BAB IV KEWENANGAN DAN PERTANGGUNG JAWABAN
C. Pertanggungan jawaban Notaris terhadap surat dibawah
Undang-Undang Jabatan Notaris
Profesi Notaris merupakan merupakan suatu pekerjaaan dengan keahlian khusus yang menuntut pengetahuan luas, serta tanggung jawab yang berat untuk melayani kepentingan umum dan inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta jasa Notaris. Notaris perlu memperhatikan apa yang disebut sebagai perilaku profesi yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1. Memiliki integritas moral yang mantap.
2. Harus jujur terhadap klien maupun diri sendiri.
3. Sadar akan batas-batas kewenangannya.
4. Tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan uang atau materi.58
Sebagai pejabat umum yang diberikan kepercayaan untuk mengemban sebagian tugas Negara, Notaris harus dapat menjalankan tugas profesi dengan sebaik mungkin sesuai dengan hukum agamanya dan hukum serta peraturan yang berlaku oleh karena itu jika Notaris berbuat melanggar hukum, sanksinya tidak hanya berupa sanksi hukum positif saja, melainkan sanksi moral dari masyarakat dan sanksi spiritual menurut hukum agamanya. Sebagai pejabat umum yang diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas Negara, Notaris tidak bisa
___________________________
58Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi dan Profesi Hukum, Aneka Ilmu, Semarang, 2003, h.
93.
menghalalkan segala cara untuk mencapai profesionalnya.59
Notaris dalam menjalankan jabatannya harus memperhatikan dan tunduk pada Undang-Undang Jabatan Notaris, selain itu Notaris juga harus tunduk pada Kode Etik Notaris dan peraturan lainnya, menyangkut dengan proses pembuatan aktanya dan tentunya lebih bahaya lagi kalau Notaris itu dimanfaatkan oleh klienya.60
Hal ini sebisanya dihindarkan dan harus kita memperlihatkan sikap memang demikian keadaannya bahwa Notaris dalam menjalankan jabatannya itu mandiri dan tidak memihak, yaitu dengan jalan memberikan penjelasan dan informasi yang lengkap, baik mengenai hak dan kewajiban maupun akibat hukum dari para pihak mengenai akta yang akan ditandatanganinya sehingga masing-masing pihak telah berada dan mendapat hak yang sama dalam pembuatan akta.61
Tanggung jawab Notaris sebagai profesi lahir dari adanya kewajiban dan kewenangan yang diberikan kepadanya, kewajiban dan kewenangan tersebut secara sah dan terikat mulai berlaku sejak Notaris mengucapkan sumpah jabatannya sebagai Notaris. Sumpah yang diucapkan tersebutlah yang seharusnya mengontrol segala tindakan Notaris dalam menjalankan jabatannya.
Raden Soegondo Notodisoerjo menyatakan tentang apa yang dapat di pertanggung jawaban oleh Notaris yaitu apabila penipuan atau tipu muslihat itu bersumber dari Notaris sendiri. Hal tersebut dapat terjadi apabila seorang Notaris _____________________________
59Anke Dwi Saputro (Penyadur), Jati Diri Notaris Indonesia, Dulu, Sekarang dan Di Masa Datang, PT. Gramedia, Jakarta, 2008, h. 182.
60Harlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan, Citra Aditya Bakti , Bandung, 2008, h.22
61Ibid.
dalam suatu transaksi peralihan hal misalnya dalam akta jual beli dengan sengaja mencantumkan harga lebih rendah dari harga yang sesungguhnya.62
Sedangkan Nico membedakan tanggung jawab Notaris menjadi empat macam yaitu :
1. Tanggung jawab Notaris secara Perdata terhadap kebenaran materil terhadap akta yang dibuatnya ;
2. Tanggung jawab Notaris secara Pidana terhadap kebenaran materil dalam akta yang dibuatnya ;
3. Tanggung jawab Notaris berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris terhadap kebenaran materil dalam akta yang dibuatnya ;
4. Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan Kode Etik Notaris.63
Tanggung jawab Notaris secara Perdata terhadap kebenaran materil dalam akta yang dibuatnya. Wirjono Prodjodikor mengatakan bahwa pertanggung jawaban atas perbuatan seseorang biasanya praktis baru ada arti apabila orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh hukum dan sebagian besar perbuatan-perbuatan seperti ini merupakan suatu perbuatan yang didalam KUHPerdata dinamakan perbuatan melawan hukum.64
Perbuatan melawan hukum dalam arti luas apabila perbuatan tersebut : a) Melanggar hak orang lain
Hukum memberikan hak kepada setiap orang, hak yang dimaksudkan dalam hal ini adalah hak subjektif recht yang pada prinsipnya diberikan untuk melindungi kepentingannya. Berdasarkan yurisprudensi hak-hak __________________________
62 Raden Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan, cetakan kedua, Raja Grafindo Persada, Jakarta 1993, h. 229
63 Nico, Tanggung Jawab Notaris Selaku Pejabat Umum, Center for Documentation and Studies of Business Law (CDBL), Yogyakarta, 2003
64Ibid.
yang paling penting berkenaan dengan perbuatan melawan hukum adalah hak-hak pribadi seperti hak atas kebebasan, hak atas kehormatan dan nama baik dan hak-hak kekayaan.
b) Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku
Kewajiban hukum merupakan kewajiban yang diberikan berdasarkan hukum. Kewajiban ini mencakup yang tertulis maupun tidak tertulis, kewajiban hukum bukan hanya berbuat tapi juga tidak berbuat sesuatu berdasarkan hukum, apabila melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan tersebut bertentangan dengan apa yang diamanahkan oleh hukum maka itulah yang disebut dengan bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku.
c) Bertentangan dengan kesusilaan yang baik
Norma kesusilaan adalah norma yang berlaku sesuai dengan pergaulan hidup dalam masyarakat, karena pergaulan hidup dalam masyarakat bersifat statis maka tolok ukur kesusilaan juga tidak tetap (selalu mengalami perubahan). Hal-hal yang dahulu dianggap tidak layak saat ini dapat dianggap layak, begitu juga hal-hal yang dianggap tidak layak saat ini bisa saja nantinya dianggap sebagai sesuatu yang layak.
d) Bertentangan dengan kepatutan dalam memperhatikan kepentingan diri dan harta orang lain dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Setiap orang memiliki hak yang sama di mata hukum, oleh karena itu sudah sepatutnya saling menghargai dalam menikmati hak masing-masing dalam pergaulan hidup sehari-hari. Suatu perbuatan yang dilakukan
dengan mengabaikan kepentingan orang lain terlanggar maka dapat dikatakan telah bertentangan dengan kepatutan. Kepatutan merupakan hal yang sangat penting diperhatikan oleh Notaris dalam membuat atau memformulasikan suatu akta. Notaris harus menghindari membuat akta yang didalamnya lebih membela kepentingan salah satu pihak dengan melanggar kepentingan pihak lainnya. Notaris hanya sekedar bertanggung jawab secara formalitas terhadap suatu akta otentik yang dibuatnya, oleh karena itu Notaris wajib bersikap netral terhadap para pihak yang menghadap dihadapannya (client).
Tanggung jawab Notaris secara Pidana atas akta yang dibuatnya
Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris tidak mengatur mengenai ketentuan Pidana. Undang-Undang Jabatan Notaris hanya mengatus sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap Undang-Undang Jabatan Notaris. Sanksi terhadap akta yang dibuatnya menjadikan akta yang dibuat oleh Notaris turun derajatnya dari akta otentik atau menjadi akta dibawah tangan, sedangkan untuk Notaris diberikan sanksi mulai dari teguran hingga berujung pada pemberhentian dengan tidak hormat.
Perbuatan Pidana merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, apabila melakukan pelanggaran terhadap larangan tersebut maka akan di ikuti oleh sanksi yang berupa pidana tertentu. Dalam menjalankan jabatannya sebagai Notaris maka pidana yang dimaksudkan adalah pidana yang dilakukan oleh Notaris dalam kapasitasnya sebagai pejabat umum yang berwenang membuat
akta otentik yang diamanatkan oleh Undang-Undang Jabatan Notaris, bukan merupakan kapasitas pribadi atau individu dan Notaris tersebut sebgai subjek hukum.
Unsur –unsur perbuatan Pidana meliputi : a. Perbuatan (manusia)
Perbuatan merupakan tindakan dan kejadian yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut, Moeljatno berpendapat yang dimaksud dengan perbuatan manusia dalam unsure-unsur pidana adalah kelakuan plus kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan, lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa :
“ dalam hukum Pidana, kelakuan atau tingkah laku itu ada yang bersifat positif dan negatif. Di dalam hal kelakuan yang bersifat positif dan yang negatif. Di dalam hal kelakuan yang bersifat positf terdakwa berbuat sesuatu, sedangkan dalam hal yang bersifat negatif seseorang tidak berbuat sesuatu yang seharusnya, adapun yang dimaksud dengan kelakuan adalah sifat jasmani, sebab tidak berbuat sesuatu tidak dapat dimasukan dalam pengertian tersebut dan yang termasuk dalam pengertian kelakuan tersebut terbatas hanya pada sikap jasmani yang disadari saja.”65
b. Memenuhi rumusan Undang-Undang (syarat formil)
Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tidak pidana apabila telah memenuhi rumusan atau unsur-unsur yang terkandung dalam aturan tersebut.
Hal ini berasal dari adanya asas legalitas “ nullum delictum nulla poena sine pravia lege poenali”
c. Bersifat melawan hukum
Selain dua unsur di atas, untuk dapat dikategorikan sebagai suatu tindak _____________________________
65Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika, UII Press, Yogyakarta, 2009, h. 38-39.
pidana juga harus memenuhi unsur yang ketiga yaitu unsur melawan hukum, unsur ini merupakan unsur yang mutlak dari tindak Pidana.
Tanggung jawab Notaris berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris dan Undang-Undang Jabatan Notaris.
Berdasarkan pasal 91 Undang- Undang Jabatan Notaris yang merupakan pasal penutup dengan tegas mencabut dan menyatakan tidak berlakunya peraturan-peraturan yang terdahulu mengenai jabatan notaris, sehingga yang menjadi kompas dalam pelaksanaan jabatan Notaris saat ini adalah Undang-Undang Jabatan Notaris. Tanggung jawab Notaris dalam Undang-Undang-Undang-Undang jabatan Notaris secara eksplisit disebutkan dalam pasal 65 undang-Undang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwa Notaris (Notaris Pengganti, Notaris Pengganti Khusus dan Pejabat Sementara Notaris) bertanggung jawab atas setiap akta yang dibuatnya, meskipun protokol Notaris telah diserahkan atau dipindahkan kepada pihak Penyimpan protokol Notaris.
Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan Kode Etik Notaris
Terdapat korelasi yang sangat kuat antara Undang-Undang Jabatan Notaris dengan Kode Etik Profesi. Kode Etik Profesi mengatur Notaris secara internal dan Undang-Undang Jabatan Notaris secara eksternal. Menurut Muhammad,
sebagaimana dikutip Nico, dan Abdul Ghofur Anshori, Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya :
a. Notaris dituntut melakukan pembuatan akta dengan baik dan benar.
Artinya akta yang dibuat itu memenuhi kehendak hukum dan permintaan pihak-pihak yang berkepentingan karena jabatannya.
b. Notaris dituntut menghasilkan akta yang bermutu, artinya akta yang dibuatnya itu sesuai dengan aturan hukum dan kehendak pihak-pihak yang berkepentingan dalam arti yang sebenarnya, bukan mengada-ada. Notaris harus menjelaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan akan kebenaran isi dan prosedur akta yang dibuatnya itu.66
Berdampak positif, artinya siapapun akan mengakui akta notaris itu mempunyai kekuatan pembuktian sempurna.
Berdasarkan hal hal tersebut diatas hendaknya para pihak, wajib membuktikannya. Sejak diundangkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dibentuk lembaga Majelis Kehormatan Notaris. Tugas dan fungsi, syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian, struktur organisasi, tata kerja, dan anggaran Majelis Kehormatan Notaris diatur dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Majelis Kehormatan Notaris, Dalam melaksanakan Pembinaan, Menteri Hukum membentuk Majelis Kehormatan Notaris yang terdiri dari atas unsur Notaris, Pemerintah, dan ahli atau akademi. Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga perlindungan hukum, Majelis Kehormatan Notaris memiliki wewenang sebagaimana yang tercantum dalam pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris. Menyatakan apabila ada Notaris yang diduga terlibat masalah hukum terkait dengan akta yang dibuat oleh Notaris yang diduga terlibat masalah hukum terkait dengan akta yang dibuat oleh atau dihadapannya, maka penyidik, penuntut umum, maupun hakim ketika memanggil Notaris tersebut, harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari _______________________
66Ibid. h..49
Majelis Kehormatan Notaris. yaitu : untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris berwenang :
a. Mengambil fotocopi Minuta Akta dan/ atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris ; dan b. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan
akta atau protokol Notaris ysng berada dalam penyimpanan Notaris.
Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris tersebut dapat diketahui bahwa penyidik, penuntut umum maupun hakim hanya diperkenankan untuk mengambil :
1) Foto copi minuta akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris.
2) Penyidik, penuntut umum, maupun hakim, tidak diperkenankan atau tidak dibenarkan mengambil minuta akta dan/atau surat-surat asli yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris.
Pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum, maupun hakim untuk hadir dalam pemeriksaan suatu perkara perdata harus memerlukan persetujuan dari Majelis Kehormatan Notaris, apabila nanti ada Notaris yang diduga melakukan kesalahan atau pelanggaran dalam hal pembuatan akta. Dengan demikian akan lebih terjamin apabila segala tindakan pemanggilan, pemeriksaan dan penahanan itu dilakukan setelah ada izin dari lembaga Majelis Kehormatan Notaris yang memeriksanya terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya akan tercipta
kepastian hukum bagi masyarakat sesuai asas kepercayaan yang mendasari wewenang Notaris.
Kedudukan Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan suatu perlindungan hukum bagi Notaris terhadap akta-akta yang dibuatnya terkait pertanggung jawaban Notaris secara perdata merupakan suatu lembaga yang bersifat independen, karena dalam hal ini keberadaan Majelis Kehormatan Notaris tidak merupakan sub bagian dari pemerintah yang mengangkatnya. Majelis Kehormatan Notaris dalam menjalankan kewenangannya mengeluarkan suatu keputusan tidak dipengaruhi oleh pihak atau lembaga lainnya, sehingga dalam hal ini keputusan yang dihasilkan oleh Majelis Kehormatan Notaris ini tidak dapat diganggu gugat.
Berdasarkan hal-hal diatas maka dapat diketahui bahwa perlindungan hukum bagi Notaris terhadap akta-akta yang dibuatnya terkait pertanggung jawaban Notaris secara perdata ialah pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum dan hakim harus dilakukan dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut bahwa :
1. Kekuatan Surat dibawah tangan yang didaftarkan di kantor Notaris menurut hukum Perdata, telah dibuat oleh para pihak dan hadir di hadapan Notaris untuk mendaftarkan surat di bawah tangan tersebut ke dalam buku khusus yang disediakan oleh Notaris. Notaris dalam hal ini tidak mengetahui isi dari akta yang telah dibuat dan di tanda tangani oleh kedua belah pihak walaupun Notaris membubuhkan tanda tangan akta dibawah tangan tersebut, hanya dapat berguna sebagai permulaan pembuktian dengan tulisan (sesuai dengan pasal 1871 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
2. Surat dibawah tangan yang didaftarkan di kantor Notaris menjadi pilihan para pihak, pada dasarnya surat perjanjian tidak harus dibuat dihadapan Notaris, boleh dibuat asal tidak melanggar peraturan Undang-Undang yang ada dan kesusilaan. Hal yang menjadi pilihan para pihak karena biaya murah, gampang dilaksanakan dimanapun dapat dibuat perjanjian dan penandatangannya tanpa dihadapan Notaris.
3. Kewenangan dan pertanggung jawaban Notaris terhadap surat dibawah tangan yang didaftarkan di kantor Notaris, hanya sebatas mencatatkan saja dan memberi nomor register, artinya Notaris tidak bertanggung jawab terhadap isi, identitas para pihak dan tanggal dibuatnya akta dibawah tangan tersebut karena
menurut peraturan Undang-Undang yang ada, tidak ada mengatur secara khusus kewenangan tanggung jawab Notaris.
B. Saran
1. Disarankan kepada para pihak setiap surat perjanjian dibuat dibawah tangan yang didaftarkan di kantor Notaris, walaupun tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, sebaiknya tetap memperhatikan dan mengacu kepada syarat-syarat sahnya perjanjian menurut pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
2. Disarankan kepada para pihak setiap perjanjian yang dibuat secara dibawah tangan baik itu dibuat oleh para pihak dengan di daftarkan oleh Notaris sebaiknya tetap berpedoman kepada peraturan Undang-Undang yang berlaku dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesepakatan.
3. Disarankan kepada Notaris untuk menjelaskan kedudukan hukum surat dibawah tangan yang didaftarkan di kantor Notaris kepada para pihak yang berkepentingan untuk mendaftarkan surat dibawah tangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku - Buku
Adjie. Habib. 2008, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, Bandung., PT Refika Aditama
Adjie, Habib. 2013. Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, Bandung :PT.
Refika Aditama
Adjie, Habib. 2011. Hukum Notaris Indonesia. Bandung : PT. Refika Aditama Adjie, Habib. 2015. Penafsiran Tematik Hukum Notaris Indonesia. Bandung :PT.
Refika Aditama
Ali, Achmad dan Wiwie Heryani. 2015. Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata.
Jakarta : Prenadamedia Group
Andasasmita, Komar. 2007, Akta I, II, III, Notaris dan Contoh-contoh Akta, Bandung : Ikatan Notaris Indonesia, Sumur Bandung
Asshidiqie, Jimly dan Ali Safaat. 2006. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Jakarta : Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Bachtiar, Herlina Suyati, Contoh Akta Notaris dan Akta Dibawah Tangan Buku.IX, Mandar Maju, Bandung, 2008
Budiono, Herlien. 2015. Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bindang Kenotariatan Buku Ketiga. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Budiardjo Miriam. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Dewi, Santia dan R.M.Fjowas Diraja. 2011. Panduan Teori dan Praktik Notaris, Yogyakarta : Pustaka Yustisia
Efendi Jonaedi dan Johnny Ibrahim. 2016. Metode Penelitian Hukum Normatif &
Empiris. Depok : Prenadamedia Group
Effendi Lutfi, 2004. Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Malang : Bayumedia Pblishing
Fakhirjah, Efa Laela. 2007. Bukti Elektronik dalam Sistem Pembuktian Perdata.
Bandung : PT. Rafika Aditama
Fuady, Munir. 2005. Perbandingan Hukum Perdata. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Hadjon, Philipus M. 2005, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia ( Introduction to the Indonesian Administrative Law), Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Halim, Ridwan. 1988, Hukum Administrasi Negara Dalam Tanya Jawab, Jakarta : Ghalia Indonesia
Harris, Freddy dan Leny Helena. 2017. Notaris Indonesia. Jakarta : PT. Lintas Cetak Djaja
Harahap M. Yahya, 2005, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, Jakarta : Sinar Grafika H.R. Ridwan. 2006. Hukum Administrasi Negara.Jakarta : Grafindo Persada Khairandy Ridwan. 2003. Itikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak, Jakarta :
FH-UI
Koesmawati, Ira dan Yunirman Rijan. 2009. Ke Notaris. Jakarta : Raih Asa Sukses
Latumeten, Pieter E. 2011. Cacat Yuridis Akta Notaris Dalam Peristiwa Hukum Konkrit dan Implikasi Hukumnya, Jakarta : Tuma Press
Mahadi, 1989, Falsafah Sustu Pengantar, Bandung : PT Citra Aditya Bakti
Mertokusumo, Sudikno. 2006. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta : Liberty
Muhammad, Abdulkadir. 2011. Hukum Perdata Indonesia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,
M.Hadjon Philipus, Tentang Wewenang. Surabaya : Makalah Universitas Airlangga
Naja, H.R.Dacng. 2012. Teknik Pembuatan Akta. Yogyakarta : Pustaka Yustisia, Nasional, Departemen Pendidikan.2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka
Nico, 2003, Tanggung jawab Notaris Selaku Pejabat Umum, Yogyakarta : Center for Documentation and Studies of Business Law (CDBL)
Notodisoerjo, R.Soegondo. 1993. Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Pendidikan Nasional Departemen, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Rahardjo, Satjipto. 2006. Ilmu Hukum. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Rasjidi, Lili.1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Saputro, Dwi Anke (Penyadur), 2008, Jati Diri Notaris Indonesia, Dulu, Sekarang dan Di Masa Datang, Jakarta : PT Gramedia
Sembiring, M.U. 1997. Teknik Pembuatan Akta. Medan : Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Sumatera Utara
Soegondo, R. Notodisoerdjo, 2006, Hukum Notariat di Indonesia : suatu penjelasan, Jakarta, PT Raja Grapindo Persada
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. 2015. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Soekanto, Soerjono. 2014. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : UI Press Subekti. 2001. Pokok-Pokok Hukum Perdata, cet.29, Jakarta : PT. Inter Masa Subekti. 2014. Hukum Pejanjian, Jakarta : PT. Intermasa
Suhardi, Gunarto. 2002. Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi . Yogyakarta : Universitas Atmajaya
Sulhan, Irwansyah Lubis dan Anhar Syahnel. 2018. Buku Profesi Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (Panduan Praktis dan Mudah Taat Hukum).
Jakarta : Mitra Wacana media
Suharnoko, 2004, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus. Jakarta : Prenada Media
Sunggono, Bembeng. 2015. Metudologi Penelitian Hukum. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Suteki dan Galang Taufani. 2018. Metodologi Penelitian Hukum (Filsafat, Teori dan Praktik).Depok : Rajawali Pers, PT Raja Grafindo Persada
Syaukani, Imam dan A.Ahsin Thohari. 2015. Dasar-Dasar Politik Hukum, cet.10, .Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Tanya, Bernard L., Yoan N.Simanjuntak dan Markus Y.Hage. 2013. Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi. Yogyakarta : Genta Publishing
Tedjosaputro, Liliana, 2005, Etika Profesi dan Profesi Hukum, Semarang ; Aneka Ilmu
Thong, Tan Kie. 1994. Studi Notariat, Serba-Serbi Praktek Notariat. Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve
Tobing, G.H.S.Lumban. 1996. Peraturan Jabatan Notaris. Jakarta : Erlangga,
B. Undang-Undang
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( KUHPerdata) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana)
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan Notaris
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Aras Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah
Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia (INI), Perubahan Kode Etik Notaris Kongres Luar Biasa Ikatan Notaris Indonesia Banten, 29-30 Mei 2015
C. Jurnal
Syafirudin Ateng, Menuju Penyelenggaraan Pemerintahan Negara yang Bersih dan Bertanggung Jawab, Jurnal Pro Justisia Edisi IV, Universitas Parahyangan, Bandung 2002
D. Internet
Hukumonline.com, Perbedaan Legalisasi dan Waarmerking Dokumen,
http://www.hukumonline.com/..../perbedaan Legalisasi - dan - iwaam., diakses tanggal 28 Oktober 2018.