Hakim atau Pengadilan ini merupakan merupakan alat perlengkapan dalam suatu Negara hukum yang ditugaskan menetapkan hukum yang sebenarnya antara dua pihak yang terlibat dalam perselisihan atau persengketaan.
Dalam persidangan apabila Undang-Undang mengharuskan bukti dalam bentuk tulisan, tetapi yang diajukan sebagai bukti hanya berupa akta dibawah tangan maka masih harus diupayakan alat bukti lain berupa keterangan saksi sehingga diperoleh bukti yang dianggap cukup mencapai kebenaran. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 1902 KUHPerdata, yang berbunyi :
“Dalam hal Undang-Undang memerintahkan pembuktian dengan tulisan, diperkenankan pembuktian dengan saksi, bila ada suatu bukti permulaan tertulis, kecuali jika tiap pembuktian tidak diperkenankan selain dengan tulisan. Yang dinamakan permulaan tertulis ialah segala akta tertulis yang berasal dari orang yang terhadapnya suatu tuntutan diajukan atau dari orang yang diwakili olehnya dan yang kiranya membenarkan adanya peristiwa hukum yang diajukan oleh seseorang sebagai dasar tuntutan itu”
Berdasarkan ketentuan pasal diatas dapat dikemukakan syarat-syarat
bilamana terdapat bukti permulaan berupa tulisan, yaitu : 1. Harus ada akta
2. Akta itu harus dibuat oleh orang terhadap siapa dilakukan tuntutan atau dari orang yang diwakilinya.
3. Akta itu harus memungkinkan kebenaran peristiwa yang bersangkutan.48 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akta dibawah tangan untuk dapat menjadi bukti yang sempurna dan lengkap dari permulaan bukti tertulis itu masih harus dilengkapi dengan alat-alat bukti lainnya. Karena itulah dikatakan bahwa akta dibawah tangan itu merupakan bukti tertulis (begin van schriftelijk bewijs).
Dengan dilakukan pendaftaran akta dibawah tangan oleh Notaris, maka kepastian akta yang didaftarkan hanyalah bahwa akta tersebut telah ada (telah exist) pada tanggal akta itu didaftarkan. Para pihak tidak dapat lagi menyangkal kebenarannya karena akta tersebut telah diperjanjikan dan ditandatangani tidak dihadapan Notaris, oleh karena itu tidak ada jaminan kepastian mengenai penandatangannya dan juga tidak ada jaminan kepastian tentang siapa menandatangani diatas akta itu. Satu-satunya kepastian hukum dipeoleh sebagai akibat adanya tindakan pendaftaran ialah bahwa eksistensi dalam arti kata hari, tanggal, bulan akta dibawah tangan yang didaftarkan itu telah diakui terhitung sejak tanggal diadakannya pendaftaran satu lain sesuai dengan apa yang diatur dalam pasal 1880 KUHPerdata.
____________________________
48R.Soegondo Notodisoerjo, Op.Cit., h. 44.
C. Faktor-faktor penyebab surat dibawah tangan yang dibukukan oleh