A. Hubungan Amerika Serikat dengan Wilayah Sudan Selatan
Amerika Serikat merupakan negara adidaya yang selalu dapat hadir dalam sebuah peristiwa internasional. Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik merupakan sebuah intervensi yang dimaksudkan untuk menjadi fasilitator, mediator, atau pencetus perdamaian. Pada peristiwa konflik Sudan yang telah terjadi selama puluhan tahun,75 banyak aktor internasional mencoba memberikan upaya serta solusi perdamaian antara kubu Utara dan Selatan.
Awal mula hubungan Amerika Serikat dengan Sudan Selatan dalam upaya perdamaian konflik adalah ketika selama Perang Teluk. Amerika Serikat berseteru dengan Sudan, hingga mendorong Amerika Serikat yang saat itu dipimpin oleh Presiden Bill Clinton memberikan bantuannya pada pihak pemberontak di Selatan.76 Kemudian, hubungan ini berlanjut pada Presiden George W. Bush serta Presiden Barack Obama. Koalisi bipartisan pada pemerintah Amerika Serikat yang dikenal sebagai “Sudan Caucus” yang mendorong ketiga presiden ini untuk menjadikan
75 Matthew LeRiche and Matthew Arnold, South Sudan: From Revolution to Independence (United Kingdom: Hurst&Co, 2012), 1.
76 Jonathan Jacobs, “South Sudan and the US National Interest”, Think Africa Press 2012, tersedia di http://thinkafricapress.com/south-sudan/oil-us-south-sudan-secession diakses pada 10 Juli 2014.
Sudan sebagai agenda prioritas pada kebijakan luar negeri demi menghentikan konflik yang telah lama berlangsung.77
Amerika Serikat menjadi penggerak atas perjanjian damai antara Sudan dengan Sudan Selatan dari tahun 2001.78 Dalam perannya, Amerika Serikat memainkan peran kunci dalam membantu membuat protokol yang mengantarkan konflik dua Sudan ini pada Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA). CPA tersebut dilaksanakan pada tahun 2005 sebagai peletak dasar Referendum tentang penentuan nasib sendiri pada tahun 2011. Hasilnya adalah orang-orang Sudan Selatan sangat banyak memilih untuk memisahkan diri.79 Dalam menjelaskan dukungan Amerika Serikat dalam kemerdekaan di Sudan Selatan, akan dibagi pada tiga dukungan, di antaranya adalah;
1. Dukungan Diplomatik
Luasnya keterlibatan internasional tercermin dari jumlah ditandatanganinya saksi Comperhensive Peace Agreement (CPA) yaitu Kenya, Amerika Serikat, Inggris, Italia, Norwegia, Belanda, Uganda, Mesir, Intergovernmental Authority on Development (IGAD), Liga Arab, PBB, Uni Eropa, dan Uni Afrika (AU). Terdapat banyak asosiasi internasional formal maupun informal yang telah terlibat di Sudan,
77 Rebecca Hamilton, “U.S. Played Key Role in Southern Sudan's Long Journey to Independence”.
78Morgan L. Roach and Ray Walser, “The Role of the United States in Southern Sudan’s Referendum”, Heritage Foundation, Maret 2011.
79 U.S. Relations With South Sudan (U.S Depertment of State, 2014) [database on-line]; tersedia di http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/171718.htm; diunduh pada 10 Juli 2014.
seperti Sudan Troika80 yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia, serta lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang secara berkala menangani masalah di Sudan.81
Dukungan diplomatik Amerika Serikat di Sudan Selatan mulai gencar dilakukan pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush tahun 2001. Kebijakan yang dibuat Amerika Serikat pada masa itu merupakan kebijakan war on terrorism
yang dipelopori oleh Presiden George W. Bush ke seluruh dunia. Amerika Serikat menuju ke Sudan karena Bill Clinton, pada tahun 1993, menambahkan Sudan pada daftar “negara sponsor terorisme”.82
Mengantisipasi apa yang dahulu terjadi pada saat konflik Rwanda, Presiden Bil Clinton saat itu juga mengatakan penyesalan mendalamnya sebagai seorang presiden Amerika Serikat yang gagal mencegah pembantaian 800.000 orang dalam konflik Rwanda. Hal ini membuat Presiden George W. Bush mendorong upaya perdamaian di Sudan yang telah menelan hampir 300.000 korban jiwa.83 Hal ini juga didukung oleh adanya ikatan kelomok Kristen Evangelis Amerika Serikat dan
80 Sudan Troika adalah anggota dari tiga dari donor yang menonjol, Amerika Serikat, Inggris dan Norwegia, kelompok yang mendukung proses negosiasi CPA. Pemerintah Sudan Troika telah kolektif memberikan bantuan 49,5% dari ODA antara tahun 2000 dan 2009.
Tersedia di http://www.state.gov/r/pa/prs/ps/2011/12/178314.htm diakses pada 23 Juli 2014.
81Princeton N. Lyman, “Negotiating Peace in Sudan”.
82Jonathan Jacobs, “Sudan Selatan dan US National Interest”, Think Africa Press, 13 Maret 2012, Africa [datebase on line]; tersedia di http://thinkafricapress.com/south-sudan/oil-us-south-sudan-secession; diakses pada 11 Juli 2014.
83Andrew Quinn, “Sudan vote tests Obama's Africa diplomacy”, Reuters Africa, 5 Januari 2011, tersedia di http://af.reuters.com/article/topNews/idAFJOE70401C20110105?sp=true diakses pada 25 Juli 2014.
pendiri otoritas Sudan Selatan yang mengkampanyekan pemisahan Sudan Selatan pada Presiden George W. Bush. 84
Kampanye yang dilakukan kelompok Kristen Evangelis merupakan bentuk protes atas apa yang terjadi pada konflik Sudan. Hal itu disebabkan karena kelompok agama dan kelompok politis di Amerika Serikat turut memperhatikan konflik di sana. Kelompok ini menjadi salah satu alasan Amerika Serikat mendukung proses kemerdekaan Sudan Selatan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Sudan Selatan sejak abad ke-19.85
Pada awal pemerintahan Presiden George W. Bush kelompok Kristen Evangelis di Amerika Serikat mendesak presiden untuk mengambil tindakan menghentikan serangan yang dilakukan oleh Sudan di wilayah Selatan. Kelompok Kristen Evangelis yang bergabung dengan Black Caucus merasa geram atas laporan dari wilayah Sudan di Utara karena telah memperbudak orang Selatan dan menyampaikan hal tersebut kepada Kongres.86
Kemarahan kelompok Kristen Evangelis di Amerika Serikat semakin menjadi atas laporan penindasan yang dilakukan oleh orang Sudan di Utara terhadap orang Kristen di Selatan. Kelompok Kristen Evangelis menekan Presiden George W. Bush
84Jeffrey Gettleman, “After Years of Struggle, South Sudan Becomes a New Nation”, New York Times, 9 juli 2011, New York Times Online [artikel on-line], tersedia di
http://www.nytimes.com/2011/07/10/world/africa/10sudan.html?_r=0; diakses 23 Juli 2014.
85Jeffrey Gettleman, “After Years of Struggle”.
agar mengambil alih perang yang terjadi di Sudan.87 Usaha mereka terbayar pada tahun 2000 ketika Presiden George W. Bush terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.88
Hal ini merupakan awal terlibatnya Presiden George W. Bush di Sudan, yaitu pada tahun 2001 setelah dilatik menjadi presiden. Presiden George W. Bush menunjuk Senator John Danforth sebagai utusan proses perdamaian di Sudan yang bekerjasama dengan Intergovernmental Authority on Development (IGAD) yang terbukti menjadi negosiator efektif bagi perdamaian di Sudan.89
Hal yang sama juga dilakukan oleh Sudan Selatan untuk mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat yaitu, usaha kepala pemerintah otonom Sudan Selatan, yaitu Salva Kiir yang kini menjadi presiden Sudan Selatan. Selama bertahun-tahun, terutama masa Presiden George W. Bush, Kiir bersama kelompok Kristen bernaung di kalangan Ideologi Ekstrimis Washington untuk berusaha membentuk kembali keseimbangan kekuasaan di Sudan.90 Rezim Kiir telah lama menjadi rezim kesayangan Amerika Serikat sebagai negara donor Barat sehingga Amerika Serikat mendukung Salva Kiir untuk mendapatkan kemerdekaan dari Sudan.
87 Princeton N. Lyman, “Negotiating Peace in Sudan”, Journal of the School of Global Affairs and Public Policy (GAPP) at American University in Cairo, Nov. 9, 2010 [jurnal on-line]; tersedia di http://www.aucegypt.edu/gapp/cairoreview/pages/articleDetails.aspx?aid=21; Internet; diunduh pada 15 Juli 2014.
88Jeffrey Gettleman, “After Years of Struggle”.
89Princeton N. Lyman, “Negotiating Peace in Sudan”.
90Kevin Peraino, “Is Massive U.S. Aid Helping South Sudan?”, News Week, 2010, [artikel on-line] tersedia di http://www.newsweek.com/massive-us-aid-helping-south-sudan-72101 diakses pada 13 Juli 2014.
Konflik yang terus berlangsung di Sudan, khususnya di Darfur terus menimbulkan banyak korban jiwa. Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, setelah berkunjung ke Darfur menyatakan pada Senat Amerika Serikat bahwa di Darfur sedang terjadi genosida. Pada tahun 2004, kongres Amerika Serikat juga menyebut terjadinya genosida di Darfur dan menyerukan pada administrasi Presiden George W. Bush untuk memelopori upaya internasional demi menghentikan konflik tersebut.91
Selain itu, Presiden George W. Bush mengangkat Sudan pada bagian agenda kebijakan luar negerinya. Dukungan diplomatik Amerika Serikat ditunjukan ketika Uni Afrika dan PBB mengusahakan proses perdamaian Darfur (Protokol Abuja) di Abuja, Nigeria pada tahun 2004.92 Pihak pemberontak tidak bersedia meneken perjanjian damai Protokol Abuja. Untuk menyelamatkan proses perdamaian yang dilakukan Uni Afrika, Amerika Serikat melakukan upaya dengan mengirimkan Wakil Menlu Amerika Serikat, Robert Zoellick, untuk mendatangi Abuja.93
91 Abdul Hadi Adnan, “Penyelesaian Masalah Sudan Selatan dan Krisis di Darfur”, UNPAS Journal: 7, 6 Mei 2006, [artikel jurnal on-line]; tersedia di
http://fisip.unpas.ac.id/index.php/home/downloadjournal/Crisis%20in%20DARFUR.pdf; Internet; diunduh pada 21 Desember 2013.
92Draft Framework Protocol for the Resolution of the Conflict in Darfur. “our commitment to our previous agreements, namely the Humanitarian Ceasefire Agreement singed in N’djamena, Chad, on 8 April 2004 (hereinafter the N’djamena Agreement), the Agreement on the Modalities for the Establishment of the Ceasefire Commission and the Deployment of Observers signed in Addis Ababa, Ethiopia, on 28 May 2004 (hereinafter the Addis Ababa Agreement), as well as the protocols on the Improvement of the Humanitarian Situation in Darfur and on the Enhancement of the security situation in Darfur, signed in Abuja, Nigeria, on 9 November 2004, (hereinafter the Abuja Protocols)”
Presiden George W. Bush menelpon Presiden Omar Al Bashir agar mengirimkan kembali perwakilannya yang sebelumnya meninggalkan Abuja. Hal tersebut dilakukan karena pihak pemberontak tidak bersedia meneken persetujuan damai. Setelah Amerika Serikat mengupayakan hal tersebut, akhirnya SLM/A (Sudan Liberation Movement/ Army) dan JEM (Justice and Equality Movement) bersedia menandatangani perjanjian ini atas tekanan dari Amerika Serikat.94
Presiden George. W Bush secara konsisten melakukan upaya dari satu protokol hingga ke protokol lainnya hingga Amerika Serikat ikut berperan dengan memfasilitasi perdamaian.95 Dukungan tersebut dilakukan untuk mendorong pemberontak Selatan dan pemerintah pusat dalam perang yang panjang agar menandatangani Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA).96 Dukungan Amerika Serikat terhadap Sudan selatan mendapatkan momentum di bawah pimpinan George W. Bush yang fokus terhadap perundingan perdamaian, yang akhirnya berbuah pada CPA tahun 2005.97
Perundingan perdamaian komperhensif (CPA) yang telah lama diagendakan tersebut diadakan di Naivasha, Kenya, yang dihadiri antara pemerintah Sudan dan Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM).98 CPA merupakan dasar dari
94 Hadi Adnan, “Penyelesaian Masalah Sudan Selatan”, 7.
95“Sudans Comperhensive Peace Agreement”, Voice of America, 9 Juli 2011 [database on-line], tersedia di http://www.voanews.com/content/sudans-comprehensive-peace-agreement-cpa-112719954/157128.html; diakses pada 25 April 2014.
96Jeffrey Gettleman, “After Years of Struggle”.
97Rebecca Hamilton, “U.S. Played Key Role in Southern Sudan's”.
98“Sudans Comperhensive Peace Agreement”, Voice of America, 9 Juli 2011 [database on-line], tersedia di http://www.voanews.com/content/sudans-comprehensive-peace-agreement-cpa-112719954/157128.html; diakses pada 25 April 2014.
perundingan perdamaian antara kedua Sudan yang berkonflik untuk selanjutnya merencanakan pemisahan kedua wilayah Sudan melalui jalan referendum untuk menjamin hak penduduk wilayah selatan.99
Selain membantu Sudan Selatan melakukan referendum, Amerika Serikat juga memiliki tanggung jawab untuk menemukan solusi di Abyei sebagai wilayah perbatasan yang banyak mengandung minyak dan menjadi perebutan bagi kedua Sudan. Wilayah Abyei juga memiliki dukungan aktif dari pemberontak SPLM untuk melawan tentara sipil. Nasib Abyei ditentukan setelah referendum dilakukan, untuk membahas pembagian asset dan hasil minyak. Namun, negosiator Amerika Serikat memainkan perang penting pada Proklamator Abyei dalam CPA yang hasilnya adalah telah disepakati bahwa penduduk Abyei diizinkan untuk memilih pada referendum 9 Januari 2011.100
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat dibuat oleh kongres, kebijakan ini juga disesuaikan oleh bantuan berlanjut untuk Aliansi Nasional Demokrat, yaitu sebuah koalisi pasukan oposisi bersenjata maupun pasukan yang tidak bersenjata dari Sudan Selatan (termasuk SPLM), untuk memperkuat kemampuannya melindungi warga sipil dari serangan. Pada saat yang sama, kongres
99Jeffrey Gettleman, “After Years of Struggle”.
menyatakan mendukung upaya Presiden George W. Bush untuk mencari penyelesaian yang dinegosiasikan pada perang saudara Sudan.101
Estafet kebijakan di Sudan Selatan berpindah kepada Presiden Obama pada tahun 2009. Sebelumnya, Presiden Barack Obama kurang tertarik untuk melanjutkan perdamaian yang sebelumnya telah dijalankan presiden George. W Bush. Tetapi akhirnya pada tahun 2010 Presiden Barack Obama mendukung proses referendum yang telah direncanakan pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush dengan mendesak PBB untuk melaksanakan referendum secepatnya. Pemerintahan Presiden Barack Obama telah meningkatkan keterlibatannya pada Sudan Utara dan Sudan Selatan dan berjanji untuk melakukan kerjasama di masa yang akan datang.102
Saat itu Senator Amerika Serikat, John Kerry menggelar pertemuan membahas mengenai perdamaian di Sudan Selatan. Dalam pembicaraannya pada pertemuan di Juba dengan pemimpin dari Sudan wilayah utara dan Selatan, John Kerry menyatakan pembicaraan ini bertujuan mendorong terciptanya perdamaian yang lancar serta damai pada proses referendum nanti.103
Adapun tujuan Amerika Serikat dalam memberikan bantuan kepada Sudan Selatan telah disusun dalam kebijakan yang dikeluarkan Amerika Serikat. Hillary
101Lauren Ploch Blanchard, “Sudan and South Sudan: Current Issues for Congress and U.S. Policy”, Congressional Research Service:4, 5 Oktober 2012 [database]; tersedia di
http://fas.org/sgp/crs/row/R42774.pdf; Internet; diunduh pada 14 Juli 2014.
102Morgan L. Roach and Ray Walser, “The Role of the United States in Southern Sudan’s Referendum”, The Heritage Foundation No. 3191, 16 Maret 2011 [database]; tersedia di
http://www.heritage.org/research/reports/2011/03/the-role-of-the-united-states-in-southern-sudans-referendum; diakses pada 10 Juli 2014.
103 “Referendum Sudan Selatan dimulai”, BBC, 9 Juli 2011, tersedia di
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110109_souhsudanpool.shtml diakses pada 15 Juli 2014.
Clinton selaku Menteri Luar Negeri Amerika Serikat berpidato terkait tujuan yang akan dilakukan di Sudan. Dalam pidatonya Hillary Clinton mengatakan,
“First, an end to conflict, gross human rights abuses, war crimes, and genocide in Darfur; second, implementation of the Comprehensive Peace Agreement that results in a united and peaceful Sudan after 2011, or an orderly path toward two separate and viable states at peace with each other; and third, a Sudan that does not Provide a safe haven for terrorists.” 104
Dalam pidatonya, menurut Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Ia memiliki tiga tujuan utama pada konflik Sudan. Pertama adalah mengakhiri konflik, menegakan pelanggaran hak asasi manusia, kejahatan perang, dan genosida di Darfur. Kedua melaksanakan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) yang menghasilkan Sudan bersatu dan damai setelah 2011, atau penertiban dua Sudan menjadi dua negara yang terpisah serta layak berdamai satu sama lain. Ketiga adalah memastikan Sudan tidak menyediakan tempat yang aman bagi teroris.105
Akhirnya setelah perjuangan yang panjang, Sudan Selatan melakukan referendum pada 9 Januari 2011, dengan hasilnya adalah 98,83% warga Sudan bagian Selatan memisahkan diri dengan Sudan. Pada tanggal 9 Juli 2011 Sudan Selatan resmi menjadi negara merdeka.106 Dukungan yang diberikan Amerika Serikat telah banyak diberikan kepada Sudan Selatan. Kebijakan yang dibuat
104 “The Sudan Referenda: What Role For International Actors?”, International Peace Institut, November 2010 tersedia di http://www.ipinst.org/publication/policy-papers/detail/303-the-sudan-referenda-what-role-for-international-actors.html; Internet; diakses pada 20 April 2014
105Kevin Peraino, “Is Massive U.S. Aid Helping South Sudan?”.
Amerika Serikat dimaksudkan untuk menjadi proaktif mengubah perilaku pemerintah Khartoum serta mempromosikan perdamaian di Sudan.107
Untuk mengawasi CPA akan berjalan dengan baik, Amerika Serikat juga mengirimkan utusan khusus. Dalam kunjungannya ke Sudan, Amerika Serikat mengecam Utara dan mendesak agar International Criminal Court (ICC) untuk mengadili Omar Al Bashir atas tuduhan genosida yang dilakukan atas konflik yang terjadi di Sudan.108 Dukungan diplomatik Amerika Serikat dapat dilihat dalam pengiriman pasukan perdamaian PBB ke konflik Sudan. Amerika Serikat memainkan peran kunci dalam dukungan pengiriman pasukan tentara serta pelaksanaan perdamaian Darfur.109
Kebijakan yang ditunjukan Amerika Serikat di Sudan mengisyaratkan bahwa kebijakan luar negeri mereka tidak hanya mengenai kemanusiaan, tetapi Amerika Serikat juga melihat sumber daya minyak sebagai potensi kerjasama baru yang akan datang. Meskipun dalam pidato Hillary Clinton tidak terdapat tujuan untuk bekerjasama dalam hal minyak, tetapi sumber daya minyak di Sudan sudah menjadi ketertarikan Amerika Serikat sejak lama.
Pada awalnya, Amerika Serikat memiliki kerjasama perusahaan minyak di Sudan, yaitu Chevron. Chevron telah menemukan sejumlah titik sumber minyak di dekat Abu Jabar di perbatasan Darfur dan Kordofan serta penemuan ladang minyak besar di Heglig. Namun, perusahaan ini telah menjual usahanya pada tahun 1992
107Kevin Peraino, “Is Massive U.S. Aid Helping South Sudan?”.
108Human Right Watch, “Sudan (North)”, Januari 2012.
karena pada tahun 1984 tiga orang pekerja Chevron tewas akibat serangan pasukan sekutu Anyanya II, serta berlanjut dengan adanya tekanan dari The National Islamic Front untuk menghentikan operasi Chevron di Sudan.110
Pada saat itu pihak Utara (lewat gerakan The National Islamic Front) menyerang perusahaan Chevron. Akibat penyerangan tersebut, gerakan The National Islamic Front di Sudan dipandang sebagai gerakan yang bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat. Pada saat Perang Teluk, Presiden Sudan menjauh dari Amerika Serikat hingga akhirnya Amerika Serikat mendukung Sudan Selatan (pemberontak) dengan mengirimkan bantuannya kepada Selatan.111
Dalam penelitian, Sudan memiliki 1,5 miliar barel cadangan minyak dan Sudan Selatan memiliki cadangan minyak lebih banyak yaitu 3,5 miliar barel. Mayoritas cadangan minyak terletak pada cekungan Muglad dan Melut yang meluas ke kedua negara ini.112 Meskipun Sudan telah lama melakukan kerjasama minyak dengan perusahaan Tiongkok, namun sebagai negara baru Sudan Selatan belum menentukan kerjasama minyaknya pada masa yang akan datang.
Pada konferensi di Washington, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton memperingatkan presiden baru, Salva Kiir Mayardit, tentang perlunya menghindari kemungkinan kekayaan Sudan Selatan akan tersedot oleh perusahaan dan kekuatan asing. Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah bergerak untuk mempercepat
110 Understanding Sudan, Fact Sheet Two: A History of Oil in the Sudan, A Teaching and Learning Resource 2009, Tersedia di http://understandingsudan.org/ diakses pada 22 Agustus 2014.
111 Understanding Sudan, Fact Sheet TwoTersedia di http://understandingsudan.org/ diakses pada 22 Agustus 2014.
112 Country Analysis Brief: Sudan and South Sudan, 2014, tersedia di
eksploitasi sumber daya di wilayah tersebut, dan menyatakan minyak di Sudan Selatan “terbuka untuk bisnis”. Amerika Serikat juga telah mengirimkan petugas untuk mengelola perencanaan strategis negaranya.113
2. Dukungan Ekonomi
Dalam membantu Sudan Selatan mencapai kemerdekaannya, Amerika Serikat memberikan bantuan ekonomi dalam jumlah yang besar. Dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, Sudan Selatan merupakan negara peringkat terbesar di antara penerima bantuan Amerika Serikat di sub Sahara Afrika. Amerika Serikat telah menginvestasikan bantuan ekonomi substansial dalam upaya untuk membuat negara Sudan Selatan menjadi negara baru yang layak, mengingat diperlukannya kebutuhan yang besar untuk bidang kemanusiaan di Sudan Selatan dan untuk proses perkembangan selanjutnya sebagai negara baru.114
Bantuan ekonomi disalurkan Amerika Serikat dalam periodesasi yang konsisten sejak pemerintahan Bush hingga Obama. Upaya mendukung kemerdekaan Sudan Selatan lewat dukungan ekonomi dimulai dari bantuan yang diberikan Amerika Serikat untuk kedua Sudan sebesar US$2 miliar per tahun. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan dan operasi penjagaan perdamaian internasional. Dalam periode 2005 hingga 2010, total bantuan Amerika
113Jonathan Jacobs, “Sudan Selatan dan US National Interest”.
Serikat memberikan lebih dari US$10 miliar bantuan ke Sudan, termasuk untuk Sudan Selatan dan Darfur. 115
Di antara 10 negara donor, Amerika Serikat menjadi negara donor terbesar dalam periode 2000 hingga 2009 yang menyediakan 33,9% bantuan ke Sudan untuk proses perdamaian melalui official development assistance (ODA). Sudan mendapat US$4,5 miliar untuk periode awal 2005-2007, kemudian pada 2009 Sudan menerima US$2,4 miliar dari (ODA).116 Pada tahun 2002 hingga 2009, bantuan Amerika Serikat telah sepuluh kali lipat bertambah. Bantuan tersebut dialkokasikan untuk infrastruktur sosial serta mitgasi konflik di Sudan.117
Pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, sebesar US$6 miliar telah diberikan untuk Sudan dan Sudan Selatan. 118 Bantuan tersebut diberikan untuk kebutuhan korban jiwa, seperti, membeli peralatan rumah sakit, persediaan rumah sakit serta kebutuhan bagi para pengungsi. Pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, Amerika Serikat telah memberikan bantuan lebih dari US$300 juta per tahun ke Sudan Selatan. Bantuan ini diberikan dalam upaya membantu pemerintah Kiir untuk mencapai referendum kemerdekaan Sudan Selatan pada 2011.119
115Lauren Ploch Blanchard, “Sudan and South Sudan”, 5.
116Lydia Poole, “Sudan Aid Factsheet 1995-2009”, Global Humanitarian Assistance, UK, 2011.
117Poole, “Sudan Aid Factsheet 1995-2009”,
118Paul Romita, “The Sudan Referenda: What Role for Internatioanal Actors?”.
3. Dukungan Militer
Untuk mendukung kemerdekaan Sudan Selatan, sejumlah dukungan militer diberikan oleh Amerika Serikat salah satunya adalah bantuan militer. Kongres Amerika Serikat mengeluarkan wewenang untuk menyalurkan bantuan bagi pelaksanaan perjanjian. Di antaranya adalah bantuan militer yang mendukung gerakan South’s Sudan People’s Liberation Army (SPLA) yang semula merupakan gerakan gerilya menjadi tentara professional untuk Sudan Selatan.120
Kemudian, bantuan lain diberikan Presiden Bush yang memutuskan untuk menambah pasukan perdamaian untuk PBB yang akan dikirimkan ke Sudan.