ACUAN PERANCANGAN A. Titik Tolak Acuan Perancangan
D. Perancangan Fisik dan Perlengkapan Bangunan
1. Bentuk dan penampilan bangunan
a. Bentuk dasar kawasan
Penentuan bentuk dasar kawasan berdasarkan pertimbangan terhadap ciri khas kedaerahan seperti bagian dari adat, simbol, alat tradisional, pakaian adat dan lain sebagainya. Dari beberapa pertimbangan tersebut terpilih satu konsep perancangan site dengan mengikuti pola sarung adat tolaki, dimana suku tolaki merupakan salah satu suku yang berada di Kota Kendari. Pola sarung adat tolaki dapat menjadi suatu ciri khas kawasan Pusat Kuliner selain menawarkan varian kuliner yang beragam juga memperkenalkan pola sarung adat tolaki sebagai alat untuk menarik para wisatawan lokal maupun manca negara.
133
Keterangan :
A : Unit Bangunan Blok A B : Unit Bangunan Blok B C : Unit Bangunan Blok C D : Unit Bangunan Blok D E : Taman bermain F : Musolah G : Parkiran H :Entrance
I&O : Ruang servisdan keamanan J : Mini marker
K : Ruang pengelola L :Ruang utilitas M : Taman Kawasan
N : Exit
Gambar V.21 Aplikasi Pola Sarung Adat Tolaki Ke Dalam Desain Kawasan
b. Penampilan bangunan
Penampilan bangunan pada Kawasan pusat kuliner harus menunjukkan sifat keterbukaan dengan mengaplikasikan bentuk-bentuk dan material bangunan yang sesuai. Penggunaan area hijau pada bangunan merupakan sebuah konsep yang dapat membuat penampilan bangunan lebih segar dan sejuk sehingga membuat para pengunjung tertarik untuk bersantai ataupun berlama-lama pada kawasan ini.
Bentuk-bentuk atraktif juga perlu diaplikasikan agar memperlihatkan ciri sebuah bangunan pusat kuliner.
134 Gambar V.22 Sketsa bentuk dan penampilan bangunan kawasan pusat kuliner
2. Gubahan Eksterior dan Gubahan Interior
a. Gubahan Eksterior
Gubahan eksterior merupakan desain yang digunakan untuk perancangan ruang luar pada kawasan Pusat Kuliner Sebagai Ruang Publik, untuk menanggapi dan memberi kesan ruang publik, maka di buat rancangan eksterior sebagai berikut:
1) Penataan Lansekap pada taman kawasan dan taman bermain diorientasikan
kearah teluk kendari dan area yang berdekatan dengan jalur lalu lintas sehingga dapat menyaring polusi dan debu untuk masuk kearea tapak.
2) Penambahan area duduk pada area pinggiran teluk kendari.
3) Material yang digunakan seperti bebatuan, vegetasi (mangrove dan pohon kelapa), dan beberapa material yang bertemakan laut.
b. Gubahan Interior
Gubahan interior merupakan desain yang digunakan untuk perancangan ruang dalam pada bangunan di Kawasan Pusat Kuliner sebagai Ruang Publik. Sebagai sebuah bangunan pusat kuliner maka di buat rancangan interior sebagai berikut :
135
1) Ruang dalam disesuaikan dengan tema tiap jenis kuliner.
2) Menggunakan material yang mudah dibersihkan agar para pengunjung tidak
terganggu dengan ruang makan yang kotor dan berantakan.
3) penempatan perabot dalam ruang dalam, terutama fasilitas umum yang
digunakan harus ditempatkan pada bagian yang mudah dicapai bagi para pengunjung.
4) Sirkulasi ruang dalam yang cukup sesuai dengan standar perabot dan
sirkulasi.
5) Orientasi bukaan ditempatkan pada area dengan view terbaik yaitu
mengarah ke teluk kendari.
3. Sistem Struktur
a) Modul struktur yang digunakan adalah 360 cm
b) Sistem subs struktur disesuaikan dengan bentuk bangunan, tetapi karena lokasi kawasan yang berada pada daerah timbunan lumpur yang merupakan jenis tanah lembek maka sistem struktur yang digunakan adalah pondasi tapak, tiang pancang dan rakit.
c) Sistem super struktur menggunakan sistem plat rata dan sistem kabel dan jaring.
Gambar V.23 Bentuk-Bentuk Sistem Kabel Dan Jaring (Sumber: Data Arsitektur Edisi ke-33 Jilid ,1996)
d) Sistem upper struktur menggunakan rangka ruang, dan kabel dan jaring.
4. Sistem pengkondisian ruang
a. Sistem pencahayaan
136
Pencahayaan alami digunakan pada semua ruang pada siang hari. Pencahayaan dimanfaatkan semaksimal mungkin ke dalam ruangan melalui bukaan ruangan.
2) Pencahayaan buatan
Pencahayaan buatan yang direncanakan terdiri atas :
a) Pencahayaan menyeluruh (general lighting)
Pencahayaan menyeluruh digunakan untuk semua ruang luar sebagai sumber penerangan pada malam hari.
b) Pencahayaan khusus (special lighting)
Berupa pencahayaan yang memiliki tujuan khusus, misalnya menyinari atau menyorot fasad, pohon, dan lain sebagainya.
b. Sistem penghawaan
1) Penghawaan alami
Yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan penghawaan alami, yaitu:
a) Aliran dan pengendapan udara
Diusahakan untuk selalu terjadi cross ventilation sehingga udara dalam ruang terus mengalir dan tetap sehat.
b) Polusi bau dan debu
Pertimbangan terhadap kondisi lingkungan akan menunjang kenyamanan pengunjung yang akan terganggu oleh bau dari makanan dan minuman yang diperjual belikan di dalam Kawasan Pusat Kuliner. Dengan menggunakan blowler pada ruang memasak/ dapur dengan sistem kerja yang berfungsi untuk mengeluarkan bau makanan. Untuk mengatasi debu dan pasir yang berada di sekitar tapak maka dapat menggunakan vegetasi dan perkerasan pada pedestrian.
137
2) Penghawaan buatan
Sistem penghawaan buatan diperlukan pada ruang yang cukup tertutup dengan tujuan untuk menjaga kenyamanan thermal pengguna ruang. Terdapat beberapa sistem penghawaan buatan yang dapat diaplikasikan ke dalam bangunan, yaitu:
a) Air conditioning (AC) dengan sistem setempat, seperti window unit (split unit), cabinet unit dan through the wall yang ditempatkan pada ruangan
yang membutuhkan.
b) Air conditioning (AC) dengan sistem central, dimana penempatannya
terpisah dari ruangan yang akan didinginkan. Penyaluran udara dingin dialirkan melalui Ducting air return.
c) Exhaust fan, digunakan untuk ruang servis.
c. Tata Suara/Akustik
Untuk mengurangi atau menghindari kemungkinan gangguan kebisingan, maka langkah-langkah yang dapat diambil antara lain:
1) Menata lansekap sedemikian rupa agar bangunan ataupun area yang
membutuhkan ketenangan tidak berdekatan dengan lokasi kebisingan seperti jalan raya, daerah-daerah servis dan lainnya.
2) Pemasangan dinding ganda yang tidak saling melekat kemudian diberi
lapisan tambahan dari bahan akustik.
3) Pengaturan/pemisahan ruang yang menimbulkan kebisingan (misalnya
peralatan/mesin sumber tenaga) terhadap ruang yang membutuhkan ketenangan.
Sistem akustik digunakan pada ruang-ruang yang memerlukan ketenangan atau bebas dari kebisingan, misalnya bangunan pengelola dengan merencanakan sistem akustik seperti:
1) Dinding, dilapisi bahan-bahan yang memiliki daya serap bunyi yang tinggi
namun tetap memberi nuansa alam pada bangunan.
2) Lantai, menggunakan bahan untuk lantai dengan sifat yang cukup menyerap
138
d. Sistem Utilitas dan Kelengkapan Bangunan
1) Instalasi listrik
Syarat-syarat perancangan jaringan instalasi listrik yang ekonomis adalah :
a) Fleksibilitas
Jaringan harus memberi kemungkinan untuk penambahan beban, tetapi harus dalam batas ekonomi, cadangan tambahan beban yang berlebihan (over design) adalah tidak ekonomis dan merupakan pemborosan.
b) Kepercayaan
Jaringan instalasi harus dapat diandalkan dan dapat dipercaya, sebab pembebanan oleh peralatan listrik sering tidak dapat dikontrol. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas bahan-bahan instalasi. Kegagalan-kegagalan peralatan harus dapat diketahui secara dini agar tidka terjadi kecelakaan.
c) Keamanan
Jaringan instalasi harus dirancang sesuai Peraturan Nasional yang berlaku (Peraturan Umum Instalasi Listrik) Tabung-tabung Instalasi harus mudah dicapai dan bebas hambatan/halangan fisik.
Untuk merancang jaringan instalasi listrik suatu gedung terdapat kelompok pembebanan listrik dalam bangunan adalah sebagai berikut:
(1) Pencahayaan listrik
(2) Stop kontak untuk peralatan rumah tangga.
(3) Ventilasi gedung
(4) Plumbing/sanitair (pompa air dan lain-lain) (5) Transportasi vertical
(6) Peralatan dapur
(7) Peralatan khusus.
Instalasi dalam gedung dibagi dalam dua bagian yaitu:
139
(2) Instalasi untuk power (Lift, AC, Pompa dan lain-lain)
Dalam situasi serba kekurangan tenaga listrik PLN, perlu disiapkan instalasi tenaga listrik siaga/ standby generator.
Jumlah watt per m2 untuk gedung toko dan kantor adalah 20-40 watt/ m2. Jumlah tersebut diaplikasikan untuk unit bangunan warung makan, rumah makan dan restoran yaitu dengan mengkalikan total luasan per unit dengan standar jumlah watt, sehingga dapat diketahui jumlah watt yang digunakan untuk 3 jenis unit bangunan tersebut ditambah dengan unit bangunan pengelola.
2) Air Bersih
Sumber air bersih untuk kebutuhan utama pada bangunan memanfaatkan fasilitas kota melalui jasa PDAM dan sebagai cadangan mempergunakan sumur dalam (deep well), dengan mempertimbangkan kebersihan serta kebutuhan yang besar akan air bersih tersebut. Air bersih dari sumber air tersebut dihisap dengan pompa dan ditampung pada bak penampung, selanjutnya dipompakan ke atas reservoir atas) kemudian didistribusikan ke unit-unit bangunan kawasan dengan mempertimbangkan sifat mekanisme air.
3) Pembuangan air kotor
Pembuangan air kotor yang berasal dari disposal padat ke salurkan ke septic tank dan diteruskan ke bak peresapan, sedang hasil buangan disposal cair diteruskan ke bak kontrol dan diteruskan ke got besar yang selanjutnya diteruskan ke riol kota. Pembuangan air hujan dialirkan ke got besar dan kemudian diteruskan ke saluran pembuangan kota.
4) Pembuangan Sampah
Sampah-sampah yang berupa sisa-sisa bahan padat dikumpulkan secara horizontal pada tiap bangunan, kemudian dikumpulkan ke tempat penampungan (bak sampah) di area depan kawasan.
140
Sampah yang dikumpulkan pada bak sampah dan ditempatkan pada titik tertentu diangkat oleh cleaning servis ke bak penampung sementara yang selanjutnya akan diangkut/diambil oleh mobil sampah keluar kawasan.
5) Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran
a) Pencegahan Pasif
(1) Penerangan darurat
Pemasangan lampu diletakkan pada pintu keluar darurat, jalan penghubung atau jalan yang dipergunakan oleh manusia pada saat kebakaran.
(2) Sumber daya listrik darurat
Sumber listrik ini dipergunakan untuk mengaktifkan semua peralatan bantu evakuasi.
b) Pencegahan Aktif
1) Pencegahan kebakaran di luar bangunan
Pencegahan bahaya kebakaran yang terjadi di luar bangunan menggunakan Pilar
Hydrant yang diletakkan pada halaman, dengan jarak antara hydrant ± 90 m-150
m.
2) Pencegahan kebakaran di dalam bangunan
(a) Fire alarm system
Penggunaan alat ini untuk memberitahukan apabila terjadi kebakaran.
(b) Fire hydrant system
Yaitu sebuah kotak yang berisi selang dengan jarak maksimal 30 m, yang dapat melayani area seluas 800 m2.
(c) Thermo detector
Yaitu alat untuk mendeteksi panas yang ditimbulakan oleh api, dimana bekerja secara otomatis. Alat ini terdiri dari 2 jenis yaitu:
141
Alat ini akan bekerja apabila ada kenaikan suhu dengan cepat, walau belum mencapai suhu 70 0C.
(2) Smoke detector
Alat ini mendeteksi asap yang ditimbulkan oleh kebakaran, dimana akan bekerja secara otomatis apabila ada asap yang terdeteksi dengan toleransi tertentu.
(d) Alat pemadam kebakaran ringan
Alat ini berupa tabung-tabung gas zat arang atau serbuk anti api dan dilengkapi dengan alat penyemprot. Untuk setiap area seluas 100 m2 disediakan satu alat tersebut.
6) Sistem Komunikasi
Sistem Komunikasi yang digunakan adalah sistem PABX (Private Automatic
Branch eXchange) yang digunakan untuk telepon ke dalam dan keluar bangunan.
7) Sistem Keamanan
Sistem keamanan dalam bangunan ini dilakukan dengan menyediakan fasilitas pengamatan dan pencegahan, antara lain:
a) Sistem CCTV (Central Circuit Television), untuk memonitor segala
penjuru bangunan yang diperkirakan dapat menjadi tempat terjadinya kriminalitas, seperti pencurian dan sebagainya.
b) Sistem alarm, yang diaktifkan pada waktu-waktu tertentu untuk
melindungi barang dan dokumen berharga yang mungkin di simpan dan di pamerkan dalam gedung.
c) Satuan pengamanan (Satpam) yang bertugas 24 jam
8) Sistem Parkir
Sistem parkir yang digunakan pada perencanaan kawasan Pusat Kuliner sebagai Ruang Publik di Kota Kendari adalah :
142
Sistem parkir 600digunakan pada parkir kendaraan roda empat dan kendaraan khusus (truk/bus) yang berada diparkiran luar bangunan.
Gambar V.24 Sistem parkir 600
b. Sistem parkir 900
Sistem parkir 900digunakan pada parkir kendaraan roda dua di luar bangunan.
Gambar V.25 Sistem parkir 900
c. Sistem parkir 450
Sistem parkir 450digunakan pada parkir kendaraan roda dua di dalam bangunan.
143 BAB VI
PENUTUP