PERANAN AKTA PERALIHAN HAK DENGAN GANTI RUGI OLEH NOTARIS DALAM PROSES PENDAFTARAN HAKNYA
C. Peranan Akta Peralihan Hak Dengan Ganti Rugi Dalam Proses Pendaftaran Haknya
Peralihan hak atas tanah adalah perubahan status kepemilikan, penguasaaan, peruntukan atas dasar jual beli, hibah, tukar menukar, pemasukan kedalam perseroan, pemisahan dan pembagian atau karena warisan.
Seseorang yang telah menjadi pemegang hak atas tanah yang sudah bersertipikat tidak dapat memberikan haknya tersebut kepada orang lain dengan begitu saja karena hak itu merupakan kewenangannya namun yang dapat dilakukannya adalah mengalihkan atau melepaskan hak atas tanah yang dimilikinya dengan Akta Pelepasan Hak Ganti Rugi yang dibuat oleh dan di hadapan Notaris ataupun Surat Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi yang dilegalisasi oleh Notaris ataupun Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi yang dibuat oleh yang bersangkutan di hadapan Kepala Desa dan Camat, dan juga melalui Surat Pelepasan hak yang dibuat oleh dan di hadapan Kepala Kantor Pertanahan sesuai ketentuan Pasal 131 ayat (3) PMMA BBN No. 3 Tahun 1997
Dengan melepaskan haknya itu, tanah yang terlibat menjadi tanah Negara, yaitu dikuasai langsung oleh Negara. Langsung dikuasai artinya tidak ada pihak lain selain Negara yang berhak atas tanah tersebut.41 Pelepasan hak atau penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar musyawarah.
41 A.P. Parlindungan, Konversi Hak-Hak Atas Tanah Menurut Sistem UUPA, Mandar Maju, Bandung, 1997, hal. 135
Bagi sebagian masyarakat yang telah mengetahui teknis dan tata cara peralihan dan pelepasan hak atas tanah tentu tidak mau melakukan transaksi dengan mudah, apalagi jika tidak sesuai prosedur karena dapat menimbulkan konflik di kemudian hari. Untuk dapat melaksanakan suatu perbuatan hukum peralihan atau pelepasan hak atas tanah maka harus dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang untuk melaksanakan peralihan atau pelepasan hak atas tanah tersebut guna menjamin kepastian hukum tentang peralihan atau pelepasan hak atas tanah tersebut.
Kenyataan ini dapat kita lihat dengan adaya surat-surat tanah yang dibuat oleh Camat maupun Lurah. Surat-surat yang dibuat camat ataupun Lurah adalah untuk menciptakan bukti tertulis dari tanah-tanah yang mereka kuasai, tanah-tanah tersebut merupakan tanah-tanah yang belum dikonversi atau tanah-taah yang dikuasai oleh Negara yang diduduki oleh rakyat, sehingga tanah tersebut merupakan hak seseorang.
Pada umumnya Camat sering mengeluarkan “SK Camat” (Surat Keterangan Camat) yang dibuat dengan berbagai judul seperti Surat Pelepasan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi dan lain sebagainya, surat ini dibuat oleh Camat sebagai alas hak ataupun bukti peralihan hak atas tanah sehubungan dengan adanya jual beli tanah.
Sedangkan tanah yang tidak mempunyai surat sama sekali karena hilang, musnah ataupun karena tidak punya sama sekali Camat membuatkan “Surat Keterangan Tanah”. Surat-surat kepemilikan ini dapat dijadikan alas hak untuk didaftarkan pada Kantor Pertanahan untuk diterbitkan sertipikatnya.
Akan tetapi saat ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah telah ditegaskan bahwa kecamatan adalah
wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten atau kota. Camat dalam kedudukannya sebagai Kepala Pemerintahan adalah merupakan pemerintah kecamatan merangkap sebagai administrator kecamatan.42 Hal ini sebagai pelaksanaan dan UU otonomi daerah(UU no.22/1999 dan 32/2004) kedudukan camat hanya sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bukan kepala wilayah pemerintahan atas dasar dekonsentrasi.
Secara umum dahulu suatu wilayah kecamatan mempunyai 4 (empat) pengertian, yaitu :
a. Wilayah pemerintahan dan administrasi umum;
b. Wilayah jabatan (daerah administratif);
c. Aparatur atau perangkat pemerintahan/administrasi;
Oleh karena itu camat selain kepala pemerintahan kecamatan ditunjuk juga sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara (PPATS). Segala tugas dan kewenangan yang dimiliki Camat sebagai perangkat daerah dan kepala wilayah kecamatan tertentu yang menerima pelimpahan sebahagian tugas dan kewenangan tertentu yang menerima pelimpahan sebahagian tugas dan kewenanga dari Bupati atau Walikota merupakan tugas-tugas dalam bidang hukum administrasi Negara.
Camat dalam hal ini berperan sebagai pejabat pemerintah berdasarkan jabatannya dapat mengetahui tentang kepemilikan tanah dalam wilayah pemerintahannya maka Camat dapat menjadi saksi atas dasar jabatannya untuk menguatkan kebenaran isi surat tersebut apabila dikemudian hari terjadi perselisihan sampai ke Pengadilan
42 S. Prajudi Atmosudirjo, Hukum Admistrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994, hal. 17
karena dalam surat itu sendiri Camat mengetahui tentang keberadaan tanah yang diperjual belikan tersebut.43
Keadaan yang demikian ini bagi masyarakat menambahkan keyakinan bahwa dengan diketahui oleh Camat maka jual beli yang mereka lakukan lebih sah lagi dalam arti bahwa Camat telah mengetahui bahwa kepemilikan tanah di wilayah kerjanya telah berganti antara penjual sebagai pemilik lama dengan pembeli sebagai pemilik yang baru. Di lain pihak Akta yang dibuat oleh Notaris, yang memberikan kepasian hukum bagi para pihak yang membuatnya, karena Undang-undang yang memberikan wewenang kepada Notaris untuk membuat akta otentik yang fungsinya sebagai alat bukti di Pengadilan jika dikemudian hari terjadi sengketa diantara para pihak yang membuat akta itu.
Akta yang dibuat oleh Notaris atau di hadapan Notaris merupakan suatu alat bukti, sehingga dalam membuat suatu akta seseorang Notaris harus memperhatikan norma-norma selain kode etik dan ketentuan perundang-undangan lainnya.44 Berdasarkan ketentuan Pasal 1867 KUH Perdata, maka akta dibuat sebagai tanda bukti yang berfungsi untuk memastikan suatu peristiwa hukum dengan tujuan menghindari sengketa. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembuatan akta harus sedemikian rupa sehingga apa yang diinginkan untuk dibuktikan itu dapat diketahui dengan mudah dari akta yang dibuat.
43 Muchtar Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak Untuk Tanah, Penerbit Republika, Jakarta, 2008
44 M.U Sembiring, Teknik Pembuatan Akta, Program Spesialis Notaris, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1997, Hal. 3
Dalam kewenangan utama Notaris adalah untuk membuat akta otentik, maka otensitas dari akta Notaris tersebut bersumber dari Pasal 1 UUJN. Sepanjang mengenai wewenang yang harus dipunyai oleh pejabat umum untuk membuat akta otentik, seorang Notaris hanya boleh melakukan atau menjalankan jabatannya didalam seluruh daerah yang ditentukan baginya dan hanya didalam daerah hukum itu ia berwenang. Untuk itu, wewenang Notaris meliputi 4 (empat) hal, yaitu :
1. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuat itu;
Seperti yang telah dikemukakan, tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu yaitu yang ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang-orang, untuk kepentingan siapa akta itu dibuat;
Notaris tidak berwenang untuk membuat akta untuk kepentingan setiap orang.
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, dimana akta itu dibuat;
Bagi setiap Notaris ditentukan daerah hukumnya (daerah jabatannnya) dan hanya di dalam daerah yang ditentukan baginya itu ia berwenang untuk membuat akta otentik. 45Akta yang dibuatnya di luar daerah jabatannya adalah tidak sah.
4. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta.
45 Chairunnisa Said, Profesi Notaris sebagai Pejabat Umum di Indonesia, Mitra Ilmu, Surabaya, 2012, hal. 39
Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti atau dipecat dari jabatannya, demikian juga Notaris tidak boleh membuat akta sebelum ia memangku jabatannya (sebelum diambil sumpahnya).46
Apabila salah satu dari persyaratan di atas tidak dipenuhi, maka akta yang dibuatnya menjadi tidak otentik dan hanya mempunyai kekuatan seperti akta yang dibuat di bawah tangan, apabila akta ini ditandatangani oleh para penghadap.
Demikian juga halnya, apabila oleh undang-undang disebutkan untuk suatu perbuatan atau perjanjian atau ketetapan diharuskan dengan adanya akta otentik, dan jika salah satu dari persyaratan di atas tidak dipenuhi, maka akta untuk perbuatan atau perjanjian atau ketetapan itu menjadi tidak sah.
Tindakan Notaris tersebut bukanlah bertentangan dengan apa yang telah digariskan dalam peraturan tersebut namun hal ini harus disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi Notaris saat itu, tentunya dengan segala bukti-bukti yang ada di hadapannya.
Menurut Pasal 7 UUJN, Notaris tidak dibolehkan untuk menolak untuk memberikan bantuannya, bila hal tersebut diminta kepadanya kecuali terdapat alasan yang mendasar.47 Bila Notaris berpendapat bahwa terdapat alasan yang mendasar untuk menolak maka hal tersebut diberitahukan secara tertulis kepada yang meminta bantuannya itu atau pihak penghadap. Namun apabila sipenghadap tetap
46 Tan Thong Kie, Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000, hal. 46
47 Bustami Chairani, Tesis Aspek-aspek Hukum Yang terkait Dalam Akta Perikatan Jual Beli Yang Dibuat Notaris Dalam Kota Medan, Medan, 2002, hal.90
menghendaki bantuan dari Notaris tersebut, pihak penghadap dapat mengajukan tuntutannya kepada Hakim Perdata, dengan menyampaikan surat dari Notaris tersebut yang telah diserahkan kepada yang bersangkutan.
Ada kalanya Notaris dapat menolak pembuatan akta dalam hal: 48
1. Apabila diminta kepada Notaris dibuatkan Berita Acara untuk keperluan atau maksud reklame.
2. Apabila Notaris mengetahui bahwa akta yang dikehendaki oleh para pihak itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kenyataan yang sebenarnya.
Begitu juga dengan tanggung jawab Notaris terhadap pembuatan akta Pelepasan Hak dengan Ganti Rugi, dimana akta tersebut dapat dijadikan sebagai bukti untuk memastikan suatu peristiwa hukum dengan tujuan untuk menghindarkan suatu sengketa di kemudian hari, maka pembuatan akta harus dibuat sedemikian rupa sehingga apa-apa yang ingin dibuktikan itu dapat diketahui dengan mudah dari akta yang dibuat.
Sedangkan terhadap akta Pelepasan Hak dengan Ganti Rugi yang dibuat oleh Camat ataupun kedua belah pihak berdasarkan akta di bawah tangan, secara hukum Notaris tidak bertanggung jawab terhadap akta tersebut karena yang membuat perjanjian adalah para pihak itu sendiri atau di hadapan Camat dan tidak dihadapan Notaris namun secara moral ada tanggung jawab Notaris terhadap akta tersebut, apabila akta di bawah tangan tersebut hendak dilegalisasi atau di warmerking.
48 Ibid, hal.91
Sebelum membuat akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi seseorang Notaris haruslah memeriksa keabsahan dan kelengkapan alas hak maupun surat-surat yang berhubungan dengan pembukitian kepemilikan tanah tersebut sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai syarat unuk membuat suatu akta.49 Mengenai kebenaran isi dari surat-surat yang diperiksa Notaris tidak dapat mengujinya secara materiil dengan eksistensi keberadaaan tanah yang bersangkutan, dengan kata lain Notaris tidak pergi ke tempat dimana letak tanah itu berada ataupun untuk melihat batas-batas tanah sebagaimana yang dimaksudkan dalam surat-surat tersebut. Notaris cukup melihat bukti-bukti yang diberikan kepadanya berdasarkan surat-surat tersebut.50
Untuk menghindari bahwa atas tanah yang belum bersertipikat tersebut memang benar kepunyaan penjual dan tidak dalam keadaan sengketa maka sebelum akta Pelepasan Hak dengan Ganti Rugi dibuat untuk ditandatangani para pihak maka Notaris selalu meminta dibuatkan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa (biasa juga disebut SS) yang diterbitkan oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat bersangkutan di mana tanah itu berada, surat ini isinya menerangkan bahwa di atas tanah yang akan dijual tersebut tidak bersengketa dengan pihak manapun juga.51
Mengenai berlakunya Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa dapat dijelaskan bahwa pengeluaran atau penerbitan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa atas tanah tidak ada dasar hukumnya, surat tersebut bersifat keterangan
49 Hasil wawancara dengan Naomi Febri Estomisi, Notaris Deli Serdang, pada tanggal 21 Juni 2016
50 ibid
51 ibid
mengenai keadaan fisik tanah di lapangan yang diketahui oleh Lurah maupun Camat, namun demikian surat ini juga sering menjadi buki kepemilikan tambahan oleh pemilik Tanah.
Kegunaan dari Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa antara lain : a. Untuk menunjukkan itikad baik bahwa benar objek hak atas tanah yang
hendak djual tidak dalam keadaan sengketa
b. Itikad baik dari pembeli terhadap penjual bahwa pembeli percaya atau membenarkan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa tesebut diterbitkan oleh Lurah dan diketahui oleh Camat merupakan suatu kebenaran terhadap keadaan tanah yang hendak dijual
c. Melindungi Notaris dalam menjalankan tugasnya menjaga kebenaran akan bukti-bukti yang diperlukan dalam perjanjian peralihan hak atas tanah tersebut.52
Pada saat para pihak datang menghadap kepada Notaris hendaklah memenuhi syarat-syarat yang diperlukan antara lain:
a. Tanda Pengenal (KTP) suami/isteri atau identitas para pihak
b. Surat Kuasa (bagi mereka yang dikuasakan penjual dengan akta Notaris ataupun yang dilegalisasi dan bagi pembeli diperbolekan dengan kuasa lisan) c. Asli Tanda bukti hak atas tanah (alas hak atas tanah)
d. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB) Tahun berjalan.53
52 ibid
Pada umumnya masyarakat (pembeli) yang membuat akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi di Kantor Notaris tidak melanjutkan untuk melakukan pendaftaran hak (membuat sertifikat), kecuali bagi mereka yang mempunyai kepentingan tertentu diantaranya untuk meminjam uang pada bank untuk dijadikan agunan yang melajutkan pendataran haknya setelah melakukan pelepasan hak tersebut dengan bantuan Notaris.54
Peranan Akta Peralihan Hak Dengan Ganti Rugi dalam proses pendaftaran haknya adalah sebagai alas hak dan bukti permulaan pemilikan tanah atau bukti perolehan tanah sebagai kelengkapan mengajukan permohonan untuk pendaftaran (pensertipikatan) tanahnya. Hanya saja, Akta Peralihan Ganti Rugi selain sebagai alas hak, juga berperan sebagai alat bukti yang membuktikan pemilikan seseorang atas tanah yang berasal dari peralihan hak. Akta PGHR merupakan Akta Otentik yang dibuat oleh Pejabat Umum yang berwenang untuk itu berdasarkan undang-undang dengan memastikan tanda tanga para pihak, tempat dan waktu pembuktian.
Jika dibandingkan dengan Surat Keterangan Camat umumnya dibuat atas dasar Surat Pernyataan yang bersangkutan yang diketahui Kepala Desa/Lurah, dan atas pernyataan tersebutlah dibuat Surat Keterangan Camat, dalam arti pembuatannya tidak ditanda tangani para pihak di hadapan Camat, sehingga dapat dikatakan Akta PHGR lebih kuat dari sudut pembuktian dari Surat Keterangan Camat.
53 ibid
54 ibid
BAB III
PROSEDUR PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH DENGAN DASAR