(Telaah Terhadap Pemikiran Hasan Al Banna)
S K R I P S I
Disusun Untuk Memenuhi Kewajiban Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Dalam Ilmu Tarbiyah
M U K H L I S I N
NIM: 11100 049
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
Web Site: WWW. Stain Salatiga.ac.id E-mail: Administrasi @Stain Salatiga, ac. i d
DEKLARASI
Bismillahirrahmanirahim
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah
ditefbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikitan-pikitan orang
lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
rujukan.
Apabila dikemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran
orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang
munaqosah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh peheliti urttUk dapat dimaklumi.
Salatiga, 7 Mafet 2005
JL S ta d io n N o. 03 S a la tig a
«
(0298) 3 2 3 706, 3 2 3 4 4 4 K o d e P o s 50721NOTA PEMBIMBING
Lamp : 3 eksemplar H a l : Naskah Skripsi
Sdr. Mukhlisin
NIM: 111 00 049
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salatiga, 28 Februari 2005
K e p a d a Yth. K e t u a
STAIN Salatiga di
-T e m p a t
Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya,
maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudara :
N a m a : Mukhlisin
N IM : 11100 049
Jurusan/Program : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam
J u d u l : TARBIYAH ISLAMIYAH DAN KEBANG
KITAN ISLAM (Telaah Terhadap Pemikiran Hasan Al-Banna)
Dengan ini kami mohon agar naskah skripsi tersebut dapat
segera dimunaqosahkan.
Demikian harap menjadikan perhatian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing
.150240106
J L S t a d io n N o . 0 3 S a la tig a * ( 0 2 9 8 ) 2 3 4 3 3 , 2 3 7 0 6 K o d e P o s 5 7 0 2 1
P E N G E S A H A N
Skripsi Saudara : MUKHLISIN dengan Nomor Induk Mahasiswa : 111 00 049 yang
beijudul : ’TARBIYAH ISLAMI Y AH DAN KEBANGKITAN ISLAM (Telaah
Terhadap Pemikiran Hasan Al-Banna)”. Telah dimunaqosahkan dalam Sidang
Panitia Ujian, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, pada
hari : Sabtu tanggal 3 Shafar 1426 H, yang bertepatan dengan tanggal: 12 Maret
2005 M, dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA dalam Ilmu Tarbiyah.
Shafar 1426 H Salatiga,
12 Maret 2005 M
“ TEGAKKAN KEDAULATAN ISLAM DI HATIMU, NISCAYA AKAN
TEGAK DI BUMIMU “
“ HIDUP MULIA ATAU MATI SEBAGAI SYUHADA “
“ PRIBADI TANGGUH PANTANG MENGELUH, MENGELUH TANDA
TAK MAMPU ”
Karya kecil ini penulis persembahkan dengan cinta kasih kepada :
> Ayah dan ibunda tercinta yang senantiasa mencurahkan kasih sayang dan
do’a restunya.
> Kakaku-kakakku tercinta (Mas Giyarto, Mbak Yatmi, Mas Imam dan Mbak
Nur) yang telah memberikan dukungan dan motivasi untuk senantiasa
beijuang dan mandiri.
> Keponakanku yang manis “Qur’ani Fajri, Warsiti, Ikhwanuddin, Ridwan
Hanafi”, engkaulah tunas harapan pengibar panji Islam.
> Ikhwan dan Akhwat aktivis dakwah Islam “KAMMI Komisariat Salatiga,
LDK STAIN Salatiga, Pondok Mahasiswa Wali Songo, Syafira, Zamrud dan
Islamic Centre” teruslah beijuang tuntaskan perubahan.
> Kepada mujahid-mujahidah benteng kebenaran yang merindukan lahirnya
kejayaan dimanapun berada, selamat berjuang tegakkan keadilan,
tumbangkan kedholiman di bumi Indonesia, Allah bersama kita.
Alhamdulillah segala puji hanyalah milik Allah SWT, Dia
menyempurnakan segala amal kebaikan dengan nikmat dan karinia-Nya. Hanya
dengan izin dan karunia-Nya pula penulis dafjat menyelesaikan skripsi ini.
Sholawat dan salam kepada Muhammad SAW sebagai Nabi pentitup akhir zaman,
Dalam penulisan skripsi ini yang beijudul T A R B lY A ti ISLAM IYAH
DAN KEBANGKITAN ISLAM (Telaah Terhadap Pemikiran Hasan
Al-Banna), dimaksudkan guna memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh
gelar sarjana dalam Ilmu Tarbiyah pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Salatiga.
Seiring dengan selesainya penulisan skripsi ini penulis menyampaikan
ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada:
1. Bapak Drs. Badwan, M. Ag., selaku Ketua STAIN Salatiga.
2. Drs. Juz’an, M. Hum, selaku dosen pembimbing yang banyak meluangkan
waktu dan pemikirannya dalam mengarahkan dan membimbing penulis.
3. Bapak dan ibu dosen serta karyawan-karyawati STAIN Salatiga yang telah
membekali ilmu pengetahuan dan pelayanan yang baik kepada penulis..
4. Ayah bunda dan kakak-kakakku tercinta yang senantiasa mendidik,
mengarahkan dan banyak berkorban baik moril maupun spirituil.
5. Saudara-saudara seiman dan seperjuangan yang telah membantu dan
memberikan dukungan dalam skripsi ini.
Semoga semua yang telah mereka berikan dicatat sebagai amal sholeh di
sisi Allah SWT. Dan mendapatkan balasan yang lebih baik. Dalam penulisan
skripsi ini, penulis telah berusaha mencurahkan segala kemampuan yang ada.
Namun demikian penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
skripsi ini. Oleh karenanya penulis sangat berterimakasih apabila pembaca yang
budiman berkenan memberikan tanggapan, kritik dan saran-sarannya. yang telah memberi bimbingan dan tauladan kepada umatnya
pendidikan Islam.
Salatiga, 5 Maret 2005
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
B A B I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Penegasan Judul ... 4
E. Manfaat Penelitian ... 5
F. Metode Penelitian ... 6
G. Sistematika Penulisan Skripsi ... 8
6 A B I I : RIWAYAT HIDUP HASAN AL BANNA A. Biografi Hasan Al Banna ... 10
B. Latar Belakang Pendidikan Hasan Al Banna... 15
C. Karya-karya tulis Hasan Al Banna... 17
D. Kondisi Sosial Masyarakat M esir... 20
E. Arah Pemikiran Dan Perjuangan Hasan Al Banna .... 23
B A B ID: KONSEP TARBIYAH ISLAMI Y AH MENURUT HASAN AL-BANNA A. Pengertian Tarbiyah Islamiyah ... 34
B. Dasar Tarbiyah Islamiyah ... 39
C. Tujuan Tarbiyah Menurut Hasan Al Banna ... 40
D. Perangkat-Perangkat Tarbiyah Islamiyah ... 49
E. Jenis-Jenis Sarana Pendidikan ... 63
TERHADAP KEBANGKITAN ISLAM
A. Pengertian Kebangkitan Islam ... 72
B. Metode Kebangkitan Islam ... 73
C. Sendi-Sendi Kebangkitan Islam ... 90
D. Tarbiyah Islamiyah Implikasinya Terhadap Kebang
kitan Islam ... 93
B A B V : PENUTUP
A. Kesimpulan ... 106
B. Saran-Saran ... 108
C. Penutup ... 110
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT PENULIS
PEND AliULU AN
A. Latar Belakang Masalah
Merupakan sebuah kenyataan bahwa Islam yang pernah mencapai
puncak kejayaannya di masa Nabi Muhammad SAW, khulafa’ur rasyidin,
dan khalifah Umar bin Abdul Aziz, kini tampak mulai redup kembali
cahayanya seiring dengan runtuhnya khilafah Turki Usmani tahun 20-an.
Dulu mereka maju, jaya dan menguasai dunia. Kini sebaliknya umat Islam
mundur dan bercerai-berai menjadi negara-negara kecil, emirat-emirat dan
kesultanan. Mereka bukan sekedar terbelakang tetapi menjadi permainan
negara adidaya yang setiap saat siaga menerkamnya. Barat dengan segala
ambisi dan arogansinya berupaya dengan sekuat tenaga untuk memadamkan
cahaya Islam itu. Mereka tidak akan pernah rela melihat Islam bangkit,
Islam bersinar kembali.
Berbicara tentang kebangkitan Islam, seolah berbicara tentang suatu
sisi yang masih gelap dalam catatan sejarah Islam, kecuali sisi kekhalifahan
yang sudah tersebut di atas. Umat Islam saat ini mengidap penyakit akut
yang sulit untuk disembuhkan. Bidang politik, umat Islam mengalami
konflik dan perpecahan. Bidang ekonomi, dengan merajalelanya riba di /
seluruh lapisan masyarakat dan monopoli perusahaan-perusahaan asing
terhadap seluruh potensi dan sumber daya alamnya. Pada sisi pemikirannya,
mereka banyak mengidap kekacauan, kesesatan dan kekafiran yang
menghancurkan akidah dan meruntuhkan nilai-nilai luhur yang ada dalam
jiwa anak bangsanya. Bidang sosial, mereka mengidap hedonisme dan
permisifisme dalam adat kebiasaan dan moral, serta lepas dari ikatan nilai-
nilai utama kemanusiaan yang mereka warisi dari para pendahulu mereka
dengan tulus hati. Bidang hukum dan perundangan, mereka dikuasai oleh
undang-undang politik yang tidak menyebabkan jera bagi penjahat, tidak
memberikan pelajaran kepada yang melampaui batas dan tidak mencegah
kedzaliman. Bidang kejiwaan, mereka mengalami keputusasaan yang
mematikan, kemalasan, sifat pengecut yang memalukan dan kerendahan
yang menghinakan, kebencian yang merajalela, egoisme, dan kebakhilan
yang menahan supaya tidak mau berkorban, serta mengeluarkan umat dari
barisan para mujahidin ke barisan orang-orang yang lengah dan lalai. 1
i Berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam pada abad ini memang
cukup kompleks yang menuntut umat Islam tak lagi menyelesaikannya
secara sepotong-potong (parsial) tetapi dituntut sebuah penyelesaian yang
integral dengan pesan-pesan nubuwah dari awal pencetus Islam di Mekah
yang mampu menjalin hati tiap-tiap kabilah yang berselisih kepada satu
ikatan persaudaraan.
Untuk memberikan solusi mujarab atas prolematika umat Islam saat
ini, yang dibutuhkan adalah kembali kepada Islam, yaitu sebuah Konsep
Tarbiyah Islamiyah. Dengan Tarbiyah Islamiyah umat Islam akan memiliki pemahaman dan kesadaran akan permasalahan yang sedang dihadapi
sekaligus mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikannya, karena Islam
adalah agama yang sempurna dan universal, agama yang mengatur seluruh
aspek kehidupan manusia.
Misi Islam atau misi risalah Muhammad SAW adalah mengentaskan
manusia dari kegelapan menuju cahaya. Risalah Muhammad SAW datang
sebagai risalah untuk segala aspek kehidupan. Islam dengan karakter ini
merupakan kebangkitan sosial yang luar biasa. Tujuannya adalah
mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju jalan Allah Yang Maha
• • 3
Perkasa lagi Maha Terpuji.
Berangkat dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji
pemikiran dan apa yang telah dilakukan oleh Hasan Al Banna dengan
gerakan Ikhwanul Musliminnya, maka penulis berupaya mengkaji :
’TARBIYAH ISLAMIYAH DAN KEBANGKITAN ISLAM (Telaah
Terhadap Pemikiran Hasan Al Banna)”.
B. Permasalahan
Yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana seting sosial yang melatar belakangi pemikiran Hasan Al-
Banna?
2Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul M uslimin Jilid 2, Era Intermedia, Solo, 2000, him. 162
2. Bagaimana pemikiran Hasan Al Bana tentang Tarbiyah Islamiyah dan
Kebangkitan Islam ?
3. Bagaimana implikasi pemikiran Hasan Al Bana tentang Tarbiyah
Islamiyah terhadap proses kebangkitan Islam ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui seting sosial yang melatar belakangi pemikiran
Hasan Al-Banna.
2. Untuk mengetahui pemikiran Hasan Al Banna tentang Tarbiyah
Islamiyah dan Kebangkitan Islam.
3. Untuk mengetahui implikasi pemikiran Hasan Al Banna tentang
Tarbiyah Islamiyah terhadap proses kebangkitan Islam.
D. Penegasan Judul
Agar mudah dipahami dan untuk menghindari salah pengertian
terhadap judul skripsi ini, maka penulis berusaha menjelaskan masing-
masing kata yang dipandang perlu supaya pengertiannya menjadi lebih jelas
dan mudah untuk memahaminya. Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut:
1. Tarbiyah Islamiyah
Tarbiyah Islamiyah adalah proses untuk menumbuhkan dan membentuk kepribadian muslim yang mutakamil ( sempurna) dalam seluruh sisinya baik kesehatan, akal, keyakinan dan kerohanian, jasad
dan akhlak.4
2. Kebangkitan Islam
Kebangkitan Islam adalah bangkitnya Islam dalam kehidupan
sebagai sebuah misi yang mengemban semua cita-cita manusia dalam
keyakinan, kemerdekaan, dan keadilan, untuk menghindarkan mereka
dari posisi marginalnya diluar realitas.5
Kebangkitan Islam adalah dakwah Islam seluruhnya, menuju
totalitas kehidupan.6
3. Hasan Al Banna.
Imam Syahid Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al Banna lahir
pada 1906 dikota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah.7
Beliau adalah pendiri gerakan dakwah Islam Ikhwanul Muslimin.
E. Manfaat Penelitian
1. Dengan adanya penelitian, dapat diketahui konsep Hasan Al Banna
tentang Tarbiyah Islamiyah dan kebangkitan Islam.
2. Memberikan sumbangan informasi dan dapat memperkaya cakrawala
tentang pemikiran Hasan Al Banna tentang Tarbiyah Islamiyah dan
kebangkitan Islam, yang dapat dijadikan pedoman bagi penulis dan
pembaca pada umumnya.
5Musthofa Muhammad Tholhah, Rekonstruksi Pemikiran Menuju Gerakan Islam
Modern, Intermedia, Solo, 2000, hlm.43
6 Ibid.
F. Metode Penelitian
1. Sumber Data
Karena sifatnya penelitian ini literer, maka datanya bersumber
dari literature, adapun yang menjadi data primer adalah buku Risalah
Pergerakan Ikhwanul Muslimin, hasil karya Hasan Al Banna.
Sedangkan data sekunder adalah buku-buku dan sumber lain yang
mendukung penelitian ini. Seperti Meretas Jalan Kebangkitan Islam
karya Abdul Hamid Al-Ghozali, Perangkat Tarbiyah Ikhwanul
Muslimin karya Ali Abdul Halim Mahmud, Rekonstruksi Pemikiran
Menuju Gerakan Islam Modern karya Musthofa Muhammad Pohan, Pendidikan Ikhwanul Muslimin karya Usman Abdul Muis
Ruslan, Dua Puluh Prinsip Hasan Al Banna karya Abdullah bin Qosim
Al Wasyli.
2. Analisis Data
Mengingat obyek penulisan skripsi ini adalah buku-buku
literatur yang termasuk kategori penelitian kepustakaan, maka
penelitiannya adalah “research kepustakaan”. 8 Untuk memperoleh
data pemikiran Hasan Al Banna tentang Tarbiyah Islamiyah dan
Kebangkitan Islam.
Untuk mencari interprestasi yang tepat mengenai pemikiran
Hasan Al Bana tentang Tarbiyah Islamiyah dan Kebangkitan Islam, penulis menggunakan analisa deduktif dengan menerangkan beberapa
data yang bersifat khusus dalam generasi berdasarkan hubungan dan
persamaan. 9 Dari interprestasi itu kemudian ditarik generalisasi dalam
perspektif Tarbiyah Islamiyah dan kebangkitan Islam, satu persatu dalam hubungan antara keduanya (induksi) dapat disimpulkan suatu
sintesis (generalisasi baru).
Agar memperoleh makna pemikiran yang konkrit sebagaimana
pemikiran Hasan Al Bana tentang Tarbiyah Islamiyah penulis menggunakan metode interprestasi, yakni karya tokoh diselami
untuk menangkap arti dan nuansa yang dimaksud tokoh itu secara
khas.10
Metode koherensi intern, dimaksudkan untuk memperoleh
interprestasi yang tepat mengenai pemikiran tokoh. Semua konsep dan
aspek dilihat menurut keselarasannya satu sama lainnya,11 yaitu dengan
menetapkan inti pemikiran yang mendasar dan topik-topik sentral yang
ada pada tokoh itu semua, kemudian meneliti susunan logis dan
sistematis dalam mengembangkan pemikirannya. Metode ini penulis
gunakan untuk memperoleh data-data yang utuh setelah
mengakumulasikan dan menyusun data dari karya Hasan Al Banna
yang berkaitan dengan Tarbiyah Islamiyah dan Kebangkitan Islam.
9Ibid., him. 36
10Anton Baker dan Ahmad Zubair, Metode Penelitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta,
1990, him. 63 /
Agar memperoleh gambaran pemikiran Hasan Al Bana yang
khas tentang Tarbiyah Islamiyah dan Kebangkitan Islam, yang
membedakan dengan pemikiran umum penulis gunakan metode
komparasi, yaitu dengan pemikiran yang lain entah dekat dengannya
atau justru sangat berbeda.12 Selanjutnya untuk menyesuaikan dengan
manuskrip atau naskah baru, atau (untuk teijemahan) berhubungan
dengan perkembangan bahasa diusahakan menentukan dengan lebih
tepat lagi istilah-istilah dan teks yang otentik, atau dicoba menemukan
terjemahan baru yang lebih baik, maka penulis juga menggunakan
metode heuristik.13
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Agar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang
keseluruhan isi dari skripsi, maka penulis membagi sistematika ke dalam 5
bab, yaitu:
Bab I : Dalam bab itli penulis menjabarkan mengenai pokok
permasalahan yang mencakup : latar belakang pemilihan
judul, penegasan judul, permasalahan, tujuan penelitian,
metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
nIbid., him. 65
nIbid., hlm.75-76
Bab II : Riwayat hidup Hasan Al Banna : Biografi Hasan Al Banna,
Latar Belakang Pendidikan Hasan Al Banna, Karya-Karya
Hasan Al Banna, Seting Sosial Masyarakat Mesir, Arah
Pemikiran dan Perjuangan Hasan Al Banna.
Bab III : Konsep Tarbiyah Islamiyah menurut Hasan Al Banna:
Pengertian Tarbiyah Islamiyah, Dasar Tarbiyah Islamiyah,
Tujuan Tarbiyah Islamiyah, Perangkat-Perangkat Tarbiyah
Islamiyah, Sarana Tarbiyah Islamiyah.
Bab IV : Konsep Kebangkitan Islam menurut Hasan Al Banna :
Pengertian Kebangkitan Islam, Metodologi Kebangkitan
Islam, Studi Analisis Konsep Tarbiyah Islamiyah
Implikasinya terhadap Proses Kebangkitan Islam.
RIWAYAT HIDUP HASAN AL-BANNA
A. Biografi Hasan Al-Banna
« Hasan Al Banna lahir di distrik Mahmudiyah Mesir pada tanggal 17
Oktober 1906 M, bertepatan dengan tahun 1323 H. 1 Ayahnya bernama
Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna yang dikenal dengan sebutan As
Sa'atiy (secara harfiah bermakna tukang jam).2 Hasan Al-Banna dibesarkan
oleh keluarga yang terkenal dengan ilmu dan agamanya, sehingga beliau
sangat istimewa dengan kekritisan kewaraan dan kezuhudannya. Ciri-ciri
kecerdasannya telah muncul sejak kecil. Beliau senantiasa melaksanakan
sholat malam, puasa Senin-Kamis. Bahkan Al-Banna kecil sudah hafal
setengah Al Qur’an, kemudian Al-Banna menyempurnakan hafalannya pada
saat akil baligh (30 juz). Terlihat pada raut mukanya tanda-tanda kesedihan
dan keprihatinan yang begitu dalam pada agamanya, beliau terdorong untuk
mengubah kemungkaran dengan tangannya sendiri.
Dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui Ibadah baik
fardhu maupun sunah, hal itu menjadikan ruh dan jiwa Hasan Al-Banna
terpelihara kesucian dan kemurniannya. Ia mulai menaruh perhatian terhadap
dakwah semenjak kecil. Ia mulai merancang kegiatan keislaman secara
terstruktur untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Ia bersama teman-temannya
'Fathi Yakan, Revolusi Hasan Al-Banna Gerakan Ikkwanul Muslimin Dari Sayid Qutub
Sampai Rasyid Al-Ghannusyi, Harokah, Jakarta Selatan, 2002, him. 3
2DR. Anwar Al Jundi, Biografi Hasan Al-Banna, Media Insani Press, Solo, 2003, him. 11
i
membentuk organisasi bernama Jam a’iyah Al Akhlaq Al Abadiyah
(Perhimpunan Akhlak Mulia) 3 dan sebuah asosiasi keislaman bernama
Jam ’iyah Man Al-Muharramat (Asosiasi Anti Barang Haram) 4 serta
Organisasi Muharabah Al Munkar at (Organisasi Pemberantasan
Kemungkaran).5
Ia tamat dari Sekolah Menengah Umum dengan peringkat nilai ke-5
untuk seluruh Mesir. Hasan Al Banna melanjutkan studinya ke Universitas
Dar Al-Ulum. Di Dar Al-Ulum dia merupakan mahasiswa yang paling
berprestasi, pada saat ujian akhir telah hafal 17.000 bait sair dan kata-kata
hikmah. Dia menamatkan Universitas Dar Al-Ulum dengan yudisium pertama
tingkat Universitas Dar Al-Ulum. 6
Hasan Al Banna ditunjuk sebagai pengajar di sekolah di provinsi
Ismailiyah, setelah menyelesaikan studi di Universitas Darul Ulum. Di
propinsi ini pengaruh Inggris tampak sangat dominan, sehingga gaya
kehidupan di Ismailiah hampir semua bercorak Eropa, layaknya kehidupan
yang terdapat di distrik-distrik yang berada di Inggris. Mayoritas
masyarakatnya adalah pekeija di perusahaan Terusan Zues yang pada saat itu
masih di bawah kekuasaan Inggris.
3Hasan Al Banna, Memoar Hasan A l Banna Untuk Dakwah dan Dainya, Era Intermedia, Solo, 2000, him. 29
*Ibid., him. 32
5Fathi Yakan, op. cit., him. 4
Untuk beberapa waktu lamanya beliau menetap di Ismailiah. Pada
bulan Dzul-Qo’dah tahun 1347 H, bertepatan dengan bulan Maret 1928 beliau
membentuk organisasi Ikhwanul Muslimin. Di kota ini pula beliau mendirikan
kantor pertama Ikhwanul Muslimin, bersama beberapa pengikutnya.7 *
Hasan Al Banna kemudian menyebarkan dakwahnya secara luas
melalui serangkaian ceramah dan penerbitan. Tuntutan dakwah selanjutnya
mendorong Al Banna mengunjungi semua kota dan desa yang bisa dikunjungi
untuk menyampaikan dakwahnya. Keija keras itu akhirnya memang
membuahkan hasil yang gemilang. Dalam waktu yang relatif singkat, gerakan
dakwah beliau telah memiliki cabang di hampir seluruh penjuru Mesir.
Dakwah beliau tidak terbatas pada kaum pria saja, tetapi juga menyentuh
kalangan waita. Bahkan di Ismailiyah, beliau mendirikan Ma ’had Ummatul
o
Mu ’minin, sebagai tempat pendidikan khusus bagi para muslimah.
Beberapa waktu kemudian beliau dipindahkan ke Kairo, yaitu pada
bulan Oktober 1932 M. 9 Di tengah ibu kota Mesir ini, dakwah beliau cepat
tersebar secara luas. Dalam tempo yang relatif singkat, jumlah anggota
Ikhwanul Muslimin telah mencapai angka setengah juta orang. Penguasa kala
itu yang nota bene merupakan boneka-boneka Inggris merasakan
perkembangan seperti ini sebagai ancaman besar. Mereka berusaha keras
menjauhkan Hasan Al Banna dari kancah politik. Namun upaya itu tak pernah
bisa menghentikan tekad langkah beliau.
7Hasan Al Banna, op. cit., him. 124
Beliau dengan gagah memperkenalkan Islam sebagai akidah dan
ibadah, tanah air dan kebangsaan, kelembutan dan kekuatan, moral dan
budaya, serta hukum.
Ketika teijadi tragedi Palistina, beliau segera mengirimkan pasukan
Ikhwanul Muslimin kesana. Sungguh, sejarah telah menjadi saksi betapa tegar
dan semangatnya pasukan sukarelawan itu. Mereka bahkan telah berhasil
menyerang jantung pertahanan Israel sampai ke ambang pintu Teluk Aviv. 10
Sebuah tragedi memilukan teijadi, karena perkembangan Jama’ah Ikhwanul
Muslimin yang semakin kuat, pemerintah Raja Al Faruq merasa khawatir dan
ketakutan. Sekembalinya pasukan Ikhwanul Muslimin dari Palistina, para
aktivis Ikhwan ditangkap dan penjarakan. 11
Pada tanggal 12 Februari 1949 M / 1368 H, tepatnya di depan kantor
pusat organisasi “Asy Syubbanul Muslimun”, sekelompok orang yang tidak
dikenal memuntahkan peluru-peluru makar mereka, setelah itu mereka berlari
menghilang. Dengan tenaga yang masih tersisa beliau membopong tubuhnya
ke rumah sakit, namun para dokter tak seorang pun yang bersedia menangani
luka parahnya. Mereka sengaja membiarkannya tersungkur di tengah
lumuran darah yang mengucur tiada henti. Dua jam setelah penembakan
Hasan Al Banna menghembuskan nafas yang terakhir dan syahid dijalan
Allah SWT.12
10Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan, Era Inter Media, Solo, 2002, him. 18
"Ibid.
Hasan Al-Banna adalah satu dari sekian banyak da'i yang dikenal umat
Islam seantero jagad raya ini, karena tiada henti menyerukan kebajikan dan
melakukan Ishlah Rabbani. Orang-orang seperti beliau tiba-tiba serasa muncul begitu saja dan memenuhi dunia dengan ilmu dan iman, kemudian hilang
tanpa bekas setelah berhasil menciptakan gema yang melengking tinggi di
telinga umat manusia. Mereka muncul disetiap peristiwa. Sikap yang
demikian tidak mereka peroleh secara genetif, turun temurun. Tetapi mereka menjadi demikian karena Allah-lah yang mewarnainya dengan kecerdasan
yang luar biasa, berkemauan keras sebagai pertanda kejujuran, baik budi
pekerti, pandai mengelola organisasi dan fasih berbicara.
Hasan Al-Banna mengenyam kehidupan selama empat puluh tahun
dua tahun. Walau demikian beliau sudah mulai 'bersinar' tatkala umurnya
memasuki tiga puluhan. Ia membawa panji-panji Islam kepada segenap
manusia. Ia seorang mu'min pemberani, seorang pemimpin yang cerdas,
seorang mujahid yang bijaksana dan seorang da'i yang jujur.13 Tidak seberapa
lama Ia menebar dakwah, dalahi waktu yang relatif singkat telah berhasil
menyentuh hati banyak orang di sekitarnya, dan sampai sekarang gerakan
dakwah Ikhwanul Muslimin telah tersebar pada lebih dari 70 negara di 5
benua. Seluruh kekuatan berhasil digalang untuk melepaskan diri dari jerat-
jerat imperialisme, karena suara yang diperdengarkan oleh Hasan Al-Banna
adalah suara kebenaran, yang membuat kaum kufar ketakutan. 14
13Ibid.,him. 10
B. Latar Belakang Pendidikan Hasan Al-Banna.
1. Madrasah Diniyah Ar Rasyad 15
Madrasah Diniyah Ar Rasyad adalah sekolah formal pertama yang
dimasuki sekaligus mendidik Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam
mendalami Islam lebih jauh, tidak hanya secara kognitif saja tetapi juga
pembinaan kepribadian. Di Madrasah Ar Rasad Hasan Al Banna merasakan
turut membantu tumbuhnya benih-benih kepribadian Islam dalam dirinya
yang akan menjadi pondasi untuk mengarungi kerasnya zaman.
2. Madrasah I'dadiyah
Madrasah I'dadiyah adalah madrasah sejenis madrasah Ibtidaiyah
hanya tanpa pelajaran, namun ada tambahan beberapa pelajaran tentang
undang-undang pertahanan dan perpajakan serta sedikit tentang agrikultura,
di samping mendalami secara luas tentang ilmu bahasa nasional (bahasa
arab) dan ilmu agama.16
Ayah Hasan Al Banna adalah seorang ayah yang memperhatikan
dengan benar-benar pendidikan keagamaan anaknya beliau ingin sekali
melihat Imam Syahid menghafalkan Al-Qur’an terwujud.
3. Madrasah Al-Mualitnin Al Awaliyah
Hasan Al-Banna masuk ke Madrasah Al-Mualimin Al Awaliyah di
Damanhur pada usia 13 tahun, hafalan Qur’annya kurang seperempat dan
15Hasan Al-Banna, Memoar Hasan Al-Banna Untuk Da ’i dan Da ’inya, Era Intermedia, Solo, 2000, him. 26
Al-Banna dapat masuk ke madrasah ini dengan syarat menambah hafalan
Al Qur’an yang kurang seperempat.17
Sepajang kurun waktu tersebut, Hasan Al-Banna bergabung dengan
halakoh dzikir. Ia berkata "suara merdu di halaqah berikut ini telah menarik untuk bergabung juga nasid-nasidnya yang indah, siraman ruhani
yang terus mengalir, toleransi mereka pada pedzikir dewasa terhadap
pemuda-pemuda shaleh, dan sifat tawadhu’ mereka terhadap anak-anak
kecil yang menyerbu majelis hendak beramai-ramai mengikuti proses dzikir
kefxida Allah."18
4. DamlUlum
Pada waktu itu Darul Ulum sedang gencar-gencarnya melakukan
aktivitas dakwah, melawan orientalisme dan imperialisme serta
menyampaikan berita gembira pada umat manusia. Aktivisnya adalah para
pejuang dan pembela agama Islam, termasuk bangsa Arab, semacam
Syeih Muhammad Abdul Muthalib, Alam Salamah dan Ahmad Yusuf
Najati.19
Di salah satu kitabnya yang bernama Mudzakirat Ad Dakwah Ad Daiyah Al-Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan; "ketika aku tinggal di Kairo, arus kebebasan sedang mengalir deras dimana-mana, kebebasan jiwa
kebebasan berfikir dan berpendapat juga kebebasan bersikap dan berbuat
yang diatas namakan hak asasi manusia. De-Islamisasi dan permisivisme
menjadi musibah yang menipu banyak orang".
11 Ibid., him. 34
'*Dr. Anwar Al-Jundi, op. cit., him. 13
Hasan Al-Banna dalam studinya di Darul Al-Ulum, merupakan
mahasiswa yang paling berprestasi dan pada saat ujian akhir ditelah hafal
17.000 baid syair dan kata-kata hikmah. Beliau menamatkan universitas
Darul Ulum dengan yudisium terbaik pertama tingkat Universitas Darul
Ulum . Inilah prestasi yang telah dicapai Hasan Al-Banna dan masih
banyak faktor yang turut membentuk kepribadian Hasan Al-Banna, yang
membuatnya bersemangat membawa panji dakwah Islam akan tetapi faktor
yang paling jelas adalah karena ia telah mempersiapkan diri untuk menjadi
seorang mualim atau pendidik. Itulah salah satu keistimewaan Hasan Al-
Banna.
C. Karya-Karya Tulis Imam HasaU Al-Banna.
Hasan Al-Banna sebenarnya tidak meninggalkan banyak buku sebagai
warisan pemikirannya. Beliau berkeyakinan bahwa “ buku” bukanlah tempat
yang tepat untuk menitipkan pemikiran-pemikirannya kedalam khasanah
sejarah pemikiran Islam. Ada tempat lain yang jauh lebih tepat dan jauh lebih
abadi yaitu manusia. Suatu saat ketika beliau di tanya tentang mengapa beliau
tidak menulis buku padahal kedalaman keluasan ilmu pengetahuan serta
kepenulisan beliau sangat memungkinkan untuk itu, beliau menjawab, ’’saya
tidak ingin menulis bilku, tetapi saya hanya ingin mencetak manusia”. 20
Itulah sebabnya tulisan-tulisan beliau sangat sedikit untuk ukuran
seseorang mujadid Hasan Al-Banna. Merupakan sebuah pilihan sadar, bahwa
gagasan-gagasan besar untuk membangun sebuah umat yang telah terlelap
dalam tidur panjangnya dan memimpin mereka untuk bangkit kembali meraih
kejayaanya sebagai maha guru peradaban manusia, tidaklah cukup hanya
dituangkan dalam lembaran-lembaran buku yang tebal tetapi kering. Ia tidak
ingin berbicara kepada umat ini dari kejauhan atau dari menara gading yang
tinggi bahkan tidak bersentuhan dengan bumi kenyataan. Gagasan-gagasan
besar itu harus diubah dengan skenario kebangkitan yang lengkap,
komprehensip dan integral, sesuatu yang kemudian menjadi alas di atas tempat
Umat ini bergerak menuju kejayaannya. Beliau kemudian mewakafkan seluruh
hidupnya untuk merancang kebangkitan Islam dalam rentang usia 41 tahun,
beliau menghabiskan paro pertama dari usianya untuk mengidentifikasi
masalah umat dan merumuskan jalan kebangkitannya serta, kemudian
menyiapkan diri untuk memimpin gerakan kebangkitan Islam itu, dan
menghabiskan paro kedua dari usianya untuk memimpin gerakan kebangkitan
itu dengan segenap pikiran, jiwa, dan raganya dalam dakwah Ikhwanul
Muslimin yang kemudian disebutnya sebagai “tuh yang mengalir dalam tubuh
umat dan menghidupkannya kembali.” Begitulah sejarah kemudian
mengabadikan karya terbesar beliau yang tak terbantahkan yakni Gerakan
Gagagasan-gagasan beliau sebagian besarnya dituangkan dalam bentuk
risalah-risalah yang pendek dan padat. Semua risalah itu kemudian
dikumpulkan dalam satu buku dan diberi judul Majmu ’ah Ar-Rasail Al-Imam
Syahid Hasan Al-Banna dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan judul Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Hasan Al-Banna. Selain
menuangkan risalah-risalahnya dalam bentuk risalah pendek, beliau juga rajin
mengisi catatan hariannya. “Buku Diary” itu kemudian diterbitkan dengan
judul Mudzakirat Ad-Dakwah wa Ad-Da ’iyah dan diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia dengan judul Memoar Hasan Al-Banna.
21 Di antara karya-karya tulis Imam Hasan Al-Banna adalah :
1. Ahaditsul Jum ’ah (pesan Setiap Jum’at)
2. Mudzakkiratud Da ’wah wad - Da ’iah (Pesan-pesan buat da’wah dan
da’inya)
3. Al-Ma ’surat (wasiat-wasiat)
4. Majmu ’ar Rasail (Risalah Pergerakan) yang di dalamnya berisi kumpulan
pesan, yaitu: 21 22
a. Da ’watuna (Misi Kita)
b. Nahwan Nur (Menuju Cahaya )
c. Illa Asy-syabab (Kepada Para Pemuda )
d. Bainal amsi wal yatim ( Antara Kemarin Dan Hari Hari )
e. Risalatul jihad (Pesan Jihad)
21Fathi Yakan, op. cit., him. 13
f. Risalatut Ta ’alim (Pesan-pesan Pendidikan) g. Al Muu ’tamar al-khamis (Konferensi Kelima) h. Nizhamul Usar (Sistem Kelompok Kecil Pergerakan) i. A l - ‘Aqaid (Prinsip-Prinsip)
j. Nizhalul Hukm (Sistem Pemerintahan)
k. Al-Ikhwan Tahta Rayatil-Qur ’an (Ihwan dibawah Bendera Al-Qur’an)
l. Da ’watuna fi thaurin Jadid (Misi Kita Dalam Masa Baru)
m. Ila Ayyi Syai ’in N ad’un Nas (Ke Arah Mana Kita Menyeru Manusia ?) n. An-Nizham Al-Iqtishadi (Sistem Perekonomian)
D. Kondisi Sosial Masyarakat Mesir.
Mesir merupakan sebuah negara yang subur, airnya segar udaranya
sejuk, rezeki dan kekayaan alamnya melimpah, di tengah-tengah peradaban,
kebudayaan dan ilmu pengetahuan tertua, serta kaya dengan peninggalan-
peninggalan spiritual dan material yang bernilai tinggi.23 Di negara Mesir juga
terdapat berbagai bahan baku Industri, beragam hasil pertanian dan seluruh
bahan yang dibutuhkan oleh negara-negara kuat di dunia yang tidak hendak
menggantungkan pada negara lain dan hendak mengekspor produk-
produknya.24 Masyarakat pada waktu itu terdiri dari tiga golongan, yaitu :
golongan tuan tanah, para petani dan buruh serta kaum intelektual yang terdiri
dari kaum profesional, pegawai dan mahasiswa.25
23 Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul M uslimin Jilid 2, Era intermedia, Solo, 2002, hlm.93
2*Ibid.
Dengan berbagai faktor muncullah tiga kondisi sosial yang
membangkitkan Hasan Al Banna untuk bangkit beijuang bersama jama’ah
Ikhwanul Muslimin, yaitu:
1. Aktivitas gerakan krestenisasi yang membonceng imperialisme dan
mengeksploitasi rendahnya tingkat kehidupan mayoritas masyarakat Mesir.
Manuver-manuver mereka semakin meningkat sebelum kelahiran Ikhwan,
hingga membakar nurani keagamaan Mesir.
2. Perempuan tidak berkerudung dan berbaur dengan laki-laki.
3. Munculnya gelombang dekadensi moral dengan semakin menjamurnya
tempat-tempat prostitusi terbuka, dance hall, bahkan berontak terhadap
tradisi-tradisi yang bersumber pada agama, maraknya propaganda agar
seluruh penampilan masyarakat Mesir seperti Eropa, propaganda
permisifisme dan lain sebagainya. 26 27
Di sektor ekonomi Mesir dimonopoli perusahaan-perusahaan
asing. Hasan Al Banna menyebutkan bahwa pada tahun 1938, di Mesir
terdapat 320 perusahaan asing yang mengeksploitasi seluruh kebutuhan
hidup di Mesir, bersaing dengan hanya 11 perusahaan dalam negeri.
Keuntungan yang dikeruknya pada tahun itu mencapai 7.637.482
Poundsterling. Semua itu merupakan hasil jerih payah orang-orang Mesir
• 27
yang mereka sendiri susah mendapatkan sesuap nasi.
26Ibid., him. 153
Mesir adalah suatu negeri yang tercabut dari akarnya setelah pihak
sekutu menang perang menyingkirkan pengaruh kerajaan Turki Usmani
dan setelah Mustafa Kemal At Taruk menyingkirkan sistem khilafah Islam
lalu memproklamirkan negara sekuler. Saat itu Inggris melaksanakan
kesepakatan rahasia Sykes Picot yang diadakan di Moskow tahun 1915.
Mesir jatuh di bawah pengaruh Inggris walaupun secara lahiriah
memperoleh kemerdekaan.
Penjajah yang kuat, jahat dan licik mengkaji keadaan negeri itu
secara mendalam dan memantapkan cengkeramannya melalui kaki tangan
mereka dari kalangan yang dapat memainkan kepentingan mereka dalam
pemerintahan dengan cara:
a. Imperialisme pemikiran, di mana sejak pendudukan negeri-negeri itu
berupaya menyingkirkan syariat Islam dari undang-undang peradilan
dengan hanya memberi peluang pada wilayah hukum perdata,
memisahkan secara dikotomis antara ilmu agama, bahkan
memisahkan antara sekolah umum dan sekolah agama. Dengan cara
ini maka terjadi kesenjangan parah antara idealisme Islam dan
pemikiran materialisme yang diterapkan atas nama hukum dan
pendidikan.
b. Imperialisme materi, di mana orientasi ekonomi negeri itu diarahkan
pada produksi bahan mentah dari hasil pertanian sehingga dapat
ditemukan dalam buku pelajaran di sekolah, bahwa Mesir adalah
negara pertanian yang tidak memiliki kapasitas industri. 28
Sistem pemerintahan zhalim, di mana penguasa mengenakan
aturan kerajaan terhadap rakyatnya dan membuat undang-undang yang
memberikan keleluasaan pemerintah Mesir dalam mengendalikan
kekuasaannya. Kelas penguasa - para pejabat negara - dipilih sesuai
dengan selera raja dan mendapat restu dari penjajah, yang pada umumnya
keturunan etnis Albania atau Turki yang mewarisi dari nenek moyang
mereka tanah pertanian yang sangat luas yang pada mulanya dikuasai oleh
negara pada masa pemerintahan Muhammad Ali Al Kabir, lalu dibagikan
oleh Ismail Pasha kepada keluarga dan orang-orang dekatnya. Kelas
bangsawan ini tidak mengenal Al-Qur’an selain tulisannya dan tidak
mengerti Islam selain sekedar jargon-jargon belaka, mereka dididik di
sekolah-sekolah Eropa dan lebih memahami bahasa asing dari pada bahasa
Qur’an dan rakyatnya. 29
E. Arah Pemikiran dan Perjuangan Hasan Al-Banna
Awal kehidupan Hasan Al-Banna di bangun diatas pemahaman konsep
Islam dan Iman yang mendalam, yang dapat mempersatukan antara ilmu dan
amal, yang dapat mengikat kuat antara konsep fiqih teoritis yang memberikan
gambaran dan mengakomodir kebutuhan aplikatif dalam kehidupan praktis.
Oleh karena itulah maka yang paling tampak adalah dakwah menuju amar
ma'ruf nahi munkar, pewarnaan kehidupan sosial yang diliputi ruh dan akhlaq
mulia, orientasi pada pembangunan ja m ’iyyah-jam'iyyah (perkumpulan, organisasi) yang dapat mengajak orang-orang berpegang teguh pada agama,
tekun mendirikan sholat, loyal kepada Allah SWT.
Al-Banna aktif dalam berbagai aktivitas Islam semasa dia masih
pelajar. Kemudian Iapun mendirikan organisasi di sekolahnya yang bernama
organisasi Markalah Al Munkarat (organisasi pemberantas kemunkaran).30 31
Setelah menyelesaikan studi di universitas, Al-Banna di tunjuk sebagai
pengajar disebuah sekolah di propinsi Ismailiah. Di propinsi ini pengaruh
Inggris tampak sangat dominan, sehingga gaya kehidupan di Ismailiah hampir
semuanya bercorak Eropa, layaknya kehidupan yang ada di distrik-distrik di
Inggris.
Dengan keprihatian yang sangat mendalam Hasan Al-Banna
mendakwahi orang-orang yang masih terpancar kesalehan di wajahnya, dan dia
berjanji untuk membentuk embrio proyek pergerakan perbaikan umat dan
kejayaan Islam. Supaya tidak memunculkan nama yang baru maka mereka
hanya menamakan diri dengan nama " Muslimin" lalu mereka berkata " kita
ini adalah “Ikhwanul Muslimin”, yang berarti "para saudara dari kaum
muslimin".32
Al-Banna memulai dakwah pergerakannya di Ismailiyah, dan Allah
memberkati amal pergerakannya dan membuahkan hasil dari tangannya. Pada
kenyataannya dia telah berhasil menjadikan masyarakat kelas miskin menjadi
teladan yang gemilang bagi generasi yang mengetahui diri dan agamanya.
Mereka itulah generasi pertama dari generasi Ikhwanul Muslimin.
30Fathi Yakan, op.cit., him. 4 31Ibid.
Hasan Al-Banna merintis organisasi Ikhwanul Muslimin "
Persaudaraan Islam " yang kemudian mereka menjadikan itu sebagai satu
usaha untuk membangkitkan diri setiap umat Islam agar mengkaji keberadaan
penjajah Inggris yang telah menimbulkan berbagai bencana, kesengsaraan,
serta hilangnya harga diri dan martabat bangsa mesir pada umumnya dan
Islam pada khususnya.
Setelah melanglang buana untuk melakukan pengamatan panjang
terhadap kondisi umat, sampailah Hasan muda pada kesimpulan bahwa:
“Umat harus kembali bangkit. Namun aset umat ini untuk kembali bangkit
telah terkuras habis, kecuali satu itulah pemuda”. Seharusnya umat ini beijaya,
dan mereka memang dilahirkan ke dunia untuk itu. Tetapi kenyataannya
mereka kini sedang terpuruk dan terpinggirkan, berarti umat Islam harus
segera untuk bangkit. Untuk menuju kesana tinggal tersisa satu potensi, yaitu
pemuda. Lantas apa yang harus dilakukan untuk mereka? Demikian Hasan
tercengang beberapa waktu lamanya. Sampai akhirnya Al-Banna mengambil
satu sikap, bahwa tidak ada lain yang dilakukan kecuali mendidik, membina,
dan membangun kepribadian pemuda Islam sehingga mereka tumbuh menjadi
pribadi-pribadi muslim yang tangguh. Itulah yang kemudian menjadi fokus
gerakan dakwah yang dipimpinnya. Tercermin dalam kata-katanya yang
terkenal dihadapan para pendukung Ikhwan : Nahnu f l ‘asyri at-takwin, fakawwinu anfusakum (kita sekarang ini berada diabad pembentukan pribadi,
maka bentuklah diri kalian masing-masing). Karena dari pribadi-pribadi yang
baik akan terbentuk keluarga yang Islami, dari keluarga-keluarga yang Islami
Jelas sekali bahwa Hasan Al-Banna bersama Ikhwanul Muslimin yang
didirikannya pada tahun 1928 mencanangkan idealisme yang demikian tinggi
yaitu tegaknya kembali kejayaan Islam. Tarbiyah atau pembinaan menjadi fokus gerakan dakwah Hasan Al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin-nya. Isyu
sentral dari gerakan dakwah Hasan Al-Banna adalah menyeru kepada
syumuliatul Islam (kembali kepada ajaran Islam yang utuh dan menyeluruh). Pada hakekatnya semua pemikiran Hasan Al-Banna tertuang dalam organisasi
dakwah yang didirikannya yaitu Ikhwanul Muslimin. Al Ikhwan Al Muslimun
adalah sebuah gerakan terbesar di zaman modem ini.33
Semannya adalah kembali kepada Islam sebagaimana yang termaktub
di dalam Al-Qur'an dan As-Sunah serta mengajak kepada penerapan syari'at
Islam dalam dunia nyata. Dengan tegar gerakan dakwah ini telah mampu
menyiapkan amunisi yang banyak, yaitu para pemuda. Mereka adalah tunas-
tunas muda yang akan meneruskan perjuangan Islam. Pada wajah mereka
tersemburat cahaya taqwa dan keimanan. Senyum ramah dari bibir mereka,
menebarkan cinta kasih persaudaraan. Jiwa mereka tiada henti berdzikir
menyebut asma Allah SWT.
Mereka adalah pemuda modem yang tiada dibayang-bayangi
kejumudan. Dari apa yang mereka bicarakan tidak terdengar mantra dan
jampi-jampi kosong. Tetapi mereka benar-benar berbicara tentang kehidupan
nyata. Hati mereka tergantung dilangit tetapi kaki mereka tetap berpijak di
bumi. Mereka selalu mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi umat
33WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran : Akar Ideologis dan Penyebarannya,
ini, seperti persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.
Mereka bagaikan peluru-peluru yang akan melesat dengan cepat dan meluluh
lantakkan kedzoliman setelah datang waktu yang ditentukan oleh Allah SWT.
Pada bulan Dzul Qo'dah 1327 H atau April 1928 M adalah bulan
didirikannya cikal bakal gerakan Ikhwanul Muslimin. Pendirinya Syaikh
Hasan Al-Banna sendiri ( 1324-1368/1906-1949). Tahun 1932 Hasan Al-
Banna pindah ke Kairo. Bersama itu pula gerakannya berpindah dari
Ismailiyah ke Kairo.34 35
Ustadz Hasan Al-Banna mempunyai peran utama dan pokok dalam
melahirkan dan mengembangkan organisasi Ikhwanul Muslimin. Selama
setengah tahun sejak Ia sampai di Ismailia yakni 1927 hingga awal-awal tahun
1928 Al-Banna mempelajari kondisi masyarakat dan mencoba mengenali
faktor-faktor yang berpengaruh dalam masyarakat mereka. Ia berhasil
menjalin hubungan dengan para ulama serta para syaikh tarekat, tokoh, dan
berbagai kelompok. Beliau berhasil meraih hati mereka dan melalui merekalah
akhirnya ia berhasil menarik perhatian masyarakat luas kepada dakwahnya/3
Sebagai hasil dari kajiannya itu, ia menemukan metode untuk mendakwai dan
mendidik masyarakat yang ringkasnya sebagai berikut:
Ustadz Hasan Al-Banna memilih untuk meninggalkan masjid, karena
didalamnya berkembang berbagai perselisihan, lalu mengalihkan perhatiannya
ke warung-warung kopi. Ia memilih tiga warung kopi yang paling banyak
pengunjungnya. Di sana ia menyusun jadwal kajian, masing-masing dua
pelajaran dalam sepekan. Beliau memilih topik-topik yang menyentuh hati
sebagai sasaran, misalnya memperingatkan tentang hari akhir. Ia memilih
metode sederhana yang kadang-kadang diselingi dengan bahasa pasaran
disertai dengan contoh-contoh dan kisah-kisah, retorika yang persuasif tanpa
bertele-tele (sekitar sepuluh menit sampai seper empat jam). Dalam waktu
sesingkat itu Ia memaparkan sebuah makna yang begitu gamblang lagi
berkesan di hati mereka.
Setelah banyak orang yang memintanya agar menjelaskan bagaimana
belajar hukum-hukum Islam, beliau mengambil tempat khusus. Di situ beliau
menyusun jadwal kajian dengan menggunakan metode aplikatif dalam
pengajaran ibadah, disertai dengan pembinaan aqidah yang benar. Semua itu
dikuatkan dengan ayat-ayat, hadist-hadist dan peringatan akherat.
Al-Banna berusaha keras untuk menghindari perpecahan dan
perbedaan pendapat dan mengalihkan orang-orang yang menanyakan
tentangnya dengan cara-cara yang halus serta mengarahkan menuju amal.36
Dengan metode-metode pendidikan semacam ini, Al-Banna berhasil
membawa masyarakat untuk peduli terhadap agama dan hukum-hukumnya.
Keberadaan Inggris, gaya hidup mewah orang-orang asing dan penderitaan
kaum buruh, merupakan faktor yang kuat bagi perkembangan dakwahnya di
Ismailia.37 Sehingga pada bulan Dzul- Qo’dah tahun 1347 H bertepatan
36Ibid., him. 108-115
dengan bulan Maret tahun 1928, enam orang (Hafidz Abdul Hamid, Ahmad
Al-Hashari, Fuad Ibrahim, Abdur Rahman Hazbullah, Ismail Izz, dan Zaki Al
o o
Maghribi) berkunjung ke rumah Hasan Al-Banna. Mereka itu adalah tukang
kayu, tukang batu, tukang cukur, penarik pajak, sopir, tukang kebun, dan
tukang gerobak.38 39 40
Mereka mengusulkan agar Ia menjadi pemimpin mereka dalam sebuah
jama’ah yang berbai ’at kepada Allah untuk hidup demi agama-Nya dan mati
di jalan-Nya. Al-Banna menjawab tawaran mereka dengan mengatakan,
’’Marilah kita berbai’at kepada Allah untuk menjadi tentara bagi dakwah
Islam, yang dengannya akan terwujudlah kehidupan hakiki dan kemulyaan
umat.” Setelah berbai’at mereka bermusyawarah tentang nama “Al Ikhwan
Al Muslimun. ,4°
Sebelum Al-Banna pindah dari Ismail ke Kairo pada tahun 1932,
Ikhwan telah membangun sebuah masjid, sekolah untuk anak laki-laki yaitu “
M a’had Hira Al Islam ” (sekolah Islam Al-Hira). Sekolah untuk anak perempuan “Ma ’had Ummahatul Mukminin ” (sekolah ibu kaum mukminin),
klub olah raga, dan kelompok rihlah. Mereka juga mendirikan sejumlah
cabang organisasi di luar Ismailiah, seperti di Syibrakhit, Suez, Jabasat Balah,
dan lain-lain.41
38Hasan Al Banna, op.cit., him. 124 39Hasan Al Banna, loc. cit.
40Hasan Al-Banna, op. cit. him. 125
Dengan misi dan tujuan ini, maka mutlak bagi organisasi Al Ikhwan Al
Muslimun terikat dengan tsawabit Islam, Islam mempunyai banyak tswabit
dalam berbagai aspeknya. Tsawabit ini mengikat semua muslim dan muslimat.
Dan karena jamaah Al Ikhwan Al Muslimun adalah jam a’atun min jama'atil
muslimin (satu dari sekian banyak jamaah kaum muslimin) maka ia pun terikat
dalam seluruh tsawabit Islam. Ia komitmen dengan apa yang dipegang oleh
para salaf dan ahlus sunah wal jam a’ah. Ikhwan tidak memonopoli Islam
untuk dirinya sendiri. Ikhwan tidak pernah berpegangan bahwa seseorang
harus bergabung didalamnya. Sebab Al Ikhwanul Muslimun bukanlah
jama'atul muslimun melainkan jama'atun min jama'atil muslimin. Karenanya orang yang tidak bergabung dengan jamaah ini atau keluar darinya tidaklah
hilang ke-Islamannya, selama Ia berpegang teguh dengan tsawabit
Islam dengan tidak mengubah dan menggantinya serta tidak keluar
darinya.42
Adapun sasaran dan tahapan dakwah Hasan Al-Banna adalah sasaran
dan tahapan yang mengacu pada manhaj Nabi SAW, baik dalam pemahaman,
pembentukan, maupun pelaksanaannya yang mewujudkannya memerlukan
tarbiyah yang penuh kesabaran, sasaran dan tahapan itu adalah :
- Membangun kesadaran ruhani imani.
- Membina individu muslim secara integral dalam segala aspek kehidupan,
baik dari sisi jasad, akal, ruhani maupun kejiwaan.
- Membentuk keluarga muslim seperti yang disebutkan diatas.
- Mewujudkan masyarakat muslim yang para anggotanya terbina dan
menerapkan manhaj Islam dalam kehidupannya.
- Menghimpun kembali khilafah Islamiyah yang telah lama lenyap.
- Mengembalikan eksistensi umat Islam Internasional agar menjadi umat
terbaik sebagai pemimpin dunia.
Semua itu memerlukan keija kontinyu yang berkesinambungan,
kerja massal agar Islam kembali memimpin masyarakat dan mengarahkan
kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Bukan hanya kata-
kata yang diucapkan, khutbah yang disampaikan, buku yang ditulis,
makalah yang disebarkan. Walaupun memang benar bahwa semua itu
adalah penting, akan tetapi itu semua hanyalah bagian dari harokah dan
bukan segala-galanya.
^ ^ ^ >*» 4 =^Lp l
"Dan katakanlah, " Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu... (QS.
43
At-Taubah, 9:105).
Semuanya itu merupakan pekerjaan yang bersifat massal tertata
yang berpijak pada motivasi diri dan keyakinan pribadi, yakni keimanan
dan mencari apa-apa yang ada di sisi Allah bukan di sisi manusia. 43
Bangkitnya motivasi itu dipicu oleh ketegangan yang dirasakan
oleh seorang muslim, saat ia tersentuh oleh kebangkitan lalu kesadarannya
muncul sebagai buah dari pertentangan antara iman disatu pihak dan
realitas umat di pihak lain. Jadi motivasi itu muncul dari banyak hal: rasa
cinta kepada agamanya, kesetiaan kepada Allah, kitabnya dan umatnya,
perasaan bahwa dirinya dan orang-orang disekitamya telah lalai, semangat
untuk berkontribusi kepada umat, semangat untuk membebaskan bumi
Islam dari segala kedzoliman serta beramar ma 'ruf nahi mungkar hingga
kalimat Allah tegak dimuka bumi. Oleh karena itu muatan da'wah As-
Syahid Hasan Al-Banna adalah menggerakkan umat. Menggerakkan akal
mereka agar mengerti, menggerakkan hati mereka agar beriman,
menggerakkan keinginan mereka agar merancang, dan menggerakkan
tangan mereka agar bergerak dan beramal.
Dakwah adalah kerja pikir yang ditujukan untuk mencerahkan akal,
keija seruan dan anjuran untuk menggerakkan perasaan, kerja
pembentukan dan pembinaan untuk menumbuhkan kepribadian Islam
yang utuh, keija sosial yang memberikan kontribusi dalam menyelesaikan
problematika masyarakat dan menyebarkan kebaikan, kerja ekonomi yang
bertujuan membebaskan ekonomi negeri-negeri muslim dari
ketergantungan kepada barat dan dari kotoran riba serta prilaku-prilaku
yang dilarang, keija politik untuk menegakkan hukum Islam dan
memberitakan syariat Islam, kerja jihad untuk membebaskan bumi Islam
Yang demikian itu menegaskan bahwa Islam adalah misi tarbiyah sebelum merupakan misi penataan dan perundang-undangan, misi nilai-
nilai sebelum merupakan misi jihad dan perang karenanya hal itu memerlukan pemahaman tentang hal-hal berikut: 44
Pertama, bahwa tujuan dari penerapan manhaj nabawi adalah menciptakan kondisi dimana sya’riat Islam dilaksanakan secara utuh .
Islam tidak bisa di tuntut untuk memberikan solusi bagi problem yang
dihadapi umat manusia sebelum syari’at Islam itu sendiri diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu tidak akan teijadi dengan
pemaksaan dan tangan besi melainkan harus dengan tarbiyah dan
iman.
Kedua, bahwa keija untuk mencapai tujuan itu haruslah didasarkan
pada perencanaan yang bertahap. Setiap pekeijaan pada masing-masing
fase saling terkait satu sama lainnya. Pencapaian tujuan pada satu fase
akan mengantarkan pada pencapaian tujuan besar Islam itu sendiri, jadi
membentuk pribadi-pribadi muslim akan membantu mewujudkan
masyarakat muslim dan seterusnya.
Ketiga, bekeija untuk mencapai tujuan-tujuan itu harus berpijak
pada amal jama ’i. Dan amal jama ’i bertumpu pada adanya pengendalian masyarakat oleh para pelopor mukmin yang berusaha untuk mengarahkan
opini publik agar mejadi berpihak kepada Islam. Kemudian semua potensi
berhimpun untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Dan memang Islam
adalah agama jama’ah, yang mentarbiyah (mendidik) putra-putrinya untuk selalu memiliki nilai kebersamaan.
KONSEP TARBIYAH ISLAMI Y AH MENURUT HASAN AL-BANNA
A. Pengertian Tarbiyah
Bila merujuk pada kamus bahasa Arab, akar kata tarbiyah berasal dari : rabba - yarbu - riba yang artinya bertambah dan berkembang. Hal ini
senada dengan firman Allah surat Ar-Rum ayat 39:
> « ^
0.>n> > s'
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah SWT.” (Ar-Rum: 39)'
Rabba - yarbu yang memiliki makna tumbuh dan berkembang.
Rabba - yarubbu - tarbiyyatan berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan,
mengatur, menjaga dan memperlihatkan.
Imam Baidhawi (wafat 685 H) mengatakan bahwa pada dasarnya
ar-rabb itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menyampaikan
sesuatu hingga mencapai kesempurnaan. Dalam aplikasinya tarbiyah
bermakna memperbaiki sesuatu, menjaga dan memeliharanya hingga
mencapai kesempurnaan.* 2
‘Departemen Agama RI, A l Aliyy A l Q ur’an dan Terjemahnya, CV. Diponegoro, Bandung 2004, him. 326.
2Solihin Abu ‘Izzudin, Tarbiyah Dzatiyah Kiat Sukses Menejemen Diri, Burhanul Ikhwan Product, Solo, 2002, him. 41
34
V y ' s ' S.
Menurut dokumen jamaah Ikhwanul Muslimin, sebagaimana di nukil
oleh Ali Abdul Halim Mahmud dari dokumen asli, tarbiyah memiliki
pengertian cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara
langsung (berupa kata-kata) maupun secara tidak langsung (berupa
keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkat yang khas), untuk
memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih
baik.3
Berikut ini penjelasan terhadap definisi di atas secara lebih rinci: 4
1. Cara, yaitu metode dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang
lain.
2. Ideal, yaitu sesuatu yang paling baik, paling utama, dan paling efektif.
Cara yang paling ideal adalah cara-cara yang diajarkan Allah SWT,
kepada Nabi-Nya dan diajarkan oleh Nabi-Nya kepada para sahabat-
sahabatnya. Itu semua terdapat dalam sunah secara umum dan sirah Nabi
secara khusus.
3. Interaksi, berinteraksi dengan manusia adalah persoalan yang paling sulit
dan rumit. Banyak tokoh pendidik, tokoh masyarakat, dan psikolog yang
tidak berhasil membangun interaksi dengan manusia ini secara baik.
Mengapa demikian? Karena mereka melakukannya tanpa dibekali
pengetahuan yang detail tentang fitrah manusia itu sendiri. Akibatnya
mereka meletakkan pola interaksi yang tidak dapat mengakomodasi
3DR. Ali Abdul Halim Mahmud, Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, Era Intermedia, Solo, 2001, him. 21
kebutuhan fitrah tersebut, sehingga tidak dapat membawa manusia dari
keburukan menuju kebaikan atau dari kesesatan menuju hidayah. Cara
berinteraksi dengan tabiat manusia - tabiat nama Allah SWT sendiri yang
menciptakannya - tidak dapat dirumuskan kecuali dengan kembali kepada
bimbingan Sang Pencipta manusia itu sendiri. Dialah Dzat yang
Maha Mengetahui segala sesuatu yang dapat membawa maslahat
baginya.
4. Fitrah, yakni tabiat manusia dengan segenap unsur yang melekat padanya; keutamaan, kekurangan, dan juga unsur-unsur yang saling bertentangan
semisal baik dan buruk, cinta dan benci, cemas dan harap, individu dan
kolektif, setia dan khianat, positif dan negatif.
5. Langsung, yakni berupa pengajaran, pembinaan, dan pengarahan pribadi secara langsung. Semua itu bisa dilakukan dengan kata-kata. Kata-kata
bisa berupa perintah, larangan, anjuran, himbauan, ancaman, pandangan,
pujian, atau peringatan. Ia juga bisa berupa nasehat, kisah, cerita, uraian,
kajian, dan siaran (baik melalui radio maupun layar televisi). Semua itu
bertujuan untuk mewujudkan lahirnya perubahan.
6. Tidak langsung, yakni berupa contoh dan keteladanan dengan amal shalih, perilaku lurus, serta akhlak yang mulia agar binaan dapat meneladani
pembinanya.
Bimbingan langsung dan tidak langsung itu ibarat dua sisi mata uang di
mana yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Keduanya harus
selalu bersamaan. Bimbingan Al-Qur’an yang berupa perintah dan
larangan, ancaman dan janji, anjuran dan peringatan, di samping sejarah
contoh yang paling baik dalam memberikan bimbingan langsung maupun
tidak langsung ini.
7. Sistem (manhaj). Ia ibarat jalan yang jelas rambu-rambunya dan detail pula
jalur-jalurnya. Allah swt. berfiman :
8. Perangkat khusus. Seluruh aktivitas yang tidak bertentangan dengan
syariat Allah dan yang dapat mewujudkan proses pendidikan dan
kemaslahatan muslim di dunia maupun akhirat masuk ke dalam
cakupannya. Perangkat itu meliputi seluruh aktivitas yang dapat merespon
setiap perkembangan kehidupan dalam diri manusia, yang tidak
berseberangan dengan teks-teks hukum, akhlak, dan nilai-nilai agama,
serta menciptakan kemaslahatan bagi seluruh kaum muslimin.
9. Tujuan. Ia merupakan perubahan yang terdapat pada setiap orang, dari
kondisi buruk kepada yang baik atau kepada yang lebih baik, dari kufur
kepada iman (jika bukan muslim), dari maksiat kepada taat (bagi yang
muslim), dari kesesatan menuju hidayah, dari batil menuju
benar, dan dari sistem manusia kepada sistem Illahi di setiap
^ > »
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu Kami berikan aturan dan jalan
yang terang.” (Al-Maidah : 48)
Jadi dapat disimpulkan pengertian Tarbiyah Islamiyah adalah proses mempersiapkan orang dengan persiapan yang menyentuh seluruh aspek
kehidupannya meliputi : ruhani, jasmani, dan akal pikiran. Demikian juga
dengan kehidupan duniawinya, dengan segenap aspek hubungan dan
kemaslahatan yang mengikatnya dan kehidupan akheratnya, dengan segala
amalan yang dihisabnya, yang membuat Allah ridha atau murka.5
Ringkasnya, Tarbiyah Islamiyah adalah proses penyiapan manusia
agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan ucapan dan
tindakannya secara keseluruhan.6
Keseimbangan potensi yang dimaksud adalah hendaknya jangan
sampai kemunculan suatu potensi menyebabkan lenyapnya potensi yang lain
atau suatu potensi sengaja di mandulkan agar muncul potensi yang lain. Inilah
salah satu keistimewaan sistem Islam dan undang-undangnya. Juga
keseimbangan antara potensi ruhani jasmani, dan akal pikiran. Keseimbangan
antara keruhanian manusia dan kejasmaniannya, antara kebutuhan primer dan
sekundernya, antara realita dan cita-citanya, antara ambisi pribadi dan jiwa
kebersamaannya, antara keyakinan kepada alam ghaib dan keyakinan pada
alam kasat mata. Keseimbangan antara makan, minum, pakaian dan tempat
tinggalnya, tanpa ada sikap berlebih-lebihan di satu sisi dan pengabaian di sisi
lain. Benar-benar berkesinambungan yang mengantarkan kepada sikap adil
yakni adil dalam segala hal.
5Ibid.
“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat
yang adil dan pilihan.” (Al-Baqarah : 143)7
B. Dasar Tarbiyah Islamiyah
Tarbiyah ikhwaniyah (tarbiyah ala ikhwan) lahir dari kitabullah dan
sunah Rasul-Nya, menapaktilasi perjalanan sahabat dan tabi’in, serta
mengambil suri tauladan dari manusia teladan yang ma’shum yaitu
Muhammad saw, sepak terjang para pembaharu yang shalih, dan para tokoh
Islam sepanjang sejarah.
Al-Qur’an telah memberikan metode pendidikan dan secara otomatis
tepengaruh pada kurikulum serta metode Tarbiyah Islamiyah. Dengan
demikian, penurunan Al-Qur’an yang di mulai dengan ayat-ayat yang
mengandung konsep pendidikan dapat menunjukkan bahwa tujuan Al-Qur’an
yang terpenting adalah mendidik manusia melalui metode yang bernalar serta
sarat dengan kegiatan meneliti, membaca, mempelajari, dan observasi ilmiah
terhadap manusia sejak manusia masih dalam bentuk segumpal darah, dalam
rahim ibu, sebagaimana firman Allah berikut in i:
y y a ' i y y a 'Z a ^ a
«* * r ^
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.” (Al-Alaq : 1 - 5)8
C. Tujuan Tarbiyah Islamiyah Menurut Hasan Al-Banna
Tarbiyah dalam Manhaj ikhwan memiliki urgensi yang tiada taranya. Sejak amal Islami di gelar pada masa-masa awalnya, Hasan Al-Banna telah
memahami bahwa langkah yang paling efektif untuk proses perbaikan adalah
pembinaan pribadi sesuai dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya untuk
mengantarkannya kepada suatu tujuan, yaitu keluarga muslim, lalu umat
muslim, kemudian negara Islam yang menegakkan syariat Allah SWT.
Perbaikan dalam skala individu akan berpengaruh bagi perbaikan
keluarga, karena keluarga merupakan kumpulan individu.9 Jika anggota
keluarga yang laki-laki shalih dan yang perempuan shalihah - keduanya
merupakan pilar keluarga ideal, sesuai dengan patokan yang telah dituntunkan
secara proporsional oleh Islam. Islam telah membimbing dalam membangun
rumah tangga (mulai dari memilih calon pasangan hidup) dengan sebaik-baik
bimbingan. Dia juga mengikat suami istri dengan ikatan yang kokoh,
menentukan hak dan kewajiban mereka, mewajibkan menjaga buah
pernikahan tanpa cacat dan cela, mengantisipasi apa saja yang bisa
menghadang kehidupan rumah tangga dari berbagai problem secara tepat dan
mengambil jalan pertengahan dalam setiap permasalahan.
*Ibid, him. 479
Apabila sudah terbangun keluarga yang shalih, umatpun akan menjadi
shalih, karena umat merupakan kumpulan keluarga. Dengan kata lain,
sesungguhnya keluarga adalah miniatur umat, sementara umat adalah keluarga
besar.10 Islam telah memberi tuntunan kepada umat ini berupa kaidah
hubungan sosial untuk mewujudkan kesejahteraan. Islampun mengikat antar
individu dalam umat dengan ikatan ukhuwah dan menjadikannya sebagai
konsekuensi dari keimanan yang tertanam dalam dada mereka. Setiap mukmin
harus senantiasa meningkatkan kualitas ukhuwah ini menuju terwujudnya
mahabah (saling mencintai), bahkan sampai pada itsar (mendahulukan
kepentingan saudaranya), serta mengikis habis apa saja yang bisa memporak
porandakan ikatan ini. Islam juga menentukan hak dan kewajiban setiap
anggota masyarakat. Seorang bapak dalam rumah tangga mempunyai hak dan
kewajiban tertetu, demikian juga ibu, anak dan kewajiban tertentu, demikian
juga ibu anak dan kerabatnya.
Tujuan Tarbiyah lslamiyah secara global adalah menciptakan kondisi
yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik,
serta hidup di akherat dengan naungan ridha dan pahala Allah SWT.11
Tarbiyah lslamiyah menjadikan manusia mau mempergunakan semua sarana
yang telah Allah sediakan untuk kehidupan dunia ini sebagai jalan untuk
beramal shalih dengan niat mencari keridhaan Allah SWT. Dengan rumusan
tujuan semacam ini, ilmu yang didapat semata-mata digunakan untuk
'°Ibid.