• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.2 Perbandingan Latar Belakang Kehidupan Keluarga dan

dalam novel Lesbian Laki-laki. Hubungan tersebut dijelaskan dalam latar belakang kehidupan keluarga antara pengarang dan tokoh sebagai berikut.

2.2.1 Pengarang Deojha

Dalam wawancara beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 24 November 2006, lewat beberapa pertanyaan dan informasi yang peneliti dapatkan, tentang latar belakang kehidupan keluarga dan masa kanak-kanaknya terungkap beberapa fakta mengenai hal itu sebagai berikut.

Deojha lahir di Yogyakarta tepatnya tanggal 23 Juni 1984, memeluk agama Katholik, belum menikah, adalah anak kedua dari dua bersaudara dan juga mempunyai orang tua angkat dan tiga kakak angkat laki-laki. Ia merupakan individu yang mempunyai postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, kecil, berambut pendek serta tomboy dan juga senang merokok. Saat ini Deojha bekerja di sebuah LSM di daerah Tamansiswa. Ia terlahir dari keluarga ningrat oleh sebab itu ia dibesarkan dalam aturan tata krama dan disiplin yang tinggi. Ia mempunyai kakak perempuan bernama Meylvinas Emelia Pramudita. Deojha ditinggal oleh ayahnya sejak kecil, karena orang tuanya bercerai lalu ayahnya pergi merantau keluar Jawa. Karena alasan ekonomi dan ketidakcocokan itulah yang menyebabkan mereka bercerai. Sejak itu, Deojha dan kakaknya tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Namun saat ini ayahnya sudah mempunyai keluarga baru. Dan Deojha pun mengaku sampai sekarang ia tetap berkomunikasi dengan ayahnya meskipun hanya untuk satu keperluan yaitu meminta uang.

(1) “Aku kecewa dengan keadaan keluargaku yang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi itu sudah kenyataan yang harus kutrima bahwa aku tidak bisa menikmati masa kecil yang bahagia seperti teman – temanku yang lain, tapi tidak apa-apa”.

2.2.1.1 Perceraian Orang Tua.

Setelah perceraian orang tuanya dan akhirnya di tinggal pergi oleh ayahnya, keadaan ekonomi mulai kacau. Karena ibu Deojha tinggal bersama dengan orang tua dan keluarga besarnya yang berekonomi lemah maka ibunya harus bekerja keras agar bisa menyekolahkan kedua anaknya. Ibu Deojha yang depresi menghadapi perceraian dan kehidupan yang harus ia jalani sebagai orang tua tunggal, membuatnya sering emosi dan memukul Deojha apabila sedang marah. Ibunya sering melampiaskan kekesalan pada anak-anaknya terlebih pada kakaknya. Pada akhirnya, ibunya terpaksa menyerahkan Deojha menjadi anak angkat salah satu kerabatnya yang tinggal di Jakarta yakni kakak dari ibunya, karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan. Di sana Deojha mempunyai 3 kakak angkat laki-laki yakni anak dari orang tua angkatnya.

(2) “Ibuku sering marah-marah kalau kakakku melakukan sedikit kesalahan.

Apakah itu wajar jika ibuku melampiaskan kemarahannya pada Meylvi? Dan aku tidak tau apa-apa walaupun aku tau ibuku sedang menjerit karena tak sanggup menjalani semuanya itu sendirian. Tapi apa boleh buat. Aku hanya bisa diam dan menangis jika melihat kakak perempuanku dipukul oleh ibuku”.

(3) “Aku hanya bisa pasrah ketika aku diangkat anak oleh salah seorang saudara ibuku yang tinggal di Jakarta. Aku sedih karena harus berpisah dengan orang yang kusayangi yakni ibuku dan kakakku. Lagipula dulu aku masih kecil, jadi aku belum begitu mengerti. Aku tinggal dengan orang tua angkatku dan berkenalan dengan ketiga anak laki-lakinya. Karena semua saudara angkatku laki-laki, aku menjadi gadis tomboy, asik lho main mobil-mobilan dan main bola”.

2.2.1.2 Kehidupan Setelah Menjadi Anak Angkat

Deojha mengaku, ia mengalami banyak perubahan. Disamping ia tumbuh menjadi gadis tomboy, karena ketiga kakaknya laki-laki semua. Ia merasa senang, karena merasa ada yang melindunginya dan menjaganya. Dalam keluarga angkatnya, Deojha menjadi anak bungsu karena hanya dialah satu-satunya anak perempuan dan menjadi anak yang paling muda. Namun, Deojha merasa sedih ketika ia sering diolok-olok oleh teman-temannya di sekolah. Ia sering dijuluki anak pungut, entah dari mana mereka mengetahui bahwa Deojha adalah anak angkat. Deojha hanya bisa menangis karena pada waktu itu ia masih kecil dan tidak tahu harus membela dirinya sendiri dengan cara seperti apa.

(4) “Aku senang tinggal bersama orang tua angkat dan ketiga kakak

angkatku. Mereka semua baik terhadapku. Aku jadi bisa merasa sedikit macho. Aku bisa menjadi anak yang tidak mudah menangis karena mereka mengajariku cara bermain ala anak laki-laki juga belajar beladiri.Asik pokoknya….!

Tapi aku juga seringkali sedih ketika di sekolah sering diejek teman-temanku hey…anak pungut…anak pungut….ngapai kamu sekolah disini!!begitu kata mereka.Apa salahku?Dan siapa yang mengajarkan mereka berbicara seperti itu. Tapi aku tidak mempedulikannya. Begitulah bagian hidup masa kecilku dirumah dan disekolah”.

2.2.1.3 Bertemu Kembali dengan Keluarga di Jogja

Deojha kembali ke Jogja ketika ayah angkatnya dipindahtugaskan di kota itu, sehingga Deojha bisa bertemu dengan ibu dan kakak perempuannya serta sekaligus hidup dengan dua keluarga. Saat di Yogyakarta, Deojha melanjutkan masa pendidikan SMP dan SMA. Keadaan tidak banyak berubah setelah ia berpisah lama dengan ibunya, hanya saja ibunya menjadi orang yang tidak mudah pemarah dan sedikit tenang. Seiring berjalannya waktu, Deojha harus banyak belajar menyesuaikan diri kembali untuk hidup dalam tata karma dan aturan keluarga eyangnya yang ningrat, karena Deojha tinggal lama di Jakarta yang berbeda sekali kehidupan dan pergaulan sosialnya.

(5) “Lulus SD, aku langsung boyongan (pindahan) ke Jogja lagi karena ayah angkatku berpindah tugas di sana. Di samping merasa senang karena dapat bertemu kembali dengan ibu kandungku dan Meylvi kakakku, aku juga sedih bertemu kembali dengan aturan-aturan dan disiplin tata karma atau apalah semacam itu”.

Begitulah kehidupan Deojha semasa ia kecil, harus terpisah oleh keluarga kandungnya. Namun di samping itu, ia juga menemukan kebahagiaan dengan keluarga barunya yakni keluarga angkatnya.

2.2.2 Tokoh Shangkala Senja

Dalam novel ini Senja merupakan tokoh yang melambangkan diri pengarangnya dalam kehidupan yang sebenarnya. Tentang kehidupan seorang tokoh Shangkala Senja yang merupakan cerita dan karya nyata dari kehidupan yang dialami pengarang. Dalam cerita ini, Sangkhala Senja merupakan tokoh yang menjadi lesbian “butchie”. Akan tetapi masa kecilnya tidak seindah anak-anak lainnya. Di samping orang tuanya yang bercerai, ia mengalami tekanan dalam hidupnya serta dalam keluarga besarnya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(1) “Aku hanya ingat masa-masa sakit, sedih dan tertekan. Bagiku tidak

heran karena masa kecilku tidak semanis nona-nona kecil yang selalu dimanja orang tua mereka. Bagaimana ya memulai untuk menceritakannya. Mungkin dari sebuah silsilah hidupku terlebih dahulu. Shangkala Senja namaku. Panggil saja Senja. Seperti masa laluku yang meredup, nama Senja disematkan padaku. Tanggal duapuluh tiga di bulan Juni aku lahir. Sebenarnya aku lahir di tengah-tengah keluarga berdarah biru. Ningrat, priyayi atau apalah sebutannya. Mungkin mempengaruhi sifat keluargaku yang sangat feodal itu. Bisa dibayangkan bagaimana keluarga Jawa bersikap, apalagi sebuah keluarga ningrat. Entah bagaimana silsilah darah biru itu mengalir. Ruwet dan aku tidak pernah tertarik untuk mencari tahu (hlm. 16)”.

2.2.2.1 Perceraian Orang Tua

Shangkala Senja mempunyai latar belakang orang tua yang sangat berbeda tradisi dan adat istiadatnya. Seperti yang dijelaskan dalam kutipan berikut ini:

(2) “Ibu kandungku yang berasa dari keluarga ningrat dan ayahku asli dari

Sulawesi. Pernikahan antar suku yang awalnya tidak direstui. Melahirkan aku dan kakak perempuanku. Aku dinamainya Sangkhala Senja dan kakakku dinamainya Nada Jingga (hlm.19)”.

Senja menghadapi perceraian kedua orang tuanya saat ia masih kecil dan karena itulah ibunya tidak memberitahukan alasan mereka bercerai. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(3) “Aku dan Jingga masih sangat kecil ketika ibu dan ayah memutuskan

untuk bercerai. Berpisah jiwa dan raga. Alasan-alasan klise yang selalu diberikan ketika kami bertanya di mana ayah, mengapa ayah tidak pernah lagi membuat obor saat malam takbiran dan lain-lain. Intinya ayah tidak lagi ada di tengah-tengah kami (hlm.20)”.

Sampai pada akhirnya Senja mengetahui yang sebenarnya alasan mengapa orang tuanya bercerai. Ternyata ada beberapa faktor yang membuat mereka berpisah yang tidak lain adalah adanya campur tangan dari pihak keluarga besar dari ibunya. Hal itu dijelaskan dalam kutipan berikut.

(4) “Sampai kami semakin besar dan tahu alasan sebenarnya kenapa mereka

bercerai. Masalah ekonomi yang mengguncang rumah tangga mereka. Ibu frustasi karena sebenarnya belum siap dengan pernikahan di usia muda. Memiliki dua orang anak yang masih membutuhkan susu dan semacamnya tapi suaminya pengangguran. Aku tidak menyalahkan ibu, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan ayah yang tidak kalah tertekannya oleh sikap ibu yang selalu marah-marah dan tidak mau bersabar apalagi mengerti. Ayah sudah berusaha untuk mencari pekerjaan, hanya saja belum beruntung. Lalu harga dirinya mulai tergoresi ketika keluarga besar ini ikut campur. Kakek menyuruh ayah untuk ikut bekerja di kraton. Sebagai apa aku tidak paham, yang jelas ayah menolak. Selama

itu ayah sudah cukup toleran untuk mengikuti adat manut yang jauh dari

adatnya sendiri. Lagipula percuma, bekerja di kraton itu adalah sebuah pengabdian bukan tempat untuk dapat uang banyak. Kasian ayah (hlm.20)”.

Persoalan itu semakin jelas ketika ayahnya memustukan untuk bekerja di luar pulau Jawa. Orang tua Senja pun benar – benar berpisah. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(5) “Dan saat keberuntungan itu menyapa ayah dengan akhirnya mendapat

pekerjaan di Sulawesi sana, ibuku yang tidak memperbolehkan dengan alasan ibu tidak mau ayah bekerja di luar kota Jogja dan membuat ibu mengasuh kami berdua sendirian. Ibu mengancam cerai jika ayah nekat menerimanya. Seperti itu gambaran kecil ditambah pertengkaran ini dan itu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Setelah itu

masing-masing dari mereka menikah lagi. Terus terang aku tidak terlalu ingat wajah ayah (hlm. 21)”.

Sangkhala Senja mulai merasakan kesedihan pada masa kecilnya ketika mengalami dampak perceraian orang tuanya. Ia akhirnya diasuh oleh salah satu saudara dari ibunya dan dijadikan anak angkat, hal itu terjadi lantaran himpitan ekonomi yang menimpa keluarganya karena harus menghidupi kedua anak yang masih balita tanpa penghasilan tetap. Kondisi itu dijelaskan dalam kutipan berikut ini.

(6) “Bagaimana mungkin dengan sikap ibu yang kaku dan ditambah lagi

gelar janda bisa membuat ibu kuat untuk membesarkan dua orang anak yang masih balita? Apalagi kondisi ekonomi tidak semakin membaik. Itulah yang membuat ibu memutuskan untuk memberikan aku pada kakak perempuannya untuk diangkat anak. Aku sudah penyakitan dari kecil. Paru-paru yang berlubang membuatku bertubuh sangat kurus. Gigi-gigi susuku yang selalu sudah rusak ketika tumbuh dan membuatku selalu sakit gigi. Ketika penyakit-penyakit itu kambuh dan aku merintih kesakitan, ibu malah geram dan memukul atau mencubitiku. Semakin keras aku menangis, semakin ibu memukul dan mencubit (hlm. 21)”.

Senja merasa pasrah ketika ia harus diangkat anak oleh saudaranya dan hidup terpisah dengan ibu dan kakak perempuannya. Ia sedih dan tidak ingin membebani ibunya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(7) “Aku mensyukuri banyak hal karena menjadi bagian dalam keluarga ini.

Bagaimana tidak jika mengingat perlakuan ibu dulu. Kemiskinan dan predikat orang tua tunggal membuat ibu semakin terpojok. Ibu semakin terlihat kurus dan menderita. Dari situlah bilur-bilur biru mulai menghiasi tubuhku dan Jingga. Mungkin ibu merasa sedikit terhibur dengan melihat kami menangis dan berteriak mohon ampunan. Rasanya kami masih terlalu kecil untuk bisa lari dari semua itu. Semakin hari semakin tidak terkendali. Aku tahu ibu sangat terluka, dan tidak akan sembuh walau kami dipukulinya sampai habis. Seperti itulah yang terjadi. Terus- menerus menahan perih di sekujur tubuh, dan kenapa air mata tidak juga kering? Ibu juga selalu menangis sesudah memukul kami. Aneh. Air mata ibulah alasanku satu-satunya untuk pasrah menjadi anak angkat. Memberikan aku, salah satu bebannya. Tidak apa-apa bagiku, karena ibu tidak perlu lagi menangis sesudah memukuliku. Dan Jingga tidak perlu lagi memelukku untuk melindungi tubuh mungilku dari tangan besi ibu (hlm. 23)”.

2.2.2.2 Kehidupan Sangkhala Senja setelah Menjadi Anak Angkat Sangkhala Senja akhirnya dibawa ke Jakarta di rumah orang tua angkatnya. Ibu angkatnya mempunyai tiga anak laki-laki, karenanya Senja tumbuh menjadi gadis yang mempunyai sifat maskulin. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(8) “Keluarga angkatku membawaku pindah ke Jakarta. Mereka

memperlakukan aku dengan sangat baik. Kebetulan mereka tidak memiliki anak perempuan. Ketiga anak mereka laki-laki, jadi aku bagaikan seorang putri di antara mereka. Dari situ aku terbentuk menjadi seorang Sangkhala Senja yang baru. Yang mulai merasa aneh jika memakai rok atau baju-baju perempuan. Mulai menyenangi robot-robotan dan mobil-mobilan daripada boneka. Yang lebih memilih ekstrakulikuner basket daripada menjahit. Aku lebih suka membantu membetulkan genteng daripada memasak bersama mama. Juga lebih tertarik melihat dada perempuan ketimbang tubuh laki-laki yang kekar. Semakin hari semakin berjiwa maskulin di sebuah keluarga yang lebih demokratis, bersama ketiga kakak laki-lakiku dan pasangan suami-istri yang sudah terbiasa kupanggil mama dan papa itu (hlm. 22)”.

Pemasalahan Senja tidak hanya usai semenjak ia tidak tinggal bersama ibu kandungnya dalam menghadapi kemarahan dan kesedihan ibunya. Akan tetapi di lingkungan sekolah Senja juga mengalami kesedihan karena sering diejek oleh teman-temannya. Hal itu terdapat dalam kutipan berikut.

(9) “Masalah memang tidak akan pernah lepas dari kehidupan seseorang.

Lepas dari siksaan ibu, aku mulai mengalami guncangan dalam lingkungan luar. Sekolah. Aku tidak bisa mengingat dengan baik, seperti yang sudah kubilang sebelumnya. Tapi perlakuan teman-teman di sekolah masih bisa kurabai dengan baik. Mereka menjauhiku karena tahu aku bukan anak kandung. Teman-teman perempuan saling berbisik tentangku dan yang laki-laki meneriakiku dengan sebutan anak pungut. Aku tidak tahu kenapa hal itu mengganggu mereka. Seharusnya anak-anak seusia kami waktu itu, yang masih menggunakan seragam putih merah belum mengenal istilah ‘anak pungut’ apalagi dipakai untuk meneriaki dan mengejek. Atau mungkin mungkin orang tua mereka tidak peka dengan perkembangan lingkungan yang mempengaruhi anak-anaknya dan malah sibuk dengan dunia orang dewasa (hlm.23)”.

Kisah Sangkhala Senja merupakan ekspresi dari kehidupan yang dialami pengarang Deojha. Dalam hal ini Sangkhala Senja merupakan rekaan fiksi yang disajikan oleh pengarang Deojha untuk menyampaikan pengalaman hidup yang sebenarnya.

2.2.2.3 Sangkhala Senja Pulang ke Yogyakarta

Pada akhirnya Sangkhala Senja sudah tidak dapat bertahan lagi hidup di Surabaya. Dia tidak merasa nyaman akan kehidupan di sana. Maka Ia memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta ke kota kelahirannya. Akan tetapi, ternyata tidak semudah yang Ia harapkan. Ternyata mencari pekerjaan itu sulit.

Pada cerita fiksi karangan Deojha, tentang Sangkhala Senja tidak disebutkan secara rinci bagaimana Ia kembali ke tanah kelahirannya di Yogyakarta untuk bertemu keluarganya. Hal itu tidak dapat dipastikan jelas, namun hanya terdapat dalam kutipan berikut.

(10) “Sudah lama aku menjadi pengangguran di kota kelahiranku sendiri. Kamu sedang bersamanya saat aku berjuang dalam beku. Berjuang untuk mendapatkan apa yang menurutmu baik dan benar (hlm.118)”.

(11) “Aku masih terus menulis dan lamaran kerjaku juga masih ditolak lagi. Entah apa yang salah pada diriku ehingga banyak orang yang menolakku. Jangan-jangan didahiku ada tulisan yang besar dan sangat jelas; LESBIAN (hlm.126) ”.

Dalam kutipan no.(10) dan (11) dijelaskan bahwa senja mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan di kota kelahirannya, yakni Jogja. Dia berpikir bahwa karena jati dirinya sebagai lesbian yang mungkin membuat ia sering ditolak jika melamar bekerja.

Dokumen terkait