Halhal jang perlu diperhatikan dalam menghadapi landreform adalah seperti berikut:
(a) Luas maximum pemililan dan penguasaan tanah. .
(1) Luas maximum pemilikan tanah ,untuk Djawa (Maduna, Bali/ Lombok) hendaknja ditetapkan sebesar 10 (sepuluh) ha, un tuk tanah sawah dan 12 ha.(+ 20%) untuk tanah kering. Untuk luar Djawa jang tanahnja djauh lebih luas, angkaang ka ini adalah 15 (lima belas) ha untuk sawah dan. 18 ha un tuk tanah kering,
(2) Luas maxintum penguasaan/penjewaan tanah untuk Djawa (Madura/Bali Lombok) hendaknja ditetapkan sebesar 15 (li ma belas) ha, djainlah ini adalah 50% diatas djumiah pemi likan tanah).
Untuk luar Djawa angka iui mendjadi 20 (dua puluh) ha. (pembulatan kebawah dari 22½ ha.).
(b) Luas minimum pemilikan dan penguasaan tanah.
Untuk mentjegah ,,versplintering pemilikan tanah, sebagai aki bat hukum waris jang tnasih berlaku, maka perlu ditetapkan batas minimutn petmilikan/penguasaan tanah. Luasnja hendaktja dite tapkan sedemikian rupa sehingga hasil tanah itu dapat memberi kan penghidupan jang lajak bagi petani serta keluarganja. Karena hal ini tidak mudah, maka perlu diadakan research lebih dahulu. (c) Hubungan antara pemilik tanah dan penggarapnja.
Jang perlu diatur selandjutnja ialah hubungan antara pemilik dan penggarapnja, sehingga enthousiasme para penggarap dja ngan sampai merosot atau hilang sama sekali dan karenanja me njebabkan kurang berhasilnja landreform.
Karena diduga bahwa presentase jang akan ditetapkan itu tidak akan dapat dipersatnakan bagi semua tempattempat dan daerah, maka dianggap perlu mongadakan research lebilt dahulu.
Selain daripada itu adanja ,,standaardcontracten" atau tjara tjara lain jang bersifat melindungi para penggarap sebagai pihak jang Iemah, akan dapat lebih mendjamin suksesnja landreform. (d) Pembukaan tanah baru.
Berliubung dengan banjaknja djunilah petani jang masih memer lukan tanah sedangkan persediaan tanah sangat terbatas sekali, inaka bersamaan dengan landreform diandjurkan adanja pembu kaan tanah baru setjara besarbesaran didaerah luar Djawa agar dengan demikian djalannja landreform dapat diperlantjar.
Tjatatan:
Ketentuan luas maksimum dan minimum tersebut hanja untuk tanah pertanian.
b. Research.
1. Oleh Kementerian Agraria telah diadakan seminar Agraria di Tre tes jang diadakan pada tanggal 19 22 Nopember 1958. Prasaran prasaran jang dikeluarkan dalam Seminar tersebut adalah :
(a) Undangundang Pokok Agraria dalam hubuugamrja dengan pem bangunan ekovomi Negara oleh Sdr. Drs. Soerjadi.
(b) Undangundang Pokok, Agraria dalam hubungannja dengan pem bangunan masjarakat desa oleh Sdr. Dr. Ir. Kampto Oetomo. (c) Undangundang Pokok Agraria dalam hubungannja dengan masa. lah Kredit oleh Sdr. Sudiharto Sastromidjojo Hasil Seminar Agraria tersebut adalah : (a) (1) Perlu diadakan rentjana Landreform dan untuk dibentuk : (a). Daerah landreform jang berupa pembukaan tanah harus dengan rentjana banjak guna; (b). Daerah landreform jang berupa perbaikan daerah padat, dengan rentjana banjak guna. (2) Luas minimum dan maximum tanah milik perlu ditentukan. Harus ada panitya research untuk itu.
(3) Sjarat hak milik tanah harus diimbangi dengan sjarat hak bekerdja bagi rakjat tani ketjil. (4) Hubungan kerdja antara pemilik tanah dan penggarap perlu diatur seadiladilnja. (b) (1) Peranan raakjat dalam usaha landreform adalah penting seka li. Ikut serta rakjat bahkan merupakan sjarat mutlak (2) Dalam pada itu kesedaran djiwa rakjat perlu. Dan untuk itu pendidikan kader bagi rakjat djelata penting sekali. (3) Gerakan kerukunan tani sebagai.saluran segala usaha perba ikan masjarakat desa perhu mendapat perhatian dan perlu asan, (c) (1) Untuk memadjukan sektor pertanian desa diperlukan bantuan modal melalui Pemerintah. (2) Pemerintah perlu berusaha pemupukan modal dengan djalan: a). pembaharuan politik padjak ; b). pengetuaran obligasi; c). pindjaman luar negeri. (3) Industri desa perlu dibangun; disesuaikan dengan hasil per tanian setempat. (4) Perlu diadakan sistim kredit tani jang murah, mudah, supel, tepat dan tjukup memenuhi keperluan. (5) Untuk daerah landreform perlu didirikan bank pembangunan daerah. (6) Perlu didjalankan pemberantasan „woeker”.
(d) (1) Pembentukan daerah Swatantra tingkat III dipandang seba gai sjarat penting untuk mengikut sertakan rakjat dalam pembangunan ekonomi negara dan masjarakat desa.
(2) Dalam masalah transmigrasi pembentukan daerah Swatantra tingkat III dapat membantu pelaksanaannja.
(3) Hendaknja masjarakat desa diberi bagian tanggungdjawab dan penghasilan dari kehutanan demi lcepentingan pemeliharaan hutan sebagai pelindung tanah. . (e) (1) Organisasi Pembangunan Masjarakat Desa dapat digunakan sebagai badan penjalur dan koordinasi dalam usahausaha per baikan masjarakat desa seperti Landreform dan sebagainja. (2) Untuk mempersiapkan Seminarseminar jang akan datang perlu dibentuk komite permanen jang terdiri atas para praktisi, ahli dan wakil golongan fungsionil.
(3) Komite diberi tugas mengumpulkan bahanbahan guna ke perluan tersebut.
(f) Landreform supaja didjadikau program urgensi dalam Rentjana Pembangunan Nasional. 2. Agar perundangundangan agraria baru mendapat dukungan sewa djarnja dari masjarakat, maka perlu sekali diketahui dan difahami apa jang hidup dalam masjarakat pada waktu ini: Apakah lembagalembaga hukumnja, bagaimanakah pandangannja dan apakah tjitatjitanja. Untuk menjelami itu dan mendapatkan bahanbahan jang aktuil, perlu dan panting sekali diadakan penjelidikan jang seksama, baik setjara integraal maupun setjara lokaal.
Dalam tahun 1956 Universitas Gadjah Mada memelopori usaha kearah itu dengan mengadakan penjelidikan setjara integraal dan bea djangka pandjang jang kini dikenal dengan „enquete agraria” dean di mulai di Djawa Timur. Pada waktu ini enquete diadakan di Djawa Tengah dan akan di susul dengan penjelidikan di DjawaBarat. Kementerian Agraria mem perhatikan amat usaha tersebut dan karena itu memberi bantuan se pantasnja.
Sementara itu dirasa perlu untuk mengadakan penjelidikan se tjara lokal dan dalam tahun 1957 direntjanakan persiapanpersiapan untuk melaksanakan penjelidikan itu. Berhubung dengan terbatasnja tenaga jang ada pads Kementerian sandhi, maka diminta dan didapat kan kesediaan dari fakultas Pertanian Bogor untuk pada waktunja menugaskan mahasiswamahasiswanja jang bertingkat doktoral untuk mengadakan penjelidikanpenjelidikan lokal itu.
Disamping penjelidikan tentang lembagalembaga hukum jang bar hubungan dengan tanah, maka direntjanakan penjelidikanpenjelidik an dengan maksud sebagai berikut :
(a) menjelami perubahanperubahan adat mengenai tanah pada umum nja antara lain :
(1) Dalam hubungan warga masjarakat hukum dengan bukan anggauta, baik warganegara asli maupun bukan jang terwu djud dalam gadai, sewa dan lain sebagainja ;
(2) dalam hubungan warga masjarakat hukum dengan Pemerintah swapradja ;
(b) menjelami kehendak warga masjarakat hukum akan kepastian halt mengenai tanahnja, lepas dari ikatan hukum dari masjarakat hu kum itu dan menjelidiki usaha apakah jang harus didjalankan untuk mewudjudkan keinginan itu ;
(c) menjelami kemungkinan adanja kepastian hak atas tanah bagi tiap warga negara asli jang mendjadi penduduk dari sesuatu masja rakat hukum, baik setjara perseorangan maupun setjara bersama sama dan djalan manakah jang harus ditempuh untuk memudah kan terlaksananja tjitatjita itu ;
(d) mempeladjari masalah perkreditan jang berhubungan dengan ta nah.
Sedjak pertengahan tahun 1957 berangsurangsur diselenggara kan penjelidikan sebagai dimaksudkan itu, baik oleh pedjabatpedjabat Kementerian Agraria, maupun oleh mahasiswamahasiswa Fakultas Pertanian Bogor.
Oleh Kementerian tentang :
(1) masalah perkreditan dan keadaan sosial ekonomis jang berhu bungan dengan tanah didaerah Kewedanaan Tjiparaj, Kabupaten Bandung (Djuli/Agustus 1957) ;
(2) masalah persewaan tanah untuk tanaman tebu (Djanuari/Pebruari 1958)
(3) pembentukan desa dan perkembangannja didaerah bekas tanah patikelir (Bekasi, April 1958) ;
(4) masalah tanah kambang (aangeslibde grond), tanah pengonan (weite plaatsen) didaerah Indramaju (Mei 1958) ; (5) masalah penggunaan tanah untuk bungalowbungalow disepan djang djalan Bogor — Tjipanas (Agustus 1958) ; (6) masalah deelbouw didaerah sekitar Bandung (Desember 1958) ; Oleh mahasiswamahasiswa Fakultas Pertanian : (1) masalah perubakan didesadesa Luwu dan Grekgak (Tabanan Ba li, Oktober/Nopember 1957) ; (2) kemungkinan perkembangan peternakan ditanah keying dan soal soal tatabumi jang timbul di Bali Utara (Oktober/Nopember 1957) ;
(3) hubungan antara „lapar biasa” dengan milik tanah didesa Pudjut, Lombok (Oktober/Nopember 1957).
c Halhal lain jang dianggap perlu. Landreform dan pembiajaannja :
Guna pelaksanaan Iandreform Pemerintah harus mengeluarkan uang jang tidak sedikit, sedangkan keadaan keuangan Negara mungkin tidak mengizinkan. Walaupun demikian, mengingat pentingnja land reform ini dalam hubungan pembangunan semesta, maka tindakan jang tegas sangat diharapkan.
Sebagai pedoman dikemukakan halhal seperti dibawah ini :
1. ganti kerugian kepada pemilik tanah jang diambil tanahnja hen daknja ditetapkan sepantasnja/seketjil mungkin.
2. pembajaran ganti kerugian ini sebagian dilalcukan setjara tunai dan sebagian sebagai obligasi.
3. petani jang mendapat tanah bar( dengan harga jang sepantasnja/ seketjii mungkin, membajar dengan tjara angsuran jang terpikul olehnja kepada Pemerintah berupa natura/hasiibuminja. 4. Pemilik tanah jang sekarang ini mempunjai lebih dari 10 ha perlu diselidiki lebih dahulu apakah tjara memperoleh kelebihan tanah itu dengan sjah atau tidak. Jang tidak sjah sudah barang tentu tidak memerlukan pembajaran ganti kerugian. Selandjutnja karena sudah dapat diduga bahwa para petani jang mendapat tanah baru itu tidak akan mampu membiajai ongkosongkos (bibit, pupuk dll.) jang diperlukan untuk menggarap tanahnja, maka perlu disediakan kredit, baik melalui „padicentra” ataupun dengan djalan lain.
§ 1167. Penjebaran Tenaga Pembangunan (transmigrasi)
Penjelenggaraan penjebaran tenaga pembangunan (transmigrasi) harus didasarkan pada: a. azas pembangunan semesta berentjana dari negara dan bang sa. b. azas kesatuan dan persatuan bangsa. c. azas pertahanan negara. Sistim transmigrasi jang lain, jang ternjata gagal dan tidak men datangkan hasil seperti jang diharapkan harus dirobah setjara radikal. Dimana jang lampau, transmigrasi hanja ditudjukan kepada sek tor pertanian/persawahan. Penjebaran tenaga pembangunan (transmi grasi) haruslah ditudjukan kepada semua sektor pembangunan ter utama diluar Djawa, jang sangat tipis penduduknja. Penjebaran te naga (transmigrasi) barulah akan berhasil sepenuhnja, djika daerah daerah diluar Djawa telah dibuka, baik dengan dibangunnja perindus trian maupun dengan dibukanja djalandjalan. Dalam rangka ini, maka Djawatan Transmigrasi, perlu menjediakan dan menggerakkan tenaga tenaga pembangunannja, dengan mengadakan kerdja sama dengan dja watandjawatan jang bersangkutan. 2596
Djawatan Transmigrasi perlu mengetahui rentjanarentjana pem bangunan dari departemen lain untuk mempersiapkan tenagatenaga jang diperlukan. Tenagatenaga pembangunan ini, disamping digerak kan untuk perkebunan, persawahan atau perindustrian, dapat pula di gerakkan untuk memelihara djalandjalan jang bare dibuka itu.
Dengan tjara menjebar tenaga pembangunan seperti jang dise butkan diatas, penjelesaian proses asimilasi akan lebih dipertjepat.
Bimbingan dan pendidikan hanja diperlukan sekedar mempersiap kan para transmigran untuk pekerdjaan pionir didaerahdaerah jang sedang dibuka.
Penduduk jang pindah setjara perseorangan ataupun setjara rom bongan spontan patut didorong dan diberikan bantuan. Baik dalam pemberangkatannja maupun dalam modal sekedarnja untuk memulai pembukaan tanah. Perusahaan produksi swasta jang memerlukan te naga pembangunanpun patut dibantu, bark untuk mendapatkan tenaga, pemberangkatan, dll.nja. Dengan tjara pemindahan penduduk ini, di hubungkan dengan rangka pembangunan semesta berentjana, maka pembiajaan jang diperlukan oleb Djawatan Transmigrasi terbatas pada menggerakkan, menampung dan memberangkatkan tenagatenaga pem bangunan, sedang projekprojek jang diibangun dimana diperlukan te nagatenaga pembangunan, perumahan, makanan, dll.nja ditanggung oleh departemendepartemen/djawatandawatan jang bersangkutan.
Untuk transmigrasi dalam bidang pertanian oleh Djawatan Trans migrasi diperlukan biaja sekurangkurangnja Rp. 3000,— setiap djiwa (transmigran) guna ongkos penampungan, pengangkutan (kereta api, bis dan kapal) dan perumahan, serta administrasi. Perongkosan ini tentunja sudah tidak seimbang lagi dengan kenaikan perongkosan pengangkutan, pembangunan perumahan dll nja. Berapa djumlah te naga pembangunan jang harus ditransmigrasikan tergantung pada ba njaknja dan besar ketjilnja projek jang mau dikerdjakan.
Untuk memindahkan sekurangkurangnja 250.000 transmigran di sektor pertanian keluar Djawa, disediakan biaja Rp. 1.000.000.000,— mulai permulaan Rentjana I dan selesai pada achir Rentjana pertama. § 1168. Koperasi
a. Pendidikan/Bimbingan tentang persediaan mental untuk pemba ngunan Koperasi.
Pasal 33 dari Undangundang Dasar meletakkan dasardasar de mokrasi ekonomi, jang berarti bahwa produksi dikerdjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggotaanggota ma sjarakat. Ini berarti bahwa kemakmuran masjarakatlah jang harus di utamakan, bukan kemakmuran orangseorang. Sebab itu perekonamian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Ba ngun perusahaan jang sesuai dengan dasardasar tersebut, ialah KOPE RASI. Berhubung dengan itu maka Koperasi barus diberi peranan sede 2597
mikian rupa sehingga gerakan serta penjelenggaraannja benarbenar dapat merupakan : 1. alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin berdasarkan so sialisme ala Indonesia ; 2. sendi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia ; 3. dasar untuk mengatur perekonomian rakjat guna mentjapai tarap hidup jang lajak dalam susunan masjarakat adil dan makmur jang demokratis.
Sekalipun telah tertjatat kemadjuan jang menggembirakan, baik dalam djumlah gerakan koperasinja maupun dalam djumlah perpu taran wangnja, namun kemadjuan tersebut belum seluruhnja memu askan,.karena gerakan koperasi jang mestinja bersifat masal beluni lagi, meliputi,seluruh penduduk, terutama didesadesa. Disamping itu perlu pula ditjatat bahwa mutu organisasi koperasi di Indonesia belum lagi memenuhi dasardasar dan ketentuanketentuan organisasi per koperasian seperti pada organisasi perkoperasian di Eropah atau di• negaranegara lain jang telah madju. Sebabsebab terutama dari keadaan itu adalah karena masih ku rangnja kesadaran dan pengertian tentang maksud dan tudjuan orga nisasi perkoperasian. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, perlu se kali diadakan pendidikan dan bimbingan untuk menjempurnakan pem bangunan organisasi dan gerakan koperasi. Mengingat bagaimana pen tingnja peranan koperasi, maka pendidikan dan bimbingan tersebut haruslah meliputi seluruh anggauta masjarakat. Pendidikan perkoperasian hendaknja dimulai darisekolahsekolah rendah, sekolahsekolah landjutan pertama dan atas (umum atau ke djuruan) dan hendaknja didjadikan suatu mata peladjaran jang tetap, sampai pada universitas (djurusan). Disamping itu ada pula baiknja djika murid/siswa didorong untuk mendirikan organisasi koperasi di lingkungan sekolahnja supaja memperoleh pengalaman jang berguna dan praktis. Pemerintah eq Djawatan Koperasi bersamasama dan dengan ge rakan koperasi (Dewan Koperasi Indonesia) setjajra tetap (kontinu), meliputi semua daerah, mengadakan pendidikan setjara masal dengan djalan mengadakan kursuskursus kader koperasi. Ditiap ibukota ke tjamatan hendaknja dibuka Balaibalai Pendidikan koperasi untuk men didik dan menanamkan pengertian tentang perkoperasian pada masja rakat. Dalam pendidikan tersebut, permulaannja ditudjukan pada pe minat koperasi sadja dan lambat laun harus diluaskan agar meliputi semua anggota masjarakat. Selain daripada itu penerangan tentang perkoperasian harus diintensipkan dengan mengadakan kerdjasama ant:ara djawatandjawatan jajng bersangkutan, seperti Pamongpradja pamongpradja, PMD, Penerangan, Dewan Koperasi Indonesia, untuk membangkitkan keinsjafan dan kesadaran berkoperasi pada semua ang gota masjarakat, Untuk dapat melaksanakan tugastugas seperti terse
but diatas, Djawatan koperasi harus pula. mengadakan pendidikan, la tihan bagi para pegawai/petugasnja sendiri agar pengetahuan teknis perkoperasian para pegawai/petugas tersebut dapat dipertinggi. Kur suskursus jang telah ada harus dipergiat dan diperbanjak agar dapat lebih banjak menghasilkan pegawai/petugas teknis djawatan koperasi.
Karena gerak koperasi meliputi pula seluruh bidang penghidupan dan kehidupan masjarakat, maka segenap instansi Pemerintah harus ikut serta dan segenap alatalat Pemerintah perlu dikerahkan dalam memberikan bimbingan kepada gerakan koperasi menurut bidangnja masingmasing. Djawatan Pertanian — misalnja wadjib memberi kan bantuan teknis dan bantuanbantuan lainnja kepada Koperasi Per tanian didalam usahanja untuk mendapatkan kernadjuan jang sepesat pesatnja, sedang Djawatan Koperasi didalam bidang teknis perkope rasian. Dengan tjara kerdjasama jang demikian pertumbuhan gerakan koperasi akan lebih pesat madjunja. Kemudian perlu ditegaskan bahwa koperasi harus tetap bersikap sukarela.
b. Organisasi Koperasi.
Pemerintah bersamasama rakjat mengusahakan membangun dan menumbuhkan koperasi dilapangan usaha jang menguasai hadjat hi dup orang banjak terutama didesadesa jang merupakan basis pereko nomian rakjat. Haruslah diusahakan agar disetiap desa dibentuk kope rasidkoperasi produksi, pembelian alatalat dan bahanbahan produksi, pengangkutan bahanbahan pokok kebutuhan seharihari, kredit, lum bung, pendjualan, pembibitan, simpan pindjam dan konsumsi, kera djinan tangan, dll.nja. Dalam usahausaha tersebut Pemerintah harus memberikan bimbingan dan petundjuk teknis agar tertjapai perkem bangan jang sempurna dari gerakan koperasi.
Disamping memberikan bimbingan kepada organisasi koperasi, Pe merintah harus pula mengawasi dan mendjaga agar koperasi baik dad lain anggaran dasar maupun dalam penjelenggaraannja tidak melang gar azas koperasi; menjesuaikan fungsi dan gerakan koperasi pada politik umum perekonomian Pemerintah. Pemerintah harus mengawasi dan mentjegah agar gerakan kope rasi tidak disalah gunakan oleh pengurusnja atau orangorang/badan badan jang sengadja hendak menghambat dan merusak pertumbuhan gerakan koperasi. Untuk menumbuhkan berdirinja koperasi disegala sektor pereko nomian, maka organisasi perkoperasian dapat diatur seperti berikut: Tingkat desa : gerakan dan organisasi koperasi. Tingkat Ketjamatan/Kewedanan:°PusatpusatKoperasi. Tingkat Kabupaten/Keresidenan: Gabungangabungan koperasi:
Tingkat Propinsi : Indukinduk koperasi.
Tingkat Nasional : Djawatan Koperasi Pusat/Dewan Koperasi In donesia.
Susunan (struktuur) organisasi koperasi jang diandjurkan diatas ialah untuk koperasi desa (anekausaha), organisasi koperasi produksi dan organisasi sedjenis (Schema no. 2).
Susunan (struktuur) organisasi simpanpindjam diandjurkan un tuk diatur seperti berikut : Tingkat Desa : simpanpindjam. Tingkat Ketjamatan/Kewedanan : Bank Koperasi Tingkat H. Tingkat Kabupaten/Keresidenan : Bank Koperasi Tingkat I. Tingkat Propinsi : Inspeksi Bank Koperasi. Tingkat Nasional : Bank Koperasi Indonesia. (schema no. 3). Struktuur organisasi koperasi desa diandjurkan supaja diatur se perti schema terlampir (Schema no. 4).
Penjaluran bahanbahan jang diperlukan oieh koperasikoperasi hendaknja diatur sedemikian rupa sehingga koperasikoperasi primer (desa) dapat membelinja langsung dari PTPT Negara. Demikian pula bahanbahan hasil koperasi disalurkan pendjualannja setjara langsung kepada PTPT Negara. Untuk mempermudah dan memperlantjar dja lannja pendjualan/pembelian Djawatan Koperasi hendaknjaj dapat mendjadi perantara. Pada dasarnja, modal koperasi diperoleh dari para anggotanja sendi.ri, berupa Wang pangkal, iuran, simpan wadjib, hasil pendjualan, dll.nja. Sekalipun demikian, hendaknja Pemerintah mem berikan pula kredit sebagai pelengkap dari modal koperasi. Bantuan berupa kredit tersebut sebaiknja disalurkan melalui. Bankbank kope rasi.
e. Biaja :
Untuk memperkembangkan koperasi sebagai alat melaksanakan ekonomi terpimpin, chusus dalam bidang distribusi dan produksi dise diakan biaja Rp. 500.000.000,—.
Pelaksanaannja mulai awal Rentjana pertama dan selesai dalam waktu 3 tahun.
§ 1169. Pengerahan Tenaga Rakjat a. Persiapan Mental.
1. Oleh karena dalam pelaksanaan pembangunan semesta berentjana, diturut sertakan seluruh tenaga rakjat, maka sebagai persiapan mental rakjat'perld diberi penerangan seluasluasnja mengenai projekprojek jang akan dibangun. Penerangan ini hendaknja di lakukan setjara populer sehingga dimengerti dan dipahami mania atnja oleh rakjat sehingga dapat diinsjafi bahwa pengerahan tena ga rakjat dari rakjat untuk rakjat. Dalam bidang penerangan ini akan lebih menarik perhatian kiranja, 'apabila disamping bahasa persatuan (bahasa Indonesia) djuga digunakan bahasa daerah da lam bukubuku ketjil/pamflet. Tidak dilupakan djuga penerangan setjara visueel, film dan sandiwara. Djuga" penerangan melalui or ganisasiorganisasi, partaipartai, perkumpulanperkumpulan, RK RK/RTRT dan sekolahsekolah akan lebih mempertjepat persiap an mental ini. Jang perlu diperhatikan didalam penerangan itu ia lah manfaat demi kepentingannja sendiri, djika Objek itu terse lenggara dengan bank dan dapat diselesaikan dalam waktu jang se singkatsingkatnja.
Persiapan mental ini baru dapat dinjatakan mentjapai tudjuannja, djika dengan djalan penerangan itu, rakjat dari segala lapisan dan golongan ditiaptiap tempat entusias dan dengan ichias bersedia turut serta didalam pelaksanaan usaha pembangunan.
2. Demonstrasidemonstrasi kerdja jang menarik, kemudian disusul dengan latihan kerdja jang praktis berdasarkan gotongrojong akan lebih mempertjepat parsiapan mental untuk menggerakkan tenaga rakjat.
3. Semangat gotongrojong jang memang mendjadi kepribadian Bangsa Indonesia perlu dikembangkan dan dipupuk sebagai sistim be
kerdja jang tetap disegala kegiatan pembangunan, baik jang di lakukan atas inisiatif Pemerintah, maupunoleh masjarakat sendiri. Tjara memupuknja ialah antara lain dengan memberi tjontohtjon toh bekerdja setjara gotongrojong dan berholopis kuntul baris dengan memilih bidang pekerdjaan sedeniikian rupa, sehingga faedahnja segera dirasakan oleh mereka jang bersangkutan.
b. Organisasi pengerahan tenaga rakjat.
1. Brigadebrigade Pembangunan adalah reguregu jang terdiri dari orangorang jang karena kcinsafan dan kesadaran, bersedia setiap waktu dikirim kemana sadja oleh Pemerintah, sebagai tambahan tenaga kerdja didaerahdaerah jang djumlah penduduknja demiki an ketji!lnja sehingga sangat memerlukan bantuan tenaga dari luar daerah.
Brigadebrigade Pembangunan didesadesa dapat djuga dibentuk dikalangan para pemuda jang merupakan pelopor dalam kegiatan pembangunan desa itu sendiri.
2. Apakah gerakan pionir itu ?
Gerakan pionir adalah gerakan dikalangan anakanak sekolah, jang merupakan pelopor didalam kegiatankegiatan sosial jang dapat dikerdjakan oleh anakanak itu sambil bermain (snelenderwijs), misalnja kegiatan dalam memberantas hama tikus, menanam pe karanganpekarangan jang kosong dengan tanamantanaman jang berguna dan jang bersifat menambah produksi, mengandjurkan pemeliharaan kebersihan ditempattempat umum dan dirumahru mah, mengumpulkan bahanbahan pembangunan seperti batu dan pasir untuk pembangunan atau perbaikan rumahrumah/gedung sekolah d.1.1.
3. Sistim kompetisi hendaknja merupakan sistim kerdja jang tetap/ kontinu, agar tertjapai hasilguna jang sebesarbesarnja. Tjaranja ialah dengan perlombaanperlombaan prestasikerdja dan diberi hadiah, baik jang bersifat materiil dan/atau jang bersifat moril,