• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasan Al-Banna adalah seorang murabbi (pendidik) istimewa, dengan bakat dan proses belajar. Bakat dan pengalamannya ia terapkan dalam mendidik generasi muda muslim yang diharapkan dapat membawa kebangkitan Islam. Ia begitu kuat membekali generasi ini dengan ilmu dan keimanan sehingga dapat mengemban misi perubahan dan komitmen pada pembaharuan dan reformasi (Ishlah) bagi negerinya, lalu bagi umatnya secara keseluruhan.

Dalam mentarbiyah para pengikutnya atau murid-muridnya Hasan Al- Banna menggunakan beragam perangkat dan secara bertahap (dari keterikatan secara umum, lalu keterikatan persaudaraan, selanjutnya keterikatan dalam aktivitas, hingga keterikatan dalam jihad). Keberagaman bentuk dan tahapan ini tidak lain sebagai upaya nyata akan perangkat-perangkat ideal dalam tarbiyah. Perangkat-perangkat tarbiyah itu meliputi:

1. U srah

Secara bahasa, kata “Usrah” memiliki beberapa makna, antara lain :

a. Baju perisai yang melindungi b. Istri dan keluarga seseorang

c. Jama’ah yang diikat oleh kepentingan yang sama d. Mereka adalah famili dan usrah-ku

e. Usrah seseorang berarti kelompoknya, karena ia menjadi kuat bersamanya.

Dalam sosiologi dikatakan sebagai berikut:

“Usrah seseorang terdiri kerabat dan istri. Ikatan usrah menyebabkan lahirnya hak dan kewajiban, baik yang bersifat materi maupun selain materi.”24

Dari definisi di atas, baik secara bahasa maupun secara sosiologis kita bisa menyatakan bahwa dalam sejarah pendiriannya, jama’ah Ikhwanul Muslimin sejak dini telah berinisiatif untuk menjadikan perkumpulan ini bertumpu pada sebuah wadah yaitu usrah, yang di dalamnya terkandung semua makna yang telah disebutkan dalam berbagai definisi di atas. Ia dapat dikatakan sebagai perisai perlindungan yang kokoh bagi setiap anggotanya, lebih-lebih kita ketahui bahwa jama’ah telah menjadi ta ’aruf (saling mengenal). Tafahum (saling memahami) dan takaful (saling menanggung) sebagai rukun-rukun usrah. Usrah juga merupakan kumpulan orang-orang yang terikat oleh kepentingan yang sama, yakni: bekerja mentarbiyah dan mempersiapkan kekuatan untuk Islam. Usrah menjadikan setiap

anggotanya menjadi lebih kuat, karena bersama-sama dengan anggota yang lain. Dengan usrah proses penanaman nilai menjadi sangat efektif dan efisien. Karena setiap kali terjadi penanaman nilai, maka akan langsung ada koreksi dalam pelaksanaan keseharian yang dilakukan oleh seorang pembimbing ataupun sesama orang yang

9 S dibimbing dalam usrah yang sama.

1) Tujuan usrah

a) Membentuk Kepribadian Islami, yakni dengan mewujudkan berbagai aspek yang dapat membangun kepribadian Islami seutuhnya.

b) Mengukuhkan makna dalam diri anggota, ia adalah ukhuwah karena Allah, karena Islam dan karena semangat saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.

c) Melihat diri untuk mengemukakan pendapat secara bebas, mau mendengar pendapat orang lain dengan lapang dada dan pikiran yang terbuka, serta mendiskusikan pendapat itu sehingga menjadi kebenaran yang wajib diikuti.

d) Memberdayakan setiap anggota mampu mentarbiyah dirinya sendiri, berangkat dari asumsi bahwa dirinyalah yang lebih tahu tentang apa yang dibutuhkannya, menyangkut kebutuhan pengetahuan dan keahlian, manakala karena sebab-sebab tertentu usrah tidak memiliki program.

25A ga Sekamdo, Membumikan Ikhwanul Muslimin, Studi Analisis Atas Proses

e) Bekeija sama antar anggota usrah untuk mengembangkan potensi diri dengan pelatihan.

f) Bekeija sama antar anggota usrah untuk memecahkan berbagai problematika dan kendala yang menghadang aktivitas Islam. Problem dan kendala hampir pasti ada ketika kita menggulirkan aktivits Islam di tengah masyarakat yang tidak tercelup dengan nilai-nilai Islam dalam aspek kehidupannya. Bahkan, problematika ini akan tetap membayangi selama individu bekeija.

g) Bekerja untuk mencetak calon-calon naqib usrah, mengapa demikian? Karena usrah bukanlah ‘perkumpulan abadi’ yang seakan-akan menjadi tujuan itu. Ia hanyalah forum sementara yang batasi masa tertentu, hingga usainya kajian suatu program. Tatkala program ini selesai, para anggota usrah akan berpencaran menangani berbagai kegiatan yang memenuhi kebutuhan agama dan tuntutan jama’ah. Ini dilaksanakan setelah melalui program ini mereka matang dalam wawasan, kineija, dakwah dan harakahnya, karena kematangan menjadi

26

salah satu syarat bagi suksesnya program. 2) Rukun-rukun usrah

Hasan Al-Banna pernah menulis sebuah risalah yang beijudul Nizhamul Usrah. Beliau memfokuskan pembicaraan

pada rukun-rukun usrah. Dalam muqadimah beliau

menuturkan, “Islam sangat mengajurkan pembentukan

26Ibid, him. 153

‘keluarga’ dari para pemeluknya, yang mengarahkan mereka menuju keteladanan tertinggi, yang mengarahkan ikatan persatuannya, mengangkat persaudaraan mereka dari tingkatan kata-kata dan teori menuju keija dan operasional. Oleh karena itu berusahalah wahai saudaraku, agar engkau bisa menjadi batu-bata yang baik bagi bangunan Islam ini.” Pilar-pilar ikatan usrah ini ada tiga rukun, yaitu :

(1) Ta ’aruf (saling mengenal)

Ia adalah awal dari ketiga rukun ini. Oleh karenanya saling mengenallah dan saling mencintailah kalian karena Allah, hayatilah makna ukhuwah yang benar dan utuh diantara kalian, berusahalah agar tidak ada sesuatupun yang menodai kesucian hubungan kalian, bercerminlah dengan ayat-ayat dan hadist-hadist yang mulia, jadikanlah ia sebagai pusat perhatianmu.27 28 Firman Allah SWT :

‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara. ” (Al-Hujurat: 10)28

v"ft^ K ^

27Hasan Al-Banna, Surat Terbuka Untuk Generasi D a ’wah, Al-I’tishom Cahaya Umat, Jakarta, 2000, him. 48

“Berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai. ” (Ali Imran : 103)29

(2) Tafahum (saling memahami)

Mengenai hal ini Hasan Al-Banna menuturkan : “Ia adalah pilar yang kedua dari nizham (sistem) usar ini, karenanya istiqamahlah kalian pada manhaj yang benar; laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah dan tinggalkanlah apa yang di larang Allah koreksilah diri dengan sungguh-sungguh dan detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan. Setelah itu, hendaklah masing-masing diantara kalian menasehati saudaranya begitu melihat aib padanya. Hendaklah seorang al-akh menerima nasehat dengan gembira dan bahagia serta berterima kasih atas nasehat tersebut. Sedang seorang al-akh yang menasehati, hendaklah waspada, jangan sampai (rasa cinta yang ada di hati terhadap saudaranya itu) bergeser serambutpun dan jangan sampai terkesan merendahkannya, atau menganggap diri lebih utama dari padanya. Akan tetapi hendaklah ia merahasiakannya selama sebulan penuh dan jangan mengabarkan kepada seorangpun kecuali kepada pimpinan usrah, itupun bila ia tidak mampu memperbaikinya, setelah itu, ia tetap mencintai, menghormati dan mengasihi saudaranya seperti semula. Sehingga Allah menetapkan

keputusan-Nya. Dan al-akh yang di nasehati, hendaklah waspada janganlah ingkar, dongkol, dan berubah hati serambutpun kepada saudaranya yang memberi nasehat, sedangkan nasihat adalah pilar agama. “Agama adalah nasihat” Semoga Allah melindungi kalian dari (kejahatan) memalingkan tipu daya setan dari kami dan darimu.”30 (3) Takaful (saling menanggung beban)

Tentang hal ini Hasan Al-Banna berkata : “Ia adalah rukun yang ketiga, karenanya hendaklah sebagian kalian memikul beban sebagian yang lain. Demikianlah itu bukti kongkrit keimanan dan intisari persaudaraan, maka hendaklah sebagian kalian selalu membiasakan bertanya (tentang kondisi) sebagian lainnya, memperhatikan peluang untuk berbuat baik dan segera memberikan bantuan bila ada jalan untuk itu.”31

Takaful memiliki tahapan-tahapan dan derajat- derajatnya sebagai berikut:

- Saling mencintai, mengikatkan hati, dan berkasih sayang.

- Bahu-membahu dalam berbagai pekeijaan yang menuntut banyak energi.

- Tolong-menolong sesama muslim jika ada diantara mereka yang zhalim atau di zhalimi.

- Saling memahami (takaful) dalam skala usrah, dari naqibnya hingga para anggotanya.32

30Hasan Al Banna, op. cit., him. 50

3'lb id , him. 51

2. Katibah

1) Pengertian katibah

Katibah memiliki pengertian yang bersifat gerakan, karena dengan katibah tersebut anggota-anggota jama’ah berlatih hidup bersama antara sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain dalam waktu yang tidak sebentar, bahkan tidak sebagaimana biasanya, karena ia di lakukan di waktu malam ketika kebanyakan orang terlelap tidur dalam istirahatnya.33 Semua itu dilakukan agar anggota ikhwan dapat melihat hakekat dirinya, apakah mereka akan bersantai-santai ataukah beijihad dijalan Allah.

Katibah berarti pola spesifik dalam mentarbiyah sekelompok anggota ikhwan. Pola tersebut bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan untuk melaksanakan ibadah secara umum, juga untuk tahajud, dzikir, tadabur dan berfikir secara khusus.

Katibah adalah sebuah perangkat yang unik dan kreatif. Boleh jadi Hasan Al-Banna mengadopsinya dari pertemuan-pertemuan di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam dimana Rasulullah saw, mengumpulkan orang-orang yang beriman di sana dimasa-masa awal tersebut ketika mereka masih minoritas untuk menginformasikan apa- apa yang beliau peroleh dan membuka diri di hadapan mereka.

Beliau juga mentarbiyah mereka dengan tarbiyah ruhiyah yang puncak, sehingga dari rumah yang sederhana itu lahirlah para tokoh pemanggul panji hidayah dan pembawa cahaya Islam.

2) Aturan main katibah

Aturan main katibah adalah sebagai berikut:

a) Katibah bermalam sekali dalam sepekan di markas umum dan ustadz-ustadz Mursyid juga bermalam bersama mereka.

b) Mereka mengerjakan shalat Maghrib dan Isya’ bersama ustadz Mursyid Hasan Al-Banna.

c) Mereka makan malam bersama ala kadarnya.

d) Mereka berdzikir bersama dan saling berbincang di malam hari. e) Tidak berapa lama setelah shalat Isya’ dan dalam waktu yang

terbatas, mereka tidur di lantar dalam satu kamar yang luas. Masing-masing mereka menjadikan sepatu-sepatunya sebagai bantal. Ustadz Mursyid tidur bersama mereka dengan cara yang sama.

f) Mereka bangun tidur dua jam sebelum shubuh, lalu mereka berwudhu dan melakukan shalat Tahajud beberapa rekaat sendiri- sendiri.

g) Lampu-lampu di matikan dan mereka duduk mendengarkan bacaan Al-Qur’an secara khusuk sekitar satu juz, yang di baca oleh juru tilawah katibah saat itu, yakni Muhammad Ahmad Sulaiman.

h) LlMph di nyalakan kembali dan mereka mendengarkan taklim dari ustad Mursyid yang membahas tentang pembinaan kejiwaan dan keilmuan bagi para da’i disertai pemaparan mengenai sejarah dakwah dan para da’inya, penjelasan tentang titik kelemahan pada setiap dakwah dan da’inya, serta akibat dari hal tersebut terhadap dalam dakwah Islam, dilanjutkan dengan penjelasan bagaimana para da’i menghindari titik kelemahan yang telah menimpa orang- orang sebelumnya.

i) Menyediakan sedikit waktu sebelum subuh untuk beristigfar.

j) Adzan subuh kemudian shalat secara beijama’ah di belakang Ustadz Al-Mursyid.

k) Membagi wirid-wirid Al-Qur’an kepada anggota katibah dan ustadz Al-Mursyid menafsirkannya sebagai pembuka untuk dihafal.

l) Apabila Matahari telah terbit secara bersama-sama membaca do’a- do’a ma’tsurat dengan suara lirih.

m) Sarapan ringan kemudian masing-masing berangkat ke tempat keija.34

3) Program katibah

a) Shalat Maghrib beijama’ah kemudian berbuka bersama tanpa berlebihan.

b) Sambutan pembukaan dari pemimpin katibah.

c) Membaca Al-Qur’an.

d) Membaca ma ’t surat wazhifah kubra secara sendiri-sendiri. e) Bangun di sebagian malam.

f) Shalat tahajud beberapa rekaat sebelum shalat fajar secukupnya. g) Istigfar, dzikir, dan berdo’a.

h) Pelajaran tafsir untuk sebagian ayat Al-Qur’an .

i) Pelajaran tentang sirah nabawiyah untuk di ambil hikmah dan keteladanannya.

j . Penj elasan tentang sej arah dakwah dan da’ inya.

k) Penjelasan tentang tarbiyah, pembinaan dan penyiapan anggota.

l) Sambutan penutup oleh pimpinan katibah.

*1 c

m) Evaluasi katibah. 3. Rihlah

Rihlah sangat penting untuk menciptakan iklim sosial keihwanan yang dipandu oleh nilai-nilai Islam dan kedisiplinan secara fisik sehari penuh.

Apabila usrah dan katibah lebih memberikan perhatiannya kepada pematangan aspek ruhani, intelektualitas, kejiwaan, dan sosial dari pada aspek fisik, baik individu maupun kelompok, maka rihlah adalah perangkat tarbiyah yang lebih tercurah perhatiannya kepada aspek fisik. Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa sesungguhnya rihlah adalah

perangkat tarbiyah yang lebih tercurah perhatiannya kepada aspek fisik. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa sesungguhnya rihlah merupakan perangkat tarbiyah pelengkap bagi berbagai perangkat yang di pakai oleh jama’ah untuk mentarbiyah para anggotanya.36 37 38

4. Mukhayam dan Mu ’asykar

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan peningkatan taraf kesehatan anggota ikhwan, melatih ketaatan mereka menjaga moralitas dan sportifitas dalam olah raga, serta menyiapkan mereka agar menjadi j undi yang shalih sebagaimana yang di wajibkan oleh Islam atas setiap muslim. Ini merupakan Ma ’had Tarbiyah Jismiyah (pendidikan

• 37

jasmani) bagi ikhwanul muslimin. Tujuan-tujuan Mukhayam adalah: a) Pengumpulan

Pengumpulan adalah mengumpulkan orang secara umum atau anggota ikhwan secara khusus di suatu tempat yang dapat menampung mereka dalam beberapa hari atau beberapa pekan, untuk mempermudah pengarahan, penugasan, dan pengikatan Ukhuwah Islamiyah di antara mereka, juga dalam rangka meyakinkan bahwa dalam kebersamaan terdapat kebaikan dan barakah serta cukuplah bahwa tantangan Allah bersama jama’ah.

36Ibid., him. 280

37Hasan Al-Banna, op. cit., him. 233 - 234 38DR. Ali Abdul Halim Mahmud, op. cit., him. 301

b) Mukhayam memiliki tujuan ketarbiyahan yang tidak tergantikan oleh usrah, katibah maupun rihlah. Karena sebagaimana sudah dijelaskan, ia memiliki forum dengan waktu yang relatif lama dan tempat yang luas, yang itu tidak terdapat pada usrah, katibah maupun rihlah.

c) Latihan

Tujuan yang bersifat pelatihan marupakan tujuan yang paling penting dalam mukhayam, karena tujuan itulah yang memang sejak semula dituntut dari mukhayam ini. Misalnya, latihan hidup secara militer dalam arena mukhayam dalam pengawasan yang ketat dari komandan lapangan dengan berbagai pengarahan dan bimbingannya. Karakteristik kemiliteran itu antara lain : keteraturan, kecermatan, kesabaran, ketahanan, ketaatan, kepercayaan kepada pemimpin, responsibility, keija sama, kesiap siagaan, ukhuwah dan disiplin.39 40 5. Daurah

Daurah adalah aktivitas mengumpulkan sejumlah ikhwan yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian penelitian dan pelatihan tentang suatu masalah dengan mengangkat tema tertentu yang di rasa penting bagi keberlangsungan amal Islami.41

Tidak diragukan lagi bahwa daurah memiliki andil secara nyata dalam menjaga orisinalitas ajaran Islam dan menciptakan kecakapan untuk menunaikan tugas-tugas dakwah, selain memberikan pelatihan untuk merealisir berbagai konsep yang ingin diaktualisasikan melalui daurah.

39Ibid, him. 303

40Ib id , him. 307

Dari sini jelaslah bahwa daurah memiliki tujuan, yaitu mempersiapkan personil atau pemimpin dengan matang untuk menunaikan tugas-tugas aktivitas, studi, dan dialogi di satu sisi, serta untuk mampu melihat berbagai sampel ideal yang dicontohkan oleh para tutor yang membimbing kajian dan pelatihan di forum daurah disisi yang lain.

6. Nadwah

Nadwah adalah sekumpulan orang yang berkumpul di suatu tempat pertemuan atau sejenisnya, untuk melakukan kajian dan musyawarah suatu urusan.

Nadwah di masa sekarang berarti sebuh pertemuan yang menghimpun sejumlah pakar dan para spesialis untuk mengkaji suatu tema ilmiah atau persoalan dimana setiap mereka memberikan pendapatnya dengan argumentasi dan bukti-bukti.42

7. Muktamar

Muktamar menurut bahasa berarti makanul i ’timar (tempat musyawarah). Lembaga Bahasa Arab (di Mesir) mendefinisikannya sebagai forum untuk bermusyawarah dan mengkaji sesuatu. Muktamar ada dua macam, yaitu muktamar resmi atau khusus dan muktamar umum.

Muktamar resmi ini khusus untuk menunjuk kepada suatu forum resmi yang memiliki kepentingan tertentu dalam aspek tujuan maupun produk-produk yang dihasilkan, seperti ratifikasi perjanjian atau dokumen. Sedangkan muktamar umum, ia menampung sejumlah peserta kadang-

kadang hingga ratusan. Keikut sertaannya bersifat terbuka bagi semua organisasi maupun individu-individu tertentu. Muktamar di selenggarakan dalam waktu tertentu untuk saling tukar pendapat tentang suatu tema yang dikaji dan untuk membuat beberapa rekomendasi yang disebarluaskan.43

E. Jenis-Jenis Sarana Pendidikan

Dokumen terkait