• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Peradilan Pidana Terpadu dalam Penanggulangan

BAB II FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK MENGGUNAKAN

B. Kebijakan Penal (Penal Policy) Terhadap Anak yang

2. Sistem Peradilan Pidana Terpadu dalam Penanggulangan

Politik kriminal dengan menggunakan sarana penal pada hakikatnya adalah merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana). Oleh karena itu sering dikatakan, bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy). Hal ini tentunya dilaksanakan melalui Sistem Peradilan Pidana (Criminal

189

http//:www.bnpbali/rehab-pecandu/ diankses tanggal 24 Juli 2008.

190

Justice System), yang terdiri dari sub sistem kepolisian, sub sistem Kejaksaan, sub sistem pengadilan dan sub sistem Lemabaga Pemasyarakatan. 191

Keseluruhan proses ini bekerja dalam satu sistem, sehingga antar masing-masing lembaga itu sebagai satu sistem yang saling berhubungan dan saling pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lainnya yang kesemuanya bekerja dengan berlandaskan KUHAP. Sebagai suatu alur yang sistematik maka komponen-komponen sistem peradilan pidana ini diharapkan dapat diharapkan bekerja secara terpadu sehingga memiliki visi yang sama untuk dapat menanggulangi anak-anak yang memakai narkoba di kota Medan.

Oleh karena itu dalam SPP perlu dicegah adanya fragmentasi, yang maksudnya masing-masing lembaga bekerja sendiri-sendiri tanpa memperhatikan interelationship diantara masing-masing sub sistem. Kerjasama ini ibaratnya cara kerja jam dinding, bila satu onderdilnya rusak atau tidak dapat berfungsi maka akan mengacaukan kinerjanya secara keseluruhan. Walaupun masing-masing sub sistem memiliki fungsi yang berbeda-beda dan berdiri sendiri tetapi harus mempunyai satu tujuan dan persepsi yang sam sehingga merupakan kekuatan yang utuh yang saling mengikat antara Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, dan Lembaga Pemasyarakatan.

Dalam rangkaian SPP, Kepolisian merupakan sub sistem yang cukup menentukan keberhasilan dari kerja keseluruhan sistem dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain sebagai alat negara penegak hukum, polisi adalah

191

pengayom, pelindung, pembimbing dan pelayan masyarakat. Dari hal tersebut dapat diketahui tugas Polisi adalah:192

a. Selaku alat negara penegak hukum berkewajiban memelihara dan meningkatkan tertib hukum yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan:

1. Melaksanakan penindakan/ refresif terhadap setiap pelanggaran hukum. 2. Menjaga tegaknya hukum yaitu agar tidak terjadi pelanggaran hukum.

3. Memberikan bimbingan kepada masyarakat agar terwujud kesadaran hukum dan kepatuhan masyarakat (law abiding citizens).

b. Mengayomi dan melindungi serta memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksakan melalui kegiatan-kegiatan:

1. Melindungi masyarakat, pribadi maupun harta bendanya dengan melakukan patroli, penjagaan atau pengawalan.

2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan kepolisian.

3. Mengayomi masyarakat agar mampu mengamankan diri dan harta bendanya antara lain melalui upaya-upaya sistem keamanan swakarsa.

c. Membimbing masyarakat bagi terciptanya kondisi yang menunjang terselenggaranya keamanan dan ketertiban masyarakat, dapat dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan:

a. Memberi penerangan dan penyuluhan tentang pentingnya keamanan dan ketertiban masyarakat bagi kelancaran jalannya pembangunan nasional.

192

b. Penerangan dan penyuluhan tenatang sistem keamanan masyarakat guna terciptanya keamandan ketertiban masyarakat.

Berdasarkan ruang lingkup tugas kepolisian yang cukup luas, maka dapat dikatakan bahwa tanggung jawab kepolisian sangat besar dibandingkan dengan sub sistem SPP lainnya karena polisi langsung berinteraksi dengan masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya dalam memberantas peredaran narkoba ada beberpa kendala, kendala yang paling mendasar adalah masalah dana operasional/ anggaran dana untuk melakukan kegiatan rutin yaitu untuk melakukan razia untuk Poltabes sendiri memang tidak ada kendala yang urgent tapi untuk polisi yang ada di luar kota, karena di daerah belum ada Laboratorium untuk memeriksa apakah jenis narkoba atau tidak karena laboratoium hanya ada di Kota Medan sehingga akan menyulitkan bagi Polisi yang di daerah sehingga untuk itu harus membutuhkan dana untuk memeriksakan ke Medan sementara dana yang dikeluarkan sangat terbatas.

Meskipun sudah dilakukan upaya preventif dari pihak poltabes tapi kenyataannya masih banyak anak yang memakai narkoba, hal ini didasarkan oleh masyrakat yang tidak mau melapor jika ada orang yang tinggal di lingkungannya yang memakai narkoba hal ini karena ada kecendrungan takut menjadi saksi.193 Sebahagian masyarakat memilikii keengganan untuk memberikan informasi yang akurat kepada pihak kepolisian hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai contoh:194

193

Hasil wawancara dengan salah seorang Polisi di Poltabes Medan, 4 Juli 2008.

194

a. Orang yang terlibat adalah anggota keluarga. b. Orang yang terlibat adalah tetangga.

c. Ada rasa takut untuk melaporkan orang lain yang terlibat narkoba karena ada opini yang berkembang di masyrakat bahwa pihak Kepolisian akan memeberikan identitas pemberi informasi kepada pelaku kejahatan narkoba walaupun kekuatiran ini sama sekali tidak beralasan karena polisi sudah berkomitmen untuk melindungi atau menjaga kerahasiaan pemberi informasi.

Politik kriminal melalui peradilan pidana memerlukan koordinasi yang intensif diantara komponen-komponen SPP, agar bisa tercapai tujuan yang maksimal untuk memberantas peredaran narkoba di Kota Medan seperti yang diketahui bahwa persebaran narkoba telah mencapai tahap yang sangat mmperihatinkan karena sekarang ini para pengedar sudah mulai memanfaatkan anak-anak untuk memperlancar peredarannya. Benturan-benturan konflik sering sekali terjadi di lapangan oleh komponen-komponen SPP walaupun bukan institusinya, melainkan antar pribadi dari aparatnya masing-masing.195

Hal ini dapat dilihat dalam uraian sebelumnya bahwa sering sekali bolak-balik berkas perkara antara pihak kepolisian dengan pihak Kejaksaan sebagai penuntut selain itu masing-masing pihak muncul suatu sikap tidak perduli dengan lembaga yang lain bahwa yang paling utama adalah melaksanakan tugas dan fungsi institusi masing-masing.196 195 Ibid 196 Ibid

Selain itu tidak adanya saling kontrol antar masing-masing lembaga, sehingga tanggung jawab masing-masing komponen hanya sebatas selesainya pekerjaan. polisi sebagai penyidik akan menganggap bahwa tugasnya hanya sampai batas penyelidikan dan penyidikan serta mengajukan berkas perkara pada Jaksa Penuntut Umum, tanpa memperhatikan dakwaan yang akan diajukan oleh Jaksa apakah berat atau ringan yang penting tugasnya telah selesai demikian juga dengan kejaksaan hanya membuat dakwaan bagaimana keadaan si terpidana di LP tidak diperhatikan, jadi di sini tanggung jawab hanya sebatas tugas (just doing my job).

Terkait dengan hal tersebut bahwa belum sistematiknya mekanisme kinerja dari SPP disebabkan oleh beberapa faktor yaitu197:

a. Masing-masing komponen SPP (Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga pemasyarakatan) mempuyai yurisdiksi yang independent. Masing-masing komponen mempunyai tugas, otoritas, garis komunikasi dan pertanggungjawaban yang terpisah, sehingga hal ini terkadang menjadi penghalang untuk menjalin kerjasama anatar komponen. Selain itu juga terjadi konflik kepentingan, kurangnya saling pengertian, dan tekanan dari komunitas politik yang berbeda pada masing-masing komponen menjadikan peradilan pidana tidak bekerja sebagai sebuah sistem.

b. Masalah yuridiksi dan opersional. Masing-masing komponen SPP mempunyai yurisdiksi yang independent. Dalam kinerja sehari-hari depertemen atau

197

tingkatan operasional dari komponen-komponen sistem peradilan pidana, sumpah setia untuk mencegah dan menagani kejahatan telah diganti menjadi suatu keperluan untuk mengerjakan tugas saya (doing my job). Masing-masing komponen mempunyai tugas otoritas, garis komunikasi, dan pertanggungjawaban yang terpisah, sehingga hal ini terkadang menjadi penghalang untuk terjalinnya kerjasama antar komponen sehingga mengakibatkan SPP tidak bekerja sebagai suatu komponen.

c. Permasalahan individu dari masing-masing anggota komponen SPP. Setiap individu yang bertugas dalam SPP mempunyai tipe dan karakter, latar belakang social, pendidikan dan pelatiahn sikap dan nilai-nilai aturan yang berbeda-beda. d. Adanya isu-isu yang substantive yang meliputi masih kurang baiknya pelatihan

baik itu pelatihan kepolisian, rendahnya penyelesaian kasus-kasus, terbatasnya pemidanaan alternative, manageman pengadilan yang kurang baik, penyalahgunaan jaminan.

Terjadinya ketidaksistematikan dalam hal untuk memberantas kejahatan melalui SPP menurut Marjono Reksodiputro, maka menimbulkan berbagai kerugian, yaitu198:

1. Kesukaran dalam menilai sendiri keberhasilan atau kegagalan masing-masing instansi, sehubungan dengan tugas-tugas mereka;

2. Kesulitan dalam memecahkan sendiri masalah-masalah pokok masing-masing instansi (sebagai subsistem);

198

3. Karena tanggung jawab masing-masing instansi sering kurang jelas terbagi maka setiap instansi tidak terlalu memperhatikan efektivitas menyeluruh dari SPP.

C. Kebijakan Non Penal dalam Menanggulangi Anak yang Memakai Narkoba

Dokumen terkait