• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyuluhan pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L) di desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Penyuluhan pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L) di desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PENYULUHAN PEMANFAATAN PUPUK KOMPOS KOTORAN SAPI PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

DI DESA KARA KECAMATAN BOLO KABUPATEN BIMA

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

IKA RAHMAWATI NIRM. 04.01.18.057

POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN MALANG BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

KEMENTRIAN PERTANIAN 2022

(2)

TUGAS AKHIR

PENYULUHAN PEMANFAATAN PUPUK KOMPOS KOTORAN SAPI PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

DI DESA KARA KECAMATAN BOLO KABUPATEN BIMA

Diajukan sebagai syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P)

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

IKA RAHMAWATI NIRM. 04.01.18.057

POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN MALANG BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

KEMENTRIAN PERTANIAN 2022

(3)

i

HALAMAN PERUNTUKAN

Yang utama dari segalanya

Puji dan syukur kepada allah SWT yang masih memberikan saya kesempatan untuk merasakan kehidupan di dunia ini dan saya bisa merasakan suka duka serta kebahagiaan yang saya alami sampai detik ini, semoga perjalanan saya di

dunia ini senantiasa diridhoi oleh Allah SWT.

Teruntuk Muma dan Mama

Terima kasih karna selalu ada untuk anakmu ini. Terima kasih atas nasehat yang telah muma dan mama berikan kepada anakmu. Kupersembahkan karya kecil ini

untuk Muma dan Mamaku tercinta yang tidak pernah berhenti memberi semangat, doa, motivasi, cinta serta pengorbanan yang luar biasa hingga aku

kuat menjalani setiap rintangan dalam hidup.

Teruntuk Keluarga Besarku

Untuk keluarga besarku nenek, Kakek, kakak, adik, bibi, paman dan keponakan, tiada yang paling mengharukan ketika kumpul bersama kalian, nasehat-nasehat yang diberikan menjadikan motivasi untuk ku semangat untuk terus berusaha agar menjadi orang yang sabar dalam menjani kehidupan. Terima kasih atas doa

dan dukungan yang kalian berikan, hanya karya kecil ini yang dapat aku persembahkan.

Dosen Pembimbing

Bapak Dr. Acep Hariri, SST,. M.Si dan Ibu Rika Despita, SST, MP. selaku dosen pembimbing, terima kasih banyak, atas bimbinganya saya sudah dibantu selama ini, diajari dan dinasehati. Saya tidak akan lupa atas bantuan dan kesabaran dari

Bapak dan Ibu, terima kasih.

Teruntuk Teman-teman

Terima kasih atas bantuan doa, nasihat, dukungan dan hiburan serta semangat yang kalian berikan selama di tanah rantau. Untuk Keluarga kedua ku Gempur, meli, yuni, yayu, mega, dan teman seperjuangan ku di polbangtan malang kalian

semua luar biasa, dan teman-teman Kelas Pertanian B. Terima kasih untuk empat tahun ini semoga silaturahmi kita tetap selalu terjaga

Dan semua pihak yang turut membantu baik secara moril maupun materi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

(4)

iii

(5)

iii

(6)

iii

(7)

v RINGKASAN

Ika Rahmawati, Nirm. 04.01.18.057. Penyuluhan Pemanfaatan Pupuk Kompos Kotoran Sapi Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Komisi Pembimbing: Dr. Acep Hariri, SST., MSi dan Rika Despita, SST, MP.

Tujuan penelitian ini antara lain: 1) mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah akibat pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi, 2) menyusun rancangan penyuluhan tentang pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi, 3) mengetahui tingkat pengetahuan petani tentang pemberian pupuk kompos kotoran sapi pada pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

Penelitian ini dilakukan di Desa Kara, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, pada bulan Maret sampai Juli 2022. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen. Pada data pengamatan dianalisis secara statistika menggunakan analisis of variant (Anova) dan di lanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%.

Penyusunan rancangan penyuluhan dilakukan dengan metode tahapan, sedangkan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani menggunakan analisis statistik deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) hasil dari pengamatan terdapat beda nyata pada pertumbuhan tanaman bawang merah dari parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat basah dan berat kering yang dimana pada dosis 1 kg/petak dengan waktu pemberian U2 memberikan hasil terbaik dari semua parameter pengamatan. Dengan hasil produksi rata-rata 66,26 gr/rupun, 2) Rancangan penyuluhan kelompok tani tolo pungga di desa kara dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani tentang materi dalam pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah dengan sasaran 20 orang anggota Kelompok Tani Tolo Pungga Desa Kara Metode penyuluhan yang digunakan adalah ceramah dan diskusi serta demonstrasi hasil. Media yang digunakan adalah folder, dan video dan benda sesungguhnya. Evaluasi yang digunakan adalah kuisioner tertutup dengan skala guttman, 3) Tingkat pengetahuan petani tentang pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah menunjukkan bahwa mayoritas petani mengetahui pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos kotoran sapi dengan capaian hasil evaluasi sebesar 79,2% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan responden termasuk dalam kategori tinggi.

Kata Kunci: bawang merah, dosis pupuk, kompos, kotoran sapi

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat, taufik dan Hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan dengan judul “Penyuluhan Pemanfaatan Pupuk Kompos Kotoran Sapi Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.” Laporan tugas akhir ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan (S. Tr. P). dalam penulisan laporan tugas akhir ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Acep Hariri, SST., M.Si selaku Dosen Pembimbing I, 2. Rika Despita, SST, MP. selaku Dosen Pembimbing II,

3. Dr. Eny Wahyuning Purwanti., SP, MP, selaku Ketua Jurusan sekaligus Ketua Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan,

4. Dr. Setya Budhi Udrayana, S.Pt., M.Si., selaku Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, dan

5. semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir Ini.

Semoga bimbingan serta motivasi yang diberikan dapat menjadi amal disisi-Nya. Penulis berharap adanya laporan tugas akhir ini dapat menjadi bermanfaat baik untuk penulis maupun bagi orang lain, yang akan melakukan kajian dibidang yang sama.

Malang, Agustus 2022

Penulis

(9)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN PERUNTUKAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS TA... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... iii

RINGKASAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL... ix

DAFT AR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan ... 6

1.4 Manfaat…... ... ……6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... ……8

2.1 Penelitian Terdahulu ... ……8

2.2 Landasan Teori ... ……11

2.2.1 Tanaman Bawang merah………..11

2.2.2 Morfologi Tanaman Bawang Merah... ……12

2.2.3 Bawang Merah Varietas Super Philip... ……14

2.2.4 Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah ... ……14

2.2.5 Petunjuk Teknis Budidaya Bawang Merah... 15

2.2.6 Pupuk Kompos ... ……19

2.2.7 Aspek Penyuluhan... 22

2.2.8 Pengetahuan ... ……32

2.3 Kerangka Pikir... 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 36

3.1 Lokasi dan Waktu ... 36

3.2 Metode Kajian ... 36

3.2.1 Rancangan Kajian ... 37

3.2.2 Alat dan Bahan ... 38

3.2.3 Pelaksanaan Kajian... 38

3.2.4 Parameter Pengamatan ... 45

(10)

viii

3.2.5 Definisi OPerasional... 46

3.2.6 Analisis Data... 46

3.3 Metode Perancangan Penyuluhan... 47

3.3.1 Penetapan Sasaran... 48

3.3.2 Penetapan Tujuan ... 48

3.3.3 Penetapan Materi ... 48

3.3.4 Penetapan Metode ... 50

3.3.5 Penetapan Media ... 50

3.3.6 Penetapan Evaluasi ... 50

3.4 Metode Implementasi/Uji Coba Rancangan Penyuluhan ... 51

3.4.1 Persiapan ... 51

3.4.2 Pelaksanaan... 51

3.4.3 Evaluasi ... 52

BAB VI HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN ... 54

4.1 Hasil analisis kajian ... 54

4.1.1 Tinggi Tanaman (cm) ... 54

4.1.2 Jumlah daun (helai) ... 56

4.1.3 Jumlah umbi ... 58

4.1.4 Berat basah dan Berat kering ... 59

4.1.5 Perlakuan Terbaik ... 61

BAB V PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI... 62

5.1 Perancangan Penyuluhan... 62

5.2 Implementasi ... 72

5.3 Evaluasi ... 75

BAB VI PEMBAHASAN DAN DISKUSI ... 76

6.1 Pembahasan Hasil Implementasi dan Evaluasi Penyuluhan ... 76

6.2 Rencana Tindak Lanjut ... 82

BAB VII PENUTUP ... 83

7.1 Kesimpulan... 83

7.2 Saran ... 84

DAFT AR PUSTAKA ... 85

LAMPIRAN... 90

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

1. Penelitian Terdahulu ... 8

2. Tabel Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu ... …10

3. Deskripsi bawang merah varietas Super Philip ... 14

4. Komposisi Kotoran sapi ... 21

5. Jenis media dan contohnya ... 29

6. Parameter pengamatan ... 45

7. Rata-rata tinggi tanaman bawang merah ... 54

8. Rata-rata jumlah daun tanaman bawang merah ... 57

9. Rata-rata jumlah umbi bawang merah ... 58

10. Berat basah dan berat kering ... 59

11. Penggunaan lahan desa kara ... 62

12. Karakteristik lahan dan iklim desa kara ... 63

13. Jumlah penduduk berdasarkan umur ... 63

14. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan ... 64

15. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pekerjaan ... 64

16. Kelembagaan Petani ... 65

17. Karakteristik sasaran ... 66

18. Klasifikasi umur petani ... 76

19. Pendidikan formal petani... 77

20. Lama berusaha tani... 78

(12)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman 1. Kerangka Pikir ... 35 2. Denah rancangan percobaan ... 37

(13)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

1. Jadwal palang tugas akhir ... 91

2. Uji normalitas tinggi tanaman ... 92

3. Hasil analisis anova pada tinggi tanaman ... 96

4. Hasil DMRT pada tinggi tanaman... 100

5. Uji normalitas jumlah daun ... 105

6. Hasil analisis anova pada jumlah daun ... 109

7. Hasil DMRT pada jumlah daun... 113

8. Uji normalitas jumlah Umbi ... 118

9. Hasil analisis anova hasil tanaman bawang merah ... 120

10. Hasil DMRT pada hasil tanaman bawang merah ... 122

11. Hasil kajian terbaik ... 125

12. Media penyuluhan ... 126

13. Lembar Kuesioner... 127

14. Hasil uji validitas kuesioner... 130

15. Hasil uji reliabilitas kuesioner... 131

16. Data diri sasaran penyuluhan ... 132

17. Tabulasi data kuesioner... 133

18. Uji validitas kuesioner penyuluhan... 134

19. Rekapitulasi hasil kuesioner ... 135

20. Matriks penetapan metode penyuluhan ... 136

21. Penetapan media penyuluhan ... 137

22. Lembar persiapan menyuluh (LPM) ... 139

23. Sinopsis ... 140

24. Berita Acara ... 143

25. Daftar hadir ... 144

26. Dokumentasi... 145

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). merupakan tanaman asli yang dibudidayakan oleh masyarakat khususnya di Indonesia. Sentra produksi bawang merah di Indonesia adalah pulau jawa dengan total produksi sebesar 956.652 ton atau sekitar 77,53% dari total produksi bawang merah nasional. Provinsi Jawa Tengah merupakan penghasil bawang merah terbesar, dengan produksi sebesar 519.356 ton atau sekitar 42,09% dari total produksi bawang merah nasional, diikuti Jawa Timur dan Jawa Barat. Untuk luar Jawa, Provinsi penghasil bawang merah terbesar ialah Nusa Tenggara Barat, dengan produksi sebesar 117.513 ton atau sekitar 9,52% dari total produksi bawang merah nasional, diikuti oleh Sumatera Barat (Sekretaris Direktorat Jendral Holtikultura, 2015:144 dalam Rima Setiani, Djoko Mulyono dan Nurmalinda.

2018).

Kabupaten Bima merupakan salah satu sentra produksi di NTB ditetapkan pemerintah menjadi kawasan pengembangan bawang merah. Bima adalah kabupaten di ujung Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu komoditi unggulan pada sektor pertanian di Kabupaten Bima adalah bawang merah. Sebagian besar produksi bawang merah NTB tersebut atau sebesar 73.35 persen disumbangkan oleh Kabupaten Bima yang memiliki produksi sebesar 136.292,4 ton dengan luas panen sebesar 12.028 hektar (BPS NTB, 2020).

Bawang merah adalah komoditas strategis di Indonesia. Bawang merah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti bumbu masak, obat-obatan dan industri. Bawang merah dibutuhkan oleh masyarakat setiap hari (Rika despita, dkk. 2020: 173). Dalam rangka memenuhi kebutuhan permintaan bawang

(15)

merah setiap tahun untuk dikonsumsi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk untuk memenuhi kebutuhan, maka produksi dan mutu hasil bawang merah harus selalu ditingkatkan. Untuk mencukupi kebutuhan konsumsi maka dilakukan peningkatan produksi bawang merah yaitu dengan memperbaiki kultur teknis, ekstensifikasi dan intensifikasi dalam budidaya bawang merah. Saat ini petani lebih cenderung memilih menggunakan pupuk kimia dari pada pupuk organik. Hal ini dikarenakan kandungan pupuk kimia lebih tinggi sehingga pengaruhnya lebih cepat terlihat, sedangkan pupuk organik pengaruhnya lebih lambat. Sehingga membuat petani lebih memilih menggunkan pupuk kimia.

(Lestari.AP, Sarma S, dan Elly Indraswari. 2010:10 dalam Rohima Nasution, dkk. 2016). Menyatakan Usaha pertaniaan yang mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan bekelanjutan hingga ke masa sekarang telah banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan, tidak hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan-bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia kedalam tubuh manusia dan lingkungan. Sesuatu yang sulit dilakukan untuk kembali ke sistem bertani secara alami pada keadan penduduk berlimpah dan kepemilikan lahan yang sempit. Oleh karena itu diperlukan sistem pertanian alternatif yang bersifat berkelanjutan dan akrab lingkungan.

Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan pupuk kompos.

Sehingga penggunaan pupuk kompos diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi bawang merah melalui perbaikan sifat fisik,

(16)

kimia, dan biologis tanah. Dampak dari pemupukan yang efektif akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang optimal dan meningkatkan produksi tanaman, oleh sebab itu tanaman harus diberikan unsur hara yang tepat.

Pupuk kompos yang berasal dari kotoran ternak sangat beragam di antaranya: kotoran sapi, kotoran kambing, kotoran domba, kotoran kuda, kotoran kerbau, dan kotoran ayam. Fungsi pupuk kompos antara lain memperbaiki struktur tanah, merupakan sumber hara makro dan mikro bagi tanaman, menambah kemampuan tanah dalam menahan air, menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara (melepas hara sesuai kebutuhan tanaman) dan sumber energi bagi mikroorganisme (Setiawan, 2014:95 dalam Saifullah. 2019). Jenis pupuk kompos kotoran ternak yang digunakan dalam penelitian adalah pupuk kompos kotoran sapi. Pemberian pupuk kompos dari kotoran sapi memberikan pengaruh positif terhadap sifat fisik, dan kimiawi tanah, dapat mendorong perkembangan jasad renik. Pupuk kompos baik digunakan karena tidak merusak lingkungan, tidak memerlukan biaya yang banyak, proses pembuatan yang mudah dan tidak sulit ditemukan. Bahan organik (kompos) merupakan salah satu unsur pembentuk kesuburan tanah dan untuk menghasilkan tanah yang subur, maka perlu ditambahkan bahan organik.

(Budirman Bachtiar dan andi Hamka Ahmad, 2019: 69).

Kotoran sapi merupakan salah satu bahan potensial untuk membuat pupuk kompos (Budiayanto, 2011:26 dalam Sholihul Huda, Wiwik Wikanta.

2017). Satu ekor sapi setiap harinya menghasilkan kotoran berkisar 8 – 10 kg per hari atau 2,6 – 3,6 ton per tahun atau setara dengan 1,5-2 ton pupuk organik sehingga akan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan mempercepat proses perbaikan lahan. Potensi jumlah kotoran sapi dapat dilihat dari populasi sapi yang ada di desa kara yaitu sebanyak 420 ekor sapi. Populasi sapi potong di Indonesia diperkirakan 10,8 juta ekor dan sapi perah 350.000 - 400.000 ekor

(17)

dan apabila satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering maka kotoran sapi kering yang dihasilkan di Indonesia sebesar 78,4 juta kilogram kering per hari. (Budiyanto, 2011:27 dalam Sholihul Huda, Wiwik Wikanta. 2017).). Unsur hara yang terdapat dalam kotoran sapi mengandung unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium (Affandi, 2008:302 dalam Rusdi Marsuhendi, dkk. 2021) tiap kotoran sapi memiliki kandungan unsur hara yang berbeda selain itu pupuk dari kotoran sapi memiliki kandungan serat yang tinggi. Sehingga kotoran sapi tidak dianjurkan untuk diaplikasikan dalam bentuk segar, perlu pematangan atau pengomposan terlebih dahulu, apabila pupuk diaplikasikan tanpa pengomposan akan terjadi perebutan unsur N antara tanaman dengan proses dekomposisi kotoran.

Desa Kara adalah salah satu desa dari 14 desa yang ada dikecamatan Bolo Kabupaten Bima, dengan penduduk desa kara sendiri bermata pencarian rata-rata sebagai petani dan peternak untuk penduduk desa kara sendiri memiliki sapi dengan jumlah 420 ekor sapi, selain itu petani di desa kara memiliki lahan pertanian yang sangat mendukung untuk melakukan budidayakan tanaman bawang merah akan tetapi banyak petani yang belum mengetahui penggunaan pupuk kompos bagi tanaman. Dikarena para petani di Desa Kara sendiri hanya menggunakan pupuk anorganik sebagai pupuk untuk tanaman mereka maka dari itu mereka banyak tergantung untuk menggunakan pupuk anorganik disamping itu pula harga dari pupuk anorganik yang mahal dan kelangkaan akan adanya pupuk anorganik sehingga banyak petani di Desa Kara mengeluh akan hal tersebut. Dikarenakan pupuk adalah sumber untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan oleh tanaman sehingga tanaman mampu tumbuh dan berproduksi. Selain itu para petani di Desa Kara sendiri memiliki potensi limbah kotoran sapi yang belum termanfaatkan dengan baik karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman manfaat dari kotoran sapi sehingga mereka

(18)

hanya membuangnya begitu saja hal tersebut sangat disayangkan karena dapat mencemari lingkungan.

Dari kurangnyanya pengetahuan dan pemahaman dari petani yang ada di Desa Kara tentang pemanfaatan kotoran sapi yang dapat dijadikan pupuk kompos yang dimana Desa Kara memiliki potensi limbah kotoran sapi yang belum dimanfaatkan sehingga saya ingin para petani menggunakan pupuk organik yang terbuat dari kotoran sapi, selain itu penggunaan pupuk organik juga dapat membantu menyeimbangkan unsur hara yang ada dalam tanah akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan yang mengakibatkan dampak negatif bagi tanah maupun tanaman. Sehingga perlu adanya penyeimbangan unsur hara dalam tanah yaitu dengan menggunakan pupuk kompos selain baik buat lingkungan juga baik untuk tanah karena dapat memperbaiki unsur hara dalam tanah akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah tersebut perlu adanya tindak lanjut mengenai manfaat pemberian pupuk Kompos kotoran sapi pada tanaman Bawang Merah, sehingga mendorong penulis untuk mengambil judul Penyuluhan Peanfaatan Pupuk Kompos Kotoran Sapi Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah akibat pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi?

2. Bagaimana menyusun rancangan penyuluhan tentang pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi?

3. Bagaimana tingkat pengetahuan petani tentang pemberian pupuk kompos

(19)

kotoran sapi untuk pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah akibat pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi.

2. Menyusun rancangan penyuluhan tentang pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi.

3. Menganalisis tingkat pengetahuan petani tentang pemberian pupuk kompos kotoran sapi pada pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah di Desa Kara Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

1.4. Manfaat

1. Bagi mahasiswa

a. Meningkatkan pengetahuan tentang Pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi pada tanaman bawang merah.

b. Sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Terapan dari Polbangtan Malang

2. Bagi institusi

a. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi acuan atau referensi bagi mahasiswa lain yang akan melakukan kajian dibidang yang sama.

b. Memperkenalkan kampus Polbangtan Malang kepada masyarakat sebagai institusi pendidikan yang memberikan pengabdian kepada masyarakat.

3. Manfaat bagi petani

1. Hasil kajian dari pemanfaatan pupuk kompos kotoran sapi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah.

(20)

2. Meningkatkan pengetahuan petani dalam memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk kompos yang dapat meningkatkan unsur hara mikro dan makro dalam tanah yang baik untuk tanaman dan ramah lingkungan.

(21)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitan terdahulu digunakan sebagai acuan dan sebagai bahan perbandingan. Untuk menghindari anggapan kesamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu, penulis mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu tersaji pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Nur Hafizah,

Rabiatul Mukarramah (2017)

Aplikasi Pupuk Kandang Kotoran Sapi Pada

Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.) Di Lahan Rawa Lebak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kotoran sapi nyata berdampak pada jumlah cabang, jumlah buah, berat tanaman buah cabai rawit di tanah

lada di lahan basah berawa. Dosis kotoran sapi terbaik dalam penelitian ini setara dengan 20 ton.ha-1 hingga 80 g.polybag-1 (p2).

2. zalna, Abd.Hadid, dan Muhardi (2018)

Respon

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kangkung (Ipomea reptans Poir) Terhadap

Pemberian Pupuk Organik Bokashi Kotoran Sapi

Hasilnya menunjukan bahwa pupuk organik bokashi kotoran sapi berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung pada semua parameter yang diamati, kecuali pada pengamatan tinggi tanaman umur 20 hst dan pengamatan jumlah daun pada umur 20 hst. Perlakuan pupuk bokashi dengan dosis 30 ton/ha memberikan pertumbuhan yang tertinggi pada semua parameter pengamantan, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk bokashi 22,5 ton/ha.

3. Fransiska Renita Anom Bersaudari dan Arif Yudo Krisdianto (2020)

Pengaruh dosis pupuk dan jarak tanam pada Budidaya Bawang Merah di Luar Musim Tanam di Desa Klaigit

Kabupaten Sorong

Penelitian menggunakan jarak tanam adalah 20x20 cm, 20x15 cm, dan 15x15 cm. Dosis pupuk kandang yang direkomendasikan (NPK 500 kg/ha), pupuk rekomendasi + pupuk kandang 10 ton/ha; pupuk rekomendasi + pupuk kandang 15 ton/ha; dan pupuk kandang (10 ton/ha).

(22)

Lanjutan tabel 2.1 penelitian terdahulu

3. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik bawang merah, jarak tanam ideal digunakan adalah 15x15 cm dengan dosis pupuk yang disarankan hanya menggunakan pupuk kandang saja. Selain itu juga dapat menggunakan kombinasi jarak tanam 20x20 cm dengan dosis pupuk NPK 500 kg/ha dan pupuk kandang 10 ton/ha atau hanya menggunakan pupuk kandang saja

4. A.

Indriyana, Yafizham dan

Sumarsono (2020)

Pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium

ascalonicum L.) akibat pemberian pupuk kandang sapi dan pupuk hayati

Penelitian ini menggunakan percobaan factorial RAL dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pupuk kandang sapi 0 ton/ha, 10 ton/ha, dan 20 ton/ha. Faktor kedua adalah pupuk hayati 0 ml/l, 10 ml/l, 20 ml/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh nyata (p<0,05) meningkat setiap dosis 10 ton/ ha terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun.

5. Yuliana Mading, Dian

Mutiara, dan Dewi

Novianti (2021)

Respons Pertumbuhan

Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Terhadap Pemberian Kompos Fermentasi Kotoran Sapi

rancangan acak lengkap (RAL), dengan 6 perlakuan 4 ulangan.

Dosis pupuk yang digunakan adalah P0 (tanpa pemberian kompos), P1 (200 gram kompos), P2 (300 gram kompos), P3 (400 gram kompos), P4 (500 gram kompos), P5 (600 gram kompos).

Hasilnya menunjukan bahwa kompos berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman mentimun, akan tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang tanaman mentimun dan perlakuan terbaik pada P5 (600 gram kompos) untuk semua parameter.

(Sumber: Penelitian Terdahulu, 2022)

(23)

Berdasarkan penelitian terdahulu yang digunakan terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu tersaji pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu

No Judul dan Peneliti Perbedaan

1. Nur Hafizah, Rabiatul Mukarramah (2017) Aplikasi Pupuk Kandang Kotoran Sapi Pada Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.) Di Lahan Rawa Lebak

Lokasi penelitian, tujuan Dosis pupuk organik

2. zalna, Abd.Hadid, dan Muhardi (2018), Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kangkung (Ipomea reptans poir) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Bokashi Kotoran Sapi

Lokasi penelitian, tujuan Rancangan penelitian yang digunakan

Dosis pupuk organik 3. Fransiska Renita Anom Bersaudari

dan Arif Yudo Krisdianto (2020), Pengaruh dosis pupuk dan jarak tanam pada Budidaya Bawang Merah di Luar Musim Tanam di Desa Klaigit Kabupaten Sorong

Lokasi penelitian, tujuan Dosis pupuk organik

4. A. Indriyana, Yafizham dan Sumarsono (2020), Pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) akibat pemberian pupuk kandang sapi dan pupuk hayati

Lokasi penelitian, tujuan Dosis pupuk organik

5. Yuliana Mading, Dian Mutiara, dan Dewi Novianti (2021), Respons Pertumbuhan Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Terhadap Pemberian Kompos Fermentasi Kotoran Sapi.

Lokasi penelitian, tujuan Rancangan penelitian yang digunakan

Dosis pupuk organik (Sumber : Perdedaan Penelitian Terdahulu, 2022)

Berdasarkan hasil referensi penelitian terdahulu tersebut, terdapat beberapa persamaan kajian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu bahan yang digunakan berupa tanaman bawang merah, serta terdapat parameter yang diukur berupa tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat basah dan berat kering. Selain itu terdapat perbedaan kajian yang dilakukan oleh peneliti yaitu tujuan penelitian, waktu penelitian, lokasi penelitian, dosis pupuk, dan tanaman yang digunakan.

(24)

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Tanaman Bawang merah (Allium ascalonicum L.)

Bawang merah termasuk dalam genus Allium yang paling populer dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, selain bawang putih dan bawang bombay.

Bawang merah merupakan tanaman di dataran rendah yang tumbuh tegak dan tinggi dapat mencapai 15-50 cm, membentuk rumpun dan merupakan tanaman semusim. Perakaranya berupa akar serabut yang tidak panjang dan tidak terlalu dalam bawang merah merupakan tanaman semusim yang berbentuk rumput, tertanam di tanah (Prayitno, 2015:8). Bentuk daun tanaman bawang merah seperti pipa, yakni bulat kecil memanjang antara 50-70 cm, berlubang, bagian ujungnya meruncing, berwarna hijau muda sampai hijau tua dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek. Pangkal daunnya dapat berubah fungsi seperti menjadi umbi lapis (Hapsoh dan Hasanah, 2011:8).

Tanaman bawang merah mempunyai aroma yang spesifik yang marangsang keluarnya air mata karena kandungan minyak atsiri alliin.

Batangnya berbentuk cakram dan di cakram inilah tumbuh tunas dan akar serabut. Bunga bawang merah berbentuk bongkol pada ujung tangkai panjang yang berlubang di dalamnya. Bawang merah berbunga sempurna dengan ukuran buah yang kecil berbentuk kubah dengan tiga ruangan dan tidak berdaging. Tiap ruangan terdapat dua biji yang agak lunak dan tidak tahan terhadap sinar matahari (Suparman, 2010:8).

Bawang merah merupakan salah satu komoditi hortikultura yang termasuk ke dalam sayuran rempah yang digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah citarasa dan kenikmatan masakan. Di samping itu, bawang merah mengandung senyawa aktif Flavonoid bersifat antiinflamasi atau anti radang sangat berguna membantu penyembuhan radang akibat luka memar, luka bakar, atau radang pada organ tubuh dalam Bawang merah berfungsi

(25)

sebagai antioksidan alami yang dapat menekan efek karsinogenik dari senyawa radikal bebas. Kandungan senyawa aktif dalam umbi bawang merah juga turut berperan dalam menetralkan zat-zat toksin berbahaya, dan membantu mengeluarkannya dari dalam tubuh (I Wayan, R. A. 2019: 2). (Rahayu dan Berlian 2006:1 dalam Yusmalinda dan Ardian, 2017) menyatakan bahwa kandungan gizi setiap 100 g bawang merah yang dikonsumsi terdiri dari: air 88 g, karbohidrat 9,2 g, protein 1,5 g, lemak 0,3 g, vitamin B 0,3 g, vitamin C 2 mg, kalsium 36 mg, besi 0,8 mg, fosfor 40 mg dan menghasilkan energi 39 kalori.

2.2.2 Morfologi Tanaman Bawang Merah

Menurut Rahayu dan Berlian (1999: 7) tanaman bawang merah dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Liliales

Family : Liliaceae Genus : Allium

Spesies : Allium ascalonicum L.

Morfologi fisik bawang merah bisa dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Adapun bagian-bagian dari morfologi tanaman bawang merah meliputi sebagai berikut:

a. Akar

Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15-20 cm, di dalam tanah. Jumlah perakaran tanaman bawang merah dapat mencapai 20-200 akar dengan Diameter akar antara 2-5 mm (AAK, 2004 dalam Cybext, 2021).

(26)

b. Batang

Bawang merah memiliki batang sejati yang berbentuk seperti cakram, tipis, dan pendek sebagai melekatnya akar dan mata tunas, diatas cakram (discus) terdapat batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun dan batang yang berbeda didalam tanah berubah bentuk dan fungsi menjadi umbi lapis (Sudirja, 2007 dalam Cybext, 2021).

c. Daun

Daun bawang merah berbentuk silindris kecil memanjang antara 50-70 cm, berlubang dan bagian ujungnya runcing berwarna hijau muda sampai tua, dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek (Sudirja, 2007 Cybext, 2021).

d. Bunga

Bunga bawang merah keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya antara 30-90 cm, dan diujungnya terdapat 50-200 kuntum bunga yang tersusun melingkar seolah berbentuk payung. Tiap kuntum bunga terdiri atas 5-6 helai daun bunga berwarna putih, 6 benang sari berwarna hijau atau kekuning-kuningan, 1 putik dan bakal buah berbentuk hampir segitiga (Sudirja, 2007 Cybext, 2021).

e. Buah dan biji

Buah bawang merah berbentuk bulat dengan ujungnya tumpul membungkus biji berjumlah 2-3 butir. Biji bawang merah berbentuk pipih, berwarna putih, tetapi akan berubah menjadi hitam setelah tua. Biji berwarna merah dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif (Rukmana, 1995 Cybext, 2021).

2.2.3 Bawang Merah Varietas Super Philip

(27)

Bawang merah varietas Super Philip berasal dari Philinine dan memiliki nama asli Philipine dapat diusahakan mulai dari dataran rendah maupun dataran medium pada musim kemarau. Varietas super Philip dapat mulai berbunga 50 hari dan panen umur 60 hari setelah tanam ditandai dengan batang melemas (60%) dengan susut bobot umbi (basah – kering) 22%, serta Jumlah anakannya berpotensi produksi tinggi. Warna umbi merah keunguan. Ukuran umbi sedang (6 – 10 g) dengan jumlah umbi per rumpun 9 – 18 umbi, bentuk umbi bulat, warna daun hijau dan jumlah daun per rumpun 40 – 50 helai. tinggi tanaman yang dimiliki adalah 36-45 cm. Tanah yang diinginkan adalah berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan ph 6 - 6,5, dapat dibudidayakan di lahan sawah, lahan kering atau lahan tegalan, dengan jenis tanah bervariasi dari aluvial, latosol dan andosol Deskripsi bawang merah varietas Super Philip dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Deskripsi bawang merah varietas Super Philip Asal : Introduksi dari Philipine

Umur : mulai berbunga 50 hari, panen (60 % batang melemas) 60 hari

Tinggi tanaman : 36 – 45 cm

Banyaknya anakan : 9 – 18 umbi/ rumpun Bentuk daun : silindris, berlubang Banyak daun : 45 – 50 helai/rumpun Warna daun : hijau

Bentuk biji : bulat, gepeng, berkeriput Ukuran umbi : sedang (6 – 10 g)

Warna umbi : merah keunguan

Produksi umbi : 17,60 ton/ha umbi kering

Keterangan : baik untuk dataran rendah maupun dataran medium pada musim kemarau

Sumber: Kementan

2.2.4 Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah

Bawang Merah menyukai daerah yang ber iklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat

tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl).

(28)

1. Iklim

Bawang merah dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi ± 1.100 m (ideal 0-800 m) diatas permukaan laut, tetapi produksi terbaik dihasilkan dari dataran rendah yang didukung keadaan iklim meliputi suhu udara antara 25-32 C dan iklim kering, tempat terbuka dengan pencahayaan ± 70%, karena bawang merah termasuk tanaman yang memerlukan sinar matahari cukup panjang, tiupan angin sepoi-sepoi berpengaruh baik bagi tanaman terhadap laju fotosintesis dan pembentukan umbinya.

Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bawang merah adalah antara 300-2500 mm/tahun. Kelembaban udara (nisbi) untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta hasil produksi yang optimal, bawang merah menghendaki kelembaban udara antara 80-90 persen. Intensitas sinar matahari penuh lebih dari 14 jam/hari, oleh sebab itu tanaman ini tidak memerlukan naungan/pohon peneduh.

2. Tanah

Tanaman bawang merah menghendaki tanah gembur subur dengan drainase baik. Persyaratan tanah untuk bawang merah adalah subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang paling baik yaitu lempung berpasir atau lempung berdebu, pH tanah 5,5 – 6,5 dan drainase serta aerasi tanah baik (http://sultra.litbang.deptan.go.id, 2010).

2.2.5 Petunjuk Teknis Budidaya Bawang Merah 1. Umbi Bibit

Pada umumnya bawang merah diperbanyak dengan menggunakan umbi sebagai bibit. Kualitas umbi bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi rendahnya hasil produksi bawang merah. Penampilan umbi bibit harus

(29)

segar dan sehat, bernas (padat, tidak keriput), dan warnanya cerah (tidak kusam).

Secara umum kualitas umbi yang baik untuk bibit adalah umbi yang berukuran sedang (Stallen dan Hilman 1991 :6 dalam N. Sumarni dan A.

Hidayat, 2005). Umbi bibit berukuran sedang merupakan umbi ganda, rata-rata terdiri dari 2 siung umbi, sedangkan umbi bibit berukuran besar rata-rata terdiri dari 3 siung umbi (Rismunandar 1986 :6 dalam N. Sumarni dan A. Hidayat, 2005).

2. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah pada dasarnya dimaksudkan untuk menciptakan lapisan olah yang gembur dan cocok untuk budidaya bawang merah.

Pengolahan tanah umumnya diperlukan untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah, dan mengendalikan gulma. Pada lahan kering, tanah dibajak atau dicangkul sedalam 20 cm, kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1 meter, tinggi 25 cm, sedangkan panjangnya tergantung pada kondisi lahan. Kondisi bedengan mengikuti arah Timur Barat.

3. Pemupukan Dasar

Setelah lahan selesai diolah, kegiatan selanjutnya adalah pemberian pupuk dasar. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk organik dengan dosis 10 – 20 t/ha. Pemberian pupuk organik tersebut untuk memelihara dan meningkatkan produktivitas lahan.

4. Penanaman

Sebelum umbi bibit bawang merah ditanam, sebaiknya dilakukan pemotongan umbi bibit ½ bagian. Tujuan Pemotongan ujung umbi bibit ini agar umbi dapat tumbuh merata, merangsang pertumbuhan tunas mempercepat tumbuhnya tanaman.

(30)

Umbi bibit ditanam dengan jarak tanam 20 cm (jarak antar barisan) x 20 cm (jarak dalam barisan). Umbi bibit ditanam dengan cara dibenamkan ke dalam permukaan tanah sehingga ujung umbi tampak rata dengan permukaan tanah.

Tidak dianjurkan untuk menanam terlalu dalam, karena umbi mudah mengalami pembusukan.

5. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman bawang merah dilakukan dengan cara penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit agar tanaman terawat dan tumbuh produksi secara optimal. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeliharaan tanaman bawang merah adalah sebagai berikut:

a. Penyiraman

Meskipun tidak menghendaki banyak hujan, tetapi tanaman bawang merah memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya melalui penyiraman.

Penyiraman yang dilakukan pada musim hujan umumnya hanya ditujukan untuk membilas daun tanaman, yaitu untuk menurunkan percikan tanah yang menempel pada daun bawang merah. Pada bawang merah periode kritis karena kekurangan air terjadi saat pembentukan umbi (Splittosser 1979: 242 dalam Zainudin, dkk. 2019). Penyiraman dilakukan pada pagi hari.

b. Penyulaman

Penyulaman adalah mengganti tanaman yang kurang baik dan terserang penyakit. Penyulaman dilakukan pada tanaman yang pertumbuhanya abnormal atau mati sehingga diganti dengan yang baru yang umurnya hampir sama.

Penyulaman dapat dilakukan pada umur tanaman 7 hari setalah tanam bibit tanaman bawang merah digunakan untuk sulaman merupakan bibit cadangan yang telah disiapkan bersamaan dengan bibit produksi dari persemaian.

(31)

Penyulaman dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mati/ kurang baik pertumbuhanya dan diganti dengan tanaman baru pada lubang yang sama.

c. Penyiangan

Penyiangan dilakukkan untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang mengganggu tanaman utamanya, yang dimana gulma ini akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan menjadi saingan dalam penyerapan unsur hara dalam tanah. penyiangan tanaman bawang merah dengan cara manual dilakukan sesuai keadaan gulma di lahan.

d. Pemupukan

Pemupukan susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam. Pupuk diaduk rata dan diberikan disepanjang garitan tanaman.

Pemupukan susulan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam Untuk mencegah kekurangan unsur mikro, Pupuk susulan dapat diberikan pupuk cair (pupuk daun) yang dapat berupa pupuk organik (alam).

e. Hama dan Penyakit

Hama yang menyerang tanaman bawang merah antara lain adalah ulat grayak, Ulat Tanah, Trips, ulat daun, lalat pengorok daun. Sedangkan penyakit tanaman bawang merah adalah penyakit yang dapat menginfeksi tanaman bawang merah diantaranya bercak ungu (Alternaria porri), antraknosa (Colletotrichum gloeosporiodes), layu Fusarium (Fusarium oxysporum), mati pucuk (phytophthora porri), penyakit embun bulu (peronospora destructor), (Udiarto et al. 2005 : 149 dalam Hermanu Triwidodo, Maizul Husna Tanjung, 2020).

6. Pemanenan

Bawang merah dapat dipanen setelah umurnya cukup tua, biasanya pada umur 60 – 70 hari. Tanaman bawang merah dipanen setelah terlihat tanda-tanda 60% leher batang lunak, tanaman rebah, dan daun menguning. Pemanenan

(32)

sebaiknya dilaksanakan pada keadaan tanah kering dan cuaca yang cerah untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi di gudang. Bawang merah yang telah dipanen kemudian diikat pada batangnya untuk mempermudah penanganan.

2.2.6 Pupuk Kompos

Kompos adalah hasil penguraian bahan organik melalui proses biologis dengan bantuan organisme pengurai. Proses penguraian dapat berlangsung secara aerob (dengan udara) maupun anaerob (tanpa bantuan udara). Kompos merupakan unsur hara yang dibuat dari sisa-sisa tanaman atau kotoran hewan.

Pupuk kompos berfungsi sebagai pemberi unsur hara dan untuk memperbaiki struktur tanah kandungan yang terdapat dalam kompos berupa Corganik, Nitrogen bagi tanaman yaitu untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khusus batang cabang, dan daun, nitrogen juga berperan dalam pembentuk hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Hal yang utama dari kotoran sapi adalah kandungan unsur haranya yang penting untuk tanaman yaitu unsur Nitrogen (N), fosfor ( P), dan kalium (K). (Mading, Y, Dian M, dan Dewi N. 2021:13).

Fungsi utama kompos adalah membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara fisik kompos dapat menggemburkan tanah, karena aplikasi kompos pada tanah akan meningkatkan jumlah rongga dalam tanah.

Setidaknya ada empat manfaat, yakni sebagai : (1). Menjaga lingkungan. (2).

Menjaga kualitas air dan tanah. (3). Meningkatkan aktivitas mikroba tanah, (4).

Meningkatkan ketersediaan hara di dalam tanah, (5). Mengembalikan kesuburan tanah. (6). Memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

Pupuk kompos mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan tanaman, baik yang sifatnya makro maupun mikro yang lengkap. Unsur makro yang dibutuhkan tanaman antara lain Unsur hara makro yang terkandung dalam kompos antara lain nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium

(33)

(Mg), belerang (S), sedangkan kandungan unsur mikronya antara lain klor (Cl), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), boron (B) dan molibdenum (Mo).

Setiap pupuk kompos mempunyai kandungan nutrisi dengan komposisi yang berbeda-beda, selain itu Pupuk kompos baik untuk digunakan dalam jangka panjang karena sifatnya menggemburkan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Sementara itu pupuk kimia sintetis walaupun efek reaksinya cepat, secara jangka panjang akan mengeraskan tanah dan mengurangi kesuburannya. Dari sisi lingkungan dan ekosistem, pupuk kompos memicu perkembangan organisme tanah. Tanah yang kaya akan organisme sanggup memberikan nutrisi secara berkelanjutan. Karena aktivitas organisme tanah akan menguraikan sejumlah nutrisi penting bagi tanaman. Sedangkan pupuk kimia sintetis malah membunuh organisme tanah. Sehingga untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman selalu diperlukan penambahan pupuk dalam jumlah yang terus meningkat.

Kotoran sapi merupakan salah satu bahan potensial untuk membuat pupuk kompos, pupuk kompos mempunyai berbagai manfaat yang besar bagi tanah memperbaiki struktur tanah, memperbesar kemampuan zat hara tanah, memperbesar kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air.

Manfaat bagi petani mampu mengurangi biaya produksi dalam mengolah lahan pertanian, mengurangi pencemaran lingkungan. Kotoran sapi adalah limbah hasil pencernaan sapi dan hewan dari subfamili Bovinae lainnya. Kotoran sapi memiliki warna yang bervariasi dari kehijauan hingga kehitaman, tergantung makanan yang dimakannya. Setelah terpapar udara, warna dari kotoran sapi cenderung menjadi gelap (Anonim, 2016: 6 dalam Linus mesasail, dkk.).

Kotoran sapi adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang bersifat padat dan dalam proses pembuangannya sering bercampur dengan urin dan

(34)

gas, seperti metana dan amoniak. Kandungan unsur hara dalam kotoran sapi bervariasi tergantung pada keadaan tingkat produksinya, jenis, jumlah konsumsi pakan, serta individu ternak sendiri (Abdulgani, 1988: 7 dalam Linus mesasail, dkk.). Komposisi kotoran sapi yang umumnya telah diteliti dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel. 2. 4 Komposisi Kotoran Sapi Senyawa Persentase Hemisellulosa 18,6 % Selulosa 25,2 % Lignin 20,2 % Protein 14,9 % Debu 13 % Sumber : Candra, 2012

Penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk tanaman adalah kotoran sapi yang sudah kering dan memiliki bau yang relatif tidak menyengat.

Penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk pada tanaman hampir tidak menimbulkan efek samping sama sekali. Justru penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk sangat disarankan karena kotoran sapi bebas dari zat-zat kimia yang dapat merusak keseimbangan alam, salah satunya kerusakan konstruksi tanah. penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk tanaman sangat disarankan karena kotoran sapi tidak akan merusak konstruksi tanah. Kotoran sapi merupakan limbah dari hewan ternak sapi yang memiliki kandungan unsur hara tinggi dan berguna untuk perkembangan tanaman. Kotoran sapi mengandung serat yang sangat tinggi, di antaranya kandungan selulosa yang tinggi. Kandungan serat tersebut akan meningkat ketika kotoran sapi bercampur dengan air kencing sapi. Akan tetapi, penggunaan kotoran sapi yang relatif masih segar tidak disarankan karena belum mengalami proses fermentasi.

Untuk menggunakan kotoran sapi sebagai pupuk tanaman, kotoran sapi terlebih dahulu harus dibiarkan mengering (terfermentasi) Penggunaan kotoran

(35)

sapi yang masih baru bagi tanaman justru akan mengakibatkan tanaman mati.

Kandungan unsur hara di dalam kotoran sapi bermanfaat besar untuk menutrisi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan lebih optimal. Kotoran sapi mengandung unsur hara berupa nitrogen (N), fosfor (P), dan juga kalium (K).

2.2.7 Aspek Penyuluhan Pertanian 1. Pengertian Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang dapat diartikan bisa menerangi. Penyuluhan adalah suatu proses demokrasi, artinya suatu penyuluhan harus mampu mengembangkan suasana bebas untuk berfikir, berdiskusi, menyelesaikan masalahnya, merencanakan dan bertindak bersama- sama. Penyuluhan adalah proses kontinu, artinya penyuluhan harus dimulai dari keadaan petani pada saat itu ke arah tujuan yang mereka kehendaki, berdasarkan kebutuhan dan kepentingan yang senantiasa berkembang.

Penyuluhan merupakan suatu usaha menyebarluaskan hal-hal yang baru agar masyarakat mau tetarik dan berminat untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari hari. Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan mendidik, memberikan pengetahuan, informasi-informasi, dan kemampuan- kemampuan baru, agar mereka dapat membentuk sikap dan berprilaku hidup menurut apa yang seharusnya.

Penyuluhan pertanian adalah pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal di bidang pertanian agar mereka mampu menolong dirinya sendiri, baik di bidang ekonomi, sosial maupun politik sehingga peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka dapat dicapai

Menurut Undang-undang No 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K), penyuluhan pertanian merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau

(36)

dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Menurut Mardikanto (2009:8) penyuluhan pertanian adalah proses perubahan sosial, ekonomi dan politik yang memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholders (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri dan partisipatif yang semakin sejahtera secara berkelanjutan.

2. Tujuan Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan pertanian mempunyai dua tujuan yang akan dicapai yaitu:

tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka pendek adalah menumbuhkan perubahan-perubahan yang lebih terarah pada usaha tani yang meliputi: perubahan pengetahuan, kecakapan, sikap dan tindakan petani keluarganya melalui pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan berubahnya perilaku petani dan keluarganya, diharapkan dapat mengelola usahataninya dengan produktif, efektif dan efisien (Zakaria, 2006:5 dalam Dedy kusnadi, 2011). Sedangkan Tujuan jangka panjang yaitu meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan kesejahteraan petani yang diarahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usahatani (better business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya (better living).

Prinsip yang digunakan dalam merumuskan tujuan yaitu SMART:

a. Specific (khusus), kegiatan penyuluhan pertanian harus dilakukan untuk memenui kebutuhan khusus.

(37)

b. Measurable (dapat diukur), bahwa kegiatan penyuluhan harus mempunyai tujuan akhir yang dapat diukur

c. Actionary (dapat dikerjakan/dilakukan) yaitu tujuan kegiatan penyuluhan itu harus mampu untuk dicapai oleh para peserta/petani

d. Realistic (realistis), bahwa tujuan yang ingin dicapai harus masuk akal, dan tidak berlebihan, sehingga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki petani.

e. Time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan), ini berarti bahwa dalam waktu yang telah ditetapkan, maka tujuan yang ingin dicapai dari penyelenggaraan penyuluhan ini harus dapat dipenuhi oleh setiap peserta/ petani.

3. Sasaran Penyuluhan Pertanian

Menurut Mardikanto (1993:62), sasaran penyuluhan pertanian sebenarnya adalah mereka yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki peran dalam kegiatan pembangunan pertanian. Mereka dapat dikelompokkan dalam:

a. Sasaran utama penyuluhan pertanian yaitu sasaran penyuluhan yang secara langsung terlibat dalam kegiatan bertani dan pengelolaan usahatani. Termasuk dalam kelompok ini adalah petani dan keluarganya.

b. Sasaran penentu dalam penyuluhan pertanian adalah mereka yang bukan saja pelaksana kegiatan bertanidan berusaha tani, tetapi secara langsug atau tidak langsung terlibat dalam penentuan kebijakan pembangunan pertanian dan menyediakan segala kemudahan yang diperlukan petani untuk pelaksanaan dan pengelolaan usahataninya.

c. Sasaran pendukung penyuluhan pertanian yaitu pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung tidak memiliki hubungan dengan kegiatan pembangunan pertanian, tetapi dapat diminta bantuannya guna

(38)

melancarkan penyuluhan pertanian, misalnya pekerja sosial, seniman (pelakon kesenian tradisional), konsumen hasil-hasil pertanian dan biro iklan

Undang-undang No 16 tahun 2006 tentang SP3K menyatakan bahwa yang paling berhak memperoleh manfaat penyuluhan meliputi sasaran utama dan sasaran antara. Sasaran utama yaitu pelaku utama dan pelaku usaha sedangkan sasaran antara penyuluhan yaitu pemangku kepentingan lainnya (stake holders) yang meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian, perikanan dan kehutanan serta generasi muda dan tokoh masyarakat.

4 Materi penyuluhan pertanian

Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, atau disampaikan. Dalam bidang penyuluhan pertanian materi penyuluhan diartikan sebagai pesan yang akan disampaikan oleh penyuluh kepada sasaran penyuluhan. Isi dari materi penyuluhan ada yang bersifat anjuran (persuasif), larangan (instruktif), pemberitahuan (informatif), dan hiburan (entertaiment). Materi penyuluhan antara lain dapat berbentuk pengalaman misalnya pengalaman-pengalaman petani yang sukses dalam mengembangkan usahataninya, berupa hasil pengujian, keterangan pasar maupun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Materi penyuluhan pertanian harus sesuai dengan kebutuhan sasaran (petani) dengan demikian maka petani akan tertarik perhatiannya dan terangsang untuk memperaktekkannya. Materi penyuluhan, pada hakekatnya merupakan segala pesan yang ingin dikomunikasikan oleh seorang penyuluhan kepada petani. Dengan kata lain, materi penyuluhan adalah pesan yang ingin disampaikan dalam proses komunikasi pembangunan. Pesan yang disampaikan dalam setiap proses komunikasi dapat dibedakan dalam bentuk-bentuk pesan yang bersifat: informatif, persuasif, dan intertaiment. Pada bagian lain juga

(39)

dikemukakan bahwa, pesan yang disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat inovatif yang mampu mengubah terjadinya pembaharuan dalam segala aspek kehidupan petani demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan (Helena T. Pakahan, 2016: 311).

Materi penyuluhan adalah bahan penyuluhan yang akan disampaikan oleh para penyuluh kepada pelaku utama dan pelaku usaha dalam berbagai bentuk yang meliputi informasi, teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum dan kelestarian lingkungan hidup. Selanjutnya dinyatakan bahwa materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan kemanfaatan dan kelestariaan sumber daya pertanian, perikanan dan kehutanan. Materi penyuluhan berisi unsur pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan modal sosial serta ilmu pengetahuan (UU No. 16 Tahun 2006).

Materi yang menarik perhatian para petani tentunya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha perbaikan produksi, perbaikan pendapatan, dan perbaikan tingkat kehidupannya (Kartasapoetra, 1994:311 dalam Helena T. Pakahan, 2016).

5 Metode penyuluhan pertanian

Metode penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai cara atau teknik penyampaian materi penyuluhan oleh para penyuluh kepada para petani beserta keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung, agar mereka tahu, mau dan mampu menerapkan inovasi (teknologi baru) (Helena T. Pakpahan, 2016: 311). Sehubungan dengan hal ini, di dalam setiap penyuluh harus memahami dan mampu memilih metode penyuluhan yang paling baik sebagai suatu cara yang terpilih untuk tercapainya tujuan penyuluhan yang dilakukannya.

(40)

Berdasarkan teknik komunikasi metode penyuluhan dapat dibedakan antara yang langsung (muka ke muka/ face to face communication) dan yang tidak langsung (indirect communication). Metode yang digunakan pada waktu penyuluhan pertanian, penyuluh berhadapan muka dengan sasaran dalam waktu yang relative singkat (Mardikanto 1993:71 dalam Saptya Prawitasari) misalnya pembicaraan di balai desa, di sawah, dalam kursus, demonstrasi dan sebagainnya. Metode secara langsung dianggap lebih efektif, meyakinkan dam mengakrabkan hubungan antara penyuluh dan sasaran serta cepatnya respon atau umpan balik dari sasaran.

Metode penyuluhan pertanian merupakan cara penyampaian materi penyuluhan pertanian kepada pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu mengorganisasikan dirinya sendiri dalam mengakses informasi pasar, teknologi permodalan dan sumber daya lainnya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam melestarikan fungsi lingkungan hidup sebagai satu proses pendidikan, maka keberhasilan penyuluh sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dialami dan dilakukan oleh sasaran penyuluhan.

Metode merupakan cara dan prosedur yang harus ditempuh oleh para penyuluh dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode penyuluhan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) sesuai dengan pendekatan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

a. Pendekatan individu, dalam hal ini penyuluh berhadapan secara langsung maupun tidak langsung dengan petani dan keluarga petani (misalnya anjangsana).

b. Pendekatan kelompok, penyuluh berhubungan dengan kelompok tani maupun sekelompok sasaran (diskusi, temu karya, temu seni dan

(41)

demonstrasi).

c. Pendeketan masal, penyuluh menyampaikan pesan atau informasi kepada sasaran dalam jumlah banyak (pertemuan umum).

6. Media Penyuluhan Pertanian

Kata media penyuluhan berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”, yaitu perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima. Disebutkan pula, media penyuluhan sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi (Muhammad Hasan, dkk, 2021: 129).

Media penyuluhan pertanian adalah segala bentuk benda yang berisi pesan atau informasi yang dapat membantu kegiatan penyuluhan pertanian di lapangan ataupun di rungan. Media penyuluhan pertanian berguna untuk mengefektifkan komunikasi antar sumber informasi dari penerima informasi.

Dalam kegiatan penyuluhan, penyampaian informasi harus dapat dimengerti dengan baik. Media penyuluhan pertanian yaitu sebagai alat bantu penyuluhan pertanian yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan dan dicium dengan maksud untuk memperlancar komunikasi.

Media yang tepat sasaran akan mempermudah tercapainya tujuan.

Keberhasilan suatu kegiatan menggunakan media dapat diukur dengan menilai tingkat efektifitas media yang digunakan oleh masyarakat. Media penyuluhan adalah suatu benda yang dikemas sedemikian rupa untuk memudahkan penyampaian materi kepada sasaran agar sasaran dapat menyerap pesan dengan mudah dan jelas. Dan media penyuluhan pertanian adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan pelaku utama dan pelaku usaha sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri pelaku utama dan pelaku usaha pertanian tersebut.

(42)

Pemilihan media penyuluhan pertanian ini harus dilakukan oleh seorang penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Hal ini dikarenakan penyuluh pertanian harus menggunakan media penyuluhan pertanian yang tepat dan sesuai dengan karakteristik sasaran penyuluhan di wilayah mereka. Media penyuluhan pertanian yang dipilih harus benar-benar efektif untuk menyampaikan materi penyuluhan kepada pelaku utama/petani dan pelaku usaha sebagai sasaran penyuluhan pertanian di wilayah tersebut.

Media dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara, tetapi yang penting bukanlah klasifikasinya, tetapi bagaimana media itu dapat digunakan secara tepat. Setiap media mempunyai karakteristik yang berbeda. Media yang paling efektif dikondisi tertentu, belum tentu efektif pada kondisi yang lain. Masing- masing golongan media itu mempunyai keunggulan dan kelemahan serta karakteristik yang berbeda. Jenis media penyuluhan pertanian berdasarkan karakteristik dan contohnya dapat dilihat pada tabel 2.5

Tabel. 2.5 Jenis media dan contohnya

NO Jenis Media Contoh – contoh

1 Media Penyuluhan Tercetak

Gambar, Skets, Foto, Poster, Leaflet, Folder, Peta singkap, Kartu kilat, Diagram, Grafik, bagan, peta, Brosur, majalah, buku

Kelebihannya: relatif tahan lama, dapat dibaca berulang- ulang, dapat digunakan sesuai kecepatan belajar masing-masing, mudah dibawa dsb.

Kelemahannya: Proses penyampaian sampai pencetakan butuh waktu relatif lama, sukar menampilkan gerak, membutuhkan tingkat literasi yang memadai, cenderung membosankan bila padat dan panjang.

2 Media Penyuluhan Audio

Kaset,CD, DVD, MP 3, MP 4 Audio

Kelebihannya: Informasi dikemas sudah tetap, terpatri dan tetap sama bila direproduksi. Produksi dan reproduksinya tergolong ekonomis dan mudah didistribusikan.

Kelemahannya: Bila terlalu lama akan membosankan, perbaikan atau revisi harus memproduksi master baru.

(43)

Lanjutan tabel 2.5 jenis media dan contohnya 3 Media Penyuluhan

Visual, Audio – Visual atau Terproyeksi

Slide film, Movie film, Film strip, Video (VCD,DVD) film, Televisi, Komputer (Interaktif, Presentasi) - Kelebihannya: dapat memberikan gambaran

yang lebih kongkrit, baik dari unsur gambar maupun geraknya, lebih atraktif dan komunikatif.

- Kelemahannya: Biaya produksi relatif mahal, produksi memerlukan waktu dan diperlukan peralatan yang tidak murah.

(Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Mesuji, 2017) 7. Evaluasi Penyuluhan Pertanian

a. Pengertian Evaluasi

Evaluasi kegiatan penyuluhan pertanian merupakan upaya penilaian atas sesuatu kegiatan oleh evaluator, melalui pengumpulan dan penganalisan informasi secara sistematik mengenai; perencanaan, pelaksanaan, hasil dan dampak kegiatan untuk menilai relevansi, efektivitas, efisiensi pencapaian hasil kegiatan atau untuk perencanaan dan pengembangan selanjutnya dari suatu kegiatan. Menurut Wirawan (2012:3 dalam Ririn mais, daud Liando, dan Fanley Pangemanan, 2019), evaluasi adalah riset untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan informasi yang bermanfaat mengenai objek evaluasi, selanjutnya menilainya dan membandingkannya dengan indikator evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi tersebut.

b. Tujuan Evaluasi

Tujuan evaluasi adalah memperbaiki program/kegiatan yang sedang berjalan maupun umpan balik untuk perbaikan program yang akan datang dan pengambilan keputusan. Dalam hal ini tujuan evaluasi dibagi menjadi tiga tujuan yaitu tujuan kegiatan (activity objective), tujuan manajerial (managerial objective), tujuan program (program objective).

Selain itu tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai atau menyimpang dari pedoman yang ditetapkan atau untuk mengetahui tingkat kesenjangan antara

(44)

keadaan yang dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dapat dicapai, sehingga dengan demikian akan dapat diketahui tingkat efektifitas dan efisiensi kegiatan yang telah dilaksanakan untuk diambil langkah selanjutnya guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan yang dikehendaki (Stufflebeam, 1971 dalam Nurlaila Harahap, Lukman Effendy, 2017).

Tujuan atau fungsi evaluasi adalah: a) Untuk mengetahui apakah tujuan- tujuan yang telah diteteapkan telah tercapai dalam kegiatan, b) Untuk memberikan objektivitas pengamatan terhadap perilaku hasil. c) Untuk mengetahui kemampuan dan menentukan kelayakan. d) untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan yang dilakukan.

c. Metode Evaluasi

Penetapan metode evaluasi, meliputi: perancangan evaluasi, penentuan populasi dan contoh atau sampel, perincian data yang diperlukan, teknik pengumpulan data, perumusan instrumen, dan teknis analisis data. Wawancara terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Pertanyaan yang sama diajukan kepada semua responden, dalam kalimat dan urutan yang seragam. Sedangkan kuesioner adalah pertanyaan terstruktur yang diisi sendiri oleh responden atau diisi oleh pewawancara yang membacakan pertanyaan dan kemudian mencatat jawaban yang berikan (Sulistyo-Basuki, 2006:294 dalam Yearika Permata Dewi dan R.

Adi Wardoyo, 2016).

Observasi ialah metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Cara atau metode tersebut dapat juga dikatakan dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus seperti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ada bermacam macam observasi yaitu: a) Observasi

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan terbaik dari pengamatan pada fase pertumbuhan dan hasil pada tanaman bawang merah terlihat pada pemberian dosis 20 ml PGPR dan 0 t/ha pupuk kotoran kelinci pada

Hasil uji analisa secara statistik berdasarkan pengamatan dilapangan diketahui bahwa perlakuan penggunaan pupuk organik Kompos Asap (O) berpengaruh tidak nyata (p

Berdasarkan sidik ragam peubah bobot basah umbi dan bobot kering umbi tanaman bawang merah menunjukkan bahwa perlakuan beberapa dosis pupuk tricho kompos kotoran ayam pada

Berat Umbi Layak Konsumsi per 1,2 m 2 Hasil sidik ragam terhadap pengamatan berat umbi bawang merah layak konsumsi per 1,2 m 2 menunjukkan bahwa bahwa faktor tunggal

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos kascing dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan dan produksi bawang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak terjadi interaksi antara pemberian pupuk kascing dan mikroorganisme efektif (EM4) terhadap semua parameter pengamatan,

Hasil penelitian setelah dianalisis dan diuji secara statistik menunjukkan perlakuan POC bonggol pisang berpengaruh tidak nyata pada seluruh parameter seperti

Perlakuan interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan berat umbi per rumpun, namun berpengaruh tidak nyata terhadap peubah yang diamati lainnya.perlakuan takaran