• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Pertambangan

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, seluruh sumber daya yang terkandung dalam wilayah Republik Indonesia dikuasai oleh Negara Republik Indonesia. Kegiatan pertambangan Indonesia saat ini secara umum diatur oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (“UU Minerba”) yang menggantikan Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (“UU No. 11/1967”). Peraturan pelaksanaan dari UU No. 11/1967 tetap berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan UU Minerba dan Keputusan Menteri ESDM No. 1614 Tahun 2004 tentang Pedoman Pemrosesan Permohonan Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara dalam rangka Penanaman Modal Asing (“Kepmen ESDM No. 1614/2004”) juga tetap berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan UU Minerba. UU Minerba ditetapkan sebagai undang-undang di Indonesia pada tanggal 12 Januari 2009. Kemudian, pada bulan Februari 2010, Pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksana untuk melaksanakan UU Minerba melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (“PP No. 22/2010”), Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2012 (“PP No. 24/2012”) dan Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (“PP No. 55/2010”). Peraturan terbaru dari UU Minerba adalah Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang (“PP No. 78/2010”), yang dikeluarkan oleh Pemerintah pada tanggal 20 Desember 2010.

UU Minerba menetapkan bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam yang tak terbarukan yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, oleh karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara Republik Indonesia untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan secara berkeadilan. Penguasaan batubara harus berada di tangan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah yang bersangkutan. UU Minerba juga menetapkan bahwa Perjanjian Kerjasama Batubara, Kontrak Karya dan Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Batubara yang dilaksanakan berdasarkan UU No. 11/1967 akan tetap berlaku sampai berakhirnya perjanjian tersebut. Namun demikian, ketentuan-ketentuan tertentu yang terdapat dalam perjanjian kerjasama batubara tersebut, wajib disesuaikan dengan ketentuan dalam UU Minerba, selambat-lambatnya tanggal 12 Januari 2010 (kecuali ketentuan yang berkaitan dengan pendapatan negara).

Berdasarkan UU Minerba dan PP No. 24/2012, kegiatan pertambangan hanya dapat dilakukan setelah memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP), yang dapat diberikan ke badan usaha, koperasi dan perseorangan. IUP terdiri dari: (i) Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi (“IUPE”) dan Izin Usaha Pertambangan Produksi(“IUPOP”). IUPE meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi dan studi kelayakan, sementara IUPOP meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.

UU Minerba diantaranya mengatur kewenangan instansi pemerintah yang berhak untuk memberikan IUP yang meliputi IUPE dan IUPOP. IUP dapat diberikan oleh (i) Menteri ESDM untuk wilayah IUP (“WIUP”) yang berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari Gubernur dan Bupati/Walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, (ii) Gubernur, jika WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam satu provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari Bupati/Walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, atau (iii) Bupati/Walikota, jika WIUP berada di dalam satu wilayah Kabupaten/Kota. IUPOP, di sisi lain, diberikan (i) oleh Menteri ESDM jika lokasi penambangan, pengolahan dan pemurnian serta pelabuhan berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda setelah mendapatkan rekomendasi dari Gubernur dan Bupati/Walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, (ii) oleh Gubernur, jika lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam wilayah Kabupaten/Kota yang berbeda setelah mendapatkan rekomendasi dari Bupati/Walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, atau (iii) Bupati/Walikota, jika lokasi penambangan, pengolahan dan pemurnian serta pelabuhan berada di dalam satu wilayah Kabupaten/Kota.

Khusus untuk pertambangan batubara, IUPE diberikan untuk jangka waktu maksimal 7 (tujuh) tahun dan untuk luas wilayah maksimal sebesar 50.000 hektar dimana IUPOP diberikan untuk jangka waktu maksimal 20 (dua puluh) tahun dan luas wilayah maksimal sebesar 15.000 hektar, yang dapat diperpanjang sebanyak 2 (dua) kali dimana tiap perpanjangan dapat dilakukan untuk maksimal 10 (sepuluh) tahun.

Meskipun UU Minerba melarang pengalihan IUPE atau IUPOP, UU Minerba memungkinkan pengalihan kepemilikan atau saham perusahaan pertambangan yang memegang izin tersebut. Pengalihan kepemilikan dan/atau saham perusahaan pertambangan di BEI hanya dapat dilakukan setelah ditemukannya 2 wilayah prospek dalam kegiatan eksplorasi perusahaan pertambangan tersebut. Sehubungan dengan pengalihan kepemilikan atau saham, pemegang izin juga harus telah membuktikan bahwa pemegang izin tersebut telah memberitahukan kepada pihak yang berwenang mengenai pengalihan yang diusulkan tersebut, dan bahwa pengalihan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Berdasarkan PP No. 24/2012, pemegang IUP dilarang mengalihkan IUP miliknya kepada pihak lain, kecuali kepada badan usaha yang 51% atau lebih sahamnya dimiliki oleh pemegang IUP.

UU Minerba juga mewajibkan pemegang suatu IUPE atau IUPOP untuk: (i) menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik; (ii) mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia, (iii) meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara, (iv) melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat, dan (v) mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan. Pemohon IUPE diharuskan untuk menyerahkan rencana reklamasi, sedangkan pemohon untuk IUPOP juga diharuskan untuk menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pascatambang (untuk disetujui oleh Menteri ESDM atau Gubernur atau Bupati/Walikota, sesuai kewenangannya) pada saat mengajukan permohonan IUPOP. Pemilik IUPOP wajib melakukan kegiatan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri. Pemilik IUPOP dapat bekerja sama dengan badan usaha, koperasi atau perorangan yang telah memperoleh IUPOP (seperti yang dijelaskan di bawah) khusus untuk pengolahan dan pemurnian.

Badan usaha yang tidak bergerak pada usaha pertambangan dan bermaksud untuk mengangkut dan/atau menjual batubara yang tergali diwajibkan untuk memiliki IUPOP khusus untuk mengangkut dan/atau menjual batubara tersebut.

UU Minerba menetapkan kewajiban divestasi saham bagi pemegang IUPOP yang sahamnya dimiliki oleh asing atau memiliki saham yang dikendalikan oleh asing. Divestasi harus dilakukan setelah tambang berproduksi selama lima tahun kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (“BUMN”), Badan Usaha Milik Daerah (“BUMD”), atau badan usaha swasta nasional. PP No. 24/2012 juga menguraikan tentang persyaratan divestasi seperti yang sebelumnya diatur dalam UU Minerba. PP No. 24/2012 menyatakan bahwa setelah tambang telah melakukan operasi selama lima tahun, pemegang IUPOP yang dimiliki asing atau memiliki saham yang dikendalikan oleh asing wajib melakukan divestasi sehingga pada tahun kesepuluh sahamnya paling sedikit 51% dimiliki oleh peserta Indonesia melalui mekanisme tertentu. Pertama, saham harus ditawarkan kepada pemerintah pusat, dan jika pemerintah pusat tidak bersedia membeli, saham kemudian ditawarkan ke pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota. Jika para pihak tersebut tidak bersedia membeli saham, pemegang izin harus menawarkan saham kepada BUMN dan BUMD dengan cara lelang. Dalam setiap kasus, para pihak diberikan 60 hari kalender dari tanggal penawaran untuk menyatakan minat mereka. Dalam hal pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota, BUMN dan BUMD yang menerima tawaran tidak berminat untuk membeli saham, maka saham dapat dilelang ke badan usaha swasta nasional, yang dalam hal ini diberikan 30 hari kalender untuk menyatakan minat mereka setelah tanggal penawaran.

PP No. 22/2010 menentukan bahwa Wilayah Pertambangan (“WP”) adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari rencana tata ruang nasional. Berdasarkan PP No. 22/2010, suatu wilayah diklasifikasikan sebagai WP apabila memiliki indikasi formasi batuan pembawa batubara (atau mineral lainnya) atau potensi sumber daya bahan tambang yang berwujud padat dan/atau cair. Untuk mengetahui adanya indikasi atau potensi dari batubara atau mineral, Pemerintah atau kuasanya melakukan penyelidikan dan penelitian untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. PP No. 22/2010 selanjutnya menentukan bahwa WP dapat terdiri dari : (i) Wilayah Usaha Pertambangan (“WUP”), yang merupakan bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi; (ii) Wilayah Pertambangan Rakyat (“WPR”), yang merupakan bagian dari WP dimana kegiatan usaha pertambangan rakyat dilakukan; dan (iii) Wilayah Pencadangan Negara, yang merupakan bagian dari WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. Di dalam WUP, terdapat Wilayah IUP (“WIUP”) yang ditujukan untuk digunakan oleh pemegang izin usaha pertambangan.

PP No. 55/2010 menyatakan bahwa pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan dilakukan oleh Menteri ESDM, gubernur, bupati, atau walikota. Mereka yang termasuk dalam lingkup pembinaan adalah pemegang IUP, Izin Pertambangan Rakyat (IPR), atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). PP No. 55/2010 juga menetapkan pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan yang meliputi, antara lain teknis pertambangan, keuangan, pengelolaan data mineral dan batubara, konservasi sumber daya mineral dan batubara, keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi dan pascatambang, pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan, serta data produksi yang menyangkut jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan. Pengawasan dilakukan oleh Inspektur Tambang, yang berkoordinasi dengan instansi teknis. PP No. 55/2010 mengatur bahwa Inspektur Tambang memiliki wewenang untuk (i) memasuki tempat kegiatan usaha pertambangan setiap saat; (ii) menghentikan

menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan, dan (iii) mengusulkan penghentian sementara menjadi penghentian secara tetap kegiatan pertambangan mineral dan batubara kepada Kepala Inspektur Tambang. Meskipun demikian dalam pengawasan yang dilakukan Inspektur Tambang, Menteri ESDM, Gubernur, Bupati atau Walikota dapat juga menunjuk pejabat mereka untuk melakukan pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu maupun pengawasan terpadu terhadap kegiatan usaha pertambangan, dan/atau verifikasi dan evaluasi terhadap laporan dari pemegang IUP, IPR dan IUPK.

Berdasarkan PP No. 78/2010, perusahaan pertambangan wajib melaksanakan reklamasi dan kegiatan terkait pascatambang. Reklamasi diperlukan baik dalam tahap eksplorasi dan operasi produksi. Sebelum dimulai setiap tahap tersebut, perusahaan pertambangan harus mempersiapkan rencana reklamasi yang memerlukan persetujuan dari instansi-instansi terkait (Menteri ESDM, gubernur, bupati atau walikota, sesuai kewenangannya). Selain itu, sebelum tahap operasi produksi, perusahaan pertambangan juga harus mempersiapkan rencana kegiatan pascatambang. PP No. 78/2010 juga menetapkan kewajiban perusahaan pertambangan untuk menyimpan dana jaminan pada bank pemerintah untuk menjamin dilaksanakannya kewajiban-kewajiban sebagai berikut: (i) reklamasi dalam tahap eksplorasi, (ii) reklamasi dalam tahap operasi produksi; atau (iii) kegiatan pascatambang.

Peraturan Jasa Pertambangan

Pada tanggal 30 September 2009, Menteri ESDM mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 28 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral dan Batubara (“Permen ESDM No. 28/2009”), yang mencabut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 423/Kpts/M/Pertamb/1972 tentang Perusahaan Jasa Pertambangan di Luar Minyak dan Gas Bumi dan perubahan-perubahannya yang dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Pasal 127 UU Minerba mengenai penyelenggaraan usaha jasa pertambangan di Indonesia.

Berdasarkan Permen ESDM No. 28/2009 ini, setiap pihak yang berniat untuk melakukan kegiatan jasa pertambangan di Indonesia wajib memperoleh izin usaha jasa pertambangan yang dikeluarkan oleh Menteri ESDM, Gubernur atau Bupati/ Walikota sesuai dengan kewenangan mereka masing-masing. Permen ESDM No. 28/2009 ini menetapkan bahwa jasa pertambangan dapat dilakukan oleh:

y Badan usaha yang terdiri dari: (i) Badan Usaha Milik Negara, (ii) Badan Usaha Milik Daerah, atau (iii) badan usaha swasta yang berbentuk Perusahaan Terbatas (PT).

y Koperasi; atau

y Perseorangan yang terdiri atas: (i) orang perseorangan, (ii) perusahaan komanditer, (iii) perusahaan firma. Berdasarkan Permen ESDM No. 28/2009, pemegang IUP wajib melaksanakan sendiri kegiatan pertambangan, pengolahan dan pemurnian, namun mereka dapat menyerahkan kegiatan pertambangan kepada usaha jasa pertambangan terbatas (kontraktor pertambangan) untuk kegiatan pengupasan lapisan (stripping) batuan penutup dan pengangkutan mineral atau batubara. Permen ESDM No. 28/2009 juga melarang pemegang IUP untuk melibatkan anak perusahaan dan/atau afiliasinya dalam bidang usaha jasa pertambangan di wilayah usaha petambangan yang diusahakannya, kecuali dengan persetujuan Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi (“Dirjen Minerbapabum”) atas nama Menteri ESDM. Permen ESDM No. 28/2009 menetapkan anak perusahaan dan/atau afiliasinya merupakan badan usaha yang mempunyai kepemilikan saham langsung dengan pemegang IUP. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal tersebut diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi Nomor 376.K/30/DJB/2010 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan Persetujuan Keikutsertaan Anak Perusahaan dan/ atau Afiliasi dalam Usaha Jasa Pertambangan (“Peraturan Dirjen Minerbapabum No. 376/2010”).

Berdasarkan Peraturan Dirjen Minerbapabum No. 376/2010 yang dimaksud dengan kepemilikan saham langsung, yaitu:

y Perusahaan dimana pemegang IUP yang merupakan pemegang saham langsung dengan memiliki paling sedikit 20% saham langsung pada perusahaan afiliasi usaha jasa pertambangan;

y Perusahaan dimana pemegang IUP yang merupakan pemegang saham langsung dan mempunyai hak suara pada perusahaan afiliasi usaha jasa pertambangan lebih dari 50% berdasarkan suatu perjanjian dalam mengendalikan kebijakan finansial dan operasional secara langsung; dan/atau

y Perusahaan dimana pemegang IUP memiliki wewenang untuk menunjuk dan memberhentikan direktur keuangan dan direktur operasi atau yang setara pada perusahaan afiliasi usaha jasa pertambangan.

Perlu diperhatikan bahwa disamping mendapatkan persetujuan Dirjen Minerbapabum atas nama Menteri ESDM, persyaratan lain yang diperlukan pemegang IUP untuk menunjuk anak perusahaan dan/atau afiliasinya untuk melakukan usaha jasa pertambangan adalah apabila tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sejenis di wilayah kabupaten/kota dan/atau provinsi tersebut atau tidak ada perusahaan jasa pertambangan yang berminat atau mampu berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam Permen ESDM No. 28/2009.

Selain itu, Permen ESDM No. 28/2009 juga mewajibkan pemegang IUP untuk menggunakan perusahaan jasa pertambangan lokal dan/atau perusahaan jasa pertambangan nasional dalam operasi mereka. Dalam hal tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan lokal atau domestik yang memiliki kemampuan finansial atau teknis untuk melaksanakan proyek, pemegang IUP dapat menunjuk perusahaan jasa pertambangan lain yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh pemegang saham asing, atau perusahaan jasa pertambangan yang diklasifikasikan sebagai “Perusahaan Jasa Pertambangan Lainnya” berdasarkan Permen ESDM No. 28/2009.

Sejalan dengan UU Minerba, Permen ESDM No. 28/2009 menetapkan pengusahaan jasa pertambangan dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori, yaitu usaha jasa pertambangan dan usaha jasa pertambangan non-inti.

Jenis usaha jasa pertambangan meliputi:

a. konsultasi, perencanaan, pelaksanaan dan pengujian peralatan di bidang: y penyelidikan umum; y eksplorasi; y studi kelayakan; y konstruksi pertambangan; y pengangkutan; y lingkungan pertambangan;

y pascatambang dan reklamasi; dan/atau y keselamatan dan kesehatan kerja; dan

b. konsultasi, perencanaan dan pengujian peralatan di bidang: y penambangan; atau

y pengolahan dan pemurnian.

Sedangkan, usaha jasa pertambangan non-inti, meliputi bidang usaha selain bidang usaha jasa pertambangan di atas, seperti katering.

Berdasarkan Permen ESDM No. 28/2009, semua perjanjian antara pemegang IUP dan pemegang Izin Usaha Jasa Pertambangan (“IUJP”) yang telah diterbitkan sebelum peraturan ini diberlakukan efektif tetap berlaku, dan memiliki waktu selambat-lambatnya 3 tahun atau selambat-lambatnya tanggal 30 September 2012 untuk menyesuaikan dengan Permen ESDM No. 28/2009. IUJP baru yang diterbitkan setelah 30 September 2009 diwajibkan untuk segera memenuhi persyaratan dari Permen ESDM No. 28/2009 ini.

Sementara Perseroan dan Entitas Anak saat ini mempekerjakan perusahaan jasa pertambangan untuk melakukan kegiatan pertambangan di area konsesinya, Perseroan dan Entitas Anak saat ini mengubah kontrak dengan para perusahaan jasa pertambangan untuk menyesuaikan dengan Permen ESDM No. 28/2009 dengan batas waktu sampai tanggal 30 September 2012 dan mengharapkan bahwa Perseroan dan Entitas Anak akan dapat mematuhi peraturan ini tanpa mengakibatkan dampak negatif bagi operasi pertambangan.

Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara dan Kuasa Pertambangan

Pada tahun 1967, sewaktu UU No. 11/1967 diberlakukan, Menteri ESDM mendapat wewenang untuk menunjuk kontraktor melalui “kontrak karya” untuk melaksanakan kegiatan pertambangan yang belum atau tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah RI selaku pemegang kuasa pertambangan (“KP”). Kontrak karya tersebut mengatur seluruh kegiatan pertambangan mineral. Kontrak karya dapat dilakukan dengan pihak pemodal asing yang dimaksudkan untuk melakukan kegiatan pertambangan di Indonesia dan juga dapat dilakukan dengan perusahaan swasta nasional.

Pada tahun 1981, Keputusan Presiden No. 49 Tahun 1981 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Tambang Batubara antara Perusahaan Negara Tambang Batubara dan Kontraktor Swasta (“Keppres No. 49/1981”) diberlakukan. Istilah yang digunakan dalam Keppres No. 49/1981 adalah “Perjanjian Kerjasama”. Keppres No. 49/1981 menyatakan bahwa Perjanjian Kerjasama adalah perjanjian yang dibuat oleh dan antara Perusahaan Negara Tambang Batubara, selaku pemegang kuasa pertambangan, dan perusahaan swasta, selaku kontraktor, untuk mengoperasikan kegiatan pertambangan batubara untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun. “Perjanjian Kerjasama” juga dikenal sebagai Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (“PKP2B”) (Coal Contract of Work).

Kegiatan pertambangan juga dapat dilakukan berdasarkan KP yang dikeluarkan oleh Menteri ESDM, Gubernur, Walikota/Bupati, tergantung dimana wilayah KP berada. Perbedaan utama antara KP dan PKP2B adalah bahwa perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan batubara terbuka bagi penanaman modal asing sedangkan KP hanya dapat dimiliki oleh perusahaan berbadan hukum Indonesia dimana seluruh manajemennya adalah warga Negara Indonesia (dan kebijakan serta interpretasi sesuai kewenangan Kementerian ESDM).

Selain itu, berdasarkan PKP2B generasi tertentu, Pemerintah memperoleh 13,5% dari seluruh produksi batubara yang diproduksi di dalam area konsesi yang menjadi subyek PKP2B dan membayar iuran tetap tahunan (dead rent) per hektar sejumlah tertentu tergantung pada tahap pembangunan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2003 (“PP 45/2003”) tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, pemegang KP diwajibkan untuk membayar iuran eksplorasi/ iuran eksploitasi/royalti per ton dari 2,0% - 7,0% dari harga jual batubara tergantung pada jenis kualitas batubara dan apakah batubara diambil dari tambang terbuka (open pit) atau tambang bawah tanah (underground), iuran pengembangan daerah didasarkan pada apa yang disepakati dengan pemerintah daerah dalam setiap kasus dan iuran tetap tahunan pada rate per hektar tergantung pada tahap pengembangan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, pemegang IUP diwajibkan untuk membayar (a) iuran produksi atau royalti per ton sebesar (i) 3,0% sampai 7,0% dari harga jual batubara tergantung pada kualitas batubara yang diambil dari open pit atau (ii) 2,0% sampai 6,0% dari harga jual batubara tergantung pada kualitas batubara yang diambil dari under ground dan/atau (b) iuran tetap tahunan sejumlah per hektar tergantung pada fase pengembangan.

Perseroan saat ini adalah pemegang IUP, sedangkan Entitas Anak adalah pemegang PKP2B generasi kedua (sebagaimana didiskusikan di bawah ini).

Pada tanggal 12 Januari 2012, diberlakukan Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2012 tentang Tim Evaluasi Untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (“Keppres No. 3/2012”). Keppres No. 3/2012 merupakan implementasi terhadap kewajiban yang tercantum dalam kontrak karya dan PKP2B yang telah ada untuk menyesuaikan dengan UU Minerba. Berdasarkan Keppres No. 3/2012m tugas dari tim evaluasi adalah, antara lain, (i) melakukan evaluasi terhadap ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pasal-pasal kontrak karya dan PKP2B yang perlu disesuaikan dengan UU Minerba, (ii) menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk penyelesaian penetapan luas wilayah kerja dan penerimaan negara, sebagai posisi pemerintah dalam melakukan negosiasi ulang penyesuaian kontrak karya dan PKP2B. Tim evaluasi ditunjuk sampai dengan bulan Desember 2013.

Saat ini terdapat 3 (tiga) generasi PKP2B dimana tiap generasi memiliki perbedaan dalam hal syarat-syarat dan ketentuan yang diatur di dalamnya. Pengunaan istilah PKP2B Generasi I merujuk pada PKP2B yang dibuat setelah diberlakukannya Keppres No. 49/1981 dan sebelum Keppres No. 49/1981 dibatalkan. PKP2B Generasi I antara lain mengakui bahwa (i) kontraktor diwajibkan menyerahkan sekurang-kurangnya 13,5% dari produksi batubaranya kepada Perusahaan Negara Tambang Batubara dalam bentuk penyerahan fisik batubara, (ii) kontraktor diwajibkan membayar, antara lain, pajak perseroan dan luran Pembangunan Daerah, (iii) barang-barang modal dan bahan-bahan yang diimpor menjadi milik Perusahaan Negara Tambang Batubara dan (iv) 4 (empat) tahun setelah tahap produksi dimulai, kontraktor penanaman modal asing wajib menawarkan kepemilikan sahamnya kepada Pemerintah dan/atau warga negara Indonesia, sehingga pada akhir tahun ke-10 (sepuluh) sejak dimulainya tahap produksi paling sedikit 51,0% (limapuluh satu persen) dari saham-sahamnya sudah dapat dimiliki Pemerintah dan/atau warga negara Indonesia.

Pada tahun 1984, nama dan status “Perusahaan Negara Tambang Batubara” diubah menjadi “Perusahan Umum (PERUM) Tambang Batubara”. Perusahaan Umum (PERUM) Tambang Batubara selanjutnya dibubarkan pada tahun 1990 dan seluruh hak dan kewajibannya terkait dengan perjanjian kerjasama dialihkan kepada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA).

Pada tahun 1993, Keputusan Presiden No. 21 tahun 1993 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara Antara Perusahaan Perseroan (Persero) PT Tambang Batubara Bukit Asam (“PTBA”) dan Perusahaan Kontraktor (“Keppres No. 21/1993”) diberlakukan. Istilah yang digunakan dalam Keppres No. 21/1993 adalah “perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan batubara”. PKP2B yang diadakan setelah pemberlakuan Keppres No. 21/1993 disebut sebagai PKP2B Generasi II. Perbedaan antara PKP2B Generasi I and PKP2B Generasi II adalah bahwa PKP2B Generasi II dimungkinkan agar 13,5% bagian batubara Pemerintah dibayar dalam bentuk royalti dan bukan melalui penyerahan fisik batubara sebagaimana disyaratkan berdasarkan PKP2B Generasi I. PKP2B Generasi II juga meniadakan beberapa pajak dan pungutan wajib dari Pemerintah sesuai peraturan yang berlaku pada saat itu dan dengan ketentuan bahwa seluruh peralatan yang dibeli oleh pemegang PKP2B tetap menjadi milik pemegang PKP2B.

Selain itu, menggantikan ketentuan divestasi 51,0% (lima puluh satu persen) atas saham-sahamnya di PKP2B Generasi I, berdasarkan PKP2B Generasi II kontraktor penanaman modal asing diharuskan menawarkan kepemilikannya kepada Pemerintah, badan hukum Indonesia dan/atau warga negara Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1967 mengenai Penanaman Modal Asing (“UU PMA”). Namun, UU PMA telah dicabut dan diganti dengan Undang-Undang No 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang tidak lagi mewajibkan penawaran saham oleh penanam modal asing kepada badan usaha dan/atau warga negara