BAB II SEJARAH KONFLIK SUDAN DAN SUDAN SELATAN
B. Perang Sipil Kedua Tahun 1983 2005
1. Perang Darfur Tahun 2003
BAB III DUKUNGAN AMERIKA SERIKAT DALAM PROSES KEMERDEKAAN SUDAN SELATAN
40 Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional; Metodelogi dan Disiplin, (LP3ES,
A. Hubungan Amerika Serikat dengan Wilayah Sudan Selatan 1. Dukungan Diplomatik
2. Dukungan Militer 3. Dukungan Ekonomi
BAB IV FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI AMERIKA SERIKAT MENDUKUNG KEMERDEKAAN SUDAN SELATAN
A. Kepentingan Amerika Serikat di Sudan Selatan
B. Faktor yang Mempengaruhi Amerika Serikat Mendukung Kemerdekaan Sudan Sudan:
1. Faktor Interal a. Opini Publik:
Dukungan kelompok Kristen Evangelis b. Pembangunan Ekonomi:
Kebutuhan Energi Minyak Amerika Serikat 2. Faktor Eksternal
a. Great power Structure:
Balance of Power Tiongkok di Sudan b. Terorisme: Terosisme di Sudan 3. Faktor Penghambat a. Sikap Tiongkok b. Sikap Pemerintah: 1. Sudan 2. Sudan Selatan BAB V KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
BAB II
SEJARAH KONFLIK SUDAN DAN SUDAN SELATAN
Sudan merupakan negara terbesar di kawasan Afrika41 dengan luas wilayah 2,505,813 km persegi dan populasi mencapai 39,154,490 jiwa. Negara ini merdeka pada tahun 1956 dari kekuasaan Anglo Mesir. Ibu kota negara berada di Khartoum. Namun, dalam perjalanan kemerdekaannya keutuhan negara ini tidak berlangsung lama,42 pemerintahan Sudan terbelah menjadi dua kubu menjadi Sudan bagian Utara dan Sudan bagian Selatan.
Sudan jatuh pada konflik yang panjang dan memakan banyak korban jiwa akibat konflik tersebut. Dalam menjelaskan konflik yang terjadi di Sudan, diperlukan penjelasan yang panjang untuk memahami akar masalahnya. Dalam memahami konflik ini, diperlukan penjelasan komperhensif dengan pendekatan yang sistematis hingga diperlukan penjelasan yang panjang mengenai sejarah mengingat konflik ini terjadi disebabkan oleh multifaktor.
41Amanda Briney, Geography of Sudan, tersedia di
http://geography.about.com/od/sudanmaps/a/sudan-geography.htm diakses pada 29 Maret 2011.
42 Leben Nelson Moro, “Governance of Oil Resources and the Referendum in Southern
Gambar II.1 Peta Sudan dan Sudan Selatan
Sumber: http://www.enoughproject.org/conflicts/sudans diakses pada 29 Maret 2014
Dalam bab ini akan dibahas awal penyebab konflik di Sudan hingga konflik kedua yang terjadi di Darfur melalui sudut pandang sosial, politik, serta budaya. Bab ini akan mencoba menjelaskan serta memahami latar belakang penyebab konflik di Sudan 1955-2005.
A. Perang Sipil Pertama (1955 -1972)
Pada tahun 1947, Inggris yang ketika itu merupakan kolonial di Sudan memutuskan bahwa Sudan bagian Utara harus bersatu menjadi suatu negara dengan Sudan bagian Selatan. Keputusan Inggris saat itu merupakan suatu kesalahan, karena kedua bagian Sudan ini sangatlah berbeda latar belakang terutama dalam hal agama dan ras serta suku. Sudan bagian Utara yang dihuni oleh orang-orang ras Arab yang mempraktikkan ajaran Islam, sedangkan bagian Selatan yang mempunyai beragam etnis dan budaya Afrika merupakan penganut agama Kristen.43
Sudan merupakan negara yang merdeka pada tahun 1956 atas kekuasaan Anglo Mesir. Sejak kemerdekaannya, Sudan tidak lepas dari konflik kecil yang yang selalu muncul. Hal ini disebabkan oleh pemerintah pusat di Khartoum (Utara) lebih mendominasi pemerintahan karena dahulu sebagian besar kolonial menetap di Utara. Dengan posisi pemerintahan yang berada di wilayah Utara membuat masyarakat Selatan menjadi khawatir dengan ketidakadilan pemerintah karena dalam pemerintahan yang berisi 800 kursi, hanya enam yang diisi oleh Sudan bagian Selatan. Dengan posisi pemerintahan yang didominasi oleh Sudan mengakibatkan kesenjangan pembangunan di kedua wilayah.44
Akibat pemerintahan yang didominasi oleh Utara, sebagian besar politik Sudan juga sering mengeluarkan kebijakan yang memaksa wilayah Selatan agar sesuai dengan pemerintah pusat yang berada di Khartoum, walaupun mereka berbeda
43Nelson Moro, “Governance of Oil Resources and the Referendum in Southern Sudan”. 44Lauren Ploch Blanchard, “Sudan and South Sudan: Current Issues for Congress and U.S
pendapat. Perbedaan ini diperparah oleh perbedaan ras, budaya, dan agama di Sudan. Pemerintah Khartoum yang didominasi ras Arab, mencoba mengIslamkan pedesaan yang berbeda agama serta kelompok etnis yang merasa terpinggirkan oleh pemerintah pusat.45 Sudan diperintah oleh Front Nasional Islam (NIF), sebuah rezim Islam di bawah Presiden Omar Al-Bashir yang memiliki powerbase terutama di wilayah Utara yang beretnis Arab dan beragama Islam. Wilayah Pusat dan Selatan dihuni oleh kelompok yang berbeda, dengan campuran bahasa Afrika, yang berasal dari kelompok beragama Kristen dan Animisme.46
Ketidakpuasan wilayah Selatan atas diskriminasi pemerintah Khartoum memicu pemberontakan untuk melawan pemerintah Khartoum. Telah berulang kali penduduk Selatan berusaha untuk mendapatkan otonomi yang signifikan atau kemerdekaan dari Khartoum, namun mereka yang tidak mendapatkan haknya dan terpaksa berjuang dengan menggunakan senjata untuk mencapainya.47 Kelompok dari wilayah lain yang tidak hanya dari Selatan, juga memulai aksinya terhadap pemerintah dengan mengikuti alasan yang sama dengan Selatan. Sebagian besar kelompok-kelompok lain akhirnya bergabung dengan pemberontak Selatan.48
45Lauren Ploch Blanchard, “Sudan and South Sudan,” 6.
46 Tim Youngs, “Sudan: conflict in Darfur”, research paper 04/51, House of Commons
Library, 23 Juni 2004, 7.
47Tim Youngs, “Sudan: conflict in Darfur”, 7.
Konflik ini menjadi perang Saudara pertama di Sudan yang terjadi atas keinginan masyarakat Sudan Selatan yang ingin terbebas dari pemerintahan Utara.49 Dalam upaya mengakhiri perseteruan yang terjadi sejak 1955-1972, diadakan perjanjian Adis Ababa pada tahun 1972. Perjanjian ini mengakhiri pemberontakan Sudan bagian Utara dan Selatan dengan beberapa point penting yaitu, pembentukan pemerintah otonom tunggal yang mengontrol seluruh Sudan Selatan, pendirian Konsul Eksekutif Tinggi untuk mengurus masalah tata daerah Sudan Selatan, dan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di Sudan Selatan.50
Perdamaian atas perjanjian Adis Ababa tidak berlangsung lama. Pada tahun 1980, Presiden Jaafar Nimeiry, yaitu pemimpin militer sekaligus presiden terpilih Sudan 1969-1985, membuat kebijakan baru yang membawa Sudan pada Perang Sipil Kedua.
B. Perang Sipil Kedua (1983-2005)
Kebijakan yang dibuat Presiden Nimery membuat Sudan memulai kembali konflik saudaranya pada 1983. Presiden Nimery melakukan banyak pendekatan diktator kepada pemerintah seperti pembubaran DPRD Sudan Selatan dan parlemen nasional hingga pemenjaraan bagi orang yang menentang pemerintahannya.51 Kebijakan lain Presiden Nimery adalah mengubah hukum pemerintahan Sudan
49Greg Larson, “A brief history of modern Sudan South Sudan”, The Valentino Achak Deng
Foundation, and Water for South Sudan, Inc. tersedia di http://www.waterforsouthsudan.org/brief- history-of-south-sudan/ diakses pada 10 Juni 2014.
50Christopher R. Mitchell ,”Conflict Resolution and Civil War: Reflections on the Sudanese
Settlement of 1972”, Center for Conflict Analysis and Resolution 1989 , 9.
51 Robert O. Collins, Sudanese independence and civil war, tersedia di
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1779607/South-Sudan/300722/Sudanese-independence- and-civil-war diakses pada 12 Juni 2014.
menjadi hukum Islam. Hal ini menimbulkan keresahan dan ketakutan bagi penduduk Sudan karena tidak semua penduduk Sudan beragama Islam, terutama di wilayah Selatan.52
Kebijakan yang ingin diterapkan oleh Presiden Nimeiry membuat Sudan diberikan sanksi oleh PBB yang didukung oleh Amerika Serikat. Embargo ekonomi ini mengakibatkan Sudan harus bersikap mandiri karena tidak ada bantuan international. Dalam keadaan diembargo, Sudan terus berusaha bertahan dengan kemandiriannya dalam sektor pertanian dan pengembangan teknologi negaranya.53 Keterpurukan Sudan dari embargo diperparah oleh musim kemarau panjang yang melanda Sudan hingga masyarakat Sudan mengalami kekeringan serta kelaparan.
Akibat kebijakan Presiden Nimery tersebut membuat masyarakat Sudan bagian Selatan geram hingga Sudan kembali terjatuh dalam penyebab konflik dengan pola yang sama. Perang Kedua pecah pada tahun 1983 ketika pemerintah Sudan mencabut otonomi Selatan dan berusaha untuk menerapkan Hukum Syariah Islam di seluruh negeri.54 Tidak lama berlangsung, kekuasaan Presiden Nimeiry digulingkan hingga wilayah Utara mengalami ketidakstabilan. Konflik semakin menjadi dengan adanya kudeta tahun 1993 oleh pemerintahan sipil di bawah aliansi kekuasaan Omar Al- Bashir sebagai pemimpin militer dan kelompok Islam ekstrimis.55
52 Marina ottaway and Mai El-Sadany, “Sudan: From Conflict To Conflict”, May 2012, 5. 53 Wawancara pada tanggal 7 September, terdapat pada lampiran 1.
54“The United States and South Sudan: A Relationship Under Pressure”. 55“The United States and South Sudan: A Relationship Under Pressure”.
Selain karena kebijakan baru mengenai hukum Islam yang ingin diterapkan di seluruh Sudan, penyebab perang kali ini lebih kompleks. Hal itu dikarenakan meningkatnya kompetisi untuk mengontrol sumber minyak di pusat negara yang baru ditemukan serta adanya perubahan kerjasama pada perusahaan minyak milik barat yang menolak kebijakan Sudan, sehingga Sudan beralih menjalin kerjasama dengan pada Tiongkok, Malaysia, serta India.56
Perang sipil pertama di Sudan dapat mereda karena besarnya tekanan dari pemerintah. Hal ini juga dikarenakan adanya perjanjian yang mengikat pihak Selatan untuk tidak menyerang pemerintahan kembali di kemudian hari. Namun pada Perang Sipil Kedua di Sudan, terdapat banyak faktor hingga konflik ini sulit untuk diatasi. Kondisi ini terus berlangsung hingga ke wilayah Darfur, yaitu bagian barat Sudan. Penjelasan perang di Darfur akan dibahas pada subbab berikut ini:
1. Perang Darfur Tahun 2003
Darfur merupakan daerah di Sudan tepatnya di sebelah barat dekat dengan perbatasan Afrika Tengah dan Chad. Di Darfur, masyarakatnya sangat beragam dengan lebih dari 30 kelompok etnis yang berkebangsaan Afrika dan Arab. Suku asli di Darfur adalah Fur, Masalit, Daju, Zaghwa, dan Berti. Penduduk di Darfur didominasi oleh populasi muslim dari berbagai macam etnis.57 Banyak penduduk Darfur yang beragama Islam dan beretnis Arab mendiami wilayah Utara Darfur, sedangkan Selatan dihuni oleh petani Afrika.
56 Ottaway and Sadany, Sudan, 6.
Masyarakat Darfur banyak didiami orang Muslim Arab yang menikah dengan pribumi Darfur berbangsa Afrika, akibatnya orang Darfur didominasi orang berkulit hitam Arab-Afrika. Sejak bangsa Arab datang ke Darfur pada abad ke-18, hubungan mereka dengan suku pribumi terjalin tanpa perselisihan. Jika terjadi perselisihan pun akan langsung diselesaikan melalui mediasi dengan pemimpin lokal. Di Darfur sejak dulu hidup banyak dinasti yang menjadikan Darfur semakin makmur dengan tanah yang subur karena letaknya dekat dengan Gunung Jabal Marra. Darfur memulai konflik internal ketika abad ke-19 karena tidak adanya penegak hukum, sedangkan Darfur menjadi tempat perdagangan yang besar saat itu.58
Salah satu konflik yang tidak dapat dihindari oleh Darfur adalah sejak Inggris meyerahkan seluruh jajahannya kepada pemerintah yang berpusat di Utara dan hanya mengembangkan tanah subur di Utara serta mengabaikan daerah selatan dan Darfur yang berada di Barat. Akibat adanya ketimpangan oleh pemerintahan, mengharuskan mereka harus berkonflik menuntut hak atas kejengahan yang mereka alami. Hal ini diperparah ketika Sudan menemukan lahan minyak baru yang pengolahannya dimonopoli serta adanya pemaksaan hukum Islam yang ingin diterapkan di Sudan.59
Hal lain diperparah dengan adanya pangkalan militer Libya di Darfur untuk Perang Islam di Chad dalam perang Arab-Fur yang terjadi pada tahun 1987-1989. Dari perang tersebut, membuat Darfur dibanjiri oleh senjata. Akibatnya, ribuan
58 Gerard Prunier, Darfur: the Ambiguous Genocide (London: C. Hurst&Co, 2005), 8. 59 Prunier, Darfur, 42-47.
orang tewas dan banyak rumah warga Darfur terbakar. Kesengsaraan Darfur diperparah oleh kekeringan serta kelaparan yang melanda negara ini pada akhir tahun 1980, dan tidak ada perhatian dari pemerintah pusat.60
Kebencian karena diksriminasi pemerintah Sudan serta kemampuan untuk memegang senjata dengan adanya perang Arab-Fur, membuat suku Afrika Darfur melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Dalam keadaan seperti ini, pemerintah juga membentuk milisi yang dipersenjatai untuk melawan suku Afrika Darfur. Milisi ini merupakan asal mula milisi Janjaweed, (yang artinya adalah pasukan penunggang kuda). Omar Al Bashir juga membuat kebijakan dengan memberikan sokongan yang mengatur milisi ini untuk meminggirkan etnis Afrika. 61
Pemerintah Sudan secara resmi memberikan kekebalan hukum bagi milisi Janjaweed untuk menyerang kelompok-kelompok pemberontak Darfur.62 Selain itu, pemerintahan Omar Al Bashir juga membantu Osama Bin Laden tahun 1996 dan melakukan percobaan pembunuhan Hosni Mubarak pada tahun 1998. Amerika Serikat berupaya memerangi terorisme di Sudan dengan sanksi dan pengecaman bagi Sudan sebagai negara teroris. Sejak saat itu, Sudan semakin agresif untuk melakukan aksinya.63
Untuk menandingi milisi Janjaweed, etnis Afrika Darfur membentuk milisi bersenjata dari etnis non-arab hasil persatuan dari dua milisi besar yaitu South’s
60 Prunier, Darfur, 42-47.
61Michael Ray, Janjaweed, tersedia di
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1003597/Janjaweed diakses pada 23 Juli 2014.
62 Flint and De wall, Darfur: A New History of a Long War [ebook] (Africa Arguments,
2005), 129.
Sudan People’s Liberation Army (SPLA) dan Darfur Liberation Font (DLF). Dari sinilah terbentuk milisi Sudan People’s Liberation Movement (SPLM) pada Maret 2003.64 Janjaweed mulai menjadi jauh lebih agresif pada tahun 2003, setelah dua kelompok pemberontak non-Arab mengangkat senjata melawan pemerintah Sudan dan menuduh penganiayaan yang dilakukan oleh rezim Arab di Khartoum. Menanggapi aksi pemberontak Selatan, Milisi Janjaweed mulai menjarah kota-kota dan desa-desa yang dihuni oleh suku-suku Afrika yang menjadi anggota tentara pemberontak yang berasal dari suku Zaghawa, Masalit, dan Fur.65
Krisis di Darfur melibatkan pemerintahan Khartoum serta Omar Al-Bashir sebagai Presiden yang membuat kebijakan untuk menyerang etnis afrika Darfur melalui Milisi Janjaweed. Kelompok pemberontak Darfur, seperti Sudanese Liberation Movement/Army (SLM/A), Formerly Darfur Liberation Front (DLF),
serta Justice and Equality Movement (JEM) banyak menjadi korban akibat serangan yang dilakukan oleh pemerintah Khartotoum. Korban jiwa di Darfur mencapai 300.000 orang tewas dan dua juta orang mengungsi.66
Pada tahun 2005, setelah negosiasi panjang, kesepakatan damai ditandatangani antara pemerintah di Khartoum dan para pemberontak di Selatan.
64Robert O Collins, “Disaster in Darfur”, The Gregg Centre vol 26, No 2, [Jurnal on-line],
2006, tersedia di http://journals.hil.unb.ca/index.php/JCS/article/view/4511 diakses pada 24 Juli 2014, h, 39
65 Brendan Koerner, “Who Are the Janjaweed? “, 19 Juli 2005, tersedia di
http://www.slate.com/articles/news_and_politics/explainer/2004/07/who_are_the_janjaweed.html diakses pada 10 Agustus 2014.
66 “The United States and South Sudan: A Relationship Under Pressure”, Council of
American Ambassadors [artikel on-line] tersedia di
http://www.americanambassadors.org/publications/ambassadors-review/fall-2013/the-united-states- and-south-sudan-a-relationship-under-pressure; Internet; diakses pada 15 Agustus 2014.
Hasilnya adalah pihak Sudan Selatan akan memiliki otonomi sendiri selama enam bulan dan akan memisahkan diri dengan dilakukannya referendum untuk voting
apakah Sudan Selatan masih tetap bagian dari Sudan atau akan memisahkan diri. Kekayaan alam berupa minyak di perbatasan akan dibagi dua (50:50) untuk kedua Sudan setelah referendum.