BAB II. GAMBARAN UMUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
B. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah
3. Peranan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah
a. PAK Sebagai Pendidikan Iman
Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga dapat dikatakan sebagai pendidikan iman, karena pendidikan agama katolik di sekolah mempunyai tugas khusus membentuk para siswa menjadi orang Kristen yang seutuhnya, merupakan bagian dari tobat sepanjang hidup sampai siswa menjadi apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya sehingga para siswa mampu berbagi kehidupan bersama Allah. Serta membantu orang beriman agar iman mereka semakin mendalam dan agar mereka makin terlibat dalam dinamika hidup menggereja dan
bermasyarakat, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok (Adisusanto, 2000:1). Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan lebih menyeluruh, dan lebih mengungkapkan keseluruhan sikap iman. Misalnya dalam Konstitusi Dogmatis
tentang Wahyu dan Iman Dei Verbum antara lain dikatakan demikian:
Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Roma 16 : 26; lih. Roma 1 : 5; Kor 10 : 5 – 6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkan kepada Allah (DV, art. 5).
Iman merupakan perjumpaan rahmat Allah yang tak terselami dan misteri kebebasan manusia. Di satu sisi kita akui bahwa dalam kenyataan iman terdapat tindakan atau keterlibatan manusia dalam suasana kebebasan. Di sisi lain, pertumbuhan dan perkembangan iman merupakan anugerah cuma-cuma Allah kepada manusia. Iman merupakan rahmat Allah yang penuh misteri. Iman juga merupakan tanggapan manusia terhadap sabda Allah. Pertama-tama perlu diingat bahwa sabda Allah bukanlah melulu suatu pengajaran, tetapi terutama merupakan suatu fakta keselamatan yang memiliki sifat hubungan antar pribadi. Inilah yang merupakan aspek esensial pewahyuan diri Allah dalam sejarah umat manusia. Menghadapi kenyataan keselamatan semacam ini manusia tidak dapat bersikap hanya diam saja dan hanya menutup diri, tetapi harus memberi tanggapan dengan memutuskan sikap yang tepat dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.
Dalam hal ini, Pendidikan Agama Katolik di SMA tidak sekedar pendidikan yang mengajarkan soal perkembangan intelektual saja tetapi lebih
mengarahkan siswa kepada hidup beriman dan berkepribadian yang utuh. Terutama menyangkut hubungan dirinya dengan Allah. Oleh karena pendidikan iman yang terjadi hendaknya menolong para siswa untuk bertumbuh dalam kesadaran akan dirinya, kesadaran akan lingkungannya, kesadaran akan umat beriman. Kesadaran akan dirinya siswa diajak untuk memahami dirinya melalui sikap dan perilaku hidupnya, dengan ini siswa juga belajar untuk memahami lingkungan dimana mereka hidup baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat dan secara sendirinya mereka juga menyadari akan hubungannya dengan Tuhan. Dalam usaha tersebut, akan ada pergumulan dan pencarian peserta didik dibentuk dalam sikap-sikap dan nilai-nilai Kristiani (Setyakarjana, 1997:10).
Maka dalam hal ini siswa diharapkan sungguh-sungguh beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi pengerti luhur yang tercermin dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya secara benar serta menghormati agama orang lain. Orang yang beriman tidak hidup dalam kepasifan, tetapi aktif dan penuh semangat dalam membantu orang lain dalam menemukan Tuhan dan pribadinya.
b. PAK sebagai pembinaan Sikap
Dalam rangka mengembangkan kepribadian yang utuh maka perlu adanya pembentukan sikap yang baik dan utuh yang akan tercermin pada tindakan dan perbuatan para siswa. Pada kenyataannya pengembangan kepribadian dan pembentukan sikap yang baik dan utuh tidak mudah dan membutuhkan proses
yang tidak sekali jadi. Banyak yang perlu dipertimbangkan, secara khusus segi kemampuan-kemampuan atau sikap-sikap batin. Apalagi yang berhubungan dengan kehidupan religius, yaitu menyangkut masalah-masalah kehidupan mendasar mengenai arti, makna dan tujuan hidup manusia serta keberadaannya dalam hubungannya dengan yang ilahi, dirinya sendiri, sesama dan dengan alam semesta (Kristianto,1999:22). Segi religius yang dimaksud tidak hanya menyangkut kemampuan untuk menghafal atau tahu ajaran agama-agama, namun lebih kepada penghayatan iman yang nyata dalam hidup sehari-hari sebagai pergulatan hidupnya.
Beriman adalah relasi seseorang dengan Allah, namun tidak lepas dari peran serta orang lain yang selalu hidup berdampingan. Dalam rangka pembentukan pribadi yang utuh dan kuat bagi anak-anak SMA, Pendidikan Agama Katolik di SMA hendaknya yang memungkinkan terjadinya proses pergumulan dalam diri siswa, sehingga membantu siswa untuk membangun sikap-sikap dasar dalam hidup berdasarkan penghayatan imannya dan mengembangkan manusia dari dalam dengan membebaskan dari suasana yang mungkin menghalang-halanginya menjadi manusia yang sungguh-sungguh utuh. Dan dalam hal ini pendidikan agama umtuk SMA harus sadar dan bertolak pada pendidikannya yang mengarah kepada pertumbuhan pribadi seutuhnya (Sewaka, 1991:21-22).
Beriman itu selalu terjadi dalam konteks tradisi keagamaan tertentu, maka belajar beriman berarti menjadikan tradisi keagamaan itu miliknya, sekaligus terbuka untuk menemukan pengalaman-pengalaman iman dalam kehidupan
pribadinya, tetapi sungguh-sungguh membantu orang muda untuk memilih imannya sendiri. Di sinilah sebetulnya, mengajar agama berarti mengantar orang untuk masuk dalam komunitas beriman dalam segala macam segi kehidupan. Dalam rangka iman Kristiani, mengajar beriman berarti masuk dalam pergulatan iman Gereja dalam segala seginya, baik ketika Gereja bersama-sama mendengarkan sabda, merayakan, mewartakan, serta mewujudkan dalam hidup bersama dan di tengah masyarakat yang plural (Purwatma, 2005:3). Indikasi orang Kristiani terletak pada motivasi dan semangat hidup yang didasarkan pada sikap saling mengasihi satu sama lain. Sikap dasar inilah yang menjadi pola pergaulan dengan orang lain. Secara eksplisit sikap dasar ini telah dinyatakan oleh Yesus sendiri “sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Semangat saling mengasihi inilah yang perlu diarahkan kepada semua orang, termasuk orang yang memusuhi kita. Tentu saja untuk melakukan itu tidaklah mudah, bahkan tidak hanya terjadi dalam proses pembelajaran agama di kelas saja, pengajaran itu terjadi hendaknya dalam konteks hidup siswa sendiri melalui kenyataan sehari-harinya, dalam keluarga, masyarakat dan komunitas, namun demikian bantuan guru agama merupakan hal yang sangat penting dalam proses hidup beriman serta dalam perkembangan kepribadian siswa sehingga siswa mampu bertindak dan berbuat sesuai dengan ajaran imannya, selain itu siswa diharapkan mampu berperilaku dan berkembang dalam kepribadiaan sesuai dengan ajaran imannya (Komkat, 2007:5).