• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Sistem Peradilan Pidana dalam Menanggulangi

BAB II FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK MENGGUNAKAN

B. Kebijakan Penal (Penal Policy) Terhadap Anak yang

1. Peranan Sistem Peradilan Pidana dalam Menanggulangi

Penegakan hukum (law enforcement) telah menjadi ungkapan sehari-hari dikalangan masyarakat, pejabat, pengamat, mahasiswa, pelaku, dan anggota masyarakat biasa. Demikian pula dengan kalangan pers, sangat dekat dengan ungkapan ini. Penegakan hukum adalah merupakan tugas dari aparat penegak hukum yang tergabung dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system). Menurut

151

M. Hamdan, op. cit, hlm.23.

152

Purpura153 sistem peradilan pidana (criminal justice system) merupakan suatu sistem yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.

Sistem peradilan pidana diartikan sebagai sebagai suatu proses yang bekerja dalam beberapa lembaga penegak hukum. Sistem peradilan pidana memiliki komponen-komponen yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga peradilan yang diharapkan dapat bekerja secara integratif sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dalam mekanisme peradilan pidana.154 Tujuan sistem peradilan pidana adalah untuk melindungi dan menjaga ketertiban masyarakat, mengendalikan kejahatan, melakukan penangkapan dan melakukan penahanan terhadap pelaku kejahatan.

Kegiatan SPP adalah meliputi kegiatan yang bertahap dimulai dari penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan dan pelaksanaan putusan hakim yang dilakukan oleh Lembaga pemasyarakatan. Proses yang berjalan berurutan itu menuju tujuan yang bersama yang dikehendaki. Keseluruhan proses itu bekerja dalam satu sistem, sehingga antara masing-masing lembaga sebagai sub sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

153

Philip P. Purpura, Criminal Justice an Introduction, (Boston: Butterworth-Heinemann, 1997), hlm.83.

154

M. Faal, Penyaringan Perkara Pidana oleh Polisi (Diskresi Kepolisian), (Jakarta: Pradnya Paramita, 1991), hlm: 44.

a. Tahap Pemeriksaan sebelum Persidangan

Sebelum suatu perkara dilimpahkan dan diperiksa pada proses peradilan (pra adjukasi) maka diperlukan suatu tahap pemberkasan. Di sinilah tugas kepolisian dan bekerjasama dengan pihak kejaksaan. Kepolisian bertugas untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap anak yang tertangkap memakai narkoba sebagaimana diatur dalam Pasal 4-12 KUHAP. Kejaksaan mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penuntutan sesuai dengan Pasal 13-15 KUHAP.

Di dalam organisasi kepolisian ada 2 macam tugas dan tanggung jawab Kepolisian yaitu155:

1. Polisi administratif, Polisi keamanan atau Polisi jalanan (lalu lintas) yang disebut juga service public. Tugas umum Polisi ini adalah memberikan pelayan umum, bantuan atau pertolongan kepada masyarakat, menegakkan hukum yang bersifat mengatur baik dari pusat maupun di daerah dan menjaga ketertiban umum serta cakupannya luas, tanpa batas. Tugas Polisi ini sering juga disebut dengan tugas polisi secara preventif.

2. Polisi Peradilan, Polisi Rahasia, atau reserse (Polisi Yudisial), tugas umumnya adalah menegakkan hukum pidana, mencari pelaku, mengumpulkan bukti-bukti dan nantinya proses akan berjalan di pengadilan. Tugas polisi ini sering disebut sebagai tugas yang bersifat refresif. Tugas polisi ini diarahkan untuk menegakkan hukum pidana.

155

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tugas Kepolisian yang secara umum bila dikaitkan dengan bahasa Kepolisian sekarang ialah tugas-tugas pengawasan atau preventif dan tugas-tugas penyidikan, penindakan atau refresif. Secara keseluruhan pada hakikatnya tugas-tugas itu merupakan kontrol oleh Polisi terhadap masyarakat.

Politik kriminal (criminal politic) yang selama ini dilakukan pihak polisi di Kota Medan adalah dengan mengadakan pemberkasan perkara kejahatan narkoba melalui proses penyelidikan dan penyidikan serta meneruskannya kepihak kejaksaan, melalui BAP yang dikirimkan pihak kepolisian kepada pihak kejaksaan. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga tindak pidana, supaya dapat ditentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. Sedangkan penyidikan serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut dapat membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.156

Berdasarkan hasil data Kepolisian bahwa ada sekitar 578 anak yang memakai narkoba yang berhasil ditangkap oleh pihak Poltabes Medan dalam kurun waktu 2004-2007.157 Kondisi ini menggambarkan bahwa begitu banyak anak yang memakai narkoba, hal ini tidak terlepas dari tanggung jawab semua pihak, sebab anak

156

Lihat Pasal 1 butir 5 dan butir 2 KUHAP.

157

adalah masa depan bangsa. Menurut keterangan dari pihak kepolisian kota Medan,158 terhadap anak tetap dilakukan penahanan, walaupun pada dasarnya masih dalam kategori anak. Fakta ini sesungguhnya berbeda dengan apa yang diatur dalam undang-undang dimana penahan pada anak prinsipnya merupakan langkah yang bersifat esensial seperti yang dirumuskan dalam Pasal 45 (1) UU No. 3 tahun 1997 yaitu: penahanan dilakukan setelah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan kepentingan si anak dan atau kepentingan masyarakat.

Menurut informan dari Poltabes Medan bahwa hampir semua anak yang memakai narkoba yang berhasil ditangkap dikenakan penahanan hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera (deterrence effect) pada anak yang memakai narkoba agar jangan sampai mengulangi kembali perbuatannya.159 Dalam proses pemeriksaan terhadap anak yang memakai narkoba sedapat mungkin pihak Poltabes Medan selalu berusaha untuk langsung menghubungi Bapas agar dapat melakukan pendampingan terhadap anak, tetapi adakalanya pihak Bapas tidak langsung bisa segera dihubungi karena masalah waktu.

Pada saat dilakukan pendampingan maka pihak Bapas akan melakukan litmas (penelitian masyarakat) yaitu tentang apa latar belakang sehingga anak memakai narkoba, bagaimana kondisi keluarga, lingkungan, tempat tinggal si anak. Hasil laporan dari Bapas ini yang akan diserahkan oleh pihak Bapas kepada pihak Kepolisian dan yang akan menjadi pertimbangan bagi pihak Kepolisian. Hasil litmas

158

Wawancara dengan Brigadir Rismanto. P yang merupakan penyidik di satuan Narkoba Poltabes Medan, tanggal 4 Juli 2008.

159

akan dilampirkan dalam berkas pemeriksaan Polisi dan akan diserakan kepada Jaksa dan hal ini yang akan menjadi pertimbangan bagi jaksa untuk melakukan penuntutan. Di instansi Kepolisian ada dikenal istilah diskresi160 kepolisian yaitu kewenangan yang dimiliki oleh kepolisian untuk menyaring suatu perkara, berdasarkan wewenang yang ada padanya polisi dapat menilai dan menentukan suatu peristiwa sebagai suatu tindak pidana atau bukan. Jika peristiwa itu merupakan peristiwa pidana maka Kepolisian melakukan penyidikan. Kewenangan yang dimiliki oleh polisi tersebut tidak dapat diartikan bahwa polisi boleh menggunakan hak atau wewenangnya didasarkan kriteria mau tau tidak mau, wewenang kepolisian atau police discretion lebih ditekankan pada kewajiban menggunakan wewenangnya, disinilah sangat dituntut kemampuan intelektual dan pengabdian dari Polisi sebagai aparat penegak hukum.161

Dalam hal ini Kepolisian memiliki kewenangan diskresioner untuk melakukan diversi yang bertujuan menempatkan anak yang berkonflik dengan hukum agar

160

Diskresi yang dikeluarkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto agar pengusutan anak-anak korban narkoba tidak diperlakukan seperti tersangka disambut positif Jaksa Agung Hendarman Supandji. Dia menegaskan, selaku penyidik, Polisi memang memiliki kewenangan diskresi yang bisa menjadi alasan pemaaf dalam penanganan kasus pidana. Pada tanggal 11 November sebuah terobosan hukum di bidang pemberantasan narkoba lahir di Gedung Graha Pena Jawa Pos, Surabaya. Penandatanganan MoU kerja sama antara Grup Jawa Pos dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Sutanto menginstruksikan agar seluruh jajaran kepolisian tidak serta merta menjadikan anak di bawah umur sebagai tersangka narkoba. "Saat ini, saya membuat diskresi bahwa para pemakai narkoba, teruta2007ma anak-anak, jangan diperlakukan seperti tersangka. Mereka lebih layak disebut korban," kata Sutanto yang juga kepala BNN tersebut kala itu.

161

ditempatkan diluar sistem peradilan pidana. Adapun yang menjadi tujuan diversi adalah:162

1. untuk menghindari anak dari penahanan.

2. untuk menghindari cap/ label anak sebagai penjahat.

3. untuk mencegah pengulangan tindak pidana yang dilakukan oleh anak. 4. agar anak lebih bertanggung jawab akan perbuatan yang dilakukannya. 5. menghindari anak mengikuti proses peradilan

6. menjauhkan anak dari pengaruh dan implikasi negatif dari proses peradilan. Bahwa setelah dilakukannya seleksi ditingkat Kepolisian, maka sebagian kasus anak dipandang perlu untuk dilanjutkan ketingkat penuntutan. Terhadap anak-anak yang kasusnya akan dilanjutkan ketingkat penuntutan memiliki kecedrungan untuk dikenakan penahanan. Situasi ini dikarenakan beberapa hal yaitu:163

a. Kasus anak yang diputuskan untuk dilanjutkan merupakan kasus yang sangat serius dan diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih.

b. Mereka yang kasusnya dilanjutkan adalah mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yang jelas dan tidak dengan mudah dapat dihadirkan dipersidangan.

Berdasarkan keterangan informan dari pihak Poltabes Medan bahwa kepolisian memang memiliki kewenangan untuk melakukan diversi tapi untuk kasus anak yang memakai narkoba belum pernah dilakukan diversi. Diversi bisa saja dilakukan mengingat anak yang memakai narkoba selain sebagai pelaku sebenarnya

162

http//:www.childrencenter.com, telegram Kabareskrim POLRI No.Pol.:TR/1124/xi/2006 tgl 16 Nopember 2006.

163

adalah merupakan korban. Tetapi melakukan diversi haruslah sangat hati-hati, selain itu untuk melakukan diversi haruslah ada payung hukum yang jelas.164

Untuk mendorong dilakukannya diversi pada tingkat penyidikan oleh Kepolisian diperlukan langkah sebagai berikut:165

1) Peningkatan Polisi tentang ekses-ekses negatif dari Sistem Peradilan Pidana Anak serta manfaat pendekatan non penal terhadap kenakalan anak. Dengan demikian ada keyakinan pada penyidik bahwa prosedur hukum bukanlah satu-satunya cara penyelesaian kasus anak.

2) Diperlukan adanya pedoman tentang prosedur penangkapan maupun penahanan terhadap tersangka anak yang beriorentasi pada UU Pengadilan Anak, UU Perlindungan Anak, maupun instrumen-instrumen internasional lainnya.

3) Diperlukan adanya pedoman bagi penyidik yang berisi kriteria maupun prosedur dalam menggukan kewenagna diskresionernya untuk melakukan diversi.

4) Manajemen Kepolisian perlu mengembangkan nilai yang memandang penggunaan kewenangan diskresioner yang tepat sebagai langkah positif daripada langkah diminta pertanggung jawaban. Dengan kata lain diversi dipandang sebagai kewajaran bukan sebagai pengecualian.

5) Diperlukan upaya untuk menjalin kerjasama, baik instansi pemerintah terkait dengan LSM sebagai upaya kepolisian untuk melakukan diversi. Dalam hal ini

164

Ibid

165

diperlukan promosi dan dikembangkan model restorative justice (konsep keadilan pemulihan) sebagai solusi.

Kemungkinan untuk mendorong diversi pada tingkat penuntutan masih dihadapkan pada kendala tidak adanya ketentuan hukum yang dapat digunakan. Kecuali apabila dikembangkan alasan untuk penghentian penuntutan, yang selama ini semata-mata dimungkinkan karena alasan teknis yuridis. Diversi pada tingkat pengadilan,166 pada dasarnya adalah terbatas pada tindakan pengadilan untuk tidak menjatuhkan pidana penjara atau kurungan. Pengadilan tidak dapat dengan pertimbangan tertentu untuk menghentikan perkara pidana dan mengeluarkan kasus tertentu anak dari SPP anak. Karena itu yang dapat dilakukan pengadilan bukanlah diversi dalam pengertian mengalihkan dari SPP Anak tetapi sebagai upaya lebih memilih tindakan atau pidana lain selain dari pidana penjara atau kurungan, atau karena pidana denda maupun pdana pengawasan adalah bagian SPP anak. 167

Umumnya menurut persepsi Polatabes Medan bahwa pemberian pidana bagi anak adalah merupakan upaya terakhir (ultimum remedium). Poltabes Medan lebih mengutamakan tindakan preventif dan pre emtif dengan melakukan razia dan penyuluhan namun ketika si anak tertangkap memakai narkoba maka terhadap si anak akan langsung dikenakan penahan. Selain itu tujuan pemidanaan bagi anak pemakai narkoba adalah untuk memberikan efek jera (deterrence effect) pada anak sehingga jangan lagi mengulangi perbuatannya. Dengan demikian jika dijatuhkan pidana maka

166

http//:www.childrencenter.com, op. cit, hlm.2

167

orang lain akan merasa takut dan tidak akan mencoba untuk memakai narkoba karena ada kecendrungan bagi masyarakat untuk takut dikurung di dalam ruang tahanan.168

Penyidik Kepolisian bertugas untuk memastikan apakah tindak pidana sesuai dengan prosedur KUHAP dan kemudian hasilnya dibukukan dalam BAP, dalam pembuatan BAP Kepolisian meminta saran dan pertimbangan dari Bapas selain itu agar Bapas dapat melakukan pendampingan terhadap anak. Bapas dalam melaksanakan tugasnya kemudian akan mengadakan penelitian masyarakat (untuk selanjutnya disingkat dengan litmas) dari hasil litmas nantinya akan dapat diketahui faktor penyebab anak memakai narkoba, apakah anak tersebut terpengaruh lingkungan atau karena kondisi atau keadaan keluarga yang kacau. Selain itu aparat kepolisian khususnya Poltabes Medan selalu berusaha untuk menggali dan mengungkap apa yang menjadi penyebab anak sampai terlibat ke dalam penyalahgunaan narkoba.169

Untuk sampai pada kesimpulan pelanggaran yuridis, maka penyidik berusaha menggali aspek lanjutan, oleh karena itu Polisi dalam berkas penyidikan ada membuat resume fakta-fakta yang terjadi. Resume diakhiri dengan kesimpulan bahwa kasus ini telah terpenuhi unsure-unsur pasal yang melanggar undang-undang setelah lengkap barulah kemudian dikirimkan kepada pihak Kejaksaan sehingga nantinya perkara dapat dilimpahkan kepada pihak Pengadilan.

168

Wawancara dengan Polisi di Poltabes Medan, tanggal 5 juli 2008.

169

Menurut informan yang ada di Kejaksaan Negeri Medan menyatakan bahwa anak yang tertangkap memakai narkoba tetap diproses dan dilakukan penahanan hal ini sesuai dengan ketentuan undang-undang. Dalam hal proses pemeriksaan Kejaksaan selalu berpedoman kepada KUHAP, UU Narkotika dan UU Psikotropika dan UU Pengadilan Anak, dimana UU Pengadilan Anak memuat ketentuan khusus bagi anak dan lebih meringankan bagi anak, sehingga menurut pandangan Jaksa bahwa hak diskresioner untuk melakukan diversi yang dimiliki oleh polisi bagi kasus anak yang terlibat narkoba belum bisa dilakukan. Hal ini disebabkan belum ada aturan yang sangat jelas bahwa diversi dapat dilakukan.170

Informan Kejaksaan memiliki kecendrungan tidak setuju dengan dilakukannya diversi dan mereka memiliki kecendrungan untuk memilih pidana penjara dari pada jenis pidana lainnya. Hal ini sebagai tindakan balasan atas perbuatan yang dilakukan selain itu dapat memberikan effect jera sehingga anak jangan mengulangi perbuatannya. Selain itu teman-teman sepergaulan si anak yang tertangkap memakai narkoba akan merasa ketakutan untuk mengalami nasib yang serupa dengan temannya yang berada di balik jeruji penjara sehingga dengan sendirinya tidak akan mempergunakan narkoba.171

Kesulitan lain bagi Jaksa adalah untuk melakukan “penghentian penuntutan bagi kepentingan umum”, tidak dapat digunakan sebagai upaya diversi, dikarenakan kewenangannya tersebut dimaksudkan dapat digunakan dalam hal “penuntutan”

170

Wawancara dengan Jaksa di Kejaksaan Negeri Medan, tanggal 10 Juli 2008

171

bertentangan dengan “kepentingan umum”. Selain itu kewenangan tersebut tidak dimiliki oleh setiap Jaksa melainkan dimiliki oleh Jaksa Agung. Kemungkinan untuk mendorong dilakukannya diversi pada tingkat penuntutan masih dihadapkan pada kendala tidak adanya ketentuan hukum yang dapat digunakan. Kecuali apabila dikembangkan alasan untuk melakukan penghentian penuntutan yang selama ini semata-mata hanya dimungkinkan karena alasan yang bersifat teknis yuridis.172

Sebelum membuat tuntutan pada terdakwa penuntut umum mempertimbangkan dari BAP dan lampiran hasil litmas dari Bapas dan juga berdasarkan fakta-fakta dipersidangan membuat rencana penuntutan dengan mempertimbangkan unsur yang memberatkan dan unsur yang meringankan. Salah satu unsur yang memberatkan terdakwa adalah:173

1. Terdakwa anak tidak kooperatif di persidangan.

2. Tidak memiliki sikap sopan dan santun selama di persidangan. 3. Sudah pernah di hukum sebelumnya.

4. Tidak memiliki penyesalan terhadap perbuatan yang telah dilakukannya. Hal yang meringankan bagi terdakwa anak adalah:

1. Terdakwa anak masih di bawah umur/ masih sangat muda dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakunya.

2. Bersikap kooperatif selama di persidangan. 3. Belum pernah dihukum.

172

Ibid

173

4. Terdakwa menyesali perbuatan yang dilakukannya.

5. Terdakwa juga adalah merupakan korban atas perbuatannya sendiri. Unsur-unsur yang memberatkan dan meringankan menjadi pertimbangan penuntut umum dalam hal melakukan rencana tuntutan. Prinsip yang dipegang oleh Kejaksaan dengan melakukan penuntutan di Pengadilan yaitu untuk memberikan efek jera kepada anak agar jangan mengulangi perbuatannya.

Dalam hal ini pihak Poltabes Medan dan Kejaksaan Negeri Medan dalam menangani suatu perkara sering saling memeri masukan terhadap suatu perkara yang ditangani, hal ini dapat dilihat dalam ada kasus yang sulit maka kedua belah pihak akan melakukan konsultasi. Konsultasi yang dilakukan adalah mengenai pasal berapa yang cocok dipergunakan, tentang barang bukti hal ini dilakukan agar berkas perkara agar jangan bolak-balik anatar Polisi dan Jaksa. Selain itu dilakukannya gelaran perkara dimana pihak kepolisian mengundang pihak kejaksaan untuk gelar perkara yang sedang dihadapi.174

Apabila suatu berkas perkara belum lengkap maka pihak Kejaksaan akan mengembalikan kepada pihak kepolisian hal inilah yang menjadi salah satu ganjalan dalam hubungan koordinasi antar penyidik (Polisi) dan penuntut umum (Jaksa), alasan pengembalian berkas perkara adalah karena kurang lengkap (P-19) dan penyidik harus segera memperbaiki sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh jaksa apabila sudah lengkap maka berkas perkara yang disertai dengan lampiran hasil litmas yang menjadi pertimbangan bagi jaksa untuk melakukan rencana

174

penuntutan.175 Kelemahan yang lain adalah bahwa hubungan antara Polisi dan Jaksa hanya sebatas proses pemeriksaan perkara dan apabila sudah dinyatakan semua hasil pemeriksaan sudah lengkap maka hubungan mereka putus hanya sampai disitu saja.

b. Tahap Pemeriksaan di Persidangan

Pengadilan adalah suatu lembaga yang fokus pada penjatuhan sanksi pidana kepada para pelaku kejahatan. Proses yang ingin dicapai dalam persidangan adalah untuk mencapai tujuan yaitu menentukan batasan bersalah atau tidak bersalahnya si terdakwa.

Dalam hal untuk kelancaran proses pemeriksaan perkara di bidang narkoba di kota Medan, maka Hakim di Pengadilan Negeri Medan melakukan penahanan terhadap terdakwa, dan semua anak yang terlibat kasus narkoba umumnya dilakukan penahanan..176 Hakim dapat melakukan penahanan kepada anak untuk kepentingan pemeriksaan paling lama 15 hari (UUPA Pasal 47 ayat 1-2). Penahanan dapat diperpanjang untuk paling lama 30 hari dan apabila jangka waktu ini terlampaui namun hakimbelum memutuskan perkaranya maka anak harus dikeluarkan dari tahanan. (UUPA Pasal 47 ayat 3-4).

Hakim dalam mengadili anak yang memakai narkoba selalu mempertimbangkan faktor-faktor apa yang membuat anak sampai menggunakan narkoba, apakah ada pengaruh dari lingkungan tempat tinggal atau pengaruh keadaan

175

Ibid

176

keluarga. Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 orang hakim yang ada di Pengadilan Negeri Medan bahwa tujuan pemidanan terhadap anak pemakai narkoba adalah untuk memberikan efek jera kepada anak agar jangan mengaulangi perbuatannya dan satu orang hakim mengatakan bahwa pemidaan dilakukan agar anak dapat pembinaan (treatment) sehingga anak tidak lagi memakai narkoba. Berdasarkan hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hakim di Pengadilan Negeri Medan mayoritas berpendapat bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk memberikan efek jera (deterrence effect) pada anak.177

Tujuan pemidanaan sebagai deterrence effect sebenarnya telah menjadi sarana yang cukup lama dalam kebijakan penanggulangan kejahatan karena tujuan detterence ini berakar pada aliran klasik tentang pemidanaan, dengan dua orang tokoh utamanya yaitu, Cessare Beccaria (1738-1794) dan Jeremy Bentham (1748-1832). Becaria menegaskan dalam bukunya yang berjudul dei delitti e delle pene (1764) bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk mencegah seseorang supaya jangan melakukan kejahatan, dan bukan sebagai sarana balas dendam.178

Peranan hakim dalam politik kriminal di kota Medan selama ini sangat dominan dilakukan dengan memeriksa dan memutus perkara di sidang proses pengadilan, dalam hal ini pengadilan juga melibatkan masyarakat dalam hal menyadarkan bahaya narkoba bagi masyarakat. Selain itu meminta kepada para orang

177

Ibid.

178

tua agar lebih memperhatikan perkembangan si anak agar jangan sampai anak terjerumus kepergaulan yang tidak benar.

Pasal 47 UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika menyebutkan,179 Hakim yang memeriksa perkara pecandu narkotika dapat melakukan dua hal. Pertama, Hakim dapat memutuskan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan, apabila pecandu tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika. Kedua, Hakim dapat menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan, apabila pecandu narkotika tersebut tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika. Dalam ayat 2 pasal yang sama, disebutkan juga bahwa masa menjalani pengobatan dan/atau perawatan bagi pecandu dapat diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman.

Sejak diundangkan dan berlaku pada 1 September 1997, belum pernah ada satu pun vonis hakim yang memberi hukuman rehab pada pecandu. Vonis rehab seperti sebuah vonis yang tabu bagi para hakim. Hukuman penjara menjadi satu-satunya pilihan yang diterapkan untuk memvonis para pecandu. Kebijakannya lebih pada lama masa tahanan. Hal demikian juga di Pengadilan Negeri Medan, Hakim belum pernah menjatuhkan vonis rehab bagi pemakai narkoba. Menurut salah seorang Hakim bahwa hal ini dikarenakan kebijakan masa tahanan selain itu ada asumsi jika pemakai narkoba di vonis rehab maka ada kecendrungan timbul dugaan bahwa ada permainan atau persekongkolan dari Hakim dan Jaksa. Oleh karena itu dalam

179

menjatuhkan vonis Hakim harus benar-benar mempertimbangkannya.180 Sementara koordinasi antara kepolisian, kejaksaan dan hakim dapat terlihat hanya pada saat proses persidangan. Selain itu terkadang hakim menjatuhkan vonis tidak sesuai denga alat-alat bukti yang disediakan dan tidak sesuai dengan tuntutan dari Jaksa.

c. Tahap Pemeriksaan sesudah Persidangan

Anak setelah melalui proses persidangan (adjukasi) berarti sudah memperoleh kekuatan hukum tetap, yang pada akhirnya dapat ditempatkan di dalam lembaga atau

Dokumen terkait