Untuk pembangunan semesta berentjana masalah penduduk me rupakan suatu masalah jang penting. Institut Tjatatan Sipil jang ter selenggara baik dan meliputi seluruh penduduk adalah bermanfaat sekali untuk perentjanaan pembangunan.
Di negara kita terdapat berbagaibagai peraturan tjatatan sipil. Dalam bukunja : „Handleiding tot de beoefening van het Nader landsch burgerlijk recht, djilid I — Personenrecht” AsserScholten mengemukakan seperti berikut
„De installing van den burgerlijken stand heeft ten doel om van den staat van personen te doen blijken, en wel omtrent de feiten, walla op Bien staat een gewichtigen invloed uitoefenen, n.l.. ge boorte, erkenning, huwelijk, ecbtseheiding en overlijden, Met het houden van aantekeningen betreffende dien Saat heeft de wet gever de burgerlijke overheid belast, verseheidene voorschriften vastgesteld om den nauwkeurigheid en onpartijdigheid te: bevor deren, in verschillende gevallen bepaalde personen aangewezen, op wie de verplichting rust tot het doen van aangif ten omtrent dien staat en eindelijk door strafbepalingen voor de nakoming van een en andergewaakt.
In verband hiermeede ward tevens hetbeginsel gehuldigd van openbaarheid der akten, waaruit van burgerlijken staat kanblijken, ten einde een ieder in de gelegenheid te stellen zich hiervan te overtuigen”.
Seperti diketahui di Negara Belanda dan banjak negeri Eropah barat lainnja lmbaga „tjatatan sipil” ini mulai: dikenal setelah re polusi Perantjis.
Sebelumnja pada pokoknja daftardaftar kelahiran, permandjan (doop), perkawinan dan kematian diurus oleh para pendeta (geestelijk held).
Berhubung dengan azas 'konkordansi dalam bidang. perundang undangan didjaman kolonial, biasanja ketentuanketentuan undangun dang jang telah ditetapkan di Negara Belanda, diambil oper untuk negara kita.
Akan tetapi dari pasalpasal 13 s/d 73 (Bab III) Kitab Undang undang Perdata Belanda, Kitab Undangundang Perdata kita hanja mengambil oper beberapa pasal sadja, jaitu pasal 13 dan pasalpasal 62 a s/d 73, sedangkan pasalpasal itu hanja berlaku untuk golongan Eropah. Teranglah, bahwa 14 pasal mengenai tjatatan sipil untuk golongan Eropah itu tidak tjukup dan oleh karena itu ditetapkan oleh Pembentuk undangundang untuk golongan Eropah: (a). Satu Reglement op het houden der registers van den Burgerlifr ken Stand voor Europeanen, jang di undangkan dengan publikasi ttg. 10 Mei 1849, L.N. 25.
Reglement ini berlaku pula untuk golongan Indonesia asli dan mereka jang dipersamakan dengan golongan Indonesia asli jang atas kekuatan ketentuanketentuan undangundang untuk seluruhnja tunduk 'atau setjara sukarela tunduk pada hukum
perdata dan hukum dagang jang ditetapkan untuk golongan Eropah. Reglement ini memuat ketentuanketentuan jang terdapat dalam pasalpasal 13 s/d 61 Kitab Undangundang Perdata Belanda. Hanja seperlunja sadja dirobah atau ditambah berhubung dengan keadaankeadaan di Indonesia 1berlainan.
(b). Baru dalam tahun 1917 dengan ordonansi tgl. 29 Maret 1917, L.N. 1917 — 130 jo 191081, mulai berlaku pada tg. 1 Mei 1919, ditetapkan :
satu Reglemen op het houden der registers van den Burgerlijken Stand voor de Chinezen.
(c). Dengan ordonansi ttg. 15 Oktober 1920, L.N. 1920751 jo 1927564, mulai berlaku pada tgl. 1 Djanuari 1928, ditetapkan untuk golongan Indonesiaasli ibukan Nasrani :
satu Reglement op het houden van de registers van den Burgelij ken Stand voor eenige groepen van de niet tot de onderhoorigen van een zelfbestuur behoorende Indonesische bevolking van Java en Madoera.
(d). Dalam tahun 1933 ditetapkan pula dengan ordonansi ttg. 15 Peb ruari 1933, L.N. 193375 jo 1936607, mulai berlaku pada tg. 1 Djanuari 1937 untuk golongan Indonesiaasii Nasrani dari bebe rapa bagian dari Indonesia :
satu Reglement Burgerlijke stand ChristenIndonesiers.
(e). Ada lagi satu Peraturan dalam bidang tjatatan sipil jang telah ditetapkan oleh Pembentuk undangundang kolonial, jaitu dengan ordonansi ttg. 4 Djuni 1904, L.N. 1904 — 279, mulai berlaku pada tg. 1 Djuli 1904:
Negara kita adalah suatu Negara hukum, jang berbentuk.Repu blik dengan sebagai Pem'bentuk undangundang utama Pemerintah bersamasama dengan Dewan Perwakilan Rakjat. Walapun da lam Undangundang Dasar tahun 1945 tidak terdapat ketentuan ketentuan mengenai pengangkatan/pemilihan anggautaanggauta D.P.R., teranglah kelak akan ditetapkan sebagai salah satu sjarat untuk dapatanendjadi anggauta D.P.R. suatu usia tertentu. Sjarat usia itu dengan sendirinja djuga akan ditetapkan dalam sistim pemilihan anggautaanggauta D.P.R. untuk para pemilih, sehingga perlu diketahui umurnja seorang warga.
Ini djuga diperlukan dalam soal pensiunan pegawaipegawai ne geri, soal kewarganegaraan dsbnja.
Djuga dalam bidang hukum perdata soal umur mempunjai peranan jang penting. Dalam hubungan ini dapat ditundjuk pada keten tuanketentuan dalam Kitab Undangundang Perdata mengenai perkawinan, surat wasiat, perwakilan, pengampunan dsb.nja.
Teranglah kita sangat perlu dapat mengetahui berapa umur se orang.warga.
Dalam pembagian warisanpun perlu diketahui saat meninggal nja sipewaris dan kedudukan seorang anak. Saat dilangsungkannja perkawinan si ibu adalah penting pula. Dan kepstian mengenai ke lahiran, perkawinan dan kematian diberikan oleh akteakte tjatatan sipil.
Bagaimanapun djuga Tjatatan Sipil dapat membantu menetapkan kedudukan (staat) seorang warga.
Perlu kiranja diperhatikan, bahwa peraturanperaturan mengenai tjatatan sipil jang sekarang berlaku berasal dari pembentuk undang undang kolonial.
Ternjata, beberapa peraturan tersebut tidak pads tempatnja lagi dalam negara kita jang merdeka dan berdaulat, karena peraturan peraturan itu memang berbau kolonial.
Pendjelasan :
Pertamatama apabila kita memperhatikan peraturanperaturan tersebut, ternjata tidak untuk semua golongan penduduk diadakan daftardaftar jang soma. (a) Bagi golongan Eropah terdapat 5 matjam daftar, jaitu : (1) daftar kelahiran (2) daftar laporan perkawinan (3) daftar izin perkawinan (4) daftar perkawinan dan pertjeraian (5) daftar kematian. Memang semua daftar itu diperlukan berhubung dengan hukum kekeluargaan jang berlaku untuk golongan tersebut.
(b) Untuk golongan Indonesiaasli bukan Nasrani terdapat 3 matjam daftar jaitu:
Apakah ketiga daftar itu telah tjukup ? Apakah diperlukan daftar perkawinan dan pertjeraian?
(1) Demi kepastian hukum,lebih baik diadakan satu daftar perkawin an dan pertjeraian, hanja sifatnja berlainan.
Tjara perkawinan dan tjara pertjeraian tak perlu diobah, akan tetapi pihak jang bersangkutan/berkepentingan, (umpamanja suami/ istri atau orang tua mereka dalam hal perkawinan dan si suami/istri jang hidup terlama atau orang tua dari jang meninggal dunia atau seorang anak atau kepala kampung) dapat diwadjibkan melaporkan dalam waktu tertentu, umpamanja dalam waktu 7 hari tentang per kawinan atau kematian itu kepada pegawal tjatatan sipil jang ber sangkutan.
Daftardaftar laporan perkawinan dan daftar izin perkawinan tak perlu diadakan.
(2) Perlu pula diperhatikan.ialah peraturan tjatatan sipil untuk go longan Indonesiaasli bukan Nasrani, jaitu peraturanperaturan itu hanja berlaku untuk bagianbagian tertentu dari golongan inf.
Peraturan itu tidak berlaku bagi golongan Indonesia asli, warga sesuatu Swapradja dan tidak berlaku diluar Djawa dan Madura.
Baal satu negara kesatuan seperti negara kita jang merdeka dan berdaulat, jang tidak membeda=bedakan antana wargawarganja, per aturan seperti tadi tidak Dada tempatnja.
Berhubung dengan itu maka perlu ditetapkan suatu Reglemen Tiatatan sipil untuk golongan Indonesia asli, jang berlaku diseluruh wilajah Indonesia dan untuk semua warga negara asli. (c) Untuk golongan Indonesiaasli Nasrani diadakan 5 matjam daftar, jaitu : (1) daftar kelahiran ; (2) daftar pemakaian nama ; (3) daftar perkawinan ; (4) daftar pertjeraian ; (5) daftar kematian.
Daftar perkawinan dan daftar pertjeraian tidak disatukan men djadi daftar perkawinan dan pertjeraian. Lebih baik kiranja djika kedua daftar itu disatukan.
Perlu pula diperhatikan, bahwa peraturan tjatatan sipil tidak berlaku untuk seluruh wilajah Indonesia.
Sebaiknja Reglemen ini dinjatakan berlaku untuk seluruh wila jah Indonesia.
(d) Reglemen Tjatatan, Sipil untuk golongan Tionghoa menetapkan. diadakannja 4 matjam daf tar, jaitu : (1) daftar kelahiran, jang terdiri atas.1 daftar pokok dan 3 daftar tambahan. Djuga Reglemen Tjatatan Sipil untuk golongan Erop!ah membuka kemungkinan diadakannja daftardaftar tambahan. (2) daftar izin perkawinan ; (3) daftar perkawinan dan pertjeraian ; (4) daftar kematian.
Berhubung dengan peraturan mengenai adopsi untuk golongan ini ada baiknja, apabila diadakan lagi 1 daftar tambahan.
Dalam daf tar itu harus dibukukan semua pemberitahuanpemberi tahuan tentang adopsi.
Dalam peraturan mengenai adopsi, notaris jang bersangkutan diwadjibkan melaporkan semua adopsi jang dilakukan dimuka pega wai itu dalam waktu 3 hari kepada Pegawai tjatatan sipil jang ber sangkutan.
Berhubung dengan ini maka perlu pula ditindjau apakah Peratur an mengenai adopsi masih dapat dipakai atau perlu diadakan perabah an. Menurutsjarat tersebut dalam pasal 6, jang dapat di „adoptir” hanja seorang anak lakilaki. Dengan. berobahnja pendapat dalam ma sjarakat gblongan Tionghoa, tak pada tempatnja lagi untuk mengada kan pembahasan tersebut.
Suatu pertanjaan lain adalah dalam hubungan ini.:
Apakah tak perlu diadakan suatu daftar tambahan tentang pengang katan anak, baik untuk golongan Indonesiaasli bukan Nasrani, mau pun untuk golongan Indonesia asli Nasrani.
Soalsoal lain jang perlu pula ditindjau:
Warga Negara Indonesia tidak hanja terdiri dari golongangolongan penduduk jang disebut tadi. Oleh karena itu apakah tidak perlu di adakan suatu Tjatatan Sipil untuk golongan Timur Asing lain, seperti Warga Negara keturunan Arab, India, Pakistan dan sebagainja.
Pengawasanpengawasan terhadap pekerdjaan pegawaipegawai tjatatan sinil diserahkan oleh pembentuk Undangundang kepada Dia watan Kediaksaan ; lihat nasal 28 Regl. B.S. Europeanen nasal 48 Regl. B.S. Chinezen ; pasal 28 Reg.. B.S. Indonesiers : nasal 15 Red. Gemengde huwelijken dan pasal 33 Regd. B.S. Chr. Indonesiers, se dangkan nasal 45 Red. B.S. Chin. menjebut lad tentang pengawasan oleh Residers dan pasal 32 Regl. B.S. Chr. Ind. oleh Bupati. Akan tetapi dalam praktek hal ini boleh dikatakan tidak pernah dilakukan.
Oleh karena itu sangat perlu, pengawasan diserahkan kepada Ha kim (Ketua Pengadilan Negeri atau seorang hakim jang ditundjuk untuk itu oleh Ketua).
Untuk memperoleh tenagatenaga ahli dalam hal tjatatan sipil perlu diadakan kursus untuk mendidik pegawaipegawai.
5. Perundaugundangan mengenai hukum warisan.
Perlu sekali diadakan Undangundang pokok Hukum Warisan jang berlaku untuk segenap warganegara Indonesia.
Didalamnja perlu memuat aturan :
(a) bahwa apabila si peninggal warisan meninggalkan anakanak, baik lakilaki maupun perempuan, maka semua hartawarisan djatuh pada anakanak, disamping djanda dari sepeninggai warisan ; (b) bahwa untuk semua golongan warganegara Indonesia dianut sistim
pergantian ahliwaris (plaatsvervulling) dari Hukum adat asli bagi tjutjutjutju jang ajah atau ibunja waf at lebih dulu daripada si peninggal warisan ; (c) ketentuanketentuan tentang penghibahan (schenkingen), demi ke pastian hukum Peraturan dari Burgerlijk Wetboek mengenai hal ini dapat dipakai sebagai antjarantjar. 6. Hukum Dagang Dalam lalulintas dagang modern di Indonesia, pengertian hukum perdata dan hukum dagang Barat sedjak lama berlaku dalam praktek sebagai hukum sandhi dari dunia dagang dan Industri Indonesia. Berhubung dengan itu hukum Dagang dari Kitab Undangundang Hukum Dagang dapat dikodifisir dan diunifisir untuk seluruh go longan penduduk di Indonesia. 7. Peraturan mengenai Oktroi. Hingga sekarang masih belum ada Undangundang Oktroi di In donesia. Undangundang Oktroi Belanda dari tahun 1.910 semendjak tang gal 27 Desember 1949 tidak berlaku lagi.
Untuk mentjegah adanja vacuum, maka dalam bulan Agustus 1953 Menteri Kehakiman R.I. mengumumkan, ;bahwa sedjak 1 No vember 1953 ke Kementerian Kehakiman di Djakarta dapat dimadju kan permohonanpermohonan sementara pendaftaran Oktroi.
Permohonanpermohonan itu baru diumumkan, bilamana kelak Undangundang Oktroi telah berlaku.
Untuk menstimulir daja tjipta rakjat perlu sekali ditetapkan de ngan segera suatu Undangundang Oktroi, jang melindungi hak tjipta seseorang atas suatu penemuan/pendapat jang bersifat memperoleh sesuatu hasil dalam lapangan keradjinan.