• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III JENIS LESBIAN SERTA FAKTOR PENYEBAB LESBIAN DAN

3.3 Gambaran Dunia Lesbian

3.3.1 Perasaan - perasaan…

Perasaan merupakan salah satu fungsi psikis yang penting dapat dirumuskan sebagai warna atau suasana psikis seseorang yang mengiringi, menyertai suatu kegiatan dalam situasi khusus serta berhubungan dengan adanya kesan setelah kegiatan. Dalam proses kegiatannya, seseorang disertai oleh adanya perasaan setuju, senang, rileks, atau mungkin juga tidak setuju. Setelah kegiatan pada umumnya seseorang akan mendapat kesan puas, dan gembira atau mungkin juga kecewa atau frustasi (Shalahuddin.1991:114). Begitu pula yang dialami oleh pengarang Deojha dan tokoh Sangkhala Senja dalam novel Lesbian Laki – laki karyanya. Sebagai seorang lesbian butchie, banyak yang telah dialami dan dirasakan

sehingga menimbulkan reaksi dan berbagai macam perasaan – perasaan. Perasaan yang sama – sama dialami oleh pengarang Deojha dan tokoh Sangkhala Senja yakni perasaan cinta, cemburu, marah, takut, sedih, dan bahagia.

3.3.1.1 Perasaan Cinta Deojha dalam Sangkhala Senja

Cinta pada hakekatnya merupakan perasaan yang menggembirakan. Orang yang merasakan cinta adalah orang yang bergerak menuju sumber kesenangan (Dimyati, hlm:167). Menurut Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, definisi cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada ‘jiwa’ atau pikiran. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak lebih mudah dialami daripada dijelaskan.

Menurut Deojha, cinta dan cemburu yang dirasakan dan dialami sama halnya yang dirasakan pasangan lain yakni kaum hetero. Deojha merasakan cinta dengan pasangan lesbiannya sebagai suatu kesenangan yang timbul dari pikiran dan hatinya. Tidak ada perbedaan

yang significant. Deojha mengungkapkan rasa cinta itu dengan berbagai cara. Hal itu tampak dalam kutipan wawancara berikut:

(15) “Cinta yang aku rasakan sama halnya pada pasangan hetero lainnya.

Tidak ada perbedaan. Mencintai adalah membuat orang yang kusayangi merasa senang dan bahagia. Apa yang aku rasakan sebagai lesbian dengan pasanganku sama saja. Kita pacaran, kencan, pergi ke tempat dimana kita suka, jalan-jalan, bergandengan, berpelukan, berciuman, bermesraan dan lain-lain.Ya…pokoknya sama seperti yang lainnya”.

Bagaimana rasa cinta itu menggambarkan perasaan seseorang, Deojha juga merasakan bahwa cinta merupakan ekspresi jiwa yang bisa diungkapkan tidak hanya lewat kata-kata akan tetapi dapat berupa ungkapan bahasa tertulis. Salah satunya ungkapan cintanya yang dituliskan lewat tokoh Sangkhala Senja dalam novel Lesbian Laki-laki. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut:

(45) Ribuan kupu di bukit hijau

Bidadari menyulam pelangi dibibirnya langit Aku rebah di atas rumput yang berembun

Basah dan dingin

Kamu di sana bersama bala surga

Mempersembahkan nyanyian cinta

(kutipan hlm.115)

Dalam puisi tersebut, Deojha lewat tokoh Sangkhala Senja ingin mengutarakan perasaan cintanya kepada kekasihnya. Namun, kenangan cinta yang pahit bisa membuat seseorang semakin kuat dan gigih untuk memperoleh cinta yang lebih baik dari sebelumnya karena dia sudah mempunyai cukup bekal dan pengalaman cinta yang pernah ia dapatkan. Pengalaman cinta itu adalah guru terbaik dalam sepanjang sejarah kehidupan. Ada juga yang masih terlena dengan kenangan masa lalu cintanya dan tidak akan pernah ingin meninggalkannya, padahal tidak mungkin lagi akan terulang kembali pada masa berikutnya. Inilah yang dimaksud terjebak dalam impian hampa yang tidak pernah tahu dimana ujung akhirnya. Akibatnya mempersulit diri untuk mendapat cinta baru yang jauh lebih baik untuk masa depannya. Sebagai contoh adalah sulit untuk menerima kehadiran orang baru dihatinya, disebabkan dia masih ingin bersama orang yang dia pernah cintai, meskipun yang dicintai telah meninggal atau menjadi milik orang lain(Haruskah Putus asa.2007).

Kenangan cinta yang pahit itulah yang pernah dirasakan Deojha dengan pasangannya. Kebanyakan dari pasangan lesbiannya meninggalkannya karena lebih memilih orang lain. Lewat tokoh Sangkhala Senja dalam novel karangannya Lesbian Laki-laki, Deojha mengisahkan perjalanan kisah cintanya yang pahit dengan beberapa pasangannya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut:

Deojha mencurahkan rasa kasihnya terhadap orang yang disayanginya. Lewat tokoh Sangkhala Senja, ia ingin mengingat kembali masa lalu bersama kekasihnya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut:

(47) “Masih ingatkah kamu tentang sebuah tempat? Sebuah rumah mungil yang sering kita penuhi dengan senyuman. Kita berbagi banyak hal didalamnya termasuk berebut memilih Perancis atau Jepang untuk kita datangi terlebih dahulu. Aku seringkali menyelimutimu. Kamu sering menyuapiku. Kadang kita hanya terdiam di teras memandang langit. Memandang hujan dan malam. Menghitung bintang sebelum tidur(hlm.78)”.

Kenangan indah itu mengingatkannya pada kisah lama. Hal itu juga terdapat dalam kutipan berikut:

(48) “Masih ingatkah kamu tentang sebuah tempat? Sebuah jalan yang kita namai lorong kehidupan. Di sana kita sering duduk berdua. Meminum kopi susu panas sembari menikmati lagulagu dangdut yang diputar oleh penjual kaset. Kamu sering ikut menyanyi dan lantas kamu menertawainya sendiri. Ada bahagia di sana, sayang. Ada kesejatian di sana(hlm.78)”.

Rasa cinta yang dirasakan pun tidak hanya dilakukan untuk mengingat hal yang indah, akan tetapi dapat pula mengingat rasa cinta kemesraan yang dirasakan dengan nafsu atau kesensualan. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut:

(49) “Boleh aku cium kening sampeyan?”tanyamu. Aku lemas meski ada lojakan di ulu hatiku. Tidak munafik, inilah yang kuharapkan. Aku menurunkan kepalaku agar keningku bisa dijangkau oleh bibir mungilmu. Dan kamu mengecupnya lembut, lembut sekali. Sampai isa kurasakan seluruh desir semakin bergejolak(hlm.73)”.

(50) “Entah kenapa, malam ini aku merasa sayang kepada sampeyan.

Sebelumnya juga sudah merasa tapi malam ini lebih merasa(hlm.73)”.

Meskipun lesbian dipandang berbeda dalam hal bercinta, namun apa yang dirasakan Deojha sebagai lesbian butchie tidak berbeda dengan

kisah cinta kaum heteroseksual. Deojha mengungkapkan segala rasa cintanya yang digambarkan lewat tokoh Sangkhala Senja pada novel karyanya Lesbian Laki-laki.

Dengan demikian, maka dapat dilihat bahwa rasa cinta dapat dimiliki oleh semua kalangan dan segala status sosial baik pasangan heteroseksual maupun kaum homoseksual(gay, lesbian, dan waria).

3.3.1.2 Perasaan Cemburu Deojha dalam Sangkhala Senja

Definisi cemburu menurut kamus adalah ketakutan berpindahnya rasa kasih sayang terhadap orang lain, atau ketidakpercayaan akan kesetiaan orang yang dicintai seperti suami, isteri atau kekasih(A’Yun.2005).

Tidak lengkap jika cinta tanpa cemburu, ibarat masakan tanpa bumbu. Dua hal yang tidak mungkin terpisahkan ini akan selalu ada dalam perjalanan cinta manusia. Rasa cemburulah yang sebenarnya menguji kesungguhan cinta seseorang kepada pasangannya. Bisa daragukan ketulusan cinta seseorang jika hatinya tidak memiliki sedikit pun rasa cemburu(Cemburu tak menyakitkan.2007).

Rasa cemburu merupakan pengalaman emosional negatif sebagai hasil dari kemungkinan akan kehilangan relasi yang berharga, baik oleh kehadiran pesaing yang riil (nyata) maupun pesaing yang dibayangkan ada. Rasa cemburu selalu diikuti berbagai perasaan yang berkisar antara sedih, rasa terabaikan, atau bahkan merasa kehilangan,

kebanggaan oleh perasaan dicintai dan didambakan seseorang yang sangat berarti dan bermakna dalam kehidupan pada saat tertentu. Terdapat 3 perasaan yang merupakan perasaan inti yang membuat definisi cemburu semakin jelas yaitu sakit hati, kemarahan yang amat sangat yang sering sekaligus diikuti rasa cemas bahkan ketakutan. Reaksi terhadap adalah pengalaman yang membuat seseorang merasa tidak berbahagia (Sawitri.2006).

Cemburu merupakan perasaan yang bisa menimbulkan ketidaksenangan dalam diri kita yang diakibatkan oleh situasi tertentu. Pada kaum lesbian mereka juga mengalami perasaan cinta dan cemburu layaknya pasangan hetero pada umumnya.

Menurut Sri, komunitas lesbian sangat terbatas tapi mereka pada umumnya sangat setia dengan pasangannya serta tingkat kecemburuan mereka sangat tinggi (Nofend St.Mudo.2006).

Hal itu pula yang dialami pengarang Deojha. Ia menggambarkan arti cinta dan cemburu lewat tokoh Sangkhala Senja dalam novelnya Lesbian Laki-laki.

Rasa cemburu ini pula yang dirasakan kaum lesbian. Mereka mempunyai rasa cinta dan cemburu seperti pasangan pada umumnya. Demikian juga dengan Deojha sebagai lesbian dengan pasangannya yang ia gambarkan dalam tokoh Senja. Rasa cemburu itu muncul ketika Senja melihat kekasihnya bermesraan dengan orang lain. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(51) “Dia bukan perempuan setia, aku sudah tahu sejak awal karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia berciuman dengan mantan butchie-nya saat aku dan dia baru satu minggu berhubungan”(hlm.35).

(52) “Dari sudut ruangan tempat aku duduk, aku bisa melihat senyum Mahazza. Senyum yang terlalu banyak untuk kuartikan. Aku juga bisa melihatmu sangat bersemangat, sampai kamu melihat dan menyasari kehadiranku. Kuharap kamu tahu bahwa dadaku sesak oleh cemburu. Bahwa aku merasakan sakit yang luar biasa. Tapi seperti yang sudah kuduga, kamu tetap saja menjalani peranmu sebagai kekasih Mahazza yang tidak pernah mengenalku”(hlm.87).

Dalam kutipan no (51) dan (52) nampak bahwa yang dirasakan pengarang Deojha dalam gambaran tokoh Senja memperlihatkan bahwa ia benar-benar cemburu karena kekasihnya bersama dengan kekasih yang lain.

Dalam kisah cintanya, Deojha mempunyai kecemburuan terhadap pasangan lesbiannya. Terlebih jika pasangannya mempunyai kekasih lain, yakni perselingkuhan. Dalam tokoh Senja, ia mencoba malukiskan rasa cemburunya itu. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut:

(53) “Dia bukan perempuan setia, aku sudah tahu sejak awal karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia berciuman dengan mantan

butchie-nya saat aku dan dia baru satu minggu berhubungan(hlm.35)”.

(54) “Hari itu sangat panas, dan lebih panas lgi ketika aku masuk kedalam

kmarnya langsung. Sungguh hebat, di asedang dalam posisi 69 dengan

butchie yang tidak aku kenal(hlm.35)”. 3.3.1.3 Perasaan Marah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(1976:33), marah adalah merasa(atau perasaan) sangat tak senang.

Sebagai kaum lesbian khususnya butchie (lesbian sebagai laki-laki), Deojha merasakan rasa marah dimana pada saat tertentu ia merasa kecewa akan suatu hal. Rasa marah itu tergambar dalam tokoh Senja

yang kecewa terhadap pasangannya. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(55) “Kenapa harus menjadi butchie yang setia jika femme-ku saja sebegitu murahnya. Sebenarnya aku merasa malu karena kelakuannya yang buruk itu sudah menjadi rahasia umum, bahkan dia benar-benar pelacur karena akhirnya dia mengaku kalau dia juga sering menemani om-om senang. Dia biseks yang ngaku-ngaku pure lesbi(hlm.36)”.

Perasaan marah itu juga muncul ketika Senja diputus oleh kekasihnya. Kekesalan dan rasa marah itu terdapat dalam kutipan berikut:

(56) “ Sialan. Aku bertahan untuk tidak putus dan sekarang malah diputus. Sumpah, aku sakit hati. Aku merasa seperti orang tolol saja. Siapa dia, berani-beraninya berbuat seperti itu. Meski akhir-akhir ini aku bersikap acuh tapi bukan berarti aku tidak lagi menyayanginya. Dan seperti itukah balasan untukku? Aku ingin marah sejadi-sejadinya. Harga diriku terbakar. Aku terima saja jika memang harus berakhir, tapi bukan dengan cara seperti ini. Terlalu pengecutkah dia sampai haru memutuskan hubungan lewat sms, dengan kata-kata yang seolah-olah aku yang mengejarnya dan tidak rela diputus. Siapapun orang yang

berada disampingnya, butchie atau laki-laki akan berpikiran aku masih

ngotot untuk bertahan padahal aku sudah diputus. Gila saja!(hlm.42)”.

Dalam kehidupannya Deojha mengalami beberapa ketidakadilan yang membuatnya marah dan tidak setuju tentang pendapat banyak masyarakat mengenai kaum lesbian. Diantaranya ketika ia dikeluarkan dari pekerjaannya lantaran diketahui jati dirinya sebagai lesbian. Hal itu membuatnya kecewa. Perasaan itu tercurah dalam pendapatnya yang digambarkan dalam tokoh Senja. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(57) “Selama ini banyak persepsi salah tentang homoseksual. Dipikirnya

homoseksual itu identik dengan hura-hura, dugem setiap malam, free

sexs karena mudah berganti pasangan kapan saja. Homoseksual juga dinilai selalu menjadi korban narkoba dan penyebar virus HIV. Semua itu pemikiran yang dangkal. Memang ada beberapa yang gaya hidupnya seperti itu. Beberapa itu artinya tidak semua. Coba dipikirkan

sekian banyak manusia di bumi ini yang mendominasi kan mereka yang yakin dirinya ‘normal’ alias heterosekual. Kalau pun benar pandangan buruk tentang gaya hidup homoseksual tadi paling-paling

hanya sekian prosen dari heteroseksual kan. Am I right? Manusia

memang selalu ingin menjadi savety player dan butuh kambing hitam(hlm.49)”.

Dalam tokoh Senja, Deojha juga ingin mengungkapkan perasaan kemarahannya terhadap masyarakat tentang penilaiannya terhadap kaum lesbian. Ia mengungkapkan bahwa antara lesbian ataupun orang lain pada umumnya tidak jauh berbeda. Percaya akan Tuhan , saling mengasihi dan dapat bersosialisasi. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(58) “Menurut pengalamanku yang lesbian ini, kehidupan kami tidak jauh berbeda. Selain masih sama-sama manusia yang juga warga sebuah negara dan ber-KTP, kami juga memiliki hidup dan proses yang hampir sama. Dikandung, dilahirkan, dibesarkan, disekolahkan dan seterusnya. Kami juga mengenal agama beserta ajarannya. Aku Katholik, aku kenal Juru Selamatku dan sangat percaya. Mengenai bagaimana aku beribadah itu hanya tanggung jawab moril secara pribadi. Aku percaya adanya satu Tuhan meski tidak rajin ke gereja dan pernah lupa doa Bapa Kami. Aku lebih nyaman jika berdoa seperti berbincang. Aku rasa Tuhan ingin disegani dan bukan ditakuti. Tapi kalau semua ‘kemiringan’ ini dibenturkan dengan persoalan agama tidak akan pernah ada ujungnya. Kami juga memiliki hati. Memiliki cinta yang menurutku lebih cantik. Cara kami mencintai mungkin sama tapi cara mewujudkannya terkadang lebih indah. Perempuan dengan perempuan saling mencintai, jika ditambah dengan rasa tulus maka bisa dibayangkan betapa cantiknya. Jika berbagi sisi mengajarkan untuk saling mengasihi dan menghargai maka semua ini bukan sebuah kesalahan, penyakit atau mungkin dosa. Aku masih ingin menjalani semua ini apa adanya. Lesbian ya lesbian saja. Kenapa harus dibenturkan pada banyak hal yang terkadang tampak dibuat-buat. Jadi

wajar saja kan jika aku juga masih terus berharap untuk diterima

dengan lebih baik. Semua yang terjadi dalam setahun ini hanya cobaan kecil. Aku sempat merasa tidak bersemangat lagi karena semua yang terjadi. Kesedihan keluarga yang mereka pendam sendiri, pacar yang berkhianat, kuliah yang semakin membosankan, dan dipecat dengan sedikit hormat hanya karena aku seorang lesbian. Semuanya membuatku penat meski aku belum memasuki fase mengutuki Tuhan dan diri sendiri(hlm.50)”.

3.3.1.4 Perasaan Takut

Menurut KBBI(1976:997), takut adalah merasa tak berani (ngeri,gentar) melihat sesuatu yang pada perasaannya akan mendatangkan bencana bagi dirinya.

Dalam kehidupannya, Deojha merasakan perasaan takut ketika ia harus dihadapkan pada persoalan yang sangat pribadi. Ketika jati dirinya sebagai lesbian diketahui oleh keluarganya, ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Perasaan itu tergambar lewat tokoh Senja. Hal itu tampak dalm kutipan berikut:

(59) “Ini gila, sungguh gila. Sebuah pengakuan yang tidak terencana. Aku versus keluarga besarku akan segera dimulai(hlm.27)”.

Senja makin merasa takut untuk menghadapi keluarga besarnya jika ia mengaku sebagai lesbian. Hal itu tampak dalam kutipan berikut: (60) “Asli, aku sama sekali tidak berani memebayangkan apa yang akan

terjadi di rapat keluarga besar yang priyayi ini. Jelas aku pasti

dianggap mencoreng nama keluarga. Jelas aku akan dituding mencemarkan bibit, bobot, bebet. Dianggap memalukan. Aku pasrah sajalah. Kun faya kun(hlm.28)”.

(61) “Jantungku yang tadi udah bisa kutenangkan berdetak kencang lagi. Seperti saat dulu bermain jet coaster di Dufan. Aku masih berharap semoga jika bisa kutawar, aku hanya akan diusir saja dan bukan dikawinkan(hlm.28)”.

3.3.1.5 Perasaan Sedih

Perasaan sedih adalah merasa sangat pilu di hati, bersusah hati tentang sesuatu (KBBI,hlm:884).

Deojha merasakan kesedihan tatakala seseorang yang disayang pergi meniggalkannya. Perasaan itu tergambar pada tokoh Senja ketika guru Tk-nya pergi meninggalkannya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut: (62) “Kepergian bu Linda waktu itu membuatku sedih dan kehilangan. Tidak ada yang memanjakan aku, mengajakku bermain ayunan, membujukku untuk memakan bekalku saat istirahat, juga membelikanku sebuah permen sugus rasa jeruk kalau aku act mewarnai dengan rapi(hlm.15)”.

Kesedihan juga dirasakan ketika Deojha mengingat masa kecilnya, lewat tokoh Senja, ia menggambarkan kesedihan terhadap perceraian orang tuanya. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(63) “Aku hanya ingat masa-masa sakit, sedih dan tertekan. Bagiku tidak heran karena masa kecilku tidak semanis nona-nona kecil yang selalu dimanja orang tua mereka(hlm.16)”.

3.3.1.6 Perasaan Bahagia

Deojha mempunyai rasa bahagia terhadap seseorang. Ia merasakan kasih sayang dari pasangannya yang membuatnya bahagia. Salah satu perasaan cinta itu tergambar dalam tokoh Senja ketika orang yang dicintainya menjadi berarti baginya. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(64) “Banyak cinta yang kamu berikan. Melalui banyak hal kamu begitu luar biasa memberi nafas baru padaku. Yang sangat kupahami adalah seperti itulah sejatinya kamu. Aku selalu yakin bahkan sampai detik ini, kamu adalah perempuan yang berhati putih meski sekarang edang terhalang kabut. Aku mengenal kamu semakin baik setiap harinya. Aku

merasakannya, seperti yang selalu kamu katakan padaku, “Rasakanlah dengan hati”(hlm.78)”.

3.3.2 Hubungan Seksual

Aktivitas lesbian terdiri dari berbagai perilaku seksual yang dapat dilakukan oleh setiap hubungan heteroseksual seperti: berciuman, stimulasi oral-genital, saling mengasihi, saling masturbasi, dan sebagainya. Dari literatur psikologi wanita dapat disimpulkan bahwa perempuan lesbian tidak memenuhi stereotipi kepribadian atau mempunyai penampilan fisik yang khusus. Terutama lesbian perempuan usia dewasa muda. Dalam mengadakan hubungan dengan sesama lesbian, seorang perempuan leian bisa memilih peran feminim atau maskulin sebagaimana diisi oleh laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Di antara perempuan lesbian ada yang menganggap, bahwa hanya sebagai lesbian mereka akan dapat memperoleh kesetaraan dan kebebasan sejati. Karena mereka telah memilih untuk tidak tergantung pada laki-laki dalam memuaskan dorongan seksualnya, maupun memenuhi berbagai tuntutan sosial( Gaya Nusantara.2007).

Hubungan seksual yang dirasakan Deojha sebagai lesbian butchie sama halnya dengan kaum hetero lainnya. Ia juga mengalami pemuasan seksual dengan pasangan sejenisnya. Menurutnya, hubungan yang dilakukan bersama pasangan lesbiannya sama dengan pasangan hetero hanya berbeda cara serta indikatornya yakni penyaluran terhadap alat kelamin. Akan tetapi, dengan begitu kaum lesbian sudah merasakan

kepuasan tersendiri akan dorongan seksual yang diperolehnya. Namun menurut beberapa sumber lesbian lain, tidak menutup kemungkinan mereka mengubah pola indikator tersebut menjadi sama seperti pasangan heteroseksual yakni dengan menggunakan alat bantu seperti pada bentuk alat kelamin pria(Deojha.2006).

Hal itu pula yang digambarkan Deojha melalui tokoh Sangkhala Senja dalam novel Lesbian Laki-laki. Hubungan seksual dalam dunia lesbian yang diungkapkannya lewat novelnya melalui tokoh Senja tersebut, sama seperti yang dialami. Bahwa Sangkhala Senja melakukan hubungan seksual dengan pasangan lesbiannya. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(65) “Kumatikan lampu dan membalikkan badan dan menghadap dinding. Sekuat tenaga berpikir positif dan mencoba tidur. Saat setengah terpejam, dia mulai beraksi. Mulutnya nakal menciumi daerah sensitifku. Aku merinding dan sedikit menahan hasrat. Aku benar-benar ingin tidur meski ada pikiran juga untuk bercinta terlebih dahulu(hlm.32)”.

Meskipun Deojha seorang lesbian, ia juga manusia biasa yang act merasakan hasrat dan birahi ketika berada dekat dengan pasangnnya dalam kemesraan. Hal itu yang digambarkan dalam tokoh Senja. Meski terkadang ingin menghindar dari suasana dan keinginan yang intim, akan tetapi Senja tetap melakukan hubungan seksual. Hal itu tampak dalam kutipan berikut:

(66) “Dia memang begitu, selalu ingin bercinta. Hyper. Kadang aku bosan dan

muak. Tentu saja aku juga pernah kelelahan. Aku tetap perempuan bagaimanapun juga. Tapi setiap kali dia menggoda dengan berbagai triknya itu, aku tidak tahan. God damn!.Seperti malam itu, akhirnya kami bercinta(hlm.32)”.

Perasaan cinta dan nafsu yang dialami lesbian pun tidak jauh berbeda dengan pasangan hetero. Penggambaran tentang cinta dan nafsu yang

romantis dituangkan Deojha dalam tokoh Sangkhala Senja. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut:

(67) “Kita terdiam beberapa saat untuk saling menata irama jantung yang berantakan. Dan inilah yang kumaksud dengan ciuman hangat dan lama. Bibirmu menyentuh bibirku. Menempel. Melumat. Lembut, hangat dan lama. Seperti inilah lesbian berciuman. Dengan hati dan seluruh kebaikan(hlm.74)”.

Penggambaran cinta dan nafsu juga terdapat dalam kutipan no (49) dan (50).

Dinamika hubungan seksual kaum lesbian sangat bervariasi, hanya saja pokok pembahasan tentang hubungan seksual yang dirasakan dan dialami terfokus pada lesbian butchie(lesbian yang berposisi sebagai laki-laki).

Dokumen terkait