BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Peraturan Perpajakan Yang Memungkinkan Terjadinya
a. Dasar Hukum dan Peraturan Pelaksanaan
Untuk menjamin terlaksananya fungsi pajak sebagai penghimpun dana (budgetair) dari sektor pribadi ke sektor umum diperlukan perangkat pasti dan mengikat. Kepastian hukum diperlukan untuk meminimalisasi perlawanan yang timbul pada saat pelaksanaan pemungutan pajak. Dalam undang-undang diatur mengenai subjek pajak dan bukan subjek pajak, objek pajak dan bukan objek pajak, tarif pajak, pembayaran serta ketentuan lain yang diperlukan untuk Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21.
Sebagaimana diketahui bahwa transaksi pemotongan pajak penghasilan (PPh) diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 17 tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan (PPh). Khususnya untuk pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 pedoman yang digunakan antara lain.
1. Undang-undang No. 36 tahun 2008 tentang perubahan keempat atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-31/PJ/2009tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi.
b. Pengurang Yang Diperbolehkan
Penerima penghasilan yang berstatus sebagai karyawan tetap atau penerima dana pensiun yang dibayar berkala dikenakan pajak penghasilan pasal 21. Bagi golongan penerima penghasilan tersebut berlaku pengurangan yang diperbolehkan untuk menghitung penghasilan netto atau penghasilan Kena Pajak (PKP). Untuk mengetahui besarnya penghasilan netto pegawai tetap, penghasilan bruto pegawai tersebut dikurangi dengan:
c. Biaya jabatan.
Biaya jabatan adalah biaya untuk menagih, mendapatkan dan memelihara penghasilan dari suatu pekerjaan, tanpa memandang apakah pegawai tersebut memiliki jabatan atau tidak. Biaya jabatan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
250/PMK.03/2008 Tentang besarnya biaya jabatan atau biaya pensiun yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pegawai tetap atau pensiunan sebesar 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp 6.000.000 setahun atau Rp 500.000 sebulan.
d. Iuran pensiun
Iuran pensiun yang dibayarkan karyawan yang terkait pada gaji, yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto.
e. Penghasilan tidak kena pajak (PTKP)
f. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) diatur dalam Undang-undang Pajak Penghasilan No. 36 Tahun 2008 pasal 7 adalah sebesar tarif yang tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 1. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
No Keterangan Setahun Sebulan
1 Untuk diri Wajib Pajak Pribadi Rp 15.840.000 Rp 1.320.000 2 Tambahan untuk Wajib Pajak
Kawin
Rp 1.320.000 Rp 110.000
3 Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 15.840.000 Rp 1.320.000
4 Tambahan untuk anak (paling banyak 3 orang)
Rp 1.320.000 Rp 110.000
Sumber : Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008
Pengurangan yang diperbolehkan bagi wajib pajak badan untuk menentukan penghasilan netto sebagai mana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh) adalah sebagai berikut:
a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha.
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia.
g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat tertentu.
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dalam peraturan pemerintah.
j. Biaya pembangunan infrastruktur yang ketentuannya pemerintah.
k. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur pemerintah.
l. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dalam peraturan pemerintah
Perencanaan pajak dilakukan agar perusahaan dapat menghemat beban pajak yang akan disetorkan kepada pemerintah, dan juga agar pengeluaran kas yang seharusnya digunakan untuk pembayaran pajak dapat dialokasikan untuk pengadaan sumber daya baru bagi perusahaan untuk memperlancar operasional perusahaan. Pihak manajemen perusahaan berusaha menginginkan agar pajak yang dibayar oleh perusahaannya bisa diminimalkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Maka dari itu diperlukan perencanaan pajak dengan harapan memperoleh penghematan pajak untuk meningkatkan laba bersih setelah pajak. Peluang penghematan pajak yang dapat dilakukan adalah pada biaya-biaya yang berkaitan dengan kesejahteraan karyawan khususnya pada PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima karyawan.
Menurut Zain (2010: 89) Ada 3 metode yang dapat dipilih perusahaan dalam pemungutan PPh Pasal 21 karyawan yaitu:
a. PPh Pasal 21 ditanggung karyawan
b. PPh Pasal 21 diberikan dalam bentuk tunjangan pajak c. PPh Pasal 21 di gross up
Pengenaan pajak untuk dapat dilihat metode mana yang dapat menghasilkan laba fiskal yang lebih kecil sehingga dapat mengefisienkan PPh Badan.Perencanaan pajak (tax planning) adalah langkah awal dalam manajemen pajak yaitu dengan cara menghemat beban pajak sesuai dengan bingkai peraturan perpajakan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suandy (2011 : 6) Tax Planning (perencanaan pajak) adalah langkah awal dalam manajemen pajak, dimana dalam tahap ini dilakukan penelitian dan pengumpulan ketentuan peraturan perpajakan, dengan maksud dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Untuk memahami perencanaan pajak yang baik, maka diperlukan juga pemahaman terhadap undang-undang perpajakan itu sendiri. Baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan maupun yang melanggar peraturan perpajakan seperti penghindaran pajak (tax avoidance) dan penggelapan pajak (tax evasion).
Menurut IAI (dalam Wibowo 2008; 42) beban pajak adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam perhitungan laba dan rugi pada satu periode. Menurut Suandy (dalam Wibowo 2008;43) beban pajak merupakan pengakuan perusahaan bahwa pajak merupakan suatu beban atau beban di dalam menjalankan usaha atau kegiatannya.
Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa beban pajak adalah beban-beban yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan
di dalam kegiatan usahanya. Agar dapat menghasilkan besarnya pajak yang harus dibayar oleh suatu perusahaan, maka perlu dilakukan perhitungan pajak yang benar dan tepat. Untuk itu, perlu diketahui beban-beban yang dapat diperkurangkan dari penghasilan kena pajak (deductible expenses) dan beban-beban yang tidak dapat diperkurangkan dari penghasilan kena pajak (non deductible expenses) berdasarkan ketentuan pasal 6 ayat 1 UU PPh No 36 tahun 2008.
Sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat 1 UU PPh No. 36 Tahun 2008 beban yang dapat diperkurangkan dari penghasilan bruto adalah beban untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan (Agoes et al, 2010 : 206), termasuk :
a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain, Biaya pembelian bahan, Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, Bunga, sewa, dan royalty, Biaya perjalanan, Biaya pengolahan limbah, Premi asuransi, Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan, Biaya administrasi, dan Pajak kecuali pajak penghasilan.
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun;
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan;
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing;
f. Penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;
j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;
k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;
l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dalam peraturan pemerintah; dan
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah.
Selain itu, beban berikut ini jua merupakan beban yang dapat dikurangkan yaitu:
a. Pembentukan dana cadangan
b. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan.
c. Harta yang dihibahkan
d. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat dan sumbangan keagamaan.
e. Biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler yang digunakan perusahaan untuk pegawai.
f. Biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kenderaan yang digunakan perusahaan untuk pegawai.
g. Bunga pinjaman.
Untuk penghitungan penghasilan kena pajak, tidak semua biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Pasal 9 ayat 1 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 menyebutkan jenis-jenis biaya yang tidak boleh diperkurangkan dari penghasilan bruto (Agoes et al, 2010 : 206) adalah sebagai berikut:
a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden, termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, d. Pajak penghasilan;
e. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajakorang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai pengahasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;
f. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan;
g. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
h. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan;
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;
k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan sanksi pidana berupa denda yang berkenaan perundang-undangan di perpajakan.