2. Penggunaan Lahan
5.1.4 Perancangan Penyuluhan A. Penetapan Sasaran Penyuluhan
Sasaran kegiatan penyuluhan pertanian adalah kelompok tani tolo pungga Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima dengan total keseluruhan anggota adalah 53 orang. Penentuan sasaran berdasarkan teknik purposive sampling dimana teknik penetuan sampel ini menurut Sugiyono (2008) dalam
Kelembagaan Ekonomi Petani No Desa Poktan KWT GAPOKTAN P3A UPJA
Koperasi
Tani Asosiasi
1 Kara 16 1 1 1 1 - -
66
Raudah Mukhsin, Palmarudi Mappigau, dan Andi Nixia Teniawaru (2017), Purposive sampling adalah sebagai teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yaitu usia, tingkat pendidikan, lama berusaha tani yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representative. Yang dimana anggota kelompok tani tolo pungga yang aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh kelompok tani dari kriteria yang diperoleh dari sasaran terdapat 20 orang. Karakteristik sasaran dapat dilihat pada tabel 5.7.
Tabel 5.7 Karakteristik Sasaran Karakteristik sasaran Sasaran
penyuluhan Karakteristik Kondisi keragaman
Kelompok tani Tolo Pungga
1. Karakteristik Pribadi
a. Usia a. 25 – 60 tahun
2. Status Sosial Ekonomi a. Tingkat Pendidikan b. Jumlah Tanggungan
keluarga
A. SD - SMA B. 3 - 6 orang
3. Keterlibatan dalam Kelompok
Aktif
4. Tingkat Adobsi (Sadar, Minat,
Menilai, Mencoba, Menerapkan)
Minat
5. Perilaku Keinovatifan Dominan Penerima Mayoritas lambat / Late Majority 6. Moral Petani (Moral
Subtensi dan Moral Rasionalitas)
Moral Rasionalitas
Pada Tabel 5.7 menunjukkan bahwa sasaran dari penyuluhan adalah Kelompok tani tolo pungga yang terdapat di Desa kara Kecamatan bolo dengan
67
Jumlah anggota sebanyak 53 orang. Rata-rata anggota berusia 25 - 60 tahun, dengan rata-rata tingkat pendidikan yaitu SD-SMA dan memiliki jumlah tanggungan keluarga sekitar 3-6 orang.
Tingkat adopsi dari kelompok tani ini adalah dominan minat karena beberapa angggota poktan memiliki antusias yang tinggi terhadap suatu kegiatan sehingga tingkat adopsi mereka masih tergolong minat. Untuk perilaku keinovatifan, anggota kelompok tani dinilai sudah masuk kategori dominan penerima mayoritas lambat. Hal tersebut dikarenakan petani akan mengadopsi inovasi jika inovasi tersebut dapat secara nyata menguntungkan bagi petani.
Sehingga dengan adanya kegiatan penyuluhan tersebut, ditujukan nantinya akan memberikan pengetahuan pada petani/sasaran dan selanjutnya setelah kegiatan penyuluhan, petani/sasaran akan menyebarluaskan informasi yang didapatkannya ke petani yang lain, sehingga terjadi proses difusi inovasi penyuluhan. Hal utama dari sasaran kegiatan penyuluhan sebenarnya tidak hanya petani melainkan bersama keluarganya, hal ini sangat sesuai dengan definisi-definisi penyuluhan yang pernah dikemukakan beberapa ahli bahwa kegiatan penyuluhan adalah kegiatan pemberdayaan petani dan keluarganya serta masyarakat secara luas agar mampu menolong dirinya dalam mensejahterakan dirinya.
B. Penetapan Tujuan Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan pertanian bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani tentang pembuatan dan aplikasi pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) tujuan penyuluhan ditetapkan berdasarkan kaidah SMART dengan responden yaitu kelompok tani tolo pungga dan kondisi yang diharapkan yaitu tingkat pengetahuan petani tentang pembuatan dan aplikasi pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L.) dengan dilaksanakan penyuluhan maka
68
tingkat pengetahuan petani yaitu 79,2% yang didapatkan melalui hasil post-test.
Maka tujuan penyuluhan ditetapkan berdasarkan kaidah SMART:
a) Specific : penyuluhan mengenai pembuatan dan Pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah
b) Measurable : Tingkat pengetahuan petani mengenai pembuatan dan Pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah yang diukur dengan menggunakan kuesioner.
c) Actionary : 79,2% petani mengetahui pembuatan dan Pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah.
d) Realistic : pembuatan dan Pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dengan cara pengaplikasian yang tidak sulit.
e) Time Frime : petani dapat mengetahui cara pembuatan serta pengaplikasian pupuk kompos dari kotoran ternak sapi pada tanaman bawang merah
Dengan dilaksanakannya penyuluhan kepada petani mengenai pembuatan dan Pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah sehingga meningkatkan pengetahuan petani sebesar 79,2% hal tersebut teraksud dalam kategori tinggi yang artinya para petani sudah bisa membuat dan mengaplikasikan pupuk kompos pada tanaman bawang merah.
C. Penetapan Materi Penyuluhan
Materi yang diberikan pada kegiatan penyuluhan adalah Pembuatan dan pengamplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L.). Hasil kajian terbaik dari Pupuk kompos kotoran sapi ditentukan berdasarkan data rata-rata produksi tertinggi, hasil kajian terbaik yaitu pada dosis pemberian 1 kg dengan waktu pemberian U2. Materi penyuluhan yang disampaikan disusun dalam bentuk sinopsis yang berisikan materi secara
69
singkat dan sistematis. Materi penyuluhan yang disampaikan diharapkan sesuai dengan kebutuhan petani dan mengatasi permasalahan yang dihadapi petani serta dapat menjadi informasi bagi petani agar menggunakan pupuk kompos dari kotoran sapi dalam melakukan budidaya tanaman bawang merah.
D. Penetapan Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan dilakukan dengan cara pendekatan kelompok yaitu metode ceramah, diskusi dan demonstrasi hasil. Metode penyuluhan yang dipilih harus sesuai dengan keadaan lingkungan setempat, Menetapkan metode yang tepat merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan kegiatan penyuluhan. Jadi pemilihan metode harus sesuai dengan keadaan. Sebelum menetapkan metode penyuluhan maka harus mempertimbangkan faktor dalam penetapan metode penyuluhan seperti karakteristik sasaran, karakteristik penyuluh, karakteristik keadaan daerah, materi penyuluhan, sarana dan biaya, serta kebijakan pemertintah. Faktor-faktor tersebut dapat diketahui saat melaksanakan IPW. Penetapan metode ini Setelah melakukan IPW mulai keadaan wilayah, usia kelompok tani yang berusia 25 – 60 tahun dan tingkat pendidikan rata-rata SD hingga SMA sehingga dapat menentukan metode sesuai apa yang dapat digunakan ketika penyuluhan. Berdasarkan hasil pertimbangan, metode yang digunakan yaitu diskusi, ceramah dan demostrasi hasil. Metode tersebut dipilih karena petani yang mayoritas berusia dewasa sehingga materi akan lebih mudah diterapkan jika terjadi diskusi secara interaktif. Dengan adanya metode tersebut, diharapkan inovasi atau informasi yang diperoleh dari kegiatan penyuluhan lebih mudah dan lebih lama diingat oleh petani.
Pemilihan metode diskusi, ceramah dan demostrasi hasil ini membuat pemateri lebih akrab dengan sasaran, karena metode ini dinilai lebih komunikatif.
Metode diskusi dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan
70
menciptakan hubungan akrab dengan sasaran, serta memberikan pemahaman yang lebih mudah.
E. Penetapan Media Penyuluhan
Media penyuluhan yang digunakan adalah folder, video dan benda sesungguhnya. Pemilihan folder agar dapat meringkas materi secara lengkap, sehingga padat dan jelas dan mudah dibaca dan dipahami pada saat penyampaian dengan metode ceramah. Folder dapat disimpan sebagai pengingat dalam jangka waktu yang panjang. Media dalam bentuk video digunakan untuk membantu sasaran agar lebih fokus dan memahami materi yang telah disampaikan yaitu para petani bisa melihat melalui tanyangan video proses pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi serta cara pengaplikasiannya. Sedangkan media benda sesungguhnya yang digunakan yaitu Pupuk kompos kotoran sapi yang telah dibuat sebelumnya agar sasaran dapat melihat secara langsung bagaimana bentuk dari pupuk kompos yang sudah diolah dari kotoran sapi yang belum memiliki nilai guna menjadi pupuk kompos yang bernilai guna baik untuk tanaman.
F. Kuisioner
Kuisioner adalah daftar pertanyaan yang akan diberikan kepada responden secara langsung. Kuisioner merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian yang dimana terdiri dari serangkaian pertanyaan untuk mengumpulkan informasi dari responden. Yang dimana kuisioner ini akan dibagikan setelah dilakukannya penyuluhan dimana penyuluh telah menyampaikan materi tentang cara pembuatan dan pengaplikasian pupuk kandang kompos kotoran sapi, kuesioner ini bertujuan untuk melihat tingkat pengetahuan petani dari materi yang telah disampaikan sebelumnya. Kuesioner dapat dilihat pada lampiran 13.
G. Menetapkan Evaluasi Penyuluhan 1) Skala Pengukuran
71
Skala pengukuran evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dalam instrumen evaluasi yaitu skala Guttman. Skala ini memiliki alternatif jawaban “ya” dan “tidak” karena digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas dan tegas. Dimana “Ya” bernilai 1 dan “Tidak” bernilai 0.
2) Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan dengan Software SPSS 25, untuk menguji 20 butir soal untuk mengetahui valid atau tidaknya soal tersebut. Soal dikatakan valid apabila nilai R hitung > R tabel.
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Berdasarkan hasil uji validitas aspek pengetahuan, pada kuisioner ini diketahui bahwa R tabel = 0,444 dengan jumlah responden 20 dan probabilitas 0,05 setelah diketahui bahwa soal yang valid ada 19 dari total 20 soal.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah derajat konsistensi instrumen yang bersangkutan.
Suatu instrumen dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Suatu variabel dikatakan reliabel atau handal jika jawaban terhadap pernyataan selalu konsisten. Berdasarkan hasil uji relibialitas menggunakan SPSS dapat dikatakan bahwa 20 item pernyataan pada aspek pengetahuan semuanya masuk dalam kriteria reliabel. Pada uji reliabilitas dibilang reliabel, Apabila nilai “Cronbach's Alpha” lebih (>) dari 0,60. Sehingga dinyatakan reliabel, sejalan dengan (Ghozali, 2011: 3 dalam Andreas Aldo G., HP. Sunardi, 2016) mengatakan jika suatu variabel lebih dari 0,60, maka suatu variabel bisa dikatakan baik/reliabel, dapat dilihat pada Lampiran 15.
72